"Sebenarnya aku dan Sehun berencana menjodohkanmu dengan Chanyeol," lirihnya sambil menatap takut-takut padaku.
"MWO?! Ya! Neo micheosseo? Kalian tahu aku dan dia selalu berlawanan arah, dan dari mana datangnya ide gila itu?" emosiku mulai tak terkontrol, aku terlalu terkejut dengan rencananya. Woah Daebak, Oh Sehun neo jinjja ildeungiya.
.
.
.
OPPOSITE
© Cheesecake Vega
EXO (ChanBaek as main cast) and SM family
.
.
.
Pagi ini aku sarapan di apartemen Luhan, sarapan kami cukup sederhana yaitu toast mengingat kami berdua agak kurang bersahabat dengan peralatan dapur. Sebenarnya aku masih kesal dengan Luhan, rencana gilanya terus memenuhi otakku. Membayangkan aku berpacaran dengan Chanyeol saja membuatku merinding tiba-tiba, itu benar-benar menyeramkan.
"Baek, sepertinya kita tidak bisa pergi bersama. Sehun mengabari bahwa liputanku yang di Itaewon dimajukan, aku akan pergi sebentar lagi dengan Sehun, kau tak apa kan?"
"Geurae? Gwaenchanha," aku masih asik makan roti selai strawberryku, lagi pula pergi sendiri adalah hal biasa.
"Tenang saja kau tidak usah pergi sendiri, kau bisa pergi dengan supir kantor," ujarnya.
"Gomapta," balasku.
Sebenarnya Luhan lebih tua dariku, hanya saja dia tak mau ada formalitas diantara kami sehingga aku terbiasa menggunakan banmal padanya, tapi akan berubah menjadi formal ketika berkata sarkastis seperti tadi malam. Padahal dengan Chanyeol yang seumuran saja aku terkadang masih menggunakan bahasa yang cukup formal, alasannya simpel yaitu aku selalu mengganpnya orang lain dan tentu saja karena kami berdua tidak dekat sama sekali, walaupun tak jarang juga kami saling menggunakan banmal, untuk kepentingan mengumpat, mengumpat dengan bahasa sopan tidak enak bukan?
Selesai dengan sarapannya, Luhan terburu berangkat karena Sehun sudah menunggu. Begitulah pekerjaan kami, selalu berkejaran dengan waktu karena ketika telat sedikit saja maka akan kehilangan momen penting. Tapi itu yang menjadi faktor menyenangkannya, semuanya terasa penuh tantangan, bukankah setiap orang menyukai tantangan?
Aku mendengar bel apartemen Luhan berbunyi, sepertinya supir kantor sudah menungguku. Supir kantorku bernama Park Jungsoo, dia orang yang sangat menyenangkan. Semua orang di kantor sangat dekat dengannya karena dia yang sering mengantar kami ke tempat liputan terutama ketika acara mendadak. Yang membuat kami dekat adalah level humor kami sama, sehingga aku tak akan merasa lelah ketika pulang dari liputan dan harus kembali ke kantor.
Ketika kubuka pintu, yang kutemukan bukan Park Jungsoo tapi Park Chanyeol. Kami berdua sama-sama mengerutkan kening saat berhadapan.
"Yeogineun mwohaeyo?" tanyaku sambil memicingkan mata, ingatlah bahwa dia musuh abadiku.
"Neo do," haish kenapa dia malah membalikan kata-kataku?
"Kalau kau mencari Luhan, dia sudah berangkat liputan dengan Sehun," balasku sinis.
"Jinjja? Kenapa Sehun bilang kalau aku disuruh menjemput Luhan-Noona?" tiba-tiba dia ikut memicingkan mata padaku, "Ini bukan akal-akalanmu untuk minta kujemput kan?"
"MWO?" aku bersukur karena mempunyai kelopak mata minimalis, kalau tidak mungkin saja bola mataku sudah keluar dari tempatnya.
"Bisa saja kau minta Sehun untuk menghubungiku supaya bisa kujemput, kau kan tahu kalau aku tinggal satu gedung dengan Luhan-Noona,"
"Michigetta," kutahan hasrat ingin menelannya hidup-hidup, "Kau pikir aku mau satu mobil dengan sumber virus sepertimu? Sudahlah lebih baik aku berangkat sekarang," kututup pintu apartemen Luhan, dan bersiap meninggalkan bambu hidup di depanku.
Baru tiga langkah aku berjalan, tiba-tiba poneslku berbunyi. Nama Luhan terpampang jelas di layar. Sepertinya hari ini aku bisa kenyang tanpa membeli makanan, menu makan siangku akan menjadi percampuran dari daging Oh Sehun, Luhan dan tentu saja Park Chanyeol.
"Yeoboseyo," kucoba nada sedingin mungkin menjawab telepon darinya.
"Baekhyun-ah, Chanyeol-i wasseo?" tanyanya hati-hati, dia tahu aku sedang marah padanya.
"Eo, Isseo,"
"Gwaenchanha? Sebaiknya kau berangkat dengannya, Jungsoo-Oppa sedang mengantar yang lain liputan, jadi kusuruh dia untuk menjemputmu,"
Apa dia gila? Setelah menyuruh Chanyeol datang dan sekarang bertanya apa aku baik-baik saja? TENTU SAJA AKU SEDANG TIDAK BAIK. Rasanya aku ingin berteriak seperti itu, tapi aku ingat kalau marah bisa mempercepat kerutan, oke Baekhyun tarik nafas dan tenangkan dirimu.
"Bisakah kau aktifkan speaker handphonemu? Aku ingin berbicara dengan Chanyeol," tanyanya kemudian. Kubalikan lagi badanku dan mendekat pada Chanyeol.
"Berbicaralah," jawabku.
"Chanyeol-ah, kau tak apa kan kalau kuminta mengantar Baekhyun ke kantor? Jungsoo-Oppa ga eobseo, jalanan sedang macet dan apartemen kita cukup jauh dari kantor maka dari itu aku memintamu menjemputnya," terang Luhan pada Chanyeol.
"Kenapa Sehun berbohong padaku?" apa pendengaranku salah? Chanyeol seperti sedang merajuk.
"Karena aku tahu kau tak akan mau kalau kuminta menjemput Baekhyun-Noona," itu suara Sehun, "Cepatlah kalian berangkat kalau tak mau terlambat, jalanan benar-benar sedang padat."
Akhirnya sambungan itu terputus, dan mau tak mau aku harus berangkat bersama si Giant Yoda. Keadaan dalam mobil benar-benar seperti kutub, penuh dengan aura dingin dan mencekam.
"Sagwa hallaeyo?" tanyaku padanya.
"Untuk apa? Bukankah harusnya kau yang berterima kasih karena aku mengantarmu?" jawabnya dengan masih fokus pada jalanan, benar kata Sehun kalau jalanan sedikit padat pagi ini.
"Untuk semuanya, bahkan kau lahirpun sebuah kesalahan," gumamku.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Kau tak merasa bersalah untuk liputan Kris Wu kemarin?"
"Bukankah kemarin kau mengatakan terima kasih karena tak jadi meliput Kris Wu?"
"Bisakah kau tidak selalu membalikan omonganku? Sudahlah, menyetirlah dengan benar, berbicara dengan makhluk sepertimu tak akan pernah ada akhirnya."
Aku tau saat ini dia sedang menyeringai di balik kemudi, kenapa harus ada spesies manusia macam dia di dunia ini? Tidak cukupkah dengan Homo Sapiens saja? Tiba-tiba aku mengingat julukan teman-temanku tentang Orion dan Scorpius, kira-kira siapa yang menjadi Orion dan siapa yang menjadi Scorpius di antara kami? Sepertinya aku mulai gila, kenapa pula aku memikirkan hal random macam itu?
Setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya dengan selamat di basement kantor, aku langsung membuka sit belt dan bersiap membuka pintu mobilnya.
"Baekhyun-Nim, eodi gasimnikka?" tanyanya dengan nada sedikit menyindir.
"Aku tak tahu kalau selain menyebalkan ternyata kau bodoh, tentu saja aku akan pergi bekerja karena kita telah sampai di kantor,"
"Tak ada terima kasih?"
"Byun Baekhyun berterima kasih pada Park Chanyeol hanya ada dalam mitos," dan kemudian aku berlari keluar dari dalam mobil, terlalu lama bersama dengannya bisa menimbulkan berbagai penyakit.
Berkutat dengan persiapan liputan nanti sore membuat perut mungilku bernyanyi riang, aku khawatir sebentar lagi cacing-cacingku berorkestra Requiem milik Mozart maka dari itu aku berjalan cepat agar segera sampai di kantin. Aku bersukur dengan kegesitanku datang kemari, antrian makanan belum terlalu panjang hanya ada dua orang di depanku.
Tempat makanku saat ini cukup strategis, yaitu tempat paling pojok dari kantin sehingga bisa menikmati seolleongtang dan yangnyeom dak dengan khidmat.
"Uwah Byun Baekhyun, ternyata makanmu seperti babi. Bagaimana bisa badan sekecil itu menampung makanan sebanyak ini sendiri?"
Aku penasaran apa dosa yang telah kuperbuat di kehidupan lamaku? Kenapa aku harus berurusan dengan makhluk spesies aneh ini? Benar, yang barusan berbicara adalah Park Chanyeol.
"Aku rasa porsi makanku tak berpengaruh padamu jadi tak perlu berkomentar apapun," kucoba mengabaikannya, terus menikmati daging-daging dalam mulutku.
"Sudahlah Hyung, lebih baik kita makan dulu. Aku mengajakmu ke sini karena ada sesuatu hal yang harus kita bicarakan, bukan menggoda Byun Baek-Noona,"
Chanyeol memang tak datang sendiri, selain makanan di tangannya ada juga Luhan dan Sehun yang ikut duduk di meja yang sedang kududuki. Kami berempat makan cukup tenang, walau ada saja hal menyebalkan yang Chanyeol lakukan untuk mengalihkan pikiranku dari makanan, tapi maaf saja karena aku terlalu lapar untuk sekedar menanggapi sikap menyebalkannya.
"Sehun-ah museum iriya?" ujarku membuka pembicaraan, omong-omong makananku telah habis.
"Noona mungkin sudah tahu rencanaku dengan Luhan, tapi sebelumnya aku penasaran kenapa selama ini kalian bisa samapi menjadi Orion dan Scorpius,"
"Jangan bertanya padaku karena aku juga tak tahu," gerutuku "Tanyakan saja pada girin di sampingmu, karena dia yang memulai semuanya,"
"Baekhyun sangat menyenangkan untuk dijahili, alasanku itu saja," jawab Chanyeol santai sambil memakan kimbapnya.
"Ya, jugeullae? Uwah, aku tak tahu kalau selama ini aku dianggap badut oleh Yoda,"
"Tidak adakah kesempatan kalian untuk berhubungan baik? Minimal tidak saling berteriak dan mengumpat ketika bertemu," itu suara Luhan.
"Aku bisa sangat baik pada orang lain, tapi tidak untuk jerapah bertelinga lebar itu,"
"Aku rasa kalian akan sangat cocok kalau berpacaran, hubungan kalian pasti sangat berwarna," Aku merinding melihat seringaian Sehun, mengingat dia jarang berekspresi, "Nah mulai sekarang kalian akur-akurlah, karena aku meresmikan kalian sebagai sepasang kekasih,"
"Luhan-ah tidakkah kau berpikir untuk melakukan CT Scan pada kekasihmu? Aku rasa ada sesuatu di otaknya," bisikku pada Luhan.
"Aku tahu kekasihku agak bodoh, bahkan dia tak bisa menjawab angka tiga dikali dengan angka dua, tapi untuk saat ini aku setuju dengannya,"
"Kalau tahu dia bodoh kenapa kau mau menjadi pacarnya? Dan kenapa kau setuju untuk menjodohkanku dengan spesies manusia aneh ini?"aku menunjuk langsung depan hidung Chanyeol yang langsung ditepis olehnya.
"Karena aku mencintai Sehun. Sudahlah, kenapa jadi membicarakan kebodohan Sehun? Saat ini kita sedang membicarakan kelangsungan hubungan kalian. Chanyeol-ah, apakah kau setuju kalau berpacaran dengan Baekhyun?"
"Kalau aku bisa menemukan kesenangan setiap hari, aku setuju saja. Sepertinya aku bisa menjahili liliput ini kapanpun aku merasa bosan,"
"Ya Park Chanyeol! Mwo haneun goya? Sirheo!"
"Nah karena pihak namja sudah setuju, aku nyatakan kalian sah sebagai sepasang kekasih. Silahkan cium kekasihmu, Hyung,"
Dan yang terjadi selanjutnya adalah sumpalan kimbab di mulut Chanyeol dan Sehun, jangan tanya siapa pelakunya tentu saja aku.
.
Saat ini pukul tiga, aku sedang menunggu Jungsoo-Oppa mengantarkanku ke acara Seoul Fashion Week tapi yang bersangkutan tidak juga menunjukan batang hidungnya.
Aku melihat Yuri-Eonni melewatiku, dia adalah office girl di EXO Magz. Sebaiknya aku tanyakan padanya saja, biasanya Jungsoo-Oppa selalu bersantai di pantry jadi aku rasa dia akan tahu di mana Jungsoo-Oppa.
"Yuri-Eonni, Jungsoo-Oppa eodi isseoyo?"
"Nan mollayo, tadi pagi dia mengantar Seulgi-Ssi liputan di Hongdae tapi sampai sekarang sepertinya belum kembali ke kantor,"
"Ah Geureohgunyo, ne Eonni gamsahamnida,"
Sepertinya aku harus berangkat sendiri, aku bisa menggunakan taksi. Sebenarnya ini sangat menyebalkan, aku tak begitu menyukai fashion jadi meliput acara fashion pasti sangat membosankan apalagi aku bekerja sendiri.
"Neo mwo hae?"
"Ya Park Chanyeol! Tak bisakah kau datang dengan cara biasa? Kau mau bertanggung jawab apa bila aku mati gara-gara serangan jantung?"
"Aku hanya mencoba berbaik hati pada kekasihku, kau seperti itik kehilangan induk dengan berkeliling tak tentu arah di lobby seperti ini,"
"Aku bukan kekasihmu, dan kau tak punya hak apapun sekalipun aku bergelinding di tengah lobby,"
"Tapi Sehun sudah mensahkan kita,"
"Kau pikir Sehun siapa? Dia bukan pendeta,"
"Kau harusnya bersyukur karena lelaki setampan diriku mau jadi kekasih liliput sepertimu,"
"Bagaimana bisa aku mempunyai kekasih yang memanggilku dengan panggilan liliput?"
"Kau juga memberiku berbagai macam panggilan,"
"Terserah apa katamu, aku pergi,"
"Baekhyun-ah jjamkkanman,"
"Aish apa lagi? Aku harus segera pergi dan menyelesaikan tugasmu,"
"Kau akan pergi ke Seoul Fashion Week?" wajahnya seperti menahan rasa bersalah, bagaimanapun ini adalah tugasnya yang sekarang menjadi tugasku.
"Ne, wae?"
"Aku antar, aku tak menerima penolakan karena bagaimanapun ini adalah tugas asliku,"
"Tak usah, masih banyak taksi dan gihacheol yang beoperasi. Aku bisa pergi sendiri,"
Tiba-tiba saja dia sudah menarik –menyeret-ku ke basement, menuju mobinya.
"Ya girin, lepaskan! Park Chanyeol, igeo apha,"
Dia baru melepaskan genggamannya ketika aku sudah duduk di kursi penumpang mobilnya, tak lama dia duduk di kursi kemudi.
"Kemarikan tanganmu!" titahnya.
"Wae?" kulirik takut-takut dirinya, aku bersumpah baru kali ini merasa takut padanya.
"Sudah, cepat berikan," perintahnya sambil menarik lagi tangan kananku, dia perhatikan terus pergelangan tanganku yang merah karenanya, "Apha?"
"Neomu apha, kenapa kau menarik tanganku dengan kasar?"
"Mianhae, aku hanya kesal saja dengan kekeraskepalaanmu makanya tanpa sadar aku langsung menarik tanganmu,"
"Ya sudah cepatlah jalankan mobilmu, aku bisa benar-benar terlambat meliput."
.
Liputan hari ini akhirnya selesai, masalah laporan Chanyeol bilang dia yang akan mengerjakannya karena ini tugas utamanya. Dan benar saja apa yang kuprediksikan, di sini sangat membosankan. Walau berat mengakuinya tapi setidaknya kejahilan Chanyeol sedikit menghibur, tentu saja aku berat mengakuinya karena objek kejahilan Chanyeol adalah aku.
"Kau akan langsung pulang atau ingin mengunjungi suatu tempat dulu?" saat ini kami di dalam mobil, masih di parkiran gedung berlangsungnya Seoul Fashion Week.
"Aku ingin pulang saja, aku lelah dan terlebih aku harus segera mandi karena seharian ini bersamamu, aku takut tertular suatu virus," jawabku asal, aku tak berbohong kalau aku sangat lelah.
"Eiy tak seru sekali, tak ingin kencan? Bukankah kita sekarang sepasang kekasih?"
"Jangan mengajak bercanda, aku benar-benar lelah,"
"Tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu saat sampai,"
.
Silau dari cahaya matahari memaksaku untuk bangun dari tidur cantikku, hal pertama yang kulihat adalah sesosok tubuh kekar yang sedang mengeringkan rambut membelakangiku. Apa aku kasih bermimpi? Kenapa ada laki-laki dalam kamarku? Tiba-tiba saja sosok kekar itu berbalik.
"Kau sudah bangun? Tidurmu lelap sekali, phigonhae?"
"YEOGI MWOHAE?" hilang sudah semua kantukku.
.
.
.
_TBC_
Halo semuanya ketemu lagi sama cerita ter-mainstream sejagat per-ff-an. Makasih buat yang kemarin udah review dan follow FF ini, walau agak kecewa gara-gara yang read banyak tapi reviewnya dikit. Gak apa-apa sih aku gak maksa juga buat review, itu kan kesadaran masing-masing cuman gak ada salahnya kan meninggalkan jejak, anggep aja ini sedekah di bulan ramadhan hahahaha
Aku buat cerita ini buat seneng-seneng kok jadi semoga yang baca juga seneng, lumayan kan ya buat nemenin ngabuburit soalnya aku usahain ff ini aman dibaca pas puasa terutama buat nemenin yang jomblo *oops jadi aku gak mau ngebenanin kalian buat wajib review.
Oya mau ngasih tau aja, walo Chan sama baek jadian tapi posisinya mereka masih opposite ya alias masih musuhan (?) jadi belom pada ada rasa. Chan di chapter sebelumnya juga bukan karena cemburu tapi emang dia iseng aja pengen liat Baek ngambek hahaha
Kalau ada yang mau ditanya-tanya seputar ff ini bisa lewat review, ntar aku bales lewat pm kecuali kalau gak punya akun jadi bakal aku bales barengan sama author note. Kalian bisa nanyain apapun kok sekiranya masih berhubungan, misalnya ada bahasa korea yang gak kalian ngerti soalnya aku gak kasih kamus mini di ff ini.
Btw menu makan siangnya Baek samaan nih sama menu buka puasa aku jadi agak kesindir disebut dwaeji sama Chan hahaha, menu buka kalian apaan nih?
Akhir kata, Review please ^^
