CHAPTER 6

"Ha?"

.

.

.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah puncak dimana hasil dari kerja keras dari masing-masing kelas akan terbayar. Selesai mengikat ekor kuda rambutnya, Baekhyun tersenyum melihat dirinya yang sudah rapi di depan cermin. Mengambil tas ranselnya, Ia keluar dari kamar. Melihat jam tangan sekilas, Gadis itu bergumam.

"Sepertinya tidak akan sempat kalau aku sarapan. Di sekolah sajalah." Berjalan menuju pintu apartemennya.

-Cklek-

"Eoh?!" Baekhyun sangat kaget melihat seorang pemuda jangkung berseragam sama dengannya baru saja menutup pintu apartemen yang bersebelahan dengan miliknya.

"Hm?!" pemuda itu menatap kearah Baekhyun. Tidak terlihat terkejut seperti Baekhyun, pemuda itu justru dengan santai mengambil roti dari mulutnya sebelum menyapa Baekhyun dengan senyum cerahnya. "Pagi, Baek."

Baekhyun masih saja terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Berulang kali dia meyakinkan dirinya kalau dia tidak salah melihat orang.

"K-kau.. kenapa bisa ada disini?" Menunjuk Chanyeol. Entah kenapa otaknya masih belum bisa mencerna dengan baik apa alasan pemuda tersebut ada disana.

Chanyeol sedikit mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Baekhyun. "Aku tinggal disini. Jadi wajar saja kalau aku ada disini."

"Ha?! Ja-jadi kau tetangga baru itu?" ucap Baekhyun sedikit melengking aangking kagetnya.

Dia memang belum sempat menyapa tetangga barunya karena terlalu sibuk dengan kegiatan disekolah. Tapi, dia benar-benar tidak menyangka kalau tetangga barunya adalah Chanyeol. Cobaan apa lagi ini?! Astaga.

"Astaga, Baek. ini masih sangat pagi. Kau mau membangunkan tetangga yang lainnya. Ayo berangkat."

Baekhyun hanya diam saat Chanyeol menariknya menuju lift. Bahkan saat mereka sudah berada di dalam lift pun, ia masih terkejut dengan pernyataan Chanyeol tadi. Bagaimana bisa takdir begitu kejam padanya. Setelah dia dapat bangkit dari perasaannya, mengapa takdir selalu membuat pemuda itu ada disekitarnya? kalau memang ini ujian baginya, ini adalah ujian terberat selain kimia, fisika dan matematika.

"Hey! Tak perlu sekaget itu."

Baekhyun dapat merasakan tarikan pada lengannya. Ah... ternyata mereka sudah sampai di lantai dasar.

"Berangkat bersama saja. Kebetulan hari ini mobilku sudah selesai di service." Ajak Chanyeol masih menggenggam lengannya. Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, Baekhyun mengerutkan alisnya merasakan tatapan Chanyeol padanya. Dia sudah memakai seatbelt dan tidak ada yang aneh dengan dandanannya hari ini. Lalu apa yang sedang ditatap pemuda itu?!

Menoleh. Menatap Chanyeol. "Ada apa?"

"Tidak." Chanyeol menggeleng sekilas dan berhenti menatapnya. Tanpa memberi penjelasan satu pun, Pemuda itu malah menyalakan mobilnya.

"Dasar. Aneh." Gumam Baekhyun, mencoba mengabaikan pikiran yang tidak-tidak. Dia harus ingat kalau mereka hanyalah teman. Tidak boleh ada pikiran yang berlebihan.

Selama di perjalanan tidak ada satu pun percakapan di antara mereka. Chanyeol terlihat serius dengan kegiatannya, sedangkan diriny

bingung dengan apa yang akan dia lakukan, selain duduk tentu saja. Ingin memulai percakapan tapi apa yang akan dikatakannya? Basa-basi bukanlah pilihan yang bagus menurutnya. Itu hanya akan menunjukkan kalau sejak tadi dirinya sedang berusaha mencari topik namun gagal. Tidak. Dia ingin terlihat natural. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya di depan Chanyeol.

"Kau sudah sarapan?"

Dengan cepat Baekhyun menoleh menatap Chanyeol. Akhirnya Chanyeol mengajaknya berbicara juga.

"Belum."

"Kalau begitu kita mampir ke supermarket sebentar."

"Untuk apa? Bukankah kau sudah memiliki roti."

"Menurutmu untuk apa kita kesana?" Chanyeol mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Baekhyun.

"Entahlah." jawab Baekhyun tanpa berniat untuk berpikir sebelumnya.

"Baek, ku sarankan kau harus segera sarapan." Kekeh Chanyeol.

"Ha?!" Baekhyun semakin tidak mengerti melihat tingkah Chanyeol yang terus terkekeh. Ada apa dengan pemuda ini?

.

.

.

T.T.F

(Today, Tomorrow, Forever)

.

.

.

-Srek-

"Selamat pagi." Salam Zitao memasuki ruang kelas dengan wajah yang terlihat masih sangat mengantuk.

"Ah, untung ada kau, Zi." Irene menghampiri Zitao. "Bisa aku minta tolong padamu?" Zitao mengangguk sebagai jawaban. "Joy menghubungiku barusan. Dia membutuhkan satu orang untuk membantunya membawa kostum. Bisa kau menyusulnya kesana?"

"Memangnya dia ada dimana?" tanya Zitao dengan sesekali menguap.

"Ada diruang kesenian. Tapi, apa bisa aku minta tolong satu hal lagi?" cengir Irene. "Bisa kau bawakan ini ke ruang osis terlebih dahulu? Berhubung kau akan melewatinya."

"Boleh." Mengambil setumpuk berkas entah apa isinya. Zitao tidak berminat untuk mengetahuinya.

"Terimakasih, Zi. Kau letakkan saja itu di meja ketua."

"Oke."

Dengan langkah sedikit gontai Zitao berjalan menuju ruang osis. Untung saja seluruh lampu disekolah masih dinyalakan. Kalau tidak mana mungkin dia akan berani berkeliaran sepagi ini di sekitar sekolah sekalipun sudah banyak siswa yang datang.

Saat berada di depan pintu ruang osis, tanpa permisi Zitao membuka pintu itu dan langsung memasukinya. Zitao sedikit mengalami kesulitan saat mencari meja sang ketua osis. Tidak ada satu pun nama atau identitas dari masing-masing meja. Terlebih lagi dia tidak pernah menjadi anggota osis dan masuk kedalam ruangan ini. Bisa dikatakan ini pertama kalinya dia masuk keruangan ini. Wajar saja dia seperti orang bodoh di dalam sini.

Baru saja dia akan mengambil ponselnya untuk bertanya pada Irene, sebuah suara berat seorang pemuda sangat mengagetkannya.

"Kau sedang mencari meja ketua? Meja yang memiliki banyak berkas, itu mejanya." Suara itu terdengar tidak jauh di belakangnya.

'Sial!' batin Zitao kesal. "Terimakasih." Beruntung mulutnya sedang menjadi anak baik saat ini. Kalau tidak bisa saja dia merutuki orang yang sudah membantunya itu. Tanpa berniat melihat siapa orang yang sudah mengagetkannya, Zitao berjalan ke meja yang disebutkan orang itu.

Rasa iba tiba-tiba muncul saat melihat meja yang sudah penuh dengan berbagai macam berkas. Padahal hanya menjadi seorang ketua osis, tetapi harus berhadapan dengan berkas sebanyak dan setebal ini. Ayahnya saja yang seorang direktur bahkan sangat jarang berhadapan dengan berkas sebanyak ini di kantornya.

"Terimakasih informasinya." ucap Zitao langsung membungkukkan badannya tanpa melihat siapa orang itu.

"Kau benar-benar sudah lupa padaku ya?"

-DEG-

Zitao seketika menegakkan badannnya menatap terkejut orang yang tidak jauh berada di depannya. Tatapan tajam itu seketika membekukannya ditempat. Bagaimana bisa dia tidak mengenali suara itu?! dia bahkan sudah berterimakasih sampai dua kali pada orang itu. dimana dia telah bersikap baik padanya. Shit!

"Sepertinya dugaanku tidak sepenuhnya benar. Kau ternyata masih mengingatku." Senyum pemuda itu, namun terkesan dingin. "Hai, Panda. Lama tak berjumpa."

Dada Zitao semakin sesak mendengar sebutan yang sudah lama tidak pernah di dengar olehnya. Terlebih lagi pemuda ini yang mengucapkannya.

"Jangan bertingkah seperti kau akrab denganku. Aku bahkan tak mengenalmu." Dengan sekuat tenaga Zitao memasang wajah datarnya membalas tatapan tajam itu. Sudah saatnya dia untuk berubah. Dia harus bisa menjadi Zitao yang tegar, tidak akan lagi menghindar dari kenangan pahitnya.

"Baiklah. Kalau maumu seperti itu. Aku akan melakukannya." Bersadar pada meja dibelakangnya, pemuda itu menaikkan sebelah alisnya menatap Zitao.

Emosi Zitao seketika memuncak. Ucapan itu terdengar seolah-olah menuduh Zitaolah yang sudah memulai keadaan menjadi seperti ini. Apa pemuda itu sedang lupa ingatan kalau ini semua karena perbuatannya atau otaknya sudah rusak sampai tidak bisa mengingat dengan benar?!

"Ku rasa kau masih memiliki otak yang baik untuk mengingat siapa tokoh utama dalam alur ini. Aku, hanya mengikuti alur yang dia berikan selama ini. Jadi, aku tidak suka dengan ucapanmu barusan yang seolah-olah menuduhku yang memulainya."

Zitao sungguh terkejut mendengar suaranya saat ini yang begitu tenang namun terkesan sangat dingin disaat emosi memuncak sudah melingkupinya. Terlebih lagi dia masih dapat bertahan membalas tatapan itu walaupun jantungnya sudah berdegup tidak karuan.

Tidak ingin semakin menyiksa dirinya untuk berlama-lama diruangan ini bersama dengan orang yang tidak pernah diharapkannya. Zitao berlalu bergitu saja tanpa telihat tergesa-gesa. Langkahnya begitu tenang seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya diantara mereka.

Zitao sungguh kagum akan ketegaran yang dimilikinya. Ternyata usahanya selama ini tidaklah sia-sia, walaupun jantungnya masih saja berdegup tidak karuan menatap wajah tampan itu, tapi ini sebuah kemajuan yang besar untuknya.

Baekhyun harus segera mengetahui hal ini. Dia tidak sabar melihat tanggapan yang akan dikeluarkan sahabatnya nanti setelah mendengarnya. Baekhyun pasti tidak akan mempercayai ini.

Tapi...

Bagaimana bisa dia menceritakan hal ini kalau mereka saja belum berbaikan sampai sekarang. Mendesah dalam langkahnya. Mungkin sudah saatnya dia melupakan egonya. Kalau tidak pernah ada salah satu yang mengalah, persahabatan yang sudah lama mereka jalin bisa saja benar-benar akan hancur. Zitao tidak mengharapkan hal itu terjadi.

.

.

.

T.T.F

(Today, Tomorrow, Forever)

.

.

.

-Srek-

"Apa kalian sudah selesai dan- wuaaa... apa-apaan ini? kalian menyewa hantu sungguhan?!" Pekik Irene terkejut.

"Apa kau yakin kalau kami akan menyewa yang sungguhan?!" Kekeh Zitao terdengar sangat dipaksakan.

Baekhyun yang menyadarinya, ingin sekali menjahili sahabatnya itu. Dia tahu saat ini Zitao sedang menahan rasa takutnya. Keadaan yang memaksanya untuk tetap berada disini, membuat gadis itu mau tidak mau harus menahan rasa takutnya. Tanpa disadari, ternyata dia sudah terkikik kecil ditempatnya mengingat beberapa ekspresi yang akan di keluarkan Zitao saat dia mengerjainya.

"Ya! Berhenti tertawa seperti itu. sangat mengerikan kau tahu." Rajuk Zitao.

Baekhyun cukup terkejut mengetahui Zitao mau berbicara padanya. Apa gadis itu tidak menyadari kalau itu dirinya? Ah, tentu saja. Dengan tampang yang seratus persen berubah seperti ini wajar saja jika Zitao tidak akan mengenalinya.

"Kalau sudah siap. Segera bersiap. Tiga puluh menit lagi stan akan dibuka." Ucap Irene melihat jam tangannya.

"Baik." Jawab semua orang yang berada diruangan itu.

.

.

.

"Ya! Chan, berhenti bermain-main." Omel Irene pada Chanyeol. "Maaf ya kakak-kakak adik-adik yang cantik. Anak ini harus bekerja." Irene segera menarik kerah Chanyeol keluar dari kerubungan para gadis.

Saat mereka sudah jauh dari kerubungan itu.

"Hey, jangan berpikir tadi itu karena keinginanku." Ucap Chanyeol saat Irene melepas genggamannya pada kerah bajunya.

"Ku rasa kau cukup menikmatinya."

"Apa? Kau tadi tidak melihat wajahku. Apa wajah bingung seperti tadi kau bilang menikmati? Dasar kau ini."

"Iya, iya, aku tahu. Ini..." Irene memberikan Chanyeol beberapa lembar uang?.

"Ada apa ini, kau baik sekali padaku." Chanyeol mengangkat alisnya sebelah menerima uang tersebut.

"Itu bukan untukmu, bodoh. Tolong belikan dua kardus air mineral dan beberapa cemilan." perintahnya tak terbantahkan.

"Ha? Kau yakin hanya menyuruhku sendirian?"

Irene mengangguk. "Tentu saja. Semua sedang sibuk dan yang ku lihat hanya kau saja yang senggang. Jadi, tolong ya." Senyum Irene jahat meninggalkan Chanyeol.

"Ya! Irene. Kau jahat sekali padaku." Teriak Chanyeol dengan wajah memelasnya yang sengaja diabaikan oleh Irene. "Aish! Dasar gadis jahat."

.

.

.

Matahari telah berada dipertengahan singasananya dan semakin kuat memancarkan pesonanya. Tidak heran jika beberapa orang yang berada diluar ruangan kebanyakan mekakai topi atau pun kipas untuk sedikit menyejukkan tubuh mereka. Walaupun cuaca siang ini begitu terik jumlah pengunjung justru semakin meningkat. Tidak heran jika beberapa stan cukup kewalahan. Seperti yang terjadi pada kelas Baekhyun.

Baekhyun sangat senang mengetahui banyak pengunjung yang rela mengantri panjang untuk dapat masuk ke dalam rumah hantu yang kelasnya ciptakan. Tapi, kalau boleh jujur dia cukup gerah dengan kostum putih panjang yang dipakainya bersama rambut sambung panjang sepinggul yang sengaja menutupi separuh wajahnya. Belum lagi makeup tebal yang memberatkan wajahnya. Menyenangkan tapi cukup menyiksa. Batinnya.

Baekhyun melihat ponselnya dan mendesah legah saat menerima pesan dari sang ketua kelas. Keluar dari persembunyiannya. Dia melangkah menuju ruangan yang disediakan untuk tempat beristirahat.

"Hah! Ternyata sangat melelahkan."

"Ya, ku kira menjadi hantu tidak terlalu melelahkan. tapi diluar dugaan." ucap seseorang yang berada disampingnya.

Walaupun sesama hantu, Baekhyun cukup bingung siapa orang yang berada dibalik kostum dan dandanan itu. Mereka benar-benar berubah seratus persen. Baekhyun mengangguk sembari tersenyum menanggapi ucapan orang disampingnya.

-Srek-

"Yang haus... Yang haus..." Chanyeol memasuki ruangan itu dengan satu kardus minuman dingin digendongannya.

"Akhirnya..." Seru beberapa penghuni ruangan.

Baekhyun terkekeh melihat Chanyeol yang sedikit kewalahan menerima kerubungan hantu-hantu yang sedang kehausan. Entah apa yang diucapkan pemuda itu dalam gerutuannya, Chanyeol terlihat sudah meletakkan kardus itu diatas meja dan memilih keluar dari kerubungan dengan sebotol air mineral dingin ditangannya.

Kembali menutup matanya menikmati kipasan diwajahnya, Baekhyun tidak menyadari kalau Chanyeol sudah duduk disampingnya dan menatapnya. Tersadar ada yang sedang menatapnya, Baekhyun menghentikan kegiatannya sembari menoleh.

"Kau sudah bekerja sangat keras." Senyum Chanyeol. "Ini... aku tahu kau pasti kehausan." Chanyeol memberikan sebotol air mineral dingin ditangannya.

'Dia memang selalu baik pada siapa saja.' Batin Baekhyun saat meminum air mineral itu. Memang benar dirinya sangat haus saat ini. Lihat saja air itu sudah habis setengah dalam sekejap.

"Kau benar-benar sangat haus ya?" Kekeh Chanyeol. "Bagaimana? Apa tadi sangat menyenangkan? Bahkan teriakan pengunjung sampai terdengar dari luar. Sepertinya kau memang berbakat menjadi hantu, Baek."

-Uhuk-

Baekhun tersedak dalam minumnya. Bagaimana bisa Chanyeol langsung mengenalinya?

"Astaga. Kalau minum pelan-pelan, Baek." Chanyeol mengelus-elus pundaknya. Pemuda itu juga sudah mengambil kotak tissue yang berada di atas meja dan mengelap secara perlahan sudut bibir dan dagu Baekhyun yang basah.

"A-aku baik-baik saja." Mengambil alih tissue yang berada di tangan Chanyeol. Dia tidak ingin pemuda itu tahu degup jantung yang dirasakannya saat ini.

"Kau yakin sudah tidak apa-apa?"

"Hm.." Angguknya. "Chan, bagaimana kau tahu kalau ini aku? Ku yakin orang-orang tidak akan mudah mengenali siapa yang berada dibalik kostum ini."

"Mungkin itu tidak berlaku padaku. Mau kau memakai topeng sekalipun, aku dapat mengetahui dengan mudah yang mana dirimu. Karena itu kau Baekkie. Kau berbeda dimataku." Senyum Chanyeol begitu tulus menatap Baekhyun.

Sialan Chanyeol. Pemuda itu bukan menenangkan degup jantungnya, justru semakin membuatnya berdetak tidak karuan. Harus Baekhyun akui, dia merasa senang mendengar perkataan Chanyeol barusan seakan dia orang yang cukup spesial bagi pemuda itu.

Sial!

Apa yang baru saja dia pikirkan. Mungkin tidak seharusnya mereka kembali berteman. Pemuda itu bisa saja meruntuhkan semua usahanya selama ini. Dia tidak boleh kembali masuk ke dalam lubang yang sama.

Segera beranjak dari bangkunya, Baekhyun dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan.

Terhenti.

Dia merasakan sebuah genggaman hangat menghentikan langkahnya. Tidak perlu lagi menebak siapa orang yang melakukan itu, Baekhyun memilih diam tanpa menoleh kebelakang.

"Ada apa, Baek?"

Terlihat sedikit kekhawatiran dari wajah Chanyeol saat pemuda itu berada di depannya.

Apa pemuda itu baru saja menyadari kesalahannya? Tidak mungkin. Dia bukan orang yang seperti itu.

Melepas genggaman itu. Baekhyun meyakinkan dirinya kalau keputusannya adalah yang terbaik. Sudah seharusnya seperti ini.

"Sebaiknya kita tidak perlu berteman lagi."

.

.

.

TBC

Special Thanks buat yang udah mau coment di Chapter kemarin^^

Aiko Vallery || yousee || erry-shi || LVenge || Baekkiechuu || Guest

Semoga Chapter ini masih ada yang mau baca *Hiks*

See you next time^^

Ditunggu kritik dan sarannya ya

Terimakasih