The last chapter!

Oh my goodness... Terima kasih untuk semua readers dan reviewers yang sudah mengikuti cerita ini dengan penuh dukungan dan kesabaran... Membantu dengan masukan, saran, dan semangat yang selalu membuat author sumringah sambil menahan diri meloncat sambil gegulingan di lantai saking bahagianya.. *lebay!

Anyway, author persembahkan dengan penuh cinta – *PLAK! – bagian terakhir dari fanfic pertama yang malah tersendat macam hidung mampet kena flu (perumpamaan macam apa ini?!)

Sekali lagi, terima kasih atas kesabaran readers sekalian~ See you in another story~

Chapter 16

Pertempuran telah usai, namun Toushiro Hitsugaya masih memiliki tugas yang harus dituntaskannya. Menegakkan diri, ia menghampiri Komandan Tertinggi. Shinigami yang telah uzur itu menatapnya dengan mata menyipit penuh penilaian dan juga otoritas. Toushiro bisa merasakan, bahkan tanpa perlu menatap lurus ke matanya, tajamnya tatapan dan kekuatan reiatsu-nya yang melebihi dirinya sangat mengintimidasi.

"Aku yakin kau menyadari sepenuhnya akibat dari ketidakbertanggung jawabanmu, Komandan Hitsugaya," katanya datar.

"Ya," kata Toushiro tanpa nada. Penyesalan, rasa malu, dan kekecewaannya bukan hal yang pantas diperlihatkan. Cukup ia mengetahuinya, dan Komandan Tertinggi pun memahaminya. "Saya akan menerima konsekuensinya. Sebelum itu." Toushiro menyerahkan Segel Raja kepada pemimpin Gotei 13 itu. "Misi tidak resmi mengambil kembali Segel Raja sudah saya selesaikan."

"Misi tidak resmimu sukses kalau begitu," kata Komandan Tertinggi, menerima artifak keemasan itu dari si rambut putih. "Tapi, kurasa misi ini bukan tanpa kompensasi."

Mereka semua menatap para penyihir Fairy Tail. Setelah sukses menjatuhkan benteng buatan itu kembali ke permukaan, empat penyihir dan satu roh Celestial kembai ke Bukit Soukyoku dengan tampang berpuas diri. Setelah mereka tiba, si penyihir bintang meminta Loke untuk menutup sihir pemanggilnya. Loke aka Leo sang Singa baru mau kembali ke Dunia Roh Bintang setelah Lucy yang dirayunya sampai wajahnya semerah tomat mengusirnya dan Erza mengancamnya dengan kapak sesenti dari lehernya.

"Tempat mereka bukan di sini," lanjut Komandan Tertinggi, sementara para penyihir muda itu tampak sibuk sendiri.

"… bego, Gray! Pakai baju sialanmu itu, Balok Es!" protes Natsu.

Memang benar, si penyihir es itu bertelajang dada. Kemejanya entah di mana.

"Daripada kau menggerecokiku, kenapa tidak kau carikan, Mata Sipit?!"

"Salahmu sendiri punya kebiasaan-bego-melepas-baju, Mata Sayu!"

"Masih untung dia masih pakai celana," kekeh Gajeel.

Ichigo menoleh ke arah Toushiro, yang mengernyit menatap para penyihir itu. "Apa mereka selalu begitu?"

Toushiro menghela napas pelan, "Lebih dari yang bisa kau bayangkan." Toushiro mengerling ke benteng yang dibangun Kusaka yang tadinya mengapung di udara dengan angkuhnya. Sekarang benteng itu hanya puing-puing. Tak bisa dikatakan rata dengan tanah, tapi semua bongkahan sisa benteng dan es-es penyangganya itu berserakan di kaki Bukit Soukyoku. Arah pandangan sekilas si rambut putih itu tak luput dari perhatian sejumlah besar shinigami, yang kemudian menatap para penyihir dengan sweatdrop komikal di kepala mereka. Hanya dengan jumlah segitu bisa menghasilkan sesuatu se-destruktif itu?!

Sepertinya Exceed putih bernama Carla itu tidak berbohong…

"Sepertinya," Erza berjalan mendekati Toushiro dan Komandan Tertinggi dengan senyum ramah, "semuanya sudah selesai."

Toushiro mengangguk, "Semuanya baik-baik saja, kulihat."

"Hahaha! Begini sih kecil!" kekeh Natsu. "Lihat, aku bahkan tidak dapat patah tulang –OUCH!"

Gajeel menendang tulang kering Natsu, membuatnya jatuh terjungkal.

"Bagus, Gajeel," kata Erza sambil mengangguk setuju. "Si sombong ini perlu dihajar sesekali."

"Tapi Erza! Kau menghajarku tiap hari!"

Erza mengabaikan erangan dan protes Natsu dan memberi bungkukan sopan pada Komandan Tertinggi. "Maafkan kami atas kekacauan ini. Kadang kami, eh, agak suit mengendalikan diri."

"Bukan pertama kalinya," kata Komandan Tertinggi datar."Meskipun demikian, tidak seharusnya masalah di Soul Society melibatkan dunia fana seperti kalian," kata Komandan Tertinggi. "Kami akan menghargai jika kalian tidak memberitahukan siapapun tentang shinigami dan Soul Society."

"Serahkan pada kami, Kakek!" kata Natsu riang, sementara Toushiro menahan keinginan untuk menepuk dahinya melihat ketidaksopanan Dragon Slayer yang satu itu pada atasannya. "Kami akan menjaga rahasia!"

"Segel Raja masih aktif karena ia belum membalik kekuatannya pada kalian," kata Komandan Tertinggi, mengabaikan ketidaksopanan Natsu itu.

"Yah, paling tidak urusan di sini sudah selesai," kata Gajeel.

"Hampir," kata Toushiro. "Tinggal kalian."

"Dan kau akan tinggal, benar?"

"Ini adalah tempatku seharusnya berada," sahut Toushiro. Erza bisa merasakan kebanggaan saat si rambut putih mengatakannya. Erza tersenyum simpul.

"Tentu saja. Yah, sepertinya," para anggota Fairy Tail lain menghentikan ocehan mereka dan mendekati sang Titania, "kita berpisah jalan."

Tepat saat itu, lingkaran sihir kembali terbentuk di bawah kaki Erza, sementara tubuh penyihir berambut merah itu diselimuti cahaya putih menyilaukan. Saat cahayanya memudar, sang Titania mengenakan zirah yang lain. Bentuk zirah itu agak mirip dengan Heaven's Wheel Armor, kecuali bahwa zirah itu lebih memberikan kesan megah daripada kesan pertarungan yang dibawa zirah yang sebelumnya. Senjata yang dipegang Erza – itu kalau bisa dikatakan senjata – adalah tombak besar dengan rangkaian daun salam di puncaknya dan bendera dari kain beludru merah yang mewah berlambang simbol Fairy Tail dari benang emas. Bendera itu berkibar saat angin pagi bertiup pelan, juga membuat bunyi desir halus pada jubah beludru merah marun di zirah itu.

Erza tersenyum, sementara banyak shinigami memandang kagum pada zirah yang dikenakannya, "Farewell Fairy Tail Armor."

"Whoa… Aku tidak tahu ada zirah sekeren ini untuk perpisahan," komentar Ichigo.

"Zirah yang dirancang khusus untuk melepas anggota Fairy Tail yang berpisah dengan kami," kata Erza, yang kemudian menatap Toushiro.

"Aku rasa itu tidak perlu…"

"Paling tidak jangan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal," kata Erza halus. "Jangan membuat kami melupakanmu ketika kau memberi banyak hal untuk diingat."

"Keras kepala," bisik Toushiro.

"Bukannya kau juga?" komentar Ichigo nyengir.

"Yah, bagaimanapun juga," kata Erza, "inilah Tiga Hukum Fairy Tail."

"Eh?" Ichigo mengerjap heran.

"Satu, kau tidak akan pernah mengungkapkan informasi rahasia Fairy Tail kepada siapapun selama kau hidup."

Toushiro merasakan sensasi ganjil di lengan kanannya. Dengan ragu, ia mengangkat lengan shihakuso-nya. Lambang hitam Fairy Tail di sana berpendar keperakan. Ichigo yang berdiri di sampingnya menatap simbol itu dengan tercengang.

"Dua, kau tidak akan pernah menggunakan hubungan dengan serikat untuk kepentingan pribadi." Erza tersenyum, bersama anggota Fairy Tail lain yang berdiri di belakangnya; simbol Fairy Tail di lengan Toushiro memudar perlahan.

"Tiga, walaupun jalan kita berpisah, kau harus memperjuangkan hidupmu, tak pernah menganggap keberadaanmu sesuatu yang sia-sia, dan ingatlah bahwa kau akan selalu memiliki tempat untuk kembali bersama teman-teman yang menyayangimu."

Simbol itu menghilang, seakan tak pernah ditorehkan di atas kulit pucat Komandan Divisi 10 itu. Angin kembali berhembus, membuat bendera di ujung tombak Farewell Fairy Tail Armor Erza terlepas. Bendera itu melayang ringan, dan mengikuti nalurinya, tangan Toushiro terangkat dan menangkap bendera itu.

"Waktunya pergi," kata Komandan Tertinggi dalam. Dan sekali lagi, Segel Raja bersinar dalam cahaya keemasan. Artefak kuno itu siap melepaskan kekuatan rahasianya untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke King's Realm. Tubuh para anggota Fairy Tail di telan cahaya keemasan itu. namun, sebelum benar-benar menghilang, Natsu dan Gray menembakkan luncuran energi sihir ke udara. Saat mencapai ketinggian tertentu, energi sihir itu meledak bak kembang api; bunga-bunga api berjatuhan, bersamaan dengan kepingan salju yang berkilau keperakan yang tak sampai menyentuh bumi. Dan hampir bersamaan, para penyihir itu mengacungkan kepalan tangan mereka ke udara; jari telunjuk dan ibu jari mereka terbuka.

"Selamat tinggal, Toushiro Hitsugaya," kata Erza.

"Yo, Toushiro!" cengir Natsu.

"Sampai jumpa, Toushiro," senyum Lucy.

"Sekarang, aku jadi satu-satunya penyihir es lagi," seringai Gray.

"Yo, Naga Es," dengus Gajeel.

"Terima kasih, Toushiro-nii," senyum Wendy, memeluk Carla yang mengangguk padanya. Happy melambaikan tangannya dengan riang, sementara Pantherlily memberi anggukan takzim. Dan bersamaan dengan memudarnya cahaya keemasan itu, para penyihir Fairy Tail menghilang.

"Menarik sekali mereka itu," komentar Ukitake, bersama yang lain menatap titik menghilangnya para penyihir muda itu. "Kau beruntung mengenal mereka, Hitsugaya-kun.

Tes.

Ichigo menoleh. Toushiro masih berdiri di sampingnya, dengan wajah tertunduk. Fokus pandangan Ichigo teralih pada bercak merah pekat di tanah. Dan mendadak, si rambut itu terhuyung jatuh.

"Toushiro!" seru Ichigo kaget. Dengan refleks ia menangkap tubuh mungil itu sebelum menghantam tanah. Dilihatnya wajah pias Komandan Divisi 10 itu, dan sebabnya sekarang kentara. Sebuah luka tusukan di perutnya menjadi asal aliran darah yang mengotori bagian depan shihakuso-nya. Kedua mata Toushiro tertutup dalam ketidaksadarannya, namun jelas tak menghilangkan rasa sakitnya.

"Dia kehilangan banyak darah," kata Komandan Tertinggi, lalu menatap Ichigo. "Bawa dia ke Divisi 4, Kurosaki, Komandan Unohana sudah di sana untuk menangani shinigami lain yang terluka."

Rasanya seperti déjà vu.

Saat ia membuka matanya, Toushiro mendapati dirinya sedang berbaring. Butuh beberapa detik untuk Toushiro memfokuskan penglihatannya, sambil mengerjapkan matanya yang terasa berat dan letih. Ia melihat warna putih tulang dari langit-langit yang masuk ke retina matanya. Bau-bauan ganjil ini terasa familiar baginya… Memorinya merekam ini… ya… Divisi 4.

Terasa olehnya panas bercampur nyeri di bagian perutnya.

Benar juga. Kusaka melukainya lagi.

Tapi kali ini ia tak menyesali rasa sakit itu.

Sudah selesai. Ia sudah menuntaskan hal yang tak bisa ia selesaikan bertahun-tahun lampau. Akan dirinya yang masih lemah saat itu… Akan dirinya yang meragu… Akan Kusaka. Saat ini ia sudah bisa melepaskan beban itu. Ia sudah menunaikan tugasnya sebagai seorang Komandan, sebagai seorang shinigami Gotei 13, sekaligus sebagai seorang teman.

Terlepas dari apa yang telah terjadi, akan luka yang tercipta sejak hari itu, akan sakit yang ia rasakan sejak hari itu, akan kebimbangan yang menggelayutinya sejak hari itu, ia bersyukur bertemu dengan Kusaka dan menjadi temannya.

"Andai saja saat itu kita tidak bertemu…" Toushiro teringat kata-kata terakhir Kusaka yang diucapkannya sebelum ia menghilang. Kata-kata yang nyaris tak didengarnya, namun bisa ditangkapnya, yang menyatakan bahwa Kusaka juga merasakan hal yang sama. "… aku tak akan pernah mengerti apa itu arti teman."

Toushiro mendengus pelan.

"Baka."

"Bicara tentang diri sendiri?"

Toushiro menoleh pelan. Dilihatnya Ichigo Kurosaki yang berdiri di dekat pintu. Tangan si rambut jingga masih pada kenopnya, tanda bahwa ia baru saja masuk ke dalam kamar itu. Toushiro mengernyit, bangkit dari posisi tidurnya. Ia mendesis pelan, merasakan sengatan nyeri saat ia bergerak.

"Ya ampun, jangan memaksakan diri!" keluh Ichigo, bergerak mendekati Toushiro. Tapi si rambut putih tak memerlukan bantuannya, berhasil duduk bersandar pada bantal-bantalnya. "Kau memang pintar, tapi kadang bisa bego juga…"

"Sepertinya kau membuatnya jadi jelas," kata Toushiro serak, namun tak menghilangkan nada sarkastiknya.

Ichigo mengulurkan segelas air padanya, yang diterima Toushiro dan segera meminumnya hingga setengah. "Jangan tersinggung, tapi itu kenyataannya."

Memutuskan meninggalkan topik itu, Toushiro menatap Ichigo, "Berapa lama aku tidur?"

"Hampir dua hari," kata Ichigo, mengangkat bahu. "Kau kehilangan banyak darah, tahu. Pingsan mendadak begitu, di depan Kakek lagi… bukan main. Dramatis sekali."

Toushiro berjengit. Dia pingsan di depan Komandan Tertinggi?! Memalukan!

"Dan Unohana-san bilang reiatsu-mu tidak stabil karena perpindahan dimensi itu, jadi mungkin kau akan perlu waktu sedikit lebih lama di Divisi 4…" Ichigo mendengus kecil melihat ekspresi tak senang Toushiro. "Jangan begitu, ini kan demi kebaikanmu sendiri... Menginap di sini atau tidak sembuh-sembuh? Pilih yang mana?"

Toushiro menggerutu pelan mendengar kebenaran di kata-kata Ichigo. Sepertinya ia harus mengalah kali ini. Ini langkah pertamanya untuk menebus kesalahannya, terutama pada Divisi-nya. Jika ia bisa segera pulih, ia bisa segera bekerja untuk membayar semua itu.

"Aku mengerti," ujar Toushiro pelan. Ia mengerling ke yukata putih yang dikenakannya. Perban tebal tampak menutupi luka di perutnya sampai ke dadanya. "Lalu apa yang-"

Kata-kata Toushiro terpotong begitu saja saat pintu kamar bergeser terbuka dnegan bunyi debam keras. Rangiku Matsumoto berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.

"Komandan! Aku rasa aku dengar suaramu – anda sudah bangun!" katanya riang. "Oh! Aku kangeeeeen!"

Rangiku melompat masuk ke ruangan dan langsung memeluk Toushiro. Ichigo berjengit melihat si rambut putih menghilang dalam dekapan erat letnan-nya. Yang bisa ia lihat hanyalah tangan Toushiro yang berusaha dengan sia-sia untuk melepaskan diri dari letnannya. Suara Toushiro teredam tak berarti.

"Jangan pergi lagi, ya, Komandan… Gak bilang-bilang lagi…. Jahaat!"

"Hrmmmph! Lppphhkhhh! Grrphhhh!"

Tapi Rangiku masih saja memeluk Toushiro. Sepertinya tinggal tunggu waktu si rambut putih mati kehabisan napas….

"Er, Rangiku-san… sepertinya Toushiro tidak bisa bernapas…" kata Ichigo gugup.

"Eh?"

Rangiku melepas pelukannya. Dilihatnya wajah Toushiro yang pucat dan tiba-tiba saja matanya berputar dan…

"Ah! Komandan! Kenapa malah pingsan?!" jerit Rangiku panik, mengguncang bahu Toushiro yang lemas. "Komandan! Komandan!"

"Rangiku-san! Hati-hati!" seru Ichigo khawatir.

"Tapi, tapi!" ujar Rangiku, "Komandan-!"

"Ada apa ribut-ribut?"

Ichigo dan Rangiku menoleh. Komandan Unohana berdiri di ambang pintu. Tersenyum. Dan entah bagaimana, senyum itu mengirimkan gelanyar perasaan ganjil. Ichigo bergidik. Uh-oh….

"Komandan Unohana!" seru Rangiku. "Komandanku pingsan lagi!"

Komandan Divisi 4 menghela napas. Ia cukup tahu situasinya hanya dengan melihat akibatnya, lagipula dia cukup mengenal Rangiku Matsumoto. Siapa yang tidak pingsan jika kau baru bangun dari koma dan dipeluk sampai kehabisan napas?

"Aku sarankan kau tidak melakukan ha seperti itu ketika Komandan-mu baru saja bangun, Rangiku-san."

"Melakukan apa?" Letnan cantik itu mengerjap bingung.

Ichigo menghela napas putus asa. Komandan Unohana menggelengkan kepalanya tak sabar.

Toushiro Hitsugaya yang dewasa, dingin, dan kaku. Rangiku Matsumoto yang ceria, kekanak-kanakan, dan naif. Apakah ada kepribadian yang tertukar? Itu adalah salah satu misteri di Seireitei yang belum terpecahkan.

Seireitei berbenah.

Itulah agenda kerja hampir seluruh personel Gotei 13 beberapa hari berikutnya. Dampak pengaruh artefak bernama Segel Raja yang sekarang sudah dikembalikan dengan aman dan disimpan dalam damai di King's Realm nun jauh di sana, untungnya tidak sampai menyebar ke seluruh Seireitei. Hanya sewilayah kecil yang sebesar luas bukit Seireitei saja. Lagipula, benteng buatan sudah rata dengan tanah, hanya meninggalkan puing-puing yang siap didaurulang menjadi bangunan-bangunan baru. Korban jiwa? Sejauh laporan Divisi 4, cedera paling parah hanyalah satu atau dua tulang patah yang bisa disembuhkan dalam waktu dua puluh empat jam oleh Komandan Unohana. Tidak masuk hitungan dengan Komandan Hitsugaya yang memang sudah luka parah sebelum insiden berlangsung atau duo letnan – Izuru Kira dan Shuuhei Hisagi – yang memang sudah menginap di salah satu ruang inap di sana sebelum kekacauan di Seireitei terjadi.

Toushiro sudah diizinkan meninggalkan ruang rawatnya pada hari ke-enam sejak ia masuk di barak Divisi 4. Begitu ia melangkahkan kaki keluar dari sana, ia tidak menuju divisinya sendiri, melainkan menghadiri sidang di Centra 46 untuk mengklarifikasi keterlibatannya dengan insiden Segel Raja. Sidang selama lima jam yang menjemukan sekaligus membuat panas hati itu berujung dengan pembebasan atas tuduhan dan pencabutan status buronan sekaligus terpidana matinya. Sanksi-nya? Itu diterimanya di rapat komandan satu jam kemudian di Ruang Rapat Utama di Divisi 1 dalam putusan sanksi atas apa yang disebut Komandan Tertinggi Yamamoto sebagai 'Pelanggaran Kode Etik dan Kehormatan Komandan Gotei 13'. Hasilnya, ia diberi hukuman 'menyenangkan' untuk membantu kegiatan administrasi dan komando Divisi 3 dan Divisi 9 bersama dengan divisinya sendiri selama tiga bulan berturut-turut.

Sial. Lebih banyak paperwork. Sepertinya Komandan Tertinggi tahu betul apa yang membuatnya benar-benar merasa terhukum dan merana lebih parah daripada di penjara yang dindingnya terbuat dari batu sekki seki dalam waktu yang sama.

Berhasil mempertahankan ekspresi datarnya, Toushiro menerima hukuman itu, yang dimulai esok hari – mengingat putusan sidang dan hukumannya memakan waktu nyaris seharian, dengan besar hati. Sadar betul ia bahwa inilah harga yang harus dibayarnya atas tindakannya waktu lalu.

Ketika ia sudah turun dari Divisi 1 dan bermaksud untuk kembali ke Divisi 10 ketika sosok yang sangat familiar sudah menunggunya di undakan tangga paling bawah. Rangiku Matsumoto bersandar di samping pilar, tersenyum ketika ia mendekat.

"Sudah selesai, Komandan?" tanyanya riang.

Toushiro mengangguk.

"Ini yang tadi anda minta," kata Rangiku sambil menyerahkan kain lusuh kecoklatan yang bergulung ke tangan komandannya. "Boleh aku ikut, Komandan?"

"Terserah kau saja."

Dia berjalan melewati Rangiku, yang mengikuti di belakangnya. Dalam diam, kedua petinggi Divisi 10 itu meninggalkan pusat Seireitei. Rangiku mengenal arah ke mana kaki komandannya itu pergi ketika bangunan putih khas hunian para shinigami semakin menipis; area pemakaman para shinigami dan murid Shinou yang gugur dalam tugas.

Rangiku membiarkan sosok kecil komandannya memasuki area itu, menunggu beberapa langkah di belakangnya, memberinya privasi. Ia melihat Toushiro berhenti di depan sebuah tugu batu tua berukir nama yang sangat familiar, lalu membungkuk untuk meletakkan gulungan kain lusuh itu sebelum membukanya. Sebuah zanpakuto yang patah tergeletak di tengahnya, berkilau dari gagang perunggu hingga bilah tajamnya dalam matahari sore yang keemasan.

Toushiro menatap zanpakuto yang nyaris serupa dengan yang dibawa di punggungnya. Dulu, ia tak pernah mendatangi tempat ini meski Centra 46 cukup berbaik hati memberitahukan di mana ia bisa memberi penghormatan terakhir pada Soujiro Kusaka setelah insiden itu berdekade lalu. Ia dulu merasa tak memiliki cukup keberanian untuk datang, tenggelam dalam rasa bersalah dan duka.

Sekarang, ia sudah tahu apa yang seharusnya dilakukannya sejak dulu.

"Selamat tinggal."

Ya, mengucapkan perpisahan dengan layak.

Ia membetukan kerah shihakuso-nya, meluruskan diri, dan berkata dengan nada pelan, "Matsumoto."

"Ya, Komandan?" sahut sang letnan.

Toushiro menyilangkan tangannya di depan dada, "Maaf untuk semuanya... terima kasih."

"Huh? Tadi Komandan bilang apa?" Rangiku tahu betul apa yang dikatakan komandannya. Tapi, pikirnya seperempat geli, seperempat haru, seperempat kaget, seperempat bingung, jarang-jarang komandan dinginnya bilang terima kasih!

"Bukan apa-apa. Ayo kembali."

Toushiro bergerak cepat melewati Rangiku yang bersusah payah menyembunyikan senyum senang sekaligus niat usilnya. "Yah~ sudah mau balik? Ayo kita pulang awal hari ini.. ada pemandian air panas baru dekat sini, lho~"

"Kalau mau pergi saja sendiri, setelah kau bereskan kerjaanmu, tentu."

"Jangan bilang gitu dong~ Ayolah, Komandan..."

Toushiro mengabaikan total letnannya yang merengek seperti anak kecil, seperti biasa. Ia melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah lebih ringan dari yang pernah dirasakan dan hati lebih bebas sementara matahari semakin menuju ke barat dan langit biru tinta mulai tampak di sisi timur. Sebuah bintang putih kebiruan sudah muncul di salah satu sudut, berkelip melawan kegelapan.

Dia ingin tahu apa yang dilakukan para penyihir Fairy Tail di aula serikat sekarang. Ia tersenyum tipis, sementara Rangiku masih berusaha membujuknya di belakangnya, tahu betul apa jawabannya.

Berlapis dimensi dari Seireitei, kehebohan terjadi di aula serikat sihir terbesar dan terkuat di Kerajaan Fiore, tepatnya di Kota Magnolia. Bendera-bendera warna-warni dirangkai dan digantung di antara pilar. Sejumlah balon juga diikat di sudut-sudut turut meramaikan suasana. Percakapan dan tawa menggema, ditingkahi suara kunyahan lahap dan tegukan minuman. Tak lupa, ada luncuran api, hujan bongkahan es, lemparan perabot, bunyi hantaman tinju, serta tak lupa adu umpatan menyelingi acara. Di bagian atas bar ada spanduk besar bertuliskan, 'Perpisahan Naga Kecil Fairy Tail, Toushiro Hitsugaya'.

Meski pesta itu tanpa bintang utamanya, bukan berarti tak kehilangan maknanya. Karena sampai kapanpun, dia akan tetap mereka ingat sebagai bagian dari mereka. Ia yang sudah berjuang dan bertarung bersama dengan mereka adalah teman mereka. Keluarga mereka. Itu membuatnya layak untuk tetap diingat.

Seperti Toushiro yang mengingat mereka sama dalamnya. Sebuah panji beludru merah dengan tenunan lambang peri berekor berwarna emas di tengahnya tersimpan dalam bingkai kaca, tergantung di kantor pimpinan Divisi 10. Penanda bahwa persahabatan bukan hanya memberi semangat dan menerimanya, namun berjalan bersama, menguatkan ketika lemah, dan mengingatkan ketika kuat, agar bisa menghadapi dunia tanpa tercabik penyesalan akan kesendirian.

*THE END*