Eiji Notes : Aloha (^o^) Makasih yang udah ngeluangin waktunya buat baca fic ini. Makasih juga yang udah fav, follow, dan ninggalin jejaknya dengan ripiw yang membangun. Semoga chapter ini gak mengecewakan... (^o^)
Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)
Rate : M
Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru
Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran.
Gak suka ! Gak usah Baca !
.
.
Summary : Yang terukir dimatamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya dihatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuha tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.
.
.
Happy reading Minna... (^o^)
.
.
Bad Love
By.
Namikaze Eiji
.
.
Setelah pertemuannya dengan Itachi, Naruto tampak murung pikirannya kalut. Otaknya menyuruhnya untuk menerima tawaran itu, namun hatinya menolak dengan tegas. Matanya menatap dengan sendu, neneknya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Neneknya saat ini tengah tertidur. Dia bersikeras untuk pulang, namun Naruto dengan tegas menolaknya. Hatinya teriris, saat neneknya mengatakan bahwa dia baik-baik saja, padahal kondisinya mengatakan hal yang sebaliknya. Tanpa sadar, pikirannya melayang pada kejadian di cafe beberapa jam yang lalu.
.
.
Flashback On
Naruto tengah mencuci piring-piring kotor, matanya tertuju pada tumpukan piring kotor yang ada di depannya. Namun, pikirannya melayang memikirkan cara bagaimana untuk membayar biaya operasi neneknya. Sebuah tepukan ringan di pundaknya menyadarkan Naruto dari lamunannya. Matanya menangkap sahabatnya Ino yang tengah tersenyum hangat kearahnya.
"Tidak baik melamun saat bekerja. Maaf, aku tidak bisa membantumu." ucap Ino, sarat akan penyesalan di akhir kalimatnya. Naruto tersenyum samar, mendengar ucapan sahabatnya.
"Tidak papa. Aku mengerti keadaanmu." ujar Naruto, berusaha mengurangi rasa bersalah yang di alami sahabatnya.
"Oh iya Naru, ada orang yang mencarimu." ucapan Ino membuat alis Naruto bertaut bingung.
"Siapa?" tanyanya penasaran.
"Entahlah, dia tak menyebutkan namanya. Tapi, dia selalu berkunjung ke cafe kita akhir-akhir ini. Ah, dan ia sangat tampan." Ino memekik kencang di akhir kalimatnya. Mau tak mau membuat sebuah senyum muncul di wajah Naruto, karena melihat sikap sahabatnya yang sangat girang melihat orang tampan.
"Wah, kau tersenyum! Sudahlah, cepat sana temui orang itu." ujar Ino semangat sembari mendorong tubuh Naruto keluar.
Mata Naruto mengamati sekeliling cafe -mencari orang yang di maksud Ino. Hingga matanya tertuju pada seorang pria tampan yang duduk di pojok cafe. Ia berjalan mendekati pria yang tengah sibuk dengan ponselnya, hingga tak menyadari kehadirannya yang berada tepat di depan pria itu. Ia berdehem pelan, membuat pria itu mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Naruto masih dengan posisi berdiri di depan Itachi. Itachi mendengus geli mendengar ucapan Naruto yang sangat to the point dan tanpa basa-basi itu.
"Kau bisa duduk dulu!" ucapnya santai. Naruto memutar bola matanya bosan, tapi tetap mematuhi ucapan Itachi. Matanya menatap Itachi penuh intimidasi, membuat pria itu mendengus geli karena ditatap seperti itu oleh Naruto.
"Jadi, untuk apa kau datang mencariku?" tanya Naruto lagi.
"Menurutmu untuk apa?" bukannya menjawab pria itu justru balik bertanya membuat Naruto jengah.
"Kalau kau tidak punya uru -..."
"Perjanjian. Aku ingin membicarakan tentang perjanjian itu." ucap Itachi memotong perkataan Naruto.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku menolak perjanjian itu."
"Aku tahu. Tapi pikiran manusia bisa berubahkan?" Itachi mengeluarkan sebuah kartu nama. "Jika kau berubah pikiran. Kau tau dimana harus menemui aku." setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi meninggalkan Naruto yang masih terdiam di tempatnya seolah sedang mencerna apa yang Itachi ucapkan barusan.
Flashback Off
.
.
Sebuah suara menginstrupesi kegiatan Naruto, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Uzumaki-san, kita harus bicara di ruanganku." Naruto mengangguk, lalu dengan patuh mengikuti dokter itu ke ruangannya.
"Jadi apa keputusan anda Uzumaki-san?"
"Dok, saya ingin nenek saya di operasi."
Bad Love
Setelah pembicaraannya dengan dokter Kabuto, air matanya tak henti menetes. 'Nek, maafkan aku.' batin Naruto penuh sesal. Mungkin keputusan yang dia ambil salah, namun jika hal ini dapat menyelamatkan neneknya dia akan melakukan apapun.
.
.
Naruto berdiri dengan gugup di ruang kerja Itachi sekali lagi. Tangannya tak henti meremas ujung bajunya mencoba menghilangkan rasa gugup yang melandanya. Ia menunggu dalam diam seseorang yang akan ia temui. Meskipun ia telah dipersilahkan masuk oleh penjaga gerbang, Naruto tetap belum menemukan siapapun di dalam rumah itu, termasuk Itachi sendiri yang akan ia temui. Para penjaga bilang saat ini Itachi masih berada di kantor.
Naruto menolehkan kepalanya saat mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya, rasa gugupnya bertambah saat mengetahui orang itu adalah Itachi. Wajah pria itu nampak tak terkejut saat melihat Naruto yang berada di ruang kerjanya, dia sudah memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi.
"Jadi ini keputusanmu." ucapnya sembari melangkah mendekati Naruto. Mengikis jarak diantara mereka berdua. "Baiklah, aku akan menjelaskan isi perjanjian itu."
"Pertama, kita akan menikah dalam ikatan yang sah. Aku tidak ingin anakku lahir dalam ikatan yang tidak jelas. Kedua, pernikahan kita akan dirahasiakan, hanya beberapa kerabat dekat saja yang diundang. Ketiga, setelah kita menikah kau harus tinggal dirumahku, di rumah ini. Keempat, selama proses kehamilan kau tidak boleh pergi kemana-mana tanpa izinku. Kelima, setelah anak itu lahir, hak asuh jatuh sepenuhnya padaku. Kau tidak boleh mengunjunginya." Naruto akan protes saat mendengar peraturan terakhir yang Itachi buat. Ia sedikit tidak setuju dengan aturan yang Itachi buat, dia bilang kalau ia tak boleh mengunjungi anak itu setelah lahir? Ayolah, walau bagaimanapun dia ini ibunya. Kenapa Itachi bisa berpikir sangat kejam dengan memisahkan nya dengan anaknya, bahkan berkunjung pun tak boleh. Namun, ia harus menelan bulat-bulat semua protesnya.
'Ini semua demi keselamatan nenek.' batinnya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan dirinya dengan keputusan yang telah ia ambil.
Naruto mengangguk setuju dengan agak ragu. Lalu, dengan memberanikan diri ia mencoba bertanya tentang uang yang Itachi janjikan.
"Emm.. anu, bagaimana dengan uang itu?"
"Kau tenang saja, aku sudah mentransfernya. Sekarang nenekmu tengah dioperasi." Naruto menatap haru Itachi, saat mendengar apa yang dikatakan pria itu. Itachi terpaku saat Naruto menatapnya seperti itu, entahlah ia pun tak tau alasannya. Hanya saja, mendapat tatapan seperti itu dari Naruto membuat hatinya merasa senang.
Tak lama, ponsel Naruto berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Ternyata panggilan itu dari rumah sakit yang memberitahukan bahwa neneknya telah di operasi dan keadaannya sudah stabil sekarang. Naruto menghembuskan nafas lega, setelah mendengar kabar ini. Ditatapnya Itachi yang juga tengah menatapnya.
"Sebaiknya sekarang aku pulang." ucap Naruto.
"Tidak. Kau tinggal disini mulai sekarang. Besok kita akan menemui otang tuaku, untuk membicarakan tentang pernikahan kita." ucap Itachi yang lebih terdengar seperti perintah.
"Emm, baiklah. Tapi, sebelumnya apa boleh aku menemui nenekku dulu di rumah sakit?" tanya Naruto, penuh harap.
"Baiklah. Tapi, kau tidak boleh pergi sendiri, kau akan di antar oleh orang kepercayaanku." ucap Itachi, kemudian ia memanggil orang kepercayaannya yang bernama Kakashi.
Naruto mengamati pria yang akan mengantarnya, dia tak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu karena tertutupi oleh masker.
"Nona, silahkan ikuti saya." ucap Kakashi sopan, Naruto mengangguk lalu berjalan mengikuti Kakashi menuju bagasi mobil.
Bad Love
Selama perjalanan menuju rumah sakit, mata Naruto hanya memandang keluar dari balik kaca mobil. 'Untuk beberapa bulan ke depan, mungkin aku akan jarang melihat pemandangan ini.' batinnya sambil menerawang.
.
.
Rumah Sakit Konoha
Saat tiba di rumah sakit, Naruto segera menuju ruang rawat neneknya. Senyum bahagia berkembang di wajah cantiknya, melihat kondisi sang nenek yang sekarang jauh lebih baik.
"Nek, jangan sakit lagi, ne?" ucap Naruto sembari memeluk neneknya sayang. Sang nenek balas memeluk Naruto, diusapnya punggung Naruto sayang.
"Ne. Tapi, Naru.. darimana kau mendapatkan uang untuk operasi nenek?" Naruto melepaskan pelukannya saat mendengar pertanyaan neneknya. Apa yang harus dia katakan. Tidak mungkin kan kalau dia berkata bahwa dia telah menjual rahimnya sendiri dengan membiarkan orang yang tak ia kenal menanamkan benihnya di dalam rahimnya. Naruto menggelengkan kepalanya cepat saat pikiran itu terlintas dalam otaknya.
"Nenek tak usah menghawatirkan itu. Calon suamiku yang membantu membayar biaya operasi." akhirnya hanya jawaban itulah yang dapat keluar dari bibir Naruto.
Nenek Chiyo tak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya saat mendengar kata 'calon suami' yang keluar dari mulut cucunya. Setahunya cucunya ini tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Dulu mungkin pernah, saat masih di Senior High School. Namun, hubungan itu berakhir di tengah jalan. Karena lelaki itu memutuskan Naruto secara sepihak, dengan alasan akan meneruskan pendidikannya diluar negeri dan ia tak suka hubungan jarak jauh. Meskipun kejadian itu sudah cukup lama, namun dia masih bisa mengingat jelas ekspresi terluka Naruto saat itu.
Mendengar sang cucu akan menikah dia sangat terharu dan bahagia, karena akhirnya cucunya dapat lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Senyum bahagia tercetak jelas di wajah rentahnya. Berpikir bahwa cucunya telah mendapat kebahagiaan karena mendapatkan cinta yang baru, juga telah bisa melepas masa lalunya. Namun, satu hal yang sang nenek tidak tahu, pernikahan ini bukanlah pernikahan yang berlandaskan cinta. Melainkan merupakan sebuah perjanjian pernikahan yang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa sang nenek.
Bad Love
Waktu terasa cepat berlalu untuk Naruto, setelah mengunjungi neneknya ia segera kembali kerumah Itachi. Semua barang-barang dan juga bajunya ternyata telah berada di rumah ini, di kamar yang telah Itachi siapkan untuknya.
Dan sekarang, ia tengah mematut dirinya di depan cermin besar. Ditatapnya pantulan dirinya yang ada di cermin itu. Jujur, dia tak menyangka kalau yang ada dicermin itu adalah pantulan dirinya. Sangat cantik itulah kata yang menggambarkan sosok Naruto. Dan ini semua berkat Itachi. Pria itu memanggil penata rias dan penata rambut terbaik untuknya, dan hasilnya tidak mengecewakan. Naruto sendiri masih ragu apakah benar ini dia?
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Naruto dari cermin yang ada di depannya. Ia menatap kagum pada sosok Itachi. Pria itu sangat tampan hari ini dengan setelan jas yang ia pakai.
Mata Itachi mengamati Naruto dari atas sampai bawah. Naruto sangat cantik, kecantikannya semakin bersinar dengan make up natural yang membalut wajahnya yang memang cantik alami. Mata Itachi berhenti pada bibir Naruto yang kini dipolesi lipstik berwarna soft, membuat lekukan bibir Naruto tercetak semakin jelas, seolah mengundang dirinya untuk memakan habis bibir itu sekarang juga. Membayangkan hal itu, membuat tubuh Itachi panas. Segera dihampirinya Naruto. Ia tarik pinggang gadis itu hingga merapat ke arahnya, tangannya memegang rahang Naruto. Sedangkan tangan satunya melingkari posesif pinggang ramping gadis itu.
Mata Naruto menatap Itachi, ia dapat melihat kabut gairah dimata Itachi. Dikecupnya bibir gadis itu, sekali, dua kali hingga kecupan itu berubah menjadi lumatan-lumatan dalam. Naruto terhanyut oleh ciuman Itachi yang memabukkan, ia bahkan melingkarkan kedua lengannya pada leher Itachi, semakin merapatkan tubuh mereka. Ciuman Itachi terkesan menggebu, membuat Naruto yang minim pengalaman kewalahan menghadapi gaya berciuman Itachi. Lidah Itachi terjulur menjilat celah bibir Naruto, meminta izin untuk masuk lebih dalam. Membuat Naruto mengerang dibuatnya, tak menyia-nyiakan kesempatan lidah panas itu langsung masuk mengeksploitasi mulut Naruto. Naruto meremas rambut Itachi, saat merasakan lidah itu mengobrak-ngabrik mulutnya. Ini ciuman pertama Naruto dan ciuman ini langsung menjadi ciuman panas. Tangan Itachi yang semula berada pada rahang Naruto mulai bergerilya. Tangan itu berlabuh pada dua gundukan yang sedari tadi terus menekan dadanya. Di remasnya gundukan itu pelan, sebelum berubah menjadi remasan-remasan bertenaga yang membuat Naruto memekikik tertahan di sela ciumannya. Setelah merasa pasokan oksigen yang mulai menipis, dilepasnnya ciuman itu dengan enggan. Bibirnya beralih pada leher Naruto yang tak terhalang oleh baju. Hanya berupa kecupan-kecupan dan jilatan. Ia tak ingin membuat tanda untuk sekarang atau mungkin belum. Sebelum ia bertemu dengan orang tuanya.
Itachi menghentikan kegiatannya. Jika ini terus dilanjutkan yang ada mereka bisa berakhir di ranjang.
.
.
Selama perjalanan menuju Mansion Utama Keluarga Uchiha, Naruto tampak gelisah ia tak henti meremas tangannya. Hal ini tak luput dari penglihatan Itachi. Tak dapat Itachi pungkiri bahwa Naruto mengingatkannya akan sosok Kyuubi -mendiang kekasihnya. Ah, bahkan bentuk bibir merekapun sama. Itachi mengangkat tangannya lalu menggemgam tangan Naruto mencoba membuat gadis itu lebih tenang. Naruto mengalihkan perhatiannya saat merasakan genggaman Itachi. Entah mengapa saat Itachi menggemgamnya seperti ini membuat ia lebih tenang, merasa aman dan terlindungi secara bersamaan. Meski Itachi tak mengatakan apapun, namun genggaman tangannya seolah menyiratkan apa yang Itachi ingin katakan. Naruto membalas genggaman itu, tanpa sadar ia memberikan senyum terbaiknya untuk Itachi. Membuat Itachi terpaku atau lebih tepatnya terpesona melihat senyum itu. 'Bahkan cara mereka tersenyum pun sama.' batin Itachi. Hal ini, membuat ia bertambah yakin untuk memiliki anak dengan Naruto. Ia berharap memiliki anak yang memiliki wajah yang sama dengan Kyuubi untuk melepaskan rindunya pada kekasihnya yang telah tiada. Setidaknya dengan adanya anak itu kelak, ia bisa mencurahkan seluruh kasih sayang yang ia punya untuk anak itu.
.
.
Mansion Uchiha
Mereka tiba di Mansion Uchiha. Tanpa sadar, Naruto mengeratkan genggamannya pada tangan Itachi. Itachi sadar genggaman Naruto bertambah kuat.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu berada di sampingmu." ucapan Itachi membuat Naruto lebih tenang.
Kedatangan mereka menarik banyak perhatian penghuni mansion itu. Para maid langsung membungkuk hormat saat Itachi berjalan melewati mereka. Mereka menatap Naruto penuh rasa ingin tahu, pasalnya tuan muda mereka yang satu ini sangat jarang menggandeng seorang gadis, apalagi membawa gadis itu ke rumah Utama Keluarga Uchiha. Satu hal yang ada di pikiran mereka. Gadis ini pasti gadis yang spesial untuk tuan muda mereka.
.
.
Diruang tengah keluarga tampak Mikoto dan Fugaku yang tengah menunggu kedatangan mereka berdua. Gadis yang berdiri di samping Itachi langsung menjadi fokus utama mereka. Ditatapinya gadis itu dari atas sampai bawah. Sedangkan, Naruto yang mendapatkan tatapan seperti itu hanya bisa berdiri gugup.
"Kaasan, Tousan. Bisakah kalian berhenti menatap Naruto seperti itu? Kalian membuat Naruto tidak nyaman." protes Itachi dengan kelakuan orang tuanya.
"Ahaha, Kaasan hanya sedang mengamati bagaimana calon menantu Kaasan." ujar Mikoto sembari berjalan menghampiri Naruto.
"Kau sangat cantik. Itachi memang pandai memilih."
"A-arigatou." Naruto tersenyum canggung mendengar pujian itu.
"Nyonya jauh lebih cantik." Mikoto tersenyum senang mendengar pujian yang Naruto ucapkan. Sepertinya dia mulai menyukai gadis ini.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku Kaasan, ne!"
"Dan panggil aku Tousan." diluar dugaan ternyata kedua orang tua Itachi menerima kehadiran Naruto dengan terbuka. Membuat senyum bahagia muncul di wajah cantiknya. Tanpa sadar, Itachi tersenyum melihat hal ini.
.
.
Makan malam bersama keluarga Uchiha ternyata tak seburuk yang ia bayangkan. Justru sebaliknya, makan malam ini berjalan sangat hangat ditambah dengan kehadiran Naruto. Naruto seolah mendapatkan sosok keluarga lengkap yang selama ini ia idamkan dengan ayah dan ibu di dalamnya. Setelah acara makan malam selesai, Naruto membantu Mikoto menaruh piring-piring kotor di bak cuci piring. Mikoto tampak sangat menyukai Naruto, perangai gadis itu membuat siapa saja cepat menyukainya.
.
.
Acara makan malam pun selesai, kini mereka tengah berkumpul diruang keluarga membahas tentang pernikahan Itachi dan Naruto.
"Ne, Tachi apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Mikoto.
"Sudah Kaasan. Aku sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan semuanya. Kami hanya tinggal memesan baju pengantin." jawab Itachi, kemudian matanya memandang Naruto yang duduk di sampingnya. Naruto tak banyak mengeluarkan pendapatnya, ia hanya mematuhi apa yang Itachi dan Mikoto ucapkan. Hari pernikahan pun telah diputuskan, karena keinginan Itachi yang meminta pernikahannya dipercepat maka Tanggal 22 Maret lah yang dipilih. Satu hal yang ada dipikiran Naruto saat mendengar ucapan pria yang akan menjadi suaminya kelak. 'Pria ini gila' batinnya menjerit frustasi seandainya diruangan ini hanya ada dirinya seorang mungkin dia kini tengah menjambak rambutnya dengan gusar. Bagaimana tidak? Tanggal 22 Maret, itu hanya dua hari dari sekarang. Apa mungkin seseorang dapat mempersiapkan acara pernikahan dalam waktu sesingkat itu?
.
.
Naruto menatap kagum gaun-gaun pengantin yang ada di butik ini. Seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan bisa mengenakan gaun seindah ini saat hari pernikahannya. Meski harapan itu memang ada, namun Naruto cukup tau diri untuk tak berhayal terlalu tinggi. Namun, sekarang nampaknya itu bukan hal yang mustahil. Bahkan kini dia tengah mengenakan gaun itu. Gaun berwarna putih ini sangat indah dengan bagian atas yang sedikit terbuka memperlihatkan bahu putihnya.
Mikoto tampak sumringah saat melihat Naruto mengenakan gaun itu.
"Kau sangat cantik Naru-chan." pujian Mikoto membuat semburat merah menghiasi wajah Naruto.
"Biar Kaasan ambil fotomu." Mikoto mengambil ponselnya lalu menyuruh Naruto tersenyum kearah kamera.
"Kaasan, aku malu." ujar Naruto.
"Kau tak perlu malu pada Kaasan." akhirnya dengan menahan perasaan malu ia mencoba tersenyum kearah kamera.
"Ah, kau benar-benar cantik. Kaasan akan mengirimkan foto ini pada Itachi." tanpa menunggu persetujuan Naruto, Mikoto langsung mengirim foto itu untuk Itachi. Pria itu memang tak ikut memilih baju pengantin, terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mikoto sedikit tak habis pikir dengan jalan pikiran putra sulungnya itu, apa iya tak bisa meluangkan waktunya walau hanya sebentar? Tapi, ia bersyukur karena Naruto sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Justru Naruto sangat pengertian. Membuat ia bertambah yakin bahwa Naruto adalah wanita yang tepat untuk Itachi. Dan ia harap dengan kehadiran Naruto dapat menutup luka Itachi akan mendiang kekasihnya dulu.
Bad Love
Itachi tampak sibuk mengamati dokumen-dokumen yang ada di meja kerjanya. Matanya dengan teliti membaca satu per satu dokumen itu. Sebuah getaran di ponselnya mengalihkan perhatiannya. Alisnya bertaut bingung saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya 'Kaasan' batinnya bingung. Tak biasanya ibunya mengirim pesan di saat jam kerja. Dia membuka pesan itu, dia tertegun melihat isi pesan itu. Sebuah foto. Foto seorang gadis yang sudah beberapa hari ini tinggal dirumahnya. Gadis itu mengenakan sebuah gaun pengantin yang sangat indah, rambutnya tampak di gelung keatas dengan meninggalkan beberapa anak rambut disisi wajahnya, membingkai wajah cantiknya. Dari raut wajahnya ia dapat melihat bahwa gadis itu tersenyum malu saat foto ini diambil. Terlihat jelas dari semburat merah yang menghiasi pipi putihnya. Tanpa ia sadari sebuah senyum hangat muncul diwajahnya saat melihat ekspresi malu di wajah gadis itu. Membuat ia terlihat sangat menggemaskan di mata Itachi. Dan mungkin tanpa Itachi sadari hati kecilnya mulai terbuka menerima kehadiran Naruto di dalam hidupnya.
.
.
Tbc
.
.
Thanks For : | Hyull | sivanya anggarada | miszshanty05 | Nara Kiki | uzuuchi007 | ollanara511 | uchihatachibana | Reiburo | Shiori avaron | Yukiko Senju | Atarashi ryuuna | Shikaru51 | .faris | Kuas tak bertinta | | Riena Okazaki | uchiha ryu'tto | Guest | uchihaizumi67 | .
.
.
Boleh minta ripiw? ^o^
