"Sepertinya kita hanya meneruskan peran kekasih kita, bukankah ada peribahasa alah bisa karena terbiasa? Siapa tahu kita akan terbiasa karena terus mencoba saling memahami, aku rasa dengan seperti itu hubungan kita bisa membaik,"

"Kita hanya perlu jujur pada mereka kalau kita memang kekasih, tapi bukan seperti kekasih pada umumnya. Kita berhubungan hanya ingin memperbaiki hubungan kita, aku yakin mereka lebih mengerti apabila diberi kejujuran,"

.

.

.

OPPOSITE

©Cheesecake Vega

EXO (ChanBaek as main cast) and SM Family

.

.

.

Pagi ini entah kenapa rasanya sangat berbeda, aku terbangun dengan perasaan yang tenang dan ringan seolah beban-bebanku hilang. Entah apa yang akan terjadi di kantor nanti, aku hanya perlu meyakinkan mereka bahwa aku dan Chanyeol memang sepasang kekasih dan berbicara kebenarannya. Aku tak perduli pandangan orang akan seperti apa karena memang seperti itu kenyataannya.

Saat ini aku sedang bersiap pergi ke kantor, aku memang tipe orang yang tidak begitu suka bersolek sehingga tidak akan memakan waktu lama untuk bersiap. Cukup mengoleskan BB cream dan bedak tipis juga lipbalm untuk melembabkan bibirku, aku bersukur mempunyai bibir yang sudah pink alami sehingga tak perlu lagi lipstick tebal.

Ting tong

Terdengar bel apartemenku, aku cukup kaget mengingat ini masih pagi untuk bertamu. Aku rasa itu bukan Luhan karena dia tak menghubungiku terlebih dahulu, lebih baik kubuka untuk mengetahui siapa tamu tersebut.

Kerutan dahi dan pout bibir tercipta ketika mengetahui sang tamu, kenapa Chanyeol bisa ada di depan apartemenku pagi-pagi sekali? Dan yang paling penting adalah dari mana dia tahu alamat tempat tinggalku ini?

"Yeogisseo mwohae?" kalimat pertama yang kuucapkan ketika tersadar dari keterkejutanku.

"Menjemputmu, bukankah itu tugas seorang kekasih?" jawabnya dibarengi cengiran, "Boleh aku masuk? Sejujurnya aku belum sarapan jadi aku ingin menumpang sarapan di sini."

Kubuka pintu lebih lebar menandakan aku mempersilahkannya masuk, walau masih dipenuhi banyak pertanyaan tapi aku bisa menanyakannya nanti karena bagaimanapun kami tidak bisa berlama-lama di sini atau kami terlambat berangkat ke kantor.

"Duduklah," perintahku padanya, "sejujurnya aku tak bisa memasak jadi percuma kau datang ke sini hanya mencari makanan, di sini hanya ada roti panggang," lanjutku.

"Jinjja? Akkapta, boleh aku lihat dapurmu? Siapa tau ada sesuatu yang bisa kubuat, aku tak mau datang ke sini dengan sia-sia,"

"Dapur ada di sebelah kirimu, aku masih belum selesai bersiap," jawabku sembari berlalu dan aku kembali ke kamar.

.

Ketika memasuki dapur aku mencium bau makanan yang sepertinya lezat, aku tak tahu kalau Chanyeol pintar memasak.

"Apa yang sedang kau buat?" tanyaku sembari duduk di meja makan dan menonton Chanyeol yang sedang asik membolak-balikan masaknnya.

"Kimchi bokkeumbap, aku hanya menemukan telur dan kimchi untuk bahan sarapan,"

"Uwah masigetta, aku jarang sekali sarapan dengan makanan berat karena aku dan Luhan sama-sama tak bisa memasak," ujarku dengan mata penuh harap, sejujurnya aku sudah jarang sekali makan makanan rumah. Bahan makanan di dapurku bahkan harus berakhir di tempat sampah karena sudah lewat tanggal kadaluarsa atau aku yang terlalu bingung bagaimana cara memasak bahan tersebut.

"Kasihan sekali aku dan Sehun karena sama-sama mempunyai kekasih yang tak bisa memasak, tapi kau lebih beruntung karena aku bisa memasakan sesuatu untukmu," balasnya yang hanya di tanggapi delikan tajam dari mata minimalisku.

"Jja Manhi Mogeo," titahnya sambil menghidangkan satu porsi Kimchi Bokkeumbap di hadapanku.

Satu suapan telah berhasil masuk ke mulutku, dan aku tidak berbohong kalau ini Kimchi Bokkeumbap terenak yang pernah kurasakan. Aku hanya bisa melotot kearah Chanyeol dan dibalas oleh kekehan darinya.

"Chanyeol-ah ini benar-benar enak, bagaimana kau bisa membuatnya seenak ini padahal bahan yang kau gunakan sangat sederhana?" tanyaku masih dengan mata penuh takjub padanya.

"Aku menggunakan bahan cinta," dan seketika tawanyapun pecah, "Tanganku memang ajaib, bisa membuat bahan apapun menjadi enak. Makanlah yang banyak, aku curiga kau tak pernah menemukan makanan enak sehingga badanmu seperti kucaci,"

"YA! Kau ingin bertengkar? Jangan menghancurkan mood makanku."

"Kalau kau mau aku bisa setiap hari memasakan sarapan enak untukmu, karena aku sudah memutuskan akan menjemputmu setiap hari,"

"Jinjja? Wah akhirnya giziku bisa tertangani. Ngomong-ngomong dari mana kau tahu alamat apartemenku? Kau bertanya pada Luhan?" tanyaku padanya, itu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya.

"Eung, aku bilang akan menjemput kekasihku jadi dia langsung mengirimkan alamatmu,"

"Aku punya satu pertanyaan lagi, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur." Aku merubah ekspresi wajahku dengan amat serius.

"Menanyakan apa?" tanyanya.

"Waktu aku menginap di apartemenmu, apa kita tidur satu ranjang?" Aku masih sangat penasaran dengan ini.

"Tentu saja, kau tahu sendiri kalau di apartemenku hanya ada satu kamar. Kalau aku tak tidur denganmu, lantas aku harus tidur di mana?"

"MWO?" tanpa sadar aku langsung menyilangkan tangan di depan dada. "Kau bisa tidur di sofa, kenapa harus tidur satu ranjang denganku?"

"Kau pikir sofa bisa menampung badanku? Aku tinggi mana cukup tidur di sana, lagipula kita sama-sama kelelahan jadi aku butuh tempat tidurku,"

"Tapi kau tak melakukan apapun padaku kan?" tanyaku kembali

"Aku berani bersumpah kalau kita berdua tidur dengan damai, aku tak melakukan apapun denganmu. Melakukan sesuatu pada orang tidur mana asik,"

"Dahaengida, mendengar itu langsung darimu setidaknya membuatku tenang. Luhan dan Sehun terus memprovokasiku bahwa lelaki normal mana bisa hanya diam kalau tidur dengan seorang wanita. Tapi ngomong-ngomong kau normal kan?"

"Ya! Tentu saja aku normal, tidak selamanya lelaki dan perempuan tidur bersama akan melakukan hal yang tidak-tidak. Memangnya sepasang suami istri akan terus melakukannya setiap hari? Itu hanya berlaku pada Oh Sehun yang kelebihan hormon, dia tidak bisa menahan diri apabila sedang bersama Luhan-Noona,"

"Baiklah aku mencoba percaya padamu, awas saja kalau kau berbohong padaku," ancamku padanya.

"Kalau kau tak percaya, kau bisa melakukan visum di rumah sakit," tanggapnya.

Baiklah aku mencoba percaya, walaupun menyebalkan dia sebenarnya memang orang yang jujur. Salah satu contoh kejujurannya adalah dengan mengakui aku kekasihnya di depan semua orang saat meeting kemarin.

.

Sesampainya kami berdua di kantor, seketika lobby menjadi pusat perhatian karena kedatanganku dan Chanyeol. Pandangan mencela, menilai, dan penasaran masih terus mengikuti sepanjang langkah kami menuju tempat masing-masing. Dan seolah tahu kegelisahanku, Chanyeol tak pernah sedikitpun melepaskan kaitan tangan kami. Berkali-kali pula dia mengelus punggung tanganku dengan jempol tangannya.

Sesampainya di cubicle, kutarik nafas sepanjang mungkin untuk menenangkan debaran jantungku yang menggila semenjak memasuki kantor. Rasanya seperti menjadi kelinci yang dengan berani memasuki kandang para singa.

"Sepertinya sudah ada yang berani menunjukan kemesraan di depan umum,"

Kulihat siapa orang yang berbicara padaku tersebut, jujur saja aku masih tidak siap bertemu dengan siapapun saat ini.

"Kau mengagetkanku, Lu," ya orang tersebut adalah Luhan, "Kapan kau datang?"

"Aku sudah datang dari tadi, kau terlalu fokus pada Chanyeolmu sehingga tak sadar aku ada," jawabnya.

"Siapa yang fokus pada Chanyeol? Aku hanya sedang takut pada orang-orang kantor sehingga tak fokus pada apapun," bantahku.

"Jinjja? Tapi sepertinya kau sangat menikmati sekali ketika Chanyeol mengelus tanganmu,"

"YA! Kenapa kau memperhatikannya sampai sedetail itu?"

Dan tawa Luhanpun pecah "Jadi benar kau menikmatinya?" Tanya Luhan disela tawanya.

"Ani, aku hanya berusaha senatural mungkin agar terlihat seperti kekasih lainnya,"

"Jinjja?" godanya kemudian, "Baiklah aku hanya ingin mengucapkan selamat atas resminya hubungan kalian, aku harus menyelesaikan laporanku, bye ms.Park," tawa Luhan masih terus terdengar samar-samar walau dia telah pergi.

Tiba-tiba notifikasi Kakaotalk-ku berbunyi, dan muncul pesan dengan isi 'makan siang kita berangkat bersama, jangan pergi sebelum aku menjemputmu,' pesan ajakan yang lebih pada perintah itu berasal dari orang dengan user name Park Chanyeol.

'Dari mana kau dapat ID Katalk-ku?' balasku padanya.

'Tentu saja Luhan-Noona, hanya dengan mengatasnamakan kekasihmu maka semua informasi bisa kudapatkan dengan mudah, bahkan ukuran semua pakaian yang melekat pada tubuhmu saat inipun aku bisa tahu.' Balasnya lagi.

Kuputuskan tidak membalas pesan Kakaotalk darinya lebih lanjut, masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan dan tidak ingin terbengkalai hanya karena membalas pesan tidak penting dari Yoda kelebihan kalsium yang sialnya kekasihku itu.

.

.

Pekerjaanku sudah selesai dari setengah jam yang lalu dan saat ini aku sedang asik dengan game di komputerku, ini salah satu kelebihan lainnya menjadi seorang jurnalis yaitu kau bisa bersenang-senang ketika laporanmu sudah selesai. Bahkan kalau aku mau bisa saja aku langsung pulang sekarang, tapi itu akan merusak absensiku.

Saat ini telah masuk jam makan siang, tapi Si Jerapah belum juga menjemputku, apa dia hanya mempermainkanku? Walaupun kami sepasang kekasih tapi ingatlah DNA jahil yang masih melekat pada dirinya, bisa saja katalk darinya tadi hanya untuk menjahiliku.

"Pekerjaanmu sudah selesai?" tiba-tiba suara berat menyapa telingaku.

"Dari mana saja? Kenapa lama sekali?" beberapa pertanyaan langung meluncur indah dari bibirku ketika melihat Chanyeol.

"Wah ternyata Baby smurf-ku sedang menunggu pangerannya," godanya kemudian.

"Sudahlah, ayo kita pergi," aku pergi begitu saja tanpa memperdulikan dirinya.

"YA! Byun Baekhyun jamkkanman!"

.

.

"Ternyata gossip itu benar, aku sampai tak percaya ketika mendengar kalian berpacaran," ujar Dana Ahjuma, penjaga kantin ketika melihat kami datang bersama.

"Apakah kami cocok?" Tanya Chanyeol padanya sambil menarik pundakku agar lebih mendekat padanya.

"Sangat cocok terutama dalam hal bertengkar," jawabnya sambil tertawa, "Jadi kalian ingin memesan apa?"

"Kau ingin apa, Baek?" Tanya Chanyeol padaku.

"Stawberry cheesecake dan strawberry milkshake," jawabku.

"Kau tidak lapar? Kenapa hanya makan cheesecake?" tanyanya lagi.

"Kimchi bokkeumbap darimu masih mampu mengganjal perutku,"

"Kau harus makan yang banyak, pantas saja pertumbuhanmu terhenti pasti karena kau kekurangan gizi" cerocos Chanyeol.

"Kau menyebutku gizi buruk? Aku sudah bersukur hari ini kita belum bertengkar, kenapa harus mengajak bertengkar sekarang?" balasku padanya.

"Aku tidak sedang mengjakmu bertengkar, aku hanya mengemukakan apa yang aku pikirkan. Sudah lebih baik kau makan apa yang akan aku pesankan padamu saja, pokoknya kau harus makan,"

"Ya! Kenapa jadi memaksaku? Aku bilang aku sedang ingin cheesecake,"

"Tapi kau belum makan, bagaimana kalau kau sampai sakit? Badanmu bisa semakin kecil."

"Kenapa jadi sok perhatian padaku? Biasanya kau memanggilku babi,"

"Wajar bukan kalau aku perhatian pada kekasihku sendiri?"

"Sudah jangan bertengkar, bukankah kalian sudah menjadi kekasih?" lerai Dana Ahjuma.

Aku dan Chanyeol masih saling memicing mata, masih belum mau mengalah dengan pendapat masing-masing. Memangnya dia siapa sampai berani memerintahku? Ingatlah bahwa status kami kekasih dalam masa percobaan.

"Begini saja, bagaimana kalau membiarkan Baekhyun memakan pesanannya tetapi aku akan menambahkan porsi untuk pesanan Chanyeol jadi kalau Baekhyun merasa kurang dengan Cheesecakenya, kalian bisa berbagi makanan pada pesanan Chanyeol," usul Dana Ahjuma.

"Aku setuju," jawab Chanyeol cepat, "Aku pesan bibimbap,"

"Baiklah akan ku buatkan bibimbapmu,"

.

"Aku tak mau tahu, kau harus membantuku menghabiskan bibimbap ini, kau tahu sendiri Dana Ahjuma paling tidak suka ketika makanannya terbuang," Kata Chanyeol.

"Kenapa kau tadi setuju ketika dia akan menambahkan porsi makananmu?" ujarku sengit.

"Cheesecake tidak akan mengenyangkanmu, Baek. Pekerjaan kita tidak bisa terprediksi, kau harus selalu siap tenaga, kalau kau tidak makan dari mana kau mendapat tenaga?" balasnya lagi.

"Ini tubuhku, aku yang paling tahu keadaanku sendiri. Kalaupun aku lapar, aku pasti akan makan," jawabku tak mau kalah darinya.

"Itu pola hidup yang tak baik, kau harus selalu makan dengan tepat waktu. Lebih baik gendut tapi sehat dari pada kau kurus tapi terus menerus sakit, aku menerimamu apa adanya tanpa memandang fisik, tenanglah aku tak akan malu membawamu sekalipun kau gendut,"

"Aku sedang tidak diet, hanya malas makan,"

"Kenapa kau keras kepala sekali sih? Pokoknya kau harus makan," tiba-tiba satu sendok penuh bibimbap sudah ada di depan mulutku, "Aku tak akan menurunkan tanganku sampai kau mau makan,"

Dengan berat hati akhirnya aku makan dengan terus disuapi olehnya, tak terasa bibimbap itupun tandas oleh kami berdua begitu pula dengan Cheesecakeku yang hanya menyisakan piringnya saja.

"Mulai saat ini aku yang akan mengawasi pola makanmu, aku tak percaya kau masih bisa hidup dengan pola makanmu yang sekarang," Ancam Chanyeol lagi.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau tahu aku belum makan?" tantangku padanya.

"Aku akan datang ke tempatmu dan memaksamu makan seperti sekarang, ingatlah aku tak pernah main-main,"

"Ara," jawabku santai, aku tak terlalu mempermasalhkan ancamannya, aku tahu pekerjaan dia banyak jadi tak mungkin serajin itu mengatur jadwal makanku.

"Omong-omong apa yang akan kau lakukan besok? Kau tak ada jadwal liputan weekend kan?" tanyanya lagi

"Molla, mungkin seharian besok aku akan tidur," jawabku asal.

"Hidupmu benar-benar membosankan," komentarnya yang menghasilkan delikan dariku, "Bagaimana kalau kita kencan? Anggap saja perayaan kita menjadi kekasih, lagipula semakin kita sering bersama semakin bagus membangun perasaan diantara kita," usulnya.

"Baiklah, sepertinya bagus untuk mengisi liburanku,"

"Besok kujemput pukul delapan, sekalian aku akan membuatkanmu sarapan,"

.

.

Saat ini aku sedang bergelinding tak jelas di atas kasur sambil memainkan game di smartphone-ku, memasuki level tinggu membuatku tegang bukan main. Selama satu minggu aku bersusah payah hingga di final stage ini. Tiba-tiba muncul pop-up notifikasi kakaotalk dan memunculkan nama Chanyeol, kenapa hari ini dia senang sekali mengirim pesan padaku?

Kuteruskan bermain game, aku berpikir paling hanya pesan tak penting. Game ini lebih penting karena aku menghabiskan waktu berhargaku untuk menyelesaikannya selama satu minggu. Tak terasa sudah setengah jam aku memainkan game dan hampir selesai hingga deringan telpon membuatku menjatuhkan smartphone ke kasur, untung saja aku sedang diatas kasur.

Kulihat siapa pengganggu detik-detik berhargaku, dan ternyata Chanyeol memanggilku menggunakan katalk. Karena terlalu kesal akhirnya langsung kujawab panggilannya tersebut.

"Wae?" kata pertama yang kuucapkan tanpa menyapanya terlebih dahulu.

"Mwo hae? Kenapa tidak membalas katalk dariku?" tanyanya balik.

"Aku sedang sibuk bermain game, gameku jauh lebih penting daripada dirimu," jawabku.

"Sudah makan?" tanyanya lagi.

"Aku sudah bilang kalau gameku penting, aku bisa menunda makanku, lagipula aku masih belum terlalu lapar," jawabku kemudian.

Tut tut tut

Tiba-tiba saja panggilan darinya terputus begitu saja. Baguslah, dengan begitu akan bisa bermain dengan tenang tanpa gangguan apapun.

Setengah jam kemudian aku masih bergerak-gerak tak jelas, gameku sudah selesai dan saat ini bingung apa yang harus kulakukan. Kembali kumainkan smartphone-ku dan mengecek social media yang kupunya, aku bukan tipe orang yang senang bermain SNS jadi aku hanya mengeceknya sesekali.

Ting tong

Terdengar bunyi bel apartemenku, sepertinya itu halmeoni yang ada di apartemen sebelah. Dia terkadang memang berkunjung ketempatku entah untuk meminta bantuan atau hanya sekedar mengobrol. Dia hanya tinggal bertiga bersama suami dan cucunya, anak-anaknya bekerja di luar kota sehingga hanya aku temannya yang bisa dia ajak ngobrol.

Ting tong

Terdengar kembali bunyi bel apartemenku, halmeoni memang seperti itu, sedikit tidak sabaran.

"Ne Halmeoni jankkamanyo," teriakku sambil berjalan cepat ke arah pintu.

Kubuka pintu dengan sedikit terburu, aku tak mau mendapat omelan panjang Halmeoni karena membiarkannya berdiri lama di depan pintu. Tapi saat kubuka pintu, yang berdiri dihadapanku bukanlah Halmeoni.

"Chanyeol-ah yeogiseo mwohani?"

.

.

.

_TBC_

.

.

Akhirnya bisa update, maaf banget ini telatnya kebangetan. Aku bener-bener jarang banget diem di rumah, seminggu sekarang aja aku cuma diem di rumah sehari dan selebihnya pulang pergi keluar kota dan itu pasti pulangnya tengah malem dan besok paginya mesti berangkat lagi. Tidur aja kadang cuma bisa di mobil atau kereta (ini beneran curhat).

Btw ada yang nyadar kalimat terakhir aku ambil dari mana? Hintsnya game baekhyun, ayo yang bisa nebak ntar tak kasih ciuman paling mesra dari Vivi *loh. Pas ngetik akkapta ampir aja aku ketik kkaepsong hahaha duh kayaknya efek stress jadi gini ya.

Siapa yang masih mabok sama abs-nya Baek? Jujur aja aku lebih seneng dia yang gembil-gembil gitu, walau dia berjuang buat nepatin janjinya tapi tetep aja gak tega pas tau dia gak makan nasi sampe tiga bulan. Tapi baek pas crossdress itu demi apa bikin minder banget, yang suka nge-BIM chanyeol masih adakah yang berani nantangin cantiknya Baek?

Dari semua lagu di EXO'rDIUM paling suka apa nih? Pasti pada bilang artificial love hahaha kalau aku gak bisa milih, semuanya suka terutama wolf-nya. Bener-bener nyuruh nabung buat nonton nih, ayo semuanya pada nabung juga ya, ntar siapa tau kita ketemu di venue.

Buat next update aku gak bisa janjiin cepet tapi selama aku bisa pegang laptop pasti diusahain aku cicil, jadi jangan lupa ya reviewnya biar aku ngetiknya makin semangat. Makasih sebelumnya. SARANGHAJA!