***WARNING!***
Sebelumnya saya berterimakasih pada teman-teman yang sudah mau membaca, memfollow, memfavorit, dan memberikan review pada FF saya.
Saya juga ingin minta maaf pada teman-teman yang meminta penyeimbangan cerita antara Chanbaek dan KrisTao.
.
Begini, saya akan menjelaskan konsep FF saya sebentar saja.
.
FF ini sebenarnya konsepnya lebih terfokus pada cerita Chanbaek
Sedangkan KrisTao hanya sebagai cerita sampingannya saja.
Tapi ternyata selama proses pembuatan tanpa sengaja saya yang dasarnya KrisTao Shipper keasikan membuat cerita KrisTao lumayan banyak dalam FF ini (kalau dikatakan sebagai cerita sampingan). Jadi jika dijadikan cerita sampingan juga tidak cocok. hehehe...
Saya yang bingung harus menulis mereka sebagai Cast atau Slight Cast dalam cerita dan summary akhirnya saya mengambil keputusan untuk menjadikan mereka Cast, tapi cerita tetap fokus pada ChanBaek.
Jadi saya minta maaf sekali dan mohon kemakluman pada teman-teman jika menganggap cerita Chanbaek lebih mendominasi disini dan tidak sesuai harapan kalian. Apalagi pada Chapter ini full Chanbaek.
Untuk yang mengharapkan KrisTao, aku janji mereka pasti akan muncul kembali di Chap depan.
Terimakasih ^^.
.
.
So,
Lanjut/Close?
Silahkan memilih ^^,
.
.
CHAPTER 2
"Baekhyun's Feeling"
.
.
.
Baekhyun POV
.
.
Park Chanyeol. Setelah setahun lebih tidak pernah bertemu dan bertemu lagi, ternyata dia masih saja sama seperti dulu, masih bersikap baik pada siapa saja. Sikap yang dulu sempat mengenalkanku apa itu perasaan suka, cinta, dan sekaligus membuatku harus sakit hati.
Pertemuan yang tak terduga karena kecerobohanku tersesat dihari pertama disekolah waktu itu, membuat takdir mempertemukanku dengan pemuda itu. Ku kira hubungan kami hanya akan sebatas obrolan singkat saat kita berjalan menuju aula sekolah pagi itu, tetapi ternyata hal itu justru menjadi awal dimana kami semakin akrab dari hari kehari.
Chanyeol sosok yang friendly, perhatian dan sedikit konyol. Tidak heran hampir seluruh siswa-siswi diberbagai tingkat senang berteman dengannya, termasuk aku.
Sejak sering bergaul dengannya, entah itu hanya perasaanku saja atau tidak. Semakin lama, aku merasakan sikap Chanyeol seakan mulai berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sikapnya semakin lembut dan perhatian padaku.
Tentu saja hal itu memberikan efek yang sangat besar padaku. Setiap bersama dengannya, aku selalu merasa jantungku mulai berdetak tidak normal dan akan copot saat itu juga akibat efek perhatian yang dia berikan.
Melihat gelagatku yang sering salah tingkah setiap berpapasan atau bertemu dengan Chanyeol, Zitao yang tidak tahu-menahu tentang perasaan yang aku rasakan pada Chanyeol, mulai menatapku curiga.
Aku memang sengaja menyembunyikan perasaan ini darinya, karena jujur saja aku sangat malu harus mengaku kalau aku mulai menyukai seseorang. Apalagi walaupun Zitao lebih muda dua tahun, dia sudah lebih berpengalaman dariku soal hal ini. Tapi, entah kenapa sepandai apapun aku menyembunyikan rahasia padanya, dia akan selalu menyadarinya.
Semenjak saat itu, hampir setiap hari, waktu, menit dan detik dia selalu saja mendesakku untuk menceritakannya. Mulai bosan dan lelah dengan ocehan-ocehan miliknya, aku pun menyerah dan menceritakan semuanya pada malam itu.
.
.
-Dua tahun yang lalu-
'Flashback'
.
.
"Akhirnya~ kau normal eonnie!" teriak Zitao heboh dan memelukku dengan sangat erat.
"Yak! Aku tidak bisa bernafas." Pekikku dan memukul-mukul tangannya yang terlampau kuat untuk ukuran seorang perempuan.
"Hehehe, maaf... maaf... aku hanya terlalu senang mengetahui sahabatku orang yang normal." Dia lalu semakin maju mendesak kepadaku. "Lalu... Lalu, apa kau akan menyatakan perasaanmu padanya? Kapan?"
"Apa?! Terlintas dipikiranku saja tidak pernah, lalu mana mungkin aku akan melakukan hal itu? Memangnya aku punya banyak keberanian untuk mengatakannya duluan? Hell No...! aku tak segila itu, panda!" jawabku sewot lalu memeluk boneka rillakuma kesayanganku dan membaringkan tubuhku.
"Eh? Kenapa memangnya?!" Zitao langsung membaringkan tubuhnya disampingku dan menatapku. "Kau malu? Kau mau menunggunya untuk mengatakannya duluan?"
Tidak mendapat jawaban dariku, dia lalu melanjutkan kembali ucapannya. "Tsk! Dengarkan aku. Kalau mau menunggu ya sudah tunggu saja. Tapi hati-hati..." ucapnya menggantung.
Tidak paham dengan ucapannya, aku mengerutkan alisku dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Seakan mengerti Zitao menatapku dan melanjutkan ucapannya "Hati-hati kalau dia sampai di rebut orang lain."
"Tidak mungkin!" ku alihkan pandanganku menatap langit-langit kamarku.
"Kenapa tidak mungkin?! Semuanya bisa saja jadi mungkin eonnieku sayang. Bukankah Chanyeol salah satu anak populer disekolah? Mendengar ceritamu tadi, kau belum mengetahui perasaan pastinya kepadamu kan? Kau hanya mengambil persepsi sendiri..."
"Kau benar. Mungkin persepsiku salah karena aku yang terlalu berharap. Dia pasti tidak menyukaiku." potongku cepat.
"No, no, no, jangan berpikiran negatif dulu baby." Jari telunjukknya bermain di depan wajahku.
Ku tapis jarinya yang mengganggu. "Ck, tapi mendengar ucapanmu tadi itu membuatku jadi berpikiran negatif, bodoh."
"Kau saja yang selalu berpikiran negatif, bodoh! Makanya, dengarkan dulu ucapanku sampai selesai." Gerutu Zitao yang bangkit dari tidurannya dan duduk bersila sambil menatapku. "Bagaimana kalau sebenarnya dia juga menyukaimu tapi dia ragu padamu?"
"Ragu?"
"Yap," Zitao mengangguk-anggukkan kepalanya, "Bukankah kau selalu bersikap biasa-biasa saja padanya?! Kau tidak pernah memberikan sinyal sedikit pun. Jadi sudah sewajarnya kan dia ragu dan tidak berani mengatakan perasaannya padamu?!"
"Kau ini mengada-ada." Aku pun bangkit dan duduk bersila menghadap padanya. "Yang aku tahu, kalau seorang pria memang benar-benar menyukai seorang wanita, maka sebesar apapun hasilnya nanti dia pasti akan berani mengambil resiko itu dan tetap menyatakan perasaannya pada wanita itu."
"Kau ini berkata seolah-olah memang sudah tahu semuanya, padahal kau hanya mengetahui seperempatnya saja." ledeknya dan mendapat dengusan dariku.
"Ucapanmu itu memang benar, tapi setiap pria punya sikap dan pemikiran sendiri-sendiri, Nona Byun. Ada juga pria yang hanya akan diam dan memendam perasaan itu sampai dia tahu dengan pasti perasaan wanita itu kepadanya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Kenapa kau bodoh sekali?" gerutu Zitao sambil mendekapkan tangannya didepan dada. "Tentu saja dia akan diam, karena kalau sampai dia mengatakan perasaannya pada wanita itu dan ditolak, sudah pasti hubungan pertemanan yang sudah mereka bangun sebelumnya akan hancur." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku seolah mengerti dengan ucapannya.
"Oke, memang ada kemungkinan mereka tidak akan sampai benar-benar memutuskan tali pertemanan mereka, tapi pasti akan ada rasa canggung yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Kalau sudah terjadi hal seperti itu, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama," Zitao menunjuk telunjukknya sebagai tanda 'satu' di depan wajahku.
"Kalau mereka bisa bertahan dari ketidak nyamanan itu, persahabatan mereka akan tetap aman. Kedua," dia lalu menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya di depan wajahku lagi.
"Kalau mereka tidak bisa bertahan dari ketidak nyamanan itu, mereka akan saling menghindar dan otomatis secara perlahan persahabatan mereka akan putus."
"Jadi, menurutmu Chanyeol tipe pria yang akan diam dan menunggu karena tidak ingin merusak pertemanan kita?"
"Nah, tepat sekali." Desah Zitao lega dan langsung membaringkan tubuhnya.
"Lalu aku harus bagaimana?!" aku menatap Zitao.
"Nyatakan perasaanmu." Ucapnya santai
"Apa?!" pekikku.
"Aku yakin hasilnya tidak akan buruk. Percayalah!" Zitao tersenyum dan memberikan wink padaku.
.
.
.
T.T.F
(Today, Tomorrow, Forever)
.
.
.
Setelah mendapat sedikit pencerahan(?) dari Zitao, aku benar-benar tidak bisa tidur. Malam itu menjadi malam terbimbangku. Disisi lain hatiku seakan menyetujui ucapan Zitao, tapi disisi lain egoku melarangku untuk melakukan perbuatan memalukan itu.
Perang batin terus berlanjut sampai tanpa terasa matahari sudah menduduki singasananya(?) kembali. Hari itu terlihat begitu cerah, tapi sayangnya aku justru terlihat seperti awan mendung yang terjebak diantara cerahnya hari. Berperang batin semalaman dan tidak tidur membuatku benar-benar kacau dan kelelahan disekolah.
Dengan lesu, aku berjalan bersama Zitao menuju kantin. Sialnya, Zitao malah mengajakku untuk berputar dari rute kantin yang biasa kita lewati menjadi rute yang lebih jauh karena tidak ingin melewati lapangan basket yang saat ini sedang ada latihan untuk klub basket.
Alasannya?! Tentu saja karena dia tidak ingin melihat orang yang disukainya sejak JHS-Sehun yang saat itu sekelas dengan kami dan anggota klub basket sekolah, sedang berlovey-dovey dengan kekasih barunya-Luhan sunbae, anak tingkat dua yang saat itu menjadi ketua klub cheerleaders.
Padahal setahuku dulu mereka terlihat akrab dan ku kira mereka akan berpacaran setelah ditingkat satu High School ini. Tapi, ternyata Sehun malah berpacaran dengan Luhan-sunbae dan hubungannya dengan Zitao sekarang terlihat seperti orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Melihat perubahan mereka tentu saja menimbulkan tanda tanya yang besar padaku. Dulu aku sempat menanyakan hal itu pada Zitao, namun jawaban yang ku dapatkan selalu jawaban yang sama "Bosan mungkin.". Benar-benar aneh. Aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak aku ketahui terjadi di antara mereka. Tapi, ya sudahlah. Aku akan menunggu Zitao sendiri saja yang menceritakannya padaku.
Selama perjalanan Zitao terus berceloteh tentang Hae-eomma, keluarga Huang, sebuah perjanjian dan perjodohan. Mendengar kata perjodohan sebenarnya membuatku sedikit tertarik untuk bertanya lebih lanjut, tapi sayangnya moodku benar-benar sedang buruk hari itu. Jadi aku hanya diam seolah-olah mendengarkan celotehannya, padahal sejujurnya tidak ada satupun ocehannya masuk dalam otakku.
Mengabaikan panda itu yang terus berceloteh tidak jelas, aku mengalihkan pandanganku kearah pepohonan dan bunga-bunga yang berada ditaman belakang gedung sekolah. Melihat pemandangan yang asri, ternyata membuatku perlahan-lahan menjadi semakin rileks.
Namun, ternyata itu hanya berlangsung beberapa detik saja saat tanpa sengaja mataku menangkap seorang pemuda jangkung yang ku kenal dengan sangat baik sedang bersama dengan seorang gadis yang entah itu siapa, dibawah salah satu pohon taman itu. Melihat hal itu tentu saja membuat seluruh tubuhku langsung memanas, termasuk hatiku.
.
.
'Siapa gadis itu? Sedang apa mereka ditempat sepi seperti itu? Kenapa Chanyeol hanya diam saat gadis itu sedang bergelayut manja di pergelangan tangannya? Apa dia sedang menikmati dua gundukan milik gadis itu?! OH NO! Gadis itu juga, apa dia tidak memiliki harga diri sebagai seorang perempuan?!' bantinku tanpa melepaskan pandanganku dari mereka.
.
.
Penasaran. Dengan cepat ku tarik lengan Zitao yang sempat memekik kaget karena tarikan mendadakku dan berjalan cepat kearah semak-semak didekat pohon mereka berada. Seakan mengerti-mungkin, Zitao pun diam dan mulai mengikutiku dari belakang.
Saat sudah semakin dekat dengan semak itu, aku dan Zitao berjalan sepelan mungkin agar tidak ketahuan. Setelah kami sudah mendapat tempat yang tepat, aku memberikan kode kepada Zitao agar diam dan kami mulai mengintip kearah mereka diantara sela-sela semak.
.
.
"Hyuna, apa bisa kau melepaskan tanganku? Bukankah sudah dari tadi kau memegang tanganku seperti itu?" itu suara Chanyeol, siapa lagi yang memiliki suara bass seperti itu diantara mereka.
Jadi gadis yang bernama 'Hyuna' itu sedari tadi sudah memegang tangan Chanyeol?-Batinku jengkel.
"Oh, maafkan aku oppa kalau sudah membuatmu tidak nyaman." ucapnya dengan suara yang dibuat seimut mungkin. Tsk! Menjijikkan.
"Lalu ada apa kau mengajakku kesini? Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ehm... begini... sebenarnya... sebenarnya... sebenarnya semenjak melihatmu aku... aku... aku sudah menyukaimu oppa..." ucap Hyuna gugup dan langsung...
Chup,
Gadis itu mencium pipi Chanyeol dengan cepat dan membuat Chanyeol sempat melongo sesaat. Aish, benar-benar menjengkelkan!
"Oppa... Apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya gadis itu malu-malu namun dengan tatapan penuh harap.
.
.
Seakan tertimpa beribu-ribu besi yang beratnya berton-ton, jantungku terasa mau copot saat itu juga. Sialan gadis itu, ternyata dia benar-benar tidak punya harga diri! Ucapan Zitao semalam langsung terngiang-ngiang dalam benakku seperti kaset rusak dan sukses membuatku pusing serta kehilangan kesadaranku saat itu juga.
Entah apa yang terjadi. Ketika aku sadar, aku sudah berbaring diatas benda yang empuk. Bingung dimana aku berada, aku memalingkan wajahku untuk melihat sekitar walaupun belum bisa melihat dengan jelas karena belum mendapatkan kesadaranku seutuhnya.
Aku melihat seseorang sedang duduk disampingku. Dalam hati aku sudah bisa mengambil kesimpulan ini diruang kesehatan dan bertanya-tanya siapa orang yang sedang duduk itu. apa itu Zitao?
Beberapa detik kemudian, setelah aku benar-benar sudah mendapatkan kesadaranku seutuhnya, aku benar-benar kaget akan siapa orang yang berada disampingku saat itu. itu bukan Zitao tapi...
.
.
"C-chanyeol?!" ucapku serak dan langsung mencoba untuk bangun. Agh, kepalaku sakit sekali.
Melihatku, dengan cepat Chanyeol membantuku untuk dapat duduk dari tiduranku. "Pelan-pelan, kepalamu akan sakit kalau langsung bangun seperti ini."
"Hm, T-terima kasih." Ucapku lirih.
"Sama-sama." Senyumnya yang langsung berefek pada degupan jantungku. Ah~ mulai lagi.
"Syukurlah kau sudah sadar. Kata Sora-saem, kau mengalami anemia sampai kau bisa pingsan seperti tadi."
"Pingsan?!" Pekikku kaget saat mendengar ucapannya. Aku pingsan? Tidak mungkin. Seumur hidup aku belum pernah pingsan. Tapi sekarang aku pi-ng-sa-n?!
Aku lalu mencoba untuk mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya sampai aku bisa pingsan. Ingatanku perlahan-lahan mulai berputar seperti film-film dibioskop. Aku mengernyitkan kedua alisku saat menyadari kalau sebelumnya aku sedang bersama Zitao untuk menuju kantin. Lalu, kenapa sekarang aku bisa sampai bersama dengan Chanyeol?!
Ingatan selanjutnya pun muncul dan aku benar-benar sangat malu saat menyadari kebodohan yang ku lakukan tadi. Apa mungkin persembunyianku dan Zitao tadi sampai ketahuan?
oohh... tidaaak! Ini buruk.
Apa yang akan aku katakan kepada Chanyeol kalau dia sampai bertanya alasan kita bisa berada disana?! Tidak mungkin aku harus berbohong, tapi tidak mungkin juga kalau aku harus berkata jujur.
Aku harus bagaimana?!
"Apa ada yang sakit?" suara khawatir Chanyeol membuatku tersadar dari lamunanku.
Saat aku mengangkat wajahku untuk menatap kedepan, aku dikagetkan kembali karena jarak wajahnya yang bisa dibilang begitu dekat denganku. Oh, God! Wajahku pasti sudah memerah saat ini.
"Baek, katakan dimana yang sakit? Wajahmu sudah sangat merah." Tanyanya panik. Dia memegang kedua pundakku dan astaga... wajah kami semakin dekat!
"Baek, berbicaralah. Mana yang sakit agar aku tahu dan bisa langsung menolongmu. Jangan membuatku semakin khawatir karena keterdiamanmu." Ucapnya terdengar frustasi.
Dia mengkhawatirkanku?! Benarkah?! Aku benar-benar senang mendengarnya. Ucap batinku sambil melompat-lompat didalam sana.
"Baek.."
"Aa?! Ti-tidak. tidak ada apa-apa. aku... aku baik-baik saja." gelengku pelan dan tidak berani menatap matanya yang begitu intens menatapku.
"Benarkah?" tanyanya meyakinkan sambil menyelidik.
Aku menganggukan kepalaku gugup sebagai jawaban namun masih belum berani untuk menatapnya.
"Syukurlah," dia melepaskan tangannya dari kedua pundakku dan mulai duduk di kursi depanku. Ah... aku masih ingin merasakan tangannya berada dipundakku. Batinku kecewa.
"A-apa... apa kau tahu dimana Zitao?" tanyaku mencoba untuk menetralkan kembali detak jantungku dan keadaan canggung yang kurasakan.
"Zitao?!" Wajahnya sekilas terlihat sedikit bingung, namun itu hanya terjadi beberapa detik saja saat dia sepertinya mulai mengerti siapa orang yang ku maksud. "Apa maksudnya temanmu yang seperti panda itu?" tanyanya dan mendapat anggukan dariku.
"Hehe, maaf... selama ini aku hanya mengenal wajahnya saja dan tidak tahu namanya. Tadi aku juga tidak sempat berkenalan dengannya. Jadi, waktu kau menanyakannya padaku aku sedikit bingung. hehehe" Cengirnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau begitu lain kali akan ku kenalkan dengannya."
"Baiklah, ku tunggu janjimu." Dia mengedipkan matanya sambil tersenyum.
Ah~ Ini benar-benar semakin memperburuk batinku. Aku merasakan darahku mulai mendidih kembali dikedua pipiku. Aku terpesona lagi!
"Baek, kau memerah lagi. Kau yakin tidak apa-apa? apa kau perlu istirahat lagi?" ucapnya mulai terdengar khawatir dan sudah berdiri dari duduknya.
Dengan cepat ku pegang kedua pipiku dan menggeleng pelan. "A-aku baik-baik saja. D-duduklah." ucapku gugup. "Kau belum selesai menjawab pertanyaanku " potongku untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ah, Dia ada dikelas." Chanyeol duduk kembali dikursinya. "Tadi sebenarnya dia berniat untuk menemanimu disini sampai kau sadar.Tapi berhubung kelasku sedang kosong, jadi aku menawarkan diri untuk menggantikannya menjagamu. Aku tidak tega membuatnya harus bolos. Katanya dia juga akan membuatkanmu surat ijin agar kau tidak dianggap alpha."
"Oh begitu, aku akan berterimakasih padanya nanti."
Lalu dengan ragu-ragu aku menatapnya yang saat itu juga sedang menatapku. "Te-terimakasih." Ucapku sedikit gugup karena tatapan kami yang saling bertemu.
Ia pun tersenyum dan mengusak rambutku. "Sama-sama. kau tadi benar-benar sukses membuat jantungku hampir copot nona Byun, selamat. Lain kali jaga pola tidurmu." ucapnya sukses membuat kedua pipiku merona kembali.
Sekhawatir itukah dia padaku?!
.
.
*Malam harinya, dikamar Zitao.*
.
.
"Benarkan?! Pikirkan kembali kata-kataku waktu itu. Kurasa perasaanmu akan terbalas." Ucap Zitao sambil memainkan ponselnya. Sepertinya dia sedang sibuk berhubungan line dengan seseorang disebrang sana.
Lama tidak mendapat respon dariku, dia mengintipku dari sebelah ponselnya dan terdengar mendesah. Ia lalu bangkit dari tidurannya dan duduk sambil menyilakan kakinya mengahadapku. "Kenapa? Kau terlihat masih bingung."
"Tidak, hanya saja..." aku menatap Zitao, "Bukankah Chanyeol memang selalu baik pada siapa saja? jadi, bukankah menjadi hal yang wajar kalau dia mengkhawatirkan temannya yang pingsan?"
"Kenapa kau bisa sampai berfikir seperti itu?"
"Aku hanya mencoba berpikir rasional saja. Aku tidak mau kalau sampai terlalu percaya diri dan ternyata itu hanya harapanku saja." Ucapku lirih.
"Hmm, benar juga. Dia memang selalu baik pada siapa saja." Zitao terlihat seperti menimang-nimang sesuatu.
"Tapi, kurasa kalau padamu itu berbeda." ucap Zitao setelah hening beberapa saat.
Berbeda?!
"Maksudnya?"
"Sejujurnya semenjak aku curiga kepadamu waktu itu, aku selalu memperhatikan kalian dan berakhir memperhatikan dia diam-diam. Sorry, aku tidak berniat apa-apa..." cengirnya. "Hanya saja aku sedikit penasaran padanya." aku mengernyitkan kedua alisku mendengar ucapannya.
"Awalnya ku kira dia selalu memberikan tatapan itu kepada semua orang."
"Tatapan?"
"Hm, tatapan yang tidak bisa dideskripsikan tapi memiliki arti." ucap Zitao yang benar-benar membuatku tidak paham. "Tapi setelah aku memperhatikannya, ternyata kalau sedang bersama dengan yang lainnya dia seakan berbeda. Bukan hanya dari tatapannya saja, tapi sikapnya juga."
"Sikapnya berbeda? Ku rasa dia selalu baik pada siapa saja. Aku tidak pernah melihat dia hanya baik pada orang-orang tertentu."
"Ya memang kalau kita lihat dia selalu baik pada siapa saja. Tapi coba kau perhatikan dengan seksama. Tatapan dan sikapnya tidak sama kalau saat bersamamu, Baek. Tatapan dan sikap itu terlihat seolah sama tapi sebenarnya sangat berbeda. Bukankah kau yang pernah bilang sendiri kalau dia semakin perhatian padamu?"
"Hm, apa seperti itu?"
Zitao menganggukan kepalanya. "Dari situ aku bisa menyimpulkan kalau dia tertarik padamu."
"B-benarkah?"
"Hm" Zitao menganggukkan kepalanya lagi.
"J-jadi apa aku harus..."
"Ya harus." potong Zitao. "Tapi, itu kalau kau berani sih." ledeknya dan mulai memperhatikan ponselnya kembali.
"Baiklah, akan ku coba." Gumamku pelan.
"Hm?" Zitao menoleh padaku. "Kau tadi bilang apa?" Zitao mendekatkan dirinya padaku. "Aku tidak mendengarnya dengan jelas."
"Akan ku coba." Ucapku lagi dengan suara sedikit keras.
"Serius?!" aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Woah, ternyata seorang Byun Baekhyun lebih berani dari pada Huang Zitao." teriaknya kelewat semangat.
"Tapi, apakah dia tadi menerima pengakuan gadis itu?"
Zitao menggeleng dengan semangat. "Tidak, aku tadi mendengarnya menolak gadis genit itu saat mereka berada didepan ruang kesehatan. Jadi, semoga berhasil."
.
.
Tiga hari pun berlalu dan aku masih belum mengatakan perasaanku pada Chanyeol. Entah kenapa keberanian yang aku rasakan pada malam itu tiba-tiba langsung menghilang begitu saja ketika melihat Chanyeol di pagi harinya saat disekolah.
Aku menyadari, ternyata untuk berkata jujur tentang perasaan yang kita miliki tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi aku adalah wanita yang seharusnya menerima pernyataan cinta, bukannya menyatakan pernyataan cinta. Hah! Butuh keberanian yang besar untuk mengatakannya, dan sampai sekarang aku masih belum memiliki keberanian sebesar itu. Aku mendesah kecewa pada diriku yang terlalu pengecut.
.
.
"Mau sampai kapan kau akan seperti ini, eoh? Sepertinya ucapanku tentang kau lebih berani dariku kemarin akan ku tarik kembali nona Byun." Cibir Zitao.
"Kau kira ini hal yang gampang? Kau tentunya tahu bagaimana perasaanku sekarang. Bukankah kau juga pernah terjebak perasaan seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Jangan berpura-pura."
"Ya, ya aku tahu maksudmu." Jawabnya malas."Tapi masalahmu dan masalahku dulu tidak sama. Sikap dia dan Chanyeol sangatlah berbeda, Baby. Jadi bisa disimpulkan, kondisimu sekarang lebih baik dari padaku dulu." gerutunya karena aku harus mengingatkannya dengan pada seseorang yang menjengkelkan-menurutnya.
"Lalu?"
"Untuk apa bertanya lagi kalau kau sudah tahu jawabanku?!" jawabnya acuh.
.
.
.
T.T.F
(Today, Tomorrow, Forever)
.
.
.
Hari itu, Dengan tekat yang sudah bulat dan dorongan semangat dari Zitao, aku melangkahkan kakiku menuju kelas Chanyeol. Padahal jarak antara kelas kami sangatlah jauh dan aku sudah memelankan kecepatan berjalanku, tapi kenapa jarak itu menjadi sangat dekat?!
Tanpa ku sadari, aku sudah hampir sampai di kelas Chanyeol. Beruntung saat aku berada tepat didepan pintu kelas, Chanyeol keluar dari kelasnya sendirian. Ia terlihat kaget dan sedikit bingung saat melihatku berada didepan kelasnya.
.
.
"Oh, Baekhyun? Hai. Ada apa? tumben sekali disini. Mencari seseorang?"
"Hai. Ya, aku mencarimu. Ada yang ingin ku bicarakan. Apa kau punya waktu sebentar?"
"Hm, Baiklah. Dimana?"
"Terserah kau saja."
"Terserah?" Ia menaikkan sebelah alisnya mendengar jawabanku. "Kalau begitu, bagaimana kalau disini?"
"Tidak, tidak. jangan disini!" ucapku panik.
Seakan tersadar, aku menundukkan kepalaku karena malu dengan tingkahku barusan dan sepertinya dia sedang menahan tawanya.
"Hm, Bisa cari tempat yang lain?" tanyaku malu-malu.
"Kau itu lucu. Kau yang ingin bicara denganku tapi justru aku yang menentukan tempatnya." Kekehnya.
"Baiklah, ikut aku." Tanpa aba-aba dia langsung menarik tanganku. Sedangkan aku? Aku hanya bisa pasrah saat dia menarikku ketempat yang entah dimana dia akan membawaku.
.
.
Selama perjalanan aku hanya diam dan mencoba untuk mengontrol degup jantungku. Aku benar-benar bingung. Padahal sebelumnya tekadku sudah sangat bulat untuk mengatakan semua kepadanya. Tetapi, kenapa setelah merasakan kehangatan tangan Chanyeol, keberanianku langsung menciut?!
Saat itu, aku langsung memiliki pemikiran konyol karena ingin lahir sebagai time controller agar bisa mengulang kembali waktu dan tidak melangkahkan kakiku kekelas Chanyeol seperti tadi.
Aku yang melamun selama perjalanan, kaget saat Chanyeol sudah melepaskan genggamannya dan kami berada ditempat yang tidak ku kenal. Tempat ini indah, aku suka tempatnya. Tapi ini dimana? Apa ini masih diwilayah sekolah? karena jujur saja aku merasa asing dengan tempat ini.
.
.
"Duduklah" ucapnya membuat aku tersadar dari lamunanku. Aku menoleh kepadanya dan ia memberi isyarat untuk duduk disampingnya.
"Kau pasti bingung sekarang kita berada dimana." Ucapnya setelah aku sudah duduk disampingnya dengan wajah kebingungan.
Aku menoleh padanya dan dia tersenyum padaku. "Kita masih berada diwilayah sekolah. Sebenarnya ini masih termasuk taman sekolah. Hanya karena tempatnya yang jauh dan terpencil, tempat ini tidak terjamah sedikit pun oleh siswa-siswi sekolah ini."
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu tempat ini kalau begitu?"
"Aku menemukannya tanpa sengaja saat aku sedang berkeliling. Sekolah ini begitu besar dan membuatku penasaran apa saja yang ada didalam sekolah ini." pemikiran yang aneh-batinku. "Sampai akhirnya aku menemukan jalan setapak yang terlihat tidak terjamah sedikit pun dan... tada... aku menemukan taman ini. Bagaimana menurutmu?"
"Eh? Tempatnya?!" aku menatap ragu kepadanya.
Chanyeol tertawa, "Tentu saja. Aku tidak menanyakan pendapatmu tentang kisahku."
"Aku hanya ingin memastikannya saja. Aku takut salah berpersepsi." jawabku malu-malu.
Aku lalu mengalihkan pandanganku pada pemandangan asri dan indah dihadapanku. Melihat pemandangan seperti ini, benar-benar membantuku menjadi sedikit rileks.
"Tempatnya indah. Aku suka berada disini." Senyumku melihat burung-burung dan kupu-kupu berterbangan dengan bebasnya disana.
"Ya, aku juga suka tempat ini. Ini tempat favoritku." gumamnya. "Baiklah, sepertinya kau sudah terlihat rileks." Aku memalingkan wajahku untuk menatapnya. Dia tahu kalau aku sedang gugup?!
"Seperti yang kau katakan didepan kelas tadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
Wajahku langsung berubah tegang. Aku merutuki diriku yang bisa-bisanya melupakan tujuan utamaku untuk bertemu dengan Chanyeol. Dengan perasaan yang sudah tidak karuan, aku mencoba mengingat-ingat kembali kata-kata yang sudah aku rangkai sebelumnya.
"Baek," ucapnya dan mengagetkanku. "Kau baik-baik saja kan?"
"B-begini... aku... aku ingin jujur padamu." Aku meremas jaru-jariku dan hanya menundukkan kepala. Tidak berani untuk menatapnya.
"Hm, jujurlah."
"Aku... sebenarnya aku... aku... aku... hm... aku... sebenarnya.. sebenarnya.. aku sebenarnya... ak-"
"Baek, sebaiknya tenangkan dirimu. Bicaramu terdengar berantakan." Chanyeol memegang pundakku. "Aku jadi tidak bisa mengerti ucapanmu."
Aku menghirup nafasku dalam-dalam dan memejamkan mataku seakan dapat mengumpulkan keberanian yang ku punya.Dengan sekali hembusan, tanpa ku duga ucapan yang dari tadi sangat sulit untuk ku katakan keluar begitu saja dengan sangat jelas dan….
"CHANYEOL, AKU MENYUKAI..mu..."
….Keras.
Ini konyol! Aku berteriak pada orang yang jaraknya sangat dekat denganku?! Apa yang sudah ku lakukan?! Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu dengan cara 'freak' seperti ini?! Arrgghhh... Byun Baekhyun Babooo, kenapa kau sangat memalukan!
Dia terkejut.Terkejut karena suaraku, bukan karena pernyataanku-itu sudah pasti.Aku berani bersumpah, aku dapat merasakan keterkejutannya dari genggamannya dipundakku tadi. Ah… aku ingin mengubur diriku saat ini juga! Siapa saja kubur aku sekarang! Aku maluuuu.
"Baek-" ucapnya setelah kami hening beberapa saat.
"Chanyeol, Aku menyukaimu."Potongku dengan nada lebih lembut dari sebelumnya dan menatapnya. Aku ingin memperbaiki kesannya padaku-walaupun sudah terlambat...hiks...
"Aku… aku tidak menuntutmu untuk menjawab apakah kau mau menjadi kekasihku atau tidak. Aku hanya ingin mengutarakannya saja padamu. Karena…. Karena ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini kepada oranglain dan... a-aku merasa akan semakin gila kalau terus memendamnya terlalu lama."Ucapku sambil menunduk kembali.
Hening. Tidak ada respon sama sekali darinya.Dengan sisa keberanian yang tersisa aku meliriknya yang terdiam menatapku.Firasat negatif sudah menari-nari dalam benakku saat melihat wajahnya yang tidak memberikan respon apapun.
Akutersenyum kecut menyadari seharusnya tidak mendengarkan ucapan Zitao kemarin. Membiarkan perasaan ini terpendam sendiri dan hubungan kita tetap akan baik-baik saja. Kurasa itu lebih baik.
"Maaf kalau aku mengagetkanmu dengan suaraku dan pernyataanku barusan." Aku berhenti sejenak untuk menarik nafas dan mengumpulkan sisa-sisa kecil keberanianku. "Ku harap setelah ini kau tidak menjauhiku dan kita masih bisa tetap berte-"
"Aku juga menyukaimu, Baek." Potongnya.
"-man."
Ha?!
"Aku mau menjadi kekasihmu, walaupun kau tidak bertanya padaku apa aku mau menjadi kekasihmu atau tidak."Ucapnya sambil tersenyum padaku.
"Jadi, apakah kau mau menjadi kekasihku?" tanyanya, Sedangkan aku hanya bisa terdiam tidak percaya menatapnya.
D-dia menembakku?!
.
.
.
TBC
Gomawo sudah membaca FF ini.
Gimana, feel ceritanya udah dapat atau belum?
Kalau ingin review untuk kasih saran silahkan, kritik juga silahkan. Saya menerima semua keluh kesah kalian. Tapi, mohon pakai tata bahasa yang sopan ya ^^.
Saya sih mengharapkan kalian mau memberikan saran atau kritik atau kasih tanda kehadiran saja juga nggak apa-apa. Biar saya juga bisa lebih baik lagi dalam menulis dan tahu kalau masih ada yang mau baca FF ini...hehehe...
Untuk yang sudah Review kemarin, balasannya ada di PM masing-masing ya ^^
