Halo, dear readers
Er... maaf banget atas keterlambatan super fic ini... (I CAN'T BELIEVE IT! I LEFT THIS FOR A YEAR?!) Maaf, sekali lagi, readers! Author tak menyangka kalau kesibukan dunia nyata bisa sangat menyita pikiran dan aliran kata-kata! Mana ide cerita lain juga mulai berseliweran, tapi harus membagi waktu dengan pekerjaan yang – sigh – menentukan kelangsungan kehidupan author...
Anyway, bener-bener terima kasih untuk readers yang sudah begitu sabar menunggu, tetep perhatian lewat review untuk segera melanjutkan – sniff – author terharu! #hugs
Daaaaan, there we go, happy reading and review please~
Chapter 14
Jalan mereka menuju Soujiro Kusaka terhalang total oleh gerombolan hollow dari berbagai jenis di atas benteng itu. Tak ada pilihan lain untuk mereka selain menghabisi para hollow itu terlebih dahulu. Namun, bisa dikatakan bahwa rencana itu gampang disusun daripada dilaksanakan, mengingat gerombolan hollow bukanlah hal mudah untuk dibereskan. Apalagi sejumlah besar Menos Grande bergentayangan di segala titik. Dan entah bagaimana, setiap mereka menebas, memenggal, atau apapun yang intinya melakukan serangan terhadap para hollow itu, secara aneh mereka akan pulih kembali seperti sedia kala dalam jeda waktu tertentu.
"Mereka tidak ada habisnya," gerutu Gajeel jengkel. Ia bersama Natsu berkali-kali menggunakan teknik khusus Dragon Slayer mereka. Semua serangan para penyihir itu kena telak, tapi kemampuan regenerasi para hollow yang super cepat karena pengaruh Segel Raja itu membuat kesabaran keduanya nyaris mencapai batas.
"Kenapa Kepala Karatan? Sudah mau nyerah?" ejek Natsu.
"Enak saja!" geram Gajeel tak terima. "Aku baru mau mulai!"
"Semuanya, fokus!" tukas Toushiro, membuat dua Dragon Slayer itu berhenti melempar umpatan. "Kita benar-benar harus melewati mereka..."
Tepat saat itu, rombongan Ichigo mencapai puncak benteng. Mereka sama terkejutnya melihat para hollow dalam berbagai kelas dan ukuran – untunglah tak ada Vasto Lorde yang memang sangat langka – memblokir tempat Sojiro Kusaka yang berdiam di puncak menara es yang dibuatnya di tengah bukit buatan itu.
"Kita harus singkirkan mereka kalau mau ke atas," komentar Erza tak puas.
Dua Arrancar wanita yang sudah berubah menjadi monster raksasa itu bergerak mengitari mereka, sebelum bertransformasi menjadi wujud manusia mereka dan mendarat di tempat tadinya wujud monster mereka berada. Wujud keduanya tampak sedikit berubah, tanda meningkatnya kekuatan mereka karena kekuatan Segel Raja. Arrancar berambut merah dan biru itu meninggalkan pakaian mirip pakaian manusia, berganti menjadi sesuatu mirip zirah perang dengan senjata yang sama, yaitu sebuah tombak untuk masing-masing dari mereka. Yang membedakan hanyalah si rambut merah memiliki tombak sewarna tulang berpuncak nyala api, sedangkan si rambut biru dengan tombak serupa namun dengan bola petir diujungnya.
"Jangan berpikir," kata si rambut merah angkuh, "kalian bisa mencapai Tuan Kusaka!"
"Terlebih kau, Hitsugaya! Kau yang mengkhianati Tuan!"
"Aku tidak pernah mengkhianatinya," kata Toushiro datar, mengangkat zanpakuto-nya tanpa ragu. "Dia yang mengkhianati dirinya sendiri."
Sebelum Toushiro maju, tangan Rangiku menghentikan langkahnya, berkata dengan nada tegas yang tak biasa, "Anda tidak perlu melawan mereka. Simpan tenaga anda untuk Kusaka."
"Itu benar," kata Erza setuju. "Tapi pertama-tama, kita harus cari cara untuk membuka jalannnya..."
"Bukannya sudah kubilang," gertak si rambut merah – Yin – geram, "kalian tidak akan mencapai Tuan Kusaka!"
Gadis Arrancar itu menghunuskan tombaknya, menembakkan bola api ke arah mereka. Segera Rangiku membuat abu Haineko menjadi perisai, berhasil mencegah serangan itu menghanguskan mereka.
Toushiro menatap letnannya, yang memberi pandangan yang sangat jelas maknanya – baginya, paling tidak. Pengalamannya bekerja sama di sejumlah pertempuran membuat Toushiro cukup mengerti. Serahkan yang di sini pada saya, anda bereskan target utama.
Toushiro mengangguk. Ia punya rencana, tapi pertama...
"Scarlet."
Penyihir berambut merah itu menoleh, pikirannya untuk memutuskan baju zirah yang cocok untuk pertempuran di depannya teralih. "Hm?"
"Aku perlu bantuanmu."
"Apa itu?"
"Bantu letnanku untuk menangani mereka, aku rasa aku punya cara untuk mencapai Kusaka."
"Aku menger–"
"Mana bisa begitu!" protes Natsu. "Aku juga mau lawan naga itu!"
Erza menghantam kepala Natsu dengan tangannya yang berlapis sarung tangan besi, membuat si Dragon Slayer itu langsung tersungkur. Gadis itu lalu menatap Toushiro, "Kami akan tetap di sini. Kau pergilah."
Toushiro mengangguk sekali, sebelum menjejak tanah dan menghunuskan zanpakuto-nya ke langit, "Bankai: Daiguren Hyourinmaru!"
Beban sayap es di punggungnya membuat Toushiro merasa kehadiran Hyourinmaru sangat dekat, sangat kuat.
Saya selalu bersama anda, Master.
"Apa ini rencananya? Menjadi setengah naga?" tanya Erza pada Rangiku, mengabaikan Natsu, Gray, dan Gajeel yang kompak ternganga lebar sampai Erza yakin mereka bisa menelan salah satu monster di depan mereka.
"Kita jadi pengalih perhatian sementara Komandan bisa terbang melewati mereka lewat atas," kata Rangiku, menjelaskan rencananya. "Tapi tetap kita perlu membuka jalannya. Kurasa, gabungan kekuatanku, Yumichika, dan Ikkaku bisa melakukannya sementara kalian urus hollow-nya."
"Tapi tetap dia tidak akan bisa mengalahkan Kusaka sendirian," kata Yoruichi, sudah berada bersama mereka, juga Soi Fon. "Kekuatan Segel Raja terlalu besar untuk ditaklukkan."
"Kami bisa membantu," sela Natsu, dipotong dengan tidak setuju oleh mantan Komandan Divisi 2 itu.
"Kalian ada di sini karena kekuatannya. Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukannya lagi. Yang paling baik adalah membiarkan Segel Raja ditangani shinigami, shinigami setingkat komandan yang kontrol reiatsu-nya dan kemampuan destruktif yang hampir sama." Yoruichi menatap Ichigo. "Kau bantu Komandan Hitsugaya untuk memisahkan Segel Raja dari Kusaka."
Ichigo mengangguk.
"Kau bisa gunakan bankai dan topeng hollow-mu untuk melewati mereka," saran Rukia.
"Aku tahu," kata Ichigo mantap.
"Sudah selesai dengan bisik-bisik strategi konyolnya?" ejek Yin.
"Apapun yang kalian pikirkan, kalian tidak akan bisa mengalahkan kami!" timpal Yang.
Tiba-tiba saja, semburan es menyembur di berbagai titik, menciptakan geyser-geyser beku dan membuat suhu semakin turun. Dua arrancar wanita itu justru tampak puas, menyeringai seakan kemenangan telah dalam genggaman tuan mereka.
"Kalian semua akan membeku dan mati!" teriak Yin, melempar bola api ke arah para penyihir di bawahnya, yang dengan sigap melompat menghindar. Toushiro membalas serangan itu dengan Hyoryuu Senbi, membekukan perisai api Yin.
"Mereka tidak membiarkan siapapun mendekati majikannya," geram Gajeel. "Membuka jalannya harus dengan satu serangan besar... Itu artinya..." Si Iron Dragon Slayer menatap dua Dragon Slayer lainnya. "Oi, Salamander! Cewek Kecil!"
Natsu dan Wendy menoleh.
"Raungan Naga untuk membuka jalannya!"
"Oke!" seru Natsu bersemangat. Ketiga dragon slayer itu kembali melakukan Teknik Dragon's Roar mereka sementara Gray, Erza, dan Lucy membantu para shinigami untuk mengalihkan Yin dan Yang yang sepertinya makin beringas. Campuran energi sihir dari api dan serpihan besi yang diperkuat oleh angin membentuk jalur bebas hollow menuju puncak pilar es keunguan; Toushiro segera menggunakan kesempatan itu untuk melesat cepat dengan sayapnya. Ichigo, yang juga melihat jalan yang terbuka memunculkan topeng hollow dan bankai Tensa Zangetsu. Dua hal itu membuatnya dapat bergerak lebih cepat untuk menyusul Toushiro, yang sudah melepaskan luncuran es berbentuk naganya yang berhasil mematahkan serangan empat serangan naga es dari Kusaka sekaligus.
Sementara Toushiro dan Ichigo juga berjuang untuk mencapai puncak pilar, para shinigami dan penyihir Fairy Tail juga menghadapi masalah lain. Yin dan Yang semakin beringas, geram karena musuh utama tuan mereka lolos dari jebakan hollow mereka.
Dan mendadak, semburan es lain meluncur, menjebak Lucy yang tak cukup cepat menghindarinya.
"Lucy!" seru Erza terkejut; dilihatnya kunci Celestial si pirang yang terlempar jatuh sementara pemiliknya terkurung dalam es, membeku dengan ekspresi shock.
"Lucy!" Natsu segera menghampiri gadis itu dengan ekspresi ngeri. Ia memukul-mukulkan tinjunya, dengan api ataupun tidak, ke pilar es yang mengurungnya. Satu retakanpun, sayangnya, sama sekali tak terbentuk. Ia tak bisa menggunakan serangan besar dengan apinya, sekedar melelehkannya sama sekali tidak mempan; ia sadar betul betapa destruktifnya sihirnya. Dan, kata Natsu dalam hati dengan getir, aku tidak bisa melakukan apa-apa! "Lucy! Luce!"
"Satu," kata Yang dengan ekspresi keji, "tamat."
Ledakan api yang hebat menyembur di tempat Natsu berdiri, mengejutkan para shinigami sementara dua Arrancar itu tampak agak tertarik.
"Jadi dia masih punya kekuatan yang begitu besar," komentar Yang. "Aku mau dia."
"KAU MAU MELAWANKU?! KEMARI KALAU BEGITU!" raung Natsu murka.
"Dan dia masih punya nyali," tambah Yin mengejek. "Jangan terlalu merepotkan diri kalian. Reiatsu cewek pirang itu akan terhisap habis dengan es Tuan Kusaka."
Tak mendengar peringatan para shinigami, Natsu melesat maju menyerang Yang sambil berteriak, "Karyuu no saiga!"
Api di kedua tangan Natsu membentuk cakar yang menyala berbahaya, menyambar Yang. Arrancar berambut biru itu terpaksa melompat mundur. Ia menggunakan luncuran petirnya untuk menangkis serangan api Natsu.
"Ceroboh," desis Erza, yang mulai disibukkan dengan pasukan besar hollow yang tidak ada habisnya meski sudah ditebasnya berkali-kali. "Gajeel, kau bantu dia."
"Ini bakal seperti lawan si Codet Petir itu..." gerutu Gajeel, tapi Erza tahu si Iron Dragon Slayer itu akan melakukan apapun untuk membantu, meskipun ia mengatakan sebaliknya. Jelas Gajeel sama marahnya dengan mereka semua melihat Lucy yang terjebak dalam es. Ia melesat cepat sambil melancarkan teknik sihir Tetsuryuusou: Kishin-nya, membuat tangannya bertransformasi menjadi tombak besar, yang saat ia melemparkannya ke Yang ujung tombak itu menembakkan tombak-tombak lain yang lebih kecil tapi lebih banyak, menembak dengan keakuratan yang tepat. Dan segera, bersama Natsu, pertarungan melawan Arrancar berambut biru itu berlangsung dengan seru.
"Wah, dua orang itu nekat sekali," komentar Renji sambil menebas para hollow.
"Yeah! Semua orang tahu itu!" seru Gray, mengernyit dalam kejengkelannya yang bercampur kecemasan dan kemarahan. Penyihir es itu mencoba menyalurkan energi sihirnya ke dalam es agar bisa mengendalikannya, namun energi di dalam es itu jauh lebih kuat darinya.
Kalau begini, lebih cepat Toushiro mengalahkan Kusaka, lebih cepat Lucy bisa dibebaskan!
KRAK.
Gray mengerjap cepat. Di bawah tangannya, retakan panjang menyebar di dalam es. Ia menatap ekspresi terkejut Lucy yang membeku, melihat kilatan ganjil di mata gadis pirang itu.
Dan retakan itu bertambah lebar, memunculkan bunyi derak keras yang membuat perhatian semuanya teralih.
"Gray! Kau ngapain?!" seru Natsu.
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk esnya!" balas Gray.
"Tidak mungkin," bisik Yin tak percaya. "Es Tuan Kusaka dipatahkan?!"
Dan pilar geyser beku itu meledak, melontarkan es ke segala arah; Gray menghindari bongkahan tajam es dengan menggunakan perisai esnya lagi.
"Lucy-san!" seru Wendy, campuran antara cemas dan lega, berlari menghampiri gadis pirang yang jatuh berlutut dengan napas terengah.
"Maaf," kata Lucy, suaranya terdengar agak ganjil, "tapi aku bukan Lucy-sama."
"Eh?"
Para shinigami tampak agak tercengang, sementara para penyihir tampak memahami sesuatu.
"Gemini!" seru Erza.
"Kami bertukar tempat, Leo yang memintanya," Gemini Lucy tersenyum lelah. "Waktuku sudah habis. Master akan kukembalikan dari Dunia Roh Bintang."
Dan berikutnya, sang peniru lenyap dalam kabut keemasaan dengan bunyi 'pop' pelan. Sedetik kemudian, tempat Gemini digantikan oleh pemiliknya. Lucy berdiri tegak, ekspresinya tegas, dengan sosok baru di sampingnya. Seorang pria muda dengan setelan jas resmi hitam dengan rambut jingga berantakan dan kacamata berlensa biru.
"Loki!" seru Gray, menyeringai senang.
"Wah, wah," kata pria muda itu – Loki – dengan nada santai namun matanya berkilat geram, "kekacauan macam apa yang membuatku sampai melanggar kontrak?"
"Kau selalu melanggar kontrak, Loki," kata Lucy datar. "Muncul seenaknya saja..."
"Akan kulakukan apapun untuk memmbantumu, My Lady," kata Loki manis.
"Bagaimana," geram Yin, "bagaimana kau bisa bebas?!"
"Ah, hanya trik khusus Penyihir Bintang," kata Loki santai. "Gemini meniru Lucy-ku sayang dengan sempurna dan bertukar tempat dengannya. Kalau kau mau tahu, kami, roh bintang, adalah makhluk abadi, jadi trik seperti ini tidak akan membunuh kami." Loki membungkuk, mengambil kantung kunci Celestial milik Lucy dan menyerahkannya pada pemiliknya; salah satu kunci tampak berpendar keemasan, kunci emas dengan ukiran kepala singa.
"Kau..." Yin membelalak marah.
"Pemimpin 12 Roh Zodiak Emas, Leo Sang Singa," kata Loki dengan gestur dramatis, "siap melayani anda, Lucy My Lady."
"Kau tahu, aku tidak suka menggunakan roh bintang sebagai tamengku," kata Lucy suram.
"Aku tahu," kata Loki, memutar cincin emas di ibu jarinya. "Kau memilih bertempur bersama kami. Sebagai permohonan maaf, saat kita pulang ke Magnolia, aku akan mengajakmu makan malam romantis, anggap saja sebagai kencan."
"Loki!" tegur Lucy nyaring.
"Iya, iya." Dan detik berikutnya, nada santainya lenyap, digantikan keseriusan, dan Lucy sudah menarik satu kunci emas lain sementara para hollow kembali mera[at mengeiligi mereka semua. "Ayo."
Lucy memanggil roh bintangnya yang lain, yang kal ini membuat para shinigami – kecuali Yoruichi dan Soi Fon yang hanya mengangkat alis – dibuat melongo. Gadis penyihir itu memanggil Capricorn, yang ternyata berwujud pria dalam setelan jas yang sama dengan Loki namun berkepala kambing. Bukan kambing biasa, pula, namun kambing yang jelas dari bagaimana ia bertindak, bertutur, dan bertempur, adalah roh bintang dengan intelijensi tinggi.
"Para penyihir itu makin aneh saja," komentar Yumichika, melihat Lucy menggunakan Fleuve d'étoiles – cambuk magisnya – untuk menjerat para hollow dalam jangkauannya sebelum Loki melumpuhkan mereka dengan Regulus Impact dan Capricorn bergerak gesit dengan keahlian hand-to-hand combat-nya yang sangat baik. Tak mau kalah, Wendy menggunakan teknik Dragon Slayer-nya untuk mem-back up Lucy, sementara Erza menyibukkan diri dengan serombongan Menos Grande.
Tak membiarkan para penyihir mengambil semua kesenangan, para shinigami menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Renji sudah dalam mode bankai, melindungi dirinya, Rukia, dan Rangiku yang mendadak mendapat tembakan cero dari Menos yang berdatangan dari arah lain, sebelum ketiganya kompak melakukan serangan balik. Ikkaku juga dalam mode bankai, yang ditekankan pada siapapun dalam jarak dengar untuk merahasiakan pencapaiannya itu dari siapapun. Yumichika juga sibuk, menebaskan zanpakuto-nya ke para hollow yang merintangi jalannya. Adapun Yoruichi dan Soi Fon bergerak lincah di antara 'hutan' hollow, menyerang dengan teknik shunkou mereka.
Kembali ke pertempuran yang terjadi di puncak pilar es.
Toushiro mengepakkan sayap esnya pelan, mengamati sejenak apa yang akan menjadi destinasi akhirnya. Sojiro Kusaka, masih dalam bentuk naga es yang berdiri arogan di puncak pilar, menolehkan kepalanya ke lawan barunya. Toushiro bergerak gesit, menghindarai tombak-tombak es yang ditembakkan dari moncong naga es itu.
"Nah, bagaimana tepatnya kita mengalahkannya?" tanya Ichigo yang baru tiba, suaranya agak teredam oleh topeng hollow-nya.
"Aku rasa aku tahu," kata Toushiro pelan. "Aku bisa melihat di mana Segel Raja... aku akan buat celah, kau pisahkan darinya."
"Hmm," ujar Ichigo, terdengar agak heran, "bukannya aku keberatan, tapi kukira kau yang ingin melepaskan benda itu darinya..."
"Artefak itu mempengaruhi reiatsu Kusaka. Jika aku yang memiliki reiatsu yang mirip menyentuhnya... Kita tidak atahu apa yang akan terjadi jika aku sampai melakukannya."
"Baiklah, baiklah." Ichigo mengangkat Tensa Zangetsu. "Kapanpun kau siap."
Toushiro mencengkeram zanpakuto-nya, terlihat seakan kepala naga es yang menggigit gagangnya semakin garang saja. Ayo, Hyourinmaru.
Toushiro bergerak mundur, sementara Ichigo melesat maju. Disabetkannya Tensa Zangetsu, melesatkan reiatsu bertekanan tinggi ke arah si naga. Kusaka, yang melihat jelas serangan frontal itu menangkisnya dengan mengeluarkan raungan yang menembakkan energi besar keemasan.
Ichigo segera ber-sonido menghindar.
Wah, orang ini keras kepala juga juga. Oke, sekali lagi...
Ichigo bisa sedikit tahu pola serangan Kusaka. Sementara es di sekitarnya menjadi wilayah kekuasaannya yang bisa dikendalikanya, tapi ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Tidak bisa, lebih tepatnya. Gerakannya dibatasi oleh naluri mistis Segel Raja yang melepaskan kekuatan besar namun terbeenggu tahtanya sendiri. Dengan kata lain, serangan Kusaka adalah jarak jauh, dan lemah dengan jarak dekat. Namun, es di sekitarnya akan menghalangi siapapun mendekat.
Kecuali satu orang. Dan dia akan memberi waktu untuk orang itu.
Ichigo menyeringai di balik topeng hollow-nya. Sedikit dramatis tidak apa-apa, bukan? Ia melesat maju, nekat menghadapi langsung moncong beku reptil itu!
Naga-Kusaka menggeram marah. Sekali lagi ia menahan zanpakuto sang shinigami pengganti dengan energi keemasan yang dikeluarkan dari raungan moncongnya, tak menyadari bahwa serangan ceroboh seperti itu hanyalah pengalih, akan kekuatan lain yang sudah siap menjatuhkannya.
Lantai es di bawah kakinya meretak terbuka, dan seekor naga lain menyeruak muncul dari bawah sana dengan raungan keras. Segera Ichigo ber-sonido menjauh, bagiannya sudah selesai.
Dilihatnya naga es kebiruan itu bergerak cepat meiliti tubuh naga es keunguan – Kusaka. Dengan raungan mengancam, diiringi derak mengerikan, naga-Kusaka dibuatnya tak berkutik, bahkan sayapnya tertekuk ganjil, kalah oleh si naga es kebiruan yang mengerahkan segala kekuatannya menundukkan lawannya. Dan kemudian, si naga es kebiruan itu membuat gerakan berbahaya tanpa ragu, menanamkan taring-taring esnya yang tajam ke leher taklukannya, yang langsung meraung kesakitan.
Ichigo sedikit berjengit mendengar suara memekakkan telinga itu. Tapi, jika Toushiro seberani itu mengambil gerakan berbahaya, kenapa dia tidak.
Dan kemudian, dilihatnya berkas cahaya keemasan muncul di tepat dahi naga-Kusaka; Segel Raja!
Ini dia saatnya!
Ichigo segera melesat maju ke arah naga es keunguan yang terkunci tak berkutik. Dihujamkannya Tensa Zangetsu tepat di tengah cahaya keemasan itu dan diteriakkannya jurus pamungkasnya, "Getsuga tenshou!"
Dan waktu seakan ikut membeku.
Detik berikutnya, es di sekitarnya mulai meretak; bongkahan-bongkahan kristal beku yang pecah terangkat ke udara.
Yin dan Yang, dua gadis Arrancar itu teralih perhatiannya dari pertempuran yang menyibukkan mereka, menyadari kejatuhan tuannya.
"Tuan Kusaka!"
