Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru

Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran.

.

.

Gak suka ! Gak usah Baca !

.

.

Happy reading Minna... (^o^)

.

.

Summary : Yang terukir di matamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya di hatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.

.

.

Bad Love

By.

Namikaze Eiji

.

.

Kakashi datang pagi, sesuai dengan perintah Itachi. Namun, sepertinya ia tak perlu membangunkan pria itu lagi. Karena, sekarang pria itu telah lengkap dengan kemejanya meskipun dasi yang terpasang di lehernya belum terpasang sempurna. Alisnya sedikit bertaut melihat penampilan Itachi, kemeja yang ia pakai tampak seperti bukan gayanya yang biasa.

"Selamat pagi tuan muda." sapanya sopan.

"Selamat pagi, Kakashi."

"Hari ini anda tampak berbeda." ujar Kakashi dengan penuh keyakinan. Itachi melirikkan matanya sekilas ke arah Kakashi, sebelum bertanya. "Apanya yang berbeda?"

"Entahlah, anda terlihat lebih segar pagi ini."

"Mungkin karena aku tidur lebih nyenyak dari biasanya." jawab Itachi seadanya.

"Yah, mungkin." jawab Kakashi menyetujui perkataan Itachi, sambil tersenyum penuh makna. "Tuan, sarapan sudah siap." ujar Kakashi. Itachi menganggukkan kepalanya lalu pergi menuju ruang makan dengan Kakashi yang berjalan mengekorinya dibelakang sambil membawa jas kerja Itachi.

.

.

Di ruang makan terlihat Naruto yang tengah menata makanan diatas meja makan. Tidak seperti sebelumnya, hari ini ia memasak berbagai makanan kesukaan Itachi. Kegiatan Naruto terhenti ketika menyadari kehadiran Itachi dan Kakashi. Ia berjalan menghampiri Itachi, lalu dengan telaten tangannya mengikat dasi itu. Itachi dan Kakashi tampak terkejut dengan tingkah Naruto. Namun pria itu membiarkannya. Di belakangnya Kakashi yang telah sadar dari rasa terkejutnya menggulum senyum simpul melihat kegiatan roman picisan yang tengah berlangsung di depan matanya. Dalam hatinya ia ikut merasa senang karena kini ada yang memperhatikan tuannya. 'Mereka sudah seperti pasangan suami istri sungguhan, bila tak ada perjanjian konyol itu.' batinnya. Kakashi memang mengetahui perjanjian yang dibuat tuannya dan Naruto. Bahkan, ia pun menolak perjanjian konyol yang ada dipikiran tuannya. Namun, saat melihat mata Itachi yang penuh tekad untuk memiliki anak yang mirip dengan mendiang kekasihnya itu dengan berat hati ia menyetujui perjanjian itu dan mendukung tuannya.

"Nah, selesai. Sekarang kau sudah siap berangkat ke kantor." Naruto tersenyum hangat saat melihat dasi itu telah terpasang rapi di leher Itachi, membuat Itachi terpaku ditempatnya. Ada perasaan senang yang menggelitik hatinya saat Naruto tersenyum kearahnya, namun ia sendiri masih belum bisa menyimpulkan perasaan apa yang membuatnya begitu senang saat Naruto tersenyum ke arahnya.

Bad Love

Itachi tampak sibuk mengamati berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Ia terus berusaha berkonsentrasi dengan berkas-berkas yang ada di tangannya, namun pikirannya justru terus tertuju pada Naruto. Wanita yang sekarang telah resmi menjadi istrinya. Ah, bahkan mereka semalam melewatkan malam yang panas. Karena merasa sulit untuk berkonsentrasi akhirnya ia memutuskan untuk menaruh berkas-berkas itu di mejanya. Ia sandarkan punggungnya pada kursi kerjanya, kepalanya menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya lalu menerawang jauh. Naruto memang sangat mirip dengan Kyuubi, tapi kini Itachi sadar bahwa mereka benar-benar berbeda. Apa mungkin karena rasa mereka berbeda? Dulu, Itachi pernah mencium Kyuubi sekali, dan ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat itu, berbeda dengan Naruto. Hanya dengan mencium Naruto sekali membuat Itachi merasakan bukan perasaan kebahagiaan, tapi lebih kepada perasaan membutuhkan. Entah mengapa bayang-bayang Naruto terus mengusik pikirannya.

Tanpa ia sadari pikirannya melayang membayangkan kegiatan panas mereka malam tadi. Dimana Naruto berada dibawahnya, menggeliat dan mendesah nikmat saat ia menyentuhnya. Itachi segera menggelengkan kepalanya berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu. Jika terus diingat kemungkinan Itachi tidak akan bisa fokus lagi pada pekerjaannya karena ingin segera pulang dan kembali bercinta dengan Naruto. Dengan cepat Itachi bisa kembali berkonsentrasi dan kembali fokus pada berkas-berkas kerjanya.

.

.

Mansion Uchiha

Naruto terus melangkahkan kakinya mengelilingi taman yang ada di mansion ini. Taman yang menjadi tempat favoritnya semenjak ia tinggal di mansion ini. Disini tak banyak yang bisa ia kerjakan, karena disini sudah ada banyak pelayan yang telah mengerjakan semuanya. Jujur, ia tak biasa dengan hal ini. Biasanya Naruto selalu mengerjakan semuanya sendiri. Tapi sekarang? Semuanya telah ada yang mengurus. Tapi, ia tak merasa senang sedikitpun, ia lebih nyaman dapat mengerjakan semuanya sendiri. Matanya terhenti pada hamparan taman bunga yang ada di mansion ini. Bunga-bunga disini sangat indah dan terawat. Dan yang sedikit membuatnya heran kenapa semua bunga disini adalah bunga tulip? Meskipun dengan warna yang berbeda-beda. 'Tapi siapa yang menyukai bunga tulip? Kaasan tidak mungkin, letak rumah utama dengan mansion ini cukup jauh. Apa mungkin Itachi?' Naruto cepat-cepat menggelengkan kepalanya saat memikirkan itu. Naruto terkekeh geli membayangkan jika pria dingin seperti Itachi menyukai bunga tulip yang indah ini. Matanya menatap kagum sekeliling taman yang didominasi oleh berbagai macam bunga tulip seperti merah, kuning, oranye, dan putih. Perhatiannya terfokus pada bunga yang menarik perhatiannya. Alisnya berkerut melihat keadaan bunga itu, bunga ini sangat berbeda dengan bunga yang lain, bila bunga yang lain terlihat sangat cantik dan terawat namun bunga ini sangat berbanding terbalik dengan keadaan bunga yang lain. Yang Naruto herankan apa tukang kebun tidak merawat bunga ini? Karena merasa tak tega melihat kondisi bunga itu yang sangat jauh dari kata 'baik' Naruto memutuskan untuk memotong bunga itu dan menanamnya kembali di pot yang baru.

Naruto tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. Sekarang bunga itu telah ia pindahkan pada pot yang baru. Ia siram bunga itu agar cepat tumbuh dan mekar kembali. Senyuman tak pernah luput dari wajah Naruto saat melakukan kegiatan barunya.

Bad Love

Tak seperti biasanya Itachi yang terkenal karena worker holic hari ini pulang lebih awal. Ia sendiri bingung kenapa memutuskan untuk pulang lebih awal. Padahal pekerjaannya belum selesai seluruhnya. Matanya memandang kearah jalan sepanjang perjalanan pulang.

Drrtt...Drrtt

Getaran ponsel pada saku celananya mengalih perhatian Itachi. Sebuah senyuman tulus yang jarang ia tampakan muncul diwajah tampannya.

"Little brother?"

"Aish..Baka Aniiki jangan panggil aku begitu! Aku ini sudah dewasa!" terdengar suara bentakan dari sana. Itachi terkekeh pelan mendengar ucapan adiknya. Sudah dewasa, eh? Apa tidak salah? Melihat kelakuan adiknya yang sangat jauh dari kata dewasa.

"Otoutou, mana ada orang dewasa yang mengatakan sendiri bahwa dirinya telah dewasa, huh?" ujar Itachi santai, terdengar suara helaan nafas kasar disebrang sana.

"Aaisshh..kau benar-benar menyebalkan baka Aniiki."

"Yah, aku tahu itu." Itachi menampakkan seringainya saat mengatakan itu.

"Dasar. Oh selamat atas pernikahanmu. Ngomong-ngomong gadis mana yang telah mampu mncairkan hatimu yang beku itu?" tanyanya dengan nada usil. Itachi mendengus kasar sebelum menjawab pertanyaan itu. "Bukan urusanmu."

"A-aw, sepertinya dia gadis yang spesial, eh? Aku jadi penasaran seperti apa gadis yang telah meluluhkan hatimu itu." ucapnya menggoda sang kakak. Tanpa Itachi sadari semburat merah tipis menghiasi pipi pucatnya saat mendengar ucapan Sasuke.

"Kau akan terpesona saat melihatnya. Dia sangat cantik seperti malaikat." Itachi mendengar suara kekehan dari balik telefon.

"Ahaha, kau tenang saja Aniiki, aku sudah memiliki malaikat ku sendiri dan aku tak mungkin berpaling darinya." suara tegas Sasuke untuk beberapa saat membuat Itachi tertegun, jarang sekali adiknya bisa bersikap seperti ini.

"Siapa gadis beruntung itu? Aku jadi ingin bertemu dengannya." suaranya sangat tenang seperti seorang kakak yang ikut bahagia saat adiknya telah menemukan orang yang dicintai.

"Aku akan memperkenalkanmu padanya juga pada Kaasan dan Tousan, setelah skripsiku selesai. Ah, dan kau juga harus memperkenalkan gadis itu padaku." Itachi diam mendengar ucapan Sasuke, tampaknya adiknya benar-benar serius dengan gadis ini bila sudah memutuskan untuk mempertemukannya pada Kaasan dan Tousan. Sebuah senyum tulus kembali terukir di wajah tampannya.

"Aku menunggu saat itu." jawabnya.

Bad Love

Waktu perjalanan pulang terasa sangat singkat untuk Itachi. Kakinya melangkah dengan pasti memasuki mansion mewahnya, ia menatap sekeliling mencari keberadaan Naruto. Biasanya gadis itu akan menunggunya pulang dan membawakan tas miliknya, tapi kemana Naruto sekarang? Saat tiba diruang tamu ia dapat mendengar suara tawa yang sangat ia kenali. Dari jauh ia dapat melihat Kaasan-nya dan Naruto tengah bercanda gurau, sesekali mereka melempar candaan yang membuat mereka berdua tertawa. Gadis itu tertawa sangat lepas saat bersama Kaasan-nya. Tawa yang jarang sekali ia lihat selama Naruto tinggal disini. Mereka berdua tampak akrab, seperti sudah saling mengenal cukup lama dan Kaasan-nya terlihat sangat menyukai Naruto. Bagaimana jika Kaasan-nya tahu bahwa ia dan Naruto sebenarnya tak memiliki hubungan apa-apa, hubungan mereka hanya sebatas kontrak.

Tapi, apakah benar hanya sebatas itu? Bukankah perasaan manusia dapat berubah?

Tawa Mikoto terhenti saat melihat keberadaan putra sulungnya, membuat Naruto mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Mikoto. Sebuah senyum lembut terbit diwajahnya tanpa ia perintah, tanpa diperintah badannya bergerak menuju Itachi.

"Okaeri..." ucapnya saat berada tepat di depan Itachi. Itachi memandang Naruto dalam diam, entah mengapa hatinya terasa hangat saat Naruto mengucapkan itu. Dibelakang mereka Mikoto tampak tersenyum melihat kemesraan Itachi dan Naruto. Ia merasa tak perlu khawatir tak ada yang mengurus Itachi, bukankah sekarang telah ada Naruto yang berada disampingnya. Ia ber-de-hem kecil membuat pasangan itu kembali menatapnya. "Sepertinya sudah malam, Kaasan pulang dulu, ne" ucapnya sembari menghampiri mereka. Sebelum pergi ia memeluk Naruto terlebih dahulu dan membisikkan sesuatu pada gadis itu, membuat wajah Naruto merona merah. Alis Itachi bertaut bingung, ia sedikit penasaran pada apa yang dibisikkan Kaasan-nya pada Naruto. Setelah melepaskan pelukannya pada Naruto, kini Mikoto beralih menatap Itachi. "Jaga istrimu baik-baik, ne" Itachi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

.

.

Itachi dan Naruto tengah berada di kamar mereka. Setelah menikah mereka memang tidur bersama. Saat ini, Naruto tengah membantu Itachi melepaskan kemeja pria itu. Setelah kepergian Mikoto, Naruto langsung bertanya pada Itachi apa dia mau makan dulu atau mandi dulu, dan pria itu memilih untuk mandi dulu. Naruto menganggukkan kepalanya paham setelah mendengar jawaban Itachi. Ia segera bergegas untuk menyiapkan air hangat dan keperluan mandi Itachi yang lain, setelah selesai ia langsung membantu Itachi untuk melepaskan kemejanya.

Tangan Naruto dengan terampil membuka kancing demi kancing kemeja Itachi, sementara pria itu hanya diam memperhatikan Naruto. Jujur...Naruto merasa gugup saat Itachi menatapnya seperti ini apalagi dengan jarak sedekat ini. Jangtungnya terus berdetak kencang, dalam hati ia terus berdoa agar Itachi tak mendengar suara jangtung-nya.

"Apa Kakashi yang menyuruhmu untuk melakukan ini juga?" tanya Itachi setelah Naruto melepas seluruh kancing kemejanya. Naruto menengadahkan kepalanya menatap pria itu dengan pandangan bingung. Seolah mengerti dengan arti tatapan itu, Itachi memperjelas pertanyaannya. "Menyiapkan segala kebutuhanku?" tambahnya. Naruto mengangguk paham dengan maksud Itachi. "Ya, memangnya kenapa?" tanya balik gadis itu, mata safirnya memandang polos ke arah Itachi. Dalam hati ia mengumpat karena tindakan Kakashi yang melakukan semua ini. Sebelumnya Kakashi memang telah meminta izin padanya agar ia mengurangi pekerjaannya. Dan alasan yang pria itu berikan sangat sulit untuk ia tolak. Kakashi beralasan bahwa ia sudah tidak muda lagi dan ia ingin memiliki sedikit waktu santai. Dan pria itu mengusulkan agar mulai sekarang Naruto lah yang mengurus semua kebutuhan Itachi di rumah dan pria itu hanya mengurus urusan kantor. Sebelum menikah dan bertemu Naruto, yang mengurus segala kebutuhan Itachi adalah Kakashi, pria itu sudah seperti istri Itachi yang mengurus segala kebutuhan Itachi. Namun, kini ia bisa menghembuskan nafasnya sejenak, karena sekarang ada Naruto dan itu berarti ia bisa lebih santai.

"Biasanya Kakashi juga menemaniku masuk sampai kamar mandi." ujar Itachi tiba-tiba.

"Apa?" tanya Naruto, mencoba memastikan bahwa ia tak salah dengar, mata safirnya menatap lurus kearah mata oniks Itachi. "Tapi, Kakashi-san bilang aku hanya perlu membantumu melepaskan baju dan menungguimu mandi?" bantah Naruto.

"Dia tidak bilang kau harus memeriksa air panasnya?"

"O-oh..." Naruto mengerti maksud Itachi sekarang, sebenarnya ia merasa malu karena telah salah mengartikan maksud Itachi sebelumnya. Naruto segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan air shower, memeriksa panas air itu dengan tangannya. "Aahh..panas" Naruto secara refleks mengibas-ngibaskan tangannya lalu cepat-cepat menekan dan memutar keran untuk air dingin, ia menunggu selama beberapa saat sebelum memeriksa airnya lagi.

"Sudah cukup hangat." ia tersenyum lalu membalikkan badannya dan terkesiap kaget karena Itachi sudah melepaskan sisa pakaiannya sendiri dan berdiri tepat dibelakangnya.

Tangan putih Itachi memegang pundak Naruto lalu mendorong tubuh sintal gadis itu ke dalam bilik berkaca kamar mandi, membuat tubuh Naruto basah karena guyuran air hangat dari pancuran. Naruto mengerjap kaget lalu mengusap wajahnya yang basah dan bersandar ditembok marmer yang ada dibelakangmya. Matanya membulat sempurna saat tangan Itachi mulai membuka pakaiannya.

"Disambut seperti ini lebih menyenangkan dari pada disambut oleh Kakashi."

Naruto menelan salivanya melihat pemandangan menakjubkan yang ada dihadapannya, mereka sudah basah karena guyuran air dari shower.

"Tapi, Kakashi-san bilang aku tidak harus sampai masuk kedalam sini." Naruto berusaha mengeluarkan suaranya yang terasa tercekat ketika tubuhnya dialiri listrik menyambut sentuhan tangan Itachi ditubuhnya.

"Dia juga tidak bilang kita akan bercinta disinikan?" bisik Itachi seduktif disamping telinga Naruto.

"Ha?"

"Jangan pura-pura bodoh. Sekarang lepaskan bajumu yang sudah basah ini, lalu kita mulai lagi proses membuat bayi." Itachi menunduk dan mencium Naruto dengan menggebu seperti kemarin malam. Suara desahan dan erangan terus keluar dari bibir mereka. Itachi berhasil membebaskan Naruto dari pakaiannya yang sudah basah, menumpuk pakaian itu dilantai marmer kamar mandi.

Air hangat yang keluar dari shower membuat pergulatan mereka semakin panas, gerakan tangan Itachi mengusap dan membelai dengan tergesa-gesa. Uap panas menyelimuti mereka meninggalkan embun disekeliling dinding kaca bilik kecil itu. Tidak ingin bermain-main, karena tubuhnya sudah sangat ingin dipuaskan Itachi mengangkat Naruto kedalam gendongannya, mengalungkan kaki Naruto pada pinggangnya. Didorongnya tubuh Naruto hingga punggung gadis itu membentur tembok bermarmer. Miliknya yang memang sejak tadi sudah tegang mulai memasuki lubang hangat milik Naruto.

Naruto menggigit bibir bawahnya, merasakan sekali lagi milik Itachi memasuki tubuhnya. Rasanya memang tidak sesakit yang pertama, tapi Naruto tetap saja terkesiap kaget karena tiba-tiba merasa penuh di bawahnya. Itachi mengerang karena Naruto masih sesempit kemarin, mendesah lega setelah berhasil masuk seutuhnya. Itachi mulai bergerak dengan tekanan yang cepat dan memabukkan.

Naruto menumpukan tangannya di bahu Itachi, merasakan kenikmatan bertubi-tubi seiring pergerakan tubuh mereka. Desahan dan erangan nikmat menyertai kegiatan mereka. Itachi mencium Naruto ketika gelombang kenikmatan itu menghampirinya, dengan sekali dorongan Itachi pun sampai pada pelepasannya. Begitu juga dengan Naruto yang datang sedetik sebelum Itachi. Sekali lagi Naruto merasakan cairan hangat Itachi memasuki rahimnya. Mungkin setelah ini Naruto benar-banar akan hamil.

Setelah berhasil mengatur nafasnya, Itachi melepaskan dirinya dari Naruto dan menurunkan kaki gadis itu kembali hingga menginjak lantai. "Maaf aku menyerangmu seperti ini." ujar Itachi menyesal.

Naruto menatap Itachi takjub. Pria ini minta maaf padanya? "Tak apa" jawab Naruto, apa lagi yang harus ia jawab?

"Sekarang kau harus ikut mandi bersamaku." ucap Itachi sembari menjauhkan tubuhnya dari Naruto, menyemprotkan sabun cair ditangannya kemudian menggosoknya dengan kedua tangan hingga berbusa. Itachi mengusapkan tangannya yang berbusa di tubuh Naruto, tangan, perut, lengan, hingga ke payudara gadis itu. Itachi berlama-lama menyabuni payudara Naruto, semalam ia tidak melihat dengan jelas, istrinya memiliki lekukan yang indah, payudara penuh yang bisa memenuhi tangannya.

Itachi menarik pinggang Naruto hingga menempel dengan tubuhnya. Itachi sudah menegang lagi hanya dengan memandangi tubuh Naruto. "Sekali lagi, setelahnya kita akan benar-benar mandi." setelah mengucapkkan itu, Itachi mendaratkan ciumannya. Dan sekali lagi bercinta dengan Naruto.

Kegiatan mereka baru benar-benar terhenti saat tubuh polos mereka sudah benar-benar kedinginan. Itachi menggendong tubuh lemas Naruto menuju ranjang mereka, ia yakin gadis itu tak mampu berjalan sendiri karena gerakannya yang brutal. Diselimutinya tubuh polos Naruto, matanya mengamati wajah cantik istrinya dalam diam. Dimulai dari matanya yang terpejam, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah menggoda. Dan gadis ini benar-benar memiliki tubuh yang indah, meskipun sudah beberapa kali melihatnya, ia selalu terpesona melihat tubuh polos itu. Apalagi saat kedua pipi putih istrinya merona merah setiap kali ia mengajaknya bercinta. Ia baringkan tubuhnya yang masih polos disamping Naruto, memeluk posesif gadis itu dari belakang. Ia terlalu malas untuk berpakaian, terlalu lelah. Tak lama ia pun ikut menyusul Naruto pergi ke alam mimpi.

.

.

Tbc

.

.

Thanks For : | | hanazawa kay | Pena Bulu | za hime | ollanara511 | Nara Kiki | Hyull | minyak tanah | Cho Sihyun | miskiyatuleviana |yukiko senju | .faris | Atarashi ryuuna | | yunaucii | kyujaena | Guest | Riena Okazaki | kawaii | Guest | .739 | Guest | Kaname | Dewi15 | shanzec | Guest | Tico Michaelis | Guest | .

.

.

Boleh minta ripiw? ^o^

.

.