CHAPTER 5

"Friend"

.

.

.

"Astaga, Ma. Aku sedang tidak ingin kemana-mana hari ini."

"..." -PIP-

Sambungan telepon terputus secara sepihak sebelum Zitao -dengan rambut berantakan khas bangun tidurnya, melakukan aksi protes.

"Aish! Kenapa semua orang menjadi semakin menyebalkan?!" gerutunya, kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal.

Tiba-tiba saja ia kembali teringat akan kejadian tiga hari yang lalu akan pertengkarannya dengan Baekhyun. Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, Baekhyun benar-benar memusuhinya. Tidak ingin berbicara, bahkan menatapnya saja gadis pendek itu tidak mau.

Awalnya, setelah pertengkaran itu terjadi. Dia berniat untuk kembali meminta maaf akan kata-kata pedas yang sempat dikeluarkannya. Bagaimanapun ucapannya memang sudah cukup keterlaluan. Namun, bukan kembali berdamai, keadaan malah semakin parah. Bahkan Zitao tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata yang lebih pedas lagi setelah mendengar balasan Baekhyun perihal dirinya dan seseorang.

Baekhyun sahabatnya dan tahu bagaimana bencinya dia pada orang itu. Tapi kenapa dia harus mengungkit-ngungkit kembali cerita lama yang tidak ingin di ingatnya? Dia sadar ucapannya sudah kasar, tapi tidak seharusnya gadis itu mengungkit kembali hal yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan permasalahan pertengkaran mereka.

Byun pendek sialan!

Ting, Tong~

Ting, Tong~

Suara bel menyadarkannya dari lamunannya. Bukannya segera melihat siapa tamu yang datang, Zitao masih bertahan dengan posisinya saat ini.

Ting, Tong~

Tetap tidak ada repon sedikitpun.

Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~ Ting, Tong~

"Argghh! Tidak tahu etika. Kalau sampai telinga dan belku rusak, lihat saja akan ku tuntut bayaran yang lebih mahal." Umpatnya sembari berjalan menuju pintu apartemennya.

-Cklek-

Zitao mengernyit bingung mendapati seorang pria tampan dengan setelan jas hitam putih menjadi pelaku dari tindakan percobaan pengerusakan bel apartemen dan telinganya.

'Apa yang terjadi dengan paman ini? Dia sedang stres?' batinnya.

Zitao semakin mengernyitkan kedua alisnya, saat pria itu hanya menatapnya dalam diam. 'Paman ini benar-benar sedang stres. Sayang sekali. Padahal wajahnya lumayan tampan.'

Masih tetap terdiam. Zitao kemudian mengambil inisiatif untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Pasalnya dia cukup risih dengan tatapan itu..

"Maaf ya, paman. Sepertinya saya tidak mengenal anda. Anda salah tempat jika menganggap ini apartemen milik anda. Ini apartemen milikku, H808." Tunjuknya pada nomor apartemen yang terletak diatas bel. "H808." Ucapnya sekali lagi dengan penuh penekanan.

"Ha?! Paman?" Pria itu menunjuk dirinya. "Paman?!" ucap pria itu sekali lagi dengan wajah bodoh menurut Zitao.

"Ya, paman!" Tunjuk Zitao kesal. "Saya tahu perekonomian akhir-akhir ini sedang tidak bagus. Banyak perusahaan yang harus memPHK karyawan-karyawannya. Saya juga tahu paman mungkin stress karena sudah menjadi salah satu dari mereka dan saya turut bersedih akan hal itu."

"What?" guman pria itu. Kesal bercampur bingung.

"Tapi, saya juga sedang tidak dalam mood bagus untuk meladeni paman. Jadi, sebaiknya paman kembalilah ke apartemen paman atau cari saja orang lain yang bisa meladeni paman." Dengan segera Zitao menutup kembali pintu apartemennya dan berharap semoga paman tidak mengganggunya lagi

.

.

.

"Double shit! Paman?! Dia memanggilku Paman?! Setelah menjadikan fotoku sebagai pemangkal tikus. Sekarang dia mengataiku paman?! Paman yang sedang di PHK?! Oh, gadis sialan yang luar biasa." Umpat Yifan.

Dengan kasar Yifan kembali memencet bel itu tanpa henti. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sang pemilik kembali membuka pintunya. Kali ini wajah gadis itu benar-benar terlihat kesal akibat ulahnya. Tapi apa pedulinya, dia bahkan lebih kesal dari gadis itu.

"Yak! Paman ini masih belum paham dengan ucapan saya barusan? Berhenti memencet bel apartemen saya seperti itu. Saya tidak akan segan-segan meminta ganti rugi yang besar pada paman jika bel dan telinga saya sampai rusak." ucap gadis itu kesal.

"Paman?! Kau memanggilku paman? Sejak kapan aku menikah dengan bibimu, ha? Seenaknya saja memanggil orang seperti itu. Aku bahkan bisa menggantinya dengan berlian sekarang juga jika kau mau." ucap Yifan tak kalah kesal menunjuk bel yang tidak berdosa.

"Lalu kalau bukan paman, saya harus memanggil anda siapa? Orang gila?"

"Wu Yifan. Calon tunanganmu, sialan."

"Apa?! Wu.. Yifan?" Zitao melebarkan matanya menatap pria di depannya. Di pertemuan kemarin dia memang tidak sempat bertemu dengan orang yang katanya akan dijodohkan dengannya. Ada urusan mendadak. Begitu alasannya. Perbedaan usia diantara mereka juga sudah diketahuinya tapi belum secara jelas. Dia benar-benar tidak menyangka kalau akan sejauh ini.

"Apa lihat-lihat? Menyadari kalau aku tidak setua itu."

"Tch! Mau di lihat sampai beratus-ratus kali pun, tetap terlihat seperti paman-paman." Gumam Zitao tanpa di sadari Yifan. Melipat kedua tangannya. "Mau apa kesini?"

"Ku kira kau sudah tahu tanpa harus ku jelaskan."

"Aku sedang tidak enak badan. Lain kali saja." Zitao berniat untuk menutup pintunya kembali, namun secepat kilat Yifan menahan pintu itu.

"Mau apa lagi? Aku sedang tidak enak badan."

"Jadi, orang sakit masih memiliki tenaga kuat seperti ini. Aku baru tahu." Sindir Yifan mencoba bertahan dari dorongan yang dilakukan Zitao. Baru pertama ini Yifan sedikit kewalahan menahan kekuatan dari seorang wanita.

"Memangnya tadi aku bilang sedang sakit? Tidak enak badan dan sakit hal yang berbeda." Masih berupaya untuk menutup pintu aprtemennya.

"Bagiku itu sama saja." Mengumpulkan kekuatan penuh. Dengan sekali hentakan kuat Yifan akhirnya dapat membuka pintu itu membuat Zitao sedikit terjungkir kebelakang.

Mengabaikan umpatan Zitao, Yifan segera masuk dan mendudukkan dirinya pada sofa cream yang berada diruangan itu.

"Akhirnya..." gumam pria itu. Menyandarkan tubuhnya.

"Aku tidak peduli jika pertemuan pertama kita akan terkesan buruk. Jadi, kau memilih untuk keluar sendiri atau aku akan mematahkan tulangmu terlebih dahulu lalu setelah itu menendangmu keluar?"

"Sepertinya mama sudah salah besar jika memujimu manis. Kau bahkan tak ada manis-manisnya sama sekali."

"Apa?! Sepertinya kau memang memilih untuk di tendang dari pada leluar sendiri."

Baru saja akan menarik lengan Yifan, Zitao justru kalah telak dan sudah berada di pangkuan Yifan.

"Yak! Lepaskan!" ronta Zitao.

"Tidak akan." semakin mengeratkan genggamannya pada kedua lengan Zitao. "Sebelum kau menjadi istriku, aku akan benar-benar mengajarimu sopan-santun. Terlebih lagi mulut ini."

"Dalam mimpimu. Aku tak tertarik sama sekali dengan pertunangan ini, apalagi menjadi istrimu."

"Hm? Kita lihat saja nanti. Aku yakin pada saat itu justru kau yang memintaku untuk menikahimu."

"Teruslah bermimpi, tuan Wu. Aku tidak sabar menunggu saat dimana akulah yang akan menertawakanmu dengan mimpi itu."

"Kita lihat saja. Aku juga tidak sabar menunggu saat itu." senyum Yifan.

.

.

.

T.T.F

(Today, Tomorrow, Forever)

.

.

.

Tok.. Tok... Tok...

-Srek-

"Selamat siang bu. Apa kami bisa menggangu sebentar?" ucap seorang pemuda bernametag Kim Nam Joon menarik perhatian seluruh siswa-siswi di kelas itu.

"Ah.. Silahkan."

"Selamat siang teman-teman. Maaf mengganggu kegiatan belajar kalian. Saya hanya meminta waktu lima menit atau bahkan tidak sampai lima menit untuk perhatiannya sekalian."

Mendengar itu. Seluruh siswa-siswi memberikan perhatian penuh kepada ketua osis tampan itu.

"Sehubung dengan ulang tahun sekolah tiga minggu lagi. Kami dari pihak osis bersama para guru akhirnya sepakat untuk mengadakan acara tambahan selain lomba olahraga dan party yang dilakukan dari tahun ke tahun. Dimana setiap kelas juga dianjurkan untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat menghasilkan uang selama dua hari, dihitung dengan hari H. Cukup satu kegiatan saja. Form akan kami berikan pada ketua kelas dan harap dikumpulkan paling lambat besok siang diruang osis."

Mengangkat satu tangannya, "Maaf kalau boleh tahu, tujuan diadakan kegiatan itu untuk apa ya? Kenapa harus kegiatan yang menghasilkan uang?" tanya irene sebagai ketua kelas.

"Tentu saja dalam rangka memeriahkan ulang tahun sekolah. Tapi tujuan utama yang sebenarnya adalah melakukan amal kepada beberapa panti asuhan yang tidak mampu. Uang yang di hasilkan oleh setiap kelas akan kami sumbangkan kesana. Tenang saja, kami akan menunjukkan jumlah uang yang didapatkan dan hasil sumbangan itu secara terbuka kepada seluruh siswa, jadi kalian tidak perlu curiga jika uang itu akan kami pakai untuk hal lain. Ada lagi yang ingin ditanyakan?"

"Ada." Seulgi mengangkat tangannya. "Tadi dikatakan kegiatan itu akan dilakukan pada hari H. Lalu bagaimana dengan partynya bukankah party di lakukan pada hari H?"

"Party juga akan di adakan pada hari H. Hanya saat malam harinya. Jadi kegiatan tersebut akan dilakukan dari pagi sampai sore hari. Khusus hari H kegiatan di lakukan sampai jam tiga saja. Melelah kan pasti, tapi ku rasa akan sangat menyenangkan. Ada lagi yang ingin ditanyakan?" senyum pemuda itu.

"Ada... Ada." dengan semangat menggebu-gebu.

"Iya,"

"Oppa.. Apa kau benar-benar sudah putus dengan kekasihmu?" tanya Wendy malu-malu.

Sontak seluruh siswa bersorak akan pertanyaan tidak penting Wendy. "Uuuuuuuu"

"Hais! Gadis genit ini." Menjitak Wendi yang saat itu tepat di depannya. "Sudahlah, sepertinya tidak ada pertanyaan lagi." ucap Minzy.

Namjoon hanya tersenyum. "Baiklah. Bagi ketua kelas, setelah pelajaran bisa mengambil form di ruang osis. Terimakasih atas perhatiannya. Selamat siang."

"Bye, oppa." teriak Wendi melambaikan tangannya.

.

.

.

Seminggu lebih telah berlalu. Setiap kelas mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing untuk menyambut hari ulang tahun sekolah. Tidak disangka, ternyata kegiatan tambahan itu disambut dengan senang hati oleh para siswa. Bahkan sudah ada kelas yang mulai begadang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Ingin menjadi terbaik, tidak kalah dengan kelas lain, tentu setiap anggota kelas pasti berpikiran seperti itu.

Seperti perjanjian yang sudah dibicarakan kemarin. Setelah seluruh pelajaran berakhir, kelas yang di ketuai oleh Irene akan mulai mengerjakan kebutuhan yang mereka perlukan. Ketika jam pelajaran terakhir berbunyi, mereka mulai berkumpul dengan divisi mereka masing-masing untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan hari itu.

Begitu juga dengan Baekhyun saat ini. Gadis itu hanya bisa mendesah lelah melihat banyaknya kantong belanja yang harus dibawa sendiri. Sebenarnya tadi dia tidak sendirian, ada Seolhyun yang menemaninya berbelanja kebutuhan kelas mereka. Namun, tiba-tiba saja gadis itu mendapat kabar jika mamanya masuk rumah sakit dan tanpa berpikir panjang Baekhyun langsung menyuruhnya untuk segera kesana.

"Aku tidak menyangka akan sebanyak ini." desahnya menatap kantong belanjaan itu.

Mengambil ponsel disaku, Baekhyun segera mencari nama seseorang dalam kontak telephonenya. Tersadar akan sesuatu, Baekhyun hanya menatap sendu nama yang tertera di ponselnya. Huang Zitao. Kenapa dia sampai berpikir untuk menghubungi gadis itu?! meletakkan kembali ponselnya kedalam saku. Baekhyun mendesah sekali lagi. Seandainya saja dia tidak bertengkar dengan Zitao, pasti dia tidak akan sendirian seperti ini.

Baekhyun bukannya tidak memiliki teman selain Zitao. Sebenarnya bisa saja dia meminta bantuan anak-anak yang lain membantunya. Hanya saja, dia tidak ingin merepotkan orang lain. Baekhyun sadar setiap anak di kelas pasti sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Dia tidak ingin semakin merepotkan mereka.

"Hah! Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Ayo semangat Baekhyun." Gumamnya, mengambil semua kantong belanjaan ke dalam tangannya.

Berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung. 'Kau bisa Baekhyun. Kau pasti bisa. Tunjukkan kalau kau wanita perkasa.' Batinnya. 'Ayo.. baekhyun.. Ayo... kau pasti bi- Loh... kok?' menoleh kebelakang.

"Biar ku bawakan."

"C-chanyeol?!"

"Ah, yang itu juga biar ku bawakan. Sini." Mengambil satu persatu kantong belanja dari tangan Baekhyun.

"K-kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau memiliki tugas lain juga." Tanya Baekhyun heran bercampur kaget.

"Jadi kau memperhatikanku?"

"Ha?! T-tentu saja tidak. Semua anggota kelas kan memiliki tugas masing-masing."

"Tadi kebetulan aku diberikan tugas untuk membelikan yang lain beberapa cemilan dan minuman. Saat akan pulang, ku lihat kau sedang kesusahan membawa barang belanjaan itu."

"Oh.." gumam Baekhyun. Mengikuti langkah Chanyeol dari belakang. 'Sifatnya kembali seperti biasanya. Setelah seminggu lebih dia menjauhiku. Ada apa ini? kenapa aku sedikit merasa senang? Tidak... tidak... aku tidak boleh salah paham. Tadi dia kebetulan melihatku sedang kesusahan. Ya. Wajar sajakan dia membantuku?! Chanyeol baik pada semua orang.'

"Baek. Apa aku boleh bertanya?"

"Eh? A-apa?"

"Kau melamun?" Chanyeol menatap Baekhyun.

"T-tidak." senyum Baekhyun. Walau sedikit dipaksakan.

"Hm. Apa kau merasa terganggu jika aku bersikap seperti ini padamu?"

'Tentu saja' batinnya. "K-kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Selama ini, jika ku sapa atau ku ajak berbicara kau selalu terlihat menderita."

'Apa akhirnya kau sadar juga?' Batin Baekhyun. "Oh ya..."

"Aku tahu masa lalu kita tidaklah indah. Bahkan terkesan sangat buruk. Aku ingin berteman lagi denganmu memperbaiki semua kenangan buruk itu. Apalagi kita sekelas dan bertemu setiap hari. Jadi," menghentikan langkahnya. "Aku ingin minta maaf akan kejadian di masa lalu. Apa kau bisa memaafkanku?"

Baekhyun hanya terdiam menatap kesungguhan Chanyeol dalam ucapannya. Apakah dia bisa memaafkan pemuda ini? Apakah dengan memaafkan semua kesalahan pemuda ini dia bisa kembali hidup dengan tenang?!

"Hm, sudah ku maafkan." Angguk Baekhyun.

"Benarkah?" ucap Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya.

"Hm," Senyum Baekhyun.

"Jadi, kita berteman?"

"Ku rasa... iya." Senyumnya, kembali melanjutkan langkahnya.

"Woah... apa kita perlu merayakannya?" ucap Chanyeol yang sudah berada disampingnya.

"Jangan berlebihan, Park. Apa aku tidak perlu membawanya satu saja?"

"Tidak perlu. Aku sedang bersemangat saat ini." cengir pemuda itu.

"Baiklah." Senyum Baekhyun. 'Ya, kurasa lebih baik seperti ini.'

.

.

.

T.T.F

(Today, Tomorrow, Forever)

.

.

.

-Srek-

"Akhirnya kalian datang juga." Sorak Irene. "Sini... Sini... aku membutuhkan lem ketas."

"Sabar ketua. Kami baru saja sampai. Kau kira tidak lelah berjalan dari swalayan sampai sekolah?" omel Chanyeol meletakkan kantong belanjaan itu ditengah-tengah para siswa yang berkumpul.

"Ya... Ya... salah kalian kenapa berjalan. Kenapa tidak naik bus saja." Jawab Irene, mencari lem didalam kantong.

"Memangnya kau ada memberikan kami uang untuk naik bus?"

"Ah... aku baru sadar ternyata kau orang yang pelit Park." Irene menggelengkan kepalanya. Sedangkan Chanyeol hanya menyengir mendengar ucapan gadis itu.

Drrrrttt... Drrrtttt... Drrrrttt...

'Seolhyun?' berjalan keluar kelas. "Halo... ada apa Seolhyun?"

"Baek, apa Chanyeol sudah datang?"

"Ha? Maksudmu?"

"Aku minta maaf sebelumnya sudah meninggalkanmu. Aku sadar barang-barang itu tidaklah sedikit, jadi aku meminta Irene untuk meminta salah satu anak-anak dikelas menyusulmu kesana. Dan kata irene, Chanyeol menawarkan dirinya. Apa dia sudah datang?"

'Jadi... ah... pantas saja aku tidak melihat dia membawa minuman atau cemilan. Anak-anak yang lain pun tidak ada meminta cemilan itu saat kita sampai. Kenapa aku baru menyadarinya.'

"Halo... Baek... Baek... Hm, sepertinya masih tersambung." Gumam gadis itu diseberang sana.

"Ah ya, maaf Seolhyun tadi hmm... ada sesuatu. Chanyeol sudah datang, kita juga sudah berada di sekolah. Terimakasih karena sudah menelepon Irene. Andai saja kau tidak melakukan hal itu, aku tidak tahu bagaimana nasipku sekarang." Tawanya.

"Hehehe... ya aku juga tidak bisa membayangkan itu. Ah, syukurlah. Aku jadi tidak khawatir lagi sekarang."

"Bagaimana dengan kondisi mamamu? Apa lukanya parah?"

"Sudah lebih baik, tapi mama belum siuman. Mama sedikit mendapat beberapa jahitan pada kepalanya karena terbentur lantai. Untung saja pamanku ada saat itu, jadi mama bisa langsung ditolong."

"Ah, begitu. Ku doakan semoga mamamu lekas siuman. Nanti akan ku katakan pada yang lain agar bisa menjenguk kesana."

"Iya, terimakasih Baek. ya sudah ku tutup ya telephonenya. Semangat mengerjakan. Hehe.. katakan pada yang lain maaf karena tidak bisa membantu."

"Sudahlah. Mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu."

"Baiklah. Bye"

"Hmm, bye"

-PIP-

"Haaaah... apa lagi sekarang?" gumam Baekhyun. Menggelengkan kepalanya. "Sudahlah. mungkin dia tidak berkata jujur karena takut aku akan salah paham lagi padanya. Ya... ku rasa seperti itu. Tidak.. tidak.. memang seperti itu. Ya.. memang seperti itu. Teman... Teman... Teman... hanya Teman." Gumamnya sekali lagi, berjalan memasuki kelas.

.

.

.

TBC

hay.. hay... Ku rasa aku sudah melanggar janji untuk bisa update cepat. hiks.. maafkan aku. skripsi yang nggak kelar-kelar bikin aku sampe nunda lama buat lanjutin ceritanya. maaf ya jika fellnya udah nggak dapet menurut kalian. aku udah berusaha sebaik mungkin untuk bisa dapetin lagi fellnya. maaf juga, kalo nggak bisa jadi author yang baik. aaaa... sampai FF ini udah tenggelam sangat jauh.

Next Chap akan diusahan cepat. masih di usahakan. Terimakasih bagi yang masih membaca FF jelek ini. Hiks...

Bye... Bye...