Eiji Notes : Minna maaf ya updatenya lama banget ( -.- ) Beneran deh Ei lagi banyak tugas jadi tolong dimaklumi ya (^o^) Oh iya banyak reader baru ya, salam kenal semuanya (^o^) Oke, langsung baca aja (^o^)

Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru

Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran.

Gak suka ! Gak usah Baca !

.

.

Summary : Yang terukir di matamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya di hatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.

.

.

Happy reading Minna... (^o^)

.

.

Bad Love

By.

Namikaze Eiji

.

.

You know, I can't take one more step, towards you

( Kau tahu, aku tak bisa lagi melangkah, mendekatimu )

Cause all that's waiting is regret

( Karena yang menantiku hanyalah penyesalan )

And don't you know I'm not your ghost anymore

( Dan tak tahukah kau aku bukan hantumu lagi )

I lost the love, I loved the most

( Aku t'lah kehilangan cinta dari orang yang paling kucinta )

I learned to live, half alive

( Aku belajar hidup, setengah mati )

And now you want me one more time

( Dan kini kau inginkan aku sekali lagi )

And who do you think you are?

( Dan kau kira siapa dirimu? )

Running round leaving scars

( Ke sana kemari membuat luka )

Collecting your jar of hearts

( Mengumpulkan guji hatimu )

And tearing love apart

( Dan mematahkan cinta )

You're gonna catch a cold

( Kau 'kan terserang demam )

From the eyes inside your soul

( Dari mata dalam jiwamu )

So don't come back for me

( Maka janganlah kau kembali padaku )

Who do you think you are?

( Kau kira siapa dirimu? )

I hear you're asking all around

( Kudengar kau bertanya ke mana-mana )

If I am anywhere to be found

( Tentang keberadaanku )

But I have grown too strong

( Namun kini aku tlah terlalu tangguh )

To ever fall back in your arms

( Untuk jatuh lagi dalam pelukmu )

Dear, it took so long, just to feel alright

( Kasih, butuh waktu lama untuk merasa baikan )

Remember how you put back the light in my eyes

( Ingat bagaimana kau nyalakan kembali cahaya di mataku )

I wish, that I had missed the first time that we kissed

( Andai kulewatkan saat pertama kita berciuman )

Cause you broke all your promises

( Karna kau ingkari janjimu )

And now you're back

( Dan kini kau kembali )

You don't get to get me back

( Kau tak bisa mendapatkanku lagi )

Don't come back at all

( Jangan pernah kembali )

Who do you think you are?

( Kau kira siapa dirimu? )

Jar of Hearts

By.

Maddi Jane

.

.

"Akhirnya kau menjawab teleponmu juga Little Brother. Kau tau? Dua hari terakhir aku terus mencoba menghubungimu! Tapi, ponselmu tidak pernah aktif. Kau sudah ada di Jepang hampir tiga minggu tapi tak pernah menghubungiku." suara Itachi terdengar memenuhi indera pendengaran Sasuke bahkan sebelum Sasuke sempat mengatakan 'Hallo'. Ah, pemuda itu bahkan belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya pada telinganya.

"Nii-san, bisakah kau kecilkan suaramu sedikit? Aku tidak mau orang-orang yang berada di sekitarmu mengira jika kau gila." terdengar suara tawa dari sana sebagai jawaban.

"Cara bicaramu memang tak pernah berubah Little Brother." cibir Itachi sedikit bercanda menanggapi ucapan adiknya yang memang ceplas-ceplos.

Sasuke berdiri menghadap kaca besar di kamarnya. Matanya memandang pemandangan di bawahnya. Hari ini Tokyo terus di guyur hujan sejak pagi, langit tampak mendung dengan awan hitam yang menghiasinya. Matanya memandang datar hujan yang turun tanpa henti seolah tengah menerawang jauh.

"Hn..." balasnya pendek. Itachi hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah mendengar jawaban pendek sang adik.

"Apa kau ada masalah?" tanyanya akhirnya, Itachi sadar jika saat ini Sasuke tidak sedang dalam mood yang baik. Mungkin adiknya sedang dalam masalah? Entahlah, ia tak tau. Tapi ia akan berusaha mencari tau.

"Entahlah, Nii-san..." Ah, sepertinya dugaan Itachi memang tepat. Adiknya ini sedang mempunyai masalah.

"Kau bisa menceritakannya padaku." ucap Itachi hati-hati. "Ah, pasti tentang gadis itu?" tebaknya. Terdengar suara tawa hambar dari sana sebagai jawaban. "Nii-san, apa kau ini cenayang?" tanyanya.

"Ah, sepertinya dugaanku tepat." Itachi menyeringai senang mendengarnya.

"Hn..."

"Kenapa dengan gadis itu? Bukankah kau bilang kau ingin menemuinya setelah sampai di Jepang? Apa kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana ia sekarang?" tanyanya beruntun. Sasuke mendengus geli mendengar pertanyaan beruntun yang di tujukan Itachi padanya tanpa jeda.

"Aku tidak bertemu dengannya Nii-san..." Sasuke menjeda suaranya sesaat. "Ia sudah tidak tinggal di tempatnya yang dulu. Dan sekarang aku tidak tau keberadaannya..." lanjutnya. Untuk beberapa saat Itachi terdiam mendengar ucapan Sasuke. Pantas saja jika adiknya murung. Itachi tau jika Sasuke sudah menunggu lama untuk menemui gadis itu. Ah, Itachi bahkan masih mengingat jelas nada bahagia yang di ucapkan Sasuke bila tengah membicarakan gadis itu. Malaikatku, yah Sasuke selalu memanggilnya seperti itu. Dan sekarang setelah ia telah tiba di Jepang untuk bertemu dengan gadis itu, gadis itu justru tak bisa di temuinya. Hati adiknya pasti terluka.

"Kau ini seorang Uchiha kan? Kau tidak boleh menyerah begitu saja, bukan kah seorang Uchiha selalu memperjuangkan miliknya, eh?" seulas senyum yang jarang ia perlihatkan terbit di wajah Sasuke saat mendengar ucapan Itachi.

"Terimakasih Nii-san..." ucapnya tulus.

"Kapan kau akan pulang Nii-san?"

"Kau merindukanku Little Brother?" Sasuke mendengus mendengar perkataan Itachi, lalu menjawab. "Kau terlalu percaya diri Nii-san."

"Itu memang salah satu sifatku." sebuah tawa terdengar dari sebrang sana, membuat Sasuke mendengus mendengarnya lalu memutar bola matanya bosan.

"Ck, sudahlah. Selesaikan saja pekerjaanmu di sana Nii-san lalu cepat kembali ke Jepang." terdengar suara tawa Itachi dari balik telepon sebelum kembali menjawab. "Tentu saja Little Brother."

"Lagipula, aku juga tak ingin berlama-lama disini." tambahnya.

"Biar ku tebak, kau pasti ingin cepat pulang bukan karena merindukanku Nii-san. Tapi untuk menemui istri dan calon anakmu, benarkan?"

"Tentu saja.." Sasuke berdecak pelan mendengar jawaban Itachi yang terlalu jujur -sangat.

"Kau terlalu jujur Nii-san.."

"Jujur itu lebih baik dari pada berbohong Little Brother." Sasuke terdiam sesaat mendengar ucapan Itachi, matanya menerawang jauh mengingat masa lalunya dengan Naruto. 'Jujur itu lebih baik.' ulangnya dalam hati lebih kepada dirinya sendiri. Seandainya dulu aku bisa mengatakannya mungkin semua tak akan sesulit dan serumit ini. Dan... mungkin saat ini kau masih bersama ku Naru, pikir Sasuke tangannya terangkat menyentuh jendela kacanya yang berembun karena udara dingin di luar. Ditulisnya sebuah nama pada kaca itu.

S & N

I'll waiting for you, My Angel...

Suara Itachi dari balik telepon menyadarkan lamunan Sasuke.

"Lusa mungkin aku akan pulang."

"Hn, aku akan memberitahu Kaasan." setelah mengatakan itu, Sasuke menutup teleponnya terlebih dahulu.

.

.

Udara dingin terasa menusuk kulitnya ketika Sasuke menginjakan kakinya di balkon kamarnya. Ia bahkah dapat melihat uap kecil yang keluar dari mulutnya saat ia menghembuskan nafas.

"Aku merindukanmu Naru..." ucapnya begitu lirih hampir menyerupai bisikan. Sudah hampir tiga minggu ia berada di Jepang dan sudah hampir tiga minggu ini pula ia mencoba mencari keberadaan malaikatnya namun tak membuahkan hasil sama sekali.

Sasuke membalikkan badannya dan melangkah memasuki kamarnya dengan perlahan. Ia dudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur, matanya menatap sekeliling kamarnya. Lalu pandangannya terhenti pada satu objek di sudut kamarnya, di atas meja kecil yang di letakan di sudut kamar. Sebuah senyum miris terbit di wajahnya kala melihat bunga yang ia beli kini telah layu, walaupun ia telah menaruh bunga itu pada pot kaca berisi air namun tetap saja bunga itu layu. 'Ah, ini sudah hampir tiga minggu, bodoh sekali aku jika berpikir bunga itu akan tetap segar.' makinya pada diri sendiri.

Apa kau juga seperti itu Naru? Kuharap kau tidak lelah menungguku, pikir Sasuke. Sasuke tak menyangkal jika ada rasa takut yang selalu melingkupi hatinya. Ia sadar semua ini berawal darinya. Dari kesalahannya, dan sampai sekarang ia menyesali hal itu -sangat. Ia tak tau keberadaan Naruto. Tak tau gadis itu kini tinggal dimana? Apakah Narutonya baik-baik saja? Apakah selama ini dia hidup dengan baik? Apakah hati Naruto terluka karenanya? Well, untuk pertanyaan terakhir mungkin jawabannya sudah jelas. Tentu saja gadis itu terluka, terluka karenanya. Tanpa sadar ia hanyut akan pikirannya.

.

.

Flashback On

.

.

30. Desember. 20xx

Salju turun cukup lebat, membuat jalan-jalan yang ada di Tokyo tertutupi oleh salju. Angin berhembus agak kencang malam ini. Naruto berjalan seorang diri menyusuri jalan sempit menuju apartemen sederhana yang ia tinggali bersama neneknya. Ia merapatkan jaketnya dan menyembunyikan kedua tangannya pada saku jaketnya saat merasakan udara dingin yang menusuk kulitnya. Jaket yang ia pakai tak cukup tebal untuk membuatnya tetap hangat mengingat suhu di Jepang memang sangat dingin bila telah memasuki akhir Desember seperti sekarang.

Ia lelah, badannya pegal dan ia ingin segera sampai ke apartemennya. Hari ini ia terpaksa kerja lembur karena permintaan bosnya. Namun, di satu sisi ia juga merasa bersyukur karena bosnya memberikan uang bonus karena telah bekerja lembur. Ah, bos tempat Naruto bekerja part time memang sangat baik. Umino Iruka, pria yang berusia tiga puluh tahun itu sangat baik dan ramah, pria itu juga sangat murah senyum pada siapapun. Ia mau memperkerjakan Naruto yang masih berstatus sebagai pelajar dengan gaji yang bisa di bilang cukup besar, karena biasanya tempat lain hanya akan memberikan bayaran separuh dari uang yang harusnya di terima dengan alasan karena statusnya sebagai pelajar. Terdengar tidak adil memang, namun itulah kenyataannya.

Bila kebanyakan gadis seusianya menikmati masa remajanya dengan bermain bersama teman-teman sebayanya atau pergi kencan dengan kekasihnya namun hal itu tak berlaku untuk Naruto. Ia harus bekerja untuk membantu neneknya mencari uang. Dan Naruto sama sekali tak keberatan akan hal itu, karena baginya ia akan sangat merasa senang bila dapat berguna untuk neneknya.

Krekk...

Naruto terkesiap pelan saat mendengar suara dari arah belakang, tanpa sadar ia menelan ludahnya gugup. Naruto menghembuskan nafasnya mencoba menenangkan diri. 'Mungkin aku salah dengar' batinnya mengukuhkan mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, tanpa sadar Naruto mempercepat langkahnya dan menajamkan telinganya.

Benar! Ada orang di belakangnya!

Lalu memangnya kenapa jika ada orang lain yang berjalan di jalan ini? Memangnya jalan ini milik ku sendiri? pikir Naruto sembari menggerutu dalam hati merutuki sifatnya yang mudah panik. 'Jangan berpikir yang tidak-tidak! Yakinkan diri terlebih dahulu!' batinnya meyakinkan.

Diam-diam Naruto mencoba melirik ke balik bahunya, namun ia tak bisa melihat banyak. Ia hanya menangkap sosok seseorang yang berjalan tak jauh di belakangnya. Bulu kuduknya meremang mengetahui hal ini. Pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di otaknya. Naruto semakin mempercepat langkahnya. Langkah kaki orang di belakangnya juga terdengar semakin cepat.

Pasti orang jahat? Atau pemabuk? Ah, atau lebih buruk lagi? Pemerkosa? pikir Naruto panik. 'Tuhan, kumohon lindungilah aku' batin Naruto. Kejahatan-kejahatan di jalan-jalan sempit bukan hal baru di kota besar seperti Tokyo. Dan ini bukan pertama kalinya Naruto di ikuti oleh seseorang, dulu ia juga pernah di ikuti seseorang beruntung saat itu ia berhasil lolos. Tapi sekarang? Apa keberuntungan masih ada di pihaknya?

Naruto mendesah lega saat gedung apartemennya mulai terlihat ia bahkan nyaris berlari. Namun, kakinya terlalu kaku untuk bergerak lebih cepat lagi.

"Hey..." terdengar suara laki-laki dari arah belakangnya dan Naruto dapat merasakan bahunya di pegang. Rasa panik mulai menyerangnya. Naruto memutar tubuhnya cepat sambil mengayunkan tas tangannya ke arah orang itu. Naruto menjerit keras seraya mengayunkan tas tangannya untuk memukul orang yang ada di belakangnya. Suara gedebuk keras menjadi bukti betapa kerasnya pukulan Naruto.

"Hey! Hentikan! Ini aku! " Naruto secara otomatis menghentikan serangannya saat mendengar suara yang tak asing lagi di indera pendengarannya. Perlahan-lahan orang itu menurunkan tangannya yang ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari serangan Naruto, membuat Naruto dapat melihat wajah orang itu dengan jelas.

"Eh, Sasuke?" mata Naruto terbelalak lebar saat melihat orang yang tadi di pukulnya ternyata adalah Sasuke.

"Ck, dasar Dobe. Kenapa kau memukul ku?" ucap Sasuke sedikit geram. Ia mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri akibat pukulan Naruto.

"Kau membuatku takut Teme!" maki Naruto kesal membela dirinya. "Kenapa kau mengikuti ku?" lanjutnya.

"Sebelumnya, kurasa kau bisa menurunkan tas mu dulu." ucap Sasuke santai seraya menunjuk tangan Naruto yang masih di atas dengan tas yang berada dalam genggaman gadis itu. Naruto tertawa canggung mengetahui hal ini, sebelum menurunkan tangannya.

Naruto memperhatikan gerak-gerik pemuda yang berdiri di depannya. Ia dapat melihat Sasuke merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan hitam. "Ini..." Naruto memandang tangan yang terulur ke arahnya dengan sebelah alis terangkat, matanya memandang bingung ke arah pemuda itu seolah meminta penjelasan. Sasuke yang mengerti arti tatapan Naruto mulai menjelaskan maksudnya. "Sekarang musim dingin jadi ku rasa kau akan membutuhkan ini."

Di bukanya bungkusan itu. Sebuah syal. Syal rajut berwarna biru langit yang sangat indah.

"Indah..." ucap Naruto tanpa sadar mengagumi syal rajut berwarna biru langit itu, membuat seulas senyum terbit di wajah Sasuke. Sasuke memakaikan syal itu pada leher Naruto, lalu mengikatnya menjadi sebuah simpul yang indah.

"Kireii.." Naruto yakin jika kini wajahnya pastilah semerah tomat kesukaan Sasuke.

Hey! Pemuda ini baru saja mujinya cantik, jadi wajarkan jika ia merona mendengar pujian itu?

Naruto menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinganya. Ia tersenyum salah tingkah mendengar pujian sang kekasih.

.

.

"Bukankah sudah ku bilang jangan pulang terlalu larut." Naruto mengerucutkan bibirnya sebal mendengar omelan Sasuke yang kesekian kalinya dalam lima menit ini.

"Bukankah aku juga sudah bilang, tadi bos ku memintaku untuk bekerja lembur." ucap Naruto membela dirinya. Mereka kini tengah berjalan berdampingan menuju apartemen Naruto.

"Kau bisa menghubungiku dan memintaku untuk menunggumu..."

"Aku tak ingin merepotkanmu dan aku tak ingin menjadi beban untukmu Suke.." lirih Naruto. Sasuke memang benar, Naruto bisa saja melakukan hal itu. Menghubungi Sasuke dan meminta pemuda itu untuk menunggunya lalu mengantarnya pulang. Tapi tidak, itu akan sangat merepotkan untuk Sasuke. Dan Naruto tak suka merepotkan orang lain.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Kau kan kekasihku? Bukankah hal yang wajar bila seorang kekasih mengantar gadisnya pulang?" tanya Sasuke heran. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Naruto.

"Ah, sudahlah..." Sasuke mengakhiri pembicaraan mereka, bila di teruskan yang ada mereka hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Di raihnya tangan kanan Naruto lalu memasukkannya ke dalam saku jaket panjangnya.

"Tanganmu dingin, karena itu aku menghangatkannya." ucap Sasuke dengan sedikit gugup semburat merah tipis menghiasi wajah tampannya. Naruto tersenyum simpul melihat perhatian kecil yang Sasuke berikan untuknya. Meskipun pemuda ini terkadang menyebalkan, tapi ia tahu Sasuke adalah pemuda yang baik.

Bad Love

14. Januari. 20xx

Hari minggu menjadi hari yang di tunggu oleh orang-orang, terutama para remaja. Biasanya para remaja 'normal' akan menghabiskan hari liburnya dengan pergi bersenang-senang dengan teman-temannya ataupun kekasih mereka. Namun, semua itu hanya berlaku untuk remaja 'normal' dan tak berlaku untuk Naruto. Sejak pagi ia telah berangkat untuk kerja part time di hari libur ini. Sebelumnya, Iruka telah menawarkan Naruto untuk bekerja di hari libur ini. Tentu saja dengan bayaran yang setimpal dan Naruto menyetujuinya.

Cafe tempat Naruto bekerja part time sangat ramai, terutama oleh para remaja. Letak cafe yang strategis menjadi salah satu faktornya, selain itu pelayanan di cafe ini memang cukup baik dan jangan lupakan masakan di cafe ini sangat enak belum lagi harganya yang terjangkau membuat banyak orang memilih cafe ini untuk menjadi tempat berkumpul bersama teman-teman ataupun kekasih mereka.

Naruto berjalan mondar-mandir untuk mengantarkan pesanan. Wajahnya tampak lelah, hal ini terlihat jelas dari banyaknya keringat yang membasahi pelipisnya namun seulas senyum tak pernah luput dari wajah cantiknya. Naruto lelah dan harus ia akui kalau ia cukup kewalahan melayani pelanggan cafe, namun ia menikmati pekerjaannya.

.

.

Naruto menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya perlahan berusaha menetralkan nafasnya yang putus-putus karena kelelahan. Ia sandarkan punggungnya pada kursi cafe, matanya menatap keluar jendela kaca besar yang menjadi pembatas di cafe itu. Dari sini ia dapat melihat banyak orang yang berlalu-lalang memenuhi jalan. Hari libur seperti ini, pasti menyenangkan jika bisa pergi bersama seseorang, pikir Naruto. Namun, tak lama cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pemikirannya barusan. 'Aish, apa yang ku pikirkan? Kau tak boleh mengeluh seperti itu' batin Naruto pada dirinya sendiri.

Tuk Tuk

Suara ketukan kaca membuat Naruto tersadar, matanya melebar dan alisnya terangkat saat melihat sosok Sasuke yang tengah tersenyum ke arahnya dari balik kaca.

"Suke, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto ketika ia telah keluar dari cafe dan menghampiri Sasuke.

"Menemuimu, memangnya apa lagi?" jawabnya santai.

"Eh?"

"Ayo pergi." ucap Sasuke seraya menarik tangan Naruto lalu menariknya agar mengikutinya.

"Kemana?" tanya Naruto menghentikan langkah Sasuke.

"Kencan." setelah menjawab pertanyaan Naruto pemuda itu kembali menarik tangan Naruto agar mengikutinya.

Bad Love

Mereka berdua berjalan berdampingan. Tangan mereka saling bertaut. Sinar bahagia tampak jelas di raut wajah mereka berdua. Jujur saja, Naruto merasa sangat senang karena Sasuke mengajaknya pergi berkencan. Semula ia pikir hari ini ia hanya akan menghabiskan waktunya sendirian setelah shift kerja part timenya habis. Tapi, ternyata prediksinya salah. Ah, betapa beruntungnya ia. Hal ini membuat Naruto tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Hari ini mereka akan pergi kencan ke Kichijoji. Kichijoji sendiri sebenarnya merupakan sebuah lingkungan kampus yang dijadikan sebagai tempat wisata. Disini terdapat tempat untuk berbelanja, tempat untuk hiburan dan tempat untuk menikmati makan bersama. Disini juga terdapat sebuah taman yang sangat indah, yaitu taman Inokashira.

Taman Inokashira sendiri berada diantara Musashino dan Mitaka sebelah barat Tokyo. Di taman ini juga terdapat sebuah kuil kecil untuk memuja Benzaiten. Taman ini memiliki kebun binatang dan aquarium kecil.

Naruto dan Sasuke berjalan menyusuri taman. Di pinggir taman terdapat pedagang jalanan dan pedagang pernak-pernik. Naruto melirik ke arah Sasuke lalu melirikkan matanya bergantian pada pedagang jajanan yang berjualan di pinggir jalan -memberi isyarat secara tak langsung ke arah pemuda itu. Sasuke tersenyum menanggapinya, sebelum menganggukkan kepalanya paham. Mereka berjalan bersama membeli jajanan yang di jajahkan di pinggir jalan.

"Wah, Suke ayo kita kesana..." tanpa mendengar jawaban Sasuke terlebih dahulu, Naruto langsung menarik tangan Sasuke ke sebuah stand yang menjajahkan berbagai pernak-pernik dan aksesoris. Mata safirnya berbinar melihat berbagai pernak-pernik dan aksesoris yang ada di hadapannya. Sasuke tersenyum samar melihatnya.

.

.

Mata Naruto berbinar bahagia melihat gantungan kunci berbentuk keroppi yang ada ditangannya. Gantungan kunci berbentuk kodok lucu dengan mata bulatnya yang besar membuat Naruto gemas melihatnya.

"Ah, bukankah kodok ini sangat lucu" Naruto mengangkat gantungan kunci berbentuk kodok itu tinggi lalu menunjukannya ke arah Sasuke.

"Dia jelek..." Naruto mendesis tak suka mendengar jawaban pendek sang kekasih.

Takk

Sasuke meringis seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat jitakkan yang di berikan Naruto.

"Coba katakan sekali lagi?" tantang Naruto, tangannya terangkat di udara bersiap untuk memberikan jitakkan berikutnya pada Sasuke. Sasuke tersenyum lebar seraya mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya, memberi tanda jika ia menyerah. Naruto tersenyum puas melihatnya.

Bad Love

"Suke apa kau yakin ini aman?" tanyanya ragu.

"Tentu saja Dobe, kau tenang saja di perahu juga di sediakan pelampung. Jadi kau tak perlu khawatir" jawabnya meyakinkan Naruto. Naruto menatap Sasuke lalu menganggukkan kepalanya memberitahu jika ia setuju.

Mereka berdua pun menaiki perahu yang di sediakan di tempat ini. Sasuke dan Naruto duduk saling berhadapan. Sasuke mendayung perahu, membawa perahu itu ke tengah telaga.

"Dobe kau tau?" Naruto menyernyitkan alisnya bingung mendengar pertanyaan Sasuke yang menggantung -membuatnya merasa penasaran.

"Tau apa Teme?" tanyanya tanpa bisa menutupi nada penasaran dalam kalimatnya.

"Ada sebuah mitos tentang telaga ini?" Naruto semakin menyernyitkan alisnya dalam, ia menunggu Sasuke melanjutkan kalimatnya.

"Jika ada sepasang kekasih yang menaiki perahu di telaga ini maka hubungan mereka tidak akan bertahan lama."

"Hah? Apa kau bilang Teme? Kalau begitu kita harus segera turun." Naruto berkata panik ia bahkan sudah bersiap untuk melompat dari perahu yang ditaikinya.

"Dobe tenang! Itu kan hanya mitos" Sasuke mendekap tubuh Naruto membawa gadis itu ke dalam pelukannya, tangannya terulur mengusap punggung gadis itu berusaha menenangkannya. Sungguh, Sasuke merutuki kebodohannya. Harusnya ia tak mengatakan hal itu pada Naruto dan membuat gadis ini sedih.

"Teme, sekarang kita harus bagaimana?" cairan bening tampak mengenang di pelupuk mata Naruto. Naruto yang berada dalam dekapan Sasuke mendongakkan kepalanya, pandangannya mengabur karena cairan bening yang berkumpul di ujung matanya membuat pandangannya buram.

"Naru, kau tidak perlu khawatir. Itu hanya mitos" Sasuke menangkup wajah Naruto dengan kedua tangannya lalu membersihkan wajah gadis itu dari sisa-sisa air mata yang menempel di pipi Naruto.

"Tapi..."

"Sstt. Aku tidak akan meninggalkanmu..." dibawanya kembali Naruto kedalam dekapan hangatnya.

Bad Love

Seulas senyum terbit di wajah Sasuke kala melihat raut wajah bahagia Naruto. Gadis itu kini tengah sibuk mengamati bunga-bunga yang berguguran bersama pengunjung yang lain. Pada musim semi seperti sekarang banyak orang yang datang kemari untuk melakukan hanami bersama teman-teman ataupun kekasih mereka.

Click...

Sasuke tersenyum puas melihat hasil fotonya. Wajah Naruto yang tengah tersenyum dengan latar belakang bunga berjatuhan di belakangnya membuat foto itu terlihat begitu alami dan mengagumkan di saat bersamaan. Sasuke memang sering mengambil foto gadis itu tanpa di ketahui oleh orang yang menjadi objek fotonya. Yah, Sasuke memang sering mengambil foto Naruto secara diam-diam tanpa gadis itu sadari, dan hal itu menjadi kesenangan tersendiri untuk Sasuke. Setelah selesai menyimpan foto itu ia berjalan menghampiri Naruto yang masih sibuk dengan aktifitasnya. Di tepuknya pundak Naruto pelan membuat Naruto mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Ada apa Teme?"

"Ayo foto!" senyuman Naruto mengembang mendengar ucapan Sasuke, ia mengangguk-anggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan Sasuke, membuat Sasuke terkekeh geli melihat sikap Naruto yang begitu antusias terhadap ajakannya.

1... 2... 3...

Click...

Naruto menekuk wajahnya dalam melihat hasil foto mereka. Bibir kecilnya terus menggerutu tak jelas membuat Sasuke yang mendengarnya hanya menyeringai puas.

"Sudahlah Dobe, lagipula kau tetap terlihat cantik di foto itu" mata Naruto melotot ke arah Sasuke, memberikan tatapan paling mengerikan yang di milikinya untuk membuat pemuda itu takut. Yah, meski jawabannya sudah jelas -tatapan itu sama sekali tak terlihat menakutkan di mata Sasuke. Sasuke mendengus geli menanggapinya sebelum mengatakan. "Atau kau ingin kita melakukannya lagi?" dan sebuah pukulan dengan indah ia dapatkan dari Naruto. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan foto itu. Dalam foto itu Naruto tetap terlihat cantik hanya saja dalam foto itu terlihat Sasuke yang mencium tiba-tiba pipi Naruto membuat Naruto yang tak siap dengan ciuman itu menampilkan ekspresi bodohnya.

Bad Love

21. April. 20xx

"A-aw... pelan-pelan sedikit." Naruto menggeleng pelan melihat sikap kekasihnya yang tak jauh berbeda dengan anak kecil. Namun, ia sama sekali tak memelankan gerakannya dalam mengobati luka-luka yang ada pada siku Sasuke. Bibir pinknya meniup-niup kecil siku Sasuke yang tengah ia bubuhkan obat merah berusaha mengurangi rasa perih yang dirasakan Sasuke. Jemari lentiknya menempelkan sebuah plester bergambar keroppi untuk menutupi luka tersebut agar tidak infeksi.

"Nah, sudah selesai." ucapnya bangga di selingi dengan sebuah senyuman hangat. Sasuke tertegun sesaat melihat senyum Naruto, tak lama ia pun ikut tersenyum.

"Kau cantik jika sedang tersenyum." ucapnya lirih hampir menyerupai bisikan, namun Naruto masih bisa mendengarnya mengingat mereka tengah berada dalam posisi yang cukup dekat. Pipi putihnya merona merah mendengar pujian sang kekasih yang bisa di bilang jarang -sangat. Naruto mengalihkan pandangannya kearah lain, ia sampirkan helaian rambut pirangnya pada kupingnya berusaha mengurangi rasa gugupnya. Kegiatan ini tak luput dari penglihatan Sasuke, sebuah senyuman tipis terukir di wajah rupawannya. Bersahabat dan berpacaran cukup lama dengan Naruto membuat ia hapal betul kebiasaan gadis ini begitupun sebaliknya.

"Aahhkk..nyamannya.." untuk beberapa saat Naruto terdiam membeku ditempatnya. Sebelum tergantikan oleh sebuah senyuman tulus. Diusapnya helaian raven yang tengah terbaring di pangkuannya dengan sayang. Sasuke ikut tersenyum merasakan usapan halus di kepalanya.

"Naru..."

"Hmmm.." Naruto bergumam sebagai jawaban, jemari lentiknya masih sibuk mengelus sayang helaian raven milik sang kekasih.

"Daisuki yo" Naruto tersenyum mendengar ucapan pemuda yang tengah tertidur dengan nyaman di pangkuannya. Sebenarnya, meski Sasuke tak mengatakan hal itu pun, ia sudah tau perasaan Sasuke padanya. Naruto tak menjawab pernyataan Sasuke padanya, ia tetap asik pada kegiatan awalnya mengelus sayang kepala Sasuke. Sasuke yang tak mendapat jawaban dari Naruto, membuka matanya yang sempat tertutup. Mata oniks itu memandang lurus ke arah mata safir yang berada di atasnya mengingat posisi Sasuke yang tengah berbaring dalam pangkuan Naruto.

"Kenapa kau tak menjawabku?" nada kesal tampak terdengar jelas dari pertanyaan Sasuke membuat Naruto terkikik geli mendengarnya. Alis Sasuke bertaut bingung melihat respon Naruto.

Hey! Dia sedang marah dan Naruto justru malah terkikik geli?

"Kenapa kau tertawa?" tanya Sasuke lagi. Naruto menghentikan tawanya saat melihat ekspresi kesal Sasuke. Ia hembuskan nafasnya sebelum mulai bicara. "Kau tau? Kau tampak seperti anak kecil jika sedang merajuk." ujar Naruto santai. Sasuke mendelik tak suka mendengar ucapan gadisnya, ia langsung bangkit dari posisi berbaringnya lalu memojokkan Naruto pada pohon yang berada tepat di belakang gadis itu, membuat posisi Naruto kini terhimpit diantara pohon yang berada di belakangnya dan Sasuke yang berada di depannya.

"Kau akan menyesal jika menganggapku anak kecil." Sasuke mendekatkan jaraknya dengan Naruto, membuat posisi Naruto semakin terhimpit.

"Apa yang ingin kau lakukan Teme" Naruto sedikit berteriak, jujur saja sikap Sasuke membuatnya panik. Ia palingkan wajahnya kearah lain dan menutup matanya rapat saat merasakan wajah Sasuke yang semakin dekat dengan wajahnya.

Cup

Tubuh Naruto terdiam membeku ditempatnya. 'Bukan di bibir...tapi..'

Click...

Naruto sontak membuka kedua mata safirnya saat mendengar suara camera. Ia mendengus tak percaya ke arah Sasuke melihat kelakuan pemuda ini.

Mengambil fotonya diam-diam? Ck, dasar.

"Ahahaha, Dobe harusnya kau lihat bagaimana ekspresi-mu tadi." Naruto melotot tak suka kearah Sasuke. Tangannya berusaha menggapai camera Sasuke untuk menghapus foto itu.

"Hapus foto itu Teme! Kemarikan cameramu." maki Naruto kesal ia terus berusaha meraih camera Sasuke, namun Sasuke dengan gesit memghindari Naruto dan menjauhkan cameranya dari jangkaun Naruto. Karena tak kunjung berhasil meraih camera Sasuke akhirnya ia menyerah. Naruto mempoutkan bibirnya lucu sembari mendelik tak suka kearah Sasuke, lalu membalilkan badannya membelakangi Sasuke. Sasuke memutar bola matanya malas melihat tingkah Naruto. Jika gadisnya sudah bertingkah seperti ini itu artinya Naruto benar-benar marah.

"Baiklah, aku minta maaf. Aku akan menghapus fotonya." ujarnya mengalah, Naruto langsung membalikan badannya kearah Sasuke disertai dengan senyum penuh kemenangannya.

'Moodnya benar-benar cepat berubah.' batin Sasuke melihat perubahan mood kekasihnya yang cepat sekali berubah.

"Ayo kita pulang. Hari sudah semakin sore." Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Naruto yang disambut dengan baik oleh gadis itu. Mereka berdua memang sudah berada cukup lama di taman belakang sekolah.

Flashback Off

.

.

Sasuke tersenyum kecil mengingat kenangannya bersama Naruto. Sungguh, jika ia bisa mengulang waktu maka ia ingin kembali ke waktu itu, waktu dimana ia dan Naruto selalu menghabiskan waktu bersama.

"Suke, bisa kau kemari sebentar..." suara Mikoto dari luar kamar membuat Sasuke beranjak dari posisi duduknya untuk menghampiri Mikoto.

"Ada apa Kaasan?" tanyanya setelah menghampiri Mikoto. Sasuke dapat melihat Kaasannya tengah menyiapkan sesuatu. Kue mungkin? Entahlah, ia hanya menebak melihat dari bentuk bingkisan yang membungkusnya.

"Tolong antarkan ini pada Nee-san mu." Mikoto menyerahkan bingkisan itu pada Sasuke. "Ini alamat mansion Itachi yang baru" tambahnya. Sasuke mengangguk paham, setelah itu ia segera beranjak untuk mengambil kunci mobilnya setelah sebelumnya meminta ijin pada Mikoto.

Bad Love

Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jujur saja, Tokyo cukup banyak berubah dari yang terakhir kali ia ingat. Bukan hanya jalan-jalannya yang berubah namun pertokoan di sekitarnya pun sudah banyak yang berubah. Ia menghentikan laju mobilnya saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Tangannya mengetuk-ngetuk stir kemudi untuk mengurangi rasa bosan selama menunggu lampu merah berubah menjadi warna hijau. Mata oniksnya menatap sekeliling mencari objek yang mungkin menarik perhatiannya. Seulas senyum simpul terbit di wajahnya kala melihat sepasang anak SMA yang masih mengenakan seragam sekolahnya tengah berjalan berdampingan. Entahlah, saat melihat hal itu entah mengapa mengingatkannya pada sosoknya dan Naruto dulu. Lampu yang berubah warna menjadi hijau membuat Sasuke kembali melajukan mobilnya.

.

.

Mobil hitam Sasuke memasuki pekarangan mansion Itachi. Mata oniksnya mengamati pekarangan depan Itachi yang di tumbuhi oleh bunga-bunga tulip yang cantik. 'Naruto pasti akan sangat menyukainya jika melihat ini' batinnya. 'Tapi, siapa yang menyukai bunga tulip? Apa Nii-san?' pikirnya, namun ia segera mengenyahkan pemikiran itu. 'Tak mungkin Nii-san menyukai bunga tulip, lalu siapa? Apa Nee-san?' tanpa sadar alis Sasuke menekuk dalam memikirkan kemungkinan siapa yang menyukai bunga tulip. 'Ah, sudahlah itu bukan urusanku' batinnya.

Sasuke memarkirkan mobilnya pada bagasi yang terletak di samping mansion. Ia melangkah keluar tak lupa dengan bingkisan yang telah berada dalam genggamannya.

Ting... Tong...

Sasuke memencet bel beberapa kali.

Hey! Meskipun ini rumah kakaknya namun ia masih tau sopan santun untuk tidak langsung menerobos masuk.

Tak lama pintu pun terbuka. Ia tersenyum sopan ke arah pelayan yang telah membukakannya pintu.

"Silahkan masuk tuan muda." ucap pelayan lelaki berusia tiga puluh tahun bernama Kisame. Sasuke menganggukkan kepalanya. Matanya menatap sekeliling, sebelum bertanya. "Dimana Nee-san? Kenapa sepi sekali?" tanyanya.

"Nona muda sedang berada di taman belakang, tuan muda" jawabnya sopan. Sasuke menganggukkan kepalanya paham. "Tolong taruh ini di dapur"perintahnya. Setelah mendengar perintah tuan mudanya Kisame segera beranjak pergi meninggalkan Sasuke.

.

.

Sasuke berjalan berkeliling mengitari mansion ini. Sungguh, ia merutuki kecerobohannya karena tak bertanya pada Kisame dimana letak taman belakang hingga membuatnya harus berputar-putar mengelilingi mansion untuk mencarinya. Namun, mungkin dewi fortuna sedang berpihak kepadanya karena setelah terus berputar-putar mengelilingi mansion akhirnya ia menemukan taman belakang yang sedari tadi di carinya. Lagi-lagi Sasuke tak bisa berhenti berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di depannya. Tak jauh berbeda dengan taman yang berada di depan mansion, taman yang terletak di belakang mansion ini pun ternyata di dominasi oleh bunga tulip dengan berbagai warna. 'Sepertinya Nee-san benar-benar pecinta bunga' batinnya saat melihat taman yang ada di mansion ini di dominasi oleh bunga. 'Benar-benar mirip Naruto' batinnya tanpa sadar seulas senyum terbit di wajah tampannya.

Kaki Sasuke melangkah dengan mantap memasuki taman. Mata oniksnya menatap sekeliling taman mencari keberadaan Nee-sannya. Seulas senyum terbit di wajahnya saat ia melihat sosok wanita yang tengah berdiri menghadap hamparan bunga tulip putih yang tak jauh dari posisinya sekarang. Ia melangkah menuju hamparan bunga tulip putih.

.

.

Naruto Pov

Sungguh hari ini benar-benar indah. Ku tutup mataku saat merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku. Ku tarik nafas dan ku hembuskan perlahan, udara disini memang cukup bagus karena letak mansion yang terletak cukup jauh dari pusat Tokyo membuat udara disini jauh dari polusi kota Tokyo. Setelah merasa cukup, ku buka kedua mataku untuk kembali menatap hamparan bunga tulip putih yang ada di depanku.

"Bunga yang indah bukan? Kau tau? Kaasan sangat menyukai bunga ini" ujarku seraya mengusap perutku yang tampak membuncit mengingat usia kehamilanku kini telah memasuki bulan ke sembilan. Jujur saja ada perasaan takut yang menghantuiku. Apalagi sekarang tak ada Itachi di sampingku, namun saat mendengar bahwa dia Lusa akan pulang aku benar-benar bersyukur.

Naruto Pov Off

.

.

Sasuke melangkah mendekati kakak iparnya, namun ia menghentikan langkahnya saat sosok Nee-sannya mulai terlihat jelas. Walau ia tak dapat melihat wajah Nee-san nya mengingat posisi Nee-san nya yang tengah membelakanginya. Entah mengapa ia merasa tak asing dengan sosok yang ada di depannya. Dengan sedikit ragu ia memanggil Nee-sannya.

"Nee-san..." Naruto yang merasakan kehadiran seseorang di belakangnya membalikkan badannya. Mata Naruto melebar melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya.

Rasa marah, sedih, kecewa, benci dan rindu? Menjadi satu saat melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya. Ia dapat melihat raut terkejut dari wajah pemuda itu tak jauh berbeda dengannya.

"Naru, apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke matanya memandang gusar ke arah safir di depannya lalu pandangannya turun ke arah perut Naruto yang tampak membesar karena usia kehamilannya. Naruto terdiam di tempatnya. Tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang bungsu Uchiha. Jujur, ia sendiri bingung harus memberikan jawaban seperti apa pada Sasuke. Dan diam adalah pilihannya. Ia membuang mukanya ke samping, mengalihkan pandangannya ke arah lain -berusaha menghindari bertemu pandang dengan pemuda yang ada di depannya. Sasuke yang melihat 'kediaman' Naruto semakin gusar.

Pemikiran-pemikiran buruk mulai berseliweran di otaknya saat melihat Naruto, namun ia berusaha menyangkalnya. Sasuke berjalan mendekati Naruto mengikis jarak di antara mereka.

"Tolong jelaskan ini padaku Naru..." lirihnya. Tangan putihnya terulur menangkup wajah Naruto membuat pandangan mereka berdua bertemu. Safir indah yang biasanya selalu memancarkan binar kebahagiaan saat bertemu dengannya kini di penuhi oleh air mata. Hati Sasuke tertohok melihatnya, bukankah dulu ia pernah berjanji untuk selalu membuat Naruto bahagia dan tersenyum tapi kenapa sekarang ia justru melakukan hal yang sebaliknya?

Tapi sisi egois dalam diri Sasuke lebih dominan, ia membutuhkan penjelasan sekarang juga! Dan ia ingin mendengarnya secara langsung dari mulut Naruto.

Bad Love

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Tak ada yang berniat untuk memulai percakapan lebih dulu, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Padahal sudah hampir tiga puluh menit mereka berdua duduk di kursi taman yang ada di taman belakang.

"Bagaimana kabarmu?" akhirnya hanya kalimat itulah yang keluar dari mulut Naruto. Matanya memandang kedepan enggan untuk menatap Sasuke yang duduk bersebelahan di sampingnya. Entahlah, menurutnya saat ini pemandangan di depannya lebih menarik untuk dilihat.

"Seperti yang kau lihat..."

"Sudah lama sekali ya Suke..." Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke, ia berusaha menampilkan senyumnya meski ia sendiri ragu apakah ini bisa di sebut sebagai sebuah senyuman.

"Maaf..." Naruto menyernyitkan alisnya bingung mendengar ucapan Sasuke, sebelum bertanya. "Untuk?"

"Untuk semuanya. Untuk sikapku dan keegoisan ku dulu. Maaf, karena aku memutuskan hubungan kita secara sepihak. Maaf karena aku pergi tanpa pamit dan menghilang tanpa kabar. Maaf karena telah menyakitimu. Maaf karena telah membuat mu berada dalam posisi yang sulit selama aku tidak ada. Maaf karena aku melanggar janji yang kubuat dan ... maaf karena telah membuat hatimu terluka karena sikapku Naru..." jelasnya panjang. Sungguh, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari Sasuke. Naruto tak menyangkal jika ada perasaan hangat yang melingkupi hatinya saat mendengar ucapan Sasuke. Jika Sasuke mengatakannya dulu, mungkin Naruto akan dengan senang hati memaafkan dan sekarang gadis itu mungkin kini tengah memeluknya.

Namun itu dulu, bukan sekarang...

Dulu dan sekarang berbeda...

Dan sayangnya mereka tak bisa kembali ke 'waktu itu'...

Waktu dimana mereka masih bersama...

"Tak ada yang perlu di maafkan Suke. Itu semua sudah berlalu." Naruto mengatakannya dengan sebuah senyuman lebar seolah tanpa beban, namun jika kau lebih memperhatikannya tersirat rasa sakit yang mendalam dari pancaran matanya.

"Harus ku akui saat kepergianmu merupakan saat tersulit dalam hidupku selain kepergian orang tuaku...-" Naruto menjeda ucapannya sesaat. "Ada banyak hal yang harus kulalui tanpamu, tapi aku bersyukur karena nenek selalu ada di sampingku dan memberiku kekuatan untuk bertahan. Dan aku bersyukur Itachi datang ke dalam hidupku, merengkuhku saat aku terjatuh. Lagipula bukankah waktu itu berjalan? Dan luka dan rasa sakit ini akan sembuh." lanjutnya dengan sebuah senyuman -lagi. Namun, bukan sebuah senyuman tulus yang timbul di wajah gadis itu. Senyuman palsu. Naruto sendiri tak pernah memasang sebuah senyuman palsu. Tapi, entah mengapa sekarang dia melakukannya. Tersenyum palsu ke arah Sasuke.

"Apa kau mencintai Nii-san?" tanyanya begitu lirih hampir menyerupai bisikan. Mata oniksnya memandang lurus ke arah Naruto menunggu jawaban gadis itu.

"Tentu..." berbeda dengan senyuman palsu yang selalu ia pakai sebelumnya kali ini Naruto menjawabnya dengan sebuah senyuman tulus. Hati Sasuke tertohok mendengarnya.

"Kau tau Naru? Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Alasan tentang kepergian ku yang begitu mendadak. Alasan ku memutuskan hubungan kita secara sepihak. Alasan kenapa aku tak pernah menghubungimu selama ini. Dan alasan kenapa aku kembali ke Jepang. Namun, aku tak pernah mengatakannya. Bahkan sampai saat ini...-" sebuah senyum miris tersungging di wajahnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Dan alasannya utamanya karena aku takut. Kau tau apa yang selalu tergiang dalam benakku saat ingin mengatakannya?" Sasuke menghentikan ucapannya lalu menatap Naruto lama, menyelami mata safir Naruto yang begitu ia rindukan.

"Jika aku mengatakannya reaksi apa yang akan kau berikan? Apakah kau akan menerima semua pengakuan dan alasanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Tertawa padaku seperti ini? Atau apakah kau justru akan menjauh dariku? Meninggalkan ku mungkin? Tapi, aku sadar kini semua alasan itu tak berguna sekarang." Sasuke tersenyum miris seraya mengalihkan pandangannya ke arah hamparan bunga tulip kuning. Ah, ia ingat dulu Naruto pernah mengatakan makna dari bunga itu. Cinta yang tak ada harapan, eh? Sungguh Sasuke ingin menertawakan dirinya sendiri dan memaki takdir yang begitu kejam hingga membuatnya berada dalam posisi seperti ini. Bukankah bunga itu sangat cocok untuknya?

"Suke..." Naruto tak dapat melanjutkan ucapannya. Cairan bening telah menetes sedari tadi dari iris safirnya. Ia menutup mulutnya berusaha menutup isakkan kecil yang mulai keluar dari mulutnya. Meski hal itu tak berguna karena isakkan kecil itu tetap terdengar. Jujur, ia tak menyangka Sasuke akan berkata seperti itu. Yang ada dalam pikirannya selama ini Sasuke pergi meninggalkan dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak karena telah merasa bosan padanya. Ia tak pernah berpikir sejauh itu. Selama ini yang ada dalam benak Naruto hanya dialah yang menderita akibat keputusan Sasuke. Tapi, ternyata ia salah. Bukan hanya ia yang menderita tapi Sasuke pun merasakan hal yang sama. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi, menyesal pun tak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Dan mereka tak bisa mengulang kembali waktu untuk memperbaikinya.

Bad Love

.

.

Sasuke Pov

Aku melajukan mobilku tanpa arah. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah aku butuh ketenangan. Aku ingin sendiri. Ku tekan pedal gas untuk menambah kecepatan mobil. Pikiranku kacau, entah sudah berapa kali aku mengacak rambutku frustasi. Semua kejadian hari ini membuat kepala ku berdenyut nyeri. Kenapa Tuhan begitu suka mempermainkanku? Kenapa takdir begitu senang menyiksaku? Kenapa gadis yang kucintai ternyata adalah gadis yang kakak ku cintai?

Aku menghentikan mobilku pada sebuah pantai. Pantai ini indah pasir putihnya begitu bersih membuat mata tak bosan memandangnya. Tempat inilah yang kubutuhkan. Setidaknya aku bisa menenangkan pikiran ku yang sedang kacau.

Naru kau tau?

Sekarang yang terukir dimatamu bukan lagi aku.

Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya dihatimu.

Yang terucap bukan lagi aku.

Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu.

Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu.

Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu.

Walau hatimu tak lagi milik ku.

Sasuke Pov Off

.

.

Tbc

.

.

Thanks For : | Ollanara511 | Luviz hayate | yukiko senju | iche cassiopeiajaejoong | Dewi15 | sivanya anggarada | miskiyatuleviana | Riena Okazaki |

narunaruha | elfi astuti 1 | Ryuuna Atarashi | Uzumaki Prince Dobe-Nii | Aiko michishige | yunaucii | Jasmine DaisynoYuki | akane uzumaki faris |

namika ashara | Nara Kiki | uchihaizumi67 | Za666 | Justin cruellin | Kaname | Guest1 | Guest2 | Zen ikkika | Mizu | Guest3 | CiaSintiaIMAKC | intan pandini85 |

Nara Kamijo | Shiroi 144 | Aegyeo789 | Astia Aoi | Lee san Hae for Senju Koori | kimjaejoong309 | InmaGination | Harpaairiry | AprilianyArdeta | Guest4 | ryanachan

| Tabifangirl | Guest5 | Guest6 | Guest7 | Guest8 | Gita Cahyani Siregar | Kazuko | naruri | shin is minoz | leinalvin775 | Versya | ilma | .

.

.

Eiji Notes : Makasih buat semuanya yang selalu nunggu fic Ei (^o^) #Peluk.

.

.

Boleh minta ripiw? ^o^