Author's note: fanfiksi pertamaku dalam dunia pefanfiksian… Sebenarnya aku 'ga terlalu berharap dengan banyaknya review, readers yang mau meluangkan waktu untuk membacanya saja sudah bikin senang! Tapi lebih baik lagi kalau ada yang review & kasih masukan…

Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo, Fairy Tail milik Hiro Mashima.

Selamat membaca~

Chapter 2

Juushiro Ukitake, Komandan Divisi 13 hampir tak mempercayai fakta-fakta yang diterimanya dalam kurun waktu satu jam terakhir. Byakuya Kuchiki, Komandan Divisi 6 yag melakukan investigasi pada penyerangan Shunsui Kyouraku, yang terjadi malam tadi telah memberitahukan kepada seluruh jajaran petinggi 13 Pasukan Pelindung Komunitas Roh tentang penyebab kritisnya Komandan Divisi 8 itu. Telah dipastikan bahwa penyebabnya adalah serangan reiatsu besar zanpakutou tipe hyousetsu yang kuat, dan sisa reiatsu yang ada dalam es yang masih belum mencair menunjukkan bahwa reiatsu itu milik Hyourinmaru. Satu nama yang muncul sehubungan dengan hal ini tak lain dan tak bukan adalah Toushiro Hitsugaya.

Tak hanya sampai disitu. Salah satu shinigami pembawa pesan memberikan kabar yang sangat mengejutkan, bahwa Tim Pengejar yang dipimpin dua letnan dari Divisi 3 dan 9 telah berhasil melacak jejak Toushiro Hitsugaya. Namun tujuan mereka uuntuk menangkap sang komandan muda itu gagal, karena target mereka melakukan perlawanan dan membuat lebih dari separo tim itu terluka lumayan parah dan sekarang menjadi penghuni barak pengobatan Divisi 4. Dua peristiwa ini memberinya banyak tanda tanya besar yang berkelebat dalam kepala sang komandan Divisi 13. Dua peristiwa itu terjadi pada waktu yang diperkirakan nyaris bersamaan. Bagaimana mungkin Toushiro Hitsugaya bisa berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang bertabrakan, apalagi mengalahkan sekompi shinigami terlatih dan seorang komandan yang lebih senior darinya? Tapi, jelas sekali bahwa korban yang jatuh dari kedua peristiwa itu memiliki penyebab yang sama, serangan yang membekukan tulang dari Hyourinmaru. Jika Toushiro tak mungkin ada dalam dua tempat yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan, mungkinkah jika sebenarnya adalah dua Hyourinmaru pada dua tempat yang berbeda, waktu yang sama, dan ... orang yang berbeda?

Maka Ukitake dan Byakuya mencari tahu tentang kemungkinan ini dengan bantuan informasi dan pengetahuan Komandan Divisi 12, Mayuri Kurotsuchi. Mulanya ilmuan maniak itu ragu dengan spekulasi kedua komandan tamunya, sampai setelah mereka menambahkan informasi yang didapatnya dari Ise Nanao, Letnan Divisi 8 yang menjadi orang terakhir yang bersama komandannya memberi nama Soujiro Kusaka. Ia mulai membongkar arsip lama Seireitei, lalu mencari tahu tentang informasi yang memungkinkan ada hubungannya dengan zanpakutou kembar. Kurotsuchi mengatakan bahwa zanpakuto adalah bagian dari jiwa seorang shinigami, sehingga masing-masing roh zanpakuto memiliki keunikan tersendiri yang terhubung dengan master masing-masing, dan mustahil ada yang menyamainya, bahkan shinigami kembar sekalipun. Bisa deterima jika seorang shinigami memiliki dua roh zanpakuto, atau zanpakuto kembar, contohnya seperti Juushiro Ukitake. Tapi jika sampai ada satu zanpakuto yang dimiliki dua shinigami, ini jelas di luar kewajaran. Sebuah anomali. Dan ini baru kali pertama terjadi.

"Jika kemungkinan itu benar, bahwa ada satu Hyourinmaru yang dimiliki dua shinigami, maka jelas alasan kenapa Centra 46 membuat keputusan yang berisi bahwa hanya boleh ada satu master untuknya. Hyourinmaru roh zanpakuto yang kuat, bisa bahaya jika dua pemiliknya saling bertarung. Aku tak tahu apa persisnya keputusan itu, tapi aku rasa aku bisa memperkirakan kenapa dua shinigami bisa mendapat zanpakuto yang sama."

"Yaitu?" tanya Ukitake.

"Well, kau 'kan tahu Hitsugaya," gerutu Kurotsuchi. "Aku benci bocah sial itu, tapi harus diakui dia lumayan kuat, eh? Dan dia punya reiatsu yang besar. Kudengar dia salah satu dari sangat sedikit shinigami yang sudah bisa mendengar roh zanpakuto dalam inner world-nya sebelum dia masuk akademi. Tapi bahkan sampai saat ini dia masih harus berlatih mengendalikan reiatsunya sendiri."

"Penyebabnya adalah reiatsunya sendiri?" tanya Byakuya.

"Yep. Reiatsu bocah sial itu," Ukitake mengernyit tak suka mendengar umpatan itu, tapi Kurotsuchi pura-pura tak tahu, "terlalu kuat. Saat dia masih di akademi, bisa jadi dia di atas level siswa yang lain. Dan mungkin si Soujiro Kusaka ini temannya, dan mereka dekat. Dan kemudian reiatsu Hitsugaya menekan reiatsu sejati si Kusaka, membuat reiatsu keduanya menjadi memiliki sifat yang serupa, yang kemudian berakibat pada samanya zanpakuto mereka."

Diskusi mereka terhenti saat Nemu, Letnan Divisi 12 masuk ke ruangan itu dengan agak terburu-buru. Mayuri tampak agak tak senang dengan kedatangan putrinya itu, tapi ia tetap menuntut jawaban darinya.

"Reiatsu Komandan Hitsugaya mendadak terdeteksi," kata Nemu datar, tapi itu membuat ketiga komandan yang ada disana langsung memasang tampang waspada. "Reiatsu shinigami asing juga ada di dekatnya, dan kemudian reiatsu Komandan Hitsugaya menghilang."

"Apa?" Ukitake terbelalak kaget.

"Ada reiatsu lain, yang bertekanan lebih tinggi. Kami mengidentifikasinya sebagai reiatsu dari Segel Raja, dan itu bertabrakan dengan reiatsu Komandan Hitsugaya."

"Dia... hilang..." bisik Ukitake tak percaya.

"Tapi Segel Raja tidak bersamanya. Artefak itu masih ada di Dunia Manusia, hanya saja keberadaannya sekarang tidak bisa dipastikan. Oh, dan ada informasi terbaru. Komandan Hitsugaya tidak sepenuhnya hilang. Reiatsunya terdeteksi melintasi batas dimensi. Tapi dimensi yang mana belum diketahui."

"Berikan padaku datanya," peritah Kurotsuchi kasar. Nemu langsung memberikan disket data yang langsung di utak-atik oleh Kurotsuchi. Kedua komandan di belakangnya hanya diam dan mengawasi ilmuan itu bekerja.

"Ya... benar... Reiatsunya melintasi batas dimensi... Lemah, tapi aktif. Sepertinya dia terlalu keras kepala untuk mati, eh?"

Kota Hargeon selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Belum lagi, salah satu kota teramai se-Fiore itu telah dikenal sebagai tempat transit beragai kereta api dari berbagaai stasiun di penjuru negeri, dan juga dermaga yang tak pernah sepi dari kapal. Kesemuanya larut dalam berbagai kepentingan, dari urusan bisins, misi antar penyihir, sampai pariwisata. Di antara keramaian itu, tampaklah serombongan kecil penyihir muda dari serikat sihir yang didaulat sebagai serikat sihir terkuat se-Fiore setelah memenangkan ajang perlombaan antar serikat, Grand Magic Tournament beberapa waktu lalu-walau kompetisi itu tak berakhir senang sepenuhnya karena serangan tujuh naga yang memporak-porandakan ibukota Fiore, Kota Crocos.

Lalu, siapakah para penyihir muda yang melintasi jalanan ramai dengan obrolan yang tak kalah ramai bahkn untuk ukuran rombongan kecil? Merekalah salah satu grup pentolan di Fairy Tail, sekaligus grup ter-nyeleneh yang beranggotakan Natsu Dragneel; remaja laki-laki berambut pink dengan kemampuannya sebagai Fire Dragon Slayer, Lucy Heartfillia; gadis berambut pirang dengan sihir Celestial Spirit, Erza Scarlet, gadis berambut merah dengan kemampuan sihir Requip-memanggil senjata dan armor secara sihir, dan Gray Fullbuster; pemuda dengan kemampuan sihir es. Tentu saja tak lupa dengan Exceed-kucing sihir-berbulu biru bernama Happy. Mereka tampaknya baru pulang dari misi, jika dilihat dari kemana arah mereka berjalan, menuju hutan perbatasan antara Kota Hargeon dan Kota Magnolia.

"Kau kelihatannya tidak senang, Luce," kata Happy pelan, saat mereka memasuki hutan. Lucy dan Happy memang berjalan paling belakang, sementara Erza berjalan di depan mereka dan terhalang lori yang membawa berpeti-peti berisi entah apa yang ditarik oleh si rambut merah. Berjalan paling depan adalah Natsu dan Gary, yang kedengarannya sedang berdebat tentang siapa yang mengalahkan bandit paling banyak saat misi mereka tadi.

Lucy menghela napas. Sebenarnya misi ini direncanakan hanya untuknya sendiri, untuk melatih kemampuan sihirnya bersama roh-roh Celestial-nya. Tapi dasar apes, Natsu dan Gray melihat kertas request misinya dan berimbas pada mengekornya dua penyihir beda elemen itu. Erza yang melihat mereka bersiap berangkat menawarkan diri (baca=memaksa) untuk ikut. Mana bisa Lucy menolak. Memang misi hari itu berjalan lancar, tapi sedikit sekali yang bisa ia lakukan; Natsu dan Gray yang paling banyak memberi 'partisipasi aktif'. Kalau begini terus kapan aku bisa lebih kuat?

"Kau marah, ya, karena kami ikut?" tanya Happy lagi.

"Tentu saja tidak," kata Lucy, tersenyum kecil. Kadang-kadang tampang polos Happy benar-benar menggemaskan. "Aku senang kita bisa pergi sama-sama. Hanya saja... aku berpikir... untuk mengambi misi dan menyelesaikannya sendiri, begitu."

"Hm... hm..." ujar Happy menggut-manggut. "Aku mengerti. Tapi," nada suara Happy berubah usil, "memangnya kamu bisa?"

"Jangan remehkan aku, ya!" seru Lucy tak terima. Terkekeh-kekeh, Happy berlari ke depan dan bertengger di kepala Natsu. Lucy mendengus geli. Dasa kucing nakal.

Perjalanan di hutan batas ini selalu menyenangkan bagi Lucy. Warna hijau yang segar mendominasi tempat ini, juga suara-suara ramah hewan hutan, dan bau cemara dari pegunungan yang mencapai tempat itu memberi nilai tambah. Tapi saat sedang asyik-asyiknya menatapi pemandangan hutan, Natsu berhenti mendadak dan menolehkan kepalanya kesana-kemari, sambil membaui udara.

"Ada apa, Natsu?" tanya Happy heran.

"Aku mencium sesuatu," kata Natsu, memejamkan mata dan masih mengendus udara dengan liar. "Sesuatu yang aneh... sebentar... Ah!" Natsu berteriak mendadak. "Bau darah!"

"Apa?" Erza terbelalak kaget.

"Yang benar saja, Kepala Lava!" seru Gray.

"Serius!" kata Natsu. "Dari arah sini, nih!" Natsu menunjuk arah kanan mereka. "Baunya agak aneh... tapi aku yakin ini laki-laki... eh? Bau salju?"

"Ini pertengahan musim gugur. Bagaimana bisa ada bau salju?" kata Gray mengangkat alis. "Hidungmu perlu diperiksa, menurutku."

"Kau meragukan kemampuanku, heh, Mata Sayu?!" bentak Natsu tak terima.

"Memang seharusnya begitu, Mata Sipit!"

"Balok Es!"

"Kepala Lava!"

"Stripper!

"Napas Kad-!"

"Sudah cukup!" gelegar Erza galak, berakibat pada diam mendadaknya Natsu dan Gray, yang memandang si rambut merah dengan ngeri. "Jika kau benar-benar membaui darah, itu artinya ada yang luka dan mungkin perlu pertolongan. Kita akan lihat."

Maka, dipimpin Natsu, mereka keluar dari jalan utama dan menembus semak-semak belukar. Mereka bisa mendengar gemericik suara air sungai tak jauh dari sana. Mendadak saja, Natsu berhenti berjalan, membuat Gray yang berjalan tepat di belakangnya menabrak ransel Natsu.

"Duh!" keluh Gray, mengusap hidungnya yang mencium bagian depan ransel Natsu yang berisi entah apa. "Kalau berhenti bilang-bilang dong, kau idi-!

Gray ternganga melihat apa yang ada di depannya. Erza dan Lucy yang berdiri di belakangnya bergegas maju untuk mengetahui apa yang terjadi. Kedua gadis itu sama terkejutnya melihatnya.

Sesosok tubuh mungil tertelungkup di tanah berkerikil di tepi sungai di depan mereka. Jubah berwarna coklat pasir yang berdebu menutupi postur kecil itu.

"A-apa yang-?" bisik Erza.

"Baunya dari dia," kata Natsu pelan.

Erza melangkah mendekati sosok itu dengan waspada. Ia berlutut di sampingnya, mengamatinya sejenak. Tangan kanan si sosok mungil menncengkeram gagang katana yang pangkal bilahnya berbentuk bintang empat titik, yang panjang katana itu hampir menyamai pemegangnya. Dengan hati-hati Erza membalik tubuh itu, dn terkesiap kaget, begitu juga teman-temannya, yang bergerak mendekati juga. Ternyata sosok itu adalah adalah seorang pemuda, yang ditebak Erza berusia sekitar duabelas tahun. Rambutnya seputih salju, walau saat itu terlihat kusam dan kotor. Wajahnya yang rupawan pucat pasi, menampilkan kesakitan kendati matanya terpejam rapat. Apa yang membuatnya begitu jelas detik berikutnya. Di bawah jubah yang dikenakannya, anak laki-laki itu memakai shihakuso hitam yang bagian depannya menggelap oleh darah.

"Oh, Tuhan," bisik Lucy.

"Kita harus tolong dia," kata Erza pelan. Ia menghilangkan sarung tangan bajanya untuk memeriksa suhu si pemuda, dan ia terkejut. Suhunya yang tinggi seakan membakar tangannya, tapi si rambut putih gemetar hebat, seolah kedinginan.

"Kita bawa dia ke Markas; kita lebih dekat ke Magnolia daripada Hargeon! Kuharap Wendy sedang tidak pergi misi!" kata Erza ssegera, penuh harap.

Suasana Markas Fairy Tail yang terletak di pusat Kota Magnolia nyaris tak pernah sepi, apalagi hari itu tak banyak anggota yang mengambil misi. Sebagian besar anggota masih terpengaruh atmosfer kemenangan dalam turnamen dua minggu lalu, sehingga memilih untuk sedikit bersantai di Markas. Bahkan sang Master, Makarov Dreyar tampak santai, duduk di atas meja barsambil meneguk brandy dari cangkir kayu besar. Ia tampak sedang mengobrol ringan dengan cucunya, Laxus dan The Raijinshuu-Freed, Bixlow, dan Evergreen. Mirajane turut mendengarkan percakapan itu, sementara anggota lainnya 'sibuk' dengan kegiatan masing-masing, seperti Cana yang sedang menenggak anggur langsung dari gentongnya, contohnya.

Semua aktivitas itu terhenti mendadak saat pintu depan menjeblak terbuka dengan bunyi debam keras. Erza Scarlet menghambur masuk dengan napas terengah-engah. Seluruh Aula terdiam, mata mereka tertuju pada sang Titania.

"Erza?" Makarov meluncur turun dari meja. "Ada apa? Apa ada masalah dengan misinya?"

"Tidak... semua oke... Tapi... Wendy... mana dia?" kata Erza terengah.

"Disini." Gadis kecil berambut biru yang dikucir dua muncul dari belakang bangku panjang. Exceed-nya, Carla, berjalan di belakangnya tampak heran. "Ada ap-?!"

Tepat saat itu Natsu masuk ke dalam markas seperti angin ribut. Mereka semua ganti menatap si Fire Dragon Slayer, dan terbelalak kaget, melihat siapa yang bersamanya. Natsu menggendong pemuda bertubuh mungil dalam gaya bridal. Wendy membekap mulutnya dengan tatapan takut bercampur kaget. Natsu tahu gadis itu membaui darah yang pekat dari si rambut putih yang dibawanya.

"Astaga," gumam Makarov. "Siapa dia?"

"Kami tidak tahu. Kami temukan di di hutan," kata Erza cepat.

"Kita tak bisa menunggu, dia sekarat!" teriak Natsu. "Wendy, kau dengar jantungnya hampir berhenti, ayo!"

Natsu langsung berlari ke tangga ke lantai dua, menuju ruang perawatan. Wendy bergegas menyusulnya, agak bergidik saat melihat tetesan darah yang mengotori lantai di jalan yang dilalui Natsu.