Fillers Heart

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : Sasuke U x Hinata H

Genre : Romance, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya


"Kau mementingkan kehidupan orang lain yang tidak kau kenal, Lalu bagaimana denganku Hyuga?"

Chap V

Seseorang tolong katakan jika ini bukanlah kenyataannya...

Mengapa aku bisa membiarkan kepergianmu

Sementara aku tak mampu bertahan hidup tanpamu...

Hatinya remuk tak berbentuk, perasaan bahagia yang menyelimuti nya sejak beberapa hari yang lalu menguap entah kemana. Ia terus menatap pujaaan hatinya, pengisi hatinya, pusat kehidupannya. Dadanya bergemuruh, darah di seluruh tubuhnya serasa membeku, ia tersenyum penuh luka mendapati Hyuga nya yang terus menundukkan wajahnya.

Bahkan setelah Sasuke mengatakan kalimat terakhirnya, Hinata tidak merespon apapun, ia terus menundukkan kepalanya, bahkan untuk sekedar melihat wajah Sasuke saja Hinata seperti tidak sudi melakukannya.

Sasuke mendengus penuh ejek, tubuhnya serasa sudah mati rasa.

Ia berbalik dan perlahan langkahnya meninggalkan sang Hyuga sendirian di atap gedung universitas. Senja hari ini terasa kelam, bahkan hangatnya sinar senja tidak terasa sama sekali untuk Sasuke, ia merasa sinar matahari membakar seluruh organ tubuhnya sore itu.

Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal keluar dari lingkungan kampus, raut wajahnya mengeras tanpa ekpresi "Dobe, kau dimana?!"tanya Sasuke melalui telpon pada sahabatnya Naruto Uzumaki "Ya, ditempat biasa temani aku minum." titah Sasuke kembali.

Swingggg

Bunyi mesin dari kendaraan Sasuke terasa menyesakkan, ia melajukan tunggangannya tanpa aturan, membelah jalanan Tokyo dan berusaha melarikan diri dari perasaan buruk hatinya.


"Su-sumimasen, Naara-san?"sapa Hinata pada pemuda berambut nanas yang sedang tertidur di sudut perpustakaan.

Perlahan si jenius dari klan Nara membuka kelopak matanya dan melirikan matanya, melihat siapa yang menganggu tidurnya, ia jadi merubah posisinya menjadi duduk tegak.

"Ya?" jawab Shikamaru

"A-ano, bisakah aku menitipkan ini padamu?"tanya Hinata, suara lirihannya terasa seperti gumaman, sambil menyerahkan sebuah surat yang terbungkus rapih didalam sebuah amplop coklat.

"Hn, apa ini dan untuk siapa?"

"U-untuk Uchiha-san, aku tidak melihatnya di lingkungan kampus, dan aku pun tidak berani untuk menemuinya, apakah boleh aku menitipkan ini untuknya?"tanya Hinata.

"Tentu." jawab Shimakaru singkat, ia tersenyum dan mengangguk sebagai responnya "Hyuga?" tanya Shikamaru padanya.

"Ya?" jawab Hinata.

"Kapan kau akan berangkat?"

"Besok siang." jawab Hinata sambil tersenyum, kemudian ia mengulurkan tangannya "Dan selamat Nara-san, kau terpilih menjadi mahasiswa lulusan terbaik."

Shikamaru menerima jabatan tangan Hinata "Terima kasih, tapi bukan aku saja yang terpilih, Sasuke juga." ucap Shikamaru menjelaskan.

"Ya aku tahu itu, sekali lagi selamat dan terima kasih sebelumnya."

"Hyuga, kenapa kau tidak pergi setelah perayaan wisuda?" lagi, Shikamaru bertanya pada gadis Hyuga didepannya ini.

"Para korban di sana tidak mungkin menunggu sampai selesai perayaan wisuda kan? lagi pula, gelarku tetap akan di berikan walau aku tidak mengikuti perayaan wisuda."ucap Hinata.

"Hn, kau benar, kalau begitu selamat berjuang dan kembalilah dengan selamat."ucap Shikamaru, dan Hinata kemudian menundukan kepalanya untuk berpamitan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Shikamaru Nara.


Waktu berputar begitu cepat, melewati apapun tanpa pertimbangan, menyisakan penyesalan bagi mereka yang tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, atau bahkan membuat sebuah kebahagian bagi setiap jiwa yang sudah terpilih.

Hari terpanjang bagi Sasuke Uchiha, sudah hampir 2 hari ia menghabiskan waktunya di bar favoritnya, ia benar-benar kacau, hatinya remuk tak berbentuk. Ia merasa sakit hati. Dengan semua sikap yang ia tunjukan pada sang Hyuga selama ini sama sekali tidak membuahkan hasil, bahkan disaat Sasuke terang-terangan menyatakan ketertarikannya pada Hinata, dan Hinata hanya diam tanpa berekpresi apapun.

Dan, membuat Hinata semakin jauh dari jangkauannya.

Drrrttt… Drrttt…

Puluhan panggilan, belasan email dari Naruto atau Shikamaru sama sekali tidak Sasuke perdulikan, entah sudah berapa puluh botol yang sudah Sasuke habiskan, ia jelas membutuhkan distraction untuk masalah sakit di hatinya, dan alcohol… selalu jadi pilihan utama dalam setiap bayangannya.

Tapi, untuk saat ini berbeda…

Shikamaru Naara yang biasanya terkesan tidak perduli dengan hal merepotkan apapun di sekelilingya, tapi saat ini ponsel dari Sasuke penuh dengan notification darinya. Dan akhirnya dengan tanpa minat Sasuke menerima panggilan darinya "Hn, ada apa?!"tanya Sasuke to the point pada pemuda Nara yang menghubunginya melalui ponsel.

"Bodoh! Kau dimana?!"Shikamaru balik bertanya padanya dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.

Sasuke mendengus geli "Hei, Naara… berani sekali kau berbicara dengan nada seperti itu pada seorang Uchiha?" ucap Sasuke, ia yang saat ini benar-benar mabuk, sambil terpejam ia bersandar di sofa bar yang sudah ia duduki sejak 2 hari yang lalu.

"Ya, seorang Uchiha pecundang."ucap Shikamaru datar "Cepat kau ke bandara sekarang, Hinata akan berangkat jam 2 siang ini."sambung Shikamaru.

Dan panggilan telpon pun diputus sepihak oleh Shikamaru.

Tuuuuutttt…

Dan yang berlaku bagi Sasuke?

Tubuhnya membeku, apa-apa tadi yang dikatakan oleh si rambut nanas?

Maksudnya kebandara? Hinata? Jam2?

Otak jenius Sasuke benar-benar menguap saat ini, berbagai pertanyaan terasa seperti berulang-ulang di otaknya, Onyx-nya membesar menyeramkan.

Tanpa pertimbangan apapun, ia bergegas pergi, dengan perasaaan yang bergemuruh, ia mengendarai Lamborghini nya membelah jalanan, melajukan kendaraanya seperti hanya ia di kota ini yang mempunyai hak atas jalan tersebut.

Sasuke tidak bisa berfikir, yang terkonsep di otaknya hanya tiba di bandara sebelum pukul 2, jika tidak… ia merasa waktu kematiannya sudah dekat, Hinata-nya tidak akan berada dijangkauannya lagi.


Dan sepertinya, memang Kami-sama senang bermain-main dengan hatinya…

Sasuke yang saat ini terlihat sangat kacau sekali, sama sekali tidak mencerminkan seorang pewaris Uchiha, baju lusuh yang sudah 2 hari tidak diganti, ravennya yang berantakan, wajah stoic nya yang biasanya mampu membuat setiap wanita rela menghabiskan seluruh waktunya agar bisa terus melihat ukiran sempurna dari ciptaan seorang Uchiha, kali ini terlihat menyedihkan, raut wajahnya terasa sayu.

Langkahnya terasa berat, wajahnya benar-benar tanpa ekpresi.

Semua nya terlambat…

Sasuke tiba di bandara pukul 2 lewat dan jelas jika pesawat yang membawa pujaan hatinya sudah tinggal landas, meninggalkan Jepang dan seluruh perasaan hatinya…

Dan…

Lebih dari satu jam ia membuat kekacaw-an di bandara, berteriak-teriak di depan meja pelayanan meminta pesawat yang membawa Hinata-nya berbalik arah.

Tapi, itu jelas mustahil bukan? Walau Uchiha jelas punya kuasa atas bandara tersebut, tetap saja tidak bisa membuat pesawat itu kembali ke Jepang.

Tubuhnya ambruk beberapa langkah dari meja pelayanan, Shikamaru yang melihatnya dengan sigap menahan beban tubuhnya, dengan tertatih ia membawa Uchiha muda itu untuk duduk di salah satu kursi.

"Baka, bukankah sudah kuperingatkan kau sejak dulu Uchiha?!"

Dan Sasuke tidak merespon apapun, ia hanya menyandarkan tubuhnya yang terasa mati rasa pada sandaran kursi, tatapan matanya terasa hampa.

"Ini…" ucap Shikamaru sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada Sasuke dan Sasuke hanya melirikkan onyx-nya sebagai jawaban.

"Dari Hinata, ia menitipkan ini untukmu kemarin siang."kata Shikamaru sambil menepuk pelan pundak Sasuke.

Onyx-nya terasa bersinar dan membesar seketika.

Dengan gemetar ia menerima amplop dari tangan Shikamaru "Hi-hinata?" tanya Sasuke ragu.

Dan sang prodigy Uchiha dengan sisa tenaganya perlahan membuka amplop yang diberikan Shikamaru padanya, seluruh tubuhnya serasa bergetar.

Srekkk…

Onyx-nya memanas, perlahan air mata mengalir dari sudut matanya, setiap kata yang ia baca secara perlahan semakin terasa menusuk ulu hatinya.

To : Uchiha Sasuke

Sumimasen, Uchiha-san…

Ano, aku minta maaf karena melanggar janji untuk terus membuatkan bekal makan siang sampai lukamu mengering, dan maafkan aku juga karena tidak memberitahukan perihal keikut sertaanku menjadi relawan ini pada-mu, aku hanya merasa tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk memberitahukannya padamu, dan kejadian ini semua pun mendadak. Bahkan untuk mengirim email langsung padamu saja aku tidak berani.

Jika semuanya lancar dan tidak ada kendala apapun di lapangan nanti, mungkin sekitar 5 bulan kedepan kami semua bisa kembali ke Jepang. Do'akan kami ya semoga bisa kembali ke Jepang tanpa kurang satu apapun.

Selamat untuk gelar mahasiswa terbaik yang kau dapat Uchiha-san, itu sungguh KEREN.

Setelah aku pulang dari Afrika nanti, sesuai dengan janji yang aku buat, aku akan mengajakmu untuk berkunjung ke rumah dan bertemu dengan Ni-sanku, dan aku yakin kau pasti menyukai tempat tinggal ku disana.

Aku berharap Uchiha-san selalu dalam lindungan Kami-sama dan dalam keadaan baik-baik saja.

Sekali lagi, aku minta maaf.

Hinata Hyuga.

Sasuke mendengus geli, setelah membaca rentetan kata yang Hinata tulis, ia tertawa getir di sela-sela air matanya, berusaha menahan getaran suara tangisnya "Bodoh!".

Bahkan dalam tulisan suratnya pun Hinata sama sekali tidak membahas tentang perasaannya, ia hanya mengkhawatirkan tentang bekal makan siang "Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan apa yang aku rasakan selama ini Hinata!" teriak Sasuke entah pada siapa dan Shikamaru hanya bisa mengendikkan bahu.

"Brengsek! brengsek! brengsek!" raung Sasuke.

Dan membuat seluruh antensi setiap pengunjung yang ada di bandara menjadi terfokus padanya.

"HINATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Suara sang Uchiha menggema di setiap sudut bandara hari ini, mengungkapkan betapa sakit dihatinya yang ia rasakan serasa membelah setiap lapisan kulitnya, karena berteriak seperti apapun Hinata-nya tetap tidak akan kembali kan?

Dan ia bisa tidak bisa harus terbiasa tanpa keberadaanya.


Sementara di lain tempat dan di lain waktu.

Dibelahan dunia yang lain seorang gadis menangis terisak di sudut camp, ia merasa hidup dengan separuh jiwa di Negara orang lain.

Berulang kali mengucapkan kata yang menjadi mantra untuk penguat jiwanya… 'Uchiha SasukeUchiha Sasuke'.

Terus menerus berulang, setiap ia merasa sakit di hatinya selalu ia ucapkan mantra-nya itu, berharap mendapat kekuatan dari kata-kata yang ia puji dalam hatinya. Dari Amethys nya mengalir buliran air mata.

Ya.

Setiap malam, setelah jam tugas relawannya berakhir, ia selalu mengurung diri di camp miliknya, berusaha mengobati rindu yang terasa membelenggu jiwa dan hatinya, perasaan rindu yang ia anggap adalah kesalahan.

Dan ya.

Hinata Hyuga hanya merasa perasaan yang ia miliki terhadap bungsu Uchiha adalah sebuah kesalahan, ia hanya merasa cinta yang ia miliki adalah sebuah kesalahan, karena… bagaimana mungkin, orang seperti dirinya mempunyai hak untuk mencintai seorang Uchiha, terlebih adalah Uchiha Sasuke.


Suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ serasa menembus telinga, menyesakkan dan memabukan.

Gemerlap warna warni lampu bar terasa menambah luka bagi seseorang yang sudah hampir 3 bulan ini menjadi tamu tetap untuk Bar milik Kabuto, bukan lagi Club milik Orochimaru yang menjadi tempat favoritnya, sang Cassanova tidak lagi berminat dengan club itu, dia hanya merasa bosan dengan wanita-wanita disana, dan kebetulan Naruto no baka sahabat terbaiknya merekomendasikan tempat ini berikut dengan wanita-wanita cantik berambut panjang padanya.

Tempat yang menjadi rumah kedua selain kantor Uchiha Corporation bagi Sasuke, karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dua tempat itu. Saat ia merasakan sesak di hatinya, ia pasti mencari distraction untuk perasaan hatinya, dan wanita serta alcohol adalah perpaduan yang paling baik bagi Uchiha Sasuke.

Ya.

Sasuke Uchiha saat ini sedang menikmati dunianya sendiri, di ruangan eksekutif duduk berdua ia sedang berpagutan dengan seorang wanita malam, penghibur hatinya dan pengalih perhatiannya. Entah wanita ini wanita keberapa yang telah menemani malam-malam sunyi seorang Uchiha Sasuke.

Karena…

Tidak bisa melihat belahan jiwanya hampir 3 bulan jelas membuat Sasuke depresi, selepas Hinata pergi ia mengurung diri di kamar lebih dari berhari-hari, dan saat ia benar-benar tidak bisa menahan rindunya entah sudah berapa kali ia menyakiti dirinya sendiri, berusaha mengalihkan rasa sakit hatinya menjadi perasaan sakit di raganya.

Dan butuh lebih dari ratusan jam untuk membuat Sasuke Uchiha bangkit dari keterpurukan hatinya, walau harus dengan alcohol setidaknya itu lebih baik, ia pun menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan hiburan malam.

Sasuke hampir tidak pernah sendiri, jika ia sendiri ia selalu merasa sesak karena ingatan tentang Hinata menguasai pikirannya dan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri, sebab itu ia tidak pernah sendiri, selalu ada yang menemani entah sahabatnya, Jugoo asissten pribadinya atau wanita-wanita berambut panjang pilihan Sasuke.

Dan kenapa yang selalu Sasuke cari adalah wanita yang berambut panjang? Jawabannya jelas, mengingatkan ia pada belahan jiwanya… Hinata Hyuga.

Surat dari Hinata 3 bulan yang lalu serta topi hadiah ulang tahun pemberian Hinata selalu Sasuke bawa kemana pun ia pergi karena hanya itu yang Sasuke punya untuk mengenang Hinata-nya.

"2 bulan lagi… saat kau kembali, dengan cara apapun aku akan mengikatmu menjadi hanya milik-ku Hyuga." ya… mantra ini, selalu menjadi kata-kata penguat untuk hari-hari yang dilalui Sasuke Uchiha.


Afrika Tengah

105 Hari sudah Hinata habiskan di daratan tandus nan gersang, status bencana pun sudah di turunkan, walau belum sepenuhnya membaik, setidaknya daratan ini masih terlihat sisa-sisa kehidupan.

Di tanah bencana seperti ini.

Hinata malah terlihat sangat mempesona, tanpa lelah ia berlari kesana kemari, merawat dan membantu apa saja yang bisa ia lakukan. Menyibukkan diri sekaligus berusaha melupakan perasaan hatinya.

Siapa yang tahu…2

Ternyata gadis Hyuga ini pun merasakan perasaan sakit yang teramat karena berjauhan dari lelaki yang mengisi jiwanya.

Tapi ternyata, bukan hanya Sasuke saja yang terpikat pada aura sang Hyuga, seorang dokter muda dari Universitas yang berbeda pun memendam perasaan istimewa sejak pertama beradu pandang dengan amethyst nya. Dia terpesona pada wajah ayunya, kelembutannya, sikapnya.

"Hinata?" panggilnya "bisa kau bantu aku?" tanyanya kemudian.

"Ya sensei… " jawab Hinata

"Pasien no 23 tolong kau periksa suhu tubuhnya, dan isi laporan medisnya, setelah itu bawa keruangan ku." titahnya kemudian

Hinata mengangguk, kemudian berlalu pergi ke ruangan rawat.

Brakkk

Hanya berselang 5 menit Hinata kembali dan membuka paksa ruangan dokter yang seenaknya memberi perintah tadi.

Alis Hinata bertaut tanda ia sedang kesal "Sensei..! kau menipuku lagi?!"

Dan pria dengan stelan jas putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya hanya bisa menahan perutnya sambil tertawa terbahak-bahak "ahahahaha… gomen… gomen Hinata-chan, kau terlihat serius sekali tadi, membuatku tidak tahan untuk mengerjai-mu lagi."

"Jika kau mengerjai ku lagi, aku akan laporkan supaya lisenci dokter mu di cabut!"jawab Hinata wajahnya memerah bukan merah merona saat ia sedang malu, tapi rona merah yang menandakan ia sedang kesal.

Ia menghentakkan kakinya, lalu berbalik dan melangkah pergi

Tapp

Sebelum sempat berbalik, lengannya sudah terlebih dahulu di tarik oleh sang dokter, memaksa Hinata untuk menghapus jarak dengannya "Istirahatlah sebentar Hinata, tubuh mu butuh istirahat." ucapnya seduktif sedikit berbisik di telinga Hinata.

"Tidak perlu, aku masih sanggup." ucap Hinata sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman dokter didepannya ini.

"Hey, kau berada dalam team ku… dan aku ketua nya kau harus menurut padaku!" Ucapnya sedikit kesal dengan sikap keras kepala gadis didepannya ini.

"Ini sudah lewat dari shift dinas mu Toneri-kun, jadi kau bukan ketua ku saat ini."

"Cih, kau benar-benar menyebalkan Hyuga, sudahlah… dokter mu ini minta dibuatkan kopi 2 gelas dan aku tunggu didepan, paham?!" titah Toneri dan berlalu meninggalkan Hinata.

##

Angin malam yang dingin menusuk pori-pori kulit, malam ini bintang terlihat berterbaran di langit Afrika, suara jangkrik menjadi backsound tersendiri untuk dua insan yang saat ini sedang duduk berdua jauh dari pos medis.

"Hinata… selepas dari tugas relawan ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Toneri sambil perlahan meminum kopi instan buatan Hinata.

"Hm, entahlah… mungkin melamar pekerjaan." jawab Hinata

"Hei Hinata… aku punya pekerjaan yang cocok untukmu, kau mau?" tawar Toneri sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Nani? pekerjaan apa?" tanya Hinata

"Jadilah istriku." ucap Toneri tegas, mata bulannya menatap tajam amethyst Hinata dan menguncinya sesaat.

Uhuukkk

Hinata tersedak kopi buatannya sendiri, mendengar tawaran absurd dari teman yang baru dikenalnya selama 3 bulan belakang ini jelas ia terkejut "Hey sensei, sudah kubilang jangan mengerjaiku lagi!".

"Aku serius Hinata, bukankah sudah ku katakan berulang-ulang, aku jatuh cinta pada mu sejak pertama melihatmu, tapi kau tidak pernah percaya dan selalu menganggap lelucon ucapanku ini." sahut Toneri frustasi ia mengacak acak rambut putihnya.

"Tidak, lagi pula aku sudah tidak punya hati untuk diberikan kepada orang lain…" ucap Hinata datar, wajahnya berubah sayu… byakugannya menerawang ke langit malam.

Uhuukkkk…

Hinata tiba-tiba memuntahkan kembali kopi yang sudah ia minum.

Toneri yang tepat berada disampingnya reflex berdiri terkejut "Hinata, kau kenapa?"

Hwuekkkkk… Hwuekkkkk…

Lagi, Hinata memuntahkan semua isi perutnya.

Toneri mendekat, memegang tengkuk Hinata dan memijitnya secara perlahan "Hei, kau kenapa?" tanyanya lagi "Oh ya Tuhan, suhu tubuh mu panas sekali Hinata?! ucapnya panik.

Brukkk

Hanya hitungan detik, Hinata hilang kesadaran ia pingsan saat itu.


5 bulan pun berlalu… ya, 5 bulan yang sangat menyakitkan bagi Sasuke Uchiha, hari ini ia bangun sangat pagi, hatinya bersorak gembira terlebih mendengar kabar dari Jugo orang kepercayaannya bahwa rombongan relawan Universitas Konoha akan tiba hari ini.

Ia bersenandung kecil, ia bahkan mendatangkan stylish professional ke mansionnya untuk memotong rambutnya, yaah… rambut Sasuke sedikit lebih panjang dan tidak terawat saat itu, ia benar-benar merasa bahagia, penderitannya selama 5 bulan ini akan berakhir di hari ini.

Ia merasa bahagia hingga terasa sulit bernafas dengan benar, membayangkan wanita pujaan hatinya berdiri dihadapannya 'apakah Hinata warna kulitnya berubah? apakah berat badannya lebih berisi atau sebaliknya?' yaa pertanyaan-pertanyaan absurd yang ada di otak jenius pewaris Uchiha yang terus menerus berulang hari ini.

Hingga pada akhirnya.

Hatinya yang sudah remuk tak berbentuk masih harus merasakan penderitaan yang lebih dalam lagi.

Kenapa rasanya Kami-sama terlalu kejam mempermainkan hati Sasuke Uchiha.

"Maaf, Sasuke-sama… Hinata Hyuga tidak ada dalam daftar rombongan yang kembali hari ini, menurut informasi ia terkena malaria dan dibawa keluar afrika oleh seorang dokter yang sampai saat ini saya belum tahu identitasnya." Ucap Jugo sambil membungkukkan badan memberikan laporan.

Sasuke sesaat hanya bisa diam berdiri tak bergeming, ia tak bisa merespon apapun tentang laporan yang diinformasikan oleh Jugo.

Brakkkkk

Laptop yang ada didepan matanya, laptop kantor yang berisi file dan kontrak-kontrak bernilai milyaran dollar jadi sasaran kemarah sang Uchiha, onyx-nya membesar menyeramkan… ia hancurkan apapun yang terjangkau oleh tangan dan terlihat di matanya, lampu meja, koleksi gucci-gucci antik, piagam penghargaan apapun itu… apapun yang terlihat dimatanya ia hancurkan.

"Hinataaaaaaaaaaaaaaa!"


Aku Gila...

Tak Ada Lagi Yang Menenangkan Jiwa

Kuingin Kau Kembali Dalam Hidupku

Hanya Demi Itu Aku Bertahan Hidup

Aku Sulit Bernafas...

Aku Tak Dapat Tidur Disetiap Malam Yang Kulalui Tanpamu

Tanpamu Disisiku

Aku Merasa Sesak Dan Serasa Tak Ada Udara

Hinata… Kembalilah

Sudah lebih dari satu tahun terlewat sejak kabar terakhir yang ia dengar tentang Hinata, dan jelas membawa dampak dan merubah seluruh dunia Sasuke Uchiha, ia jadi lebih kejam terhadap siapapun, sifatnya menjadi jauh lebih dingin, ia tidak menjalin interaksi apapun selain dengan Jugo asisten pribadinya bahkan dengan anggota keluarganya sendiri.

Dunia Sasuke seakan hitam kelam, ia membatasi setiap orang yang berinteraksi dengannya, siang hari selalu ia habiskan di belakang meja Uchiha Corporation ia yang saat ini sudah mengambil alih posisi aniki-nya di perusahaan dan sang Aniki yang saat ini menempati Uchiha teratas menggantikan Uchiha Fugaku yang resmi mengundurkan diri dari perusahaan.

Tapi…

Biar seperti apapun Sasuke saat ini ia tetaplah seorang Uchiha, kharismanya tetap menjadi yang nomer satu diangkatannya, dengan sifat dinginnya menjadikan ia lebih digilai oleh setiap wanita.

Karakternya kuat, wajahnya yang tegas langkahnya yang selalu penuh perhitungan dan jangan lupakan posisinya saat ini diperusahaan dimanapun ia berada auranya selalu menjadi yang terkuat.

"Sasuk-sama, helikopternya sudah siap diatap gedung… kita berangkat sekarang." Ucap Jugo sambil membungkukkan sedikit kepalanya tanda hormat pada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi atasannya.

"Hn." respon Sasuke seperti biasa. Ia membuka laci meja dan mengambil amplop coklat lusuh yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi lalu memasukannya kedalam saku depan jas yang dikenakannya "Jugo, apakah sudah ada perkembangan?" tanya Sasuke suaranya berubah lirih.

"Maafkan aku Sasuke-sama, informasi tentang dokter itu sangat minim sekali, ia dwi negara ayah Toneri memang dari Jepang tapi ibunya yang aku dengar berkebangsaan Jerman." tutur Jugo menjelaskan sambil ikut berjalan disamping Sasuke Uchiha.

"Kalau begitu fokus saja mencari di Jerman, aku yakin si brengsek itu membawa Hinata kesana!" titah Sasuke dengan sedikit bentakan "Ini sudah satu tahun lebih Jugo, sejak aku terakhir melihat Hinata, temukan ia untuk ku, karena jika lebih dari ini aku sudah tidak sanggup lagi, dadaku terasa semakin sesak setiap harinya."

"Aku akan berusaha Sasuke-sama." ucap Jugo sambil memasang safety belt dan memastikan tuannya Sasuke Uchiha juga sudah memasang safety belt lalu memberi kode pada sang pilot untuk menerbangkan Helikopter menuju prefektur Hokkaido untuk menghadiri rapat penting disana.


Semilir angin musim semi menerbangkan jutaan perasaan rindu Sasuke Uchiha, ia berdiri tegap kedua tangannya dimasukan ke sisi kantung celananya, menghadap jendela kaca ruangan pribadinya menatap lurus ke bawah gedung Uchiha… hanya lalu lintas Tokyo yang ramai yang terpantul di retinanya "Hinata…" ucap Sasuke.

Tubuhnya selalu bergetar jika ia ucapkan nama pujaan hatinya, jika bukan karena surat dari Hinata yang selalu ia bawa, surat yang menjadi alasan hidupnya, mungkin Sasuke sudah dari dulu mengakhiri kehidupannya.

Ia mempercayai apa yang Hinata tulis, bahwa ia akan kembali dan menepati janjinya untuk membawanya ke daerah tempat tinggalnya. Nafasnya mendadak memburu… mengingat Hinata… ia takut berakhir menyakiti dirinya sendiri lagi… ia jelas butuh distraction.

"Anda memanggil saya Sasuke-sama?" ucap seorang wanita yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Sasuke.

Sasuke berbalik mengubah atensinya ke sumber suara yang memanggilnya "Hn, Aku tidak suka rambutmu di ikat Tayuya." titah Sasuke "Biarkan ia tergerai."

"Maaf." ucap Tayuya kemudian melepaskan ikatan rambutnya.

Sasuke mendekat… menghapus jarak dengan wanita dihadapannya ini… onyx-nya terlihat menggoda, sudah tidak bisa dihitung dia wanita keberapa yang menemani Sasuke Uchiha, dalam ruangan pribadinya yang luasnya terlalu berlebihan jika hanya difungsikan sebagai kantor, ruangan yang didominasi dengan warna coklat dan tidak lupa kedap suara yang kalian pasti tahu apa fungsinya.

"Hn, aku membutuhkan mu…" ucap Sasuke seduktif sambil berbisik ditelinga Tayuya. Ia menarik tubuh Tayuya dan memeluknya erat, saling berbagi kehangatan dalam ruangan yang dingin ini, wajah Sasuke menelusup di perpotongan leher Tayuya, membelai rambut panjangnya.

'Hinata' gumam Sasuke.

Ya… ia selalu menanggap setiap wanita yang menemaninya adalah perwujudan dari Hinata. Sasuke mengecup perlahan bibir wanita didepannya ini… sangat perlahan hingga kecupannya berubah menjadi lumatan sedikit liar dan menjadi liar.

Tayuya jelas sadar, posisinya disini sebagai apa… dan bahkan wanita yang sudah lebih dahulu bersama Sasuke sangat sadar diri fungsi dirinya bagi Sasuke tidak akan pernah lebih dari ini, tapi… setiap wanita seakan rela menjadi apapun atau melakukan apapun asalkan bisa berdekatan dengan prodigy Uchiha ini.

Ruangan yang tadinya dingin mendadak terasa panas bagi Sasuke, ia membuka kancing atas kemejanya, jas yang ia kenakan sudah entah kemana ia lempar, dan wanita dibawahnya ini tidak lebih baik kondisinya dibanding Sasuke, rok yang tersingkap… kemeja yang hampir terbuka seluruhnya, nafasnya terengah.

Brakkkk

Pintu ruangan mendadak terbuka, Sasuke mengerang marah, ia mengarahkan pandangannya pada mahluk sialan yang berani menganggu aktivitasnya "Dimana sopan santu mu Jugo?! kau mau mati haaakh?!" ucap Sasuke murka.

Nafas jugo terengah-engah, walau atasannya sudah membentaknya seperti itu sama sekali tidak memberikan efek apapun pada Jugo, ia berusaha menormalkan nafasnya "Bu-bukan kematian… a-aku malah merasa seperti akan mendapatkan bonus yang sangat besar…" ucap Jugo terengah-engah.

"Apa maksudmu brengsek?!" Ucap Sasuke bertambah marah, walau sebenarnya melihat perubahan ekpressi orang kepercayaannya yang biasanya selalu tenang dan saat ini bersikap seperti ini Sasuke sedikit merasa takut.

"Hyuga… Hinata Hyuga… dia disini." jawab Jugo kemudian lengkap dengan senyuman yang bertengger manis di wajahnya yang biasanya tanpa ekpressi.

"Hi… Hinata?"

Butuh lebih dari puluhan detik untuk Sasuke menafsirkan ucapan Jugo.

Seketika Onyx-nya bersinar, ia merasa seperti tanah tandus yang tersiram derasanya hujan, bulu-bulu halusnya meremang... ia bergetar hebat, lututnya melemas… kebahagian ini rasanya tidak bisa di terima oleh setiap organ-organ tubuhnya.

Seketika ia berlari, meninggalkan ruangan dan wanita malang yang kebingungan itu… Sasuke merasa jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya, logikanya benar-benar menguap saat ini… ia berlari menuruni anak tangga dari lantai 72 lantai teratas ruangan kantor pribadinya menuju lantai 31, padahal jika ia menggunakan lift hanya butuh kurang dari 5 menit ia sampai di lantai 31, namun lagi-lagi emosi menguasai logika nya, ia tidak sabar menunggu pintu lift terbuka.

Ternyata selama ini… Hinata berada dalam jangkauannya… Hinata-nya berada disekitarnya kurang lebih 2 bulan ini, Hinata menjadi karyawati di perusahaan ini, perusahaan miliknya… dan dia sama sekali tidak mengetahuinya… tidak menyadarinya.

Sepanjang langkahnya menuruni anak tangga ia terus memaki dirinya sendiri "brengsek! brengsek!" memaki kebodohannya, memaki instingnya… Hinata berada sedekat ini dan ia sama sekali tidak menyadarinya.

Brakkkk

Suara pintu ruangan yang Sasuke buka paksa, seketika seluruh mata karyawan mengubah atensinya pada pada pria yang masuk tanpa sopan santun dan saat tahu siapa yang membukanya mendadak semua karyawan berdiri dan membungkukan kepalanya.

Onyx sasuke bergerak liar, ya… ia merasakan aroma ini, aroma yang ia rindukan sampai ingin mati rasanya… nafasnya tercekat, setelah bayangan Hinata tertangkap dalam mata hitamnya, Sasuke merasa tubuhnya terpaku ditempat… ia ingin berlari dan mendekap wanita itu tapi rasanya berat sekali.

"Hinata… kau kah itu?" suara Sasuke bagaikan lirihan, ia bahkan tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya itu, ia hanya merasa takut apa yang ia lihat saat ini adalah fatamorgana dan bisa hilang kapan saja.

Seluruh karyawan yang berada di deputi audit control hanya bisa diam melihat kejadian ini, Hinata… karyawan baru yang baru bekerja 2 bulan ini ternyata mengenal atasan mereka yang levelnya berkali-kali lipat dengannya.

Dan ini wajar, jika Sasuke sama sekali tidak mengetahui Hinata adalah karyawannya… karena tidak mungkin ada interaksi apapun antara staff biasa dengan seorang Direktur Utama.

Dengan susah payah Sasuke mengahapus jarak antar dirinya dengan belahan jiwanya…

Hinatanya,

Masih sama seperti dulu, warna kulitnya, bola matanya, bulu matanya, hidungnya… hanya saja rambut indigonya saat ini hanya sebahu.

Dalam jarak sedekat ini, indra penciuman Sasuke dipenuhi oleh harum lavender yang menguap dari tubuh gadis didepannya ini, tangan Sasuke yang gemetar terulur perlahan… dengan terpejam ia menyentuh rambut Hinata dan memastikan bahwa yang ia lihat adalah kenyataan.

Lembut rambutnya bersentuhan dengan telapak tangan Sasuke, tanpa sadar Sasuke mengeluarkan airmata, tanpa pertimbangan apapun Sasuke langsung membawa Hinata dalam pelukannya… memeluknya erat, mendekapnya seakan tidak ingin melepaskannnya "Hinata… hinata… ini benar kau…" gumaman Sasuke disela-sela getaran tubuhnya.

"Uchiha-san… ma-mafkan aku." ucap Hinata akhirnya.

Dalam pelukannya Sasuke mendengus penuh kelegaan, ia… ini suara Hinata dan ia masih sangat hapal dengan suara ini.

Perlahan tangan Hinata terulur, ikut membalas pelukan Sasuke dan menelusupkan wajahnya dalam dada bidang-nya, Sasuke tercekat… onyx-nya membesar tidak percaya, Hinatanya terisak… menangis dalam dekapannya.

Bulu halus Sasuke meremang, ia tersenyum mengerikan… getaran tangisan Hinata menyakitkan dirinya. Ia terus mendekap Hinata tanpa memperdulikan sekelilingnya karena setelah ini ia berjanji, tidak akan melepaskan Hinata bagaimanapun caranya.

Karena berada jauh darimu adalah hal yang mustahil bagiku.

-tbc-

Ahhh… akhirnya chap v publish juga,

Saya sedikit frustasi di chap ini, karena ada yang bilang alurnya terlalu lambat maka saya rombak beberapa scene, tapi hasilnya malah bikin sakit kepala… hehehe.

Ini mungkin chap terpanjang di fict FH ini, dan saya harap reader semua tidak bosan baca fict ini dan tidak mengecewakan.

Untuk chap depan sepertinya akan saya publish sehabis lebaran, karena sedang ber eksperimen membuat scene yang sedikit mature, yaahhh semoga hasilnya tidak mengecewakan juga. hehehehehe

Mohon bimbingannya karena saya masih sangat baru dalam dunia fict ini, Saya masih harus banyak belajar, mohon kritik dan sarannya tentang Fict ini.

Dan terima kasih juga buat :

sasuhina69, NurmalaPrieska, Alinda504 , Reichan Hiyukeitashi,

JojoAyuni, nana, chiku damselfly, hinataholic, lovely sasuhina, sasuhina69,

Reza Juliana322 , DioRah, hiru nesaan ,

hinatachannn2505, nata8 hyuga, aindri961 , Guest. keiKo-buu89

NJ21, asasi, Hime Hime Lavender, seman99i, lovely sasuhina,

Reichan Hiyukeitashi, hinatachannn2505, subuhdibulanoktober, ana, Suneo.

rrhytm185 , Kak Yuyun, Tieve, nana chan, lovely sasuhina,

with sasu, Lala bukan poo, Tatsu Hashiru Katsu, marie-chan chan,

ClaraMahaLashmi, yuko, nazuka, Hyuuga Asty-Nyan, 14 ,

Mira631,

Maaf tidak bisa membalas semua review… untuk review teratas saya balas disini yah :

ClaraMahaLashmi : Saya bukan intan malau, tapi intan Uchiha kok :D

aindri961 : hushhh… wkwkwkw

Hyuuga Asty-Nyan : Iya, saya juga suka pair ini…

nazuka : Aduuh… terima kasih, sudah dibaca juga saya sudah terima kasih…

yuko : ini lanjut kok

marie-chan chan : arigatou

Tatsu Hashiru Katsu : Terima kasih Tatsu-san… wkwkwkwk saya masih harus banyak belajar, mungkin pengalam pribadi makanya baper ?

asasi : Salam kenal juga

Reichan Hiyukeitashi : Terima kasih salam kenal, dan semoga chap yang ini tidak mengecewakan…

Ternyata rasanya menyenangkan membaca review dari kalian semua… saya merasa seperti dihargai.

See-you in next chapter…

Oyasuminasai…

_intan