Chapter 5
Keesokan paginya, Erza menemukan Toushiro sedang duduk di selusur beranda lantai dua Markas, menatap suasana pagi Kota Magnolia dalam diam. Ia masih memakai shihakuso hitamnya yang kontras dengan rambut putihnya yang tampak berantakan dan mencuat kesana-sini. Tampaknya luka di tubuhnya tidak memberinya kesakitan seperti yang diduga Erza sebelumnya. Atau, Toushiro telah terlatih untuk mengabaikan rasa sakit itu.
"Selamat pagi," sapa Erza ramah. Toushiro mengerling sekilas, menggumamkan jawaban sapaan itu sambil lalu.
Erza berdiri bersandar pada balkon, mengikuti arah pandang Toushiro ke arah kota. Sejenak tak ada yang berbicara di antara mereka. Dan kemudian Erza mengambil inisiatif untuk memecah keheningan; ia menarik keluar bros perunggu yang ditemukannya semalam. Ia mengulurkannya pada Toushiro; kain hijaunya terjuntai dari lipatannya.
"Aku temukaan ini di bawah meja bar. Natsu bilang ini milikmu, dia bisa mencium baumu disana."
Toushiro menerima bros itu, lalu menelusuri pola bergaris disana perlahan "Aku mencarinya kemana-mana. Terima kasih."
"Sama-sama," sahut Erza ramah.
Hening sejenak.
"Bagaimana Dragneel bisa mencium bauku?" tanya Toushiro pelan, memutar-mutar bros itu sambil menatap menara lonceng Katedral Cardia di kejauhan.
"Dia Dragon Slayer," kata Erza tenang. "Kau tahu, para penyihir yang diasuh oleh naga dan diajari kekuatan sihir mereka. Mereka menjadi penyihir dengan kekuatan yang menyamai kekuatan para naga, kekuatan yang bisa mengalahkan para naga. Para penyihir seperti itu disebut Dragon Slayer."
Toushiro mengabaikan geram tak menyenangkan Hyourinmaru di belakang pikirannya.
"Naga itu... ada? Disini?" tanya Toushiro ragu.
"Ya," kata Erza, tersenyum simpul. "Tapi mereka menghilang sejak bertahun-tahun lalu. Entah dimana mereka sekarang. Natsu juga sudah mencari ayah naganya, Igneel, tapi sampai sekarang dia belum berhasil. Oh, ya, jumlah Dragon Slayer juga tak banyak. Mungkin karena para naga tak terlalu percaya pada manusia. Selain Natsu, Fairy Tail juga punya tiga Dragon Slayer yang lain. Wendy, Gajeel, dan Laxus."
"Marvell juga Dragon Slayer?" gumam Toushiro agak kaget.
"Iya," sahut Erza, ada nada bangga dalam suaranya. "Dia lumayan kuat, lho. Hm," Erza tampak berpikir sejenak. Ia menatap sekilas pada bros perunggu itu, lalu pada Toushiro. "aku... melihat tulisan kecil di belakang bros itu... Pride of Frozen Passion... apa kau keberatan-?"
"Tidak," kata Toushiro pelan. "Tidak sama sekali."
"Bisakah kau memberitahuku apa artinya?" tanya Erza. " Kenapa membeku? Dan-"
"Dalam pertarungan," kata Toushiro memulai, "kau memerlukan pikiranmu untuk tetap dingin, tetap tenang. Lebih baik jika kau tidak terbakar emosi dan provokasi dari musuh, mempertahankan akal sehat dan tujuan pertarungan tanpa terkorupsi oleh hal lain seperti ego pribadi. Tulisan itu sebagai pengingat untukku, walau terkadang... ada hal-hal dimana pikiranku... teralihkan."
Erza termenung sejenak, berusaha memahami kata-kata Toushiro. Menurutnya kata-kata itu lebih dari sekedar pengingat. Kata-kata itu seperti representasi Toushiro Hitsugaya itu sendiri. Entah kenapa Erza bisa merasakan dinginnya kepribadian si rambut putih, kebekuan yang sulit dilelehkan akan keinginannya untuk menyembunyikan emosi dan kepedihan dibaliknya.
Erza menghela napas.
"Well, terima kasih sudah memberitahuku. Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita turun ke aula. Semuanya mungkin sudah datang dan kita bisa sarapan bersama."
Toushiro setuju dalam diam. Ia mengikuti Erza menuju ke aula. Memang benar, semua orang sudah datang, bahkan sudah memulai kekacauan, dengan bintang utama Natsu dan Gray. Erza tampaknya sedang berbaik hati, membiarkan kericuhan terjadi sementara ia menikmati sarapan pagi pesanannya pada Mirajane, strawberry cheesecake. Toushiro memandang keramaian di aula sambil menyesap teh hijaunya. Tepat saat itu Pantherlily melompat ke meja bar sambil menyapanya dengan sopan. Sekarang ia sudah terbiasa dengan keberadaan para Exceed.
"Hei, Toushiro," kata Lily dengan nada ingin tahu, "Kau membuatku sedikit penasaran..."
"Penasaran bisa membunuh kucing," kata Toushiro datar. "Dan panggil aku Hitsugaya."
"Yeah, yeah," kata Lily sambil lalu. "Aku ingin tahu sihir seperti apa yang bisa kau gunakan. Apa kau pengguna swordmanship magic seperti Erza, dengan pedang seperti itu?"
Toushiro mengangguk sekali. Ia memang telah sepakat dengan Master Makarov untuk mengamuflase kemampuan shinigami-nya. Ia sekarang 'penyihir' dengan kemampuan bertarung menggunakan pedang, yang sering disebut sebagai tipe swordmanship magic, yang digabungkan dengan sihir es. Kebohongan yang konyol, menurut Toushiro.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, Natsu dan Gray sedang bergulat dengan berisiknya dengan Elfman. Gajeel menonton mereka dengan ekspresi jijik, sementara anggota lain bersorak memberi semangat pada jagoan masing-masing mereka itu.
"Begitu," kata Lily ringan. "Bagaimana kalau kita sparring ringan. Kau sepertinya agak sedikit bosan."
Toushiro memandang si Exceed hitam, yang tersenyum menantang padanya.
"Aku tak bermaksud meragukanmu, tapi-"
Lily mengangkat pedang bermata dua yang dibawa di punggungnya. "Aku sedikit berbeda dengan Happy dan Carla. Tubuhku bisa membesar, walau cuma lima menit, tapi cukuplah kalau cuma untuk latihan kecil begini. Itu kalau kau setuju dan lukamu sudah tidak apa-apa," tambah Lily, mengerling ke arah luka di perut Toushiro yang tertutupi perban dan shihakusou-nya.
"Aku tidak apa-apa," kata Toushiro kalem. "Baiklah jika kau ingin sparring-"
Kata-kata Toushiro terpotong saat mendadak saja tubuh Pantherlily membesar, sehingga tampaknya Exceed itu seperti puma humanoid bertubuh kekar. Lily menyeringai senang, mengangkat pedangnya yang juga membesar sehingga sesuai dengan postur tubuhnya. "Itu artinya kita mulai!"
Lily mengayunkan pedangnya ke arah Toushiro; Lisanna menjerit. Tapi pedang baja itu menghantam meja bar yang tak berdosa, Toushiro menghilang!
"Kau cepat juga," komentar Lily, berbalik. Ternyata Toushiro berdiri di atas meja, di samping Cana yang membeku kaget dalam gerakan memeluk gentong anggurnya. Beberapa anggota serikat yang menonton tampak kaget; Erza menatap Toushiro tak percaya, sedangkan trio gulat Natsu-Gray-Elfman dan Gajeel terbelalak kaget. "Bagaimana kau berpindah secepat itu?"
"Aku menyebutnya shunpo-langkah kilat," sahut Toushiro kalem. "Tapi ini sparring ringan, paling tidak awali dengan baik."
"Ini di Fairy Tail, buang semua formalitas, young man," kata Lily.
Lily melompat maju dengan pedang terayun. Dengan gesit Toushiro melompat mundur; Cana mengumpat keras saat pedang Lily menyabet dan membuat gentong yang dipeluknya terbelah dua dan membuat isinya membasahi sekujur tubuhnya.
"Sori, Cana," kata Lily santai. Ia menyabetkan pedangnya lagi ke arah Toushiro, yang berhasil menghindarinya dengan gesit. Toushiro lalu mendarat di tengah aula yang kosong.
"Akhirnya kau memutuskan berhenti main kejar-kejaran. Jangan menghindar terus dong," kata Lily.
"Tak harus melakukannya disini, 'kan?" tanya Toushiro, mengerling ke sekitarnya.
"Jangan cemas. Ini hanya sparring kecil. Nah, ayo mulai!"
Lily menerjang maju; bunyi logam beradu dan percikan bunga api membuat semua mata terarah pada bagian tengah aula. Toushiro telah menarik keluar katana-nya dalam gerakan cepat dan memblokir pedang Lily.
'Anak ini cekatan,' kata Lily dalam hati, menatap wajah tanpa ekspresi lawannya. Ia juga menyadari satu hal. Tubuh kecil Toushiro Hitsugaya memiliki tenaga yang cukup besar yang mampu menahan kekuatan besar yang dicurahkan Lily pada tekanan pada pedangnya. Tampaknya ini akan jadi pertarungan yang menarik.
Pedang yang bersilang itu saling menjauh, kemudian beradu lagi. Mereka yang menonton terpaku di tempat, hanya mata mereka yang mengikuti ayunan pedang kedua peserta duel itu. Toushiro berkelit dengan gerakan yang lincah dan luwes, keuntungan dari tubuh mungilnya. Toushiro membuktikan kemampuannya dalam mengayunkan katana yang hampir sama dengan tingginya, menunjukkan bahwa ia telah mengenali dan menguasai penggunaannya dengan sangat baik.
"Hebat," kata Erza kagum. "Ini sudah sekelas master samurai.'
"Tapi Hitsugaya-san 'kan belum pulih," kata Wendy cemas.
Sementara itu, Makarov menatap pertarungan itu dengan campuran kagum dan cemas. Ia mengagumi kemampuan berpedangnya, yang jika dilihat dari siapa dirinya yang sebenarnya, Makarov yakin itu didapatnya karena pengalaman bertarungnya sebagai shinigami; tetap fokus, gerakan yang mantap dan percaya diri, kekuatan yang terukur, serta Makarov yakin mata turqouise itu membaca gerakan lawannya, mempertimbangkan gerakan selanjutnya dan strategi apa yang digunakan. Makarov mengerling Erza, melihat Titania menyadari hal yang sama dari performa Toushiro Hitsugaya. Meski begitu, sedikit kecemasan mengusik Makarov. Wendy benar, Toushiro masih belum pulih. Lukanya masih belum sempurna untuk sembuh. Sungguh mengherankan bagaimana Toushiro bisa tetap bergerak tanpa menunjukkan tanda-tanda kesakitan.
Tepat saat itu Toushiro menyabetkan pedangnya dengan kuat dan cepat, membuat Lily mundur karena merasakan gelombang energi dari sabetan katana itu. Dan kemudian dengan kecepatan tak terduga Toushiro sudah ada di depan Lily, menendangnya sampai menabrak meja panjang yang kosong, membuat beberapa penyihir terkesiap kaget; Gajeel menggeram tak suka walau ia tahu Lily tidak apa-apa.
"Ya ampun," bisik Lucy cemas.
"Cih." Lily bengkit berdiri dari puing-puing meja yang terbelah dua karena tabrakan itu. Anehnya, ia menyeringai. "Tak kusangka tendangan dari kaki kecilmu sekuat itu. Apa yang kau lakukan?"
"Teknik itu disebut houhou-bertarung dengan menggunakan kekuatan kaki," kata Toushiro, memposisikan katana-nya di depan. "Sejujurnya itu dan hakuda-bertarung dengan menggunakan kekuatan tangan-bukan keahlianku."
"Bukan keahlianmu?" kata Lily agak terkejut. Bukan keahliannya saja sudah sesakit ini. Dasar bocah sinting. "Lalu, apa fokus keahlianmu?"
Toushiro memegang katana-nya dengan kedua tangannya, matanya berkilat. "Zanjutsu."
"Apa?"
Toushiro melesat maju. Lily menahan hantaman katana itu dengan pedangnya, sedikit kaget karena jumlah energi yang digunakan Toushiro kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Adu pedang kembali terjadi, kali ini lebih sengit. Dan kemudian, mendadak saja, saat pedang Lily dan katana Toushiro bersilang untuk kesekian kalinya, kali ini bukan bunga api yang muncul diantara kedua baja tipis itu. Lily agak kaget melihat bunga es muncul di titik beradunya pedangnya dengan katana itu, dan menyebar dengan perlahan. Ia menatap Toushiro tak percaya, yang matanya menyipit serius. Buru-buru Lily menarik pedangnya menjauh, mundur beberapa langkah.
"Apa yang-?!"
Tapi Toushiro tak menunggu. Ia menerjang cepat bak peluru; dan semua terjadi begitu saja. Terdengar dentang mengerikan dan pedang besar bermata dua itu melayang lepas dari tangan Lily, menancap jatuh di atas lantai kayu, tiga meter dari sang tuan. Ujung katana yang tajam milik Toushiro hanya berjarak satu senti dari leher si puma hitam.
"Apa?! Lily-ku kalah?! Tidak mungkin!" seru Gajeel tak percaya, mengumpat keras. Akan tetapi, penonton yang lain bertepuk tangan menghargai dan kagum sementara Natsu dan Gray kompak ternganga tolol.
"Kau hebat," kata Lily mengakui. Toushiro menyarungkan katana-nya, lalu memberi anggukan singkat tanda duel berakhir. "Apa tadi yang kau lakukan? Dengan es itu?"
Toushiro menghela napas. Ia tak bisa bicara jujur tentang kemampuannya. "Menggabungkan keahlian berpedang dengan kemampuan alamiku, dalam hal ini adalah es. Tapi hanya dengan Hyourinmaru aku bisa mengunakannya."
"Hyourinmaru?" tanya Lily agak heran. "Kau menamakan pedangmu?"
Toushiro membuat gerakan ganjil antara mengangguk dan mengangkat bahu. Sebelum Lily meminta penjelasan lebih, Natsu sudah memotongnya dengan teriakan penuh semangat.
"Penyihir es! Kau harus bertarung denganku, Toushiro!"
Mengela napas, Toushiro lalu menjawab datar, "Tidak mau."
"Kau meladeni Lily!" seru Natsu tak sabar, tinjunya menyala. "Kau akan duel dengank-"
"Bakudo ke-1: Sai."
Mendadak saja kedua lengan Natsu seolah tertempel dengan punggungnya. Natsu yang kaget langsung jatuh tersungkur, ditertawakan sebagian besar anggota serikat.
"Oi! Apa yang kau lakukan?!" seru Natsu tak terima pada Toushiro. Jelas ia tahu kalau Toushiro-lah yang menjadi tersangkanya, karena dilihatnya tangan kanan Toushiro sedikit terangkat ke arahnya.
"Itu salah satu jenis mantra Kidou," kata Toushiro kalem. "Ada dua jenis, hadou untuk menyerang dan bakudou untuk pengikat dan bertahan. Masing-masing punya 99 mantra. Semakin besar angka mantranya, semakin sulit dan semakin kuat penguasaan dan kekuatannya."
"Itu tadi mantra pertama, 'kan?" tanya Wendy memastikan, mengawasi Natsu yang meronta berusaha membebaskan diri.
"Ya. Secara teori memang yang paling mudah. Tapi jika memaksakan diri mematahkan mantranya itu bisa bahaya-"
Bunyi keratak keras membuat Toushiro memandang Natsu. Retakan besar muncul di tali cahaya yang membelit tangan Natsu ke punggungnya. Toushiro bisa merasakan kalau Natsu menggunakan panas tubuhnya dan energi fisiknya yang bercampur deengan energi sihir untuk mematahkan kidou level bawah itu.
"Bebas!" seru Natsu gembira. Ia menatap Toushiro dengan riang. "Ayo duel!"
Toushiro menghela napas. "Tapi orang keras kepala selalu bisa mengatasinya." Sebelum satupun penyihir menyadarinya, ia ber-shunpo pergi lewat pintu aula yang terbuka lebar. Ia masih bisa mendengar teriakan tak puas Natsu bahkan setelah ia berjarak duapuluh meter dari gerbang serikat, menuju ke keramaian pagi Kota Magnolia Benar-benar bukan main Dragon Slayer yang satu itu.
