Chapter 9

Master Makarov kembali ke Markas tak lama kemudian, tak salah lagi ia telah mendengar penyerangan serikatnya dari anggota Dewan Sihir lain dan bergegas pulang secepat yang dia bisa. Ia tampak sangat cemas sekaligus sangat marah, menuntut penjelasan rinci kejadian itu pada Reedus, yang dengan sigap membuat gambar reka ulangnya untuk sang Master.

Bisca dan Alzack juga sudah pulang, dan Azuka langsung menghambur ke pelukan orangtuanya. Paling tidak gadis kecil itu sudah berhenti menangis, walau masih tampak ketakutan. Romeo juga masih sama ketakutannya, dan Makarov berpendapat ketakutan kedua anak itu entah karena Toushiro yang terluka parah untuk melindungi mereka atau karena bagaimana ekspresi dingin saat si rambut putih menebas musuhnya. Untungnya, kedua bocah itu tidak mengalami luka fisik yang serius.

Mira dan Wendy menuruni tangga lantai dua tepat setelah penjelasan Reedus selesai. Keduanya tampak lelah; Wendy tampaknya habis menangis dengan matanya yang memerah.

"Bagaimana dia?" tanya Makarov segera.

"Pedang itu ada racunnya, racun yang cukup kuat juga, tapi Wendy sudah berhasil menawarkannya," kata Mira, tersenyum gemetar pada si Sky Dragon Slayer yang mengenyakkan diri di kursi di dekat Gajeel. "Dia juga kehilangan banyak darah, jadi Porlyuscha memberinya ramuan khusus. Untuk sekarang dia sudah mulai stabil, hanya demamnya saja yang masih tinggi. Dia tidur sekarang."

Sebagian besar penyihir Fairy Tail bernapas lega.

"Dia akan baik-baik saja, ya 'kan?" tanya Levy gemetar.

"Tentu saja dia akan baik-baik saja," kata Porlyuscha, membuat mereka menoleh. Wanita tua itu menuruni tangga dengan langkah cepat. "Dia cukup keras kepala untuk memaksa bertarung dengan luka yang belum sembuh. Lagipula, dia ada di serikat sihir paling keras kepala yang pernah ada dalam sejarah dunia. Dia tidak akan mati semudah itu."

"Kau kasar sekali, Porlyuscha," komentar Makarov.

"Tapi itu 'kan benar," kata si Penyembuh dengan alis nyaris menyatu. "Dia sempat berhenti bernapas gara-gara racun itu sebelum Wendy datang (Porlyuscha mengabaikan pekikan kaget beberapa anggota Fairy Tail, bahkan lonjakan kaget Erza.) Tapi jantungnya yang hampir berhenti juga bandel sekali, persis seperti kalian semua, menolak untuk mati. Yah, dia beruntung sekali, menurutku."

Tepat saat itu Rahal memasuki aula, dengan Jet yang bertampang tak puas di belakangnya. Anggota Dewan Sihir itu memasang raut wajah serius, langsung berhadapan dengan Master Makarov.

"Aku perlu bicara dengan yang menangani langsung anggota Kraken's Breath."

"Kami, kalau begitu," kata Mira, berdiri tegak.

"Aku tahu kemampuanmu, Mirajane Strauss, tapi yang kumaksud bukan kau. Siapapun yang menggunkan kemampuan es di sana itu," kata Rahal serius.

"Kau tidak akan bicara padanya," kata Porlyuscha kalem. "Dia sedang tidur dan akan memerlukan istirahat total setelahnya."

"Apa ada sesuatu yang kau perlukan darinya?" tanya Makarov.

Rahal mengernyit. "Ya. Beberapa keterangan yang aku yakin hanya bisa dijawabnya."

"Apa itu?" tanya Laxus.

"Ini." Rahal menunjukkan benda di dalam tangannya. Itu adalah potongan jubah salah satu anggota Kraken's Breath, dengan warna dasar hitam dan sulaman benang perak dan ungu. Namun potongan kain itu tampak keras dan kaku, sedikit berkilat. Ketika Rahal membuat gerakan meremas, potongan kain itu hancur menjadi serpihan, seperti kristal es, dengan bunyi keratak pelan. Beberapa penyihir Fairy Tail memandangnya dengan takjub. "Ini adalah jenis sihir es yang sama sekali berbeda dengan sihir es yang pernah ada; aku berani bilang ini sihir es yang sangat kuat. Tapi aku sendiri juga tidak tahu apakah ini masih bisa disebut sihir es, karena… energi yang terlacak detektor sedikit berbeda. Lagipula, kekuatan yang dihasilkannya sangat destruktif, dengan yang terjadi pada Kraken's Breath."

"Ada apa?" tanya Makarov waswas, sementara beberapa anggota Fairy Tail bertukar pandang bingung.

"Para anggota yang memiliki kemampuan sihir kehilangan kemampuannya," kata Rahal, mengejutkan mereka semua. "Ya. Mereka yang terkena serangan es hingga membekukan tubuh mereka tidak lagi memiliki sihir mereka. Medis Dewan Sihir menganalisa kejadian ini. Kesimpulan mereka, energi dalam es itu memiliki kualitas dan kuantitas yang jauh di atas para penyihir itu, menekan energi sihir musuh yang terkurung di dalamnya hingga lenyap sama sekali. Hidup mereka tidak dalam bahaya, memang, tapi kemampuan ini sangat tidak biasa."

Para penyihir Fairy Tail banyak yang ternganga kaget.

"Ti-tidak mungkin," bisik Erza tak percaya. Bagaimana ada kekuatan semacam itu?!

Gray lebih terkejut lagi. Setahunya, teknik sihir yang memiliki efek sedahsyat itu adalah teknik Ice Shell yang menjadi teknik terlarang. Teknik itu diketahuinya dari sang guru, Ur, yang melakukannya untuk menyegel Deliora, dengan dampak besar 'kematiannya' sendiri. Namun, bagaimana Toushiro bisa melakukan teknik yang begitu mirip dengan Ice Shell tanpa membunuh obyeknya, bahkan tanpa risiko besar untuk penggunanya? Ia terluka bukan karena menggunakan teknik, tapi karena ditusuk oleh senjata tajam!

"Aku benar-benar perlu bertemu dengannya. Boleh kutahu namanya?"

"Toushiro Hitsugaya," kata Makarov pelan. Benaknya dipenuhi pertanyaan baru. Sekuat itukah seorang shinigami? "Tapi aku cemas kami tak bisa mengizinkanmu bertemu dengannya."

Rahal menghela napas. "Siapapun dia, dia memiliki kemampuan yang luar biasa, Makarov. Dan juga berbahaya. Ini akan sangat mengancam jika disalahgunakan."

"Akan kupastikan dia di jalan yang benar," kata Makarov segera.

"Bagaimana kau menjaminnya?" tanya Rahal curiga.

"Dia berada di serikat sihir Fairy Tail," kata Makarov tegas. "Kau tahu apa artinya itu."

"Aku benar-benar tak bisa bertemu dengannya?"

"Maaf," kata Makarov pendek.

Mengetahui kekalahannya, utusan Dewan Sihir itu pun pamit pergi. Sekarang dengung percakapan mulai terdengar di seluruh aula.

"Aku tidak tahu ada jenis sihir seperti itu, melenyapkan kemampuan sihir," kata Freed, masih tak percaya.

"Gramps?" tanya Natsu dan Laxus bersamaan.

"Aku juga tidak tahu, apalagi dimiliki oleh anak itu." Makarov menghela napas. Mungkin ini ada hubungannya dengan identitas asli Toushiro sebagai shinigami, sesuatu yang tak bisa Makarov ceritakan pada yang lainnya, janjinya pada Toushiro Hitsugaya.

Wendy tetap tinggal di Markas, bersama Erza, untuk menunggui Toushiro yang masih tak sadarkan diri. Keduanya berencana menginap di sana untuk malam itu.

Wendy duduk di samping ranjang Toushiro, menatap wajah pucat dari pemuda yang di anggapnya seperti kakaknya sendiri. Toushiro mungkin adalah kebalikan dari sosok Natsu yang juga dianggapnya seperti seorang kakak. Toushiro adalah figur yang dingin, dewasa, cerdas, dan sopan; ia tak memanggil satupun anggota serikat dengan nama depan, kecuali para Exceed dan Azuka. Benar-benar seratus delapan puluh derajat dari pribadi Natsu yang panas, konyol, spontan, dan agak bodoh. Bahkan Carla mengatakan Toushiro adalah satu-satunya orang waras di Fairy Tail karena sikapnya yang tenang dan kalem. Namun, terlepas dari itu, entah kenapa Wendy merasakan familiaritas dari kehadiran si rambut putih. Ada sesuatu yang membuatnya merasa telah lama mengenalnya, namun ternyata tidak. Entah apa yang membuatnya merasa begitu, Wendy hanya tahu kalau ia akan menyebut Toushiro sebagai dan seperti kakaknya sendiri. Lagipula, si rambut putih itu bersikap layaknya seorang kakak. Ia menjaga Wendy dalam pertarungan melawan The Cursed Eye, bersamaan dengan tetap fokus menyerang perampok itu. Ia memastikan Wendy tak terluka. Seperti kali ini. Ia malah membuat dirinya sendiri terluka untuk melindungi Azuka dan Romeo. Melindungi Fairy Tail.

Mungkin Toushiro-nii tidak sedingin itu…

"Wendy?"

Sky Dragon Slayer itu menoleh. Erza memasuki ruangan, bersama Carla yang membawa nampan berisi tiga cangkir teh panas. Exceed putih itu meletakkan nampan di atas meja di samping ranjang, lalu melompat ke pangkuan Wendy. Sementara itu, Erza menarik kursi lain tanpa suara dan duduk di samping Wendy.

"Ada hal baru?" tanya Carla pelan, memperhatikan tarikan napas teratur Toushiro. Wajah si rambut putih masih pucat. Tepat saat itu, ada gerakan kecil pada jari-jari tangan Toushiro yang tak tertutup selimut. Ketiganya segera menatap wajah di tempat tidur itu dengan penuh harap. Kernyitan dalam seakan sedang kesakitan muncul di sana, tapi Toushiro tak membuka matanya.

"Kuharap dia segera bangun," bisik Wendy muram.

"Itu yang kita tunggu," kata Erza, tersenyum. "Kau sudah lakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Toushiro juga sudah berjuang dengan sangat baik. Yang harus kita lakukan sekarang hanya menunggu."

Ya. Hanya menunggu.

Toushiro merasa kalau terkadang suara geraman Hyourinmaru yang seperti badai itu kedengarannya seperti lagu pengantar tidur, aneh sekali. Geraman bak badai dan halilintar itu-lah yang membuatnya jatuh ke dalam tidur yang dalam, tanpa mimpi. Namun, saat 'nyanyian' itu berhenti, pikirannya dipenuhi hal-hal tak diinginkan. Pembunuhan Soujiro Kusaka di Centra 46 kembali terulang seperti film lama, dan ia tak bisa menghentikannya. Saat katana salah satu anggota Special Force itu menusuk Kusaka, Toushiro merasakan sakitnya juga, ia merasakan panas yang membara di bagian perutnya.

Toushiro membuka matanya dengan kaget.

Warna-warna yang tampak di matanya gelap dan kabur, membuatnya harus mengerjap beberapa kali. Langit-langit temaram yang familiar segera menyergap indera penglihatannya. Menarik napas pelan, Toushiro merasakan dadanya sedikit sesak, seakan ada yang menimpanya. Ternyata rasa sakit dan panas di perutnya itu bukan mimpi. Perban putih bernoda menutupi luka yang diingatnya terbuka lagi karena ditusuk oleh salah satu anggota Kraken's Breath. Mata Toushiro melayang ke jendela yang gelap, pertanda hari telah mencapai fase malamnya. Dan kemudian, ia menyadari, ternyata ia tidak sendirian. Wendy tertidur dengan menjadikan lengannya sebagai bantal, bersandar di tepi ranjang Toushiro. Carla juga di sana, tidur di sampingnya. Wajah Wendy tampak lelah, dengan garis airmata yang mengering sampai ke pipinya.

Kenapa dia menangis?

'Kurasa karena anda, Master.' Hyourinmaru menjawab pertanyaannya.

'Karena aku?' tanya Toushiro bingung. 'Aku bukan orang yang sepantasnya ditangisi…'

'Saya tahu anda akan bilang begitu. Tapi tidak tahukah anda, kalau Wendy Marvell bukan satu-satunya?'

Mendengar hal itu, Toushiro langsung teringat satu nama, satu wajah, sebelum semakin bertambah. Rangiku Matsumoto, Momo Hinamori, seluruh Divisi 10, Seireitei.

'Anda memiliki banyak hal tanpa anda menyadarinya.'

Toushiro memejamkan matanya. Ia sudah lelah. Sudah terlalu lelah.

'Anda sebaiknya istirahat sekarang…'

'Aku tidak mau tidur.'

'Saya akan menjaga anda.'

Toushiro merasakan dirinya ditarik ke dalam inner world-nya. Wujud naga es Hyourinmaru bergulung di tanah yang ditutupi salju tebal. Toushiro menyandarkan diri pada tubuh es yang dingin itu, memejamkan matanya. Ia merasakan gerakan pelan saat Hyourinmaru melipat sayapnya untuk menutupi tubuhnya. Naga itu mengeluarkan geraman rendah, suara yang ramah seperti badai itu membuat Toushiro melupakan sejenak semuanya. Semuanya.

Suara debam keras membuat Toushiro membuka matanya. Refleks membuatnya mengangkat kepalanya, namun yang didapatnya, secara beruntun, adalah bunyi duk keras, rasa sakit yang berdenyut di dahinya, diiringi suara kecil yang tak asing mengaduh.

"Ugh…" Toushiro memejamkan matanya, sementara tangannya melayang ke dahinya, menggosoknya pelan.

"Natsu! Buka pintunya hati-hati dong!" terdengar suara marah perempuan.

"Ya ampun, sepertinya itu tadi keras sekali!" komentar suara lain.

"Apa dia tidak apa-apa?" terdengar suara laki-laki, panik. "Apa yang kulakukan, membuatnya menghantam kepala Erza?! Uwaa! Dia bisa geger otak!"

Akhirnya fokus pandangan berhasil dikuasai Toushiro. Perlahan ia mendudukkan diri, mengerjap untuk menatap sekelilingnya. Erza berdiri di samping tempat tidur sambil menggosokkan dahinya, memandang kesal Natsu. Wendy menatapnya dengan cemas, begitu pula Carla dan Lucy. Gajeel berdiri di samping Natsu, baru saja menjitak kepalanya; Gray yang melihatnya tampak puas.

"Terima kasih. Aku bangun sekarang," kata Toushiro, sarkastik.

"Sori," gumam Natsu, memegangi kepalanya yang tadi dihantam tinju Gajeel.

"Toushiro-nii tidak apa-apa?" tanya Wendy.

"Ya, kurasa begitu." Toushiro duduk tegak, mengabaikan sedikit rasa nyeri pada perutnya. Ia akan terbiasa dengan rasa sakit itu.

"Kau tidur semalaman, demammu tinggi sekali," kata Wendy, menempelkan telapak tangannya ke dahi Toushiro sebentar. "Tapi sekarang sudah turun… Syukurlah." Wendy tersenyum lega. "Bagaimana perasaanmu?"

"Baik. Tapi sepertinya tadi aku menabrak palu godam raksasa."

Hening sejenak.

"Besok pasti kiamat," kata Happy, melompat ke bahu Natsu, bertukar pandang dan memasang ekspresi konyol yang sama; mata melebar dan mulut menganga, terarah pada Toushiro. Gajeel bahkan membelalak. "Dia baru saja membuat lelucon! Berhubungan dengan Erza lagi! Aaaargh! Besok kiamat! Tunggu, mungkin tidak! Wendy! Periksa otaknya! Jangan-jangan ada yang tidak beres setelah tabrakan dengan kepala Erza!"

"Diam!" bentak Erza, seketika membuat diam Natsu dan Happy. Ia menatap Toushiro, nada suaranya lebih halus. "Kau yakin tidak apa? Maaf untu kepalamu, si Tolol itu pasti mengagetkanmu."

"Yeah. Tak masalah." Toushiro menghela napas.

Kesunyian kembali menggelayuti ruang perawatan itu. Toushiro tak tahu apa yang harus dikatakan, tapi keheningan ini sedikit membuatnya tak nyaman.

"Apa…" katanya memulai, pelan, "semuanya tidak apa-apa?"

Para penyihir Fairy Tail menatap Toushiro. Erza tersenyum tipis padanya.

"Ya. Semuanya baik-baik saja. Mereka… mengatakan apa yang terjadi. Kau menyelamatkan semuanya…"

"Tapi kami juga ingin tahu apa yang kau lakukan pada Cracker Bad entah apa itu…" ujar Natsu polos. "Mereka bukan penyihir lagi!"

Semuanya sekarang menatap Toushiro, yang mengernyit.

"Itukah sebabnya kau tidak menggunakan kemampuan es-mu selama ini?" tanya Wendy pelan.

Toushiro menghela napas. Ia memilih memandang jendela. "Kurang lebih begitu."

"Itu… di luar dugaan," kata Gray, separo kagum separo ingin tahu. "Kami semua tak menyangka ada kekuatan seperti itu."

"Hal yang tak bisa kuhindari," kata Toushiro datar, memfokuskan pandangannya pada salah satu kuntum mawar di dalam pot dekat jendela. "Kadang tak bisa dikontrol. Dan kadang aku berpendapat lebih baik tidak memilikinya, dengan risiko sebesar itu."

"Apa?!" seru Natsu kaget.

"Kau tidak tahu apa hal paling buruk dari itu," kata Toushiro dengan tatapan kosong. Hyourinmaru mendesis muram dalam pikirannya. "Aku bisa membunuh bahkan tanpa aku menyadarinya… Aku tak menginginkannya jika itu berarti lebih banyak yang hilang… Tapi aku harus," tangan Toushiro meraih zanpakuto-nya yang bersandar di sisi tempat tidurnya bahkan tanpa ia menoleh. "berdiri bersamanya."

"Toushiro." Erza menatap si rambut putih. Ia sama sekali tak bisa membaca ekspresi wajah Toushiro. Namun, ia bisa membaca arti di balik kata-katanya. Toushiro memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki, juga mengalami kehilangan dan beban yang terlalu berat untuk ditanggungnya.

"Nii-san," ujar Wendy pelan, membuat Toushiro menoleh memandangnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Tidak… Tidak apa-apa," kata Toushiro hampa. Pikirannya masih tertuju pada Kusaka. "Semua akan baik saja."

"Kau punya masalah," kata Gajeel menggeram. "Aku tidak tahu tentang yang seperti ini, tapi untuk kali ini, kelihatan jelas sekali."

"Gajeel benar," kata Erza, mengernyit untuk menatap Toushiro lebih intens. Namun ia gagal membacanya kali ini. Ada keteguhan dan kekeraskepalaan tergurat di raut wajahnya, menolak memberitahu lebih jauh.

"Mungkin kami bisa membantumu," kata Lucy.

Toushiro menggeleng. "Tidak ada yang perlu kalian lakukan untukku. Yang kuterima dari kalian sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak."

Nada final terdengar dari kata-kata Toushiro itu. Para penyihir Fairy Tail bertukar pandang. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu agar Toushiro lebih mengenal Fairy Tail dan mempercayai mereka. Dalam arti sesungguhnya.

Kemampuan penyembuhan Wendy Marvell, menurut Toushiro, layak disandingkan dengan kemampuan serupa tapi sedikit berbeda yang dimiliki Orihime Inoue. Luka-luka akibat pertarungan itu berangsur pulih dengan cepat, walau rasa sakitnya masih dirasakan. Paling tidak, ia sudah bisa berjalan sendiri. Lagipula reiatsu dan stamina besar yang dimilikinya sangat membantunya bisa bertahan dari rasa sakit itu.

Sementara itu, Fairy Tail juga menyambut gembira kondisi Toushiro yang semakin membaik. Azuka mulanya agak enggan untuk mendekati Toushiro, teringat bagaimana 'kakaknya' itu bertarung dengan tangan dingin. Ia sama sekali tak mengunjungi Toushiro saat masih dalam perawatan, yang mana membuat Alzack dan Bisca meminta maaf padanya berkali-kali. Toushiro sendiri juga bisa mengerti itu, tak berusaha membuat Azuka menerimanya setelah apa yang terjadi. Namun ia dibuat terkejut juga saat dua hari setelah penyerangan dan ia dibebaskan dari 'kurungan kamar perawatan' Azuka mendekatinya dan detik berikutnya menghambur ke pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.

Mengalami hal seperti ini benar-benar membuat Toushiro bingung. Berdekade-dekade dijuluki Anak Jenius membuatnya, untuk kali ini merasa malu; ia sama sekali tidak tahu bagaimana menghadapi Azuka yang menangis. Ia memandang Mirajane, berharap akan mendapat saran atau apa, namun gadis itu hanya tersenyum senang, itu bukan bantuan yang dia harapkan.

Sekarang ia mengutuk kurangnya kemampuan sosial yang dimilikinya.

Azuka baru berhenti menangis dan memeluk Toushiro begitu eratnya setelah Bisca ibunya turun tangan untuk membantu Toushiro. Itu juga setelah Bisca menyadari wajah Toushiro memucat karena pelukan putrinya menekan lukanya yang belum sembuh.

"Onii-chan jangan begitu lagi," kata Azuka dengan suara sesenggukan di depan dan Toushiro yang berlutut untuk mensejajarkan tinggi mereka. "Nii-chan membuatku takut…A-aku tidak mau melihat Nii-chan terluka seperti itu lagi…"

Toushiro nyaris tersenyum mendengar permintaan polos itu. Ia mengangkat wajah Azuka yang bersimbah airmata dengan kedua tangannya. "Maaf."

Azuka terisak. "Nii-chan – hiks – tidak boleh – hiks – begitu lagi…"

Toushiro tahu ia dan Azuka membuat banyak anggota serikat memandang mereka. Masa bodoh, sih. Ia menatap Azuka dengan pandangan sehalus yang dia bisa. "Itu sesuatu yang tak bisa kujanjikan."

"Ta-tapi…"

"Kalau kau sudah besar kau akan mengerti," kata Toushiro pelan. "Ada harga yang harus dibayar untuk melindungi sesuatu yang ingin kau lindungi."

Azuka membalas menatap Toushiro dengan matanya yang melebar dan memerah. "Dengan terluka begitu… Nii chan tidak perlu sampai begitu kalau Nii-chan sayang Azuka!"

Toushiro agak tersentak mendengar hal itu. Sayang? Dia menyayangi bocah itu?

Dengan bimbang Toushiro menatap sekelilingnya. Pada wajah-wajah para penyihir yang menerimanya sejak ia datang ke dunia ini. Wajah-wajah para peri Fairy Tail.

Ia baru menyadarinya sekarang. Hyourinmaru benar. Ia memiliki banyak hal tanpa ia sadari. Ia memiliki kesempatan yang tak ia dapatkan sejak ia menjadi shinigami. Kesempatan menjadi manusia biasa yang memiliki sahabat, keluarga.

Ia menghela napas. Untuk pertama kalinya ia berada di dunia ini, ia tersenyum. Hanya berupa garis melengkung tipis, tapi itu tak terlewatkan oleh beberapa mata. Azuka menatap 'kakaknya' dengan agak kaget.

"Ya, tapi yang ingin kulindungi adalah hal yang berharga bagiku. Kau, Fairy Tail, dan hal lain…"

"Kalau Onii-chan mati bagaimana?" isak Azuka dengan wajah ketakutan.

"Kalau begitu aku mati dengan kehormatan besar," kata Toushiro, menghapus airmata di pipi gadis kecil di depannya. "Tapi aku tidak akan mati. Aku tidak punya rencana begitu."

Kecuali jika Seireitei mempertahankan rencana eksekusi matinya.