THIS IS NOT LOVE

By: vAither

Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

WARNING: OOC, Gajhe, Modified Canon, Slighty Yaoi (dan ga menutup kemungkinan berubah rating jadi M), Entah mengapa jadi Plot Twist (menurut saya).

Chapter 2:

▓I Did Know You.▓

"Ah, rencanaku gagal!" Phanter menepuk dahinya pelan. "Aku padahal berniat untuk menyembunyikan Hiruma agar menjadi kejutan bagi kalian berdua," nada penuh kekecewaan terdengar dari setiap kata yang ia ucapkan. "Tapi kalian malah bertemu lebih dulu."

Hiruma hanya menatap Phanter dengan ujung mata hijaunya malas. Sedangkan Sena terdiam, ia masih terlalu shock sejak mendengar kenyataan mengenai Hiruma. Sena pun tidak menyadari bahwa jika sedari tadi, si pemilik manik zamrud itu sedang memandangnya.

"Sebenarnya kami sudah bertemu pagi ini," Hiruma membuka suara setelah menghembuskan napas panjang. Dan ia tiba-tiba menerima kuncian leher dari lengan Phanter yang masih setia beristirahat di atas bahunya.

"EEEH?!"

"H-Hei! Kau mencekikku!" ujar Hiruma kala ia berhasil terlepas dari kuncian maut Phanter. Ia mengelus lehernya yang menjadi korban. "Ya, kami bertemu. Kami bahkan tinggal bersebelahan. Tapi, tampaknya orang ini tidak mengenaliku," Hiruma mengarahkan ibu jarinya pada Sena.

"A-aku?" Sena, si tertuduh yang sedari tadi bergeming akhirnya angkat bicara. Sang runningback kebanggaan negeri sakura mengalihkan pandangan pada kedua kakinya, berusaha menghindari kontak mata dengan manik hijau yang sedang menatapnya penuh intimidasi.

Walau sedang tidak melihat ke arah dua pemain San Antonio Armadillos itu. Sena yakin bahwa saat ini Phanter melangkahkan kaki jenjangnya untuk menghampirinya dan mungkin dengan senyum lebar terpasang di wajahnya. Selanjutnya, Eyeshield 21 itu merasakan tepukan di bahu kirinya. Hal itu sukses membuatnya kembali meluruskan kepalanya yang tertunduk.

Tebakan Sena ternyata 100% salah kala ia mendapati Hiruma Youichilah yang menghampiri dirinya. Bukan dengan senyuman, tetapi dengan wajah yang menunjukkan keseriusan seorang Hiruma Youichi. Seketika itu juga Sena langsung menepis jemari yang berada di pundaknya. Tanpa ia sadari, ia melangkahkan kakinya mundur menjauh dari orang itu.

Hiruma hanya tersenyum miring melihat pergerakan Sena. Senyum yang sangat berbeda dengan seringaian yang biasa Hiruma tunjukkan. "Apa aku sebegitu menakutkannya?"

Phanter menggangkat bahunya. "Kau memang menakutkan, Hiruma," cerocos Phanter menanggapi perkataan Hiruma. "Dibandingkan yang dulu, kurasa dirimu yang sekarang jauuuuh lebih menakutkan." Pria afro-america itu hanya bisa tertawa garing kala ucapan, "aku tidak perlu pendapatmu," keluar dari mulut Hiruma.

Sena benar-benar tidak menyangka bahwa efek kedatangan Hiruma Youichi terhadap dirinya akan berimbas sebegitu parah. Saat ini ia merasa sekujur tubuhnya bergetar hanya karenanya. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, tapi ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk sekedar membuka mulutnya dan berpamitan.

"Tenang saja, aku tidak akan menyerangmu..." Si pemain bernomor punggung 1 itu mengeratkan helmnya sebelum memakai sarung tangan miliknya. Ia tersenyum sebentar lalu berkata, "Namun, ada pengecualian jika kita bertemu di atas lapangan."

Melihat Sena yang meneguk ludahnya gugup mengundang tawa sinis keluar dari bibir tipis Hiruma. "Kau benar-benar berbeda dengan yang orang lain katakan padaku, Kobayakawa-san..."

Eh.

.

Yang orang lain katakan?

.

Orang lain?

.

Katakan?

.

Kobayakawa?

.

-san?

.

Tu—

"Tunggu dulu!" Sena buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat kala pikirannya malah berkonversi menjadi suara yang cukup keras untuk membuat dua pasang bola mata itu kembali tertuju padanya. Ia menampar pipinya dengan kedua tangannya keras serupa dengan yang sering sahabatnya, Monta lakukan. Jelas saja, ia sangat merutuki kebodohan yang ia lakukan itu.

"Kau kenapa, Sena?"

Itu suara Phanter.

"Tch, selain penakut, eyeshield 21 itu aneh, yah?"

Sena ingin menghilang saat ini juga.

Apa para penemu sudah menemukan alat yang bisa mengabulkan keinginan Sena yang bisa dibilang cukup mustahil itu?

Kalau sudah, percayalah, Sena adalah orang pertama yang akan membeli alat itu agar dirinya dapat segera pergi dari situasi yang tak mengenakkan ini.

Tapi, entah mengapa Sena sekarang tidak lagi bergetar ketakutan di depan Hiruma Youichi. Ia takut, ia masih takut dengan Hiruma Youichi. Ia tidak bisa mengelak dari fakta itu.

Namun, ketakutannya itu berkurang. Ia dapat merasakannya. Dengan amat jelas ia dapat merasakan ketakutannya mulai berkurang karena ia dapat sedikit mendongakkan wajahnya hanya untuk menatap tampang rupawan sang mantan kapten Deimon Devil Bats.

Ia tahu sangat ketakutannya itu saat ini berubah menjadi rasa penasaran.

Rasa keingintahuan yang mendalam.

▓I Did Know You▓

Dan untuk kesekian kalinya, Sena kembali masuk ke dalam pikirannya sendiri. Melupakan keberadaan sekitarnya. Dengan mata coklat hazel yang memandang lurus ke arah seseorang berseragam american football dengan nomor punggung 1.

Sena sangat mengenal Hiruma Youichi.

Sosok yang dikenalnya selama hampir 10 tahun lamanya.

Pria berambut pirang jabrik setengah iblis. Lalu telinga runcing dengan dua piercing di tiap telinga. Seniornya di SMA Deimon yang sering terlihat membawa senapan berlaras panjang dan terkenal akan ancamannya yang tertulis dalam buku catatan bersampul hitam. Quarterback licik dengan segala trickplay andalannya, seorang kapten yang memiliki kewibawaan yang unik. Orang pertama yang menyadari bakat terpendam Sena. Cinta pertamanya.

Namun, Hiruma Youichi yang tengah berdiri angkuh di hadapannya.

.

.

.

.

.

Ia sama sekali tidak mengenalnya.

Orang di hadapannya adalah sosok yang amat berbeda dengan Hiruma Youichi yang selalu berkeliaran dalam benaknya. Berbeda dengan pria yang selalu muncul dalam setiap mimpinya.

Walau mereka memiliki mata hijau menawan yang sama, wajah yang mirip, telinga dan gigi yang juga runcing. Tapi perawakan serta gaya mereka sangat berbeda.

Pria di hadapannya jelas memiliki tinggi yang jauh lebih semampai dengan Hiruma Youichi yang dikenalnya. Tangannya tidak memegang senapan maupun buku ancaman bersampul hitam. Rambutnya tidak pirang jabrik tapi hitam sekelam jelaga berpotongan undercut nan rapi. Tidak ada piercing di telinganya. Seringai licik pun berubah menjadi senyuman miring misterius yang terlihat menutupi sesuatu.

'Mereka sangat berbeda, tapi juga mirip secara bersamaan.'

Hiruma menunduk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sena. "Lagi-lagi kau menatapku seperti itu."

Sena menatap Hiruma lurus ke matanya, "Kau bukan Hiruma Youichi, 'kan." ia mengatakannya dengan kepercayaan diri. Ia sangat yakin dengan dugaan yang diucapkannya. Walau ia harus sekuat tenaga menahan dentuman gugup karena manik hijau –yang sialnya— menawan yang balik menatapnya. Ia bahkan menggunakan kalimat pernyataan bukannya pertanyaan.

"Kau benar...," Hiruma lagi-lagi menunjukkan senyumnya setelah menegapkan badannya kembali. "Aku bukan Hiruma Youichi." Ia berjalan melewati Sena dan mengambil langkah keluar dari ruang loker anggota.

Bibir Sena tertarik ke atas. Phanter menaikkan sebelah alisnya bingung.

Hiruma menghentikan langkah kakinya sesaat sebelum ia mencapai ambang pintu. "Aku bukan Hiruma Youichi," ia mengulang perkataannya. Kepalanya menoleh ke belakang dengan wajah serius ia berkata, "Tapi, Youichi Hiruma."

Sena memiringkan kepalanya, "Heh?"

Hiruma terkikik. "Kita di Amerika, orang-orang disini menyebut nama mereka di awal nama keluarga mereka, Sena Kobayakawa," katanya dengan menahan kikikan yang makin menjadi. "Kau lucu, Kobayakawa-san." Ia kemudian mengangkat tangannya memanggil rekan seprofesinya, "Phanter, Let's go!"

"Oh... Y-Yes!" Phanter segera mengekori Hiruma keluar dari ruang ganti.

"Aku yakin kau tidak mengerti dengan apa yang kami ucapkan," Hiruma berucap setengah tertawa.

Phanter –dengan polosnya—mengangguk. "Tentu saja!" kesalnya, alisnya yang saling berkerut semakin membuktikan kekesalannya. "Kalian mengobrol dengan bahasa Jepang yang belum aku mengerti!"

Merekapun berjalan keluar meninggalkan Sena yang menatap kepergian mereka dengan tatapan kosong.

"Dia... Hiruma Youichi."

▓I Did Know You▓

Sena saat ini terduduk di bangku penonton menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya tidak lepas dari orang yang mengaku-ngaku sebagai Hiruma Youichi. Atau lebih tepatnya tidak bisa lepas. Ia terlalu terfokus dengan pria itu.

"Kau datang Sena?"

Sena melebarkan matanya melihat orang yang datang dan menempati kursi di sebelahnya. "Shin-san," panggilnya pada rivalnya semasa SMA dan kuliah.

"Pertandingan Armadillos dan All-stars masih belum 'kan? Kau melakukan tugas pengintaian terlalu cepat."

"Kita bahkan belum melakukan draw untuk musim ini, Shin-san."

"Lalu untuk apa kau ada disini?"

"Phanter menyuruhku untuk datang ke sini," jelas Sena yang dibalas anggukan Shin.

"Itu sudah pasti menyangkut Hiruma."

Kali ini Sena yang mengangguk mengiyakan. "Phanter terlalu bersemangat untuk memamerkan Hiruma-san padaku."

"Lebih tepatnya ia selalu bersemangat."

Sena tertawa kecil menanggapi perkataan Shin yang menurutnya lucu. "Kau benar."

"Tapi kau perlu tau satu hal mengenai Hiruma, Sena."

Tawa Sena terhenti kala Shin akan mengatakan sesuatu yang nampaknya mesti ia dengar. Mata Sena menatap Shin yang menatap ke arah Hiruma. Membuatnya juga menaruh perhatian penuh pada Hiruma.

"Hiruma yang kau lihat saat ini jauh berbeda dengan Hiruma yang selama ini kau kenal."

Bulir-bulir keringat dingin mengaliri pelipis Sena kala ia melihat Hiruma. Sena Tentunya mengingat bahwa Shin adalah seseorang yang berkata berdasarkan fakta yang ia telah lihat dan analisis sebelumnya.

Linebacker bernomor punggung 40 menghela napasnya. "Kami seharusnya tidak membocorkan keberadaan Hiruma padamu terlebih dahulu." Shin melemparkan punggungnya ke belakang, ia terlihat cukup kesal.

Sena melompat bangkit dari tempatnya duduk berjalan ke arah bangku penonton terdepan agar dapat menangkap gerakan Hiruma dengan lebih jelas. Matanya terbelalak bahkan enggan untuk berkedip barang sekejap. Seolah apa yang ia lihat saat ini harus ia serap masuk ke dalam memori otaknya.

"D-Dia bukan Hiruma Youichi, bukan?"

Keterkejutan Sena tak berakhir sampai itu. Masih banyak hal-hal baru yang ia lihat mengenai Hiruma yang tak ia kenal ini. Yang bisa membuat mulutnya mengering karena terlalu lama menganga dalam kekaguman.

"BERHEEEEENTIIIII!"

Suara teriakan memenuhi stadion pribadi San Antonio Armadillos. Seorang pria berambut afro dengan pakaian yang serba berkilauan tiba-tiba muncul entah darimana. Ia berlari kemudian dengan cepat menjawit telinga Phanter hingga membuatnya meringis dalam kesakitan.

"Sakiiit!" ujar Phanter dengan repetisi tiap 2 detik.

Itu pelatih tim San Antonio Armadillos, Morgan. Ia menyabotase latihan Phanter dan Hiruma.

"Sudah kubilang hari ini latihan diliburkan! APA KAU TULI?!" Ia menjerit tepat di telinga Phanter.

Phanter bergidik. "No, Sir!" katanya bagai prajurit disertai tangan kanannya yang ditempelkan ke pelipisnya membentuk sikap hormat. "Tapi mungkin akan jika kau terus berteriak tepat di telingaku, sir."

"BOOOODOOOOOH!" Morgan langsung menarik paksa Phanter keluar dari lapangan.

Hiruma melepas helmet lalu memijat kepalanya melihat kelakuan kedua mahluk berkulit hitam di dekatnya yang memperparah keadaannya yang masih didera jetlag. Ia pun akhirnya ikut berjalan keluar dari lapangan.

Shin berdiri dan menghampiri Sena, "Latihannya sepertinya sudah dihentikan." Sementara itu, pria berambut kecoklatan merasa kecewa saat dirinya tidak bisa lagi melanjutkan menonton acara latihan anggota terbaru San Antonio Armadillos.

▓I Did Know You▓

"Sepertinya kita membutuhkan bahan makanan, kau bisa membelinya untukku, 'kan?"

Itu suara nenek cerewet yang seenaknya saja saat ini menyuruhku layaknya anak kecil. "Aku belum terlalu hapal daerah ini," Yah, seperti yang kalian lihat aku menolaknya. Walaupun begitu...

"Nanti akan aku e-mailkan bahan-bahan makanan yang harus kau beli."

Nenek kurang ajar.

"Kenapa tidak kau saja yang pergi berbelanja?" keluhku dengan sedikit kesal dengan kelakuannya yang semena-mena. Padahal aku sangat yakin ia sedang tidak melakukan apa-apa di apartemen sekarang! Kenapa ia harus menyuruhku, sih!

"Ma-la-s...," ia berucap singkat, aku mendesah. "Aku akan membuatkanmu makan siang dan makan malam sebagai gantinya, okay?" Dasar nenek-nenek banyak alasan.

"Itu memang tugasmu," balasku sembari berjalan menuju mobilku yang terparkir di depan stadion. "Sudah kubilang, aku tidak tau jalan. Kau mau aku tersesat dan tidak bisa kembali lagi?"

Aku mendengar suara tertawanya, dan tertawanya itu pastinya bukan dikarenakan ucapanku.

"Maaf, acara TVnya seru sekali. Kau bilang apa tadi?"

Nah, ia sedang asyik bersantai di depan TV! Menyebalkan!

"Aku tidak mengenal daerah ini dan tidak mau ambil resiko akan tersesat di New York," tegasku perlahan. "Aku kembali ke apartemen dan kita pergi bersama, bagaimana?" usulku sebelum masuk ke mobil.

"NO! A-ku ma-la-s, Youi-chan..."

Usulku ditolak mentah-mentah. Dan ia kembali bertingkah seperti nenek-nenek lagi. "Kau ada dendam denganku, ya?" Si nenek hanya tertawa "Tepat sekali... Aku memendam banyak dendam padamu, Youi-chan! Dan kau harus menebus semuanya!" katanya sebelum ia mendeham panjang seolah berpikir keras.

"Bagaimana kalau kau minta teman satu klubmu untuk menemanimu berbelanja? ide brilian!"

Menjijikan. Ia memuji dirinya sendiri.

"Baiklah," aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapannya agar aku bisa bersantai di rumah. New York pada musim panas tak jauh berbeda dengan tinggal di neraka.

"Kau bisa ajak temanmu untuk makan bersama di apartemen kita. Aku akan masakkan masakan Jepang hari ini."

Aku menyunggingkan senyum tanpa sadar. Ia benar-benar seperti nenek-nenek 'kan. "Ah, baguslah. Aku rindu makan dengan sumpit."

"Tidak jadi! Kita makan gratin saja! WEEEE!"

Tuuut—

"Ia memutuskannya sepihak..."

Saat ini, Phanter, Shin dan Yamato masih berada dalam stadion. Dan nampaknya perasaan malas si nenek menular padaku hingga aku enggan turun dari mobil dan mengajak salah satu dari mereka menemaniku berbelanja di supermarket.

Tapi dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Aku langsung menjalankan mobilku saat mataku menangkap pria bertubuh mungil yang baru saja keluar dari stadion. Dengan cepat mencegatnya dengan memberhentikan mobilku tepat di depannya. Ia jelas kaget tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu.

Aku membuka kaca mobilku dan menatapnya yang menatapku heran. "Aku butuh bantuanmu, Eyeshield 21-san."

▓I Did Know You▓

Kepalaku terasa berat. Musim panas kali ini suhu di New York mencapai 40◦ mungkin itu penyebab mengapa kepalaku terasa berat. Heat Stroke. Aku harus cepat-cepat memanggil taksi atau namaku akan muncul di headline koran besok pagi.

"SEORANG ATLET AMERICAN FOOTBALL DITEMUKAN TIDAK SADARKAN DIRI DI KANDANG LAWAN"

Seperti itu...

Sesaat setelah aku keluar dari stadion, sinar terik matahari langsung menerpa tubuhku. Aku harap aku masih sanggup berjalan keluar untuk mendapatkan taksi.

Baru beberapa detik aku melangkahkan kakiku. Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti menghadangku tiba-tiba. Sekejap kemudian, helaian sewarna dengan body mobil muncul melongok dari kaca jendela yang terbuka.

"Aku butuh bantuanmu, Eyeshield 21-san."

Aku menunjuk diri sendiri. "B-Ban... Bantuanku?" tanyaku tidak yakin dengan apa yang dikatakannya mulutku bahkan bergetar ketika melontarkan kata itu. "Kau butuh bantuanku?" ulangku kembali.

"Aku butuh bantuanmu," ia menampakkan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Jadi bisakah kau masuk ke mobilku sekarang?"

Aku mengambil langkah mundur. Bersikap Deffensive. Ia hanya tertawa kecil.

"Sudah kubilang aku tidak akan menyerangmu selain di atas lapangan," katanya seakan mencoba meyakinkan diriku yang memang tidak yakin. "Cepatlah, sebelum kau menjadi sehitam Phanter karena terbakar matahari. Kau mau membantuku tidak?"

Aku sejujurnya memiliki banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada orang ini. Apa mungkin dengan mengiyakan ajakannya adalah jalan untukku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mulai memenuhi pikiranku. Kesempatan tidak akan datang dua kali 'kan?

Tanpa berpikir panjang akupun berkata, "Baik."

▓I Did Know You▓

Hiruma palsu ternyata membutuhkan bantuanku untuk mencari sebuah Asian Market di New York. Seorang Hiruma membutuhkan seseorang untuk mencari supermarket? Bukankah itu salah satu bukti bahwa Hiruma yang ada di hadapanku ini Hiruma palsu.

"Jangan terus-menerus melihatku."

Aku memalingkan wajahku segera setelah ia berkata demikian. Namun dalam beberapa saat aku kembali menemukan diriku yang mengarahkan pandanganku pada wajahnya. "Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanyanya yang mungkin risih dengan tatapanku.

Aku menggelengkan kepalaku cepat. "Tidak... Tidak ada," ucapku tapi mataku bertindak berkebalikan dengan ucapanku. "A-Aku... Aku... hanya penasaran."

Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan ia bertanya, "Apa yang membuat dirimu penasaran? Tanyakan saja, tak usah takut."

Kuhirup napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan berharap kegugupanku bisa hilang. Dan kurasa itu efektif. Aku pun berkata dengan keberanian yang sudah terkumpul, "Kenyataan bahwa kau adalah seorang Hiruma Youichi," Aku menghentikan perkataanku sebelum menambahkan. "Tapi kau jelas bukan Hiruma Youichi!"

Walau samar ia kembali menunjukkan senyumannya yang-sangat-bukan-Hiruma-itu-. "Aku Hiruma Youichi. Mau kau tanyakan siapa namaku berapa kali pun. Jawabannya akan tetap Hiruma Youichi. Walau kau bilang aku bukanlah Hiruma Youichi, tapi kenyataannya aku ini dirinya."

Aku mendengus mendengar penjelasannya. "Tapi bagaimana bisa kau tidak mengenalku?"

"Aku mengenalmu. Eyeshield 21 dari Jepang. Runningback dengan kecepatan lari yang melebihi kecepatan cahaya," lagi-lagi ia menjawabnya dengan jawaban yang tidak ingin aku dengar.

"Semua orang tentu mengenalku sebagai Eyeshield 21. Yang kutanya apakah kau mengenal Kobayakawa Sena?" Aku bersikap layaknya seorang investigator yang tengah menginterogasi.

Dan ia tertawa. Tertawa lepas. Yang lagi-lagi terlihat palsu di mataku.

"Kau mungkin orang ke-1000 yang sudah menanyakanku hal itu. Kau tau seorang nenek sudah memaksaku menghapal seluruh jawaban jika ada orang yang bertanya hal seperti itu padaku."

Aku mengernyit.

Tawanya berganti dengan senyumannya lagi. "Aku mengenalmu, Kobayakawa Sena. Sebagai adik kelasku sewaktu SMA. Rivalku sewaktu di Universitas."

Aku menggelengkan kepalaku. "Kau tidak terlihat seperti Hiruma-san yang kukenal, Hiruma-san..."

Apa hormon feminimku terlalu banyak? Karena saat ini mataku terasa hangat oleh karena airmata yang mungkin tergenang di pelupuk mataku. Yang bisa jatuh kapan saja aku menutup mataku.

"Kau jelas menyembunyikan sesuatu, Hiruma-san."

Hiruma masih bersikap tenang walaupun aku terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang seakan-akan menyerangnya.

"Jika saja aku punya sesuatu untuk disembunyikan..." kali ini Hiruma meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. "Tapi aku tidak memilikinya lagi..."

Ia membenturkan kepalanya tiba-tiba ke stir tanpa sebab mengakibatkan klakson berbunyi nyaring. Itu jelas membuatku terkesiap dalam keterkejutan.

Ia menolehkan kepalanya padaku. Ia tidak sedang tersenyum sekarang, wajahnya itu lebih menyiratkan... Entahlah, akupun tidak bisa mendeskripsikannya. Wajahnya menyiratkan segala jenis emosi, kesedihan, tekanan, yang berpadu menjadi satu. Dan itu kembali mengundang airmata turun dari mataku. Hiruma Youichi yang ada di hadapanku terlihat lebih kuat dari pada Hiruma Youichi yang kukenal, tapi ia terlihat lebih rapuh. Bahkan, aku percaya satu goresan kecil dapat merusaknya.

Dia bukan Hiruma yang kukenal. Jadi, aku tidak boleh jatuh hanya karena belas kasihanku padanya. Tapi, jika ia memang benar-benar Hiruma yang asli, aku seharusnya memberikannya tinjuan tepat di wajah tampannya seperti yang kuinginkan.

Jadi, sebenarnya dia siapa?

"K-Kau tidak mengenalku 'kan?"

"..."

"K-Kau juga bukan H-Hiruma Youichi..."

"..."

Ia menarik napas panjang. "Aku Hiruma Youichi. Aku mengenalmu..."

Aku membuka mulut untuk kembali membantah namun suara Hiruma yang mengatakan...

"Aku pernah mengenalmu, Kobayakawa-san."

Membuat suaraku tercekat dan tak sanggup untuk keluar.

Chapter 2:

▓I Did Know You▓

End

THIS IS NOT LOVE!

ToBeCont.

V's Note: Saya cukup puas dengan hasil kerja adek saya yang ngebantuin ngomelin saya karena terlalu banyak ngasih unsur humor yang garing dan gak lucu-lucu amat. (xP) maaf reader sekalian. Ficnya lama di proses editing... Gomen...

Btw saya mo kasih unsur Humor yang diapus tapi dibuang sayang...

'Mereka sangat berbeda, tapi juga mirip secara bersamaan.'

Namun, Hiruma berambut hitam ini jelas lebih menawan di mata Sena. Lihat saja potongan undercut yang ternyata begitu pantas melekat di kepalanya. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan juga berisi benar-benar membuatnya terlihat seperti seorang atlet. Terlebih otot-ototnya yang lebih terbentuk yang dapat terlihat karena seragam yang begitu fit di badannya. Sena... (uuupsss lanjutannya saya malu sendiri *silahkan di khayalin aja bareng Sena yah...*)

Pojok Balesan Review:

Veve: Heleh... heleh... aku juga bingung ngembanginnya gimana, dek...

Veira Sadewa: Sami-sami say~~

CieLavi: Cie... (*gaplok) Whatt?! KIAMAT? Wkwkwkwk! Kalo dikasih spoiler ga seru dong non... wkwkwk baca aja lanjutannya terus khayalin lagi yah wkwkwwk

Kuminosuki: Aku dah lanjutin! Hope you like it! Emang sengaja ngasih tau problemnya di tengah-tengah biar aseeek wkwkwk

Zaky UzuMo: Udaaaah Reviewer and Reader-san! MAACIIIH DIBILANG KEYEEN *JADI TERHARUUUUUU* #CAPSLOCKRUSAK# wwkwkwkwk salam kenal uga

Guest: aduh aduh aduuuuh silahkan berspekulasi yah, aku mah Cuma bisa ngetik demi kesenangan kalian *cieelavi #apahanseh#... Aduh cewek yang ama Sena kagak ada Ndoro, adanya yang ama Hiruma... dan kagak bisa aku dor soalnya dia ada sedikit kontribusi buat ideku! Maacih banyak sayyy...

Ami Satomi: Aku juga maunya gitu (*fujoshi mode: on*) Hmmm... mungkin dibahas di Chapter depan

Maafkan author jika ceritanya kurang berkenan. Tapi dari lubuk hati yang terdalam saya (vAither) bener-bener ingin fic ini jadi hiburan buat kalian untuk sekedar mengisi waktu luang...

SO STAY TUNE! And Love This Fic 3

Jangan lupa yah reviewnya...

BYEEEE~~