Eiji Notes : Makasih buat yang udah ngeluangin waktunya buat baca fic ini (^o^) Mo bales ripiw dulu ah (^o^)
Uchiha ryu'tto : Apa bener mereka bakal langsung cerai kalo udah melahirkan? Anaknya bikin kembar biar sepasang?
Eiji : Emmm... Ei belum bisa jawab ikutin aja kelanjutan fic ini, tar juga pasti tau jawabannya (^o^) Soal anak sebenernya Ei dah nentuun anak mereka bakal kayak gimana, tapi makasih sarannya (^o^)
Himura kenshin : Soal anak jawaban Ei sama kayak diatas, tapi makasih sarannya (^o^)
Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)
Rate : M
Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru
Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran. Chapter ini ada scene lemonnya... :3. Kalau gak suka tinggal Click Back aja..
Gak suka ! Gak usah Baca !
.
.
Summary : Yang terukir dimatamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya di hatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.
.
.
Happy reading Minna... (^o^)
.
.
Bad Love
By.
Namikaze Eiji
.
.
Naruto tengah menonton salah satu acara favoritnya di ruang keluarga Mansion Itachi. Sudah beberapa hari ia tinggal disini, jujur dia sangat jenuh berada disini, karena tak banyak yang bisa ia lakukan. Meski terkadang ia akan mampir kerumah neneknya, tentu saja setelah terlebih dahulu meminta izin pada Itachi. Dia memang mematuhi janjinya untuk tinggal bersama Itachi sebelum hari pernikahan tiba, dan hal ini mau tak mau membuat ia tinggal terpisah dengan neneknya, untungnya neneknya mau memakluminya setelah ia memberikan beberapa alasan mengapa ia harus tinggal bersama Itachi. Meski awalnya neneknya dengan tegas menolak hal itu, karena menurutnya laki-laki dan perempuan yang tinggal satu atap tanpa ada ikatan yang jelas itu salah, namun berkat kegigihan Naruto dalam membujuk sang nenek akhirnya neneknya mau menyetujuinya.
Blaamm...
Naruto terlonjak kaget saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup cukup keras. Tubuhnya seketika langsung terduduk tegak dengan detak jantung yang berdebar keras. 'Mungkinkah itu Itachi?' batinnya. Sosok pria yang muncul dari pintu menjawab pertanyaan Naruto. Naruto berdiri dari sofa ruang tengah lalu menghadap ke arah Itachi.
Itachi menghentikan langkahnya saat melihat sosok Naruto yang kini tengah berdiri di dekat sofa. Matanya menatap wajah Naruto dengan seksama. 'Gadis ini memang benar-benar mirip dengan Kyuubi' pikirnya. Lalu Itachi melangkah lagi, mendekati Naruto.
"Kau sudah makan?"
"Sudah..." Itachi menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Naruto. "Aku belum, bisa kau siapkan makanan untukku?"
"Ah, iya. Tentu saja"
"Baguslah, aku akan kembali dalam waktu tiga puluh menit"
Setelah Itachi pergi dari hadapannya, Naruto segera bergegas menuju dapur. Ia memasak sesuatu dengan bahan makanan yang dapat ia temukan di kulkas. Merasa bingung harus memasak makanan seperti apa untuk Itachi, Naruto memutuskan untuk memasak semua bahan makanan itu. Selesai memasak, Naruto pun menyiapkan berbagai jenis makanan diatas meja makan sembari menunggu Itachi datang.
Tidak memakan waktu lama bagi Naruto untuk menunggu Itachi tiba dengan keadaan bersih dan wangi sehabis mandi. Pria itu menatap meja makan yang kini penuh dengan masakan Naruto dengan alis terangkat keatas. "Apa kau memasak untuk lima orang?"
"Aku...tidak tau apa yang kau suka. Jadi, aku memasak semua bahan makanan yang ada didalam kulkas" ungkap Naruto.
"Persediaan itu untuk satu minggu, kau tidak akan mendapat bahan makanan lagi sampai Kakashi datang kesini membawanya." ucap Itachi, ia kemudian mendudukan dirinya disalah satu kursi yang ada di meja makan itu. "Sudahlah, duduklah Naru" lanjut Itachi.
Naruto duduk tepat di seberang Itachi, posisi mereka sekarang saling berhadapan. Mata Naruto mencuri pandang ke arah Itachi dengan takut-takut, pria itu makan dalam diam. Memasukkan semua makanan yang dimasak oleh Naruto kedalam mulutnya tanpa komentar apapun. Diam-diam, Naruto merasa kecewa karena Itachi tak mengatakan apapun tentang masakannya. Biasanya, orang-orang selalu memujinya karena masakan yang ia buat selalu terasa lezat di lidah. Dan ini pertama kalinya, ada seseorang yang mengacuhkan masakannya tanpa berkomentar apapun.
Selagi mengunyah makanannya, Itachi menyempatkan diri melirik ke arah Naruto. Mata oniknya mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu, membuat Naruto salah tingkah di buatnya. Itachi memandangi wajah Naruto lama, ia memang menangkap adanya kemiripan antara Naruto dengan Kyuubi, senyum dan cara Naruto menyibakkan rambut kebelakang telinga sama seperti Kyuubi. Mata dan bentuk bibir mereka juga sama. Bibir ranum berwarna merah alami, tanpa perlu dipolesi lipstick itu... dialah orang pertama yang menciumnya dan memagut bibir itu mesra. Tanpa sadar, Itachi menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat ciuman pertama mereka yang langsung berubah menjadi ciuman panas.
Selesai makan, Itachi meletakkan kedua sikunya diatas meja lalu menangkupkan dagunya dipunggung tangannya, matanya menatap Naruto dalam diam.
Sesekali Naruto menoleh kearah Itachi, jantungnya berdetak kencang karena tatapan Itachi. Perasaannya mengatakan Itachi sedang mencari-cari kesalahan dalam dirinya.
"Naru..."
"Iya?"
"Apa kau tahu, apa yang akan terjadi padamu agar kau bisa hamil?" Naruto menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar pertanyaan Itachi.
"Ten-tentu, aku tahu."
"Lalu kenapa kau mau melakukannya?"
"Tidak masalah untukku."
"Tidak masalah meski kau harus melepas keperawananmu padaku?" Naruto memejamkan matanya mendengar pertanyaan Itachi, sebelum menjawab "Aku membutuhkan uang." jawabnya jujur dengam mata terpejam. Setelah mendengar jawaban Naruto, ia tak ingin bertanya lebih banyak lagi dan menyuruh Naruto untuk tidur karena besok adalah hari pernikahan mereka.
Bad Love
Gedung tempat berlangsungnya pernikahan Itachi dan Naruto tampak indah dengan dekorasi warna putih yang dominan dan bunga mawar putih yang telah tersusun rapi menghiasi geduh megah ini. Para tamu undangan tampak memenuhi gedung mewah ini, di altar sana tampak Itachi yang tengah menunggu Naruto. Semua orang yang ada di pesta serentak menolehkan kepalanya saat calon mempelai wanita mulai melangkahkan kakinya dengan anggun menuju altar pernikahan menghampiri calon mempelai pria.
.
.
Itachi Pov On
Deg
Perasaan apa ini? Kenapa jantungku terus berdebar saat melihat Naruto melangkah mendekatiku? Jujur, aku akui aku terpesona olehnya saat melihatnya berjalan kemari menggunakan gaun itu. Sekarang ia tampak seribu kali lebih cantik. Namun, aku masih bingung dengan jantungku yang terus berdetak diluar kata normal.
Itachi Pov Off
.
.
Mata Itachi terus menatap Naruto yang kini telah berada tepat di hadapannya. Ia dapat melihat jelas raut gugup yang ada di wajah cantik gadis yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
"Uchiha Itachi, apa kau bersedia menerima Uzumaki Naruto dalam keadaan apapun hingga ajal datang menjemput kalian?" suara sang pendeta terdengar saat mengikkrarkan sebuah janji suci di hadapan Tuhan.
"Ya, aku bersedia" jawabnya mantap.
"Dan kau, Uzumaki Naruto apa kau bersedia menerima Uchiha Itachi dalam keadaan apapun hingga ajal datang menjemput kalian."
"Ya, a-aku bersedia." Naruto tak mampu menyembunyikan nada gugup dalam suaranya.
"Kau boleh memasangkan cincin pada istrimu." tangan Itachi meraih tangan Naruto dan memasangkan sebuah cincin platina kedalam jari manis Naruto di dalam cincin itu terdapat sebuah ukiran nama I & N dan Naruto pun melakukan hal yang sama seperti Itachi.
"Sekarang kau bisa mencium istrimu." Itachi mulai mendekatkan wajahnya pada Naruto dengan perlahan tapi pasti bibir mereka menyatu dengan sempurna. Awalnya, Itachi hanya berniat memberikan sebuah kecupan ringan pada gadis itu, namun 'niat' hanya tinggal niat, karena kecupan Itachi yang awalnya ringan berubah menjadi lumatan dalam. Naruto berusaha berontak dengan mendorong pelan pundak Itachi, suara sorakkan yang ramai dan rontaan pelan Naruto menyadarkan Itachi bahwa kini mereka tengah ditatap oleh banyak pasang mata dengan sedikit enggan ia menghentikan ciuman itu. Itachi dapat melihat jelas wajah Naruto yang memerah seperti kepiting rebus karena Itachi menciumnya di depan banyak orang yang tentu saja hal ini membuatnya malu, apalagi ciuman Itachi tadi hampir berubah menjadi ciuman panas yang menggebu. Suara tepukan dan teriakan kebahagiaan terdengar menggema di acara pernikahaan itu.
Saat ini Naruto dan Itachi tengah menjamu para tamu undangan, tampak Mikoto, Fugaku, dan nenek Chiyo yang berdiri di samping mereka berdua.
"Kaasan senang akhirnya kau resmi menjadi menantu Kaasan." ucap Mikoto seraya memeluk Naruto. Fugaku tersenyum mendengar ucapan istrinya. Nenek Chiyo berjalan menghampiri Itachi.
"Tolong jaga Naru, dia ini terkadang merepotkan namun dia adalah gadis yang baik. Cucuku ini tak pernah memikirkan perasaannya sendiri, ia selalu mendahulukan perasaan orang lain meskipun tak jarang hal itu justru membuat hatinya terluka. Aku bahkan kadang memukulnya karena ia tak pernah bisa menghilangkan sifatnya yang satu ini. Kumohon tolong jaga Naru." pinta nenek Chiyo tulus.
"Aku akan berusaha sebaiknya." ucap Itachi yakin. Nenek Chiyo memeluk tubuh Itachi.
"Terimakasih." ucapnya tulus.
Bad Love
Naruto mendudukan dirinya di kursi makan, menunggu dengan bingung Itachi yang sedang memanaskan susu di panci kecil di atas kompor. 'Sebenarnya apa yang sedang pria ini lakukan? Kenapa malah menyuruhku duduk disini dan meminum susu? Bukankah sekarang harusnya sekarang kami sedang memulai proses pembuatan bayi?' batin Naruto heran. Setelah acara pernikahan itu selesai Naruto dan Itachi langsung bergegas pulang ke Mansion Itachi.
"Kau suka minum susu murni?" Itachi bertanya sembari mengaduk susu yang berada dalam genggamannya.
"Ya... Nenek sering membuatkanku susu sebelum aku tidur." jawab Naruto.
"Katanya agar aku bisa tidur nyenyak setelah seharian bekerja." lanjutnya. Itachi menatap Naruto dengan alis bertaut lalu menyodorkan segelas susu pada Naruto.
"Terimakasih." Naruto menghabiskan segelas susu itu dalam sekali teguk. Rasa hangat mengalir ke tenggorokannya saat Naruto meminum susu itu, perutnya yang tadinya terasa kaku menjadi lebih santai dan ketegangan di otot-ototnya mulai berkurang.
"Aahh.. Enak." desah Naruto nikmat. Naruto menutup mulutnya cepat dengan kedua tangannya, betapa tidak sopannya dia mendesah di depan Itachi. Itachi terkekeh geli melihat sikap Naruto, ia pandangi Naruto yang terlihat lebih santai dan nyaman sekarang. Itachi tersenyum simpul, sama hal nya seperti Naruto. Minum susu selalu membuatnya santai dan nyaman. Meskipun ia cukup terkejut mendengar jawaban Naruto tadi, karena ia juga selalu bisa tertidur nyenyak setelah minum segelas susu. Itachi lalu meminum susu miliknya sendiri.
"Aku suka susu yang dimasak dengan api sedang." ujar Itachi tiba-tiba, membuat Naruto menatap Itachi. "Aku tidak minum alkohol dan juga merokok, aku tidak punya penyakit yang mematikan ataupun penyakit kelamin." Itachi berhenti bicara menunggu respon dari Naruto, gadis itu menatap Itachi dalam diam. "Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan menularkan penyakit padamu, karena aku sehat." lanjutnya.
Naruto tertegun mendengar penuturan Itachi. Apa Itachi, baru saja menjelaskan pria seperti apa dia ini?
"Kau ingin tau pria seperti apa yang akan menanamkan benihnya di rahimmu kan?" Itachi menyandarkan punggungnya pada kursi. "Hanya itu yang bisa kukatakan, sisanya kau bisa bertanya pada Kakashi. Aku akan menyuruhnya menjawab setiap pertanyaan yang kau tanyakan padanya."
Naruto menggelengkan kepalanya, ia tidak lagi ingin tahu seperti apa Itachi, setelah melihat Itachi membuatkan susu untuknya entah mengapa ia merasa Itachi adalah pria yang baik.
"Apa nanti kau akan merawat bayi ini dengan baik?"
"Tentu saja, aku tidak mungkin menginginkan bayi jika aku tidak bisa menyayanginya."
Naruto menganggukkan kepalanya sambil tersenyum setelah mendengar jawaban Itachi, sekarang hatinya merasa lebih tenang saat mendengar jawaban pria itu.
"Kau sudah merasa nyaman?" tanya Itachi, kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri Naruto.
"Iya, terimakasih susunya."
Itachi menarik lengan Naruto, membuat gadis itu berdiri tepat dihadapannya. Naruto menahan nafasnya saat melihat kedekatan tubuh mereka. Pria itu dapat melihat rasa gugup Naruto, semua itu terlihat jelas dari gerak-gerik gadis itu. Melihat itu Itachi memegang tengkuk Naruto lalu memijatnya pelan, menenangkan saraf-saraf gadis itu. Naruto menatap Itachi sejenak lalu memejamkan matanya menerima pijatan nyaman di tengkuknya. Itachi tersenyum melihat Naruto yang terlihat begitu menikmati pijatannya, ia tarik kepala Naruto agar bersandar di dada bidangnya.
Naruto menyandarkan kepalanya di dada bidang pria yang kini telah resmi berstatus sebagai suaminya. Samar-samar ia dapat mendengar debaran jantung Itachi dan hembusan nafas lelaki itu di kepalanya. Jari-jari piawai Itachi masih terus memijat tengkuknya, membuat Naruto semakin terlena dalam pelukan pria itu.
Jari-jari yang awalnya memijat tengkuknya bergerak turun menyusuri punggung Naruto hingga berhenti tepat dilekukkan pinggang Naruto. Naruto membuka matanya saat merasakan tangan Itachi yang menyusup masuk kedalam baju Naruto, menyentuh permukaan kulit punggungnya. Naruto mendesah tertahan saat Itachi menempelkan bibirnya di celah leher Naruto. Bibir yang awalnya hanya menempel itu, kini mulai membaui aroma yang keluar dari tubuh Naruto. Naruto mencengkram kuat lengan Itachi, mendongakkan kepalanya agar Itachi lebih leluasa menjelajahi lehernya.
Itachi menarik bibirnya dari leher Naruto, bibir itu bergerak menuju leher Naruto, nafasnya memburu tepat di telinga Naruto. "Pergi ke kamarmu sekarang." tubuh Naruto bergidik saat pria itu berbisik tepat di telinganya.
"Apa?"
"Sekarang!" Itachi melepaskan Naruto dan mendorong gadis itu agar berjalan ke kamarnya. Dalam keadaan yang masih bingung Naruto menoleh kearah Itachi, pria itu menggerakkan tangannya agar Naruto segera pergi ke kamarnya. Naruto pun berjalan ke kamarnya dengan sesekali menengok ke belakang mencoba melihat apakah pria itu mengikutinya dan ternyata benar Itachi memang mengikutinya berjalan di belakang gadis itu dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Naruto.
Ketika melewati ruang tamu, Naruto berpapasan dengan Kakashi, Naruto hendak menghentikan langkahnya namun ia harus mengurungkan niatnya saat mendengar suara Itachi.
"Jangan berhenti, terus berjalan ke kamarmu."
Naruto pun hanya menundukan kepalanya kepada Kakashi. "Selamat malam Kakashi-san."
"Selamat malam nona, semoga anda mimpi indah." balas Kakashi di sertai senyumannya.
"Pulanglah ke rumah utama." perintah Itachi pada Kakashi. Ia tak menghentikan langkahnya sekali pun sedang berbicara dengan Kakashi.
"Apa kau ingin aku kesini besok pagi untuk membangunkanmu seperti biasa?"
"Ya.. Jangan terlambat besok pagi aku ada rapat."
"Baiklah."
Pandangan Kakashi tidak lepas dari Naruto dan Itachi. Tuan mudanya terang-terangan mengikuti gadis itu ke kamarnya. Kakashi memutar tubuhnya berjalan ke arah luar, senyuman tak luput dari wajahnya sepanjang perjalanannya pulang ke rumah utama.
Naruto melirik kearah Kakashi yang menghilang dibalik pintu, lalu menoleh ke arah Itachi yang masih mengikutinya, wajah Naruto memerah dengan sempurna saat sadar bahwa Itachi bermaksud mengikutinya sampai ke kamarnya. Naruto membuka pintu kamarnya lalu masuk, ia memutar tubuhnya sambil memegang pintu. Melihat Itachi berjalan masuk melalui pintu yang terbuka. Itachi mengambil alih pintu dari tangan Naruto kemudian menutupnya. Ada jeda selama beberapa saat selama mata mereka bertemu, Naruto menekan tangannya di depan dada merasakan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang. Tatapan tajam Itachi mampu membuatnya tak berkutik, Naruto mundur selangkah saat Itachi maju selangkah, lalu mundur lagi ketika Itachi terus melangkah maju hingga akhirnya kakinya berbenturan dengan tepian tempat tidurnya. Membuat Naruto kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh jika Itachi tidak menahannya cepat dengan melingkarkan tangannya dipinggang ramping gadis itu.
Itachi menundukan kepalanya lalu mencium bibir Naruto dengan nafsu yang tidak ditutup-tutupi lagi. Naruto memejamkan matanya dibawah tekanan bibir dan lidah Itachi, ia menggerang nikmat ketika Itachi menggigit bibir bawahnya dan lidah pria itu mulai menyusup masuk untuk mengeksploitasi mulut Naruto. Tangan Itachi bergerak cepat menarik baju Naruto. Itachi melepaskan ciumannya untuk melepaskan baju itu dari kepala Naruto, lalu melemparkan baju itu kesembarang tempat sebelum kembali memagut bibir Naruto. Tangannya meraup payudara Naruto, meremasnya pelan sebelum berubah menjadi remasan-remasan yang penuh dengan tenaga membuat Naruto mendesah semakin sering.
Desahan Naruto membuat Itachi semakin bersemangat untuk mempermainkan tubuh gadis itu lebih jauh lagi. Ia berusaha mati-matian menahan keinginannya untuk tidak langsung menyerang Naruto. Itachi tahu ini pengalaman pertama untuk Naruto, karena itu ia harus bersabar. Itachi melepaskan ciumannya, lalu turun mencium puncak payudara Naruto yang telah ia bebaskan dari kurungan bra.
"Oouughh.. Tachihhh.." Naruto semakin mendesah nikmat dibuatnya. Ia tak pernah membayangkan jika dicium dan di gerayangi seperti ini akan membuatnya begitu melayang.
Itachi menggigit pelan puncak payudara itu, membuat Naruto memekik kaget. Diremasnya rambut Itachi, seolah memberitahu pria itu bahwa ia sangat menikmati perlakuan Itachi terhadap tubuhnya.
Itachi mengerang di sela hisapannya pada payudara Naruto saat mendengar desahan nikmat gadis itu. "Berbaringlah." perintahnya, lalu ia membaringkan tubuh Naruto ditempat tidur. Mengatur posisi gadis itu agar senyaman mungkin di tempat tidur. Tangannya dengan lihai membebaskan Naruto dari sisa pakaian yang masih melekat pada tubuhnya membuat tubuh gadis itu kini benar-benar polos dibawahnya.
Itachi membungkuk diatas Naruto, mengecup singkat bibir gadis itu lalu turun ke leher putih gadis itu, melewati payudaranya dan membuat beberapa tanda diperut langsing gadis itu. Naruto membelalakan matanya, terkejut saat Itachi berada diatas perutnya begitu dekat dengan daerah kewanitaannya.
"Tachi, kau mau apa?"
"Sssttt..." Itachi meyentuhkan jari telunjuknya tepat di bibir Naruto, sementara tangannya yang lain melebarkan kedua kaki Naruto. Secara refleks Naruto menutup kakinya ia terlalu malu.
"Jangan takut, lepaskan kakimu."
"Tapi ini memalukan." Naruto menahan tangan Itachi yang berusaha melebarkan kakinya lagi.
"Tak perlu malu, percayalah padaku." ucap Itachi, kemudian mengecup bibir merah Naruto. "Buka kakimu." bisiknya. Naruto memejamkan matanya erat karena menahan malu, ia tak berani menatap mata pria yang kini tengah menindihnya lalu mulai membuka kedua kakinya. Itachi kembali pada tujuan awalnya. Lidah dan bibirnya mulai bekerja dibagian bawah tubuh Naruto yang paling sensitif. Naruto melengkungkan tubuhnya merasakan sensasi aneh, menyiksa dan nikmat secara bersamaan saat merasakan lidah Itachi di bagian kewanitaannya. Tangannya mencengkram seprai dengan kuat, lalu mendesah nikmat atas perlakuan Itachi. Tiba-tiba tubuhnya menegang merasakan sesuatu yang mendesak untuk keluar dari tubuhnya, cengkraman tangannya di seprai bertambah kuat saat gelombang kenikmatan itu datang menghampirinya.
Nafas Naruto tersenggal-senggal setelah pelepasannya. Mata safirnya dapat menangkap sosok Itachi yang kembali membungkuk diatasnya sambil mengusap bibirnya yang basah karena cairan Naruto.
"Sekali lagi." ujarnya dan tanpa menunggu persetujuan Naruto ia memasukkan satu jarinya kedalam daerah sensitif milik Naruto, membuat Naruto memekik kaget. Seolah tak puas dengan satu jari, ia kembali memasukkan satu jari yang lainnya. Alis Naruto saling bertaut merasakan sakit di daerah selangkangannya.
"Aku baru memasukkan jariku, tapi kau sudah kesakitan." ujar Itachi, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau harus kubuat terbiasa dengan jariku dulu." lanjutnya dan menambahkan satu jarinya lagi, membuat tiga jari itu sukses bersarang di daerah kewanitaan Naruto. Jari-jari itu terus bekerja mengobrak-ngabrik kewanitaan Naruto, berusaha memperlebarnya agar memudahkan jalan masuknya nanti.
"Aahhkk.." Naruto mendesah lagi, saat pelepasan itu kembali datang. Itachi menarik jari-jarinya yang telah lengket oleh cairan Naruto. Ia oleskan cairan itu pada puting Naruto, sebelum menghisapnya kuat.
"Ouugh.." Naruto mencengkram rambut Itachi saat merasakan hisapan kuat pada bagian putingnya.
"Masukkan, sekarang.. Aahh.." mendengar permohonan Naruto, pria itu segera melepas seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya membuat tubuhnya sama-sama polos seperti Naruto. Pria itu mulai memasuki Naruto dengan perlahan, ia tau ini pertama untuk Naruto. Hal itu tergambar jelas dari ekspresi kesakitan yang muncul di wajah Naruto. Itachi mencium bibir Naruto, mencoba mengalihkan rasa sakit itu. Saat Naruto mulai menikmati ciumannya, ia langsung melesatkan tubuhnya dalam sekali hentakan. Jerit kesakitan Naruto tertahan oleh bibir Itachi, air mata tampak keluar dari mata safirnya hingga membasahi kedua pipinya. Itachi melepaskan ciumannya.
"Ini sakit." ucap Naruto parau.
"Aku tahu." balas pria itu lidahnya menjilati sisa-sisa air mata yang terdapat di kedua pipi Naruto.
Itachi mendiamkan dirinya sejenak di dalam tubuh Naruto, memberikan waktu kepada Naruto untuk menyesuaikan tubuhnya, setelah merasa Naruto mulai menerima keberadaan dirinya ia mulai menggerakan pinggulnya perlahan. Naruto menggerang sakit, sebelum akhirnya mendesah nikmat. Rasa sakit itu kini berubah menjadi rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Naruto menggemgam kedua lengan Itachi yang berada dikedua sisi tubuhnya, bibirnya terus mendesah nikmat membuat Itachi mempercepat tempo genjotannya. Rasa Naruto ternyata lebih nikmat dari rasa wanita-wanita yang pernah ia kencani sebelumnya. Itachi mempercepat gerakannya membuat tubuhnya dan Naruto berguncang hebat.
"Aaahhkk... Tachihhh.." desahan Naruto membuat Itachi gila, ia kalungkan kedua kaki Naruto agar melingkari pinggangnya dan mempercepat gerakannya.
"Kau nikmatt Naruhh..." erang pria itu serak. Disela gerakannya ia dapat merasakan otot-otot kewanitaan Naruto yang bertambah kuat mencengkram miliknya sepertinya gadis itu akan kembali mendapat pelepasannya karena ia pun merasakan hal yang sama. Ia mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka bersama mencapai puncak dari kegiatan mereka.
"Aaahh.." erang Naruto saat merasakan benih pria itu yang masuk kedalam rahimnya, tubuhnya sedikit menggelinjang dibawah tindihan tubuh Itachi. Nafas mereka berdua tersenggal akibat aktifitas pembuatan bayi yang mereka lakukan. Itachi menggulingkan badannya kesamping, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Naruto. Tangannya melingkari posesif pinggang Naruto.
"Terimakasih." bisiknya sembari mengecup puncak kepala Naruto berkali-kali. Naruto tak menjawabnya ia terlalu lelah, hingga akhirnya ia terlelap dalam pelukan posesif sang sulung Uchiha, tak lama Itachi pun ikut terlelap menyusul Naruto.
Bad Love
Naruto mengerjapkan matanya perlahan, tubuhnya serasa remuk dan bagian selangkangannya terasa sangat sakit. Mukanya memerah saat teringat apa yang telah membuat selangkangannya terasa sangat sakit. Yah... mereka melakukannya. Proses membuat bayi, ia tak pernah tahu jika proses membuat bayi bisa sangat melelahkan,sakit, dan... nikmat disaat bersamaan. Ia mencoba menggerakan badannya, namun sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya menghentikan pergerakannya. 'Ini tangan Itachi.' batin Naruto. Dengan perlahan ia memindahkan tangan itu, berusaha untuk tidak membangunkan Itachi. Ia dudukkan badannya disisi ranjang. Erangan sakit keluar dari bibirnya yang tampak sedikit membengkak akibat ciuman panas Itachi.
Dengan langkah sedikit tertatih ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa percintaannya semalam dengan Itachi.
Mata Naruto menatap dengan seksama pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Matanya terbelalak melihat hampir sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh bercak merah karya Itachi. Naruto menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. 'Akhirnya kami telah melakukan proses pembuatan bayi, dan berarti sekarang aku sudah tidak perawan lagi' batin Naruto sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Naruto keluar kamar mandi dengan selembar handuk yang melilit tubuh rampingnya. Di atas ranjang ia dapat melihat Itachi yang masih terlelap dalam tidurnya. Akhirnya ia berinisiatif untuk membangunkan Itachi. Bukankah pagi ini pria itu ada rapat. Naruto tahu hal ini saat semalam mendengar percakapan Itachi dan Kakashi.
Hey! Dia tidak bermaksud untuk menguping, hanya saja ia punya telinga yang masih normal jadi jangan salahkan ia bila mendengarnya.
"Tachi, bangun." ujar Naruto sembari mengguncang tubuh pria itu pelan. Itachi menggeliatkan tubuhnya merasa terusik dengan guncangan tangan Naruto pada tubuhnya. Dengan sedikit enggan ia mulai membuka matanya perlahan, menampilkan iris mata yang sekelam malam. Hal pertama yang ditangkap oleh indera penglihatannya adalah sosok Naruto, tanpa sadar sebuah senyuman muncul di wajahnya. Jujur, dulu ia sempat membayangkan hal ini, saat terbangun dari tidurnya sosok Kyuubi lah yang ingin ia lihat untuk pertama kali. Dan sekarang di depannya tengah berdiri sosok yang sangat mirip dengan Kyuubi.
Tangan Itachi menarik tangan Naruto, Naruto yang tak siap dengan tarikan tiba-tiba itu kehilangan keseimbangn hingga tubuhnya oleng dan membuat ia sukses jatuh kedalam pelukan Itachi. Pria itu langsung mencium bibir Naruto memagutnya mesra tak lama hanya sebuah ciuman singkat di pagi hari.
"Aku hanya menagih morning kiss ku." ujar pria itu santai, membuat wajah Naruto memerah sempurna.
"Cepat mandi sana." ujar Naruto sembari mendorong tubuh Itachi kekamar mandi dengan wajah memerah. Itachi terkekeh pelan melihat sikap Naruto, sebelum bergegas menuju kamar mandi.
.
.
Tbc
.
.
Thanks For : | Ollanara511 | .faris | | Aretabelva | Nara Kamijo | yunaucii | Uchiha ryu'tto | Himura kenshin | Guest | Guest | lia wulan | Guest | Guest | uchihatachibana | uchihaizumi67 | Shikaru51 | opie90 | Jeong Daisuke | Nanako |.
.
.
Eiji Notes : Yaampun beneran deh lemonnya ancur banget yah xD. Oh iya chapter ini terinspirasi dari beberapa fic yang pernah Ei baca. Soal scene nikahnya gimana menurut kalian? Bener-bener gaje yah, jujur Ei paling repot bikin scene itu (-.-) Semoga chapter ini gak mengecewakan...
.
.
Boleh minta ripiw? ^o^
