Halo, dear readers~ It's been a while-PLETAK! Aduh! Ampun! Maaf luar biasa untuk keterlambatan update super dari fic yang satu ini! Persiapan sidang skripsi benar-benar - pinjem istilah Shikamaru dari fandom sebelah - merepotkan!

Fiuhh... Yang jelas, walaupun author gaje nan absurd ini belum bisa mbales review terakhir, (harap maklum, beberapa porsi otak udah dijatah buat sidang, sisanya buat mikir berapa lama hutang jam tidur yang perlu dilunasin XD), izinkanlah kiranya author menyempatkan diri meng-update chapter baru dari fic abal ini...

Warning: canon! OOC! Don't like, don't read! Tapi kalo nekat tetep baca, jangan nge-flame ya, ga punya pemadam api, bro~

Tetap tinggalkan review ya~

Aaaaannd, happy reading~

Chapter 13

Tampaknya, meskipun mendapat bantuan terang-terangan dari para penyihir Fairy Tail itu, para shinigami sadar bahwa mereka tak bisa menggantungkan peluang pertarungan, entah kemenangan ataupun kekalahan kepada mereka. Maka, menghunuskan zanpakuto masing-masing, para shinigami itu maju. Target utama mereka adalah menjatuhkan Soujiro Kusaka. Mengggunakan cabang-cabang beku yang sekarang justru lebih mirip jembatan, para shinigami bergegas meluncurkan teknik zanpakuto mereka.

Byakuya Kuchiki dengan Senbonzakura-nya berusaha melakukan serangan skala besar. Namun, Kusaka dengan mudah meluncurkan dinding pelindung, memblokir serangan itu. Renji Abarai menyabetkan Zabimaru-nya. Akan tetapi, Kusaka mencengkram bilah-bilah zanpakuto fleksibel itu, dan menariknya dengan brutal, membuat Renji tertarik dan menghantam tanah dengan kerasnya. Melihat serangan dua pimpinan Divisi 6 tak memberikan kerusakan yang berarti bagi musuh, sekelompok shinigami memutuskan menyerang bersamaan mungkin adalah opsi terbaik. Sepuluh shinigami, dengan dua di antara mereka adalah Komandan Divisi 2 dan Divisi 7 mengepung wujud naga humanoid itu.

"Menyerangku bersamaan? Hahahaha! Terima ini!"

Kusaka menaikkan satu derajat reiatsu-nya, mengirimkan gelombang dingin yang membekukan menyapu mereka semua. Cabang-cabang beku yang terkena gelombang kekuatan itu juga terkena dampak serangannya; mereka hancur berkeping-keping.

"Apa-apaan-?!" seru Gray terkejut.

"GYAAAAH!" Natsu berteriak kaget.

Tak hanya itu, Toushiro, Ichigo, Rangiku, dan Rukia yang tak jauh di belakang para penyihir juga harus mengalami jatuh yang tak menyenangkan.

Bersamaan dengan meluasnya gelombang energi beku itu, sebuah bola energi lain terbentuk dari arah Kusaka. Bola energi hitam itu semakin membesar, dan menelan sekitarnya dengan suara desing keras yang memekakkan telinga.

"Apakah," kata Nemu pada Mayuri Kurotsuchi, yang bersama sejumah shinigami lain, termasuk beberapa komandan lain mash ada di Bukit Soukyoku, "dia sudah menggunakan seluruh kekuatan Segel Raja?"

"Tidak. Segel Raja sudah di luar kendalinya," sahut Mayuri.

"Apa kau bilang?!" seru Ukitake terkejut.

"Lihat," kata Mayuri, dan membuat mereka yang masih ada di bukit itu melihat bagaimana bola energi hitam kebiruan itu semakin meluas saja di Seireitei, "reiatsu-nya bertambah besar dengan cepat, dengan konsentrasi yang begitu padat dan kuat. Dengan kecepatan seperti ini, jika tak segera ditangani, akan segera menutupi Seireitei dna menghancurkannya."

"Menghancurkannya?" ulang Kyouraku tak percaya. "Harus diakui reiatsu-nya memang menakjubkan, tapi tidakkah itu agak sedikit berlebihan?"

"Nah, kemampuan Segel Raja adalah senjata yang bisa memanipulasi ruang, waktu, dan materi yang ada di sekitarnya. Dengan kata lain, penggunanya yang berada dalam lingkup tertentu, akan jadi dewanya. Melenyapkan dan membangkitkan hanyalah hal remeh baginya." Para shinigami dibuat tercengang dengan informasi ini. "Tapi karena Soujiro Kusaka belum emnguasai zanpakuto-nya, apalagi mencapai bankai, menggunakan kekuatan itu tetap mustahil baginya. Sebaliknya, dia malah membuat masalah dnegan membuat kekuatan Segel Raja menjadai tidak stabil. Jadi…"

"… kita berada dalam kondisi yang berbahaya," lanjut Komandan Tertinggi Yamamoto.

Mereka semua menatap sang Komandan Tertinggi yang melangkah maju, menatap bola energi yang hampir mencapai Bukit Soukyoku.

Tidak. Mereka tidak akan membiarkan itu terjadi. Tugas shinigami adalah melindungi Soul Society.

Toushiro mendengar suara gemuruh pelan. Namun ia masih tak sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Rasanya seperti mimpi… ia merasakan dirinya ada di Seireitei lagi…

Bunyi derak mendadak terdengar olehnya. Si rambut putih membuka matanya, dan ia tak hanya mendengar suara derak, tapi juga merasakan serpih-serpih benda dingin menjatuhinya.

Dan Toushiro segera menoleh, menyadari ia tidak sendirian. Rangiku Matsumoto berdiri di belakangnya, menahan sebongkah es besar yang jelas cukup berat dengan napas tersengal dan tubuh gemetar, tetap menahannya agar tak jatuh menimpa dirinya.

"Matsumoto!" seru Toushiro kaget.

"Tidak apa-apa… Taicho," kata Rangiku, suaranya terdengar gemetar. Bongkah es yang ditahannya agaknya melebihi yang bisa ia tanggung. Segera Toushiro bangkit dan mendorong es itu, membuatnya jatuh dengan bunyi debam keras; Rangiku langsung jatuh terduduk, tampak antara lelah dan lega.

"Sudah… jadi tugas letnan untuk melindungi… punggung komandannya," bisik Rangiku, tersenyum padanya. Toushiro tercengang menatap wanita itu.

Melindungi punggung komandannya… Dia.

Bunyi derak lain membuat baik Toushiro dan Rangiku menoleh. Tak jauh di belakang mereka, tampak Ichigo sedang membantu Rukia keluar dari tumpukan bongkahan es. Dan tak hanya itu, mereka serentak menoleh ke arah lain saat mendengar serentetan keramaian berisi gerutuan, sumpah serapah, dan bunyi gedebukan.

"… menyingir dariku, Besi Karatan!"

"Sialan! Enyahkan bokongmu dari wajahku Mata Sipit!"

"Enak saja! Kalian yang minggir!"

"Kyaa!"

"Wendy! Kau tidak apa-apa?"

"Cowok gila. Kalian menendang kaki Wendy, dia bilang."

"Lucy! Kau curang, sembunyi di jam bego itu!"

"Horologium bukan jam bego, dia bilang."

Ketiga shinigami dan satu shinigami pengganti itu menatap para penyihir Fairy Tail yag tumpeng tindih dengan sweatdrop komikal. Dapat mereka lihat si rambut hitam, Gray, berada di paling bawah, tertindih oleh Natsu dan Gajeel yang malah berisik sendiri. Wendy tampak meringis sementara kakinya tadi baru saja di tendang Gray dalam usahanya membebaskan diri. Si kucing putih, Carla, membantu Wendy berdiri, Happy si kucing biru memprotes Lucy yang baru saja keluar dari badan sebuah jam antik yang segera menghilang dalam asap keemasan, sedangkan kucing hitam, Pantherlily, menggelengkan kepalanya dengan bosan kepada tiga penyihir pria yang masih bergulat di tanah.

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana kau bisa bersama orang-orang aneh itu, Toushiro," komentar Ichigo sangat heran.

Akhirnya, para penyihir Fairy Tail itu menghentikan aksi konyol mereka dan sukses berdiri di atas kedua kaki masing-masing.

"Nah," kata Natsu memandang berkeliling, "di mana kita sekarang?"

"Udaranya terasa aneh," kata Wendy.

"Rukia! Ichigo!"

Mereka semua menoleh ke sumber suara. Renji Abarai ber-shunpo ke arah para shinigami itu. Letnan Divisi 6 itu membersihkan debu di shihakuso-nya, ekspresinya tampak serius.

"Renji! Apa yang terjadi?" tanya Rukia.

"Kau tidak tahu? Lihat ke sekelilingmu." Keempat Shinigami itu menatap kubah hitam di atas mereka dengan tercengang. Tak hanya itu, permukaan tanah dalam jumlah besar tampaknya terangkat, melayang beberapa ratus meter di depan mereka dengan angkuhnya. Permukaan tanah yang melayang itu berbentuk seperti benteng raksasa, dan di puncaknya sosok humanoid naga seakan menjadi pusatnya.

"Sepertinya si Kusaka itu membangun kastilnya. Dan kubah hitam itu adalah pelindungnya. Sialnya kita terjebak di sini. Aku sudah mencobanya, tapi sulit untuk keluar dari kubah itu; reiatsu-nya terlalu padat."

"Bagaimana sekarang?" tanya Ichigo.

"Mana kutahu," sahut Renji cuek.

Ichigo siap melemparkan balasan yang pedas untuk jawaban Renji yang menurutnya benar-benar tidak peka itu. Yoruichi dan Soi Fon baru saja muncul, mengalihkan perhatiannya. Kedua wanita itu memberitahu mereka bahwa mereka harus segera mengalahkan Kusaka agar kubah hitam itu tidak meluas dan menelan Seireitei.

"Saat ini Komandan Tertinggi dan para komandan lain juga berjuang untuk mencegah kubah ini meluas," kata Soi Fon. "Sementara itu, kita harus menyingkirkan Kusaka."

Walau para shinigami tidak melihatnya, para penyihir Fairy Tail bisa melihat ekspresi Toushiro yang mengeras.

"Apa…" kata Wendy ragu, tapi itu membuat semua mata terarah pada gadis itu, "satu-satunya cara hanyalah membunuhnya?"

"Ya," kata Soi Fon datar.

"Kau juga berpendapat begitu?" Natsu menolehkan kepalanya ke Toushiro, yang menatap puncak benteng itu. "Kau juga bermaksud membunuhnya?"

"Memang harus begitu," kata Toushiro dingin. "Melihat apa yang dilakukannya, aku harusnya tahu bahwa tubuh dan jiwanya memang sudah mati."

"Tapi dia temanmu!" seru Natsu, kedengaran sangat marah.

Para shinigami menatap Toushiro atau Natsu dengan ingin tahu. Lebih tepatnya, ingin tahu apa jawaban Toushiro Hitsugaya, apa keputusannya, apa pilihannya.

"Dragneel." Toushiro menatap lurus ke kedua iris onyx Dragon Slayer itu, "aku sudah dengar dari Strauss tentang Master Kedua Fairy Tail yang berbalik menyerang kalian."

Para penyihir Fairy Tail bergidik, teringat penyerangan di Pulau Tenrou. Ini tak luput dari penglihatan para shinigami. Bahkan, mereka melihat penyhir yang paling sangar di antara mereka, Gajeel, menggelengkan kepalanya seakan mengusir lalat pengganggu. Sepertinya, peristiwa yang disebutkan Toushiro adalah sebuah kejadian penting yang cukup tidak menyenangkan untuk para penyihir itu.

"Apa hubungannya dengan…?" tanya Gray.

"Sama dengan Hades," kata Toushiro tanpa emosi, "Soujiro Kusaka menjadi musuh. Musuh Soul Society. Sama seperti Hades juga, kami harus mengalahkannya. Harus, karena kami…"

"… harus melindungi teman-temanmu."

Mereka menoleh, menyambut kedatangan sosok baru. Erza Scarlet tersenyum sambil mengangkat pedang berbentuk salibnya di bahunya. Walau tampak agak berantakan, sang Titania dalam Heaven's Wheel Armor-nya itu tampak sedikit berpuas diri. Erza menatap Toushiro.

"Apa aku benar?"

Toushiro menjawabnya dengan satu anggukan.

Erza tersenyum miring. Dan tepat saat itu, raungan memekakkan telinga terdengar oleh mereka semua. Tampak sejumlah besar hollow berdatangan dari lubang garganta di bawah benteng batu itu.

"Akhirnya!"

Ikkaku dan Yumichika baru saja tiba di tempat itu. katana keduanya seakan siap menebas musuh. Ikkaku menyeringai girang.

"Pesta sebenarnya akan segera dimulai!"

Namun sebelum satupun dari mereka maju untuk mengatasi kumpulan hollow itu, Yoruichi dan Soi Fon mencuri start lebih dulu. Kedua wanita itu menggunakan teknik shunkou mereka, melesat bak kilat dengan reiatsu menyelubungi tubuh mereka, menghabisi sejumlah hollow seketika.

"Kalian segera pergi ke puncak!" seru Yoruichi di antara gerakannya. "Mereka biar kami yang urus!"

"Wuah! Benteng ini sama besarnya dengan Istana Crocos!" kata Natsu. "Happy! Kita terbang saja, yuk!"

"Kalian tidak akan mundur?" kata Toushiro, mengernyit. "Masalah ini sama sekali bukan kewajiban kalian."

"Persetan dengan kewajiban," kata Natsu cuek. "Kami Fairy Tail. Kami tidak akan mundur."

"Taicho."

Toushiro menoleh. Rangiku Matsumoto tersenyum padanya. Di kedua tangannya, haori ber-kanji sepuluh itu terlipat rapi.

"Ini," kata Rangiku, mengulurkan haori itu padanya. "Saya menyimpannya untuk anda."

Toushiro menatap harapan di mata biru Letnan Divisi 10 itu. Tak hanya Rangiku. Ia melihat hal yanag sama pada Ichigo, Rukia, Renji, Ikkaku, dan Yumichika.

Ia tak akan lari lagi. Kali ini, ia harus melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Sebagai seorang shinigami. Sebagai seorang komandan. Sebagai seorang teman.

Ia melepaskan ikatan yang membuat Hyourinmaru terkunci di tangannya. Ia tak membutuhkan ikatan itu. Ia tak perlu takut tangannya akan tergelincir oleh keraguan saat memegangnya. Dan ia mengenakan kembali haori komandannya. Ia tak perlu lagi takut pada beban tanggung jawab yang terjalin di tiap benangnya. Ia mengeratkan selempang yang membawa Hyourinmaru di punggungnya. Ia tak perlu lagi takut menjadi pemiliknya.

"Matsumoto."

"Ya?"

Kali ini, ia tak akan berdiri sendirian.

"Jaga punggungku."

"Baik, Komandan!"

Para penyihir Fairy Tail tersenyum; Gajeel menyeringai. Suara penuh otoritas itu, sekaarng mereka tahu darimana Toushiro Hitsugaya memperolehnya. Dan, tidak mengejutkan itu cocok untuknya.

"Mari bakar beberapa bokong!" seru Natsu bersemangat.

Gajeel sudah menyelubungi kedua lengannya dengan besi dan Lucy mengeluarkan salah satu kunci emasnya. Dan Erza menggunakan sihir requip-nya, mengganti Heaven's Wheel Armor dengan Black Wings Armor.

Toushiro melemparkan jubahnya ke udara. Jubah yang menutupi dirinya sejak kedatangan Kusaka. Jubah yang menyembunyikan siapa dirinya.

Dan setelahnya, mereka mulai menuju puncak benteng, membagi dalam empat kelompok. Toushiro bersama Rangiku, Ikkaku dan Yumichika mendaki lewat sisi kanan, Ichigo, Renji, dan Rukia dari sisi kiri. Natsu, Gray, Erza, dan Pantherlily mem-back up kelompok Ichigo sedangkan Lucy, Wendy, Happy, Charle, dan Gray mem-back up kelompok Toushiro dari serangan hollow yang lepas dari jangkauan Yoruichi dan Soi Fon.

"Kenapa sekelompok lagi dengan kalian?" ujar Rangiku merengut, sementara mereka semua berlari menaiki benteng batu itu.

"Haish! Kau cerewet sekali!" gerutu Ikkaku.

Sebelum Rangiku sempat membalas, sebuah luncuran petir biru melesat ke arah mereka. Gray menyadari datangnya serangan itu dan menggunakan sihir esnya untuk membelokkan serangan. Mereka semua berhenti untuk melihat asal serangan itu. Sesosok monster melayang di dekat mereka.

"Petir…" Gray menatap monster itu dengan sangat heran. "Ini…"

"Itu salah satu gadis arrancar itu," kata Wendy perlahan. "Dia punya bau yang sama…."

"Bagaimana dia bisa berubah jadi begitu?!" tanya Happy ngeri. "Dia besar sekali!"

Monster itu menembakkan bola petir lagi. Kali ini, dengan segera Toushiro ber-shunpo ke udara, mengayunkan zanpkuto-nya. Semburan es dari ujung Hyourinmru berhasil menangkis bola petir itu. Namun, si monster memuntahkan lebih banyak bola petir, ditembakkan secara liar ke segala arah.

"Kyaaa!"

Wendy menjerit kaget saat salah satu bola petir itu nyaris mengenainya. Sekalipun meleset, ledakannya membuat tanah yang dipijaknya pecah. Gadis berambut biru itu jatuh ke undakan di bawahnya dengan bunyi debam keras.

"Marvel!" seru Toushiro, segera bershunpo di dekat gadis kecil itu. "Kau tidak apa-apa?"

"I-iya," kata Wendy, menerima tangan Rangiku yang membantunya berdiri.

"Sepertinya dia tak membiarkan kita naik ke atas," gerutu Ikkaku, sementara para hollow berdatangan lebih banyak. "Ck! Merepotkan!"

Dan tiba-tiba, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Retakan besar muncul dari dasar benteng, terus menjalar hingga ke atas, ke tempat mereka berdiri.

"Eh?! Benteng ini bisa bergerak?!" seru Rangiku kaget.

Namun anehnya, Ikkaku menyeringai. "Tidak. Reiatsu ini…."

Mereka semua bisa merasakan luapan reiatsu yang – bagi para shinigami – sangat tidak asing. Begitu besar, liar, dan menekan.

"Zaraki…" bisik Toushiro pelan.

Dan detik berikutnya, mereka semua bisa mendengar tawa gila yang hanya bisa dikeluarkan oleh Komandan Divisi 11 itu. tanah masih bergetar seakan gempa masih berlanjut, dengan Kenpachi Zaraki sebagai episentrumnya.

"Luar biasa!" teriak Zaraki gembira.

"Bukannya dia tadi jatuh?" seru Gray tak percaya, teringat cakar naga humanoid Kusaka sukses membuat Kenpachi terjatuh dri Bukit Soukyoku.

"Komandan tidak akan kalah semudah itu," kata Yumichika puas. "Itu juga bukan cara yang cantik untuk kalah, kan?"

"Komandan!" seru Ikkaku gembira.

"Minggir kalian dari sana!" teriak Zaraki, menebas kaki benteng itu dengan zanpakuto-nya. Tebasan itu cukup untuk membuat torehan dalam di salah satu kaki benteng; kaki benteng itu bergetar hebat dan runtuh.

"Ice Make: Stairs!"

Sebuah tangga es muncul di sisi lain tebing. Gray menatap rekan-rekannya, "Kita bisa pakai ini untuk ke atas! Ini tidak licin!"

"Kita pergi," ujar Toushiro, segera ber-shunpo, di susul yang lainnya yang berlari mengguankan tangga es buatan Gray.

"Jadi, kau penyihir es, eh? Lumayan juga," kata Ikkaku, menyeringai. "Tapi jika kau bisa membuat banyak hal dengan es, aku akan senang jika kau membuat sesuatu yang bisa terbang, jadi kita bisa ke atas lebih cepat…"

"Aku penyihir es tipe sihir statis," gerutu Gray. "Membuat makhluk hidup bukan gayaku…"

Namun saat mereka tiba di tingkat atas, apa yang mereka lihat membuat mereka berhenti seketika. Menara tertinggi di mana Kusaka dalam wujud naganya berada berdiri beberapa kilometer di depan mereka. Dan di kaki menara itu, sejumlah besar makhluk hitam raksasa setinggi tujuh meter bergerombol. Di antara mereka, hollow lain dalam jumlah yang lebih banyak berdiri seakan menjadi penjaga.

"Ini sama sekali tidak cantik," komentar Yumichika.

Salah satu Menos menembakkan cero merah ke langit.