Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,


Chap III

Tidak bisakah kau berbagi hidupmu dengan ku

Tidak dapatkah kau mencintaiku

Senja terbaik sepanjang hidupnya…

Sang cassanova benar-benar tidak menyangka akan datang moment seperti ini dalam hidupnya

Hinata-nya, tujuan hidupnya, pusat kehidupannya.

Mendatanginya secara sukarela, ia bahkan memberikan hadiah untuk sang Uchiha

Hal yang selama ini selalu dimimpikan oleh Sasuke Uchiha

##

Lamborghini hitam membelah jalanan Tokyo, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, suara mesin berderit mengerikan, setiap kendaraan, baik mobil maupun motor ia salip tanpa aturan. Jantungnya berdetak-detak tak beraturan, sepanjang perjalanan senyum kebahagian setia bertengger di bibirnya yang dingin.

Ia bahagia, sambil sesekali matanya melirik bingkisan yang ia simpan di kursi sebelahnya, pandangannya penuh haru pada benda yang belum Sasuke tahu apa itu isinya.

Ia menambah kecepatan laju mobil kesayangannya, ia ingin segera sampai dirumahnya, ia ingin segera sampai di kamarnya, karena ia hanya ingin membuka hadiah dari Hinata-nya disana, tidak boleh ada siapapun yang berhak melihat apa isinya kecuali Sasuke. Sang surya terlihat lebih besar bersinar sore ini, walau ia perlahan bergerak turun dan tenggelam di tengah lautan.

Hatinya menghangat.

Ia merasa sangat bahagia, Hinata memanggil namanya, namanya terucap dari bibirnya yang indah, Hinata sangat dekat dengannya tadi, ia bisa dengan jelas melihat rona kemerahan yang timbul di pipinya yang chubby, kulit wajahnya benar-benar halus tanpa noda, aroma lavendernya benar-benar terasa kuat di indra penciumannya.

Dan, apa-apaan tadi ?

Hinata bilang, isi dari bingkisan ini dia yang membuatnya sendiri, Hinata yang membuatnya khusus untuknya ?

Dadanya bergemuruh hebat, ini terasa mimpi untuk-nya, dan jika pun ini mimpi Sasuke jelas tidak ingin bangun dari mimpinya ini.

##

Brummm… Brumm…

Mobilnya ia parkir sembarang, dengan bingkisan di genggaman tangannya, ia sedikit berlari menuju kamarnya di lantai 2, raut wajah kebahagian jelas terpancar dari wajahnya yang biasanya selalu datar, Aniki-nya yang kebetulan sore itu ada di mansion hanya bisa tercengang melihatnya, pasalnya… adik tersayangnya itu tersenyum saja jarang dan hari ini ia melihat wajah Sasuke yang berseri-seri seperti itu jelas ia merasa khawatir.

Sulung Uchiha menarik lengan Sasuke "Hey… Otouto, doushite ?" tanya Itachi.

"Hn… nandemonai aniki, lepaskan tanganku !" jawab Sasuke sambil menepis tangan Itachi "Aku ingin di kamar, dan jangan ada yang berani menganggu." titah Sasuke datar, kemudian sambil berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Dan Itachi hanya bisa bertukar pandang dengan Konan sang istri yang juga penuh keheranan.

Brukkk

Suara pintu kamar yang ia tutup dengan keras, dan tak lupa Sasuke menguncinya dari dalam, ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun. Sasuke duduk di tepian ranjang besarnya, tanggannya bergetar membuka perlahan bingkisan pemberian Hinata, sangat perlahan dan berhati-hati seakan itu sebuah porcelain langka yang jika tergores sedikit saja akan pecah dan hancur berantakan.

Onyx-nya memanas, hatinya terenyuh… tanpa sadar sang prodigy Uchiha meneteskan air matanya… ia bahagia, selama ini… yah selama ini ia selalu ingin berada dalam moment seperti ini.

Sebuah toque, Hinata memberinya sebuah toque, sejenis topi kupluk rajutan yang berwarna hitam dan bergaris abu-abu, Hatinya makin menghangat terlebih mengingat ucapan Hinata yang bilang jika dirinya sendiri yang membuat ini.

Kami-sama.

Bagi Sasuke, Hinata adalah kebutuhannya… ia jelas membutuhkan Hinata untuk melanjutkan kehidupannya, Hinata adalah oksigennya yang ia butuhkan setiap kali ia menarik nafasnya.

Kami-sama…

Bahkan Sasuke rela menukarkan apapun miliknya asalkan bisa bersama Hinata-nya. Untuk Hinata, bahkan Sasuke lebih memilih tulang-tulangnya yang hancur remuk dari pada melihat satu tetes saja air mata Hinata. Dengan begini, bisakah Sasuke menaruh harapan untuk bisa lebih dekat dengan belahan jiwanya ?


Senandung nada yang didengar melalui earphone yang terhubung ke ponselnya semakin membuat hati sang Uchiha merona. Ia bersandar di dinding kelas yang kosong, ia susun kursi untuk meluruskan kakinya yang panjang. Kupluk pemberian Hinata digunakannya, di padukan dengan kaos hitam berlengan panjang.

Rasanya ada aliran hangat yang mengalir dari rongga dadanya, ia benar-benar bahagia karena bisa menggunakan hadiah dari sang Hyuga.

"Sasuke… " Suara Shikamaru yang tiba-tiba datang dan memaksa bungsu Uchiha untuk membuka matanya.

Dan Sasuke hanya melirikan bola matanya sebagai jawaban.

Shikamaru duduk bersandar tepat di sebelah Sasuke "Sebaiknya kau segera keluar, dan lihatlah di belakangan taman fakultas Sosial jika kau tidak ingin menyesal nantinya." ucap Shikamaru ambigu.

Fakultas sosial ? Menyesal ? Maksudnya ?

Sasuke diam sejenak, berusaha mencerna apa yang diucapkan Shikamaru. 'Fakultas sosial ? loh.. itu fakultas Hinata, shit ! jangan-jangan ?!' tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

Shikamaru mendengus penuh ejek, terutama melihat Sasuke yang beranjak berlari keluar kelas, melihat Sasuke yang saat ini, ia begitu panik, bukan tipikal Uchiha sekali jika melihat reaksi Sasuke yang seperti ini, Sasuke yang biasanya itu selalu bersikap dingin dan tenang dalam menghadapi apapun itu kondisinya, tapi jika menyangkut Hinata ? Bahkan Sasuke juga tidak bisa memahami dirinya sendiri jika itu perihal Hinata.

Yah… memang Sasuke tidak ada niat untuk bisa memahami dirinya sendiri, ia pun tidak membuka peluang untuk orang lain agar bisa memahami siapa dirinya. Yang Uchiha Sasuke inginkan hanya Hinata satu-satunya yang bisa memahami Sasuke seutuhnya.


Nafas sang prodigy terengah-engah, detak jantungnya pun tidak beraturan, dan ini wajar… jika kau sudah berlari puluhan meter dari fakultas ekonomi dan menuruni puluhan anak tangga untuk sampai di fakultas Hinata, ini wajar… keringat terlihat bercucuran dari pelipis sang Uchiha, dan Sasuke sama sekali tidak perduli itu.

Yang ia pedulikan, hanya ingin sampai di halaman belakang fakultas itu secepat mungkin.

'brengsek Shikamaru ! jika ini semua hanya lelucon, lihat saja aku akan membunuh-mu !" maki Sasuke dalam hati, yaahhh… hanya ini distraction atau pengalihan perhatianyang bisa ia lakukan, karena sejujurnya sasuke sangatlah takut.

Dengan nafas yang serasa hampir putus dalam saluran pernafasannya, onyx-nya membesar, rahangnya mengeras, ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jari tangannya memutih.

Dadanya bergemuruh yang menyakitkan.

Disana… ada Hinata yang tertunduk dan wajahnya yang tertutupi helaian indigonya, dan pemuda sialan yang berdiri di hadapannya membawa setangkai bunga.

Sasuke menyunggingkan senyum penuh ejek.

Apa-apaan ini ?! Bocah Inuzuka itu sedang mengungkapkan perasaanya pada Hinata-nya. Dengan terbata ia meminta Hinata menjadi miliknya.

'Shit ! Brengsek ! brengsek !' maki Sasuke dalam hati.

Ia ingin sekali membunuh bocah sialan itu saat ini juga, merobek mulutnya atau mungkin memenggal kepalanya, berani betul dia meminta Hinata menjadi miliknya, apa ia tidak tahu Hinata hanya akan menjadi milik Uchiha.

Poor Sasuke

Tapi, Sasuke pun sejujurnya merasa takut, ia sangat takut bagaimana jika yang terjadi Hinata menerima Inuzuka itu, bagaimana jika yang terjadi selama ini Hinata juga mencinta bocah sialan itu ?

Sasuke takut,

Bahkan lututnya melemas.

Tapi,

Secercah cahaya serasa menembus hatinya yang gelap, melihat reaksi Hinata yang menggelengkan kepalanya serta mengucapkan berkali-kali kata maaf dan ekpresi kekecewaan dari pemuda di hadapannya itu jelas membuat Sasuke lega.

Artinya, Hinata menolaknya bukan ? Dan ia, masih punya kesempatan bukan ? Yahhh… anggap saja begitu.

Sasuke berbalik, ia mendengus penuh kelegaan. Senyum membunuh jelas terpasang di wajah rupawannya. Yah, tinggal memberi sedikit pelajaran untuk sang Kiba Inuzuka yang sudah dengan berani meminta Hinata menjadi milik-nya.


Malam ini terasa damai dengan bulan purnama yang terlihat cerah dan menguasasi langit malam.

Tapi, rasa damai itu tidak berlaku untuk di pinggiran kota Tokyo.

Brakkkk

Lamborghini hitam menabrak motor besar yang sedang melaju di depannya, pengemudinya terpental, motornya terperosok ke taman kota.

ckittt

Suara rem mobil yang di rem mendadak.

"Sialan kau !" Ucap si pengemudi marah sambil melempar helm mahalnya. "Kau ingin membunuhku ?" Hardiknya lagi.

Pintu mobil kemudi terbuka, pemilik dari Lamborghini hitam keluar dengan rahang yang mengeras, ia mendengus dan meludah di samping mobilnya.

Diaterkejut "U…u..uchiha-san ?" dengan terbata, dia bertanya… yah hanya bertanya untuk memastikan bahwa yang dilihatnya memang tidak salah.

"Ya." ucap Sasuke tajam dan penuh penekanan.

Tuk… tukkk

Suara langkah sepatu yang terdengar serasa seperti lonceng kematian untuk pemuda di depannya ini, perlahan tapi penuh penekanan, sang pioneer Uchiha mendekat, berusaha menghapus jarak dengan pemuda sialan di depannya ini.

"A… ano, apa-apa salahku Uchiha-san ? kupikir aku tidak membuat kesalahan dengan mu ?" tanyanya lagi, rasa takut menjalar disekelilingnya, berharap mendapat penjelasan dengan apa yang akan terjadi.

"Salahmu ?" tanya Sasuke padanya

Dan sang pemuda hanya bisa menelan ludah, ia melihat tatapan sang Uchiha dengan mata onyx-nya yang seperti memerah, otot-otot di tangannya menegang sempurna.

BRUUUGHHHH

Tanpa sempat menghindar, pukulan tepat diulu hatinya, Sasuke tersenyum miring, ia mendapatkan mangsanya.

"Tu-tunggu dulu Uchiha-san ?!" tanya pemuda itu kembali, sambil meringis memegang perutnya yang terasa sakit akibat pukulan Sasuke "a-apa salahku ?"

Lagi, dan lagi… sang pemuda itu bertanya kembali pada Sasuke, berharap dengan mendapat jawaban dari prodigy Uchiha ia bisa meluruskannya dan meminta maaf padanya, karena melawan Sasuke Uchiha adalah hal yang tidak mungkin. Ia sadar posisinya, ia sendiri disini bagaimana mungkin melawan Sang Uchiha yang kekuatannya bahkan bisa meruntuhkan puluhan gangster hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.

"Jika-jika aku ada salah tolong maafkan aku Uchiha-san." Ucapnya lagi, sambil terbata dan meringis kesakitan, setelah yang ketiga kalinya mendapatkan pukulan pada wajah kirinya, darah segar seketika mengalir melalui hidungnya.

Sasuke meludah, ia mendengus geli, sebagian hatinya sudah merasa puas, ia tarik kerah pemuda itu, onyx-nya menatapnya tajam, memberi peringatan seakan saat ini adalah waktu kematiannya.

"Jauhi Milik-ku !" teriak Sasuke padanya.

"Berani sekali kau meminta milik-ku untuk menjadi milik-mu ?!" Lagi, Sasuke berucap dengan geraman penuh amarah di setiap suku katanya.

"ii... iya, ma-maafkan aku, aku sungguh tidak tahu Uchiha-san."

"Jika suatu saat aku melihatmu di sekitar Hinata, aku akan melenyapkan mu saat itu juga." titah Sasuke kemudian sambil menunjuk tepat di wajah-nya.

Dan pemuda itu hanya bisa mengangguk sebagai respon, ia jelas kehilangan tenaganya. Sasuke berbalik menuju mobilnya, setelah tiga langkah Sasuke mendadak berhenti.

Tanpa berbalik dan melihat pada pemuda malang tersebut ia berucap. "Jika sampai ada satu orang pun yang tahu mengenai hal ini, akan aku hancurkan perusahaan keluarga mu dengan tanganku sendiri Inuzuka."

Dan Kiba hanya bisa mengganguk serta meringis kesakitan. Karena dalam hal ini iya masih beruntung, sang Uchiha melepaskan mangsanya tidak dalam keadaan pingsan seperti biasa.

##

Ya, ini memang belum terlalu malam

Waktu Tokyo menunjukan pukul 10.00 malam, Sasuke masih setia bersama dengan tunggangan mahalnya, membelah langit malam, hati dan pikirannya kacau, ia… jelas membutuhkan distraction untuk masalah hatinya ini.

Otak jeniusnya berfikir jauh kedepan, ucapan Shikamaru, kejadian tadi siang serasa recorder yang terus diputar di pikiran Sasuke. Hari ini mungkin ia masih beruntung Hinata menolak Kiba Inuzuka, tapi bagaimana jika nanti kejadian seperi ini kembali terulang dan saat itu Hinata juga bersedia menyerahkan hatinya.

Jika itu terjadi, lalu bagaimana dengan Sasuke ? Jika Hinata tidak bisa bersamanya, apa gunanya segala hal yang sudah Sasuke miliki ? Jika Hinata tidak bersamanya bagaimana caranya Sasuke bertahan hidup jika pusat kehidupannya tidak bersama dengannya ?

Ia frustasi. Shit ! Kenapa mencintai seseorang rasanya menyakitkan seperti ini.


Tak peduli berapa banyak aku memanggil namamu

Kau seakan tidak perduli dan terus memaksa pergi

Tidak perduli berapa banyak aku membuang air mataku

Kau tetap tidak akan pernah berhenti

Dalam perjalan pulang, Sasuke tersentak. Ia pegang erat setir mobilnya rasanya gugup dan onyx-nya bersinar… di luar universitas ia bisa melihat Hinata, sedang berjalan sendiri di pinggiran trotoar.

'Hinata, kenapa sudah malam begini ia masih berada di luar rumah ?' tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

'Seingatku hari ini tidak ada jadwal latihan Hinata ?' Lagi, Sasuke bertanya pada dirinya sendiri 'Apa aku harus turun dan menyapanya lalu menawarinya untuk pulang bersama ? aah… tidak-tidak dia pasti akan menolaknya.' Ia menjentikan jarinya pada setir kemudi, ia masih ragu untuk turun dan menyapa Hinata.

Dan belum sampai pada hasil pemikiran Sasuke, suara jeritan dari Hinata menyakitkan dirinya dan menyentakkan kesadarannya, sang Hyuga menjerit sekuat tenaga, ranselnya direbut paksa oleh seseorang yang dilihat dari tampilannya saja seperti gangster.

Sasuke marah, orang itu cari mati rupanya. Ia banting pintu mobilnya dan berlari sekuat tenaga mengejar si pencuri sialan itu.

'Brengsek kau ! ku bunuh kau !'

Tap

Sasuke mendapatkannya, bahu nya ia tekan hingga lelaki itu meringis kesakitan, dan seketika berbalik memberikan pukulan pada Sasuke.

Brugghhh

Satu tinju mengenai bahu kiri sang Uchiha, "Ahhhhh !" Hinata yang melihatnya memekik ketakutan dan itu membuat sang Uchiha hilang konsentrasi, lagi Sreekkk bahkan pisau pencuri itu mengenai sisi perut sang Uchiha.

"Uchiha-san !" teriak Hinata padanya

Tap

Sasuke kali ini berhasil menangkis pukulannya BrughhhSatu pukulan tepat di wajah pencuri itu, membuatnya terjengkal, 'ini bayaran karena membuat Hinata ketakutan' ucap Sasuke dalam hati, Brughhh Brughhh Brughhh terus menerus tanpa henti, Sasuke yang gelap mata beringas, seperti ingin membunuh pencuri sialan dihadapannya ini, berani sekali ia membuat Hinata ketakutan seperti tadi, dan ego Sasuke tidak menerima itu.

Brughhh… Brughhh

Hingga teriakan Hinata bagaikan air yang memadamkan api emosinya "Uchiha-san tolong berhenti !" teriak Hinata dengan air mata yang sudah mengalir deras dari amethyst nya yang indah.

Sasuke seketika berhenti, onyx-nya melembut melihat pujaan hatinya dengan tubuh bergetar di pinggian trotoar, ia berlari mendekap pada Hinata dan meninggalkan pencuri yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.

Hinata merosot, lututnya lemas ia bersimpuh di jalanan, ia menangis… Hinata menangis dan itu jelas membuat Sasuke gemetar.

"Hyuga, apa kau terluka ?"

Dan suara tangisan Hinata semakin kencang. Sasuke semakin panik !

"To-tolong beritahu aku, apa kau terluka Hyuga ?" tanya Sasuke kembali.

Perlahan ia mendekat pada pengisi hatinya, mengangkat dagu Hinata untuk menatapnya, Hinata tercekat, Sasuke merengkuh wajah Hinata dalam kedua tangannya,dan perlahan menghapus air mata hinata di pipinya dengan sapuan ibu jari tangannya.

"Kau terluka ?" Lagi, Sasuke bertanya padanya.

Dan Hinata hanya bisa menggelengkan kepala tanda jawabannya, ia masih menangis terisak "ini ransel mu… " ucap Sasuke sambil menyerahkan ransel Hinata.

"A-arigatou…" balas hinata, ia menerima ranselnya dan mendekapnya.

"Ini berat, apa isinya ?" tanya Sasuke penasaran.

"La-Laptop, didalamnya ada jurnal penelitian untuk olimpiade nanti, ji-jika sampai hilang…" jawab Hinata belum sempat ia melanjutkan ucapannya Hinata ia menangis kembali. "Terima kasih banyak Uchiha-san." Ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya berkali-kali "terimakasih… terima kasih."

Hati Sasuke menghangat, ia merasa angin musim semi merangsak memenuhi setiap sel darahnya, menciptkan perasaan yang nyaman di detakan jantungnya.

'Hinata' ucap Sasuke dalam hati yang penuh dengan perasaan memuja untuk sang Hyuga.

Sasuke yang terlalu senang dengan situasi seperti ini sama sekali tidak menyadari perutnya yang terluka robek, perlahan darah segar merembes keluar, sebagian terserap oleh bajunya yang berwarna hitam.

Hinata yang terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil berteriak "Oh ya Tuhan ! Uchiha-san pe-perutmu ?!"

Aku mencoba menghibur diriku sendiri dengan kebohongan

Bahwa aku baik-baik saja dengan melihatmu tersenyum

Tapi hatiku tetap harus menerima kenyataanya

Karena tempat yang kau tuju bukanlah pada ku

-tbc-

Konbanwa Minna-

Gomenne kalau chap ini lagi-lagi mengecewakan, saya memang masih perlu banyak belajar dan bimbingannya.

Untuk jadwal updatenya, jika tidak ada halangan dan jika saya tidak sibuk setiap seminggu sekali pasti akan saya usahakan untuk up !

Dan terima kasih banyak buat yang sudah review, terima kasih untuk respon positifnya, saran dan kritiknya saya terima.

Terima kasih juga untuk para readers maupun silent reader yang sudah bersedia membaca fict ini

Sekali lagi Sankyu arigatou ne,

Oyasuminasai

intan.