Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru

Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran.

Gak suka ! Gak usah Baca !

.

.

Summary : Yang terukir di matamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya di hatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.

.

.

Happy reading Minna... (^o^)

.

.

Bad Love

By.

Namikaze Eiji

.

.

Cahaya matahari menyusup masuk melalui celah-celah gorden tersebut seolah memberi tahu sang pemilik kamar bahwa pagi telah tiba.

Naruto mengerjapkan matanya pelan, membiasakan diri dengan cahaya yang ada diruangan itu. Sosok yang pertama ditangkap olehnya adalah seorang pria tampan yang terbaring disampingnya. Suaminya. Uchiha Itachi. Itachi tidur dengan posisi tertelungkup dengan kepala yang menoleh kesamping tepat ke arahnya. Namun, hal itu sama sekali tak mengurangi tingkat ketampanan suaminya justru dengan posisi seperti ini ia tampak terlihat sangat menggemaskan di mata Naruto. Naruto terkekeh pelan melihat cara tidur Itachi yang tampak seperti bayi begitu polos dan sangat menggemaskan di saat bersamaan. Keadaan mereka berdua masih sama seperti semalam, mereka berdua masih dalam keadaan 'polos' tanpa sehelai benang pun yang hanya ditutupi oleh selembar selimut. Namun, Naruto sama sekali tak merasa risih dengan keadaannya maupun Itachi. Bahkan ia tak merasa malu sedikitpun, lagipula untuk apa dia merasa malu toh ini bukan pertama kalinya Itachi melihat tubuh polosnya. Tiba-tiba Naruto merasakan pipinya memanas mengingat apa yang menyebabkan keadaannya polos seperti sekarang. Kemarin, setelah pulang dari kantor Itachi langsung menyerangnya. Ah, Naruto yakin setelah ini dia pasti akan benar-benar hamil.

Mata safir Naruto terus mengawasi wajah Itachi dimulai dari kening pria itu yang selalu berkerut jika menghadapi masalah, mata oniks yang selalu waspada dan memandang tajam pada orang yang baru di kenalnya dan hidung mancung pria itu. Tatapan Naruto terkunci pada bibir Itachi, bibir itulah yang merebut ciuman pertamanya, bibir itu jugalah yang telah membuat tanda kepemilikan hampir di setiap senti tubuhnya, mengklaim bahwa Naruto hanya milik Itachi seorang. Tangan Naruto terangkat mengusap bibir yang telah banyak membuat tanda kemerahan di tubuhnya itu. Entah ia mendapat dorongan dari mana, tapi sekarang ia benar-benar ingin mencium bibir itu.

Naruto bergeser mendekati tubuh Itachi, ia mulai mendekatkan bibirnya dan Itachi.

Cup Cup Cup

Naruto mengecup bibir itu beberapa kali. Sebuah senyuman mengembang di wajah cantiknya setelah ia berhasil melakukan keinginannya. Ia menatap lama wajah Itachi namun kali ini dengan jarak yang lebih dekat. Naruto merasa sangat beruntung memiliki Itachi sebagai suaminya, meskipun ia sadar pernikahan mereka hanya sebatas 'perjanjian' namun Itachi selalu memperlakukannya dengan baik dan itu membuatnya merasa nyaman bila berada di dekat pria ini.

"Kau sudah puas memandangi wajahku?" Naruto mengerjap kaget mendengar pertanyaan Itachi, itu berarti dari tadi pria ini sudah bangun dan Itachi sadar bahwa dia telah mencuri ciuman Itachi diam-diam?

"Kau memang perlu di hukum Uchiha Naruto, karena telah berani menggodaku." ucapnya lagi. Naruto menatap Itachi bingung mendengar ucapan pria itu, seolah mengerti akan tatapan Naruto, pria itu menarik tangan Naruto lalu mengarahkannya pada bagian bawah tubuhnya yang kini telah menegang sempurna. Mata Naruto membulat merasakan 'sesuatu' yang menegang di bawah sana. 'Ah, kenapa dia mudah sekali bangkit' batin Naruto sedikit jengkel. Mereka baru saja selesai melakukan proses pembuatan bayi pukul dua pagi dan sekarang pria ini ingin melakukannya lagi.

"Aahhkk..." Naruto menjerit kaget saat Itachi memasukkan miliknya dalam sekali hentak. Pria itu mencium Naruto mencoba mengalihkan rasa sakit gadis itu meskipun Naruto sudah beberapa kali ia masuki namun milik Naruto tetap terasa sempit seperti saat pertama kali ia masuki. Itachi terus melumat bibir Naruto dalam sembari menggerakkan pinggulnya. Naruto ikut menggerakan pinggulnya berlawanan arah membuat mereka melenguh nikmat.

Bad Love

Mobil hitam yang dikendarai Kakashi berhenti tepat di halaman depan mansion mewah ini. Kakashi melangkah memasuki mansion mewah itu di tangannya ia membawa bahan-bahan makanan untuk kebutuhan Naruto dan Itachi tak lupa dengan membawa beberapa buku pesanan Naruto. Sudah dua bulan berlalu dan semenjak kedatangan Naruto pekerjaannya terasa lebih ringan, ia hanya perlu mengurus dan membantu Itachi tentang urusan kantor atau hanya bertugas ketika persediaan makanan di mansion ini sudah habis. Jujur, Kakashi benar-benar terkejut mendapati tuan mudanya itu sama sekali tidak protes maupun mengeluh tentang Naruto. Dan Kakashi bisa langsung menebak kalau gadis itu sudah pandai mengurus Itachi, atau dia memang pandai mengurus seorang suami?

Kakashi melangkah masuk, ia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling mansion. Alisnya bertaut bingung melihat keadaan mansion yang tampak sangat sepi. Ia tahu betul hari ini hari minggu hari dimana orang-orang bermalas-malasan dan bangun siang. Tapi, setaunya tuan mudanya itu bukanlah tipe seperti itu. Yang ia tahu Itachi tak pernah bangun siang meskipun ia tidur larut malam ataupun karena hari libur. Kakashi melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menaruh semua bahan makanan itu. Karena tak menemukan Itachi maupun Naruto disini ia memutuskan untuk menghampiri Naruto di kamar gadis itu untuk memberikan buku-buku pesanan Naruto.

"Naru-chan, apa kau di dalam?" masih tak ada jawaban membuat Kakashi mengerutkan alisnya bingung sekali lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara pekikkan Naruto dari dalam kamar, ia pun bergegas mendekati kamar itu namun saat tangannya akan membuka kenop pintu, ia menghentikan pergerakan tangannya membuat tangannya mengambang di udara. Mulanya ia merasa khawatir saat mendengar suara pekikkan Naruto takut Naruto terjatuh atau terpeleset, namun kemudian tangan itu berhenti ketika ia juga mendengar suara erangan Itachi dari dalam kamar.

Kakashi membuka mulutnya berbentuk seperti huruf 'O' lalu mengatupkannya rapat-rapat. Cepat-cepat ia berbalik dan berjalan menjauh, tidak perlu di lihat lagi ia tahu apa yang terjadi di dalam sana.

Suara nafas yang tersenggal-senggal memenuhi kamar Naruto. Itachi menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang dengan Naruto yang berada di pangkuannya. Nafas Naruto yang menderu menyapu permukaan bahu kokohnya, gadis itu jelas kelelahan. Tentu saja lelah karena Itachi memintanya untuk bergerak lebih cepat untuk mendapatkan puncak kepuasan dari kegiatan mereka. Itachi menaikkan kepalanya, tangan kirinya melingkari pinggang ramping Naruto. Sedangkan tangan kanannya merapikan rambut Naruto yang tampak berantakan akibat proses pembuatan bayi mereka. Disisirnya rambut itu menggunakan jari-jarinya, setelah merasa cukup rapih ia peluk Naruto erat. "Kau semakin pandai bercinta." bisikkan kata-kata vulgar itu membuat Naruto meremang dan merona malu. Bagaimana ia tidak menjadi pandai, jika Itachi dengan ahli dan piawai mengajarinya. Naruto bahkan tidak tau ada posisi-posisi yang membuatnya tercengang dan mendapat kenikmatan lebih. Naruto menjauhkan kepalanya. "Ini sudah pagi." ujar Naruto mengingatkan dan mendapati anggukan setuju dari Itachi. "Kau ingin mandi atau sarapan dulu?" tanyanya.

"Mandi." jawabnya singkat. Naruto mengangguk paham. Pelan-pelan Naruto melepas tautannya dengan Itachi. Itachi mendesis pelan saat Naruto melepas tautan mereka berdua. Naruto melangkah dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Itachi. Itachi menatap Naruto dalam diam. Sungguh aneh pikirnya, sebelumnya ia tak pernah di hampiri desakkan untuk meniduri seseorang sekuat ini. Tidak bisa di hitung lagi sudah berapa kali Itachi bercinta dengan Naruto. Dan ia sadar betul kegiatan bercinta itu bukan hanya untuk proses pembuatan bayi mereka, tapi lebih kepada keinginan pribadi Itachi. Entahlah, mungkin karena hormon seksual di dalam tubuh Itachi sedang meningkat sehingga membuat pria itu ingin menjamah Naruto.

Bad Love

"Ojii-san, kau sudah datang?" Naruto terkejut mendapati Kakashi yang sudah ada di dapur.

"Ne, kau baru bangun?" tanyanya.

"Ah, itu..." Naruto hendak membantah namun menghentikan bantahannya, sadar bahwa penampilannya belum rapih sempurna. Naruto menyisipkan beberapa helai anak rambutnya kebelakang telinganya untuk mengurangi rasa gugupnya lalu berjalan ke arah washtafel.

"Itu, aku kesiangan." jawabnya canggung. Kakashi menyembunyikan senyumnya, ia berpura-pura tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.

"Naru, ini buku-buku yang kau pesan kemarin." Kakashi memberikan beberapa buku tentang tanaman kepada Naruto.

"Ah, terimakasih ojii-san." Naruto tersenyum senang menerima buku-buku itu.

Naruto mulai menyiapkan pakaian santai rumahan untuk Itachi lalu menaruhnya di atas tempat tidur setelah itu ia memutuskan untuk membuat sarapan untuk dirinya dan juga Itachi.

"Ah, aku lupa menanyakan ia ingin makan apa." ucap Naruto lesu menyadari kecerobohannya.

"Masakkan apapun yang kau buat tuan muda pasti akan menyukainya." ucap Kakashi menyemangati Naruto.

"Baiklah..." jawab Naruto, ia dengan terampil menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.

"Ojii-san, duduklah sebentar aku akan membuatkanmu teh." ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari masakkan yang sedang ia buat. Dengan patuh Kakashi menuruti perintah Naruto, dari awal bertemu Naruto ia sudah bisa merasakan bahwa Naruto adalah gadis yang baik, karena itu ia sangat setuju akan hubungan Itachi dan Naruto. Ia bahkan telah membuat beberapa rencana untuk membuat hubungan Itachi dan Naruto menjadi semakin dekat.

"Kakashi kau sudah datang?" suara Itachi terdengar dari belakang mereka. Kakashi menolehkan kepalanya dan menatap terkejut pada baju yang di gunakan Itachi. Bukan baju yang aneh memang, hanya pakaian santai rumahan biasa. Tapi...melihat tuan mudanya berpakaian beda dari biasanya membuatnya merasa aneh dan memberikan reaksi yang berlebihan. Seorang direktur muda yang biasanya selalu memakai jas kebesarannya kini hanya memakai pakaian rumahan biasa, jadi wajar kan bila reaksinya sedikit berlebihan? Mata Kakashi tak lepas memandang ke arah Itachi hingga pria itu duduk di meja makan.

Naruto memutar tubuhnya ia berjalan santai menghampiri mereka berdua dengan semangkuk nasi dan meletakkannya diatas meja. Setelah itu ia menuangkan segelas air hangat dan menaruhnya di depan Itachi. Itachi meminum air hangat itu dengan santai seolah hal itu memang telah menjadi kebiasaannya. Kakashi terdiam memandangi kegiatan itu. Naruto benar-benar melakukannya? Ia benar-benar menyiapkan segala kebutuhan Itachi bahkan sampai hal-hal yang paling kecil?

Itachi memandang Naruto yang tengah mengambil lauk pauk untuknya dalam diam. Dia sangat menikmati kegiatan ini, sejak beberapa bulan lalu saat pertama kali Naruto menyiapkan sarapan untuknya, menyiapkan pakaiannya, mengikatkan dasinya bahkan sampai hal-hal kecil yang selalu Naruto perhatikan. Ia menyukainya. Sangat. Semua perhatian yang Naruto berikan membuat sesuatu dalam dirinya merasa hangat dan nyaman. Sebelumnya ia selalu melakukan semuanya sendiri. Dan anehnya ia tak pernah menolak atau marah pada pilihan Naruto walau tak jarang pilihan baju gadis itu tak sesuai dengan keinginannya, namun ia tak marah justru dengan senang hati memakainya dan ia pun tak tau kenapa.

Naruto mulai menuangkan sup miso yang baru di buatnya. Keningnya berkerut mencium aroma tajam dari sup tersebut, sebisa mungkin ia menahan desakkan di dalam perutnya yang minta di muntahkan. Cepat-cepat Naruto menutup tutup panci itu.

"Naru-chan, kau kenapa?" Kakashi bertanya khawatir melihat perubahan sikap Naruto.

"Ada yang salah dengan sup ini. Baunya tidak enak." Kakashi berdiri menghampiri Naruto, lalu membuka tutup panci itu dan menghirup aromanya. "Baunya tidak enak kan?" tanya Naruto lagi.

"Ini terlihat lezat, dan baunya juga enak. Naru-chan apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Aromanya membuatku mual." jawab Naruto dengan kening berkerut ia mengambil tutup panci dari tangan Kakashi lalu menutup sup itu. Kakashi menaikkan sebelah alisnya, gejala seperti ini...mungkinkah?

"Kenapa?" tanya Itachi yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua dalam diam mencoba mengamati kejadian yang ada di depannya.

"Aku akan pergi membeli alat tes kehamilan." ucap Kakashi. "Sekarang aku permisi tuan muda." ucapnya lagi.

Naruto terdiam dengan mata yang terbelalak mendengar ucapan Kakashi. Apa maksud Kakashi tadi? Apa maksudnya saat ini ia tengah hamil? Naruto mulai menghitung dalam hati kapan terakhir kali ia datang bulan, memang sudah lama ia menyadari telat datang bulan, tetapi ia tidak pernah menyadari jika di dalam perutnya ada sesuatu yang sedang terbentuk. Pelan-pelan matanya melirik ke arah Itachi lalu kearah perutnya yang masih tampak datar. Naruto dapat dengan jelas melihat raut terkejut dari wajah Itachi sama sepertinya yang juga merasa terkejut.

Itachi berdehem. Mencoba mengusai dirinya. "Aku akan memanggil dokter pribadiku untuk mengecek kebenarannya."

Krieeett...

Itachi membuka pintu kamarnya, ditangannya ia membawa segelas susu hangat. Bukan susu yang biasa ia minum melainkan susu untuk ibu hamil. Matanya menatap sekeliling kamar, alisnya bertaut heran karena tak melihat kehadiran Naruto di kamar tersebut. Ia berjalan mendekati meja kecil yang ada di sebelah ranjang lalu menaruh susu itu diatasnya. Saat akan melangkahkan kakinya menuju keluar kamar ia mendengar suara tertahan Naruto dari dalam kamar mandi. Itachi berjalan masuk ke kamar mandi. Matanya membelalak terkejut melihat Naruto yang tengah membungkuk di depan washtafel dengan tangan yang menutup mulutnya, wajah Naruto tampak sangat pucat.

"Kau baik-baik saja?" tanya Itachi khawatir, ia memegang tengkuk Naruto lalu memijatnya pelan. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, tenaganya sudah terkuras habis karena sudah memuntahkan seluruh isi perutnya. Itachi mengerutkan alisnya, sesungguhnya ia tampak tak begitu suka melihat kondisi Naruto yang seperti menahan sakit. 'Apa hamil begitu menyakitkan?' itulah yang ada di pikirannya.

"Aku akan memanggil dokter."

"Tak usah.." cegah Naruto cepat. "Aku baik-baik saja, hal seperti ini memang sudah biasa terjadi pada wanita hamil di awal-awal kehamilannya."

"Kau yakin?"

"Iya, jika kau tak percaya kau bisa menanyakannya pada Kaasan."

Itachi masih mengerutkan alisnya, ia masih khawatir melihat wajah Naruto yang terlihat sangat pucat. "Istirahatlah kalau begitu. Apa ada hal yang kau inginkan?" Naruto memandang ragu ke arah Itachi ia bimbang ingin mengutarakan isi hatinya sebenarnya memang ada hal yang ia inginkan.

"Itu..Anooo.." Naruto menyampirkan anak rambutnya kebelakang telinganya sebisa mungkin ia menghindari tatapan Itachi. Sebenarnya memang ada hal yang ia inginkan, namun ia masih bimbang untuk mengatakannya.

"Katakanlah"

"Aku ingin berjalan-jalan denganmu di taman belakang."

Bad Love

Seulas senyum tak lepas dari wajah Naruto, ia benar-benar merasa bahagia karena Itachi mau memenuhi permintaannya. Menemaninya jalan-jalan di sekitar taman bunga yang berada di belakang mansion Uchiha ini.

"Apa kau tidak pegal dari tadi terus tersenyum seperti itu?" Naruto mendelik tajam ke arah Itachi mendengar ucapan suaminya.

"Harusnya kau mengatakan istriku benar-benar cantik saat tersenyum seperti itu, bukan malah mengatakan yang sebaliknya." jawab Naruto sebal, sembari mempoutkan bibirnya. Itachi terkekeh geli melihat sikap Naruto yang berbeda dari biasanya. Emosi dan sifat Naruto jadi sedikit sensitif sekarang. Biasanya gadis ini tampak sangat tegang bila ada di dekatnya seolah tengah menghadapi bos garang yang bisa menerkamnya kapan saja. Namun, sekarang?

"Kau suka disini?"

"Ya, disini nyaman dan bunga-bunga tulip disini juga indah." ucapnya tersenyum sembari menatap Itachi dengan mata yang berbinar memancarkan aura bahagianya. Hati Itachi terenyuh melihat wajah bahagia istrinya. Dalam hati ia berjanji tak akan membuat wajah bahagia itu menghilang dari wajah cantik istrinya.

"Kau tau? Kyuubi juga sangat menyukai bunga, terutama bunga tulip. Dulu, ia juga sangat senang menghabiskan waktunya di taman ini. Dia bilang bunga tulip itu tak hanya indah, namun setiap warnanya melambangkan makna yang berbeda." Naruto terdiam mendengar ucapan Itachi. Ini untuk pertama kalinya Itachi menceritakan tentang mendiang kekasihnya. Dari awal Naruto memang penasaran gadis seperti apa Kyuubi itu? Apa gadis itu cantik? Apa gadis itu baik? Dan seberapa mirip wajahnya dengan gadis bernama Kyuubi itu? itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam otaknya namun ia tak pernah berani menanyakannya secara langsung, ia masih tau batasannya dan ia sadar betul posisinya bagi Itachi. Jujur, hati kecil Naruto merasa iri melihat seberapa besar cinta yang di berikan Itachi pada gadis itu. Meski gadis itu telah pergi, namun kenangannya selalu hidup dalam hati Itachi. Pria ini bahkan rela menyewa perempuan sepertinya untuk mengandung dan melahirkan anaknya, dengan alasan karena wajah mereka mirip.

Mereka berhenti tepat di hamparan bunga tulip kuning. "Ia pernah bilang bahwa cinta kami seperti bunga tulip kuning. Kau tau artinya? Cinta yang tak ada harapan. Meski aku terus meyakinkannya namun dalam hatiku...aku juga merasakan hal yang sama. Penyakit itu terus menggerogoti tubuhnya tapi senyumannya tak pernah lepas dari wajah cantiknya saat bersamaku. Padahal dia sedang merasakan sakit akibat kanker otak yang ia derita. Namun, ia selalu menampakan senyumnya saat bersamaku...seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja, ia kuat menghadapi semua ini. Tapi, sepertinya Tuhan tak suka melihat ia menderita terlalu lama karena penyakit itu hingga mengambilnya dari sisiku." Naruto memandang Itachi dalam diam, mata pria itu memancarkan kesakitan yang telah lama ia pendam.

"Kau lihat bunga itu." Naruto mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Itachi. Itu, bunga yang dulu ia tanam kembali. "Sebelum di pergi dia memberiku bunga itu. Bunga Hyacinth. Aku pikir ia tengah meledekku lewat bunga itu karena tak berhasil menjadi kekasih yang baik. Bunga itu mati sama seperti hatiku yang mati saat melihatnya mati." tatapan terluka Itachi membuat hati Naruto berdenyit nyeri, ia tak suka melihat tatapan itu. Pria ini sekarang tampak begitu rapuh. Naruto ingin melakukan sesuatu untuknya, setidaknya untuk membalas semua kebaikan yang Itachi berikan padanya, yah hanya untuk itu tidak lebih. Batinnya mengukuhkan. Diusapnya lengan atas Itachi lembut berusaha menyalurkan kehangatannya lewat usapan itu, berharap dengan usapannya Itachi sadar bahwa ia tidak sendiri disini. Naruto tersenyum menenangkan ke arah Itachi mata safirnya memandang lembut ke arah mata oniks yang tampak tengah menahan rasa sakit itu. Menyalurkan kekuatan dan kehangatannya lewat tatapan itu.

"Kau mungkin salah mengartikan maksudnya Tachi..." ucapnya lirih hampir menyerupai bisikkan. "Bunga Hyacinth bukanlah bunga yang melambangkan kekecewaan. Bunga itu seperti awal yang baru, kurasa lewat bunga ini ia ingin kau memulai hidup yang baru, menjalani hidupmu lagi. Ia tak ingin kau terus merasa terluka karena rasa bersalahmu kepadanya, justru sebaliknya ia berharap kau dapat memulai awal yang baru dan menemukan kebahagianmu lagi. Kyuubi dia...kurasa benar-benar mencintaimu. Bahkan, di saat-saat terakhirnya pun ia masih memikirkanmu..." Naruto membingkai wajah Itachi, lalu mengusapnya lembut. Ia melihat dengan jelas perubahan raut wajah Itachi. Pria itu kini tampak terdiam mencerna ucapan Naruto barusan. Mata oniks itu memandang Naruto lama dalam diam.

"Naru..." Naruto menggumam sebagai jawaban, matanya balas menatap Itachi menunggu kelanjutan ucapan pria itu.

"Selama beberapa bulan ini sudah banyak yang terjadi diantara kita. Bukan hanya satu dua hal yang berubah dan aku pun sudah memikirkannya. Aku ingin kau menjadi istriku, istriku yang sesungguhnya. Bukan hanya karena perjanjian dalam kontrak itu. Aku ingin kau menjadi bagian dalam hidupku."

"Kau tak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu mu." potong Itachi saat melihat raut terkejut dari wajah Naruto. Ia sadar ini begitu mendadak dan terkesan tiba-tiba. Tapi itu salah, ia memang sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Meskipun ia belum merasakan getaran cinta saat bersama Naruto namun saat bersama gadis ini ia merasa nyaman dan ia rasa Naruto adalah orang yang paling tepat mengisi kekosongan hatinya.

Bad Love

Makan malam kali ini tampak ramai karena kehadiran nenek Chiyo dan kedua orang tua Itachi. Saat mendengar kabar kehamilan Naruto dari Kakashi, mereka segera memutuskan untuk berkunjung kemari. Mikoto tak henti memberikan perhatiannya pada Naruto, ia merasa senang karena sebentar lagi ia akan memiliki cucu dan menjadi seorang nenek. Fugaku dan nenek Chiyo tak mampu menyembunyikan senyumannya saat mendengar kabar bahagia ini. Makan malam berjalan hangat, setelah selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Berkumpul bersama di selingi dengan candaan dan gurauan Mikoto yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.

"Kau harus banyak istirahat Naru-chan. Ah iya, tadi Kaasan membeli ini." Mikoto dengan semangat memberikan sebuah bingkisan pada Naruto. Bingkisan itu berisi benang wol dengan berbagai warna yang indah, bahannya terasa sangat lembut di kulit tak lupa dengan jarum jait khusus untuk merajut. "Kaasan tau kau suka merajut. Karena itu Kaasan memberikan ini. Kau bisa membuat baju-baju bayi yang lucu dengan ini. Kau tau? Baju pertama seorang bayi sangatlah penting. Apalagi jika baju itu buatan ibunya." ucap Mikoto menambahkan. Naruto tersenyum haru menerima pemberian Mikoto. Mikoto sangat baik pada Naruto dan sudah menganggap Naruto sebagai anak kandungnya sendiri.

.

.

Naruto memandang keluar ke arah jendela kamarnya. Tangannya menggenggam erat kalung dengan batu safir berbentuk hati pemberian neneknya. Sebelum mereka semua pulang, neneknya memberikan sebuah kalung untuknya.

"Maaf, karena nenek tak bisa memberimu banyak. Tapi, nenek ingin memberikan ini padamu." nenek Chiyo memberikan sebuah kalung pada Naruto lalu membantu memakaikannya.

"Ini adalah kalung mendiang ibumu, kuharap kau suka Naru.." tambahnya, Naruto memeluk neneknya sayang.

"Nenek kau ini bicara apa? Apapun pemberian nenek, Naru pasti menyukainya." ujarnya sembari tersenyum bahagia. Hati nenek Chiyo terenyuh mendengar penuturan cucunya. Ia merasa sangat beruntung karena memiliki Naruto sebagai cucunya.

Sebuah tangan yang melingkari pinggangnya menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Apa yang kau pikirkan? Tak baik merenung malam-malam." Naruto dapat merasakan dengan jelas hembusan nafas hangat Itachi karena pria itu berbicara tepat di perpotongan lehernya. Ia tersenyum simpul mendengar ucapan penuh perhatian dari Itachi. "Tidak ada. Aku hanya merasa sangat bahagia malam ini. Tachi, kau tau? Semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini terasa seperti mimpi. Yah, mimpi indah di musim semi. Semuanya terlalu indah untukku. Dan aku sangat takut, saat aku terbangun nanti mimpi indah ini akan berakhir." bukannya menjawab ucapan Naruto pria itu justru mulai menjilat-jilat leher putih Naruto di selingi dengan kecupan-kecupan sensualnya. Naruto mengerang merasakan rangsangan Itachi pada bagian lehernya.

"Tachihh..hen-tikan..." pinta Naruto sedikit mendesah. Jemarinya mencengkram erat tangan Itachi yang melingkari pinggangnya, mencoba mencari pelampiasan atas rangsangan yang di berikan suaminya.

"Kau merasakannya bukan? Berarti ini bukan mimpi. Jika perlu kita bercinta sekarang juga untuk membuatmu yakin." ucapan Itachi yang dengan terang-terangan mengajaknya bercinta membuat pipi putihnya merona malu. 'Kenapa dia mudah sekali mengatakan hal-hal vulgar seperti itu.' batin Naruto.

Naruto melepas pelukan Itachi. "Sayang sekali tuan Uchiha, tapi untuk hari ini jatahmu sudah habis. Ah, badanku bahkan masih terasa sakit akibat ulahmu." ungkap Naruto sembari menggerakan badannya yang terasa sakit. Itachi mendengus melihat Naruto yang secara halus menolaknya, namun ia tak marah. Ia berjalan menghampiri istrinya lalu menggendongnya ala bridal style ke ranjang mereka.

"Baiklah kali ini kau menang Uchiha Naruto. Tapi, sebagai gantinya aku ingin tidur sambil memelukmu." Naruto tersenyum mengiyakan lalu memberikan beberapa kecupan pada Itachi yang tengah berjalan sambil menggendongnya. Itachi mengeram menerima kecupan-kecupan Naruto, gadisnya benar-benar menggodanya. Apa ia tidak tau sentuhan sekecil apapun yang Naruto berikan padanya telah membuat monster kecilnya menegang di bawah sana? Ia balas mengecup Naruto. Lalu setelah sampai pada ranjang ia baringkan tubuh Naruto. Di sesapnya bibir Naruto sebentar, namun di luar dugaan Naruto justru balas mencium Itachi dengan semangat. Sepertinya kehamilannya benar-benar merubah sikap Naruto menjadi lebih sedikit agresif. Itachi mengerang karena Naruto dengan semangat menyesap bibirnya. Ia melepas dengan enggan ciuman itu. "Jangan menggodaku, kau sudah membuat monster di bawah sana menegang, honey." ucapnya memperingatkan Naruto. Naruto sedikit kecewa karena Itachi memutus secara sepihak ciuman mereka, namun ia menggangguk paham setelah mendengar penjelasan Itachi.

"Baiklah, lagi pula bukankah besok kau ada rapat penting jadi kau tak boleh terlambat." Akhirnya mereka pun tertidur dengan Itachi yang memeluk Naruto dari belakang, tak jarang tangannya mengusap lembut perut Naruto yang kini tengah mengandung buah hatinya. Buah hati mereka.

.

.

Tbc

.

.

Thanks For : | riena okazaki89 | yukiko senju | Pena Bulu | zukie1157 | ini dee | nurhasanah putri 146 | Arum Junnie | Dewi15 | sivanya anggarada | Arnygs | iche cassiopeiajaejoong | yunjae q | Aiko Michishige | Nara Kiki | yunaucii | Guest | Uchiha ryu'tto | kaname | kagome | uchihaizumi67 | shikaru51 | Nara kamijo | Guest2 | Guest3 | Guest4 | Guest5 | Guest6 | Olla | Najiha Hizaki Anzu | Nisa Yagami | funny bunny blaster | Guest7 | Guest8 | Naru kawai | .

.

.

Eiji Notes : Akhirnya bisa update fic ini, ada yang kangen ama fic ini? (^o^) Seneng bisa nyatuin mereka berdua di chapter ini xD. Ah iya, soal penyakit Kyuubi Ei bener-bener ngarang, jadi jangan nanya tentang masalah penyakit itu yah... xD. Ada yang tau bunga Hyacinth? Bagi yang udah baca True Love pasti gak asing kan ama nama bunga itu (^o^) Ada yang nanya malaikat Sasuke itu Naru bukan? Silahkan kalian tebak sendiri :p. Oh iya konflik feelnya kurang dapet kah? :o. Gomen, Ei emang gak terlalu pinter nyiptain suasana yang kuat. Tapi Ei udah berusaha semampu Ei, semoga gak mengecewakan kalian... :3. Jujur aja, awalnya Ei niatnya update fic ini tar tanggal satu, tapi gak papa lah sekarang juga xD. Mumpung lagi libur dan ada waktu buat ngetik xD. Gomen kalo pertanyaannya ada yang gak ke jawab tapi Ei baca semua kok :3.

.

.

Boleh minta ripiw? ^o^