CHAPTER 4
"Why?"
.
.
.
Dengan langkah gontai, gadis cantik bermarga Byun ini melangkahkan kakinya menuju sofa putih yang terletak diruang tengah apartemen itu. Tanpa mempedulikan kerapian yang selalu dijunjung tinggi olehnya, dia melempar tasnya begitu saja dilantai dan langsung merebahkan diri diatas sofa.
"Haah~ lelahnya~" desahnya memejamkan mata.
Ia akui berada ditingkat akhir SHS jauh lebih berat dari pada berada di tingkat akhir JHS dulu atau pada saat dia masih aktif di klub. Selain karena jadwal mereka lebih padat dengan jam pulang yang lebih lambat dan adanya les-les tambahan yang membuat mereka seolah tidak diberikan waktu untuk bernafas, dia juga harus meladeni makhluk yang paling menjengkelkan di muka bumi ini, Park Chanyeol, seseorang yang membuatnya semakin sulit lagi untuk bernafas dan berpikir.
Baekhyun mengerutkan alisnya dan mendesah keras saat teringat sikap Chanyeol semenjak mereka sekelas. Sebenarnya apa tujuan pemuda itu? Kenapa setelah setahun lebih Chanyeol mulai mendekatinya lagi?! Walaupun hanya menyapa atau mengajaknya mengobrol sebentar, itu sudah menjadi sesuatu yang sangat menganggu menurutnya.
Bukannya dia ingin menjadi gadis jahat, hanya saja jika itu Chanyeol, pemuda pertama yang mengisi hatinya sekaligus pemuda pertama yang memberikan luka mendalam, dia tidak akan bisa menerima perlakuan itu secara biasa-biasa aja. Apalagi tidak dapat dipungkiri hatinya mulai berkhianat dengan adanya desriran aneh setiap kali pemuda itu mendekatinya.
Tidak bisa... Tidak bisa... Dia tidak boleh menjadi gadis bodoh yang harus terjerumus dalam lubang yang sama, lubang yang hanya akan memberikannya penyesalan untuk kedua kalinya. Dia harus menjauhkan Chanyeol dari hidupnya.
Tapi, dengan cara apa?!
Dia sudah menunjukkan secara jelas ketidak sukaannya pada Chanyeol, tapi pemuda itu masih saja terus mendekatinya. Cara apa lagi yang harus dia lakukan? Apa dia harus membentak Chanyeol agar tidak mendekatinya lagi? haruskah sekasar itu untuk membuatnya sadar?!
Baekhyun bangkit dari tidurannya dan mengacak rambutnya kesal. Pikirannya yang terlalu runyam membuatnya melangkah menuju beranda, tempat favorit untuk merilekskan pikirannya.
Bersandar pada tiang pembatas membuat tubuhnya sedikit membungkuk. Menutup matanya, dia merasakan semilir angin malam menerpa seluruh tubuhnya yang masih memakai seragam sekolah sebelum menatap banyaknya lampu yang menerangi kota Seoul pada malam hari.
Entah kenapa setiap melihat lampu-lampu kota Seoul-hanya bisa dilihat pada malam hari- yang terlihat seperti bintang-bintang dan merasakan terpaan angin pada malam hari disana dapat membuatnya menjadi tenang dari segala macam tekanan yang dirasakannya. Itulah alasan mengapa dia sangat menyukai beranda ini dan menjadikannya tempat favorit selain tempat tidurnya.
Lama Baekhyun terdiam dengan posisi seperti itu. tenggelam dengan dunia yang diciptakannya sendiri membuat gadis itu tidak menyadari tubuhnya sudah mengigil mengingat tipis dan minimnya seragam sekolah yang masih dipakainya.
Suara teriakan seorang wanita dari arah samping apartemennya-walaupun terdengar samar-samar, cukup membuat Baekhyun kembali pada dunia nyata dan tersadar tubuhnya sudah sedingin es batu.
Sambil menggosok-gosok pergelangan tangannya, Baekhyun menoleh pada beranda apartemen yang berada beberapa meter dari tempatnya tepat saat seseorang baru saja masuk kedalam apartemennya dan sedang menutup pintu kaca yang menjadi batas antara beranda dan dalam apartemen.
"Oh, ada tetangga baru?!" Bekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya menatap beranda sepi itu. "Astagaaa..." pekiknya tiba-tiba menegakkan tubuhnya. "Semoga saja tadi dalamanku tidak terlihat olehnya. Aish, dasar bodoh! Kenapa tidak menyadari kalau ada orang disebelah sana sih?!" Rutuknya menahan rok bagian belakangnya yang berkibar akibat terpaan angin.
.
.
.
T.T.F
(Today, Tomorrow, Forever)
.
.
.
Selama di mobil, Heechul tidak pernah berhenti mendesah dan sesekali mengomel saat melihat wajah cemberut putri kesayangannya. Walaupun dengan wajah cemberut seperti itu putrinya masih saja terlihat sangat cantik, tapi tetap saja ekspresi itu tidak pantas untuk ditunjukkan pada calon besan atau sahabatnya nanti.
Mobil mereka sudah terparkir rapi di parkiran restaurant yang menjadi tempat pertemuan terkutuk-begitu kata Zitao- akan dilakukan. Seorang pria separuhbaya namun masih terlihat begitu bugar dan tampan menjadi orang pertama yang keluar dari mobil, tidak lama seorang wanita separuhbaya namun masih sangat cantik keluar dari dalam mobil sambil mengomel pada seorang gadis yang masih terlihat enggan untuk keluar dari dalam mobil.
"Zi.. please.. sekali ini saja jangan membuat mama kesal dan menurut kata mama." Ucap Heechul dengan wajah memelasnya menatap Zitao yang masih duduk dengan cantik di dalam mobil.
"Kalau aku harus menurut untuk mau mengikuti perjanjian konyol ini, aku tidak akan pernah menurut." Zitao melipat kedua tangannya didepan dada menatap mamanya kesal.
"Mama akan memberikan apapun yang kau mau asal kau turun dan bertemu dengan keluarga-"
"Aku bukan anak kecil lagi, ma!" bentaknya. "Sekali tidak, tetap tidak!"
"Kau ingin mobilmu mama sita?"
"Lakukan saja. Aku juga sudah lelah selalu diancam seperti ini. Lagi pula aku sudah bosan dengan mobil itu." Bohong Zitao dengan gaya sok acuhnya. Mana mungkin dia akan bosan dengan mobil merah kesayangannya itu. Mengingat mobil itu hanya ada tiga di dunia.
Heechul mendesah pasrah dan sudah tidak tahu harus memakai cara apa lagi agar anak gadisnya mau menurut padanya. Zitao bukan lagi anak kecil yang harus diseret secara paksa, terlebih lagi Zitao sangat ahli disalah satu bidang bela diri yang otomatis akan membuatnya kalah jika beradu kekuatan dengan anak gadisnya itu.
Melihat hal itu Hangeng yang sedari tadi hanya berdiam diri sebab masih mengurus beberapa urusan perusahaan di tabletnya, akhirnya turun tangan dan berjalan kearah dua wanita yang sangat berarti bagi hidupnya.
"Biar aku yang membujuknya." Bisiknya dan mencium pipi Heechul sekilas.
Heechul hanya diam dan memperhatikan sang suami masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Zitao. Dia yakin suaminya pasti bisa membujuk Zitao. Bagaimanapun kemampuan Hangeng untuk bernegosiasi sudah tidak perlu diragukan lagi, jadi pasti dia bisa mengatasi anak gadis keras kepalanya itu.
"Baby, jangan cemberut seperti itu."
"Baba, kenapa harus aku yang harus melakukan perjanjian konyol itu? ini tidak adil! Baba bisa menikah dengan orang yang baba cintai, sedangkan aku harus menikah dengan orang yang bahkan tidak pernah aku kenal sama sekali. Hanya dengan selembar foto lusuh dan jelek. Astaga!" Keluh Zitao menatap Hangeng dengan wajah kesal.
Dengan senyum hangat yang sangat jarang sekali ditunjukkannya selama di kantor atau pada orang-orang yang tidak terlalu dikenalnya, Hangeng mengelus surai hitam Zitao yang sengaja dibentuk sedikit bergelombang malam ini.
"Maafkan baba dan mama. Sebenarnya kami tidak ingin mengatur-ngatur siapa yang akan menjadi calon suamimu. Tapi kau tahu kan bagaimana sikap kakek dan nenekmu? Terlebih lagi baru kali ini ada keturunan dari kedua belah pihak keluarga yang lahir dengan jenis yang berbeda dan memiliki jarak umur yang sangat pas. Bagaimana kalau kau lihat dulu calonmu i-"
"Untuk apa?! Sudah cukup dengan foto anak gemuk dan jelek itu." potong Zitao.
Hangeng tersenyum mendengar ucapan Zitao. "Di dalam foto kan? Dan itu sudah lima tahun yang lalu, baby. Semua orang pasti akan berubah dengan jarak waktu seperti itu. Kau lihat saja dulu orangnya seperti apa dan lakukan pengenalan selama satu bulan. Kalau kau memang tidak menyukainya, kau bisa membatalkannya. Baba akan membantumu untuk berbicara pada nenek dan kakek. Bagaimana?"
"Benarkah? Tidak ada acara pertunangan malam ini?"
"Yes, baby. Sesuai keinginanmu." Hangeng mengangguk sebagai tanggapannya.
"Baiklah. Asal baba tidak berbohong padaku."
"Apa baba pernah berbohong? Tidak kan. Jadi, apa tuan putri ingin di bantu untuk keluar?"
"Baba! Aku bukan anak kecil lagi. Jangan panggil aku seperti itu." Hangeng tidak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah kekanakan anak gadisnya yang sedang merajuk.
"Satu lagi, jangan memasang tampang cemberut seperti itu. Kau tidak kasihan pada mama yang sudah bersusah-susah untuk mendandankanmu?"
"Baik baba... baik..."
"Good girl." Senyum Hangeng dengan memberikan wink pada anak gadisnya.
Hangeng dan Zitao kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah Heechul yang sudah berdiri dipintu masuk. Hangeng mengedipkan matanya sekilas saat melewati Heechul yang tersenyum cerah padanya.
"Kalau seperti ini kan terlihat cantik. Anak mama memang yang paling cantik." Puji Heechul menggandeng lengan Zitao berjalan masuk mengikuti Hangeng dan salah satu pelayan yang akan mengantarkan mereka menuju ke ruang yang sudah mereka pesan.
.
.
.
Ponsel putih berlayar lebar yang terletak diatas meja ruang tengah tiba-tiba berdering. Seorang gadis yang sedang asik membaca salah satu majalah fashion kesukaannya mengambil ponsel tersebut dan berjalan masuk ke salah satu ruangan.
-Cklek-
"Sayang" kepalanya mengembul secara perlahan melihat keadaan di dalam kamar. Saat tatapannya terhenti pada seorang pemuda yang baru saja selesai memakai bajunya, dia membuka pintu itu lebar-lebar. "Ponselmu berdering."
"Siapa?" tanya pemuda itu sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk menatap seorang gadis dengan rambut blonde bergelombang, kaos abu-abu yang kebesaran dan hotpants hitam yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kris Hyung." Jawab gadis itu membaca nama yang tertulis didalam layar.
Menghentikan kegiatannya, ia pun berjalan ke arah gadis itu dan mengambil ponselnya.
"Biarkan saja." Meletakkan ponselnya di atas nakas yang terdapat di dekat pintu masuk.
"Kenapa? Mungkin saja itu panggilan penting." tanya gadis itu menatap penasaran.
"Kau lapar?"
"Oh.. Sehun! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan." Ucapnya kesal, melipat kedua tangan didepan dada.
"Aku tidak sedang mengalihkan pembicaraan."
"Lalu ini apa? Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Itu bukan hal yang penting, jadi biarkan saja."
"Tidak biasanya kau mengabaikan panggilan hyungmu. Setahuku hyungmu hanya akan menghubungimu jika ada hal yang penting dan kau selalu menjawab panggilannya."
"Aku hanya sedang tidak ingin. Apa itu salah?"
"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu padaku kan?"
Sehun mengerutkan kedua alisnya menatap gadis keras kepala didepannya. "Apa kita harus memperdebatkan masalah yang tidak penting, Xi Luhan?! Aku sedang lapar dan tidak berselera untuk berdebat." Ucapnya datar.
Luhan gadis berambut blonde itu terdiam menatap pemuda dengan ekspresi datar didepannya. Mendengar namanya sudah sangat lengkap disebutkan dengan ekspresi seperti itu, Ia hanya bisa mendesah pasrah mencoba untuk tidak meneruskannya. Sehun sedang marah dan dia tidak ingin merusak rencana mereka hari ini.
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya. Kau ingin makan apa? Biar ku masakkan. Aku tadi sempat membeli ud-"
"Tidak perlu," potong Sehun membuat Luhan yang saat itu ingin membalikkan tubuhnya untuk berjalan kearah dapur membatalkan niatannya dan tersenyum padanya yang masih memasang ekspresi datar. "Kita makan diluar saja. Sekalian mengantarkanmu pulang.".
Senyum di wajah Luhan seketika luntur saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan kekasihnya. Bukankah hari ini mereka berencana akan menonton film sampai subuh? Lalu sekarang pemuda itu ingin mengantarnya pulang?! Apa ini karena perdebatan mereka tadi? Hanya karena hal sepele itu Sehun dengan gampangnya membatalkan rencana yang sudah mereka buat dari jauh-jauh hari?! Percuma saja kalau begitu tadi siang dia pergi ketempat penyewaan dvd selama berjam-jam hanya untuk memilih film apa yang bagus untuk mereka tonton malam ini.
Kekecewaannya semakin menjadi saat teringat keadaan rumahnya yang sepi karena seluruh keluarganya saat ini sedang berlibur ke Spanyol. Tentu saja baba dan mamanya sudah mengajaknya untuk ikut bahkan sampai memaksa, tapi sebagai kekasih yang baik Luhan menolak tawaran berliburan ke negara favoritnya untuk tidak merusak rencana yang sudah dia dan Sehun buat dari jauh-jauh hari. Dan sekarang dengan teganya Sehun membiarkannya pulang?! Benar-benar sangat menjengkelkan.
"Hmm" Jawabnya menahan emosi dan langsung pergi meninggalkan Sehun.
.
.
.
Slight Cast:
Oh Sehun
Xi Luhan (GS)
.
.
.
-Ting... Tong... Ting... Tong...Ting... Tong...-
"Iya, sabar!" teriak Chanyeol berjalan kearah pintu apartemennya.
-Trek- pintu terbuka.
"Bisa tidak untuk menekan bel satu atau dua kali saja? Tidak perlu berulang kali. Kau mengganggu belajarku." Omel Chanyeol pada seorang pemuda yang sudah berjalan menuju sofa crem yang terletak diruang tamu.
Melihat ekspresi sahabat albinonya itu, Chanyeol hanya bisa mendesah. Pemandangan itu sudah tidak asing lagi semenjak dia mengenal pemuda itu. Berjalan ke dalam dapur yang memang tidak jauh dari ruang tamu, Chanyeol mengambil dua cola dingin dan berjalan kembali ke ruang tamu, meletakkan cola itu diatas meja.
"Kalian bertengkar lagi?"
"Hm,"
"Kalau kau memang tidak bisa menyukainya seharusnya putus saja dengannya. Kau tak kasihan pada Luhan? Ku lihat dia sungguh-sungguh menyukaimu." Chanyeol mengambil salah satu cola dimeja dan meminumnya.
"Aku tidak bisa." Jawab Sehun datar menatap kosong langit-langit apartemen.
"Selalu saja bilang seperti itu. Sebenarnya apa alasanmu sampai memaksa untuk terus bertahan dengan Luhan?" tanya Chanyeol penasaran. Namun beberapa detik menunggu, Sehun hanya diam sambil terus menatap langit-langit apartemennya. Merasa kesal Chanyeol hanya bisa mendesah dan meminum colanya kembali.
"Terserah kau saja kalau memang tidak ingin memberitahukannya padaku. Aku ingin kembali belajar. Kalau kau ingin menginap, kau bisa tidur dikamar yang berada didepan kamar mandi pojok." Menunjuk tempat yang dimaksud. "Tapi aku tidak jamin apa kamar itu sudah rapi atau belum. Aku terlalu lelah untuk merapikan semuanya." Ucap Chanyeol sebelum meninggalkan Sehun yang masih saja berbaring disofa menatap langit-langit apartemennya.
"Seandainya bukan dia, semua pasti tidak akan seperti ini." Gumamnya entah pada siapa.
.
.
.
Bel tanda pelajaran hari ini akan dimulai berbunyi, seluruh murid-murid kelas XII-D bahkan sudah duduk di bangku mereka masing-masing dan mempersiapkan buku mata pelajaran hari ini. Baekhyun yang melihat teman-teman sekelasnya sudah mengeluarkan buku mereka juga mulai mengeluarkan buku matematikanya.
Seluruh buku matematika sudah dikeluarkannya kecuali buku cetak matematikanya. Sedikit panik Baekhyun mengeluarkan seluruh isi tasnya dan mencari lebih teliti, mungkin saja tadi dia kurang teliti melihatnya. Namun kepanikan semakin bertambah ketika tidak menemukan buku yang dicarinya dan guru matematika yang terkenal killer itu sudah memasuki kelas.
Mencoba untuk mengingat-ingat kembali dimana buku itu berada suara guru killer itu membuatnya kaget.
"Tolong tugas dikumpulkan didepan. Setelah itu buka halaman 107."
Dengan perasaan yang gelisah Baekhyun berjalan mengantri untuk mengumpulkan buku tugas ke depan. Saat gilirannya untuk mengumpulkan buku didepan.
"Maaf pak, apa saya bisa ijin ke kamar mandi sebentar? Perut saya mendadak tidak enak." Ijin Baekhyun dengan akting yang cukup menyakinkan.
"Baiklah, segeralah kembali."
"Baik pak." Sedikit tergesa-gesa Bekhyun keluar dari kelas tanpa menyadari sosok yang diam-diam sudah mengawasinya dari tadi.
.
.
.
"Sial! Kemana perginya buku itu?" gumam Baekhyun frustasi didepan lokernya. Seakan teringat sesuatu dengan cepat dia mengeluarkan ponsel yang berada disaku roknya.
-tiiit... tiiitt... tiiitt...-
"YA! Kau yang membawa buku cetak matematikanyakan?!"
"..."
"Bagaimana bisa aku sabar kalau kau akan membuatku mati ditangan dosen killer itu? Aahhh... kau ini benar-benar menyebalkan. Lihat saja setelah ini aku akan membuat perhitungan padamu panda jelek!" –PIP- mematikan sambungannya. Menutup pintu lokernya, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada pintu loker dengan sejuta alasan yang harus dikatakan pada gurunya nanti.
"Ah~ apa yang harus ku katakan." Gumamnya frustasik dan sesekali membentur-benturkan jidatnya pada pintu loker.
"Kau menyakiti dirimu sendiri."
Mendengar itu Baekhyun yang kaget seketika membalikkan badannya menatap seseorang yang tiba-tiba saja muncul. Dia hanya bisa melebarkan matanya melihat pemilik suara bass itu.
Melihat Baekhyun hanya terdiam menatapnya, Chanyeol hanya tersenyum. "Aku punya dua, kalau kau mau pakai ini saja dulu."
Mengedipkan matanya sekilas, Baekhyun menunduk melihat buku cetak matematika ditangan Chanyeol. Tubuhnya tersentak saat merasakan tangan Chanyeol tiba-tiba memegang sebelah tangannya untuk memegang buku cetak itu. Setelah kejadian itu ini pertama kalinya dia merasakan sentuhan Chanyeol kembali. Walaupun hanya sebatas menggenggam tangannya, tidak dapat dipungkiri jantungnya berdetak tidak karuan seakan ingin meledak saat itu juga.
Menyadari hal itu tidak terlalu baik untuknya dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman Chanyeol dan sedikit melangkah mundur untuk memberikan jarak yang lebih untuk kewarasannya.
"T-terimakasih." Ucap Baekhyun lirih tanpa menatap Chanyeol dan pergi dengan tergesa-gesa tanpa menyadari tatapan terluka dari pemuda itu.
.
.
.
Masih Adakah yang ingat dengan cerita yang sudah terlantar sangat lama ini?! (T.T)
Maafkan saya seandainya kemarin-kemarin ada yang menunggu, selain memiliki banyak kegiatan sejujurnya saya sedikit terguncang akan keluarnya Tao kemarin-kemarin. makanya mood buat ngelanjutin jadi hancur berkeping-keping seperti hati saya. (T.T)
Semoga saja CHAP ini tidak mengecewakan dan masih berasa fellnya.. semoga saja... dan semoga saja masih ada yang ingin membaca FF abal-abal ini.
Walaupun tidak ada yang membaca pun saya akan berusaha untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih... ^^
Maapkeun juga kalau ada TYPO dan ketidak jelasan dalam cerita.. karena buatnya tengah malam saat kesadaran menipis. hehe...
