Title : Beauty And The Wicked
Genre : Fantasy, Romance, Drama
Rating : T - semi M
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), Yoo Nami (OC), Yoo Seojin (OC), Kim Kibum, etc.
This is Gender Switch. Don't like, don't read, don't bash.
Summary: Kim Jongin CEO yang sempurna. Semua wanita menginginkannya, namun apa jadinya kalau salah satu wanita yang menginginkannya malah mengutuknya?!
Part 2
Setelah membuka pintu yang tadi seperti diketuk oleh pengantar barang, seorang gadis terlonjak kaget bukan main karena ternyata yang kini berada di depan pintu rumahnya adalah sebuah keranjang bambu berukuran cukup besar berisi seorang anak lelaki yang sedang tertidur lelap.
Gadis muda tersebut mengalihkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari jejak dan keberadaan orang yang sudah meletakkan keranjang bayi ini di depan rumahnya, namun hasilnya nihil.
Ia tidak bisa melihat siapapun disana. Terlebih daerah rumahnya yang bisa dibilang cukup kumuh dan gelap membuat ia tidak bisa menemukan apapun.
Dengan perasaan risau ia memperhatikan bocah kecil itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hari semakin dingin, tidak mungkin jika ia meninggalkan bayi ini begitu saja di depan rumah. Hell, ia masih punya hati.
Tidak mungkin juga ia segera pergi menuju kantor polisi. Ini hampir tengah malam, ia menebak polisi disana pasti akan menyuruhnya untuk mengurus bayi ini untuk sementara sampai keluarganya ditemukan. Dan skenario terburuk adalah, bisa-bisa malah ia yang jadi korban kejahatan di malam hari seperti ini.
Entahlah, dunia memang sudah gila. Buktinya saja ada orang tua yang tega membuang anaknya begitu saja di tengah malam seperti ini.
Akhirnya setelah berperang batin dengan dirinya sendiri, gadis cantik bertubuh mungil dan memiliki bibir berbentuk hati ini memutuskan untuk membawa bayi tersebut kedalam rumahnya untuk malam ini. Tubuhnya sudah sangat lelah, untuk rencana selanjutnya akan ia pikirkan esok hari.
Gadis mungil bermarga Do ini mengangkat tubuh bayi mungil tersebut, dan ia dapat melihat selembar kertas yang dilipat. Terdapat selembar uang puluhan ribu won didalamnya. Dan ia membaca kertas yang dilipat tersebut dengan seksama.
Namanya Kim Jongin. Tolong rawat dan sayangi dia. Terima kasih.
Gadis Do ini mengangkat sebelah alisnya, memandangi lamat-lamat bayi mungil yang kini berada didalam gendongannya.
Tubuhnya cukup berat untuk ukuran seorang anak bayi. Hidungnya memang tidak terlalu mancung, dan warna kulitnya agak sawo matang, namun satu hal yang ia yakini, bibir bayi mungil ini sangat indah. Ia mengelus dahi Jongin kecil dengan lembut. Beralih pada alisnya yang sedikit tipis dan bulu matanya yang cukup panjang.
Ia berani bertaruh, jika sudah besar, bayi mungil ini pasti akan mematahkan banyak hati wanita.
Well, tebakanmu hampir tepat, girl.
.
.
Jongin menggerakkan bola matanya yang masih tertutup. Tubuhnya terasa sangat hangat. Tidurnya malam ini sangat berkualitas, ini pasti akibat obat tradisional yang ia minum semalam.
Ini adalah malam pertama ia bisa tidur dengan nyenyak setelah beberapa saat kembali ke Seoul. Selimutnya terasa sangat nyaman malam ini. Jika bisa ia tidak ingin bangun dari tidurnya.
Namun lama kelamaan ia sadar bahwa selimutnya semakin lama bertambah berat. Akhirnya setelah susah payah, ia berhasil membuka kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat.
Bola matanya bergerak ke sekeliling. Ini bukan kamarnya. Ada dimana ia sekarang?!
Dan ia mengalihkan pandangannya pada perutnya yang terasa berat. Ternyata yang sedari tadi membebani tubuhnya bukanlah selimut yang hangat, melainkan sebuah tangan.
Tangannya mulus dan putih, jarinya terlihat lentik, dan terdapat sebuah cincin kecil tersemat di jari kelingkingnya. Jongin yakin ini pasti tangan seorang gadis.
Tunggu. Apa? Gadis?!
Batin Jongin seolah berteriak membunyikan alarm didalam kepalanya. Ia tidak mungkin tidur, atau bahkan meniduri seorang gadis sembarangan. Terlebih semalam ia sedang sakit, dan hal yang bisa ia ingat setelah meminum obatnya adalah, kepalanya terasa sangat ringan dan ia jatuh tertidur.
Lagi-lagi matanya jatuh pada tangan putih gadis tersebut yang tengah berada di perutnya.
Ini hanya perasaannya, atau memang tangan gadis itu yang sangat besar?
Jongin akhirnya mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri, tempat dimana seorang gadis sedang tertidur sambil memeluk dirinya.
Jongin memperhatikan struktur wajah gadis didepannya. Wajahnya bulat, poni hitamnya menutupi dahi hingga alis, bulu matanya lebat dan lentik, hidungnya mancung, dan yang membuat Jongin menelan ludahnya kasar adalah bibir pink berbentuk hati gadis itu yang sedikit terbuka dan terlihat agak mengkilap.
Jongin yakin bibir gadis itu mengkilap bukan karena air liur saat tidur, karena sekeliling bibir gadis itu sangat bersih. Bibir itu mengkilap memang karena sudah dari sananya, membuat Jongin tidak bisa menahan dirinya untuk menyentuh bibir gadis yang tertidur disebelahnya itu.
Jongin menggerakkan tangannya menuju wajah gadis tersebut, namun tidak lama kemudian ia memelototkan matanya lebar, kaget dengan apa yang tengah disaksikannya.
Ia menggerakkan tangannya sendiri di depan wajahnya, terdapat dua buah tangan kecil dengan jari-jari pendek khas anak bayi. Lengannya yang kekar juga kini tidak ada lagi, digantikan dengan sebuah lengan pendek kecil yang agak gembil.
Jongin memutuskan untuk membangunkan wanita disampingnya, berharap mendapat penjelasan. Ia berusaha mengeluarkan suaranya, namun mengapa terasa sulit?
"Auh... auh.."
Yak! Bangun! Aishh ada apa dengan suaraku yang seksi ini?!
"Auh.. ohoek.. hoek.."
Yaaaaaa...! Cepat bangun! Apa yang sudah kau lakukan padaku, eoh?!
"Huk.. hoek.. hoek.."
Yaaaa..! Gadis aneh! Kenapa kau tidur seperti orang mati, hah?! Cepat bangun..!
"Hoekk.. hoekk.. hoekk.."
Bukannya mengeluarkan suaranya, Jongin kecil hanya bisa mengeluarkan isak tangis yang semakin lama terdengar semakin memekakkan telinga.
Ia sengaja, agar membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Dan sepertinya usaha Jongin berhasil, karena kini ia mendapati gadis yang tidur di sampingnya mulai terbangun dan membuka kelopak matanya.
Gadis itu duduk dan mengusap matanya pelan. Kemudian ia sedikit terbengong melihat keberadaan Jongin di sisinya. Membuat Jongin tak ayal juga ikut bengong karena heran dengan tingkah gadis ini.
Namun tidak lama kemudian gadis ini tersenyum dan mengangkat Jongin kedalam gendongannya.
"Aigoo.. Jonginie sudah bangun, eoh? Jonginie lapar?" Tanya gadis itu lembut sambil mengelus punggung telanjang Jongin yang hanya tertutupi selimut tipis.
Yak! Siapa yang kau sebut Jonginie? Sok akrab sekali!
"Jonginie, sekarang kau bersama noona. Kau tidak punya keluarga, sedangkan aku tinggal jauh dari keluargaku. Oh aku tahu! Aku akan menjadi eomma untukmu! Eotte?" tubuh Jongin diangkat tinggi-tinggi oleh gadis manis tersebut, berusaha membuat anak kecil dihadapannya senang, namun sepertinya usahanya sia-sia saja.
"Auh.. auh.." lagi-lagi Jongin hanya bisa mengeluarkan bentuk protesnya berupa celotehan.
"Aigoo.. anak eomma sangat cerewet, rupanya."
Gadis aneh! Siapa yang eomma? Kau? Eommaku? Dalam mimpimu!
"Auh.. eoh.."
"Sudah, anak eomma pasti lapar. Ayo kita buat makanan untukmu." Gadis itu membawa Jongin dalam gendongannya dan beranjak menuju dapur untuk membuatkan Jongin segelas susu.
"Jonginie, eottohke? Eomma hanya punya susu coklat. Apa tidak apa-apa?" Namun gadis Do ini akhirnya tetap membuatkan Jongin segelas susu coklat dan menyuapinya menggunakan sendok, karena ia tidak memiliki botol susu yang bisa digunakan anak seusia satu tahun.
Setelah selesai menyuapi Jongin, ia segera kembali ke kamarnya dan menyalakan keran air hangat kedalam bathup kemudian melepaskan selimut yang sedari tadi meliliti tubuh telanjang Jongin.
Kau mau apa? Kenapa melepas bajuku? Hei gadis aneh! Jangan berbuat macam-macam! Kau lihat saja, jika aku sudah kembali ke wujudku semula, kau lah yang akan aku 'apa-apakan'
"Auh.. ah.." Jongin kecil berceloteh, namun layaknya orang dewasa yang mengerti, kedua tangan mungilnya menutupi bagian kejantanan Jongin yang kini sudah tidak tertutupi apapun.
Gadis ini terkekeh geli melihat tingkah anak yang semalam ia 'pungut' itu, kemudian menggamit kedua lengan mungil Jongin yang sedang berusaha menutupi kejantanannya dan meletakkan kedua tangan mungil itu di kedua sisi kepalanya.
"Hihihi.. kau malu? Anak eomma sudah besar, sudah bisa merasa malu? Cha, Jonginie ayo kita mandi!"
Yaa..! Kau sudah melihat 'adikku'! Ahh hancur sudah harga diri seorang Kim Jongin!
Kemudian Jongin hanya bisa pasrah saat gadis yang menurutnya aneh menyirami, menyabuni, bahkan menggosok dan mengelus tubuh polosnya.
.
.
"Kim Kibum-ssi!" Teriak seorang wanita muda kepada Kibum yang tengah berjalan menuju lift.
"Ya? Ada apa?" Tanya Kibum ramah dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
"Ah, begini. Beberapa jam yang lalu perwakilan direksi dari London menelpon agar Kim sajangnim bisa segera menggelar rapat soal tender yang akan diadakan di Dubai, namun aku tidak bisa menemukan Kim sajangnim hingga saat ini. Tidak seperti biasanya, dia terlambat." Asisten Kibum, Hani menjelaskan kendala yang terjadi pagi hari tadi di kantornya karena Jongin terlambat masuk ke kantor.
Kibum yang mendengarkan hanya menatap Hani dengan pandangan datar dan biasa saja, meskipun masih terdapat senyum di bibirnya.
"Kemarin Kim sajangnim sedang sakit. Kemungkinan besar ia akan masuk ke kantor terlambat hari ini. Atau bahkan mungkin ia akan izin. Soal direksi dari London kau jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya." Ujar Kibum santai kemudian kembali berjalan menuju lift setelah Hani menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Namun tak ayal keadaan ini turut membuat Kibum heran. Pasalnya tidak biasanya Jongin bertindak seperti ini. Jongin bahkan tidak memberitahunya bahwa ia akan terlambat.
Namun yang bisa Kibum lakukan hanyalah positive thinking dan menganggap bahwa Jongin belum bangun dari tidurnya.
.
.
"Ya! Do Kyungsoo!" Teriak seorang gadis bersuara cempreng menyeruak masuk kedalam rumah gadis yang ternyata bernama Do Kyungsoo ini, membuat Jongin dan tak ayal Kyungsoo sendiri, merasa kaget akan kehadirannya.
Do Kyungsoo? Jadi nama gadis ini Do Kyungsoo?
"Eoh. Baek Eonni. Wae?" Tanya Kyungsoo santai masih dengan kegiatannya menaburi bedak diatas tubuh Jongin.
"Kau belum datang juga ke Taman Kanak-kanak, kupikir terjadi sesuatu padamu, makanya aku kemari berinisiatif untuk menjemputmu." Ucap seorang gadis bernama Baekhyun yang sepertinya teman kerja Kyungsoo.
"Eoh, mian aku lupa memberitahumu. Hari ini aku sepertinya harus izin mengajar, eonni. Aku punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan." Ujar Kyungsso masih tetap santai bahkan tanpa melirik Baekhyun sedikitpun, membuat gadis ini tak ayal jadi kesal.
Mengajar? Apa gadis ini seorang guru?
Batin Jongin berbisik penasaran akan profesi yang dilakoni gadis yang menurutnya aneh tersebut.
"Dan... pekerjaan seperti apakah itu?" Tanya Baekhyun jengkel.
Kyungsoo menghela nafasnya pelan, kemudian berdiri tegak dari posisinya semula yang tadi agak menunduk dan memperlihatkan Jongin kecil yang kini sudah rapi kembali terlilit selimut dengan sempurna.
"Kyung? Kau menjadi baby sitter? Lalu pekerjaanmu menjadi guru bagaimana?" Tanya Baekhyun polos dengan raut wajah kesalnya.
"Aniya! Eonni! Aku tidak menjadi baby sitter! Lihatlah bayi ini! Aku harus mengurusnya sekarang. Semalam ia aku temukan didalam keranjang di depan rumahku. Orang tuanya membuangnya. Anak ini sangat malang. Jadi aku berencana untuk melaporkannya ke polisi dan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhannya." Ucap Kyungsoo berusaha menjelaskan semuanya kepada Baekhyun sambil menunjuk kepada keranjang bambu yang kemarin Jongin tempati.
"Aigoo.. anak yang malang. Dunia benar-benar sudah gila. Anak sekecil ini bahkan tega-teganya ditelantarkan. Siapa namanya kyung?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Berdasarkan kertas ini, namanya Kim Jongin, eonni." Kyungsoo memberikan secarik kertas yang bertuliskan nama Jongin dan permintaan agar Kyungsoo mau merawat dan menyayanginya kepada Baekhyun.
"Hmph, tolong sayangi dia? Kalau begitu kenapa tidak kau sayangi sendiri anakmu?" Baekhyun berucap sarkastik sambil sedikit meremas kertas tersebut.
"Sudahlah eonni. Tidak apa-apa. Eonni, aku boleh minta tolong? Tolong katakan pada kepala sekolah bahwa aku berhalangan hadir saat ini. Namun tolong jangan katakan pada siapapun mengenai Jongin. Kumohon." Kyungsoo meminta bantuan Baekhyun untuk izin mengajar hari ini, bagaimanapun ia harus mengurus masalah mengenai Jongin. Ia memohon dengan matanya yang besar dan ia buat semanis mungkin, membuat Baekhyun sedikit berdecih namun tidak lama kemudian tertawa.
"Ya, ya. Baiklah. Hari ini aku akan mengatakan kepada kepala sekolah bahwa kau sedang demam. . Tapi besok kau harus mengajar, oke?" Ucap Baekhyun santai dan mengeluarkan senyum khasnya yang menampilkan sedikit bagian gigi serinya.
"Ne eonni gomawo! Kudoakan semoga Chanyeol oppa segera melamarmu!" Kyungsoo yang girang bukan main segera menyambar tubuh Baekhyun yang tidak kalah mungil darinya dan memeluknya erat, membuat Baekhyun sedikit memukul bahu Kyungsoo karena sesak nafas.
"Huh, kau ini. Baik kalau ada maunya saja. Yasudah kalau begitu aku harus pergi. Jongin-ah, jaga eommamu ne? Paipai.." Baekhyun akhirnya pamit karena jam mengajar hampir dimulai. Ia mengucapkan salam kepada Jongin menggunakan suara seimut mungkin, membuat batin bocah kecil tersebut merasa mual.
Ck, tidak temannya, tidak gadis ini. Semuanya aneh.
Sepeninggalan Baekhyun, Kyungsoo menidurkan Jongin diatas kasurnya karena ia ingin bersiap untuk menjalankan rencananya hari ini.
.
.
"Hahh... sudah kuduga. Pasti seperti ini jadinya.." Kyungsoo menghela nafasnya pelan. Ia tengah duduk di bangku taman dengan memangku Jongin. Ia merasa lelah karena terus menggendong anak itu seharian.
Kyungsoo baru saja kembali dari kantor polisi. Ia melaporkan adanya anak yang ditemukan didepan rumahnya, namun karena tidak ada laporan mengenai anak hilang bernama Kim Jongin, maka Kyungsoo sementara ini berkewajiban untuk mengurus anak itu hingga pihak kepolisian kembali menghubunginya untuk mengambil alih anak tersebut.
"Jonginie, untuk sekarang kau harus bersabar bersama eomma, ne?" Ucap Kyungsoo mencoba mengajak Jongin mengobrol, meskipun sebenarnya Jongin kecil tidak kelihatan tertarik. Ia lebih baik memperhatikan air mancur berbentuk lumba-lumba didepannya ini.
Kyungsoo terdiam sesaat, kemudian ia teringat kembali bahwa ia harus pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang keperluan Jongin.
.
.
Setelah berhasil mengambil dua kotak susu formula, satu paket popok bayi, sebuah botol susu dan beberapa pakaian yang Jongin butuhkan, Kyungsoo kini sedang berjalan menuju tempat penitipan anak untuk melakukan survey.
Pasalnya ia tidak mungkin membawa Jongin ke tempatnya bekerja, sehingga ia harus menitipkan anak itu di tempat yang bisa mengurusnya.
Tempat penitipan anak bagi orang tua yang bekerja memang tidak murah, terlebih Jongin masih sangat kecil, namun Kyungsoo tidak mempunyai pilihan lain. Ia bahkan harus menghabiskan setengah dari uang tabungannya yang sudah ia tabung dari gaji hasilnya mengajar.
"Maaf nona, apakah tidak ada diskon?" Tanya Kyungsoo pada gadis penjaga tempat penitipan anak tersebut.
Namun gadis itu hanya bisa tersenyum sopan, dan kembali berkata "maaf nona, tidak ada. Karena anak yang akan nona titipkan masih berusia dibawah lima tahun, sehingga harganya pun berbeda."
"Ah.. begitu ya.." ucap Kyungsoo kecewa. Ia hanya bisa membalikkan kertas brosur yang ia dapatkan dari tempat penitipan tersebut dengan wajah murung.
Sebenarnya berapa gaji gadis ini? Kenapa membayar tempat penitipan saja masih meminta diskon?!
Batin Jongin membelalak tidak percaya, pasalnya setelah melihat kertas brosur yang Kyungsoo pegang mengenai harga jasa penitipan anak tersebut, ia merasa bahwa harga yang ditawarkan tidaklah seberapa. Gaji bulanan yang ia dapatkan bahkan 20 kali lipat lebih besar.
"Baiklah kalau begitu tidak apa-apa. Aku tetap akan menitipkan anak ini disini." Ucap Kyungsoo setelah berperang dengan batinnya sendiri. Ia hanya perlu bekerja lebih giat dan lebih berhemat, bukan?
Namun keputusan Kyungsoo tak ayal membuat Jongin merasa sedikit tergugah. Pasalnya dengan keadaan ekonomi Kyungsoo yang tidak bisa dibilang berlebih itu, ia bahkan masih mau mengurus dan membiayai seorang anak kecil yang bahkan bukan siapa-siapa.
Hmph, kau tenanglah gadis aneh, setelah aku kembali ke wujudku semula, aku akan mengganti seluruh uangmu berkali lipat.
Janji Jongin pada dirinya sendiri.
.
.
Kibum menghela nafasnya kasar. Ini sudah pukul dua siang namun masih belum ada kabar dari atasannya tersebut. Sebenarnya apa yang terjadi pada Kim Jongin?
Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi ponsel pria itu. Namun setelah beberapa saat, panggilan Kibum tidak dijawab.
Kibum sudah mencoba hampir sepuluh kali, namun hasilnya tetap nihil, sehingga ia bertekad untuk pergi ke rumah Jongin untuk memastikan keadaan adik kelasnya dulu itu baik-baik saja
.
.
Jongin kini sedang berbaring di kasur Kyungsoo yang besarnya bahkan tidak sampai setengah ranjangnya di rumah.
Kini ia baru sadar, bahwa rumah gadis yang sudah menampungnya ini tidak terlalu layak disebut rumah.
Langit-langit kamarnya terdapat banyak bercak kuning akibat bocor, pagar rumah yang karatan, sampai dapur dan ruang tamu yang bahkan tidak memiliki sekat diantaranya. Hanya saja beruntung gadis ini dapat merapikan rumahnya dengan apik sehingga tidak terlalu terlihat berantakan.
Merasa bosan terus berbaring, ia mencoba untuk berguling, meski rasanya sulit karena ia sepertinya baru berusia genap setahun usia bayi.
Namun setelah mencoba tanpa lelah, Jongin akhirnya berhasil berguling dan berpindah tempat lebih ke pinggir. Tapi karena tangannya yang belum kuat menopang tubuhnya, tangan Jongin yang digunakannya untuk menumpukan tubuhnya terpeleset sehingga ia jatuh dari ranjang Kyungsoo.
Jongin kecil kaget. Ranjang Kyungsoo tidak terlalu tinggi-bagi ukuran orang dewasa-yang tentu saja tidak berlaku untuk Jongin. Kepalanya terasa pening terantuk lantai. Ia ingin mengaduh, namun apa daya saat tubuhmu menjadi bayi, maka suara tangisan yang keluar pun berupa tangisan.
"Oaaaaa... oaa.."
Haish jeongmal, begini saja menangis. Ya! Memalukan sekali!
Namun bukannya terhenti, tangisan Jongin malah semakin kencang.
"Oaaaa.. oaaa..."
Kyungsoo tergopoh setengah berlari melihat apa yang terjadi pada Jongin. Dan setelah melihat Jongin yang sedang menangis di lantai sambil memgangi kepalanya, Kyungsoo sudah bisa menebak apa yang terjadi pada bocah itu.
"Aigoo.. anak eomma jatuh, ya? Cup cup sayang, uljjima ne? Anak eomma pintar kan? Cup cup cup..." Kyungsoo menggendong Jongin sambil mengelus kepalanya yang terlihat sedikit memerah. Ini sudah pukul delapan malam, sehingga Kyungsoo memutuskan untuk menidurkan Jongin.
Segera ia meraih botol susu yang sebelumnya sudah ia buat untuk Jongin dan meminumkannya pada bocah itu sambil mengayunnya di dalam gendongan Kyungsoo.
Yaaa! Aku tak mau minum dari benda menjijikan ini! Buang jauh-jauh!
Jongin tetap menangis dan berusaha untuk menepis botol susu tersebut dari mulutnya, namun ia kemudian hanya bisa pasrah setelah Kyungsoo tetap dengan tegasnya menelasakkan dot botol tersebut kedalam mulutnya.
Kyungsok bersenandung kecil demi membuat Jongin tertidur dengan cepat, dan yang dapat Jongin rasakan sekarang adalah tubuhnya terasa melayang, kelopak matanya begitu berat, senandung kecil dari mulut Kyungsoo terdengar sangat merdu saat ini, dan tubuh Kyungsoo yang menggendongnya terasa sangat hangat. Jongin merasa sangat nyaman dan kemudian jatuh tertidur.
.
.
Kibum berjalan menuju rumah Jongin setelah berhasil memarkirkan mobilnya di tengah jalan. Ia mengetuk beberapa kali pintu rumah tersebut, namun tidak ada jawaban, sehingga ia memutuskan untuk memutar kenop pintu rumah Jongin.
Dan pintu tersebut langsung terbuka menampilkan dekorasi ruang tamu rumah atasannya.
"Aneh, kenapa tidak dikunci? Apa dia lupa?" Tanya Kibum penasaran lebih pada dirinya sendiri. Ia kemudian berjalan menyusuri lorong rumah Jongin, mencari keberadaan pemiliknya.
Kibum memasuki kamar tidur Jongin yang juga tidak terkunci, membuatnya heran karena pria ini tidak berada dimanapun.
Ia termenung sesaat apa yang sebenarnya terjadi pada Kim Jongin, namun lamunannya harus terhenti karena mendengar suara riuh yang berasal dari ponsel Jongin diatas nakas.
Setelah melihat di layar siapa penelpon tersebut, Kibum menekan tombol hijau.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo? Jongin-ah! Kemana saja kau! Kenapa panggilanku tidak kau angkat, eoh?!" Sembur suara seorang wanita diseberang sana, membuat Kibum memejamkan matanya dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Tidak pernah berubah, pikirnya.
"Ah. Annyeong Taeyeon-ssi. Ini aku, Kibum. Kau masih ingat?" Tanya Kibum pada wanita di seberang yang ternyata bernama Kim Taeyeon, kakak kandung Kim jongin.
"Kibum? Kim Kibum? Si gendut berkacamata itu?" Tanya Taeyeon sarkastik masih dengan suara ketusnya.
"Aigoo.. kau tidak pernah berubah ya Taeng, tetap ketus." Kibum terkekeh mendengar jawaban yang dilontarkan teman bermainnya dulu. Yah, Kibum dan Taeyeon memang teman sepermainan karena usia mereka yang sepantar. Namun pertemanan mereka harus berakhir karena Taeyeon dan Jongin yang tiba-tiba pindah dari rumah lama mereka entah kemana.
"Ah, sudahlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu. Sekarang katakan padaku dimana Jongin? Kenapa kau yang mengangkat ponselnya?" Lagi-lagi Taeyeon bertanya dengan suara ketusnya, membuat Kibum sedikit mendengus mendengar ucapan gadis ini.
"Entahlah, aku juga tak tahu. Hari ini ia bahkan tidak pergi ke kantor. Ia juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Karena terakhir kulihat ia sedang flu." Jawab Kibum dengan nada datarnya.
"Ia tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Well, kemarin aku menghubunginya dan ia memang sedang flu, sepertinya bertambah parah. Suaranya sangat parau. Kau sudah mencari di rumah sakit? Mungkin dia ada disana."
Kibum terdiam mendengar perkataan Taeyeon. Ia tahu sesungguhnya Jongin bukanlah orang yang mudah pergi ke rumah sakit. Pria itu pasti lebih memilih meminum obat apotek dan pergi tidur daripada harus ke rumah sakit. Namun sepertinya pilihan Taeyeon tidak ada ruginya untuk dicoba.
"Baiklah kalau begitu. Besok aku akan mencarinya lagi. Ini sudah malam, sampai jumpa kalau begitu. Jaga dirimu." Akhirnya panggilan terputus setelah Taeyeon juga mengatakan salam perpisahan mereka dengan lebih baik, sudah tidak terlalu ketus.
Kibum berjalan keluar dari kamar Jongin dan memutuskan untuk pulang, namun tiba-tiba tenggorokannya terasa sangat kering, sehingga ia memutuskan untuk meminum segelas air dari dapur Jongin.
Dan alangkah terkejutnya Kibum, karena saat di dapur, Kibum mendapati pakaian Jongin yang berserakkan di lantai, bahkan pakaian dalam pria itu.
Kibum mengambil pakaian tersebut dan menatapnya lekat. Ia kemudian menghela napasnya kasar dan menjatuhkan pakaian Jongin begitu saja di lantai.
"Kim Jongin sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
To Be Continued
Deanmist12 ; makasih udah mau baca ff abal-abalku ini. Sudah kulanjut yaah
PrinceTaehyung : waah senangnya dipuji atas ff abal-abal bin ajaibku ini.. baca dan review terus yah!
Yoojung : sudah ku next yah... ^^
LianaPark : sudah ku update.. :)
Unniechan1 : huwaaaa... makasih banget compliment nya, aku juga berharap aku gak kena 'writer block' karena para sider... :( but i've already update the part 2, so stay tuned..
Misslah : makasih.. kupikir ff ku ini ga layak baca pake banget.. hehe
AnaknyaChanbaek : makasih loh udh mo baca ff ku ini.. sudah ku update yah
Kyung1225 : ini dia chapter selanjutnyaaa..! #jengjet hehehe
Haiii kubalik lagi dengan part 2 nya *jengjet...
Jujur sebenernya aku kecewa pake banget sih, viewers nya lumayan tapi kenapa review cuma seuprit?
Yah, kupikir ini emang biasa terjadi pada author pemula seperti aku sehingga para viewers setia ffn belum mau review (?)
Aku cuma bisa berharap di chapter ini dan chapter2 selanjutnya review bisa meningkat, terutama review yang membangun..
Dan semoga juga aku ga terjangkit 'writer block' karena para sider.. hehehe
Yah intinya aku ngarepin banget review dari kalian, sebagai kritik, saran, dan motivasi untuk aku terus lanjutin ff ini.
Sooo... review juseyo..
Sincerely, tjngdevi
