Well, it's been awhile...
So sorry, dear readers! Author baru sadar ternyata udah cukup lama cerita ini tidak di update juga! Astaga... what I've done?!
Anyway, terima kasih telah setia menunggu, masih setia me-review, jadi,,,, ini dia chapter barunya, dan... review lagi ya~
tanpa banyak bacot, happy reading~
Chapter 10
Semuanya tampaknya kembali normal untuk Fairy Tail. Dengan keramaian dan kericuhan terjadi, seperti biasanya, di aula serikat. Sesekali kursi atau piring atau gelas atau sapu atau kursi atau benda-benda lain terlontar di udara sebelum menabrak kepala seseorang. Namun itu tidak menghentikan hiruk pikuk yang malah semakin menjadi-jadi, apalagi begitu Fire Dragon Slayer datang dan memberikan partisipasi aktif.
Toushiro mengacuhkan segala kebisingan itu dan duduk sendirian di pojok serikat, di samping jendela tinggi yang memperlihatkan langit biru cerah untuk siang itu. Entah kenapa, ia merasakan gelanyar ganjil memenuhi benaknya.
"Untuk ukuran shinigami, kau punya banyak hal yang dipikirkan sepertinya, Hitsugaya-san."
Toushiro mendapati suara pelan sang Master yang telah duduk di kursi di seberang mejanya membuatnya menoleh. Sekilas, ia menyapu pandangan ke seluruh aula. Semua penyihir terlalu 'sibuk'. Makarov dengan tenang menenggak anggur di gelas besarnya, sebelum menatap Toushiro, yang kembali melayangkan pandang ke arah langit di luar sana.
"Ada sesuatu yang mengganggumu?"
Bagi Toushiro, pertanyaan itu lebih tepat disebut pernyataan. Dan Toushiro tahu tak ada gunanya menipu diri, apalagi Master Fairy Tail di depannya itu.
"Ya," sahutnya pendek.
"Tentang misimu itu?"
Toushiro menangguk sekali. Kaku. "Dia akan datang."
Makarov menghela napas. Ia menyadari sesuatu yang ganjil di sini, di sikap Toushiro. Si rambut putih itu menunjukkan betapa ia tak ingin memberitahukan siapapun tentang masalahnya. Menolak bantuan yang jika ia meminta akan dengan senang hati dan tanpa pamrih diberikan Fairy Tail. Toushiro juga, walau tak secara sangat gamblang, tampak ragu dan bimbang menerima uluran persahabatan dari serikat ini. Ia terlalu berhati-hati dan menjaga jarak – walaupun memudar karena kedekatannya sebagai sosok kakak untuk Azuka.
Jika Toushiro bersikap seperti itu, artinya 'dia' yang dimaksud bukan orang biasa. Orang yang membuat Toushiro mampu merefleksikan kesedihan yang secepat kilat disembunyikan lagi dengan wajah dingin… Itu berarti….
"Musuhmu…" kata Makarov pelan, hati-hati, "atau temanmu?"
Toushiro menatap Makarov. Toushiro gagal menyembunyikan kilasan kesakitan di matanya.
"Jadi benar begitu," ujar Makarov, menghela napas. Ia memandang Toushiro dengan prihatin. Teman yang menjadi musuh bukan hal mudah untuk dihadapi. Ia masih ingat betapa amat tak menyenangkannya itu; bagaimana Hades berbalik menyerang penyihir Fairy Tail, anak-anaknya, sewaktu di Pulau Tenrou. Rasa kecewa, dikhianati, bercampur dengan kebingungan dan kesakitan.
"Luka itu," Makarov menatap lengan Toushiro yang dengan refleks bergerak ke bagian atas shihakusou-nya. Tiba-tiba saja kemarahan menjalari benaknya. "Dia yang melakukannya?"
Tak menjawab berarti iya.
Makarov memandang shinigami muda di depannya, menilai. Sosoknya yang mungil mengaburkan betapa si rambut putih telah melewati masa-masa yang lebih lama yang diduga oleh orang biasa. Mata dan sikapnya menunjukkan betapa ia telah melewati masa-masa itu, yang memberi pengalaman untuk mengasah kecerdasan dan pengalaman bertarungnya, dan mungkin, telah membuatnya mengesampingkan hampir semua perasaannya. Seorang ksatria – seorang shinigami – tidak boleh menunjukkan emosinya. Toushiro pernah mengatakan kepadanya, sewaktu menjelaskan perihal hollow tempo dulu, bahwa shinigami membunuh emosi mereka saat bertarung, tak boleh menunjukkan belas kasihan untuk tidak mengayunkan senjata mereka pada para hollow, karena para hollow sama sekali tidak akan menunjukkan belas kasihan pada mangsanya.
Walaupun shinigami diharuskan mengesampingkan perasaan mereka, bukan berarti mereka tak memilikinya sama sekali, bukan? Makarov tahu, bahwa ia bukan orang yang berhak mengkritisi bagaimana kehidupan para shinigami, sistem mereka di luar keharusannya untuk memahaminya lebih jauh. Namun, tetap saja, Master Fairy Tail itu merasa miris, bagaimana shinigami muda itu harus terkekang keharusan untuk memenjarakan perasaannya sendiri.
Namun, bukan berarti Toushiro tidak punya hati, bukan?
"Kau masih menganggapnya temanmu?" tanya Makarov pelan. Toushiro tak menjawabnya, namun Master tahu jawabannya.
Sementara itu, Toushiro diliputi kebimbangan. Ia menyimpan harapan bahwa Kusaka bisa berubah, tapi si shinigami-yang-bangkit-dari-kematian itu menyimpan kebencian yang begitu besar pada Seireitei.
"Apa kau tahu apa yang harus kau lakukan? Melakukan tugasmu sebagai temannya, bukan sebagai shinigami?"
Toushiro menatap Makarov. Pria tua itu tak menuntut jawaban. Ia mengujinya.
Ya. Apakah dia tahu apa yang harus dilakukan? Sebagai teman, bukan shinigami… Dia sudah melepaskan haori komandannya, dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Yang ia belum tahu, bisakah ia menghadapinya nanti, bahkan, bisakah ia memaafkannya?
Dan memaafkan dirinya sendiri?
"Aku sudah meninggalkan semuanya untuk ini," kata Toushiro perlahan; Makarov melihat kepedihan melintas di sepasang turquoise itu. "Segalanya… Aku tidak boleh gagal."
Ternyata siang itu tidak sepenuhnya normal untuk Fairy Tail. Makarov masih memandangi Toushiro yang tiba-tiba saja menjadi tegang.
"Ada apa?" tanya Makarov heran.
Namun Toushiro, lagi-lagi tak menjawabnya. Dan kali ini, Makarov tak bisa menebak sendiri jawabannya. Shinigami itu berdiri dan dengan cepat memakai jubahnya. Pikirannya berpusar, sementara jantungnya berdegup kencang. Ia merasakannya. Reiatsu ini… Hawa kehadiran ini…
Sudah waktunya…
"Toushiro?" Erza yang melihat gelagat ganjil Toushiro terhenti dari gerakannya mengangkat gentong anggur kosong yang kelihatannya dimaksudkan untuk dilempar ke arah trio gulat Natsu-Gray-Elfman. Trio gulat itu berhenti bergerak dan memisahkan diri, lalu berdiri dan memandang Toushiro juga, agak kaget pada apa yang dilakukannya.
Toushiro menyambar katana-nya yang berada di atas meja dan melepaskan selempang hijaunya. Ia lalu membuat gerakan cepat, menyapu permukaan sarung pedangnya, yang, diikuti tatapan takjub para penyihir, menghilang dalam partikel-partikel halus seperti kristal setelah untuk sepersekian detik membeku seperti es.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Laxus, melihat Toushiro mengikatkan gagang pedangnya dengan selempang hijau itu di tangannya; bros perunggunya berkilau di atas belitan kain hijau itu di punggung tangannya.
Toushiro menarik ujung selempang itu dengan giginya, lalu mengikatnya dengan erat di ujung lainnya.
"Kau ini kena-?"
"Dia datang," kata Toushiro pelan, memotong kalimat tanya Natsu. Si rambut putih meenegakkan diri, sebelum berdiri menghadap pintu aula dengan tatapan tajam. "Aku tidak ingin membuat tanganku tergelincir melepaskan Hyourinmaru saat bertarung dengannya."
"Eh?"
"Apa?"
"Toushiro," Erza menurunkan gentong kosong itu dan bergerak mendekati Toushiro, bersama Wendy dan Gajeel. "Apa maksudmu? Siapa yang-?"
"Yang membuatmu sampai ke dunia ini."
Mereka semua memandang ke arah pintu, yang entah sejak kapan telah terbuka. Sesosok pemuda jangkung berdiri di ambang pintu, nyaris luput dari perhatian mereka, bahkan para Dragon Slayer. Pemuda berambut hitam sebahu itu juga memakai shihakuso dan jubah. Wajahnya tampan, namun kelicikan tergurat di bentuk wajahnya yang tirus. Matanya merah, dan Toushiro melihat kebencian berkobar di sana, seakan tahu bahwa kebenciannya itu akan segera terlunaskan.
"Siapa kau?" tanya Natsu, menatap si pemuda dengan mata menyipit. Bagaimana bisa orang ini hampir tidak dirasakan kedatangannya? Bergantian Natsu dan para penyihir menatap pemuda itu dan Toushiro. Tapi, para Dragon Slayer merasakan sesuatu yang ganjil; ada kemiripan samar di antara Toushiro dan si pemuda asing. Tapi mereka tak bisa melihat apa itu.
"Siapa aku, tidak ada hubungannya denganmu," kata pemuda itu, senyumnya angkuh. Ia menatap Toushiro dengan keliaran yang tak dapat disembunyikan. "Apa kau sudah menunggu cukup lama, Hitsugaya? Jangan cemas, sudah waktunya untukmu mengambil bagian dalam rencana besar ini." Toushiro diam, namun kedua alisnya nyaris menyatu.
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Mira, sangat bingung.
"Hentikan saja, Kusaka," kata Toushiro pelan. "Sudah cukup dengan semua itu."
"Tidak akan pernah cukup, Teman Lama." Seringai ganjil terbentuk di wajah itu. "Jadi, Hitsugaya, hidup sepertinya telah menuntun kita pada titik ini."
"Apa maksudmu?" tanya Toushiro; Erza melihat si rambut putih mencengkram gagang katana-nya.
Kusaka tertawa, tawa tanpa keriangan yang bergema di aula Markas Fairy Tail yang hening. "Kau tahu dengan baik apa yang dilakukan Centra 46 dan Gotei 13, kau mengalaminya dan melihatnya langsung dengan mata kepalamu sendiri." Toushiro sedikit berjengit mendengar kata Centra 46 disebutkan. "Tapi, kenapa kau masih bertahan di sana, mengabdikan dirimu pada mereka? Kenapa kau lakukan itu, Hitsugaya? Apa karena temanmu dari Junrinan itu?"
"Hinamori tak ada hubungannya dengan ini," kata Toushiro segera, tajam. "Sekarang, di mana Segel Raja?"
"Eh?"
Para penyihir Fairy Tail sangat bingung sekarang.
"Oh? Maksudmu ini?" Kusaka mengulurkan tangannya; artifak berbentuk kotak kecil itu bersinar keemasan, mengirimkan gelombang energi yang ganjil ke sekitarnya."Lihat ini, Hitsugaya, benda ini memiliki kekuatan yang luar biasa… Sangat sempurna untuk mewujudkan impian kita."
Penyihir Fairy Tail menatap Toushiro yang membeku di tempat.
"Impian… kita?" ulang Toushiro, ragu.
"Ya." Ada senyum puas dan kebencian di suara Kusaka, sementara Segel Raja bersinar semakin terang. "Membalas dendam pada Seireitei… Menghancurkan mereka semua."
Mata turquoise itu melebar.
"Apa?!" dengking Natsu kaget.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang kekuatan Segel Raja?! Apa yang kau rencanakan sebenarnya?!"
"Jangan terlalu bersemangat, Hitsugaya," kata Kusaka senang. "Kau akan segera mengetahuinya. Sekarang, kita mulai."
"Apa yang-?!"
"Oi!" Natsu bergerak ke depan Toushiro, bersama Gray. Cahaya keemasan itu meluas, nyaris membutakan.
"Kusaka! Henti-!"
Namun cahaya keemasan itu semakin meluas.
"Natsu!" seru Lucy dan Happy bersamaan, maju untuk mencegah Natsu tertelan cahaya itu. namun, semuanya terlambat. Pria itu membuat dirinya dan Toushiro, bersama Natsu, Gray, Gajeel. Lucy, Erza, Wendy, dan tiga Exceed menghilang dalam cahaya terang dari artifak bernama Segel Raja.
"Apa?!"
Seluruh anggota serikat Fairy Tail menatap tempat delapan sosok itu, ditambah tiga kucing sihir tadinya berada. Makarov terpana; masih dapat dirasakannya energi menakjubkan dari artifak itu.
Toushiro, apa hal yang membuatmu terlibat dengan benda semacam itu?
Pusaran warna mengelilingi mereka. Sensasi ganjil seakan mereka semua terbawa melesat maju dengan sangat cepatnya melanda mereka, diiringi angin yang menampar-nampar di sekeliling mereka dengan sangat tidak ramah.
Dan mendadak saja, semua sensasi itu menghilang secepat datangnya. Angin kencang itu mereda perlahan, kendati bunyi ganjil seperti cicitan burung – padahal itu adalah suara kilatan seperti petir berwarna keemasan yang muncul dari Segel Raja di tangan Kusaka. Toushiro mengerjapkan kedua matanya, tak terbiasa dengan perubahan mendadak itu. namun, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Udara di sekitarnya sangat familiar.
"Tempat ini…"
Woops... cliffhanger.. (evilsmirk)
stay tuned, guys~
