New chapter, ta-da~

Happy reading…

Chapter 4

Begitu Master Makarov dan Toushiro masuk ke dalam kantor master Fairy Tail, dengung percakapan dimulai kembali. Kali ini topiknya bertambah, kehadiran si pemuda berambut putih bernama Toushiro Hitsugaya. Laxus terang-terangan mendesiskan ketidaksukaannya padanya, yang dianggapnya tidak sopan. Walau begitu, mereka semua sepakat bahwa ada yang aneh dengan Toushiro, bahwa ia tak menunjukkan keterkejutan karena ada di Fairy Tail, apalagi menunjukkan tanda-tanda kesakitan karena lukanya yang bisa dibilang cukup parah. Secara keseluruhan, mereka tak bisa membaca ekspresi apapun di wajahnya.

"Dia malah tidak tahu Fairy Tail," kata Wendy saat Lucy bertanya-tanya darimana anak itu berasal. Ini mengejutkan mereka semua. Bagaimana bisa ada yang tak mengenal Fairy Tail, serikat terkuat di Fiore?!

"Mungkinkah dia dari negara lain?" Erza bertanya-tanya sendiri.

"Mungkin saja begitu," kata Mira.

"Tapi rasanya dia mirip dengan... siapa, temanmu di Lamia Scale itu, Gray? Leon?" tanya Cana, memeluk tong anggurnya.

"Hm. Lyon, bukan Leon. Yeah, agak mirip, tapi cuma rambutnya saja," kata Gray cuek. "Bocah itu pendek, tahu."

"Maksudmu imut?" kata Mira terkikik. "Sori, maksudku."

"Yeah. Dia imut," kata Lisanna setuju. "Dan dia punya warna mata yang bagus sekali."

"Dia terlalu muda untuk ada dalam pikiranmu, Dik," kata Elfman.

"Dan dia tetap bocah yang menyebalkan," kata Laxus.

"Tapi kelihatannya lebih dewasa darimu," seringai Erza.

Laxus bersungut-sungut sebal. Tapi perhatian semua anggota Fairy Tail teralih. Sedari tadi, mereka tak mendengar komentar dua Dragon Slayer yang notabene adalah biang kerok di serikat itu, Natsu dan Gajeel. Sangat tidak biasa tidak melihat Natsu menantang orang yang ada di Fairy Tail untuk berduel. Mereka bisa mengerti karena Toushiro baru saja sadar dan terluka. Akan tetapi, mengingat Natsu adalah salah satu dari orang yang membawa Toushiro ke serikat, agak aneh karena tak ada kata-kata. Malah ia kompak dengan Gajeel, masih menatap ke arah tangga dengan ekspresi serius.

"Ada apa?" tanya Lucy heran.

Sementara itu, di dalam kantor master.

Makarov agak heran pada pemuda bertubuh mungil yang berdiri di depannya. Awalnya Toushiro tampak kaku dan sedikit gelisah, walau sikap itu tertutupi wajah tanpa ekspresinya. Namun, ketika Makarov memngembalikan katana sepanjang empat kaki itu kepada Toushiro, Makarov melihat mata turqouise itu berkilat senang, seolah merindukan katana itu, dan kemudian, kernyitan di atas alisnya sedikit mengendur. Ia menyentuh sarung katana-nya yang berwarna biru tua dengan takzim. Tapi keheranannya itu kalah dengan keterkejutan yang muncul setelah Toushiro menceritakan siapa dia sebenarnya.

Seorang shinigami-dewa kematian.

Dari kemungkinan yang melintas tentang siapa Toushiro sebenarnya, tak terpikirkan kalau informasi tentang sihir, serikat sihir, dan Kerajaan Fiore akan ditukar dengan fakta mengejutkan itu. Tidak mungkin Toushiro bercanda, dengan ekspresi wajah dan tatapan yang menunjukkan ketegasan bahwa ia mengatakan kebenaran. Tidak juga ia akan mengatakan kalau Toushiro mengalami benturan di kepala yang membuatnya bicara asal; Wendy bilang dia tidak mengalami cedera di kepala. Dan dari apa yang diceritakan Toushiro-walau Makarov yakin dia tak menceritakan sepenuhnya-si rambut putih sedang dalam misi merebut kembali artefak berharga yang dicuri dari Komunitas Roh. Seorang shinigami lain yang menjadi lawannya telah menggunakan kekuatan artefak itu untuk mengirim Toushiro ke dunia sihir dengan tujuan yang ia tidak tahu.

"Well," kata Makarov, berusaha menguasai diri dari keterkejutannya, "ini... aneh... Bahkan untuk ukuran Dunia Sihir. Yang aku tahu tentang dewa kematian adalah cerita kuno tentang sosok tinggi besar yang berkerudung dan bersenjata sabit raksasa untuk memenggal nyawa manusia. Tapi kau... er..."

"Jauh dari ekspektasimu?" gumam Toushiro.

"Yeah. Kau tak seperti itu. Kau kelihatan seperti bocah normal bagiku. Tidak ada seram-seramnya."

"Aku bukan bocah," kata Toushiro tajam. "Pertumbuhan shinigami dan roh lain beda dengan manusia."

Tapi tetap saja seperti bocah, tak mau dianggap bocah, kata Makarov geli, dalam hati. Makarov lalu berpikir sejenak, sementara ekspresi Toushiro masih sama datarnya mengawasinya. Mungkin memang benar jika dia adalah shinigami; Toushiro memiiki aura yang berbeda dengan energi yang dimiliki penyihir. Sesuatu yang lebih pekat dan kuat. Tapi ada satu hal yang menyentak pikiran Makarov. Toushiro tadi bilang bahwa ia shinigami, roh. Itu berarti...

"Kau... sudah mati?" tanya Makarov pelan.

Mata Toushiro melebar. Bukan karena kaget, itu lebih karena ia heran atas pertanyaan itu dan saat ia menjawab nadanya tidak peduli

"Ya."

"Bagaimana?"

"Saat manusia mati, rohnya akan pergi ke Komunitas Roh. Ingatan mereka tentang kehidupan mereka sebelumnya akan menghilang perlahan-lahan. Lagipula yang sudah mati tidak punya urusan lagi dengan kehidupan yang sudah ditinggalkan."

"Kau tidak mengingatnya?" tanya Makarov penasaran. "Tidakkah ada keinginan untuk mengetahuinya?"

Toushiro menggeleng. "Kami sudah memiliki kehidupan yang baru. Menyenangkan atau tidak, itulah yang harus dijalani."

Makarov masih ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan shinigami, selain mensucikan roh yang terkontaminasi energi negatif sehingga berubah menjadi hollow, tapi tatapan Toushiro menunjukkan ia tak ingin membahasnya, apalagi tentang kematiannya sebagai manusia. Maka, Makarov mengajukan pertanyaan baru.

"Apa kau tahu caramu untuk bisa kembali?"

Toushiro diam sejenak. Secara teori, dia datang ke dunia ini karena Segel Raja, maka untuk bisa kembali ia juga harus berhubungan dengan artefak itu. Dan Hyourinmaru ikut berpikir dalam inner world-nya, bahwa ia tak bisa menggunakan senkaimon biasa karena energi sihir di dimensi ini mengganggu keseimbangan partikel roh yang menyusun senkaimon. Ini membuat Toushiro kecewa. Amat sangat kecewa.

Ia mendapati Makarov masih menunggu jawabannya. Ia menghela napas. "Tidak. Tapi aku akan cari tahu caranya bagaimana. Mungkin di luar sana aku bisa mencarinya..."

"Wah, wah, wah," potong Makarov dengan nada ceria, membuat Toushiro memandangnya heran. "Dengan kondisi seperti itu, kurasa aku harus minta maaf aku tak bisa membiarkanmu pergi."

"Eh?"

"Kau luka parah, Nak," kata Makarov ramah, dengan gaya seolah-olah itu sudah sangat jelas.

"Saya bisa tangani itu," kata Toushiro datar, mengabaikan fakta bahwa Makarov tadi memanggilnya 'nak'.

"Aku hampir yakin kau bisa," kata Makarov, nadanya berubah serius. "Kau mungkin lebih tua dan lebih berpengalaman dari yang terlihat, tapi apa yang akan kau hadapui di dunia ini bisa jadi adalah hal baru yang tak pernah kau temui sebelumnya. Kau mungkin tidak terlalu percaya padaku, aku tahu itu. Tapi jika Dewan Sihir mengetahui keberadaanmu, aku takut kau akan menemui masalah. Pandangan mereka tentang Dewa Kematian tidak begitu bagus. Definisi Dewa Kematian yang mereka tahu jauh berbeda dengan kenyataan yang terlihat di hadapanku, yang dibawa olehmu."

"Kenapa begitu?" tanya Toushiro.

"Dewa Kematian yang diketahui di dunia ini adalah salah satu monster jahat yang ada dalam Buku Kegelapan milik penyihir paling hitam yang pernah ada dalam catatan sejarah Dunia Sihir ini, Zeref. Mereka adalah makhluk yang menyebarkan ketakutan, menyiksa pikiran dengan kenangan-kenangan buruk, dan memangsa jiwa yang lemah karenanya. Mereka memang digambarkan sebagai sosok tinggi, berjubah hitam, membawa sabit besar, sih."

Dan aku bukan seperti itu, gerutu Toushiro dalam hati. Namun, Toushiro bisaa membacanya, lewat mata Makarov, tatapan yang mirip dengan cara Jyuushiro Ukitake kepadanya, tatapan figur seorang ayah yang kelewat cemas. Dan sialnya, Toushiro menyadari ia terjebak dalam situasi 'balas budi' pada orang tua di depannya dan serikat sihir itu.

"Terima kasih untuk kebaikan anda. Tapi saya bisa urus diri saya sendiri."

"Aku mengerti." Makarov berpikir sejenak. "Begini saja..."

Toushiro nyaris tak percaya apa yang sudah dilakukannya. Ia menatap lambang serikat sihir Fairy Tail berwarna hitam yang tertempel seperti tato di lengan atas kanannya, tepat di bawah bahunya. Ia sendiri masih merasa heran, karena ia menerima penawaran Makarov yang satu ini, menjadi anggota Fairy Tail agar ia bisa bergerak bebas di luar sana untuk mencari informasi tanpa dicurigai.

Bicara tentang dicurigai, Toushiro sudah merasakan tatapan itu sejak ia keluar dari kantor master dan menemui semua anggota Fairy Tail lain yang masih ada di Aula. Tatapan itu berasal dari seorang pria muda berambut pirang dengan bekas luka berbentuk sambaran petir di mata kanannya. Pria itu, Laxus, adalah cucu laki-laki Makarov, dan Toushiro tak menyukai tatapan tak ramah itu, yang kontras dengan sikap anggota Fairy Tail yang lain, yang tampak semangat, yah, kalau bisa dibilang, mereka semua kelewat antusias.

Begitu Makarov mengumumkan bahwa Toushiro akan bergabung sebagai anggota baru Fairy Tail, Aula langsung meledak dalam sorak-sorai yang memekakkan telinga. Mereka juga langsung memperkenalkan diri setelah Toushiro selesai mendapatkan tandanya.

"Senang berkenalan denganmu," kata wanita muda berambut hitam panjang yang memeluk gentong anggur di salah satu meja dekat meja bar. "Namaku, Cana Albero- eh, sori. Cana Clive, Whitey."

"Aku yakin kau tahu namaku, Clive, dan aku sangat menghargai jika kau panggil aku Hitsugaya," kata Toushiro datar, membuat Cana tersedak. Beberapa anggota yang lain tampak agak kaget.

"Kau panggil aku apa tadi? Clive?" ujar Cana tak percaya. "Itu formal sekali! Menggelikan!"

Toushiro hanya mengangkat bahu.

"Sesama anggota keluarga tidak panggil nama belakang, Toushiro," kata Mirajane halus. "Lagipula aku dan dua adikku ada di sini juga." Mira menunjuk seorang pria bertubuh besar dengan rambut putih keunguan dan gadis muda berambut pendek yang mirip dengan Mira; keduanya tersenyum ramah ke arah Toushiro. "Apa kau mau memanggil kami bertiga dengan Strauss?"

"Sepertinya begitu," sahut Toushiro kalem. Mirajane tertawa kecil.

"Kedengarannya akan aneh sekali." Seorang gadis berambut merah yang memakai armor keperakan di atas rok biru selututnya duduk di kursi di samping Toushiro. Gadis itu tersenyu ramah. "Namaku Erza." Senyum gadis itu melebar saat mata Toushiro menatapnya ingin tahu. "Kalau aku bilang aku tidak punya nama belakang bagaimana?" tanya Erza main-main.

Toushiro mengernyit. Ia berkata ragu-ragu. "Scarlet?"

Ganti mata Erza yang melebar kaget. "Bagaimana kau tahu? Mira?"

"Aku tidak beritahu apa-apa," kata Mira santai.

"Hanya tebakan saja," kata Toushiro mengangkat bahu. "Scarlet, seperti warna rambutmu, itu namamu jika kau bilang kau tidak punya nama belakang. Jadi aku benar, ya?"

"Yeah," kata Erza, tersenyum. "Ngomong-ngomong Toushiro-"

"Hitsugaya," sela Toushiro dingin.

"-aku dan timku yang menemukanmu terluka di hutan," kata Erza, seolah tidak ada interupsi. Ia melambaikan tangannya pada beberapa penyihir yang berdiri di belakang Erza, si rambut pink yang bernama Natsu dan Exceed biru-nya Happy, gadis berambut pirang bernama Lucy, dan pemuda berambut hitam yang hanya memakai boxer bernama Gray. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Toushiro berjengit sedikit. Damn.

"Kami hanya ingin tahu," lanjut Erza. "Apa yang membuatmu luka separah itu? Kami hampir yakin kau... tidak akan selamat."

Toushiro diam sejenak. "Bukan apa-apa."

"Pasti ada apa-apa," kata Gray, mengernyit. "Kau-"

"Aku tidak bisa beritahu," kata Toushiro datar. "Itu bukan urusanmu."

Toushiro tampaknya tak melihat bahwa urat kekesalan muncul di pelipis empat penyihir itu. Ia hanya menunduk, memandang cangkir teh yang diberikan Mira kepadanya tadi.

"Itu akan jadi urusan kami," kata Erza tak puas. "Kau sekarang anggota Fairy Tail, kau punya tempat dimana kau akan mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari kami. Jika kami tahu siapa yang melakukan itu padamu-"

"Aku bertarung dan orang itu mengalahkanku," kata Toushiro tiba-tiba, membuat mereka agak terkejut. Terkejut karena ada nada dingin dan kekecewaan dalam suaranya. "Mungkin dia akan kembali dan aku bisa menuntaskan pertarungan itu."

"Tapi," kata Lucy hati-hati, "dia mengalahkanmu, kan? Bagaimana jika-"

"Itu bukan urusanmu," ulang Toushiro datar.

"Bagaimana bisa kau bicara begitu?!" seru Natsu kesal, cukup keras sehingga membuat beberapa penyihir lain menoleh ingin tahu. "Kami menolongmu sekali, dan kami bisa menolongmu satu kali lagi, lebih banyak lagi malah. Kau sekarang anggota keluarga Fairy Tail! Kau malah menganggap kami bukan apa-apa? Kau-!"

"Terima kasih."

Anggota Tim Natsu terbelalak kaget. Toushiro berdiri, mengambil pedangnya yang bersandar pada meja bar.

"Aku menghargai kepedulian kalian. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa," Toushiro teringat ekspresi ngeri Rangiku Matsumoto saat ia meninggalkan letnannya itu; Ichigo Kurosaki yang berdiri dengan wajah bersimbah darah karena luka di kepalanya. Luka batin yang diberikannya pada Rangiku dan luka fisik yang disebabkan olehnya pada Ichigo. Bagaimana jika ia memberikan keduanya pada Fairy Tail? Tidak. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. "Aku tidak bisa melihat lebih banyak lagi yang terluka," tambah Toushiro pelan. Dan kemudian, ia meninggalkan aula.

"Apa yang terjadi?" tanya Evergreen, mendekati Tim Natsu dan Mirajane bersama Raijinshuu. "Kenapa bocah itu? Aneh juga aku tidak mendengar Natsu langsung menantangnya duel."

"Aku mendengarnya," kata Laxus serius. "sepertinya bocah itu punya masalah. Kakek?" Laxus memandang Master Makarov yang duduk di ujung meja bar, masih memandang pintu tempat Toushiro lewat beberapa saat yang lalu.

"Kalau kau ingin tahu jawabannya dariku, aku cemas kau tak akan mendapatkannya. Dia tak cerita padaku, juga." Makarov menghela napas. 'Anak itu memang punya masalah,' pikirnya suram, 'masalah yang sangat serius sampai dia bahkan tidak ingin menceritakannya.'

Sementara itu, Erza masih memikirkan sikap Toushiro. Ia agak tercengang saat menyadari apa yang ada dalam kedua mata turqouise si rambut putih itu. Ia merasa dihadapkan pada dirinya yang dulu, yang tertutup dan menanggung beban kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan seorang diri. Ia tidak mengerti. Apa gerangan yang membuat punggung kecil itu menumpu semua beban tak kasat mata itu?

Pandangan Erza teralih pada benda berkilau yang ada di bawah kursi. Ia menunduk untuk mengambilnya. Ternyata sebuah bros berbentuk bintang dengan banyak sudut selebar telapak tangan yang terbuat dari perunggu, dijepitkan pada sebuah kain berwarna hijau yang cukup panjang.

"Itu milik Toushiro. Aku bisa mencium baunya, sama," kata Natsu, tampak agak tak puas. "Padahal aku belum mengajaknya duel, tapi dia sudah menyebalkan begitu. Kalau dia kembali nanti siap-siap saja..."

"Ya ampun, Natsu! Dia bahkan belum sembuh!" seru Lucy.

Erza hanya separo mendengarkan percakapan teman-temannya. Jari-jarinya yang berselubung sarung tangan baja menyusuri permukaan bros itu, yang menurutnya sangat cantik walau sederhana. Erza membalik bros itu, menyibak kain yang tersemat disana. Beberapa baris kata tertoreh di bagian belakang bros. Penasaran, Erza mendekatkan pandangannya agar bisa membacanya, ternyata tertulis dalam bahasa Inggris.

Pride of Frozen Passion.