Minghao demam, jadi dia sendirian di dorm karena yang lain sedang latihan. Sudah dua jam dia terbaring, dan rasanya sangat kesepian. Matanya menatap ke langit-langit kamar sampai rasanya terasa berat dan menutup.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seseorang datang mendekat ke ranjang Minghao. Tangannya terulur mengusap lembut pipi pemuda manis itu.

"Junhui Hyung..." Panggil Minghao serak yang membuat orang itu yang ternyata Jun terlonjak.

"Maaf, aku membangunkanmu ya?"

Minghao menggeleng lemah, "Aku haus."

Dengan sigap Junhui mengambil gelas yang ada di nakas sebelahnya, meminumkannya ke pemuda yang terbaring lemah itu.

"Perlu sesuatu lagi?" Minghao menggeleng.

Junhui mengusap kening Minghao dan menyampirkan poninya yang sedikit basah karena keringat. Minghao memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan hyungnya. Lalu dia merasakan ada yang mendekat ke wajahnya, mengintip sedikit, lalu terbelalak saat melihat wajah Junhui dalam jarak dekat dengan jidat mereka menempel.

Mata bertemu mata. Dadanya bergemuruh, badan yang tadinya terasa hangat sekarang malah panas sekali. Minghao berkedip lucu membuat Junhui gemas.

"Sudah tidak panas," bisik Jun lembut masih menatap Minghao, "Tapi kenapa wajahmu merah sekali?"

Minghao mengalihkan pandangan ke mana saja asal bukan ke mata Junhui. Sedikit merutuki kenapa dia malah jadi malu-malu seperti ini. Mereka biasanya juga dekat kan?!

Hidung mancung Junhui menusuk pucuk hidung Minghao. Ingin rasanya Minghao mimisan.

"J-Jun Hyu..ng," Minghao tergagap yang hanya dibalas gumaman oleh Junhui, "I-ini te-terlalu dekat..,"

"Karena kau tidak mau menatapku,"

Reflek Minghao menatap mata Jun, "Aku..aku sudah menatapmu, jadi bisakah kau memberi jarak, Hyung?"

"Belum,"

Dahi pemuda manis itu mengernyit, jelas-jelas mata bulatnya menatap wajah tampan hyungnya itu.

"Aku mau kau hanya menatapku saja."

Minghao makin bingung. Memang dari tadi dia menatap siapa? Hantu?

"Menatapku sebagai satu-satunya orang yang kau butuhkan."

Minghao masih terdiam linglung.

"Tidak hanya mata. Tapi aku ingin hati dan pikiranmu hanya tertuju padaku," bibir lembut Junhui menyapa bibir pucat Minghao. Melumatnya sedikit berharap dengan ini bisa menyegarkan bibir yang dingin itu. Ya, itu adalah teori absurd Junhui dan segala kemodusannya.

Sebelum khilafnya berlanjut, Junhui melepaskan tautannya. Dilihatnya wajah Minghao memerah dengan napas memburu.

Dalam batinnya, Minghao bertanya-tanya apakah ini mimpi atau tidak. Sepertinya demam yang dideritanya sangat parah sampai berhalusinasi seperti ini. Atau mungkin tidak, karena dia merasakan betul bagaimana bibir lembut itu- ugh! Mengingatnya kembali hanya membuat kepalanya serasa ingin meledak saking panasnya.

Junhui terkekeh pelan, "Jadi, mau kan menatapku?"

Menurut kalian jawaban apa yang akan diberikan Minghao?

a. Ya,

b. Tentu saja,

c. Tidak menolak,

d. a, b, c, semua benar.

fin.

heyooo ini aku buat ngebut karna idenya keburu ilang (?) jadi maap banget kalo ga ngefeel ato gimana.

maap banyak typo karna saya malas edit h3h3h3 peace.

makasih buat semua yang udah baca, fav, follow, dan review. sudi buat ngreview lagi kan? h3h3

kalian yang jadi penyemangat saya buat nulis ini, warbyasah :')