***WARNING!***
Makasih buat teman-teman yang masih mau membaca, memfollow, memfavorit dan memberikan review pada FF saya yang garing ini. Hehe...
Yang masih bingung dengan alurnya flashback atau gimana. Chapter 2'nya udah aku edit dan kasih tanda untuk alur yang flashback. Jadi, mudah-mudahan kalian yang baca nggak bingung ya.
Sekarang untuk berakhirnya 'flasback' disini nggak akan saya beri tanda 'flashback end' karena alur akan terus berjalan sampai kemasa sekarang (masa mereka udah di tingkat tiga (alur chapter 1) ) jadi kalian bisa ambil kesimpulan sendiri dimana flasbacknya berakhir ya..Hehe..
Hmm, mudah-mudahan kalian nggak bingung dengan penjelasan saya yang agak membingungkan. Hehe... saya yakin kalian EXO-L semua pinter-pinter jadi pasti ngerti maksud saya. #Peace (^.^)v
Untuk KrisTao moment. Sesuai janji, mereka udah saya munculkan lagi. Tapi, maaf ya cuma segitu aja mereka munculnya di Chapter ini. Yang penting aku nggak melanggar janjikan? Hehehe... #kabur
Maaf juga nggak bisa fast update soalnya kemarin-kemarin lagi sibuk sama tugas kuliah dan uts. Mudah-mudahan chapter ini nggak mengecewakan kalian ya..
Terimakasih ^^.
.
.
Happy Reading
.
.
CHAPTER 3
"The difference and the beginning"
.
.
.
Tanpa diduga, hari itu akan menjadi hari yang sangat melelahkan bagiku. Terlihat berangkat bersama dan bergandengan tangan saat menuju kelas, ternyata adalah kesalahan yang fatal.
Aku yang terlalu berbunga-bunga melupakan fakta Chanyeol adalah salah satu orang populer disekolah dan tentu saja hal itu akan langsung menggemparkan seluruh siswi-siswi satu sekolah, termasuk para fans-fansnya-bisa dikatakan begitu.
Ya, semenjak hari dimana aku memberanikan diri untuk berkata jujur tentang perasaanku tanpa diduga Chanyeol juga membalas perasaanku. Kami akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Tapi diluar dari pemikiranku, hal itu justru membuatku menjadi objek incaran para siswi-siswi pengagum Chanyeol.
Terus menerus diinterogasi dan dikerumuni setiap hari oleh siswi-siswi pengagum Chanyeol, tentu saja membuatku menjadi sangat kewalahan menghadapi mereka. Untung saja aku memiliki Chanyeol dan Zitao yang dapat melindungiku dan membuat gadis-gadis itu pergi dariku sementara waktu. Walaupun saat sedang melindungiku, Chanyeol juga dengan terpaksa harus mengikuti gadis-gadis itu pergi, tapi aku tetap sedikit bersyukur. Ya, hanya 'se-di-kit'.
Beberapa minggu berlalu sebagai sepasang kekasih, tidak ada permasalahan yang serius terjadi diantara aku dan Chanyeol. Chanyeol kekasih yang sangat baik dan pengertian, dia juga suka sekali memanjakanku dan benar-benar bisa menghiburku dengan leluconnya saat moodku sedang buruk.
Aku juga sudah sangat akrab dengan keluarganya. Padahal baru sekali Chanyeol mengajakku untuk berkunjung kerumahnya, tapi aku sudah disambut dengan sangat hangat oleh mereka.
Bahkan sehari setelah aku berkunjung kerumah Chanyeol, Yura-eonnie (kakak Chanyeol) dan Park-ajhumma (eomma Chanyeol) sudah mengajakku untuk keluar bersama setiap hari minggu. Entah itu shopping, ke salon, memasak dan masih banyak lagi.
Namun, saat hubungan kami mulai menginjak pertengahan menuju bulan kedua entah kenapa aku mulai sedikit terganggu dengan sikap baik atau terlampau baik yang dimilikinya.
Bukannya aku tidak menyukai dia memiliki sikap seperti itu. Aku senang memiliki kekasih yang baik dan ramah pada siapa saja. Hanya saja aku terganggu jika itu kepada siswi-siswi yang dengan tidak tahu diri masih saja suka menggodanya.
Sebagai kekasih tentu saja aku merasa cemburu jika kekasihku berdekatan dengan gadis seperti itu. Terlebih lagi, Chanyeol terlihat tidak peka dengan kelakuan mereka dan justru membuat mereka semakin menjadi-jadi kepadanya.
Semenjak saat itu, hampir setiap hari aku uring-uringan kepadanya walaupun tidak akan berlangsung lama. Chanyeol juga sudah berulang kali menanyakan alasan kenapa aku jadi sering uring-uringan kepadanya tanpa ada alasan yang jelas, tapi aku hanya menjawab tidak apa-apa dan dia sepertinya langsung mempercayai ucapanku begitu saja.
Aku memang sengaja untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya, karena Aku ingin dia peka sedikit akan perasaanku. Aku sempat ingin memintanya agar tidak bersikap baik lagi pada gadis lain, tapi aku tidak bisa mengatakan ketidak puasanku itu. Aku tidak ingin dia menganggap aku adalah kekasih yang posesif. Tapi ternyata dia benar-benar sangat tidak peka akan perasaanku dan aku sangat membenci hal itu.
Aku yang sudah terlalu jengkel dengan segala sikapnya, sengaja mendekati Daehyun-teman sekelas yang katanya menyukaiku untuk membuatnya cemburu. Terdengar jahat memang, tapi aku ingin Chanyeol bisa mengerti apa yang sudah aku rasakan ketika melihat dia berdekatan kepada gadis lain-yang menyukainya.
Semenjak saat itu, aku sering membatalkan janji-janji untuk keluar bersama dan makan siang kita dikantin dengan berbagai alasan yang selalu memakai nama Daehyun didalamnya.
Saat dia sms atau menelepon pun, aku sengaja bersikap cuek kepadanya. Aku juga sudah jarang berangkat atau pulang bersama dengannya dan lebih memilih Daehyun untuk menjemput dan mengantarku pulang.
Tapi, tiga minggu lebih berlalu seperti itu, tidak ada satupun tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia cemburu akan kedekatanku bersama dengan Daehyun. Bertanya kenapa sikapku jadi berubah saja pun tidak pernah. Dia bersikap biasa-biasa saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang aneh denganku. Apa Chanyeol sama sekali tidak terganggu atau cemburu dengan perubahan sikap dan kedekatanku dengan Daehyun?!
Hal itu membuatku jadi memikirkan kembali akan perasaannya padaku. Apa dia benar-benar menyukaiku atau saat itu dia hanya kasihan padaku?! Bukankah dia selalu saja baik kepada siapa saja? Jadi, tidak menutup kemungkinan kan kalau dia hanya tidak ingin menyakitiku, apalagi dia tahu kalau dia adalah orang pertama untukku?!
Menginjak bulan ketiga hubungan kami. Aku pun mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku akan sangat menderita jika seperti ini terus. Walaupun dulu aku sempat menanyakan kembali perasaannya kepadaku dan dijawab dengan kata 'iya'. Namun aku tidak bisa puas begitu saja.
Pikiran negatif sudah menjalar kemana-mana. Sikapnya yang selalu baik kepada siapa saja membuatku terus berpikir kalau dia menjawab seperti itu hanya karena tidak ingin aku terluka mendengar perasaan sebenarnya padaku. Dan ternyata, pertanyaanku selama ini terjawab sudah.
Akhirnya aku mengerti bagaimana perasaannya yang sebenarnya padaku. Semua telihat dari tanggapannya yang santai saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya.
Menyedihkan memang. Selama ini aku terlalu percaya diri kalau dia memang menyukaiku dan menganggap aku lebih spesial dari gadis-gadis yang lain. Inilah akibat dari kesombongan yang ku punya. Ternyata untuknya aku tidak jauh berbeda dengan mereka.
Hanya berjarak satu hari, kabar putusnya hubunganku dengan Chanyeol sudah langsung menyebar diseluruh penjuru sekolah. Kata-kata yang tidak mengenakkan pun mulai bermunculan dari mulut siswi-siswi yang senang akan putusnya hubunganku dengan Chanyeol.
Bukan hanya itu saja, hampir setiap pagi aku harus menyediakan waktu untuk membersihkan loker dan mejaku yang penuh dengan segala coretan-coretan berisi hinaan dan sindiran dari mereka.
Awalnya aku masih bisa bertahan untuk terlihat baik-baik saja dengan semua perlakuan itu. Suatu saat mereka juga akan bosan sendiri dan semua perlakuan ini akan berhenti, pikirku saat itu. Tapi, sudah seminggu berlalu dan mereka justru semakin gencar melakukan pembullyan padaku.
Tentu saja lama kelamaan hal itu membuatku semakin down, terlebih lagi sekarang mereka tidak tanggung-tanggung menyerangku secara langsung. Seperti mengunciku di dalam salah satu bilik kamar mandi ruang ganti olahraga saat aku sedang mengganti seragamku.
Untung saja Zitao yang waktu itu sadar dengan tidak munculnya aku didalam kelas setelah pelajaran olahraga langsung mencariku kedalam ruang ganti dan menyelamatkanku. Kalau tidak, sudah pasti aku akan bermalam dikamar mandi itu dan menunggu diselamatkan kelas lain yang akan memakai ruang ganti ini-itu pun kalau mereka mau menyelamatkanku.
Semenjak kejadian ditoilet saat itu, Zitao menjadi lebih protektif padaku. Selama di sekolah dia tidak pernah mengijikanku untuk pergi sendirian lagi. Dia selalu saja mengikuti kemanapun aku pergi, entah itu ke ruang guru atau ke kamar mandi sekalipun. Benar-benar seperti memiliki seorang bodyguard.
Dia juga rela berangkat lebih awal kesekolah untuk membantu membersihkan loker dan mejaku. Padahal dia orang yang paling susah untuk bangun pagi.
Aku benar-benar bersyukur memiliki sahabat seperti Zitao. Walaupun sifatnya terkadang menjengkelkan karena suka semaunya sendiri, tapi dibalik itu semua dia benar-benar sahabat yang perfect bagi seorang Byun Baekhyun.
Apalagi saat aku dikagetkan dengan kejadian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya...
.
.
"Kyyaaaa..."
Terdengar teriakan para gadis saat aku baru saja memasuki gedung sekolah. Dengan heran aku menatap ke arah loker yang sedang ramai.
'Apa yang terjadi?!'
"BRENGSEK!" umpat seorang gadis dengan sangat keras. "JADI KAU... OTAK DARI SEMUA INI?!"
'Suara ini...'
Dengan cepat aku melangkah ke arah loker dimana sudah banyak siswa-siswi berkumpul disana.
Tidak dapat melihat siapa yang sedang menjadi objek tontonan walaupun sudah mencoba untuk berjinjit(?) ataupun melompat, dengan susah payah aku berusaha untuk menyusup kedepan melewati desakkan siswa-siswi yang rata-rata tubuhnya lebih besar dariku.
Setelah aku berhasil berada didepan, aku hanya bisa terdiam kaku melihat siapa yang sudah mengumpat dengan suara keras tadi, sekaligus objek tontonan para siswa-siswi pagi ini. Dua orang gadis yang saling berhadapan, dan salah satu dari orang itu adalah...
"Z-zitao.." gumamku.
'Apa yang dia lakukan?!'
-Brak-
Zitao menumpukan tangannya pada salah satu loker dibelakang gadis itu dengan kasar. Hal ini tentu saja membuat kami semua kaget mendengar suara gebrakan itu.
'Sejak kapan Zitao bisa menjadi gadis yang mengerikan seperti ini?'
"Dengarkan ucapanku baik-baik, jalang!" Ucap Zitao sinis dan penuh penekanan menatap gadis yang sudah terkurung oleh tangan kanannya. "Berhenti mengganggu sahabatku Baekhyun."
'Aku? Apa maksudnya?' aku mengernyit menatap mereka.
"Memangnya kau siapa, hah?! Aku tidak akan takut dengan ancaman murahanmu itu, sialan!" tantang gadis itu dan mendorong kedua bahu Zitao sehingga terdorong kebelakang.
"Tsk, kau tak mengenalku?!" tanya Zitao dan membuat gadis itu mengerutkan alisnya menatap Zitao. "Apa kau tidak bisa membaca?" tanya Zitao lagi membuat gadis itu semakin mengerutkan alisnya.
Tapi tidak lama kemudian, seketika raut wajah gadis itu berubah menjadi sangat terkejut saat matanya terarah pada nametag diseragam Zitao. Gadis itu bergumam entah apa, namun membuat Zitao mengeluarkan smriknya.
"Kalau kau ingin terus bertahan disekolah ini, maka jangan pernah mengabaikan ucapanku."
"Sialan. Jadi kau mengancamku dengan mengandalkan nama orangtuamu yang menjadi donatur terbesar disekolah ini?!" geram gadis itu dengan tatapan tajamnya pada Zitao.
Aku dan seluruh siswa-siswi yang sedang berkumpul disini kaget saat mendengarkan ucapan gadis itu. Tidak, aku tidak kaget karena mengetahui fakta itu. Aku tentu saja sudah tahu tentang hal ini. Aku hanya tidak percaya anak itu membongkar rahasianya sendiri didepan umum seperti ini.
Sejak masih berada di JHS Zitao memang sudah menutupi nama marganya sendiri, terlebih lagi saat sudah di SHS ini dia sangat tidak ingin teman-teman disekolah mengetahui marganya.
Dia hanya tidak ingin jika orang-orang menjadi segan kepadanya dan ingin berteman kerena mengetahui dia anak dari seorang Huang Hangeng, salah satu pengusaha tersukses di Korea maupun di China dan donatur terbesar SHS ini, yang otomatis menjadikannya sebagai orang nomor dua yang berpengaruh selain pemilik sekolah.
Awalnya Hae-appa-begitu aku memanggilnya, marah besar ketika tahu Zitao menutupi nama marganya selama disekolah. Dia mengira Zitao tidak menyukai dengan marganya sendiri yang artinya membenci keluarganya. Tetapi setelah Zitao menjelaskan alasannya, Hae-appa sangat setuju dan sampai meminta bantuan kepada kepala sekolah dan guru-guru untuk ikut menutupi marga Zitao sampai sekarang.
Lalu sekarang, hanya karena ingin melindungiku dia sampai membuat hampir seluruh siswa-siswi sudah mengetahui marganya? Apa dia sudah gila? Apa dia tidak merasa rugi dengan usahanya selama ini?
"Kau... jangan pernah berpikir aku akan takut denganmu. Kau hanya anak manja yang tidak akan ada gunanya tanpa nama orangtuamu yang sialan itu!"
-Plak-
Zitao menampar pipi gadis itu dengan sangat keras.
"Jaga ucapanmu! Kau bisa menghinaku, tapi tidak untuk orangtuaku."
"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan?" interupsi seseorang yang baru saja datang dan membuat seluruh orang disini menatap kearahnya.
-Deg-
'C-chanyeol'
Tatapan kami bertemu. Raut wajahnya seketika berubah menjadi terkejut. Apa maksud ekspresi itu? Dia terkejut akan kehadiranku disini atau dia terkejut karena bertemu denganku?
"Oh, ternyata sang pangeran sudah datang." Ucap Zitao sinis, membuat tatapan kami terputus.
"O-oppa," gumam seseorang yang membuat pandanganku beralih pada gadis yang sedang mengeratkan pegangannya pada lengan kiri Chanyeol dengan takut-takut memandang Zitao.
'Cih, menyebalkan sekali.'
"Oh, jadi kau datang kesini untuk menyelamatkan gadis jalang ini?" ucap Zitao membuatku kembali menatap gadis panda itu. Sedangkan Chanyeol, hanya terdiam menatap Zitao.
"Tsk! Benar-benar menyebalkan. Aku tidak heran jika Baekhyun sampai memutuskanmu, tuan Park." Ucap Zitao sambil berjalan kearah Chanyeol.
"Aku yakin kau pasti sudah tahu apa yang telah terjadi. Jadi, kalau kau ingin aku berhenti suruh gadis-gadis bodohmu itu untuk berhenti menganggu sahabatku Baekhyun. Ingatkan dia untuk tidak mengabaikan ucapanku kalau dia dan teman-temannya itu masih ingin sekolah disini. Termasuk kau..." Zitao menatap gadis disamping Chanyeol dengan poker facenya yang mebuat gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Chanyeol.
"Tsk! Pengecut.." decih Zitao dan pergi meninggalkan area loker yang masih saja ramai dengan kerumunan siswa-siswi.
Melihat itu aku langsung mengejar Zitao.
-Tap..tap..tap..tap..-
"Zi... Tunggu!"
"Zitao.. Tunggu!"
"YA! HUANG ZITAO, BERHENTI!" Teriakku kesal karena Zitao sama sekali tidak mendengar panggilanku
Zitao pun berhenti dan menatapku dengan wajah terkejutnya.
"B-baekhyun." Ucapnya tergagap.
"Sial, kenapa jalanmu cepat sekali, hah? Aku capek harus mengejarmu." Gerutuku sambil mengatur nafas yang sudah tidak beraturan.
"S-sejak kapan kau datang? Bukankah ini masih terlalu pagi?"
"Lalu apa sekarang juga bukan masih terlalu pagi untukmu, nyonya pemalas?" tatapku sinis namun dengan nada bercanda. "Bukankah sudah biasa aku datang pagi untuk membersihkan loker dahulu?!"
"E-eh?! I-iya ya." Cengirnya. "Hm, apa kau melihat yang terjadi diloker tadi?" tanyanya ragu-ragu.
"Hm," aku menganggukan kepalaku.
"A-ak-"
"Terimakasih." Potongku sambil tersenyum.
"Kau tidak marah?!" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Tidak." Gelengku. "Terimakasih." Aku pun memeluknya dengan sangat erat. "Aku senang bisa memiliki sahabat seperti mu, panda bodoh."
"Ya... ya.. kenapa kata-kata terakhirmu sangat tidak mengenakkan?!" Gerutunya sambil membalas pelukkanku.
"Bukankah kau memang bodoh?" cengirku setelah melepas pelukanku. "Padahal sudah bertahun-tahun kau menutupi margamu, tapi hanya karena emosi kau membongkarnya hampir pada seluruh siswa-siswi disekolah. Dasar!"
"Yak, apa ini tanda terimakasihmu padaku"
"Tadikan aku sudah mengucapkan terimakasih."
"Tsk! Terserah kau saja." Zitao memutar matanya dengan malas. "Sudahlah, Setidaknya dengan begitu dia akan berhenti membully mu, nona Byun yang pendek. Ayo kekelas. Tadi aku sudah membersihkan lokermu, jadi kau bersihkan sendiri mejamu."
"Iya, iya, cerewet. Oh iya, aku tak menyangka kau bisa seperti Hee-eomma jika sedang marah."
"Yak.. Tak perlu dibahas lagi. Bagaimanapun masih mengerikan mama dari pada aku, jadi jangan samakan aku dengannya." gerutu Zitao dan aku hanya terkekeh mendengarnya.
.
.
Semenjak kejadian saat itu, tidak ada lagi loker dan meja yang kotor, omongan-omongan yang tidak mengenakkan tentangku juga sudah tidak terdengar. Keadaan sekolah mulai berjalan seperti semula seolah tidak ada persoalan sebelumnya, kecuali fakta mengenai marga yang dimiliki Zitao dan keseganan beberapa siswa-siswi kepadanya.
Zitao juga beruntung karena insiden yang sudah dia lakukan ternyata tidak sampai terdengar ke telinga guru-guru. Entah mereka memang tidak mendengar berita itu atau mereka saja yang takut bertindak sebab Zitao adalah anak Huang Hangeng. Entahlah. Lagi pula menurutku ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Zitao, jadi tidak semestinya jika dia dihukum.
Sunny-nama gadis yang sudah menjadi korban Zitao dan dalang dari semua pembulianku juga tidak menunjukkan tanda-tanda melawan seperti akan membawa kasus itu kepada guru atau kepala sekolah. Sepertinya dia benar-benar takut dengan ancaman Zitao kemarin.
Lalu dengan Chanyeol. Sudahlah, Aku tidak ingin membahasnya atau berurusan lagi dengannya. Sudah cukup dengan pelakuan yang dia dan gadis-gadis pengagumnya itu lakukan padaku. Walaupun sampai sekarang aku masih menyukainya tapi aku sudah bertekad ingin menata kembali perasaan dan kehidupanku seperti semula.
.
.
Tanpa terasa dua tahun berlalu. Saat ini aku sudah berada ditingkat akhir SHS. Dimana tidak lama lagi statusku sebagai seorang siswi akan berakhir. Tapi ternyata semua tidaklah berjalan seperti yang ku harapkan. Disaat aku sudah bisa bangkit dari semua hal yang berhubungan dengan seseorang yang sangat ingin dilupakan dan mengharapkan tahun terakhir yang menyenangkan. Kenapa takdir harus mempertemukanku lagi dengannya?
Satu tahun berada dikelas yang sama dan hanya berjarak beberapa bangku saja, tentu bukan hal yang menyenangkan. Apalagi saat hari pertama dikelas dia menyapaku dan Zitao dengan santai dan sok akrabnya.
Apa dia tidak mengingat insiden yang sudah terjadi antara dia dan Zitao dulu? Tsk, lalu apa katanya, 'Berjodoh'? apa dia sudah gila berkata seperti itu? Setelah membuangku begitu saja, dia ingin berjodoh denganku? Tentu saja aku akan menolaknya.
Parahnya lagi, setiap hari selama disekolah dia selalu saja mengajakku untuk berbicara. Entah itu menyapaku setiap pagi, menanyakan tugas ataupun pertanyaan yang tidak penting menurutku. Padahal aku sudah menunjukkan ketidak nyamananku kalau sedang berbicara dengannya, tapi kenapa dia selalu saja menggangguku?
Apa dia sama sekali tidak merasa sedikit canggung padaku? Atau dia sudah lupa dengan kejadian beberapa tahun yang lalu sehingga dia bisa sesantai ini kalau sedang berbicara denganku?! Dasar Park Chanyeol Bodoh! Selalu saja tidak peka! Arrgghh... aku semakin membencimu!
.
.
Baekhyun POV end
.
.
T.T.F
(Today, Tomorrow, Forever)
.
.
.
Siang ini, Baekhyun sedang berada di kantin bersama Zitao. Setelah beberapa jam harus berkutat dengan pelajaran fisika yang memusingkan dan sangat menguras tenaga, ditambah perasaan yang kacau karena ulah seseorang yang sangat tidak diharapkan selalu saja mengganggunya, membuat Baekhyun memakan makanannya dengan sangat lahap tanpa memperhatikan sekitarnya.
Berbeda dengan Baekhyun, Zitao justru asik berkutat dengan ponsel yang dipegangnya tanpa terlihat sedikitpun niatan untuk menyentuh makanan miliknya. Bukannya tidak lapar, hanya saja saat dia dan Baekhyun sedang menunggu pesanan mereka datang, tiba-tiba sang mama tersayang-siapa lagi kalau bukan Huang Heechul seketika berhasil merusak mood laparnya dari pesan masuk miliknya.
"Hey panda, bukannya tadi kau bilang sangat lapar?" tanya Baekhyun saat tersadar Zitao belum menyentuh makanannya sedikit pun.
"Hm," jawab Zitao singkat dengan mata dan jari yang terus terfokus pada layar ponselnya.
Baekhyun melihat raut wajah ditekuk Zitao dengan penasaran. Dari getaran ponsel milik panda itu, Baekhyun menebak kalau panda itu pasti sedang bertukar pesan dengan seseorang. Tapi siapa? Apa yang sedang mereka bicarakan sampai wajahnya ditekuk jelek seperti itu?
Baekhyun terus saja bertanya-tanya dalam pikirannya. Sampai akhirnya dia dikagetkan dengan suara debuman yang keras karena tingkah Zitao yang tanpa aba-aba membanting ponselnya diatas meja.
"Yak! Kau mengagetkanku panda bodoh!" pekik Baekhyun memegang dadanya.
Tidak ada respon sama sekali dari Zitao yang sedang menyandarkan kepalanya diatas meja dengan ditopang kedua lengannya.
Melihat tingkah Zitao, rasa penasaran Baekhyun sudah tidak bisa dibendung lagi. Tanpa ijin si pemilik ponsel, dia langsung mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya dan membaca isi pesannya.
~From: Mama
Jangan lupa janjimu.~
~To: Mama
Aku sedang ada tugas sekolah yang harus diselesaikan malam ini juga. Aku tidak janji kalau akan datang.~
~From: Mama
Terlambat! Mama sudah menyuruh paman Shim untuk menjemputmu. Mungkin saat ini dia sudah berada di parkiran sekolah menunggumu.~
~To: Mama
Kalau aku pulang bersama paman Shim, lalu bagaimana dengan mobilku?! Aku tidak akan meninggalkannya di parkiran sekolah!~
~From: Mama
Mama sudah menyuruh beberapa pengawal untuk ikut bersama dengan paman Shim. Mereka bisa membawa mobilmu juga kesini. Ingat! Jangan coba-coba untuk lari lagi atau mobil kesayanganmu itu akan terancam! Mama tidak main-main kali ini, Huang Zitao.~
~To: Mama
YA, AKU AKAN DA-TA-NG! Aku sedang sibuk sekarang, jadi jangan menghubungi lagi.~
~From: Mama
Benarkah?! Mama tunggu kedatanganmu. Baiklah, belajar yang baik ya baby. Mama menyayangimu.~
Baekhyun meletakkan kembali ponsel itu ketempat semula-tapi tidak dengan melemparnya seperti Zitao. Dia tersenyum lemah menatap sahabatnya. Terikat pada perjanjian keluarga yang mengharuskannya menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak pernah ditemuinya tentu saja akan membuat siapa saja frustasi. Apalagi pernikahan bukanlah hal yang main-main seperti membeli ponsel yang jika merasa sudah bosan atau tidak cocok bisa diganti dengan yang baru.
Baekhyun mengelus pundak Zitao bermaksud untuk menenangkan gadis itu dan usaha Baekhyun ternyata tidak sia-sia. Tubuh Zitao yang sebelumnya terasa tegang sekarang menjadi lebih rileks dari sebelumnya.
Zitao mengangkat kepalanya menatap Baekhyun dengan wajah bingung bercampur marah dan frustasi. Mengerti maksud Zitao, Baekhyun tersenyum dan mencoba memberikan pengertian pada sahabat tersayangnya ini.
"Aku tahu, kau pasti merasa frustasi. Tapi, kali ini coba kau ikuti keinginan Han-appa dan Hee-eomma untuk datang keacara pertemuan itu. Mungkin saja setelah itu Hee-eomma tidak akan menuntutmu lagi seperti ini."
"Tidak mungkin. Aku tahu bagaimana tabiat mama. Sekali aku terperangkap, maka aku akan terus terperangkap."
"Tapi, apa kau tak penasaran dengan tampang tunanganmu? Mungkin saja dia lebih tampan dari si albino itu."
"Yak! Kenapa kau harus membandingkannya dengan dia?" protes Zitao tidak suka.
"Ah~ maaf aku lupa kalau kau masih sangat sensitif jika berhubungan dengan orang itu." Cengir Baekhyun tanpa merasa bersalah dan mendapat decakan sebal dari Zitao.
"Ya, maafkan aku Zi.. aku benar-benar lupa." Rengek Baekhyun sambil menggerak-gerakkan tangan Zitao.
"Iya, iya.. dan hentikan. Kau membuat tanganku sakit Byun." Gerutu Zitao dan membuat Baekhyun melepaskan genggamannya sambil menyengir. "Asal kau tahu, aku tidak penasaran sedikitpun dengan tampangnya." ucap Zitao malas.
"Kenapa? Bagaimana kalau ternyata 'lucky'?"
"Tidak mungkin. Pasti 'zonk'."
"Jangan berpikiran negatif dulu, nona Huang." Cibir Baekhyun melihat keras kepala yang dimiliki Zitao.
"Bagaimana tidak berpikiran negatif, Baek. Kau ingat foto anak lelaki culun dan sangat gemuk yang sempat kau tanyakan dulu saat kita sedang membereskan kamarku?"
"Hm? yang mana?"
"Itu.. foto yang akhirnya kita simpan di loteng rumahmu untuk penangkal tikus."
"Ukhuk... ukhuk.. ukhuk.. ukhuk..."
Mendengar itu Zitao, Baekhyun dan seluruh siswa-siswi yang berada dikantin sontak memandang kearah salah satu meja yang sedang ditempati oleh dua orang guru yang salah satuya sedang terbatuk-batuk.
"Kevin, are you okay?" tanya Changmin-guru biologi menatap seorang guru didepannya yang sedang meminum minumannya dengan tergesa-gesa.
"Hm," angguknya masih meminum minumannya.
"Aneh-aneh saja." Gumam Baekhyun sambil menggeleng.
"Yang bersama dengan Changmin seongsanim(?) itu siapa? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya."
"Hm?" Baekhyun menatap Zitao. "Entahlah." dia mengangkat kedua bahunya dan mulai sibuk dengan minumannya. "Mungkin pengganti Sandara seongsanim untuk sementara. Ku dengar Sandara saem sedang cuti untuk persiapan pernikahannya."
"Oh.." Zitao mengangguk dan berhenti memandang guru baru itu.
"Lanjutkan. Ada apa dengan foto itu?" tanya Baekhyun penasaran.
"Kau masih mengingatnya?"
"Hm, tentu saja. Aku bahkan masih sangat mengingatnya dengan jelas. Bagaimanapun foto itu sudah sangat berjasa untuk keluargaku." Ucap Baekhyun riang tanpa menyadari ada sepasang mata menatap mereka dengan tatapan jengkel. "Memangnya kenapa tiba-tiba menanyakan foto itu?"
"Dia orang yang akan dijodohkan denganku."
"Mwo! Serius?!" pekik Baekhyun dan mendapat anggukan memelas dari Zitao.
"Aku tahu Hee-eomma itu orang yang sangat jahil. Tapi, tidak mungkin dia akan setega itu padamu, Zi." Baekhyun masih menunjukkan wajah terkejutnya. "Kau yakin kalau Hee-eomma tidak salah memberikanmu foto? Mungkin saja itu tertukar dengan milik orang lain." masih dengan wajah memelas Zitao mengangguk sebagai jawaban.
Baekhyun menepuk-nepuk pundak Zitao. "Walaupun kemungkinannya sangat kecil. Tapi cobalah positive thinking. Ini sudah lima tahun berlalu, mungkin saja dia yang dulu dan sekarang sudah berbeda."
Tidak ada tanggapan dari Zitao.
"Ah, aku jadi merasa bersalah sudah memakai foto tunganmu sebagai penangkal tikus di rumah." gumam Baekhyun kemudian.
"Ah~ Sudahlah. Bagaimana pun rupanya aku juga tidak akan menyukainya. Kau tahu kan aku sangat membenci hal kolot seperti ini?! Seperti aku tidak laku saja sampai dijodoh-jodohkan." Ucap Zitao kesal mengingat kelakuan keluarganya. "Apa kau sudah selesai? Aku ingin kembali ke kelas."
"Hm," Baekhyun mengangguk dan menggandeng Zitao menuju kekelas. "Yang kuat ya kawan." ucap Baekhyun menepuk pundak Zitao.
.
.
'Sialan, tampangku disamakan dengan penangkal tikus?! Huang Zitao! Lihat saja, akan ku buat kau menyukaiku dan menyesali ucapanmu barusan.' Gerutu seseorang di dalam hati yang diam-diam memperhatikan kepergian Zitao dan Baekhyun dari area kantin.
.
.
.
TBC
Makasih udah baca FF ini.
Gimana, feelnya dapet nggak? Garing nggak? Mengecewakan ya?
Maaf ya kalau mengecewakan..
Kalau ingin review untuk kasih saran silahkan, kritik juga silahkan. Mau curhat juga saya tampung. Saya menerima semua keluh kesah kalian. Tapi, mohon pakai tata bahasa yang sopan ya ^^.
Saya sih mengharapkan kalian mau memberikan saran atau kritik atau kasih tanda kehadiran saja juga nggak apa-apa. Biar saya juga bisa lebih baik lagi dalam menulis dan tahu kalau masih ada yang mau baca FF ini...hehehe... tapi nggak maksa juga kok.. biar nggak melanggar HAM..
Untuk yang sudah Review kemarin, balasannya ada di PM masing-masing ya ^^
