Question and answer
tto mot deureun cheok
gwaenhi moreuneun cheokhaebwado
I know you already know that
"I I I want you baby you know
I I AWW!" Hansol mengambil majalah yang tadi sempat mendarat di kepalanya. Melirik ke ruangan, tidak ada siapapun kecuali… "Seungkwan!"
"Maaf, tapi ini demi keselamatan telinga semua orang."
"Suaraku tidak seburuk itu."
Seungkwan bersiul pura-pura tidak dengar.
"Dasar Boolet!"
"Aku tak dengar aku pake headset" kata Seungkwan dengan nada sing a song.
"Tampan Nomor Tiga Belas!"
PUK!
"Bantalmu ini penuh liur, menjijikan."
"Kau beruntung di saat Carat rebutan untuk selembar tisu bekas keringatku, dan kau mendapat bantal kesayanganku bersama dengan pulaunya." Seungkwan mengipasi wajahnya dengan tangannya. "Lagipula, siapa yang kau panggil Tampan Nomor Tiga Belas ha? Tidakkah kau tau aku memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh siapapun? Aku ini berkarisma. Tidak ada yang—"
Seungkwan tidak tahu sejak kapan Hansol berdiri di depannya. Dia membulatkan matanya saat sadar bahwa mulutnya telah dibekap oleh pria blasteran itu. Hansol tersenyum manis.
"Bagiku, kau sama sekali tidak tampan," Hansol melepaskan bekapannya dan ganti menangkup kedua pipi Seungkwan, "kau itu manis. Dan aku menyukaimu."
Kenapa rasanya hari ini panas sekali? Ingin rasanya Seungkwan masuk ke dalam freezer untuk mendinginkan wajahnya sejenak.
"Itu bantal kesayanganmu?" tangan lainnya mengangkat bantal karakter Thomas, Seungkwan mengangguk polos. "Bagaimana kalau aku yang menggantikan bantal jelek itu?"
Seungkwan mengernyit tak mengerti. Sebal juga bantal kesayangannya dikatai jelek.
Tangan hangat Hansol mengelus lembut pipi Seungkwan, "Kau bisa memelukku,"
What?!
"Kau bisa menciumku,"
Diva Boo kita sudah tidak memiliki keberanian untuk menatap Hansol, saudara-saudara!
"Dan…," dengan pelan, Hansol mendekatkan wajahnya pada wajah bulat di depannya. Mengincar indera pendengarannya, meniupnya, dan berbisik, "Aku bisa menemanimu tidur."
Mata Seungkwan melotot tapi masih tidak berani menatap teman sebayanya. Ada rasa hangat yang menjalar di kedua pipinya. Itu tangan Hansol.
Mata mereka bertemu. Yang satu menatap lembut. Yang satu melempar tatapan kikuk. Dirasanya jarak antara mereka berdua menipis. Bibir bertemu bibir. Hanya kecupan biasa, namun memberikan sensasi luar biasa bagi keduanya. Hansol menarik wajah memberi jarak.
"Aku juga ingin menjadi kesayanganmu."
Seungkwan butuh oksigen, sungguh.
fin.
a/n:
*hehehe
*hehe
*SUMPAH INI CERITA BEDA BANGET DARI EKSPEKTASI AWAL. yaa semoga kalian enjoy :')
*maaf kalo rada cheesy. CRINGE EVERYBODY!
*maaf kalo ada kata/kalimat yg kurang sreg, atau banyak typo.
*maaf kalo kurang memuaskan. kirim kritik dan saran aja di kolom review yaa
*makasih yg udah fav, follow, review, dan baca fiksi ini
*KALIAN WARBYAZAH
*h3h3 gudbayy
