Ta-da~
Chapter 3 is up! Happy reading~
Chapter 3
Suasana dalam inner world Toushiro Hitsugaya masih sama. Langit biru tinta gelap, salju, dan dingin. Pegunungan es bersepuh putihnya salju membentang tak terbatas. Bahkan seluruh permukaan tempat itu berlapis salju dan di beberapa tempat teronggok bongkahan es dalam berbagai ukuran. Dan di salah satu tanah kosong tanpa es, sosok Toushiro Hitsugaya terbaring di atas salju. Matanya terpejam seolah sedang tidur.
Sesosok jangkung mendekati Toushiro dari ketiadaan. Rambut hijau turqouise-nya yang panjang sedikit bergoyang tertiup angin dingin bersalju. Dia adalah Hyourinmaru, dalam wujud manusianya. Ia berlutut di samping Toushiro, menyentuh pipi pucat Master-nya dengan tangannya yang menyerupai cakar berlapis es. Persis seperti yang diharapkannya, mata Toushiro terbuka, terusik oleh sensasi dingin itu.
"Hyourinmaru?" bisiknya. Toushiro bangkit dari posisi tidurnya, memandang berkeliling.
"Ya, Master," sahut Hyourinmaru halus. "Aku menarik pikiranmu ke dalam sini. Soujiro Kusaka menggunakan kekuatan Segel Raja terhadapmu."
Toushiro memandang Hyourinmaru dengan kaget.
"Aku tak tahu persisnya apa kekuatan itu. Tapi dia membuatmu terkirim ke dimensi lain. Bukan Komunitas Roh, bukan Hueco Mundo, juga bukan Dunia Manusia, paling tidak Dunia Manusia yang kita kenal."
"Apa maksudmu?"
"Anda berada di Dunia Manusia yang berbeda, Master. Aku merasa mereka memiliki kekuatan yang cukup besar. Mereka membawa tubuhmu yang luka bersama mereka."
"Mereka bisa melihatku?" tanya Toushiro terkejut.
"Segel Raja membuatmu terlihat oleh mereka. Tapi sepertinya mereka tak bermaksud jahat padamu. Hanya saja aku tak bisa memastikannya, jadi tetaplah berhati-hati, Master. Aku tak tahu kenapa Kusaka mengirimmu ke dimensi ini. Atau dimensi apa ini tepatnya."
"Kau bersamaku, Hyourinmaru?" tanya Toushiro pelan, tanpa memandang wujud manusia dari naga esnya.
Hyourinmaru menyadari ada sedikit kecemasan dalam suara Toushiro. Ia bisa memahami itu. Ketakutan Toushiro kehilangan Hyourinmaru sama besarnya dengan ketakutannya kehilangan Master-nya. Hyourinmaru menahan senyumnya.
"Sampai akhir, Master," kata Hyourinmaru dalam. "Sampai tak ada satupun dari kita tak bisa menyebut nama yang lainnya."
Yang ia tahu, dia harus membuka matanya.
Toushiro mendapati dirinya sedang berbaring. Butuh beberapa detik untuk Toushiro memfokuskan penglihatannya. Ia melihat warna putih tulang dari langit-langit di atasnya. Toushiro bergerak bangun dari posisi tidurnya, bersandar pada kepala ranjang tempatnya tidur. Ia menyadari ada sensasi menyakitkan yang panas membara di perutnya. Ia menunduk, melihat perban menutupi luka di perutnya dan di dadanya. Ia memandang berkeliling. Tampaknya ia ada di sebuah kamar perawatan publik, dengan berjejernya beberapa tempat tidur kosong dalam ruangan yang lumayan luas itu. Sebuah lemari kaca berisi alat-alat pengobatan berdiri di salah satu sudut ruangan. Jendela tinggi yang terletak di salah satu sisi dinding terbuka tirainya yang berwarna biru lila, mengizinkan sinar matahari menerangi tempat itu. Toushiro memandang meja di samping tempat tidurnya, tempat shihakuso hitam dan jubah-penyamar-reiatsu-nya terlipat rapi dan jelas sudah bersih. Tapi, ia tak melihat Hyourinmaru dimanapun. Segera kepanikan menghampirinya.
Ia menyibak selimut dari tubuhnya, tapi ia terhenti sejenak. Ia memakai piyama berwarna biru laut yang kebesaran. Mengeluh pelan, Toushiro mengabaikan rasa sakit dari lukanya dan melepas piyama itu untuk menggantinya dengan shihakuso-nya. Ia teringat kata-kata Hyourinmaru dalam inner world-nya, bahwa ia ada di dimensi yang berbeda dan orang-orang dari dimensi ini 'menolong'nya. Ia harus segera menemukan Hyourinmaru, dan mungkin pergi dari tempat ini. Ia tak mau memberi kesulitan yang sama dengan yang diberikannya pada Ichigo Kurosaki, kepada entah siapa yang sudah mengobati lukanya
Bunyi derit pintu yang terbuka membuat Toushiro menoleh. Seorang gadis kecil berambut biru tua panjang yang terurai sampai ke pinggangnya memasuki ruangan, bersama seekor kucing betina berbulu putih yang memakai pakaian berwarna pink dan-membuatnya sangat heran-berjalan dengan kaki belakangnya. Gadis itu, yang beberapa senti lebih pendek darinya, tampak terkejut melihat Toushiro.
"A-ah," gagapnya. Mata coklatnya yang lebar menatap Toushiro takut-takut. "Ka-kau sudah bangun."
Toushiro mengernyit, memandang si gadis kecil. Gadis itu manusia, tapi ada yang aneh pada gadis itu, ada kekuatan yang tak ia tahu apa memancar dari si gadis.
"Siapa kau?" tanya Toushiro dingin.
"Sungguh tidak sopan."
Toushiro memandang si kucing putih dengan kaget. Kucing itu bisa bicara, dan sekarang sedang menyilangkan tangannya di depan dada! Bahkan Yoruichi Shihouin dalam wujud kucing hitamnya tak bisa melakukan itu-kecuali bicara, tentu. Kucing itu memandang Toushiro dengan mata menyipit sengit. "Dia yang menyembuhkan luka-lukamu, kalau kau mau tahu."
Toushiro menatap si gadis yang menunduk, tak berani menatapnya. Tipe gadis pemalu.
"Benarkah itu?" tanya Toushiro, lebih lunak. Si gadis mengangguk sekali. "Yeah... terima kasih."
"Um, ya..." gumam gadis itu
"Jadi, aku dimana?" tanya Toushiro, memandang berkeliling.
"Ruang perawatan Markas Fairy Tail," bisik gadis itu.
"Maaf?" Toushiro mengangkat alis.
"Ruang perawatan Markas Fairy Tail, serikat sihir di Kota Magnolia, Kerajaan Fiore."
"Apa?"
Toushiro bisa melihat keterkejutan terpeta di wajahnya, karena ekspresi gadis itu menceminkan hal yang sama. Bahkan si kucing tampak heran.
"Kota... Magnolia?" ulang Toushiro pelan memijit pelipisnya karena pusing mulai melandanya. "Fiore?"
"I-iya," cicit si gadis. "Kau bukan orang sini, ya?"
"Bagaimana mungkin?" bisik Toushiro. Ia memandang si gadis berambut biru. "Kau bilang ini serikat sihir?"
"Iya. Kau tahu, tempat para penyihir bersatu untuk mempermudah-eh? Kau baik saja?" Si gadis bergerak mendekati Toushiro yang mencengkeram kepalanya.
"Jelas tidak, Wendy. Dia pucat begitu," kata si kucing sarkastik. "Tapi Master Makarov akan senang jika melihatmu sudah bangun. Kau tidur semalaman."
"Master?" tanya Toushiro.
"Ya. Setiap serikat sihir dipimpin satu master. Master akan jadi orang terkuat dalam sebuah serikat. Kau tidak tahu tentang itu?" si kucing putih memandang Toushiro dengan heran.
Toushiro diam. Master, orang terkuat? Menurut Hyourinmaru, ia sedang berada di dimensi lain. Mungkinkah bijaksana jika menanyakan tentang cara ia bisa kembali ke dunianya pada orang yang lebih tahu tentang dunia ini?
"Bisa aku bicara dengan Master?" tanya Toushiro. Si gadis dan si kucing bertukar pandang.
"Ku-kurasa begitu. Tapi kamu-"
"Aku baik-baik saja," kata Toushiro cepat.
"Ah, baiklah," kata si gadis, walau tampak tak yakin. Ia berjalan mendekati pintu dan Toushiro mengikutinya, diiringi tatapan tak ramah dari si kucing. "Oh, ngomong-ngomong, namaku Wendy Marvell, dan ini Carla."
Dalam waktu apapun, pagi, siang, sore, atau malam, suasana riuh rendah tak pernah absen dari serikat sihir Fairy Tail. Begitu juga pagi itu. Walau jam baru menunjukkan pukul delapan lebih beberapa menit, hampir seluruh anggota sudah ada disana. Sang Master, Makarov, yang sedang duduk di atas meja bar menyesap kopi paginya dalam ketenangan-dalam pikirannya sendiri tentu, karena pada nyatanya sekitarnya tak memberi itu. Suasana ramai langsung hening mendadak saat mereka melihat Wendy menuruni tangga bersama Carla, diikuti si pemuda berambut putih, yang membuat semua mata tertuju padanya.
Pemuda itu mengenakan shihakuso hitam yang kontras dengan rambut seputih saljunya. Wajahnya masih terlihat pucat, namun saat itu tak ada tanda-tanda kesakitan padanya. Malah ekspresinya kaku dan serius, dengan kedua alis yang nyaris menyatu. Makarov tercengang melihat mata pemuda itu, yang warna irisnya sungguh tidak umum, hijau turqouise, dan apa yang terdapat di mata itu. Kecerdasan, kedewasaaan, kekuatan. Dan ada satu hal lagi, yang membuat Makarov merasa seperti melihat dari balik es tebal yang mendistorsi apa yang ada di dalam es itu, kesepian.
"Senang kau sudah bangun," sapa Makarov ramah, sukses menyembunyikan keterkejutannya. "Kau luka lumayan parah. Tapi kurasa tidak baik jika kau bergerak terlalu banyak."
"Saya baik-baik saja," kata si pemuda datar. Makarov agak kaget. Suara pemuda itu terdengar berat dan dewasa, tak sesuai dengan postur tubuhnya yang hanya beberapa senti lebih tinggi dari Wendy. Anggota Fairy Tail lain tampak sama terkejutnya, dan pandangan mereka jelas membuat Toushiro tak nyaman, melihat bahunya tampak tegang.
"Hm." Makarov menyesap kopinya. "Sebenarnya aku tak menyangka kau bangun secepat ini. Tapi aku senang karena tak perlu terlalu cemas setengah mati. Nah, kurasa aku perlu tahu namamu, Nak. Kau tidak punya identitas apapun yang mengonfirmasi siapa dirimu."
Pemuda itu terdiam sebentar. Ia menatap Makarov dengan pandangan menilai yang tajam, seolah menimbang apakah ia bisa memberitahukan namanya. Laxus mendengus tak suka, namun si pemuda mengabaikannya. Dan kemudian ia berkata pelan, "Toushiro Hitsugaya."
"Oh," senyum Makarov. "Nama yang bagus."
"Bisa saya bicara dengan anda?" tanya Toushiro.
"Bicara saja, Nak."
"Empat mata," kata Toushiro serius. Makarov memandang Toushiro, sementara anggota Fairy Tail lain tampak bingung.
"Sepertinya ada sesuatu yang serius. Baiklah. Kita bisa bicara di kantorku." Makarov melompat turun dari meja bar. Toushiro baru sadar kalau Makarov ternyata bertubuh kecil, bahkan lebih pendek darinya. Tentu saja Toushiro tak akan meremehkannya. Ia bisa merasakan penyihir tua itu memiliki kekuatan yang besar.
"Sebentar, eh-"
"Namaku Makarov Dreyar," kata Master ramah. "Kau bisa memanggilku Master, seperti yang lainnya."
Toushiro mengangguk. "Apa anda tahu dimana zanpakuto saya?"
"Zan-apa?"
"Oh, maaf, pedang saya." Mereka sepertinya tidak tahu tentang eksistensi shinigami.
"Yang kau pegang waktu kami menemukanmu?"
Toushiro menoleh, mendapati gadis berambut merah yang memakai armor keperakan sedang memandangnya ingin tahu. Mata coklat gadis itu seolah berusaha menerobos mata Toushiro. Tapi Toushiro sudah belajar menghadapi tatapan mata seperti itu, dan Byakuya Kuchiki jauh lebih baik dari itu.
"Ya," sahut Toushiro pendek.
"Panjangnya sama dengan tinggimu. Bagaimana kau menggunakannya?" tanya seorang pemuda jangkung berambut hitam yang tidak memakai baju.
"Aku sudah menggunakannya selama bertahun-tahun sebagai partner bertarung. Dan apakah kau tahu kau tidak pakai baju?"
Pemuda itu melongo, sebelum memandang dirinya sendiri. Ia langsung melompat berdiri dan mencari-cari bajunya yang entah dimana. Toushiro kembali menatap Makarov, mengabaikan tatapan tercengang anggota Fairy Tail lain.
"Pedang itu ada di kantorku. Kau mau mengambilnya?"
Toushiro mengangguk. Ia lalu mengikuti Makarov naik lagi ke lantai dua, tapi kali ini ke kantor sang Master. Berpasang-pasang mata mengikuti mereka sampai keduanya menghilang di atas tangga.
