Hello dear readers~

Terima kasih atas review dan kesabaran atas menunggu kelanjutan chapter-chapter akhir fic ini Mohon maaf karena belum sempat membalas review, karena author terjebak dalam rantai krisis finansial di mana kuota internet harus dihemat... *hiks

Betewe, yang baca fic ini pasti pecinta Bleach, kan? Udah baca last chapter-nya, kan? Udah shock lihat kalo jodohnya Ichigo tuh Orihime dan Rukia sama Renji? Mind blowing banget kaaaannnn?! I CAN'T BELIEVE IT! Maunya IchiRuki, sih, tapi yah mau gimana, terserah Kubo-sensei kan... Lagipula, anaknya IchiHime, si Kazui itu imut dan RenRuki, si Ichika juga cakep, hehehehe~ Hm, si Byaku dah jadi om-om ternyata, dan sayang sekali, bishounen Toushiro Hitsugaya yang tamvan warbiyasah itu kembali ke wujud imut-imutnya #sh*t.

Kesampingkan soal itu, karena yang lalu biarlah berlalu... Mari kita nikmati akhir cerita Bleach dalam damai, right~

Ok, ini dia chapter ke-15, berlanjut dengan ke last chapter begitu readers klik tombol next!

Happy reading~

Chapter 15

Para shinigami yang berada di luar kubah hitam kekuatan Segel Raja disibukkan dengan mencegah kubah itu melebar memayungi Seireitei. Komandan Kurotsuchi dan Komandan Komamura yang memiliki bankai berwujud makhluk raksasa maju langsung untuk menahan kubah itu. Komandan Tertinggi Yamamoto-pun turun tangan menggunakan zanpakutou-nya, Ryuujin Jakka bersama mereka.

Dan kemudian, seleret cahaya putih terang melesat dari pusat kubah, seakan berusaha menembak langit. Cahaya putih itu meleburkan kubah hitam itu perlahan, membuat mereka bisa melihat apa yang disembunyikan di dalamnya. Tampak kastil buatan musuh itu rusak di sana-sini. Dan di puncaknya, pilar es berikut naganya terlihat runtuh.

"Jadi anak-anak itu berhasil ya," senyum Ukitake senang.

Ichigo ber-sonido mundur ketika menara es itu luruh menjadi kumpuan debu berkilat bak berlian. Dirasakannya Toushiro yang melayang rendah di sampingnya, sebelum sayap esnya juga ikut hancur, tanda bahwa kekuatan bankai-nya telah dilepaskan. Komandan Divisi 10 itu melompat turun di sampingnya, menyaksikan bongkahan-bongkahan es sisa pilar raksasa yang menopang sang naga berjatuhan di puncak bukit itu. Soujiro Kusaka tampak di antara puing pilar es, terengah oleh hilangnya kekuatan Segel Raja yang tak lagi dimilikinya.

"Pergilah, Toushiro," kata Ichigo pelan.

Toushiro mengangkat zanpakuto-nya. Sejak awal, katanya dalam hati dengan pedih, memang harus seperti ini. Hanya ada satu pemegang Hyourinmaru, dan siapa itu, sudah sangat jelas. Kejam? Tidak. Gotei 13 dibangun dengan cara seperti itu, dimana banyak pengorbanan demi keseimbangan. Persahabatannya dengan Kusaka adalah salah satunya. Sanggupkah dia membiarkan Gotei 13 yang mengambil Kusaka darinya? Itu hanya akan membuatnya membenci Gotei 13. Karena itu, sejak awal memang harus seperti ini. Ia bisa menyelamatkan Kusaka dari kebenciannya pada Gotei 13, yang selalu ingin dilindunginya, tempatnya kembali, rumahnya, seperti halnya Gotei 13 baginya, dengan menyelesaikannya dengan tangannya sendiri.

Kusaka hanya boleh membencinya saja. Cukup dia saja yang menanggungnya, tanpa Gotei 13 juga turut merasakan akibatnya, atau bahkan Fairy Tail...

Kedua mata merah itu menatapnya, "Hitsugaya."

"Mari kita akhiri ini," kata Toushiro tanpa nada.

"Ya," Kusaka memposisikan zanpakuto-nya di depannya. "Kau benar."

Sisa angin beku berhembus di sekitar mereka, membawa butiran salju dari kekuatan Hyourinmaru tiruan yang menggila menari-nari di sekitar mereka. Dan bersamaan, kedua sahabat yang harus saling menghunuskan senjata itu maju, melontarkan teriakan atas keputusasaan dan tragedi yang harus mereka hadapi.

Dua bilah pedang itu beradu; satu dengan reiatsu beku dan yang lain hanya bilah kosong tanpa jiwa...

Hanya ada satu pemegang Hyourinmaru, dan ia tahu, siapapun itu, bukan dirinya.

Kekuatan besar yang dijanjikannya sejak awal bukan miliknya... Keserakahannya atas keagungan sang naga membutakannya... Ia membuang persahabatannya dengan Toushiro Hitsugaya hanya untuk kekuasaan yang sama sekali tak ditakdirkan untuknya! Toushiro akan sukarela mengorbankan dirinya sendiri demi persahabatannya dengan dirinya sekaligus demi Gotei 13, tapi ia?

Maafkan aku, Toushiro...

Sekali lagi, ia membuat sahabatnya yang berambut putih itu mengguratkan ekspresi tersiksa yang amat sangat.

Sinar matahari tersibak di antara awan gelap yang menyingkir, tanda bahwa kekuatan yang mengundang mereka telah takluk. Bunyi denting pedang yang terjatuh di atas permukaan es itu membuat Toushiro terkesiap, merasakan cairan panas-pekat yang bukan miliknya membasahi sisi kiri shihakuso-nya.

"Kau memang yang paling pintar... sejak awal," bisik Kusaka, setengah tawa setengah ironi. Aku tak akan bisa mengalahkanmu. "Kau... yang mencoba membunuhku dua kali..." Dan tak satupun menjadi kemauan hatimu. "Aku tidak... akan... mati..." Kusaka merasakannya, waktuna telah berangsur menipis; tusukan fatal Hyourinmaru yang sesungguhnya akhirnya menuntaskannya. "Keberadaanku... akan tetap..."

"Kusaka," kata Toushiro, nyaris hilang ditelan dukanya, "kita akan selalu menjadi teman." Selalu, dengan begitu kau akan tetap hidup.

Kusaka mendengus tawa, tawa sesungguhnya sejak ia kembali dari kematiannya di Centra 46. Aih, Toushiro, hatimu tidak pernah berubah... "Meskipun... jika aku..."

Namun kalimat itu tak pernah terselesaikan. Tubuh Kusaka telah benar-benar kehabisan waktunya, melebur dalam partikel roh dalam kabut biru keperakan, yang membumbung tinggi menyibak langit.

"'Jika...' apa?" bisik Toushiro, sebuah pengandaian yang tak akan ia ketahui.

Ichigo ikut menatap menghilangnya sisa keberadaan Soujiro Kusaka dengan suram. Selesai su –

"JANGAN KIRA INI SELESAI, CEWEK PETIR!"

Teriakan super keras yang tidak asing itu membuat para shinigami kembai mengamati pertarungan di sisi lain kastil buatan itu. Tampak sang Fire Dragon Slayer dan Iron Dragon Slayer melayangkan serangan bertubi-tubi pada gadis Arrancar berambut biru. Luncuran api, hujan lembing-lembing besi, dan sambaran petir bergantian terlempar ke sana ke mari sambil menimbulkan suara bergemuruh memekakkan telinga.

"Wow, mereka semangat sekali," komentar Kyouraku.

"Eh... Bagaimmana kalau kita kembali ke yang lain? Mereka semua pasti menunggumu," kata Ichigo.

"Yeah…"

Toushiro berbalik, menatap shinigami pengganti di depannya. Ichigo mengangkat alis dengan heran. Mata turquoise itu menatapnya dengan cara yang sangat familiar.

"Bukan 'Toushiro', tapi 'Komandan Hitsugaya'. Ingat itu, Kurosaki."

Untuk sepersekian detik, Ichigo ternganga. Toushiro hanya mendengus kecil sebelum berbalik pergi. Namun, di dalam hati Ichigo tertawa. Toushiro Hitsugaya yang ia kenal sudah kembali!

"Oi! Tunggu dulu!" Ichigo bergegas menyusul si rambut putih yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. "Kudengar teman-teman barumu itu memanggilmu Toushiro! Jadi tidak apa-apa 'kan kalau kau memanggilmu begitu juga?!"

"Berisik."

"Dan bagaimana mereka bisa sekeras kepala itu untuk membantumu?"

"Diamlah, Kurosaki."

"Sialan! Apa kalian pikir kalian bisa mengalahkanku?!" ejek Yang. "Petirku tidak akan bisa kalian kalahkan!

Memang, kedua Dragon Slayer itu tampak babak belur. Namun, keduanya masih bisa menyeringai.

"Ha-ha! Kalau begitu, kita buktikan saja!" teriak Natsu.

Geram karena Natsu terus menantangnya, Yang menembakkan kilatan petirnya yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Listrik beratus voltase itu menyambar penyihir berambut pink itu, yang meraung kaget terkena sengatannya.

"Ck, si sialan yang beruntung," gerutu Gajeel, sedikit melompat mundur menghindari percikan listrik yang menari-nari di sekitarnya.

Tak diduga siapapun – kecuali Gajeel, tampaknya – tawa Natsu semakin keras saja. Dari tengah tempat petir si arrancar menyambarnya, sang Fire Dragon Slayer tampak baik-baik saja. Petir yang dimaksudkan menghanguskannya justru menyelubunginya bersama nyala apinya sendiri, membentuk selubung sihir dua elemen seperti pelindung.

"Apa?!" seru Yang terkejut.

"Kalau kau mau tahu, aku pernah memakan elemen dari Lightning Dragon Slayer. Sihirnya masih ada dalam tubuhku. Nah, memakan petirmu bisa menyalakannya lagi, lho." Natsu menyeringai. Ia melempar tatapan setengah mengejek, "Kapanpun kau siap, Kepala Besi."

"Kau bisa sombong karena kau punya lawan petir, aku? Aku harus usaha sendiri, bego!" Gajeel berkonsentrasi, sebelum aura sihir ganjil mengelilingi tubuhnya seperti tirai hitam. Kemudian tirai itu menghilang seakan diserap oleh sosok di tengahnya. Gajeel berdiri di sana, dengan kulit yang tampak diselubungi metal. Seringainya tampak lebih garang dan rambutnya terangkat lebih liar dengan jilatan pita-pita hitam seperti nyala api.

"Whoa! Apa-apaan itu?!" seru Ikkaku takjub.

"Natsu dan Gajeel mengembangkan teknik Dragon Slayer mereka ke tahap lain," kata Erza, baru selesi menebas Menos, sedikit mengambil jeda ayunan pedangnya yang nyaris tanpa henti. "Natsu pernah memakan petir Laxus, si Lightning Dragon Slayer di serikat sihir kami, membuatnya bisa menggunakan dua elemen sekaligus. Gajeel pernah memakan elemen bayangan dari Shadow Dragon Slayer."

Dan segera, pertarungan dua Dragon Slayer yang menujukkan kartu truf mereka melawan arrancar petir itu berlangsung. Siapapun yang melihatnya dibuat tercengang, bagaimana Natsu dan Gajeel jelas di atas angin. Kemampuan Natsu menggunakan elemen petir dan Gajeel dengan bayangannya sama baiknya dengan kemampuan alami mereka, justru mengkombinasikannya dengan sangat baik.

Sungguh mengherankan; mereka yang saling melempar ejekan dan bisa mematahkan leher satu sama lain bisa bekerja sama begitu baik.

Yin, si gadis Arrancar api disibukkan dengan lawan lain, si penyihir es yang tampaknya amat sangat tidak mau kalah darinya. Berkali-kali ledakan api bercampur cero ditembakkan, Gray selalu bisa membalas atau menghindarinya.

"Apimu lumayan juga," kata Gray terengah, setelah tembakan api Yin mengenainya, membuat ia terpental menabrak bekas bangunan. Ia bangkit, menolak untuk menyerah dan kalah dari arrancar di depannya. Ia menyeringai. "Tapi aku sudah pernah merasakan api yang lebih panas dari itu."

Yin menyemburkan apinya lagi, kali ini dengan ukuran yang jauh lebih besar. Untuk sekian detik, tampaknya Gray kalah, tertelan oleh luapan api yang ditujukan untuknya. Para shinigami menatap tempat di mana – sepertinya – Gray terbakar oleh api dengan ngeri.

"Ini buruk," komentar Kyouraku. "Si Kusaka sudah kalah tapi pertempurann masih saj berlangsung."

Namun, kengerian itu dipatahkan didetik berikutnya. Api itu secara tak terduga berubah, tidak, tertelan oleh sesuatu seperti kilauan kebiruan, yang menjalar dari sesosok tubuh yang berada dalam bongkahan tebal es.

"Apa?!" seru Yin tak percaya.

"Dia… membekukan apinya?!" ujar seorang shinigami dengan takjub.

Dengan raungan keras, Gray memecahkan es yang melindunginya. Ia menyeringai, "Api Dragon Slayer jauh lebih panas dari itu!"

"Kau!" Yin mengumpat marah. "Jangan kira kau bisa mengalahkanku! Es seperti itu, kau bahkan tidak sebanding dengan Tuan Kusaka!"

"Ah, mungkin begitu," kata Gray kalem, menggaruk dagunya. "Bentuk naga itu sedikit mirip dengan bentuk sihir es dinamis, tidak seperti aku yang memilih jenis sihir es statis." Gray menyiapkan sihirnya. Sebentuk lingkran mage muncul di depan tangannya. "Sihir es statis tidak secepat sihir es dinamis. Tapi," Gray menyeringai, "jenis sihir ini lebih destruktif dan lebih kuat. Ice Make: Gungnir!"

"Masih belum! Ice-Make Unlimited: One Sided Chaotic Dance!"

Sejumlah besar pedang es tercipta di sekeliling Gray. Dengan gerakan tangannya, Gray membuat pedang-pedang itu menghantam Yin.

"Berikutnya! Ice Blade: Seven Slice Dance!"

Es-es tajam terbentuk di kedua lengan Gray. Penyihir es itu menerjang maju. Dan dengan tanpa ampun ia menyerang Yin, menyabetkan pedang es di lengannya dalam tujuh gerakan mematikan. Sabetan terakhirnya berhasil memotong sisa topeng hollow di kepala gadis arrancar berambut merah itu.

Gray berdiri tegak, sementara es di kedua lengannya perlahan melebur di udara. Gadis arrancar di depannya perlahan menghilang dalam debu keperakan. Ia menyapu darah yag mengalir di pelipisnya.

"Ck. Sepertinya akan berbekas lagi," katanya pelan. "Ah, masa bodohlah."

Gray menatap kilatan api-petir dan hitam-perak tampak silih berganti menggempur gadis arrancar berambut biru. Penyihir es itu tahu, tak peduli gender, jika orang itu macam-,macam dengan Fairy Tail, jangan harap mereka bisa lolos.

"Anak-anak sialan ini," geram Yang murka. Tuannya sudah jatuh dan kembarannya juga telah kalah. Apa lagi yang bisa dia lakukan kecuali membalaskan dendam mereka?

Ia menembakkan kilatan besar keemasan; energinya yang besar sampai membuat retakan sedlam dua inci di permukaan tanah.

"Tidak secepat itu! Lightning Flame Dragon Iron Fist!" Hampir seperti versi Fire Dragon Iron Fist-nya, kedua tangan Natsu berselubung api. Hanya saja, ketika teknik itu dilepaskan, tak hanya menembakkan api yang membara, tapi juga petir yang membuat arrancar petir itu mendapat luka bakar parah.

"Kau!" jerit Yang. "Mati kau!"

"Iron Shadow Dragon Club!"

"Crimson Lotus: Exploding Lightning Blade!"

Dan, arrancar terakhir yang menjadi kaki tangan Soujiro Kusaka itu pun tumbang.

Meskipun demikian, mereka masih mendapat masalah. Sejumlah besar Menos masih berkeliaran, terjebak di Seireitei tanpa jalan kembali karena Segel Raja telah menutup jalan masuk mereka meski sisa hollow yang lain telah tuntas dimusnahkan.

"Jadi kita masih perlu bersih-bersih nih?" celetuk Kyouraku. "Tapi kurasa, cewek rambut merah itu mau jadi sukarelawan eh?"

Memang benar. Erza Scarlet berdiri dengan berani di depan lusinan Menos Grande, sementara teman-teman penyihirnya bergerak mundur ke kaki bukit. Wendy kembali ke Bukit Soukyoku dengan Carla yang membawanya.

"Apa temanmu itu serius mau melawan Menos Grande sendirian?" tanya Ukitake cemas.

"Erza-san itu kuat," kata Carla kalem. "Ini terlihat seperti Purgatory Scene di Grand Magic Tournament, eh?"

"Apa?" tanya Unohana tertarik.

"Salah satu babak di turnamen sihir," kata Wendy. "Semua peserta perwakilan serikat sihir harus menghadapi seratus monster dengan berbagai level sesuai dengan nomor urut mereka. Erza mendapat giliran pertama, dan dia eh..."

"Menggila," kata Carla segera. "Dia menghabiskan semua monster tanpa sisa, yang seratus diantranya adalah monster kelas S yang bahkan anggota Sepuluh Penyihir Suci akan kewalahan. Oh, itu Armadura Fairy, baju zirah terkuatnya."

Mereka melihat sang Titania menghadapi para Menos dengan baju zirah yang lain. Carla mengatakan bahwa zirah itu adalah zirah si rambut merah yang paling kuat. Namun, zirah itu tampak sederhana, tanpa banyak materi dari metal untuk melindunginya. Berwarna merah muda dan putih dengan banyak hiasan berbentuk sayap. Senjatanya adalah pedang kembar yang berdekorasi identik dengan zirahnya.

"Aku sudah dengar tentang zirah itu," kata Wendy kagum, "tapi baru kali ini aku melihatnya. Mereka bilang zirah itu dirancang sendiri oleh Erza-san, sebagai penghormatannya pada Fairy Tail."

"Ya. Tapi," Carla menatap Wendy, mengabaikan para shinigami di belakangnya, "bukannya Erza-san menghancurkan sebuah pulau dengan itu?"

"Eeeehh?!" pekik Wendy kaget.

"Fairy," seru Erza, menyatukan ujung kedua pedangnya yang langsung bersinar emas-perak, "Piercing Swords!"

Kedua pedang itu menjadi satu, sebelum menghilang dan melesat dengan cepatnya ke arah kumpulan Menos. Mereka semua bisa merasakan energi yang sangat besar dari serangan itu, yang meluas, menelan seluruh sosok raksasa hitam targetnya, meluluhlantakkan sisi bukit buatan itu, tanpa sisa.

"Apa dia," kata Mayuri Kurotsuchi, menelengkan kepalanya, "baru saja melenyapkan tiga lusin Menos Grande sendirian dengan satu kali serangan?"

"HAHAHA! Keren, Erza! Tapi kalau mau hancurkan bukit ini, ajak-ajak dong!" seru Natsu keras dengan tubuhnya yang bernyala api dan petir. "Raja Iblis Natsu Dragneel siap!"

"Raja Iblis apaan? Kau tukang bikin onar!" gerung Gajeel.

"Tak ada yang minta pendapatmu, Besi Karatan!"

"Ice Make: Ice Cannon."

Sebuah bazoka yang terbuat dari es tebal tercipta di tangan si penyihir es, yang segera menumpu di bahu kirinya dan membidik. Sasarannya adalah sisa menara es; dengan dua Dragon Slayer yang masih adu umpatan berada di jalan sasarannya.

Gray menyeringai, "Tembak!"

Letusan yang terdengar menggelegar itu menembakkan bola meriam beku, yang kekuatan tembakannya bahkan membuat Gray terdorong beberapa langkah ke belakang. Natsu dan Gajeel yang berada dalam lintasan tembakan terlempar dan jatuh dengan kepala lebih dulu menghantam dinding batu, sementara Gray, dengan penuh kemenangan menyaksikan bidikannya tepat sasaran merobohkan sisa menara es.

"Kau idiot maniak!" umpat Natsu dan Gajeel bersamaan, mata mereka membelalak dengan kejengkelan tingkat akut.

"Kalian berisik, ganggu jalan lagi," kata Gray cuek, memanggul bazoka-nya dengan gaya.

"Happy, bisa minta tolong antar Lucy ke tempat aman aku rasa sebentar lagi akan ada er, pembinasaan total," kata Loke dengan senyum cerah.

"Tunggu dulu, Loki! Kau harus balik dulu!" protes Lucy, sementara Natsu dan Gajeel melempar kutukan dan sumpah serapah pada seorang penyihir es yang dengan angkuhnya mengecek keberesan sebelah telinga yang sepertinya agak berdengung karena banyaknya rentetan kalimat layak sensor yang masuk ke sana.

"Nanti saja. Aku mau ikutan juga," senyum Loki manis. "Tolong, ya, Happy."

"Aye, aye!" kata Happy ceria, yang melebarkan sayap Exceed-nya dan membawa Lucy menjauh dari area berbahaya; Erza mengganti zirahnya kembali ke Lightning Empress Armor yang menembakkan ledakan lebih baik dan mulai meruntuhkan salah satu pilar.

"Mereka itu..." Lucy menggelengkan kepalanya tak percaya sekaligus setengah geli.

"Yah," Lucy menoleh, mendapati Pantherlily sudah kembali ke wujud kecilnya, juga terbang menjauhi area 'pembinasaan total', "mereka memang begitu, kan?"

Ketika Lucy mendarat dengan aman dan selamat, mengingat bebatuan dan sisa es beterbangan ke mana-mana dengan benteng buatan yang sedang dalam proses porak-poranda, ia mendapati para shinigami yang tadi bertempur di dalam kubah sudah berada di Bukit Soukyoku juga. Hampir semua shinigami yang ada di sana menatap aksi sapu bersih empat penyihir Firy Tail dan satu roh Celestial dengan tercengang.

"Lucy-san! Apa kau tidak apa-apa?" sambut Wendy.

Si penyihir pirang tersenyum menenangkan, "Tentu saja aku baik-baik saja."

"Yang lainnya?"

Lucy tertawa kecil, menunjuk ke benteng yang mulai bergetar runtuh; Natsu menyemburkan api ke bagian kaki benteng, Gajeel yang meninju pilar-pilar dengan tangannya yang sekeras baja, Erza yang meledakkan dengan sihir petir, dan Gray yang menembakkan bazoka es-nya ke titik-titik rawan, juga Loki yang menggunakan ledakan sihir bintang yang mengirim letusan seperti kembang api. "Lihat, dengan semangat seperti itu untuk mempertahankan reputasi destruktif mereka, apa menurutmu mereka tidak baik-baik saja?"

Wendy tertawa kecil, sementara para shinigami menyaksikan benteng yang perlahan kehilangan daya topangnya.

Toushiro menghela napas. Ini bukan di Fiore, tapi para penyihir Fairy Tail tak membiarkan satu ingatanpun akan melupakan mereka.