Selamat membaca! :)
Chapter 6
Matahari terbenam adalah obyek pemandangan favorit Toushiro Hitsugaya. Baginya, warna-warna campuran dari jingga, kuning, abu-abu, sampai keunguan itu membuat ketenangan merasuki pikirannya, walau garis horizon tidak menyentuh padang rumput atau pegunungan atau lautan dan malah gedung-gedung dan atap rumah, itu bukan masalah baginya, pun keramaian yang ada di antara gedung-gedung itu atau di lantai dasar Markas Fairy Tail ini.
Sementara itu, pikirannya, sekali lagi dalam beribu-ribu kesempatan, tertuju pada masalah pelik yang telah dihadapinya. Ia ingin sekali bisa kembali dan menyelesaikan segalanya. Tapi ia masih terjebak di dunia ini, tak tahu jalan kembali, dan itu membuatnya frustrasi. Sampai kapan ia harus ada disini? Sampai Kusaka datang dan mendesaknya untuk bergabung dengannya?
Toushiro menghela napas.
"Senang dengan pemandangannya?"
Suara itu. Erza lagi. Toushiro hanya mengerling sekilas, lalu mengarahkan pandangannya pada matahari lagi. Erza berdiri di sampingnya, ikut memandang langit sore.
"Aku belum bilang padamu, tadi itu pertandingan bagus," kata Erza.
"Hm."
"Darimana kau pelajari semua itu?"
"Praktek."
"Dengan siapa?"
"Beberapa guru."
"Dimana?"
"Di tempat asalku."
"Apa kau terbiasa dengan menjawab pertanyaan dengan singkat?"
"Ya."
Erza tak bisa menyembunyikan senyumnya. "Kau lucu."
"Aku tak menangkap dimana lucunya," tukas Toushiro tajam.
Erza tertawa kecil. Lalu ia menghela napas. Sekali lagi, keheningan berada di antara mereka.
"Aku punya kabar baik," kata Erza memulai. "Tadi Master bicara padaku, dan bilang agar aku membawamu padanya."
"Ada apa?"
"Mulai besok kau bisa mulai misi pertamamu sebagai anggota Fairy Tail. Aku tahu kau sudah menunggu kesempatan untuk keluar Markas, jadi kurasa ini benar-benar bagus untukmu, ya 'kan?"
"Benar," kata Toushiro setuju. Dalam hati ia merasa agak lega. Prospek keluar Markas bisa menjadi kesempatan untuknya mencari informasi tentang dunia sihir ini, dan mungkin, jika beruntung, dia bisa mencari tahu jalan pulang.
Keesokan harinya, Toushiro menjadi orang pertama yang berdiri di depan papan request misi untuk mencari misi pertamanya sebagai anggota Fairy Tail. Master Makarov memang mengizinkannya pergi, tapi dengan syarat ia harus ditemani salah satu anggota Fairy Tail yang lain.
"Aku akan pergi denganmu!" seru Natsu bersemangat tapi Toushiro menolaknya, tahu bahwa kehadiran Natsu bukan untuk membantu tapi mengajak bertarung. Untungnya Erza berhasil membantu Toushiro lepas dari Dragon Slayer api itu.
"Kau punya jadwal misi denganku, Lucy, dan Gray hari ini. Kau tidak akan mengganggu orang lain! Dan harusnya kau sudah siap pergi, kita ke stasiun sekarang juga, Natsu!" omel Erza.
"Naik kereta? Kenapa tidak jalan kaki saja…" keluh Natsu
"Tak ada orang waras yang pilih jalan kaki untuk pergi ke Ashald, Moron! Jaraknya lima puluh kilometer dari Magnolia!" kata Gray tak sabar.
"Wendy ikut ya," kata Natsu, menggembungkan pipinya.
"Tidak, Wendy yang pergi sama Toushiro," kata Erza kalem.
Wendy yang memeluk Carla terperanjat, sementara Toushiro mengangkat alis. Tapi kemudian Toushiro mengangguk setuju.
"Tapi Toushiro-san, aku… aku…" Wendy terdiam mendadak saat Toushiro menatapnya, lurus ke kedua matanya.
"Kau kenapa?" tanya Toushiro datar, menarik kertas request misi dari papannya tanpa melihat, membawanya ke meja bar untuk di beri cap oleh Mirajane.
"Kau mengambil misi ini?" tanya Mirajane, agak terkejut. "Menangkap The Cursed Eye akan butuh sekelompok penyihir…"
"Aku dan Marvell sudah lebih dari cukup," kata Toushiro kalem, meyilangkan tangannya untuk menunggu Mira memberi cap persetujuan, yang masih diamati sambil menatap Toushiro dengan ragu.
"Tapi aku tak banyak berguna di pertarungan," kata Wendy pelan. "Dan yang kita hadapi adalah satu serikat sihir gelap yang berbahaya…"
"Kita tidak tahu itu," kata Toushiro datar. "jangan melemahkan diri sendiri. Kau Dragon Slayer, 'kan?
"I…iya, tapi…"
"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Toushiro, mengagetkan Wendy.
"Er… sihir penyembuhan… dan serangan, tapi sedikit…"
"Jarak jauh atau dekat?"
Sekarang banyak yang memandang keduanya. Laxus mengernyit curiga.
"Jika kita harus bekerja sama untuk menyelesaikan misi, maka aku perlu tahu kemampuanmu. Dengan begitu kita bisa menyusun strategi untuk menghadapi The Cursed Eye." Toushiro mengernyit saat menyebut nama serikat sihir itu. "Kau sudah lihat aku dengan pedangku, tapi aku belum tahu kemampuanmu. Dan," Toushiro memandang Mirajane, "apa ada info tentang serikat itu selain kalau mereka hobi merampok dan menjual anak-anak?"
Mirajane menggeleng.
Toushiro tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Kita akan lihat kalau sudah lihat mereka. Setelahnya, mungkin kita akan pakai elemen kejutan."
"Percaya diri sekali," komentar Laxus.
"Itu rencana," kata Toushiro kalem.
"Bahkan 'elemen kejutan'? itu terdengar sama dengan rencana T untuk Terjang langsung-nya Natsu," kata Gray.
Toushiro hanya diam, matanya menatap Gray dengan tajam. Ia menghela napas. "Kita lihat saja nanti. Kita pergi Marvell."
"A-ah! I-iya!" Wendy memeluk Carla, lalu membungkuk sopan pada teman-temannya, sebelum bergegas menyusul Toushiro yang sudah melewati pintu sambil memakai jubahnya, diikuti tatapan tercengang anggota serikat lainnya.
Toushiro telah tiba di Kota Hargeon, bersama Wendy dan Carla, yang menurutnya menyerupai gambaran yang mirip dengan Dunia Manusia, hanya sedikit lebih sederhana. Suasana ramai dari pasar yang mereka lewati menyambut mereka. Di sekitar mereka dipenuhi pria atau wanita, tua ataupun muda, yang berlalu-lalang entah untuk tujuan apa. Toushiro menatap punggung Wendy di depannya, yang tampaknya sedang mengamati sekitarnya dengan senang. Tadi, selama perjalanan dengan kereta menuju Hargeon, gadis itu sudah menjelaskan kemampuan sihirnya kepada Toushiro. Si rambut putih berpendapat kalau Dragon Slayer termuda itu tak bisa diremehkan. Rasanya misi kali ini tak akan berjalan buruk.
"Hitsugaya-san!" panggil Wendy riang. "Lihat ini, deh!"
Toushiro bergerak mendekati Wendy, yang menunduk di atas deretan aksesoris yang dijaga oleh seorang wanita paruh baya berwajah baik hati. Wendy mengambil salah satu dagangan wanita itu; mengacungkan sebuah gelang anyaman tali berwarna coklat berhiaskan manik-manik hijau. "Cantik, ya," ujar Wendy antusias.
"Kita tidak punya waktu untuk yang beginian, Wendy," tegur Carla.
"Ayolah, Carla. Ini 'kan memang bagus sekali! Iya, 'kan Nii-san?" Wendy menatap Toushiro dengan mata melebar riang, yang dengan cepat kehilangan sedikit semangatnya saat melihat alis Toushiro yang terangkat. "Ma-maaf… Habisnya…"
Toushiro menghela napas. "Tidak apa-apa," katanya datar, namun itu cukup untuk memunculkan kembali binary riang di mata coklat lebar itu. Mungkin, kata Toushiro dalam hati, tak masalah memberi pengecualian pada gadis kecil di depannya, yang bersikap paling hangat kepadanya sejak ia berada di Fairy Tail.
"Kalau begitu," kata Wendy senang, ia menyusuri deretan gelang-gelang anyaman di depannya dengan jari telunjuknya, mengambil tiga gelang berbeda warna. "aku akan beli ini. Satu untukku, satu untuk Carla, satu untuk Nii-san! Jadi kita bertiga terikat, seperti saudara!"
"Itu tidak per-" kata-kata Toushiro menghilang tak berarti. Ia dan Wendy hanya bisa bertukar pandang, kali ini sepakat, bahwa kekeras kepalaan dan antusiasme Fairy Tail telah mempengaruhi gadis polos itu.
Setelahnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Toushiro menyentuh gelang anyaman berwarna hitam dengan manik biru yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, yang dipakainya demi menghargai perasaan penyihir cilik yang berjalan di depannya. Wendy tadi memakaikan gelang itu dengan raut wajah gembira, membuatnya tidak tega untuk menolak, setelahnya gadis itu memasang gelang berbentuk sama, namun dengan warna biru gelap bermanik ungu ke tangan berbulu Carla, dan memasang yang berwarna hitam bermanik mutiara putih.
Sejujurnya bukan gelang itu yang menjadi masalah bagi Toushiro. Arti dibalik pemberian itulah yang membuatnya merasa ganjil, tercabik antara senang dan cemas. Antara bahagia dan ketakutan.
'Apa yang kau takutkan, Master,' tanya Hyourinmaru dalam inner world-nya, terdengar heran dan gelisah.
'Kau tahu betul apa masalah yang kita hadapi, Hyourinmaru. Hubungan pertemanan membuatku mendapat masalah. Masalah besar. Apa menurutmu yang bisa kuberikan pada Marvell, jika teman yang kuhargai pada akhirnya juga pergi? Semua emosi yang berhubungan dengan pertemanan tidak pantas kumiliki. Tidak pantas dimiliki shinigami. Itu hanya melemahkanku.'
'Jangan bicara begitu, Master,' tegur Hyourinmaru. 'Kau harus tahu, ikatan persahabatan juga bisa menguatkan seseorang.'
Toushiro tak ingin berdebat dengan Hyourinmaru, yang pada akhirnya akan memunculkan harapan lain dalam benaknya. Lagipula, situasi di dunia nyatanya mengalihkan perhatiannya. Mereka telah mencapai batas kota dengan hutan yang menurut info menjadi tempat persembunyian The Cursed Eye. Rumah-rumah penduduk di sekitar tempat itu terbilang cukup kumuh, pertanda para penghuninya berstatus menengah ke bawah. Namun yang menarik perhatian kedua penyihir Fairy Tail itu adalah tiga orang pria bertubuh besar bertampang sangar dan liar yang tengah mengancam seorang wanita paruh baya bertampang lemah dan anak perempuannya yang ketakutan sampai pucat pasi. Orang-orang di sekitar tempat itu tampaknya tak punya cukup nyali untuk menolong si wanita, segera enjauh menghindari tempat itu.
"… sungguh, Tuan," kata si wanita gemetar, "Kami tidak punya apa-apa lagi… Saya mohon, Tuan… lepaskan kami…"
"Lepaskan? Enak saja," kata pria botak bertubuh tambun dengan kumis tebal. Pria itu membuat gerakan melenturkan lengan kirinya; sebentuk lambang yang kelihatannya seperti mata berpupil vertikal berwarna hitam. "Kami, The Cursed Eye, akan dapatkan yang kami mau… Anakmu itu sepertinya akan lumayan jika kami jual."
Si gadis kecil menjerit ketakutan dan memeluk lengan ibunya yang sama ketakutannya. Ketiga pria itu malah tertawa girang melihat kegerian dua korbannya. Salah satu dari pria itu, yang paling jangkung yang memakai penutup mata ala bajak laut di mata kirinya menarik paksa si gadis kecil yang menangis sambil menjerit.
"Itu sungguh tindakan yang sangat tidak terhormat, Tuan-Tuan," kata Toushiro datar.
Ketiga pria itu menoleh dengan tampang seakan digangu saat melakukan sesuatu yang sangat penting. Ketiganya membelalak pada pemuda mungil berambut putih yang berdiri di belakang mereka, yang mata turquoise-nya menyipit berbahaya.
'Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu?' kata Wendy kaget, dalam hati. 'Dia tadi 'kan di belakangku!'
"Heh," si pria botak memasang tampang meremahkan yang kurang ajar pada Toushiro, "mau apa kau, Bocah?! Beraninya kau bicara kurang ajar begitu pada kami."
"Kurasa kalian salah mengerti kata-kata 'kurang ajar'," kata Toushiro datar dan tenang. "Aku, untungnya tidak sekurang ajar kalian yang menindas orang lain."
Wendy menutup mulutnya dengan kaget. 'Kenapa dia malah memprovokasi The Cursed Eye?! Inikah rencana yang dia maksudkan?!
"Bocah ini sombong juga," kata pria ketiga yang suaranya cempreng seperti bebek. Toushiro mengernyit, matanya dingin. "Kami tidak suka tatapan itu, Bocah Sial."
"Dia punya pedang bagus," kata si jangkung, menatap gagang Hyourinmaru yang terlihat di balik punggung Toushiro, tak tertutup oleh jubahnya. Mereka jelas tak melewatkan tatapan mereka pada gagang katana itu, mampu menaksir harga dari bintang empat sudut perunggu yang artistik itu. "Dan sepertinya dia lumayan mahal di pasaran. Bayangkan, berapa harga untuk bocah bermata hijau macam dia; bocah dengan mata hijau selalu mahal."
"Huh, teruslah bermimpi kalau begitu." Kata Toushiro dingin.
Si pria jangkung mengulurkan tangan untuk menjangkau Toushiro, namun gagal. Udara kosong digenggam olehnya.
"Kau perlu lebih cepat dari itu," kata Toushiro, mendadak saja sudah ada di samping si wanita dan anaknya, dalam posisi defensif. Ia mengerling pada wanita itu, berkata dalam nada rendah, "Pergilah dari sini, bawa anakmu.'
Wanita itu mengangguk, menggumamkan terima kasih. Ia segera mendekap anaknya dan menjauh dari tempat itu secepat yang dia bisa. Ketiga perampok itu memandang Toushiro dengan marah.
"Kau membuat kami kehilangan buruan kami, Nak," kata si jangkung kesal."Kau akan menyesal karena telah main-main dengan The Cursed Eye!"
"Menyedihkan," kata Toushiro pelan, namun tajam, membuat ketiga perampok The Cursed Eye itu membelalak marah kepadanya. "Tapi kebetulan, misi kami dalah membereskan kalian."
"'Kami?'" ulang si pria tambun. Matanya yang menyipit dengan cepat menangkap sosok Wendy yang memeluk Carla tak jauh dari mereka. Dan mata ketiganya tertuju pada simbol serikat di lengan kiri atas gadis kecil itu. "Fairy Tail?" terdengar nada terkejut dari si pria tambun, sebelum seringai mengejek melengkung di sudut bibirnya. "Mereka mengirim dua bocah untuk mengalahkan kami? Tolol sekali! Apa yang bisa kalian lakukan, Peri-Peri Kecil?! Hahaha!"
Tawa mengejek itu seakan bergema di tepi hutan itu, disusul bunyi keresak yang berisik dan derak langkah-laangkah kaki yang berat. Jeritan kecil Wendy membuat Toushiro menoleh, dan ia segera ber-shunpo – agak mengejutkan Wendy – ke samping gadis berambut biru tua itu.
"Seluruh anggota The Cursed Eye sudah ada di sini," kata si pria tambun dengan keriangan ganjil. "Nah, kalian mau apa sekarang?"
Paling tidak ada lima puluh pria bertubuh besar, bertampang sangar, dan bergaya liar mengepung kedua – ralat, ketiga – anggota Fairy Tail itu. Wajah-wajah yang dibuat galak itu jelas berbeda, dan satu-satunya kesamaan mereka adalah simbol serikat yang kesemuanya dicapkan di lengan kiri mereka.
"Jadi mereka berdua yang membuat kalian memanggil kami?" tanya pria bertubuh paling besar dengan cambang dan kumis lebat. Tubuhnya yang tinggi, besar, dan berotot berlebih membuat Toushiro teringat pada Penjaga Gerbang Barat Seireitei, Jidanbo, namun dengan versi yang tidak menyenangkan. "Mereka cuma bocah-bocah ingusan."
"Maaf, Bos," kata si tambun, agak gentar. "Tapi mereka anggota Fairy Tail…"
"Tetap saja mereka bocah," kata seorang pria berambut kribo.
Si Bos mendengus geram. "Selesaikan mereka dan kita jual saja mereka nanti. Kurasa Peri-Peri lain tak akan keberatan kehilangan dua peri kecil mereka."
"Bagaimana sekarang?" tanya Wendy cemas, pelan, saling membelakangi dengan Toushiro yang matanya dengan tajam menganalisa situasi
"Mereka sudah di sini, kita tak perlu repot-repot mencari mereka…"
"Lalu?" desak Carla. "Mereka masih terlalu banyak!"
"Kuantitas tidak menjamin kualitas," kata Toushiro kalem. "Kita hanya perlu bekerja sama dan menyelesaikannya dengan cepat."
"Tapi…" Wendy menatap sekitarnya dengan cemas, bergidik melihat seringai musuh di sekitar mereka. Carla benar, mereka terlalu banyak. Ia juga merasa kecil melihat bagaimana Toushiro bisa mempertahankan rasa percaya dirinya di situasi seperti ini.
"Jangan cemas," kata Toushiro, mengerling pada gadis kecil di belakangnya. "Kita bisa lakukan ini. Aku di belakangmu."
Secara tak disangka, Wendy merasakan ketenangan merasuki dirinya. Kecemasannya memudar. Kepercayaan diri si rambut putih menularinya.
"Sudah selesai bisik-bisiknya?" tanya si kribo mengejek, membuat perhatian tiga anggota Fairy Tail terarah kembali pada The Cursed Eye.
"Ya, sudah," kata Toushiro kalem, menarik Hyourinmaru dari wadahnya. Mata seluruh serikat gelap itu tertuju pada kilap keperakan katana yang panjangnya sekitar empat kaki itu. Toushiro mengangkat zanpakuto-nya ke depan, ke arah lawan-lawannya.
"Kau kira kau bisa mengalahkan kami, Bocah?!" bentak si Bos, tampak terhina.
"Aku tidak berpikir begitu," kata Toushiro datar, sementara Wendy telah memasang kuda-kuda, siap serang. "Aku tahu memang begitu."
Toushiro membalik arah bilah pedangnya, sehingga mata zanpakutounya yang tajam tak akan mengakibatkan luka fatal; shinigami dilarang membunuh manusia.
