Gloomy Day dikabulkan! Yo! Yang waktu itu pilih ff ini buat dilanjut kita toss dulu^^

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Happy Reading^^

.

.

.

.

.

Kesibukan seseorang yang sudah menjadi aktor yang sukses membintangi berbagai film maupun drama sudah menjadi hal umum. Tak terkecuali Kim Kibum, salah satu aktor sukses milik negri Ginseng ini sudah seperti bekerja tanpa bernapas, tanpa jeda. Ada saja tawaran demi tawaran yang ditujukan kepadanya baik itu film, drama, maupun menjadi ikon di berbagai tawaran iklan. Pemotretan berbagai majalah juga menjadi rutinitasnya. Apalagi sejak Kibum dibuang oleh kekasihnya satu bulan yang lalu. Kibum tak pernah menolak satupun tawaran yang ditujukan kepadanya sehingga ia bekerja tanpa mengenal batas-batas kesehatan tubuhnya lagi.

Ya. Sejak kejadian dimana ia ditolak. Bahkan seumur hidupnya ia tak pernah menerima penolakan. Kata-kata dibuang sungguhlah kejam untuk menggambarkan tokoh terkenal semacam Kibum ini. Pada kenyataannya memanglah seperti itu, Kyuhyun memutuskan hubungan mereka. Tetapi apakah kedua belah pihak setuju akan keputusan itu? Jawabannya hanya ada pada diri mereka masing-masing. Pernyataan hanya ada di lisan maupun tulisan. Secara sadar, kemauan dihatilah yang mendorong untuk mengeluarkan pernyataan cinta maupun putusnya hubungan sepasang kekasih. Masalah hati itu selalu berujung rumit.

Satu bulan ini, Kibum menyibukkan dirinya di dunia entertainment dan berhasil. Entahlah bulan depannya. Atau bulan depannya lagi. Yang jelas Kibum belum menerima atau setuju atas kehendak sepihak dari Kyuhyun yang memutuskan hubungan mereka. Waktu itu, Kibum hanya menuruti apa kata Kyuhyun yang menyuruhnya pergi. Urusan mereka belumlah terselesaikan secara jelas. Kibum hanyalah seorang pecundang yang lari dari perasaannya dan mengorbankan tubuhnya untuk bekerja dan terus bekerja.

Alasan. Seorang pecundang seperti Kibum pasti sudah banyak menciptakan berbagai alasan dan di simpan rapi di dalam otaknya. Salah satunya adalah kegiatannya selama sebulan ini. Tidak jujur pada diri sendiri. Itulah Kibum. Ia terlalu tak acuh dengan sekitarnya sehingga untuk memahami apa arti kejujuran saja ia tak mampu. Seandainya saja waktu itu ia mengutarakan isi hatinya yang tak ingin mereka berpisah, pasti saat ini dirinya tak menjadi orang yang dikendalikan oleh arus seperti kondisinya saat ini.

Kim Kibum. Harus menjadi seperti apa ia untuk mengakui bahwa ia juga mencintai Kyuhyun? Permasalahan ini bukanlah di dalam teks drama yang ia hapal. Dimana ia menjadi karakter seperti ini atau seperti itu yang sudah di kemas dalam tulisan. Ia harus berdialog ini-itu yang bahkan tak pernah terpikirkan sama sekali di benaknya, karena itu hanyalah sebuah tulisan. Tulisan orang lain, hasil pemikiran orang lain. Bukan masalah cintanya sendiri.

.

Tak jauh berbeda dengan seseorang yang berada disana, Cho Kyuhyun. Meski ia marah pada dirinya sendiri yang tak berdaya sebagai sesama lelaki di hadapan Kibum, ia belumlah mengakui sepenuhnya bahwa Kibum adalah bagian dari masa lalunya, mantan kekasihnya. Jauh di dalam keinginan lubuk hatinya, masihlah mengharap harapan kecil bahwa Kibum akan mencarinya lalu memintanya kembali. Seperti dulu, atau seperti keadaan dimana ia tak berdaya dan tak mampu menolak apapun permintaan Kibum. Sungguh menyedihkan. Keinginan itu jelas menggambarkan bahwa ia adalah seorang masochist. Hanya sekedar berharap, tidak apalah. Toh Kyuhyun tak mengutarakan harapannya itu pada siapapun jadi tak akan ada yang mengejeknya.

Meski Kyuhyun kembali menjalani rutinitas kesehariannya dengan normal dan melangkah maju seperti yang Kibum lakukan, tindakan mereka berdua sungguhlah bodoh. Membohongi diri sendiri. Tidak jujur pada keinginan hati masing-masing. Bukankah mereka adalah pasangan yang sudah jelas masa depannya. Suram. Tidak punya pendirian. Tidak memiliki keinginan yang egois untuk mempertahankan cinta mereka. Tidak memiliki pondasi yang kokoh. Diterpa satu hembusan napas saja sudah roboh. Ya. Seperti keadaan mereka yang seperti ini. Jika saja mereka atau jika tidak salah satunya saja yang memiliki keegoisan untuk memiliki, paling tidak hubungan pasangan bodoh itu tak rapuh sekonyol ini.

Sedia payung belum tentu turun hujan. Ulat belum tentu menjadi kupu-kupu. Berkata tidak belum tentu itu adalah keinginan yang sebenarnya. Apa yang sedemikian itu belum cukup untuk menjadi keyakinan di diri Kibum maupun Kyuhyun untuk menjalin kasih bersama lagi? Buktikanlah jika kepercayaan hanya dimiliki setengah-setengah. Jangan hanya diam dan menunggu terus menunggu. Menunggu apa? Bara menjadi abu lalu tertiup angin hingga tak berbekas? Itu adalah penantian yang sia-sia. Setidaknya berbuatlah sesuatu untuk membuktikan bahwa masihlah ada keyakinan di dalam diri untuk tetap bersama. (*fi nulisnya jadi geregetan sendiri sama KiHyun-abaikan-)

.

Sore hari, pukul lima. Kyuhyun berdiri di depan pintu apartemen barunya dengan perasaan penuh was-was. Ia baru saja pulang dari kantornya. Melihat pintu apartemennya dirusak dengan sengaja entah menggunakan benda apa itu bukanlah hal penting, apalagi pintunya juga terbuka sedikit. Menoleh ke kanan dan kiri tak ada siapapun yang lewat di koridor apartemennya berada. Semakin kuatlah kewaspadaan Kyuhyun. Jangan-jangan ada pencuri dan membawa semua barang-barang di dalamnya. Atau seseorang yang berencana membunuhnya dengan mendatangi apartemennya secara langsung, tetapi seingat Kyuhyun ia tak pernah memiliki musuh. Jadi siapa?

Dengan membawa vas bunga tetangga beserta isinya, Kyuhyun perlahan membuka pintu itu. Ia berjalan mengendap-endap sambil memperhatikan sekitarnya. Bisa saja ia disekap dari belakang lalu dibunuh oleh seseorang yang sudah merencanakan ini semua. Semua tempat sudah ia periksa. Tidak ada yang mencurigakan. Semua benda di apartemennya masihlah ditempat yang sama. Tempat terakhir yang belum diperiksa kini tinggal kamarnya sendiri. Dengan teramat pelan, Kyuhyun membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampunya. Seketika saat lampu menerangi ruangan gelap itu, suara vas bunga yang jatuh berkeping-keping menjadi alarm bagi seseorang yang tadinya tertidur nyenyak dikamarnya.

"Oh. Ketiduran rupanya. Hmm jam berapa sekarang ya?" Gumam seseorang yang terbangun akibat suara yang Kyuhyun timbulkan.

"..." Kyuhyun tidak merespon. Ia bahkan tengah membeku. Kaget. Tak percaya. Mustahil. Seharusnya orang itu tidak berada disini. Terlebih masuk ke dalam tempat tinggal orang lain dengan cara yang tidak sopan sama sekali. Tidur nyenyak pula di kamarnya.

"Baru kali ini tidurku senyenyak ini. Pakai obat tidur merek apa yang disemprotkan di dalam ruangan ini ya? Hmmm..."

"K-kau, seharusnya masih syutingkan? Kenapa bisa disini?" Setelah mencabut secara paksa kesadarannya yang melayang sejenak, Kyuhyun barulah merespon. Orang itu seperti tak punya dosa sama sekali telah masuk sembarangan seperti pencuri.

"Kamar ini tidak berubah sama sekali. Suasananya menenangkan."

"Menenangkan apanya bodoh?! Jangan bertingkah seolah-olah tidak tahu menahu apa yang terjadi! Aku bukan patung! Jadi jangan mengabaikanku!" Kyuhyun terengah. Napasnya memburu setelah berteriak bahkan air matanya tak bisa dibendung lagi. Kini air mata itu mengalir bebas disambut oleh gravitasi bumi. Sesak didadanya kembali membuncah, berdesakan seperti ingin keluar, tenggorokannya juga tercekat. Sungguh orang itu tak bisa dimaafkan telah membuat Kyuhyun dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.

"Maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengabaikanmu lagi. Kemarilah. Duduk disampingku." Orang itu menepuk-nepuk tempat duduk disebelahnya yang duduk di pinggir ranjang Kyuhyun. Ditambah senyum yang terpampang di wajahnya sungguh membuat orang lain muak dengan tingkahnya.

Kyuhyun tak menampilkan tanda-tanda ia akan bergeser atau berpindah tempat. Kakinya sepertinya sudah dipaku agar tak dengan mudah terbujuk oleh perayu ulung macam Kibum. Kibum yang menanti Kyuhyun untuk datang kepadanya yang tak kunjung datang seperti dulu, kini beranjak mendekati Kyuhyun.

"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenanglah. Aku hanya ingin berbicara denganmu. Kau percaya padaku kan?" Tak mengangguk, tak pula menjawab iya, tetapi kaki Kyuhyun yang sudah dipaku itu berjalan sendiri ke arah ranjang. Lalu duduk dan diikuti oleh Kibum. Mereka duduk bersebelahan di ranjang empuk itu. Ranjang tempat kenangan mereka menghabiskan malam yang panas.

"Maaf aku tak menghubungimu selama sebulan ini. Kau pasti berpikir bahwa aku sudah mengiyakan keputusanmu waktu itu sehingga reaksimu seperti ini. Aku mengerti. Mianheyo. Aku tak bisa-"

"..."

"Aku tak bisa melepaskanmu semudah itu. Maafkan aku."

"..."

"Baiklah jika kau tak ingin bicara. Biarkan aku menyelesaikannya dan dengarkan saja."

"..."

"Kau pasti mengingat-ingat kapan aku bicara sepanjang ini mengingat aku tak pernah sekalipun mengutarakan apa yang aku inginkan atau menanyakan apa yang kau inginkan. Aku mengerti. Ini sulit bagimu untuk memahamiku terlebih aku mengejutkanmu dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Aku memutuskan untuk tidak lari lagi. Rasa sesak sejak kau mengutarakan kata putus itu selalu memenuhi rongga dadaku. Bukan berarti aku mengatakan ini sudah aku siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, aku benar-benar mengatakan apa yang ingin aku katakan. Sebelum sampai disini, aku sudah memutuskan untuk berubah. Aku tak ingin lagi menutupi perasaanku. Aku akan katakan apa yang aku suka dan apa yang aku tidak suka sekalipun itu menyakitimu. Jadi aku akan melakukan apapun agar hubungan ini tidak meninggalkanku."

"..."

"Saat kau menyuruhku pergi waktu itu, seharusnya aku memelukmu, mencari alasan atas pernyataanmu kenapa kau berbicara seperti itu. Jika memang kalimat itu berasal dari hatimu aku memutuskan untuk menerimanya. Tetapi tidak untuk sekarang. Sekalipun kau menyuruhku pergi lagi, aku akan membuatmu untuk berkata ingin aku tetap tinggal disisimu. Aku tak akan menyerah."

"..."

"Pidatoku rasanya lebih panjang dari omelanmu ya. Mianheyo."

"..."

"Kalau begitu aku akan pulang karena sudah menyelesaikan urusanku." Tanpa melihat Kyuhyun, Kibum beranjak dari tempatnya duduk.

"Bagaimana- hiks.. dengan pintunya- hiks. K-kau- hiks merusaknya bodoh!"

"A-ah. Itu akan menjadi alasanku untuk kembali. Jadi jangan diperbaiki du-" belum selesai Kibum bicara, pinggangnya terlebih dahulu dipeluk dari belakang oleh sepasang tangan berkulit pucat.

"Siapa yang mengijinkanmu pulang dan pergi seenaknya?!"

"Aku akan merusaknya lagi jika besok kau perbaiki."

"Dasar pencuri!"

"Jangan membuat rumour yang sudah terjadi. Maafkan aku Nae Sarang."

.

.

.

.

.

.

.

.

The END.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Apa endingnya sudah manis?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di tengah keramaian kota, di bawah tekanan udara musim semi, tampak dua orang lelaki yang tengah berciuman panas tanpa merasa malu dilihat oleh massa. Bahkan kejadian itu banyak diabadikan oleh berbagai jenis kamera.

Kibum melumat habis bibir plum yang terasa kenyal dan licin milik Kyuhyun tanpa menghiraukan sekitarnya. Bahkan kedua belah pihak saling menikmati sensasi dimana banyak pasang mata yang melihat ciuman panas mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Gimana endingnya? Sangat bagus? Bagus? Cukup bagus? Kurang bagus? Atau Kurang hot? HehehexD

Oh iya, sadar nggak kalo Fi ngehapus ff 'My All is in You'? Yg ada henry kecil jadi anaknya KiHyun trus diajarin yang ehem sama Kyuhyun lolxD itu ga ada pelajaran moral bagusnya sama sekali jadi fix hapus.

Untuk ff 'Fanboys Overall' yang udah tamat, ff ini sebagai permintaan maaf juga karena endingnya nyesek hehehe mianheyo *bow

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan menulis review ya... Fi sangat menantikan semangat dari kalian semua *wink