Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,


Chap IV

Aku tak sebaiknya di hati mu…

Jarak antara kita tak dapat aku penuhi…

Sinar cahaya dari sang rembulan mampu menghangatkan hati siapapun itu, termasuk sang prodigy Uchiha, hatinya menghangat, setiap debaran jantungnya bekerja dan berdetak melebihi biasanya, onyx-nya sudah sangat jelas menjelaskan apa yang tergambar dihatinya.

Hinata-nya, tujuan kehidupannya…

Akhirnya setelah bermusim-musim ia yang hanya bisa melihat punggung sang hime, malam ini ia berada sedekat ini dengannya, sebegitu bahagia-nya ia sampai-sampai luka di perutnya tidak terasa sama sekali.

Jika terluka seperti ini bisa membuatnya lebih dekat dengan Hinata, maka Sasuke akan lebih memilih terluka setiap waktu agar Hinata bisa ada di sisinya, karena luka yang diakibatkan jauh dari sang Hyuga ribuan kali lebih menyakitkan dari pada luka fisik seperti ini bagi Sasuke Uchiha.

"U-uchiha-san, pe-perutmu terluka?" tanya Hinata dengan gemetar dan isakan tangisannya.

"Ha?" Jawab Sasuke ambigu, berada sedekat ini dengan Hinata, membuat otak jeniusnya benar-benar tidak berfungsi.

Dan ini membuat Hinata semakin panik, air mata mulai mengalir dari amethyst nya "pe-perutmu, Uchiha-san…".

Sasuke tersentak, melihat air mata Hinata jelas membuat kesadaraannya kembali, Sasuke pun kembali panik "Hei, hei.. Hyuga, kenapa menangis? kau terluka?"

Hinata menggelengkan kepalanya, ia benar-benar bingung dengan Uchiha di depannya ini, sudah jelas ia yang terluka, apa ia tidak merasa kesakitan akibat darah yang terus merembas keluar "Bu-bukan aku, tapi perutmu Uchiha-san."

Seketika Sasuke sadar, ia melirik pada kaosnya yang penuh darah, ia tersenyum miring, ia hanya merasa bahagia, karena akhirnya ia bisa terluka untuk melindungi sang pujaan hatinya, karena ia jauh ribuan kali memilih terluka dari pada melihat orang lain yang terluka untuk melindungi Hinata-nya.

"Uchiha-san?" tanya Hinata kembali "ba-bagaimana ini ya Tuhan?" Hinata bergetar panik, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Melihat Hinata yang begitu panik terhadapnya membuat Sasuke merasa melayang "Hei, tenanglah Hyuga, luka seperti ini tidak akan membuatku mati." ucap Sasuke 'satu-satunya yang bisa membuatku mati adalah ketidak beradaanmu' sambung Sasuke dalam hati.

Hinata menutup mulutnya dan terus menangis terisak, ia hanya merasa semua ini salahnya, Uchiha Sasuke terluka jelas karena kesalahannya. Sasuke tersenyum penuh haru pada gadis didepannya ini, hatinya jelas menghangat, rasanya sudah puluhan tahun dia hidup di dunia belum pernah merasakan perasaan menyenangkan seperti ini.

Direngkuhnya wajah sang Hyuga.

Hinata mendongak, mencuri tepat satu detakan nafas sang Uchiha, dengan buliran air mata di amethyst nya membuat Sasuke merasa waktu berhenti di titik itu juga "Hei, jangan menangis Hyuga, aku tidak suka jika seorang wanita menangis di depanku." titah Sasuke, dan Hinata seketika diam dari tangisnya, walau bahunya masih bergetar.

Dan ini wajar, tidak akan ada wanita yang tidak bergetar jika berada sedekat ini dengan seorang Uchiha Sasuke, onyx-nya menatapnya tajam seketika pandangannya berubah menjadi lembut "Kau punya sapu tangan Hyuga?" tanya Sasuke pada-nya.

Dan Hinata hanya bisa mengganguk, ia lalu membuka resleting di kantong depan ranselnya dan mengambil sapu tangannya yang berwarna putih dengan hiasan bunga di setiap sisinya serta menyerahkan kepada Sasuke, tapi Sasuke tidak langsung mengambilnya, ia lalu membuka kaosnya, luka akibat perkelahian tadi jelas terlihat, darah segar terlihat mengalir dari lukanya, Hinata terkesiap, ia menutup mulutnya, luka Sasuke terlihat sangat jelas.

"Kemarikan ranselmu!" titah Sasuke kemudian.

"Hah?" jawab Hinata bingung

Sasuke yang memang punya tabiat tidak pernah sabar langsung menarik ransel Hinata yang sedari tadi berada di pangkuannya, Hinata tersentak kaget "Uchi-…" belum sampai ia menyelesaikan pertanyaannya, onyx Sasuke menatapnya tajam, dan Hinata seakan terintimidasi ia lalu menundukkan kepalanya.

"Ransel mu biar aku yang bawa, seperti nya luka ini memang harus di jahit, kau mau menemaniku ke rumah sakit Hyuga ?" tanya Sasuke pada Hinata, yang entah mengapa terasa seperti perintah untuk Hinata, dan Hinata hanya bisa mengangguk.

Dalam hati Sasuke bersorak bahagia, ia jadi punya alasan untuk terus berdekatan dengan sang pujaan hatinya.

"Oh ya, satu lagi… kemarikan tangan mu?" titah Sasuke sambil menarik tangan Hinata, Hinata terkejut ia terjengkal dan menimpa tepat pada tubuh Sasuke.

Wajahnya menelusup tepat di dada bidang sang Uchiha yang tidak mengenakan apapun.

Keheningan sesaat mengambil alih suasanya, baik Hinata maupun Sasuke sama-sama terkejut dan mereka beradu pandang, Hinata yang mulai sadar dari awal perlahan-lahan rona merah melingkupi wajahnya.

Dan untuk Sasuke.

Tidak perlu bertanya apa yang terjadi padanya, karena sang Prodigy Uchiha hanya bisa terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi, dan mungkin saja ia sudah tidak tahu caranya bernafas, sedari tadi wajahnya memerah, walaupun cahaya yang masuk ke retina hanya berasal dari rembulan tapi itu semua sudah cukup menjabarkan betapa merahnya wajah yang biasanya sedingin es dikutub selatan.

"Go-gomenne, Uchiha-san." ucap Hinata memutuskan keheningan.

"Hn" sahut Sasuke sebisanya, yaah… memang hanya dua konsonan itu yang bisa Sasuke keluarkan dari mulutnya, ia merasa setiap persendiaanya mendadak kaku.

Kami-sama, kenapa efek berdekatan dengan Hinata bisa separah ini.

Setelah hening beberapa saat, dan setelah sang Uchiha bisa mengendalikan detakan jantungnya, ia kembali berucap "Kemarikan tangan mu." titah Sasuke, sambil menarik kembali tangan Hinata kemudian meletakan Sapu tangan beserta tangan pemiliknya di bagian sisi kiri perut Sasuke yang terluka "Kau harus menghentikan pendarahannya." ucap Sasuke menjelaskan.

Dan Hinata hanya bisa menggangguk patuh, tangan kanan nya menempelkan sapu tangan miliknya pada luka di bagian sisi perut Sasuke yang terus mengeluarkan darah.


Sepanjang perjalanan, Sasuke mengemudi dengan kecepatan normal, ia benar-benar ingin selamanya di posisi seperti ini, Hinata duduk disampingnya, Hinata sedikit menunduk dan tangannya tetap berada di perut sang Uchiha, setiap tanjakan, belokan, serta pemberhentian yang mendadak dari aktivitas mengemudinya jelas membuat jemari Hinata tegang, ia terkadang menyentuh kulit perut Sasuke yang memang tidak menggunakan penghalang apapun, dan itu jelas memberi rangsangan aneh di setiap pori-pori sang Uchiha.

Lagi dan lagi, sepanjang perjalan ke rumah sakit sudah tidak bisa di hitung berapa kali Sasuke melirik penuh kebahagian pada mahluk di sampingnya ini, ia berkali-kali mengucapkan kata terima kasih pada Kami-sama dalam hatinya, untuk kebahagiannya hari ini, dan untuk kesempatannya agar bisa sedekat ini dengan Hinata.


Ya, Sasuke memang mendapatkan luka jahitan di perutnya, seharusnya dia di rawat inap terlebih dahulu malam itu, tapi Sasuke menolak. Dan pihak rumah sakit jelas tidak bisa berbuat apa-apa karena Sasuke adalah pasien VVIP jelas dia selalu diutamakan.

Dan Hinata, entah sudah ribuan kali dia mengucapkan kata maaf pada Sasuke.

Setelah luka Sasuke sudah selesai diobati, Hinata yang sudah menunduk dan meminta ijin untuk pulang pada sang Uchiha lagi-lagi harus menahan nafasnya, Sasuke yang tanpa kata atau mungkin sekedar basa basi tawaran untuk mengantar pulang sang Hyuga, langsung saja menyeret Hinata untuk masuk kedalam mobilnya.

Hinata awalnya menolak, karena ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan Sasuke, tapi tatapan mata Sasuke seperti menyatakan diam dan ikut saja membuat Hinata seketika diam dan menurut pada Sasuke.

"Uchiha-san, sekali lagi aku minta maaf, karena kesalahan ku, kau jadi terluka seperti ini." ucap Hinata lagi sambil menundukkan kepalanya.

"Ini bukan salahmu Hyuga, jadi berhenti meminta maaf." jawab Sasuke sambil terus melajukan mobil kesayangannya.

"Ano, ji-jika ada sesuatu yang harus kulakukan untukmu, aku bersedia Uchiha-san, sungguh aku benar-benar meminta maaf."

Dan Sasuke hanya melirikan matanya "Benarkah?" jawab Sasuke.

"Hai, apapun itu, selama aku bisa melakukannya akan aku lakukan." sahut Hinata dan amethyst nya terasa berbinar.

Sasuke terdiam, ia lagi-lagi merasa tidak bisa bernafas, bola mata yang seperti ini, pandangan yang seperti ini mengingatkannnya pada awal pertama kali pertemuan dia dengan Hinata, pertemuan yang membuat Sasuke mengenal apa itu cinta, pertemuan yang mampu mengubah seluruh antensi Sasuke yang hanya terpaku pada seorang Hyuga.

"Baiklah." sahut Sasuke, "Sampai luka ini mengering bisakah kau membuatkan aku bekal makan siang Hyuga?"

Dan Hinata, tanpa pertimbangan apapun seketika ia mengangguk menyanggupi.


Karena aku tahu,

Luka yang menyakitkan akan tertinggal pada ku

Tetapi saat aku tahu itu, Aku tetap serakah

Menginginkan dirimu menjadi cintaku

Lalu, apa yang harus aku lakukan ?

Cerahnya sinar matahari hari ini secerah hati Sasuke Uchiha.

Sepanjang pagi sampai seminar kelas ini berakhir untuk waktu makan siang, ia terus menerus menyunggingkan senyumnya, terkadang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli, dan Naruto yang tepat duduk di sebelahnya hanya bisa berdo'a sepanjang mata kuliah hari ini, berharap sang Sahabat dalam keadaan baik-baik saja dan jika pun Sasuke kenapa-napa tidak menular padanya.

Ya,

Ia bahagia saat ini, tidak ada satu pun hal yang bisa melukiskan betapa ia bahagia saat ini, berada sedekat itu dengan Hinata memberikan aura yang baik untuk Sasuke, hati Sasuke menghangat dan disekelilingi perasaan yang gembira, ia ingin selalu merasakan perasaan seperti tadi malam, dadanya seperti bergejolak, ia akhirnya bisa mengantarkan Hinata pulang ke apartemennya, hal yang selama bermusim-musim ini hanya bisa Sasuke imajinasikan sebelum tidurnya.

Selesai seminar kelas siang itu, ia tergesa-gesa merapihkan jurnalnya serta laporannya ke dalam ranselnya, ia ingin segera keluar kelas dan meninggalkan Naruto dengan sejuta pertanyaan, ia ingin menemui pengisi hatinya di taman fakultasnya, ya… Hinata-nya sudah berjanji untuk membuatkan ia bekal makan siang, dan Sasuke tidak boleh terlambat sampai disana.


Meja kayu di sisi taman dengan bangku panjang yang diletakkan di sebelah pohon besar jelas menjadi tempat favorit para mahasiswa di kampus ini, tempat nyaman dan terbaik untuk sekedar menghabiskan bekal makan siang, bercengkrama dengan teman atau mungkin berdiskusi perihal tugas dan mata kuliah.

Dan Sasuke memilih tempat itu untuk menghabiskan bekal makan siang yang dibuatkan oleh Hinata. Sudah lewat dari 10 menit sejak kelas berakhir tapi Hinata-nya belum terlihat juga, ia sedikit kesal, walau di hatinya di liputi perasaan takut, ia takut Hinata tidak datang lagi seperti pesta ulang tahunnya, ia takut hatinya yang sudah terlalu bahagia terbang tinggi ternyata akhirnya akan jatuh terhempas juga.

Ia bersandar pada batang pohon, semilir angin memainkan anak rambutnya dan dalam pose itu membuat Sasuke terkesan sangat seksi.

"Ano, Uchiha-san?"

Hembusan angin menerbangkan wangi khas Hinata, Sasuke sangat hapal wangi ini bahkan dari jarak beberapa meter ia masih bisa dengan jelas merasakan harum pemiliknya.

Onyx-nya seketika terbuka, ia menegang.

Tapi,

Kemudian alisnya berkerut, dan Onyx-nya berubah menjadi tajam, seakan mampu mengiris apapun yang dilihatnya.

Yah…

Hinata-nya memang disini, dengan kotak bento di genggaman tangannya, tapi ia tidak sendirian, bersamaan dengan gadis-gadis lain yang mungkin satu fakultas dengannya, menatap Sasuke dengan tatapan berbinar seperti melihat berlian.

Sasuke mendengus, terlebih melihat Hinata menunduk dan wajah ayu-nya tertutup poni panjangnya. Hinata kemudian duduk, memposisikan dirinya di hadapan sang pangeran kampus.

Dengan perlahan Hinata membuka kotak bentonya.

"Uchiha-san, kami semua senang sekali bisa melihat mu dari dekat dan makan siang bersama." ucap salah satu gadis bersuarai coklat yang memecah kehengingan. "Hn" jawab Sasuke seperti biasanya, dan ia sama sekali tidak merubah sudut pandangannya pada gadis didepannya ini, berharap Hinata menatapnya dan memberikan penjelasan kenapa ia datang bersama dengan segerombolan gadis-gadis berisik seperti ini.

Dan Hinata, ia yang memang sedari tadi merasa di perhatikan oleh Sasuke hanya bisa menundukkan wajahnya.

"Uchiha-san, apakah benar kau mendapatkan penghargaan lagi dari majalah luar negeri?" lagi dan lagi mereka bertanya dan suara berisik mereka membuat Sasuke sakit kepala, berbagai pertanyaan dari masalah kuliah, hobby, bahkan keluarganya tak henti-hentinya di tanyakan pada sang Uchiha, padahal setiap pertanyaan hanya Sasuke jawab dengan dua konsonan yang menjadi trademark nya.

Bahkan para gadis-gadis itu memaksa untuk berfoto dengan sang prodigy Uchiha, sebenarnya Sasuke ingin sekali menghardik, marah dan mengusir mereka, tapi Sasuke tidak bisa… ia harus bisa mengontrol emosinya, ada Hinata-nya disini, menampilkan sisi emosionalnya jelas bukan keinginan Sasuke, ia hanya tidak ingin Hinata nantinya yang akan menjadi takut melihatnya.

##

Rasa masakan Hinata memang tetap enak, sama seperti ia pertama kali memakannya. Onyx sasuke berbinar, walau dalam hati ia benar-benar marah dengan para gadis di sekelilingnya ini, masakan Hinata jelas menjadi obat penenang untuk emosinya.

Dan Hinata, sepanjang siang itu hanya bisa diam dan sesekali melirikkan matanya melihat bungsu Uchiha begitu lahap memakan bekal makan siang yang dibuatnya.

##

Bunyi sumpit yang diletakan dikotak bento menarik perhatian Hinata, ia menatap Sasuke yang sedang meminum air mineralnya, kotak bentonya benar-benar bersih, Sasuke benar-benar menghabiskan semuanya dan itu membuat senyum Hinata mengembang, ia hanya merasa senang apa yang dia buat bisa disukai oleh orang lain, terlebih orang sekaliber Sasuke Uchiha.


Setelah satu jam berlalu, waktu makan siang pun sudah selesai dan para gadis itu mendengus dan marah, yah mereka hanya merasa kesal karena waktu berdekatan dengan pangeran idola mereka harus berakhir.

Mereka pun perlahan meninggalkan Sasuke bersama Hinata.

Keheningan menyelimuti mereka berdua, Hinata merapihkan kotak bentonya kembali "Ano, Uchiha-san, maafkan aku." ucap Hinata kemudian.

"Hn" jawab Sasuke asal, ia memang sedang bersikap pura-pura kesal pada Hyuga yang didepannya ini, berharap Hinata mau menjelaskan kenapa ia harus membawa gerombolan gadis di waktu makan siangnya ini.

"Aa-aku tidak tahu jika mereka mencuri dengar percakapan ku dengan Tenten-san tentang makan siang dengan Uchiha-san hari ini, dan mereka memaksa untuk ikut, sekali lagi maafkan aku." sambil menundukkan kepalanya pada sang Uchiha.

Sasuke tersenyum, yahhh…

Sebenarnya tidak buruk juga dengan kedatangan gadis-gadis berisik tadi, ia jadi tidak merasa gugup berdekatan dengan Hinata.

"Iya, aku tahu itu." jawab Sasuke "Tapi Hyuga, luka ku belum kering kau tidak lupa perjanjiannya kan ?" tanya Sasuke kembali.

"Hai." ucap Hinata sambil tersenyum.

Deg

Dan lagi-lagi, organ di tubuh Sasuke belum terbiasa jika melihat senyum Hinata-nya, lagi-lagi dadanya bergemuruh, ia hanya bisa berharap suara keras detakan jantungnya tidak terdengar oleh Hinata.

Sasuke berdeham, berusaha menghilangkan nervous akibat senyum Hinata "Dan jangan kau bawa lagi mereka, suara berisik teman-teman mu membuat ku pusing Hyuga."

"Baik." jawab Hinata sambil berdiri dan menggengam kotak bekal makan siangnya, kemudian dia menundukkan kepalanya dan berpamitan pada Sasuke.

"Hyuga!" panggil Sasuke pada Hinata yang sudah beberapa langkah meninggalkan dirinya di bangku taman, ia hanya merasa tidak rela karena waktu berjalan terasa begitu cepat bagi Sasuke.

Hinata pun seketika berbalik, memposisikan amethys nya untuk beradu pandang dengan Sasuke Uchiha "Ya?" sahut Hinata.

"Terima kasih untuk makan siangnya, rasanya enak." jawab Sasuke.

Padahal dalam otak jeniusnya sudah ada berjuta pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Hinata, tapi… lagi-lagi hanya kata-kata ambigu yang bisa dia keluarkan.

Hinata merona, ia lagi dan lagi menundukkan kepalanya "Terima kasih atas pujiannya Uchiha-san."

"Ya, besok… jangan lupa tambahkan tomat." titah Sasuke

Dan Hinata hanya mengganguk kemudian perlahan bayangannya hilang dari onyx sang Uchiha.


I already love you so much…

Hal apa yang paling di nantikan oleh Sasuke Uchiha ?

Kenapa mahasiswa di tingkat akhir yang sudah selesai mengerjakan tugas akhir selalu pergi ke kampus ?

Alasannya hanya satu,

Agar bisa menghabiskan waktu makan siang dengan Hinata Hyuga.

Hari ini, hari ke-5 Hinata membuatkan dia bekal makan siang, dan sama seperti hari-hari kemarin, Sasuke yang terlalu gugup dan Hinata yang memang pada dasarnya pemalu sama sekali tidak membantu, tak ada interaksi apapun selain makan siang dan saling melempar ucapan terima kasih dari mereka berdua.

Sasuke sedikit frustasi, ia bingung dengan dirinya sendiri, bagaimana ia yang selama ini di juluki cassanova dan memiliki banyak mantan kekasih jadi bersikap seperti ini, membuka percakapan dengan Hinata saja mulutnya terkesan kaku, dan jika pun ia menjalin komunikasi rasanya terkesan seperti memberi perintah pada sang Hyuga.

Ia tidak mau seperti ini selamanya, belum lagi luka di perutnya perlahan-lahan mengering, walau sebenarnya luka ini bisa kering 2 atau 3 hari lebih cepat, tapi Sasuke sengaja membuat lukanya terus basah dan harus diperban setiap hari. Karena Sasuke hanya tidak ingin, kesempatan berdekatan dengan Hinata harus berakhir secepat itu.

"Hyuga, Terima kasih untuk bekal hari ini." ucap Sasuke seperti biasa

"Terima kasih juga Uchiha-san." jawab Hinata kemudian.

"Hyuga…" tanya Sasuke datar

"Ya?"

Dengan segala keberanian Sasuke melanjutkan pertanyaannya "Bisakah aku bertanya sesuatu padamu?".

"Silahkan." jawab Hinata ia pun menghentikan aktivitas merapihkan kotak makan siangnya dan memfokuskan pandangannya pada Sasuke.

"Kenapa kau mengambil jurusan Ilmu politik dan Sosial?"

Hinata tersenyum, dengan rona merah di pipinya dan helaian indigonya seperti dipermainkan oleh angin, tanpa sadar Sasuke bergumam 'cantik'.

"Ya, aku memiliki mimpi Uchiha-san, dan kupikir mimpi itu bisa aku wujudkan jika aku bisa bekerja pada fraksi di pemerintahan." jawab Hinata

"Mimpi?" tanya Sasuke kemudian "Mimpi apa itu?".

"Aku lahir dan besar di sebuah desa kecil dan terpencil jauh dari Tokyo, hidup disana benar-benar sulit sekali, bahkan aliran listrik hanya akan hidup jika malam hari, akses jalan pun sulit." jawab Hinata, dan raut wajahnya berubah menjadi sendu.

"Benarkah? ini Jepang Hyuga, rasanya tidak mungkin ada daerah seperti yang kau ceritakan itu." tanya Sasuke kembali.

"Ya, wajar jika Uchiha-san tidak tahu, karena memang pemerintah daerah tidak pernah memberitakan perihal desa kelahiranku pada pemerintah pusat, dan anggaran untuk pembangunan desa dimanfaatkan oleh beberapa oknum, ini wajar… karena di dunia ini pasti ada beberapa orang yang memiliki sifat mementingkan dirinya sendiri walau harus membuat orang lain menderita, dan mereka menganggap dalam dunia politik apapun itu dianggap benar." ujar Hinata panjang lebar.

Sasuke termangu.

Melihat raut wajah Hinata yang berubah menjadi sendu, rasanya ada sebagian hatinya juga merasakan sakit "Lalu, apakah keluargamu mendukung apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke kembali, ia benar-benar menikmati moment seperti ini, bisa berbicara perihal hal-hal pribadi dengan pengisi hatinya.

"Ya, itu pasti. Yang aku punya didunia ini hanya kakak laki-laki dan dia adalah dokter di desaku, dia satu-satunya dokter disana, Ni-san ku sangat luar biasa, aku pun belajar ilmu keperawatan darinya, dia tidak hanya pintar, tapi dia berhati mulia, dia selalu melayani masyarakat desa tanpa mengharapkan imbalan apapun." ucap Hinata menjelaskan dengan bangga, pandangannya menerawang jauh kedepan, amethyst nya seperti menebar kehangatan terutama untuk pria yang duduk didepannya.

"Lalu, apakah kau memiliki mimpi Uchiha-san?" tanya Hinata kemudian.

Sasuke menyunggingkan senyumnya "Tidak ada, karena jalan hidup seorang Uchiha sudah di tentukan bahkan saat ia belum lahir." ucap Sasuke 'Satu-satunya mimpiku adalah mengikatmu menjadi milik ku Hyuga' sambung Sasuke dalam hati, "Sepertinya kau sangat bangga pada Ni-san mu itu?".

"Ya, pasti." sahut Hinata "Bukannya Uchiha-san juga memiliki kakak laki-laki?" dan Hinata bertanya balik padanya.

"Ya, Satu kakak laki-laki."

"Uchiha-san juga pasti sangat bangga padanya kan? karena menurut berita yang kudengar Uchiha Itachi adalah most wanted tahun ini." lagi dan lagi Hinata menjawab dengan rona merah di pipinya.

"Berita yang kau dengar itu salah, Hyuga." Ucap Sasuke datar

"Hekh, benarkah?" jawab Hinata terkejut.

"Tentu, karena yang most wanted tahun ini jelas adalah aku, adiknya."

Dan senja kembali mengambil alih waktu hari itu, menjadi saksi antara Hinata dan Sasuke yang tertawa bersama, kelegaan jelas terpancar dari wajah sang Prodigy, bahkan hari ini ia sudah mendapatkan nomor ponsel beserta alamat email langsung dari sang Hyuga, Sasuke jelas bahagia.


Semakin hari, hubungan Sasuke dan Hinata semakin mengalami kemajuan, Setiap jam makan siang bungsu Uchiha pasti sudah ready di tempat favoritnya diatap gedung, tempat terbaik yang hanya boleh ia dan Hinata datangi, jauh dari kebisingan dan suasananya yang rindang.

Di tempat ini, dan didepan Hinatanya, Sasuke bisa bersikap seperti pada keluarganya, ia bahkan bisa tertawa lepas jika mendengarkan lelucon dari Hinata, yahhh fakta terbaru yang Sasuke tahu tentang pengisi hatinya, Hinatanya walau terkesan pendiam ia adalah orang yang humoris.

Hinata menurutnya adalah ciptaan yang sempurna, bulu matanya, rona pipinya, kulit putihnya, masakannya, wanginya, suaranya, dan bibirnya yang selalu membuat Sasuke menelan ludah jika melihatnya, yaah semua yang ada pada Hinata membuat Sasuke semakin hari semakin menggilainya.

Dan ia, tidak pernah dan tidak ingin membayangkan hidup tanpa melihat pujaan hatinya.

Namun… lagi-lagi Kami-sama sepertinya senang mempermaikan hatinya.

Tangannya bergetar menerima kertas yang ia terima dari Shikamaru, rasanya ada ribuan jarum yang menusuk hatinya, deru nafasnya turun naik menahan geraman amarah, ia mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.

"Brengsek!" raung Sasuke, ia mengamuk, menendang kursi bahkan memecahkan kata jendela samping di kelas yang tanpa penghuni itu, hanya ada ia dan Shikamaru.

Shikamaru mendengus penuh ejek "Ck, Akhirnya aku tahu alasannya, kenapa kau bisa tergila-gila pada Hyuga itu."

Onyx Sasuke membesar, menatap tajam pada sahabat di depannya ini, apa-apaan dia, disaat seperti ini masih sempat untuk memberikan lelucon yang sama sekali tidak lucu seperti ini "Apa maksudmu Naara?" geram Sasuke.

"Hinata berhati malaikat." ucap Shikamaru datar, lalu perlahan meninggalkan kelas yang seperti terkena badai "Sebaiknya kau temui ia sekarang daripada kau menyesal seumur hidupmu, Uchiha." sahut Shikamaru dan bayangannya menghilang dari pandangan Sasuke.


Bagaimana ini ?

Kenapa Kami-sama tidak membiarkan ia merasakan kebahagian yang sedikit lebih lama .

Apa dosa yang Sasuke perbuat sehingga ia harus selalu berada di posisi ini.

Tak ada yang lain, Sasuke hanya menginginkan Hinata, tapi kenapa rasanya sangat sulit.

Ia pun bahkan rela menukarkan semua miliknya, bahkan kehidupannya untuk mencintai Hinata seumur hidupnya.

Lalu kenapa seperti ini?

Ia berlari, menabrak siapapun yang menghalangi jalannya, seluruh ototnya menegang, ia ingin menemui Hinata-nya, dan berharap apa yang Shikamaru bilang adalah lelucon.

'Ini tidak mungkin kan?' sepanjang perjalanannya menuju fakultas Hinata, ia terus menerus melafalkan pertanyaanya berharap ada kekuatan dalam kata-katanya itu, berharap apa yang ia ucapkan menjadi mantra baginya.

Brakkkk

Suara pintu ruangan rapat yang dibuka paksa

"Hinataaaaaaaaaaaa!" teriak Sasuke.

Dan jelas membuat seluruh atensi peserta rapat menjadi terfokus padanya, onyx-nya bergerak liar diruangan itu mencari pemilik hatinya.

Setelah bayangan sang Hyuga tertangkap di retina-nya, ia mendekat padanya, lalu seketika menarik lengan pemilik mata amethyst itu untuk keluar dan menarik Hinata ke atap gedung tempat favoritnya.

##

"Kenapa?" tanya Sasuke lirih "Kenapa kau ingin pergi kesana Hyuga?"

"Ma-maafkan aku Uchiha-san." dengan terbata ia menjawab pertanyaan Sasuke, Hinata sedikit bergetar takut, ia merasa aura di sekeliling Sasuke tidak seperti Sasuke yang selama ini ia kenal.

"Kenapa kau ingin pergi ke Afrika tengah? kau bahkan tidak mengatakan apapun tentang ini saat makan siang kemarin?"

"Ma-maafkan aku, aku hanya tidak tahu bagaimana cara memberitahukannya padamu." jawab Hinata dengan raut wajah penyesalan.

"Tapi kenapa kau yang harus pergi!" bentak Sasuke.

Hinata tersentak, bola matanya seketika berair. Ia terkejut, Sasuke membentaknya sepeti itu.

Dan Sasuke, ia tercekat.

Melihat Hinata menangis karenanya jelas membuat tubuh Sasuke menjadi ikut bergetar "Ma-maafkan aku Hyuga, bu-bukan maksud ku untuk berbicara seperti itu padamu."

Dan Hinata, ia hanya bisa menahan isakannya dan menundukkan kepalanya.

"Kenapa, kenapa Hyuga kau harus ikut menjadi relawan ke Afrika tengah, kau bukan mahasiswi jurusan kedokteran atau perawat, jadi untuk apa kau ke daerah bencana seperti itu?"

"Kau pasti sudah tahu Uchiha-san, bencana yang menimpa daerah disana, dan aku harus kesana." jawab Hinata.

"Ya, aku tahu, gempa bumi yang terjadi kemarin siang iya kan ?! dan karena itu kau memutuskan untuk pergi kesana bukan, apa yang bisa dilakukan mahasiswa sosial disana?!" lagi dan lagi Sasuke bertanya dengan intonasi tinggi, ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya.

"A-aku memiliki license keperawatan, dan hanya aku di fakultas ini yang bisa berbahasa Negara itu, aku harus pergi kesana Uchiha-san." jawab Hinata.

"Ta-tapi." ucap Sasuke "Kau tahu Negara itu bukan Negara yang aman Hyuga, bahkan antar penduduk sipil dan pemerintah ada konflik perebutan kekuasaan yang bertahun-tahun tidak pernah berakhir."

"Ya, Aku tahu, makanya aku harus kesana, tidak banyak Negara yang mengirim perwakilannya kesana, dan aku harus kesana." jawab Hinata tegas.

"Vi-virus ebola, malaria… bahkan banyak penyakit menular di Negara itu." tutur Sasuke

"Ya, aku tahu itu Uchiha-san."

"Sam-sampai kapan kau disana?" tanya Sasuke, dan suara Sasuke pun berubah menjadi lirihan.

"Hanya sampai statusnya bencana nya di turunkan menjadi Siaga I" jawab Hinata.

Kehengingan menghiasai saat itu, baik Hinata maupun Sasuke hanya berdiam diri.

"Kau mementingkan kehidupan orang lain yang tidak kau kenal, Lalu, bagaimana denganku Hyuga?"

Akan aku pertaruhkan segalanya untuk-mu

Mereka mungkin akan menyebut ku gila

Yang terus berjuang untuk bersama denganmu

Dan Saat-saat yang berkilauan ini memang membuatku gila

Dan aku tidak akan pernah menyerah

Menjadikan diriku Satu-satunya untuk-mu

-tbc-

Konbanwa Minna-san…

Terima kasih buat yang sudah bersedia baca fict ini sampai di chap-iv

Terima kasih untuk semua respon positifnya,

Mungkin di chap ini lagi-lagi alurnya mengecewakan, yahhh mungkin karena menulisnya di saat perut sedang lapar :D :D :D

Untuk masalah penulisan miring di setiap percakapan niat awalnya sih supaya memudahkan reader yang jika hanya ingin membaca interaksi antar character saja, tapi ternyata saya salah yah ? hehehhehe

Gomenne, saya baru dan masih harus belajar banyak di dunia fict ini, dan masalah spasi di setiap tanda baca, lagi-lagi saya tidak punya alasan untuk menjawabnya, karena saya terbiasa bekerja dengan puluhan angka di excel dan saat menulis fict harus di jadi sedikit kaku.

Selanjutnya pasti akan saya perbaiki,

Terima kasih untuk kritik dan sarannya.

Sekali lagi Sankyu Arigatou -ttebayo.

Intan.