A new chapter..

There ya go~

Chapter 8

Hari ini tak seperti biasanya untuk serikat sihir Fairy Tail, yang suasananya cukup lengang. Sebagian besar anggotanya sedang pergi untuk mengerjakan misi. Hanya beberapa yang tinggal di Markas, yakni Tim Shadow Gear, dua gadis Strauss, Romeo, Reedus, dan si kecil Azuka, yang ditinggal Alzack dan Bisca, kedua orang tuanya, yang juga pergi misi. Bahkan Master Makarov juga tidak ada, sedang rapat bulanan dengan para master serikat lain se-Kerajaan Fiore. Namun, Toushiro juga ada di Markas, menolak ikut pergi dengan Tim Natsu untuk membantu Mira membersihkan Markas.

"Nah, selesai," ujar Lisanna lega, mengusap peluh dengan punggung tangannya setelah meletakkan piring terakhir yang dicucinya ke rak piring. "Bagaimana denganmu, Hitsugaya-kun?"

Toushiro yang baru keluar dari perpustakaan Markas, bersama Levy dan Reedus yang membantunya mengangguk. Bertiga, mereka mendapat tugas untuk membersihkan tempat itu. Ia tak habis pikir, kenapa serikat sihir sekaliber Fairy Tail mau merepotkan diri membangun perpustakaan jika pengunjung tetapnya hanya segelintir orang – Lucy dan Levy menempati daftar itu. Ruangan penuh buku itu jarang dikunjungi hingga sebagian besar tempat tertutupi debu tebal dan sarang laba-laba.

Si rambut putih segera melangkahkan kaki ke kamar mandi. Ia butuh air sedingin es yang mengguyurnya dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk membantunya mengenyahkan rasa panas yang menjalari seluruh tubuhnya karena kegiatan bersih-bersih itu.

"Aku punya perasaan kalau semua bersih-bersih yang kita lakukan akan sia-sia jika mereka semua sudah pulang," kata Toushiro duduk di samping Lisanna setelahnya, sambil mengedarkan pandang ke arah aula yang tertata rapi dan bersih. Lisanna yang mendengarnya terkikik geli.

"Tapi tak ada salahnya membuat Markas ini tidak seperti sarang 'kan," kata Mira, menyodorkan segelas limun dingin ke arahnya. "Terima kasih sudah mau membantu, lho."

"Tidak masalah," kata Toushiro kalem. "Mana Azuka?"

Toushiro memandang berkeliling sekali lagi, mencari si bocah lima tahun yang mengembangkan hobi baru sejak Toushiro resmi bergabung dengan Fairy Tail; memainkan rambut putihnya. Gadis mungil itu akan menaiki meja bar saat Toushiro duduk di kursi dekat meja itu untuk bicara dengan Master, lalu dengan riang membelitkan jemarinya ke helaian rambut putih Toushiro sambil tertawa-tawa girang. Hal ini biasanya akan memicu ledakan tawa Natsu dan Gray, membuat Toushiro kesal sekali. Yang lebih parah, sangat sulit membuat Azuka berhenti memainkan rambut Toushiro, bahkan kedua orangtuanya kesulitan membujuknya untuk berhenti. Maka, Toushiro, yang tak mungkin marah pada si kecil akan membiarkannya begitu saja sampai bosan sendiri. Tak jarang Azuka akan menjatuhkan diri ke pangkuan Toushiro untuk kesenangannya sendiri dan ketiduran di sana bahkan tanpa Toushiro sadari.

"Onii-chan habisnya lucu sih," kata Azuka gembira, jika ibunya bertanya kenapa Azuka senang sekali dekat-dekat dengan Toushiro, yang bahkan mengakui pada anggota serikat tidak punya pengalaman dengan dunia anak-anak – kecuali dunia Yachiru Kusajishi, yang diatasinya dengan memberi sekantung besar permen dan berjenis-jenis makanan manis lain yang dihadiahkan Ukitake untuknya. "Apalagi kalau udara panas; Nii-chan dingiiiin~"

"'Kan ada Gray," kata Lucy saat itu, sambil menahan senyum.

"Gray-nii suka tidak pakai baju! Azuka gak mau dekat-dekat dengan Gray-nii kalau tidak pakai baju! Ibu 'kan bilang kalau tidak pakai baju itu tidak sopan! Kalau Toushiro nii-chan dingin, masih pakai baju, baunya enak lagi!"

"Baunya aneh begitu," kata Laxus, yang masih menjadi satu-satunya orang yang tampaknya tak begitu menyukai Toushiro. "Aku heran bagaimana kau bisa mempertahankan bau salju di tengah musim gugur. Dan…" Laxus mengendus udara, matanya menatap Toushiro, "bau mint, bunga lili dan… narcissa? Kau aneh sekali."

Toushiro saat itu tak menanggapi ucapan si Lighting Dragon Slayer. Tentu saja mereka yang memiliki indera tajam sekaliber Dragon Slayer bisa membauinya. Bau salju perlambang musim dingin adalah alami baginya, mengingat ia adalah pemilik zanpakutou hyousetsu terkuat se-Soul Society. Sedangkan untuk bau lainnya, ia tidak terlalu mengerti, kecuali untuk bau narcissa, yang adalah lambang Divisi 10. Mungkin, menurut teori Toushiro, ia memang ditakdirkan berada di Divisi Investigasi itu, dan hatinya agak sakit karena mengingat kalau ia telah meninggalkannya.

"Ara," kata Mira, mengembalikan pikirannya ke saat ini. "Merindukannya?"

"Tidak," kata Toushiro, mengernyit. "Hanya bertanya. Kalau dia datang aku mau kabur secepatnya. Rambutku bisa rontok ditarik terus olehnya."

Mirajane dan Lisanna bertukar senyum.

"Tentu saja dia menyukai rambutmu. Anak itu selalu bilang dia jadi ingat musim dingin, dengan salju di mana-mana, membuat boneka salju besar seperti musim dingin yang lalu… Well, Natsu tidak sengaja menghancurkannya dengan napas apinya waktu perang bola salju dengan Gray, Azuka ngambek sampai Natsu membuatkannya boneka salju raksasa yang… Eh, maaf, jadi ingat waktu itu," kata Mira, tersenyum riang. Toushiro hanya mengangkat bahu. "Tapi Azuka ada di halaman depan, dengan Romeo, latihan menembak lagi. Seperti biasa."

"Hampir tak bisa dipercaya anak itu punya bakat menembak jitu," kata Toushiro, teringat malam sebelumnya, saat Azuka unjuk kebolehan dengan adu tembak bersama Natsu. Dari sepuluh kesempatan yang diberikan, Azuka sukses menyelesaikan semuanya dengan peluru gabus yang mengenai semua papan sasaran, sedangkan Natsu hanya mengeni tiga. Alhasil, Azuka sebagai pemenang berhak mengajukan perintah, dalam hal ini menjadikan Natsu sebagai kuda yang boleh ditungganginya selama dua jam berikutnya berkeliling aula Markas. Tentu saja, Toushiro tahu kalau Natsu mengalah untuk kalah dalam rangka memotivasi si putri tunggal Alzack dan Bisca.

"Yeah, dia putri dari dua penembak handal di Fairy Tail, 'kan?" kata Mira dengan nada bangga.

Jeritan panjang yang melengking dan penuh kengerian membuat mereka semua nyaris terlonjak kaget. Toushiro langsung menyambar Hyourinmaru di atas meja dan melesat ke luar, diikuti anggota Fairy Tail lain. Pikirannya tertuju pada satu nama: Azuka.

Di depan pintu gerbang masuk menuju Fairy Tail, paling sedikit ada dua puluh lima orang asing, pria dan wanita, dengan jubah hitam bersulamkan benang perak dan ungu. Kelicikan dan keliaran terpancar di wajah dan mata mereka. Salah satu pria, dengan sosok yang cukup muda mencengkram kerah baju Azuka, membuatnya terangkat beberapa puluh senti dari permukaan tanah. Gadis kecil itu meronta-ronta, berusaha membebaskan diri. Romeo, yang berdiri tak jauh dari pria itu berusaha menolong Azuka, tapi ia di dorong mundur sampai jatuh terjengkang.

"Oh, Tuhan," bisik Mira, separo cemas separo murka.

"Yare-yare," seorang pria paruh baya yang berdiri paling depan; tampaknya dialah pemimpin kelompok kecil itu, dengan tatapan menghina. Ia menyeringai licik. "Aku berharap menghadapi kekuatan penuh serikat sihir terhebat tahun ini." Pria itu menekan lima kata terakhir penuh penghinaan. "Tapi, yang kuhadapi ternyata kecoa-kecoa Peri."

"Kurang ajar," desis Jet marah. "Lepaskan Azuka! Dan siapa kalian?!"

"Heh." Pria muda yang memegang Azuka mengayun pegangannya, membuat gadis kecil itu menjerit kecil. "Bocah ini akan menjadi peri pertama yang menghadapi Kraken's Breath…"

"Kraken's Breath?" ulang Lisanna, terkejut. "Tapi kalian…"

"Kau tidak menyangka masih ada anggota yang tersisa, yang akan membalas dendam atas apa yang dilakukan cucu Master Fairy Tail dan antek-anteknya itu, 'kan?" kata salah satu anggota kelompok itu, seorang wanita cantik namun berwajah kejam, menyeringai memamerkan gigi-giginya yang runcing.

"Raijinshuu," bisik Mirajane.

"Kembalikan Azuka! Dia tidak ada hubungannya dengan ini!" kata Jet keras.

"Dia anggota Fairy Tail, 'kan? Tentu saja dia ada hubungannya dengan ini," kata si wanita dengan senyum yang semakin melebar.

"Sekalipun dia berhubungan dengan nama Fairy Tail, dia tidak berhubungan dengan pertarungan kalian," kata Toushiro dingin. "Tapi tindakan kalian tak pantas menunjukkan tekad balas dendam, tapi kepengecutan, dengan mengambil sandera."

Segera saja semua mata terarah pada Toushiro, yang berdiri tenang, sekalipun matanya berkilat, terpancang pada pria muda yang membawa si kecil Azuka.

"Bocah sombong!" bentak seorang anggota lain, pria besar berjenggot yang mengayunkan kapaknya dengan mengancam.

"Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk membuat mereka bertambah marah," bisik Mira cemas.

"Menghasut mereka, dengan begitu aku bisa tahu apa mereka gampang diprovokasi; aku bisa melihat celahnya jika mereka termakan hasutan, kau tahu," kata Toushiro pelan.

"Aku sudah mengetahui semua anggota Fairy Tail, kecuali Bocah Sial itu," kata si pemimpin. "Kelihatannya anak baru. Yah, lama ataupun baru, habisi saja."

"Yeah, waktunya bertarung," kata pria lain, dengan rambut pirang yang di ponytail tinggi.

"Lepaskan dulu anak itu," kata Toushiro tajam.

"Kau mau dia?" si pria muda mencengkram Azuka yang meronta. "Coba ambil dia dariku, kalau begitu."

Mata Toushiro menyipit berbahaya, tangannya melayang ke gagang zanpakutou-nya, menarik Hyourinmaru keluar dari wadahnya.

"Jangan," bisik Mira, memandang Azuka dan Toushiro bergantian dengan cemas.

"Alihkan perhatian mereka. Aku akan dapatkan Azuka," kata Toushiro pelan, zanpakuto-nya terarah ke depan. Kali ini dia tak merasa perlu membalik mata pedangnya. Ia tahu musuh kali ini lebih kuat dari The Cursed Eye; tak perlu ragu-ragu untuk melawan mereka.

Makarov Dreyar menatap langit dari jendela ruang rapat di Dewan Sihir Fiore dalam diam. Langit biru yang sama seperti biasanya, dengan awan putih yang melayang tenang di tiup angin. Namun perasaan ganjil tak nyaman melanda benaknya. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang tak diinginkannya. Entah apa itu, ia tak tahu.

"Perasaanku tidak enak," gumamnya pelan. Kegelisahan itu benar-benar mengganggunya. "Ada apa, ya?"

Azuka mengeluarkan pekik kaget saat tubuhnya serasa melayang, sebelum sesuatu yang kokoh menyambarnya pada pinggangnya dan ia bisa berdiri dengan kakinya lagi. Aroma campuran antara lili dan narcissa yang familiar terasa sangat dekat baginya. Gadis kecil itu mendongak, mendapati siapa yang mendekapnya. Wajah Toushiro Hitsugaya memandang lurus ke depan, tidak ke arahnya. Si kecil Azuka menyadari mata pemuda yang dianggapnya seperti kakak yang tak pernah dimilikinya itu menyipit tajam, seperti mata elang.

"Onii-chan?"

"Tak apa," kata Toushiro pelan, melepaskan lengannya dari Azuka perlahan. Mirajane dan Lisanna telah bersiap dengan kuda-kuda mereka untuk melawan Kraken's Breath, begitu pula anggota serikat yang lain. "Masuklah ke dalam Markas, Romeo akan menemanimu."

Romeo Conbolt mendekati Azuka, yang langsung menghambur ke pelukannya.

Sebelum Azuka sempat berkata apapun pada 'kakak barunya', Toushiro sudah melesat pergi. Romeo dan Azuka terpaku di tempat, melihat sosok kecil Toushiro bergerak begitu cepat dengan katana terayun berbahaya, menyabetkannya ke arah musuh. Ia sekarang berhadapan dengan seorang pria berambut coklat gelap, bersenjata pedang besar bermata dua yang tampak berat, namun ia ringan saja menyabetkannya ke arah lawannya yang kecil itu.

"Bocah macam kau bisa apa memangnya?" ejek pria itu, saat pedang mereka beradu. Ia mengirim tatapan merendahkan, namun agak terkejut karena mata turquoise lawannya itu tak menampakkan rasa gentar. Yang ada di sana adalah determinasi. Dan gerakannya dipenuhi naluri yang diketahui hanya dimiliki seekor singa; keangkuhan, kekuatan, nafsu membunuh.

Toushiro memusatkan aliran energi yang dimilikinya ke seluruh perrmukaan Hyourinmaru, kemudian disabetkannya zanpakutou itu, membuat si pria terdorong mundur hingga menabrak pagar batu hingga meretak. Teman-teman si pria menatap Toushiro tak percaya, yang katana-nya berpendar dengan warna putih. Hawa dingin perlahan terasa oleh mereka semua. Kawan atau lawan sekarang menatap si rambut putih, menyadari dialah sumber dari turunnya suhu secara mendadak; bahkan awan gelap pun muncul di atas langit Kota Magnolia.

Mirajane menatap Toushiro tak percaya. Bagaimanapun juga, ia adalah penyihir kelas S. Ia mengetahui kadar kekuatan seorang penyihir lewat energi sihir yang digunakan dalam pertarungan. Dan kali ini, melihat dan merasakan sendiri kekuatan anggota teranyar itu. Ini jenis kekuatan yang sama sekali berbeda dengan para penyihir yang pernah diketahuinya. Baru kali ini Mira merasakan kekuatan yang mampu membuatnya seakan dipaksa duduk berlutut, sementara oksigen untuk dihirup seakan menipis, menyulitkannya untuk menghirup.

"Toushiro…"

Namun Toushiro tampaknya fokus pada seluruh anggota Kraken's Breath. Mira menyadarinya, selesaikan pertarungan ini sebelum menanyakan lebih jauh tentang hal ini.

"Soten ni zase, Hyourinmaru," kata Toushiro pelan. Namun, Mira mendengarnya, kalimat seperti mantra yang penuh otoritas; bertahtalah di surga beku. Hawa dingin yang lebih pekat menguar, sebelum bergerak seperti angin topan mini, mengitari Toushiro. Bunyi gemericing logam terdengar, dan mereka melihat perubahan kecil terjadi pada senjata si rambut putih. Pada ujung gagang pedangnya, muncul rantai perak panjang yang terhubung pada sebentuk bilah tajam yang mirip dengan bulan sabit; cahaya matahari terpantul menyilaukan, menunjukkan bahwa sabit itu sama berbahaya dengan katana-nya.

"A-apa?" ujar si pemimpin terkejut. "Pedangnya bisa berubah?"

"Berubah?" ulang Toushiro dengan nada dingin. "Menurutmu begitu, ya? Baiklah." Toushiro mengangkat Hyourinmaru, rantainya bergemerincing mengancam. "Dia tak sekedar berubah dari segi bentuk. Aku baru saja melepasnya."

"Me-melepas?" pria berambut coklat yang tadi dilawan Toushiro berdiri dari posisinya yang baru saja menghantam tembok. "Apa maksudmu?"

"Kalian, seharusnya tidak mendatangi tempat ini dan seenaknya mengganggu Fairy Tail," kata Toushiro. Berbongkah-bongkah es muncul di sekelilingnya, dengan ujung-ujung tajam, terarah pada musuh. "Dan menyandera; aku benci taktik macam itu." Toushiro menayunkan zanpakuto-nya, bongkah-bongkah es itu melesat, bersamaan dengan seruan Toushiro, "Gunchou Tsurara!"

Para penyihir Kraken's Breath menyadari bahaya dari tajamnya pisau-pisau es itu, segera menghindarinya. Beberapa tak cukup cepat; jubah mereka tersangkut oleh ujung tajam es yang menancap di tanah atau tembok, beberapa mendapat goresan, dan beberapa malah mendapat tusukan.

"Bocah sial!"

Salah satu penyihir mendadak bergerak ke arah Romeo dan Azuka. Toushiro terhalang oleh tiga lawan sekaligus yang menantangnya beradu sihir dan pedang.

"Strauss!" seru Toushiro. Kedua kakak beradik itu menoleh sejenak dari lawan masing-masing. Mira menggeram murka.

"Take over: Satan Soul!"

Toushiro tak punya waktu untuk melihat perubahan wujud si sulung dari Strauss bersaudara itu. Ia fokus pada lawan di depannya.

"Kewalahan, Bocah Tengik?" kata wanita berambut pirang pucat dengan mengejek.

'Master,' suara Hyourinmaru mendadak bergema dalam pikirannya. Jika ia bukan shinigami yang terlatih untuk menyeimbangkan konsentrasi, pastilah pedang-pedang lawannya akan kena telak untuk melumpuhkannya.

'Apa ini waktunya ngobrol, Hyourinmaru?' tanya Toushiro agak jengkel, sementara ia melayangkan rantainya untuk melumpuhkan gerakan salah satu lawannya; pedang besar itu seketika terbungkus es dan hancur.

'Anda harus hati-hati jika melepaskan kekuatan shinigami anda,' kata Hyourinmaru cepat. 'Mereka bukan manusia biasa, mereka penyihir. Jika anda melepaskan teknik seperti Hyoryuu senbi, apalagi Ryuusenka pada mereka, reiatsu anda yang besar akan menekan energi sihir mereka dan melenyapkannya.'

'Mereka mati?'

'Tidak. Tapi kekuatan sihir mereka akan hilang. Berhati-hatilah menggunakan kemampuan anda.'

'Kalau kemampuan sihir mereka hilang, itu artinya mereka tak berbahaya untuk siapapun, 'kan?'

'Tapi akan merepotkan anda jika yang lain tahu tentang kemampuan anda, tentang siapa anda…'

'Kita lihat saja nanti, apa aku perlu melepas kekuatanmu untuk mereka, Hyourinmaru.'

Naga es itu terdiam. Namun, ia menyadari dengan sangat baik, walaupun master kecilnya tidak akan pernah mengakuinya terang-terangan. Fairy Tail telah menjadi keberadaan yang penting baginya, yang akan dilindunginya dengan segala yang ia bisa lakukan.

"Shiro-nii!" jerit Azuka. Segera Toushiro menebaskan Hyourinmaru, mengirimkan gelombang energi dingin yang membuat tiga lawannya mundur. Ia mengerling sekilas; Mira menghadapi lima orang sekaligus dalam wujud salah satu koleksi sihir Satan Soul-nya. Tapi Toushiro tahu bahwa Mira tidak berani mengeluarkan kemampuannya, dengan dua bocah Fairy Tail yang terlalu dekat dengannya. Sementara anggota yang lain tampaknya terlalu sibuk untuk menghadapi musuh masing-masing.

"Hadapi bagianmu sendiri, Bocah," kata wanita berambut pirang yang menjadi lawannya. Lawannya yang satu ini satu-satunya penyihir di antara mereka bertiga, namun cukup merepotkan; elemen anginnya berhasil mencegah es Toushiro menghantamnya. Sementara itu, dua yang lain cukup piawai menggunakan pedang mereka. Kalau begini bisa buang-buang waktu…

"Kau terlalu sombong, pantas saja kau ada di Fairy Tail, dasar Anak Aneh!" maki salah satu lawannya, pria jangkung dengan senjata pedang berbentuk salib. "Kau akan lenyap bersama mere-!"

Pria itu terkejut bukan kepalang saat empat pedang itu beradu bersamaan, dan dari titik pertemuan bilah pedang itu, es tebal meluas, rasa dingin yang menusuk tulang serasa mengalir dari pedang mereka, membuat tiga anggota Kraken's Breath itu buru-buru menarik pedang mereka dari si rambut putih.

Toushiro mengangkat wajahnya, matanya menatap tajam ketiga musuhnya. Masa bodoh dengan mereka manusia!

"Hyoryuu senbi!"

Saat Toushiro menyabetkan Hyourinmaru dalam garis lengkung linear, semburan air yang dengan cepat membeku terbentuk, mengurung tiga lawannya di dalam sana. Ada pendar putih kebiruan dari si wanita, yang tampak sangat kaget. Kemampuan sihirnya terdesak oleh reiatsu besar yang menekan dari es yang mengurungnya.

Toushiro berbalik, siap mencari lawan baru yang mengusik serikat sihir ini.

Suatu kebetulan luar biasa, saat Tim Natsu plus Wendy dan Carla yang baru pulang dari misi sebagai pelayan di restoran milik Yajima, teman Master Makarov di Dewan Sihir bertemu dengan Gajeel-Pantherlily dan Juvia yang juga baru pulang di gerbang masuk Kota Magnolia. Sore baru saja turun kala itu, sehingga keramaian masih terasa. Bersama-sama, dengan Juvia yang langsung bergelayut di lengan Gray, mereka menyusuri keramaian, sambil mediskusikan misi mereka. Secara tak terduga, mereka mengenali empat sosok yang dikenali sebagai Raijinshuu.

"Takdir memang aneh, mempertemukan kita barengan kambali ke Markas setelah misi hari ini," seloroh Bixlow. Boneka-boneka kayunya melayang di atas kepalanya, mengulaing kata 'Aneh, aneh' berkali-kali dengan suara seperti itik.

Namun, semakin mendekati Markas, mereka mendapati pandangan dan bisik-bisik warga kota yang ditujukan pada meraka. Laxus mengernyit, memandang berkeliling dengan penuh selidik.

"Ada apa, ya?" tanya Wendy heran.

"Ini seperti waktu itu," kata Lucy, teringat saat penyerangan Phantom Lord dulu.

"Ya," kata Erza serius.

Mereka semua mempercepat langkah mereka, menerobos kerumuna orang-orang. Dan akhirnya, di depan gerbang Markas, mereka melihatnya.

Gerbang batu Markas Fairy Tail rusak parah. Bongkahan-bongkahan batu bertebaran di mana-mana. Beberapa ceruk besar tercipta di permukaan tanah, yang beberapa juga meretak dalam paling tidak sampai satu meter. Pecahan-pecahan logam senjata juga bertebaran, berikut noda-noda merah yang amis; darah. Tak luput dari pandangan mereka, berbongkah es dalam berbagai ukuran, yang berkilau seperti kristal di bawah paparan sinar matahari sore. Anehnya, dalam panas yang demikian tampaknya es itu tidak leleh begitu mudahnya. Tak hanya keganjilan itu saja yang terlihat. Beberapa kereta berlambang Dewan Sihir juga ada di sana, membawa sejumlah tubuh asing bersama mereka.

"Apa yang terjadi?" bisik Lucy ngeri.

"Oi, Jet!" Natsu berteriak keras saat melihat Jet sedang berbicara dengan Rahal, salah satu anggota Dewan Sihir. Mereka semua bergegas mendatanginya. "Ada apa ini? Kenapa semuanya berantakan begini?"

Wajah muram Jet membuat mereka yakin bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Namun, Rahal memandang mereka semua dengan mata berkilat curiga di balik kacamata perseginya.

"Master kalian belum kembali?"

"Kalau kau tanya kami itu artinya dia belum datang, 'kan?" kata Laxus sebal.

"Ada apa?" ulang Erza, nadanya mendesak sekaligus mengancam.

"Kita diserang," kata Jet lelah, "oleh sisa anggota Kraken's Breath."

Tak ada yang lebih terkejut dari Raijinshuu.

"Tapi kami sudah membereskanya!" kata Evergreen tak percaya.

"Sisa dari mereka, sepertinya, dan pendukungnya," kata Rahal.

"Mereka datang untuk balas dendam. Pertama mereka coba ambil Azuka dan Romeo, tahu anak-anak itu bisa jadi umpan untuk jatuhkan kita. Tidak, mereka tidak apa-apa," kata Jet buru-buru, melihat tampang teman-temannya. "Kami berhasil mencapai mereka." Jet menunjuk ke arah para anggota serikat gelap yang diangkut. "sebelum mereka mendapatkan Azuka dan Romeo… Tapi, yeah, tidak semulus itu juga… Porlyuscha baru saja tiba untuk urus Toushiro, dia luka parah dan- HEI!"

Erza dan Wendy mendorong Jet, melesat masuk memimpin yang lainnya ke dalam Markas. Tampaknya pertarungan itu hanya terjadi di luar, karena aula masih rapi dan bersih. Tampak anggota Fairy Tail yang telah pulang atau yang memang tinggal di Markas mengelilingi satu meja. Lisanna mendekap Azuka yang menangis terisak-isak. Tampaknya tak ada satupun dari mereka yang mengalami luka serius. Bungsu Strauss hanya mengalami beberapa luka gores; Reedus mendapat lebam di bawah matanya; Droy tampak acak-acakan dengan pakaiannya yang robek di sana-sini. Bahkan Romeo tampak berantakan, ia tidak terluka, namun tampak sangat terguncang.

"Wendy!" kata Levy dengan suara melengking ganjil. Kelegaan tampak di matanya. Ia bergegas mendekati si Sky Dragon Slayer. "Pergilah ke atas, dia membutuhkan bantuanmu."

Mengangguk kaku, Wendy segera naik ke lantai dua, dengan Carla mengekor di belakangnya. Wajahnya cemas luar biasa.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Laxus, bingung sekaligus tak percaya.

"Mereka datang begitu saja," kata Levy lirih. "Mencoba menyandera Azuka, lalu Romeo… Toushiro berhasil mendapatkan mereka, tapi… tapi Kraken's Breath bermaksud membawa mereka berdua. Jumlah kami terlalu sedikit, bahkan dengan Toushiro menggunakan es-nya untuk sebagian dari mereka dan Mira-san dengan Satan Soul…" Levy menggeleng dengan kalut. "Mereka berpendapat menghabisi Azuka (Natsu menggeram murka mendengarnya, membuat Levy ragu-ragu sejenak sebelum memaksa diri melanjutkan) akan membuat kita marah, jadi menghancurkan Fairy Tail akan lebih mudah. Toushiro yang paling dekat dengan mereka… tapi mereka berlima… dan" Levy terisak keras, "salah satu dari mereka… menusuk di luka yang belum sembuh itu…"

Mata Erza melebar kaget.

"Mira marah sekali," kata Droy pelan. "Tapi sebelum satupun dari kami membalas mereka…" Droy menelan ludah dengan ngeri. "Toushiro sudah jatuh, tapi dia masih bisa bergerak… menyabetkan katana-nya dan naga es itu menyapu semua musuh tanpa sisa… Lalu dia… tidak bergerak…"

"Harusnya aku membawa Azuka masuk dan tidak diam di tempat," kata Romeo, tampak shock. "Kalau kami tidak di sana Toushiro-nii tidak perlu luka sampai begitu karena melindungi kami…"

Lucy menarik Romeo ke dalam dekapannya, menenangkannya yang mulai menangis. Lucy menatap Erza, yang tatapannya membara.

Dudududuuun~

Review pleaseee~