Fillers Heart
Story by : Me
Disclamer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : Sasuke U x Hinata H
Genre : Romance, Hurt
Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya,
Chap VII
Tuk
Suara denyit kursi yang ditarik mengubah atensi gadis pemilik byakugan itu, sesaat ada kebahagian yang menyeruak memenuhi hatinya… akhirnya setelah berhari-hari ia bisa melihat kembali onyx mata yang ia rindukan "Sasuke-san…" sapa Hinata lengkap dengan rona pipinya.
"Apa aku terlambat?" tanya Sasuke cemas
Hinata menggeleng lembut "Tidak… aku yang memang datang lebih awal." Hinata menjelaskan.
"Hinata..." ucap Sasuke sendu, rasa-rasanya tenggorokannya tercekat jangankan berbicara, menarik nafas-pun Sasuke merasa sulit "Kenapa kau menghindariku selama beberapa hari ini? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Sasuke.
"Ti-tidak, Sasuke-san… a-aku hanya merasa tidak enak badan beberapa hari ini." jawab Hinata berbohong amethyst nya bergerak gelisah, mencari perlindungan dari onyx yang terus menerus menatapnya sedari tadi.
"Begitukah?"
Dan kehengingan kembali mengambil alih suasana senja ini, degup jantung Hinata terus berdetak abnormal sedari tadi, bisakah ia melakukan ini?
"Oh iya, apa yang ingin kau bicarakan denganku Hinata?" tanya Sasuke akhirnya memecah keheningan yang tercipta beberapa saat.
Hinata tersenyum lembut, walau dalam hatinya sungguh tersimpan jutaan perasaan luka yang ia sembunyikan, sedari tadi ia terus menerus berfikir, apakah ini akhirnya, apakah tidak mengapa melakukan ini?, dan ia pun terus menerus menyakinkan hatinya untuk tidak mengapa melakukan hal egois satu kali ini saja, ia pun ingin memiliki apa yang selama ini ia inginkan.
"Tidak ada yang ingin kubicarakan Sasuke-san, aku hanya ingin menghabiskan hari libur kerja dengan mu, apakah tidak boleh?"
Sasuke tersentak…
Ucapan Hinata membuat ia menahan nafasnya sesaat, benarkah yang ia dengar saat ini? Hinata ingin menghabiskan waktu dengannya? dan ini Hinata sendiri yang mengajaknya terlebih dahulu.
Jantung Uchiha Sasuke bertalu-talu, kebahagian terasa memenuhi aura café saat ini "Ten-tentu saja boleh!"
"Syukurlah…" ucap Hinata sambil tersenyum "Baiklah, bagaimana jika hari ini kita pergi ke sana?" sambung Hinata sambil mengarahkan jari telunjuknya ke depan café.
Alis Sasuke bertaut tanda ia bingung "Tokyo land park?"
"Ya, wahana bermain disana banyak, dan aku ingin mencobanya dari dulu, Sasuke-san mau piknik ke sana? aku pun membawa bekal piknik." sambung Hinata sambil mengangkat kotak bekal makan dan menggerak-gerakannya.
"Hakh…" Sasuke mendengus geli, rona merah memenuhi garis pipinya. Kenapa Hinata-nya hari ini bersikap manis seperti ini? dan apa-apaan ajakannya ini, bukankah ini yang namanya kencan? jadi Hinata mengajaknya kencan?.
"Sasuke-san kau keberatan?" tanya Hinata cemas melihat Sasuke tanpa respon apapun.
Padahal yang perlu kau tahu Hinata, Sasuke saat ini sama sekali tidak bisa membedakan ini mimpi atau bukan.
Ia menggeleng cepat dan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tanda setuju dengan ajakan gadis Hyuga didepannya ini.
Tidak mengapa kah Kami-sama?
Aku berbuat dosa untuk kali ini saja.
Tidak ada satu kata pun yang pas untuk menggambarkan betapa kebahagian saat ini memenuhi setiap sel darah yang mengalir di tubuh Sasuke Uchiha, berada sedekat ini dengan Hinata dengan range waktu yang lama. Tidak ada alasan makan siang, tidak ada alasan pekerjaan yang selama ini selalu Sasuke gunakan hanya untuk menjalin komunikasi dengan bidadari pengisi hatinya.
Hanya ia dan Hinata siang ini.
Hinata bergerak kesana kemari, seperti sepasang kekasih yang menghabisakan akhir minggu bersama, Hinata-nya menaiki semua wahana yang tersedia di land park ini, ia tersenyum, ia tersedak minuman yang ia minum, ia berbicara dengan mulut penuh makanan, dan ia tertawa sampai meneteskan air matanya.
"Sasuke-san, ini sudah senja." ucap Hinata yang saat ini sedang duduk dikursi taman, amethyst nya mengarah ke luasnya langit senja.
"Ya, apa kau senang hari ini Hinata?" tanya Sasuke onyx-nya tidak pernah sekalipun melepaskan setiap gerakan yang dilakukan Hinata, melihatnya dan merekamnya di memori otaknya.
"Tentu saja, kemana lagi kita setelah ini?" ucap Hinata sambil memiringkan kepalanya.
Degggg
Kenapa detak jantung Sasuke Uchiha belum terbiasa juga jika berdekatan dengan Hinata-nya "Kau ingin kemana lagi?" ucapnya kemudian setelah ia berhasil menormalkan kembali fungsi detakan jantungnya.
Hinata menggembungkan pipinya, ia menautkan alisnya tanda ia sedang memikirikan sesuatu.
Kau tahu Hinata Hyuga, setiap ekpresi yang kau lakukan hari ini selalu membuat Sasuke Uchiha mati-matian menahan hasrat, menahan ekpresi yang terasa merangsak keluar.
"Sekarang terserah Sasuke-san saja, aku kan sudah tadi mengajak Sasuke-san ke wahana ini, dan sekarang giliran Sasuke-san yang menentukan tempatnya." ucap Hinata.
Sasuke mendengus geli "Baiklah… bagaimana jika kita makan malam disana?" tawar Sasuke onyx-nya menatap lurus pada restoran klasik yang dari bangunannya saja sudah sangat terlihat estetika tinggi yang ditawarkan restoran ini.
"Hai…!" ucap Hinata seketika.
##
Malam ini, salah satu malam terindah yang pernah Sasuke rasakan, rasa-rasanya sudah terlalu lama ia merasakan perasaan bahagia dimalam hari, terakhir yang dia ingat tentang perasaan kebahagian di malam hari hanya saat pertama kali ia terluka karena Hinata, terluka karena terlibat perkelahian dengan lelaki brengsek yang membuat Hinata-nya ketakukan.
Dan ia,
Kini merasakan perasaan damai dimalam hari lagi, perasaan bahagia yang bahkan ratusan kali dibandingkan dengan kebahagian malam itu.
Ia dan Hinata duduk berdua menghabiskan makan malamnya, ini hari terbaik sepanjang hidupnya.
Kebutuhan ia terhadap Hinata bahkan melebihi yang ia rasakan, bisa menghabiskan waktu bersama Hinata saja sudah memberikan perasaaan yang seperti ini, apalagi jika ia benar-benar bisa memastikan Hinata menjadi miliknya? Bahkan bayangan kebahagiannya pun tidak bisa Sasuke imajinasikan.
Seketika terlintas siluet dokter bersurai putih di pikiran Sasuke.
Ia mengepalkan tangannya, moodnya benar-benar berubah seketika, ia ingin sekali bertanya pada Hinata perihal hubungannya dengan Toneri, tapi ia pun takut akan jawabannya, ia takut jawaban yang di berikan Hinata menghancurkan hatinya yang saat ini sedang bahagia.
Maka dari itu ia butuh menenangkan dirinya sendiri "Hinata… aku ke toilet sebentar." ucap Sasuke.
Dan Hinata hanya tersenyum lembut…
Seketika senyumnya memudar dengan menghilangnya tubuh besar Sasuke Uchiha yang menuju restroom.
Tangannya bergetar hebat, ia meneteskan airmatanya "Ma-maafkan aku Sasuke-san" ucapnya bergetar, "Ma-maafkan aku bersikap egois saat ini, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jika menghabiskan waktu denganmu."
Ia pun mengangkat tangannya, memberi kode pada pelayan untuk mendekat padanya.
##
Ada berjuta perbedaan diantara kita,
Biar bagaimanapun aku berusaha…
Kita hidup tidak didunia yang sama
Sasuke-san… maafkan aku
"Hinata?" tanya Sasuke panik.
Dan Hinata hanya tersenyum seperti biasa, ia sesegukan, wajahnya memerah sempurna.
Hinata Pov
'Sasuke-san…'
Hinata terisak pelan, merasakan perasaan nyeri yang luar biasa melanda hatinya.
Hinata memang sengaja memesan minuman beralcohol tinggi, agar semua perasaan dan logikanya menguap bersama minuman itu, ia ingin membuat memori terindah dengan yang terkasih sebelum ia mengkahiri perasaanya, ia ingin Sasuke menjadi yang pertama untuknya, ia ingin membebaskan sikap pemalunya dengan minuman itu dan membuat Sasuke menjadi yang pertama untuk Hinata.
Ya, Hanya ini yang Hinata inginkan…
Ia hanya ingin pujaan Hatinya menjadi yang pertama untuknya, karena jika mengharapkan dirinya menjadi yang pertama bagi Sasuke jelas mustahil, ia dan seorang Uchiha jelas berbeda kasta.
Mungkin terdengar licik,
Tapi ia… hanya ingin merasakan bagaimana rasanya satu malam yang ia habiskan dengan sesorang yang selama bertahun-tahun mengisi hatinya.
Karena,
Setelah pesta malam itu,
Setiap hari, setiap pagi setiap berita di televisi, surat kabar bahkan berita di internet semua membicarakan perihal Uzumaki Karin yang hadir di pesta ulang tahun Uchiha Corporation dan menyangkut pautkan dengan perjodohan dua klan tersohor di Jepan.
Hinata patah hati, jelas saja!
Padahal faktanya,
Sasuke hanya mengenal Karin sebatas sepupu dari sahabat bodohnya, hanya itu tidak lebih.
Karena, semenarik apapun wanita jika didepannya ada Hinata Hyuga, jelas bagi Sasuke onyxnya hanya tertutup untuk melihat Hinata.
Karena, wanita yang sempurna didunia ini hanya Hinata-nya.
Air mata mengalir dari amethyst nya.
'Tidak mengapa kan Kami-sama? Aku berbuat curang saat ini?
Ya, aku tahu… Uzumaki-san jelas lebih layak untuk Sasuke-san, bahkan jika aku menukarkan seluruh perbuatan baik yang aku lalukan di dunia ini masih belum layak untuk berada disisi Sasuke Uchiha. Maafkan aku malam ini Kami-sama, aku hanya ingin tau… bagaimana rasanya di cintai Sasuke-san, walau hanya malam ini, tolong maafkan keegoisanku malam ini Kami-sama, karena setelah malam ini… aku… aku… aku akan melepaskan perasannku.' tutur Hinata dalam hati.
Hinata menghapus air matanya, membulatkan tekadnya, dan… menjemput kebahagiannya walau hanya malam ini.
'Uzumaki-san, maafkan aku melakukan ini pada tunanganmu.' lagi, Hinata bermonolog pada dirinya sendiri.
Hinata Pov end
HINATA MABUK !
"Hinata? kau kenapa?" Tanya Sasuke kembali, ia semakin panik.
Maafkan saya Uchiha-sama, nona Hyuga yang memesan minuman ini.
Sasuke benar-benar tidak bisa berfikir dengan benar, ia panik… melihat Hinata-nya dalam kondisi seperti ini ia jelas panik, ia membawa Hinata yang sudah sangat mabuk ke dalam mobilnya, ia bingung hendak membawa sang gadis ke mana, ke apartemen Hinata? jelas Sasuke tidak mau, ia takut dokter brengsek itu masih ada di sana dan ia akan memanfaatkan keadaan Hinata yang seperti ini, membawanya ke mansion? itu juga tidak mungkin, ada anikinya saat ini di rumah inti keluarga Uchiha, membawa seorang gadis masuk jelas akan membuat kehebohan esok harinya.
Pilihan terakhirnya…
Apartemen pribadi Sasuke Uchiha.
"Jika kau tidak kuat minum, kenapa kau memesan minuman dengan kadar alcohol yang tinggi seperti itu Hime?" tanya Sasuke pada gadis di gendongannya, yang jelas sekali tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Hinata terus meracau sedari tadi, fakta terbaru yang Sasuke tahu, Hinata-nya saat sedang mabuk akan berubah sikapya 180 derajat dari biasanya, sifat pemalu, sifat pendiam menguap entah kemana, sambil terus cegukan dan menarik-narik kaos yang dikenakan Sasuke.
Dengan perlahan ia membaringkan tubuh Hinata dalam kasur pribadinya, sangat lembut dan perlahan, ia tidak ingin membuat mimpi Hyuga-nya terusik.
Pandangan Sasuke penuh perasaan memuja pada gadis di hadapannya ini, ia perlahan menyampirkan poni tebal Hinata, dengan degup keras di jantungnya, perlahan ia mendekatkan bibirnya… sangat perlahan dan menahan nafasnya, ia memejamkan matanya… mengecup dahi Hinata dengan penuh kebahagian.
Tidak ada salahnya kan Sasuke memanfaatkan hal-hal yang bisa di manfaatkan dari kondisi Hinata yang seperti ini?
"Tidur yang nyenyak Hime…" ucapnya kemudian.
Greppp
Mata Sasuke membesar sempurna, baru saja ia ingin bangun dari posisinya, Hinata sudah memeluknya erat.
Hanya berdua diruangan pribadinya, terlebih dengan gadis yang seluruh bagian tubuhnya kau puja setengah mati.
Jantung Sasuke bertalu dan berdegup dengan kencang, mungkin saja ia merasa sedang berada di awang-awang saat ini, tubuhnya dan tubuh gadis pujaanya melekat sempurna, ia gugup… jelas saja.
"Sasuke-san… uhukk… jangan pergi… temani aku disini, uhuhkk... hikgh" ucap Hinata sambil terbatuk-batuk, amethyst nya terbuka separuh memandang Sasuke dengan perasaan yang sangat sulit diartikan bagi orang sejenius Sasuke.
"Ta-tapi…" jawab Sasuke gugup, ia mencari perlindungan dari amethyst Hinata yang sangat terlihat menggoda saat ini.
Tidak… ini tidak boleh.
Ia tidak boleh memanfaakan hal yang sedari dulu ia inginkan, dalam keadaan Hinata yang seperti ini, Hinata adalah dirinya… menyakiti Hinata sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri, Hinata murni… jelas yang terbaik dari semua hal yang Sasuke inginkan didunia ini.
Walau saat ini, perasaan Sasuke terasa menggebu-gebu, dengan seluruh hasrat yang seakan meminta di lepaskan, kulitnya bersentuhan dengan kulit halus Hinata membuat seluruh bulu-bulunya meremang, Sasuke merasakan tegang dan sedikit sesak.
Ia butuh berendam di air dingin, meredam semua hasrat yang bergelora di tubuhnya.
Tidak… Sasuke sama sekali tidak ingin melakukan ini dengan Hinata dalam keadaan seperti ini.
"Hi-hinata, kau istirahat saja yah." ucap Sasuke sambil perlahan melepaskan pelukan Hinata.
Ruangan serasa panas bagi Sasuke, padahal pendingin ruangan sudah di set maksimal, tapi ia tetap merasa panas, lagi… ia melirik pada Hinata yang saat ini sedang tertidur pulas di kasur miliknya.
Drtttt… Drttt…
Getaran ponsel mengalihkan pandangan Sasuke, getaran ponsel yang berasal dari tas Hinata, ia pun membuka tas Hinata untuk melihat siapa yang berani menghubungi gadisnya pada jam seperti ini.
Toneri calling…
"Brengsek!" geram Sasuke.
Nafasnya terasa naik turun menahan amarah yang serasa meletup-letup dari dalam dadanya, kenapa selalu harus ada dokter brengsek yang menggangu kebahagian Sasuke Uchiha.
Tangannya terkepal erat, hingga buku tangannya terlihat memutih.
Accept panggilan
Ya, Sasuke sengaja menerima panggilan dari Toneri, ia ingin tahu, apa yang akan dibicarakan oleh dokter ini pada gadis pujaannya.
"Hinata-chan? Moshi-moshi?..." Sahut Toneri di ujung panggilan sana
'Hinata-chan!?' geram Sasuke dalam hatinya, berani sekali ia memanggil Hinata dengan suffix chan.
"Nani Hime? Moshi-moshi… kenapa tidak ada suara...? kau sudah tidur? Hime? ya sudahlah… tidur yang nyenyak… aku merindukanmu.. oyasumi"
Tuuuuutttt
Karena merasa tidak ada respon dari Hinata, Toneri memutuskan panggilannya.
Dan Sasuke.
'Brengsek!... Hime?! apa maksud si brengsek itu memanggil Hinata dengan sebutan Hime?! hanya aku didunia ini yang berhak memanggilnya seperti itu! Brengsek!.' raung Sasuke dalam hati.
Ototnya mengeras, ia cemburu, ia cemburu pada seseorang yang jelas belum menjadi miliknya, logikanya menguap… ia benar-benar ingin mengeluarkan semua emosinya, tapi… Ada Hinata disini? ia tidak ingin tidur nyenyak Hinata tergangu karena amarahnya.
Ia berdiri tegang, memandang nanar pada ponsel Hinata yang masih menampilkan contact dari Toneri Ootsuki, giginya bergemeletuk menahan amarah, nafasnya memburu 'Apa-apan tadi maksudnya dengan kata merindukanmu?' lagi, Sasuke bertanya pada hatinya sendiri.
Tidak…!
Setelah semua kebahagian yang ia rasakan hari ini, ia jelas tidak ingin kehilangannya lagi, kehilangan aroma Hinata berserta pemiliknya lagi.
Sasuke kehilangan logikanya,
Bolehkah ia berbuat curang malam ini?
Bolehkan ia mengikat Hinata-nya malam ini juga?
Ya, mungkin setelah ia melakukan itu dengan Hinata, tidak akan ada alasan lagi bagi Hinata untuk menolaknya dan melarikan diri darinya bukan?
Dengan melakukan itu, Sasuke tidak perlu takut akan penolakan bukan?
"Hn." Sasuke mendengus kasar, ia memijat pelipisnya… kepalanya rasanya pening, bau alcohol menyeruak masuk dalam indra penciumannya.
Sasuke menggeleng dengan cepat, membuang semua pikiran absurd dari dalam dirinya, ia… jelas tidak ingin menyakiti Hinata-nya.
Buru-buru ia meletakan ponsel Hinata ketempat asalanya dan ia menuju kamar mandi, meredam hasratnya… dan mencari distraction dari perasaannya.
Tappp…
Tapi, Sasuke menghentikan langkahnya, tanganya digengam erat oleh Hinata "Hinata, kau istirahat saja dulu."
"Sa-sasuke-san… a… aku."
Mata Sasuke membesar seketika, ia merasa seluruh pandangannya gelap, bahkan detakan jantungnya terasa seketika berhenti beberapa detik kemudian setelahnya berdetak ribuan kali dari biasanya.
Jiwanya serasa melayang.
Ini apa? Hinata menarik dirinya dan mencium bibirnya.
Ia sama sekali tidak bisa bereaksi apapun, bahkan ia lupa caranya bernafas.
Lembut dan terasa hangat sentuhan ciuman Hinata yang terasa oleh Sasuke, ia… memang sudah ratusan kali mungkin melalukan hal seperti ini, tapi… ciuman ini, ciuman yang Hinata berikan, ciuman termanis yang pernah ia rasakan seumur Hidupnya.
Ini, bukan mimpi kan?
Hinata melepaskan pagutannya, dan Sasuke hanya bisa berkedip, ia masih belum memberikan respon apapun atas hal yang Hinata lakukan tadi.
"Sa-sasuke-san… hiksss… a-aku…." ucap Hinata terbata-bata, wajahnya memerah sempurna, walau ia dalam keadaan mabuk, tapi logikanya masih bisa mencerna dengan baik perbuatan yang ia lakukan.
Sasuke mengerang menahan hasrat yang sepertinya tidak bisa lagi ia tahan, dan bagaimana mungkin bisa… kau menahan sesuatu yang sedari dulu hanya ada dalam mimpi-mimpi manis Sasuke Uchiha kini tersedia di hadapannya.
Amethyst Hinata terlihat sangat menggoda.
Sial! Sasuke sudah tidak tahan!
"Hinata-chan, kau tahu… betapa bahaya-nya jika dirimu dalam keadaan mabuk seperti ini, jika ada lelaki lain yang memanfaakan dirimu bagaimana?" bisik Sasuke seductive di telinga Hinata.
"Hn, yah… yang jelas tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, kau hanya boleh mabuk jika bersamaku, kau paham Hime?" titah Sasuke lagi, sambil terus melakukan sentuhan kepada Hinata yang semakin membuat bulu-bulunya meremang.
"Kau milikku sayang, dokter sialan itu atau siapapun tidak ada yang boleh memiliki-mu, kau tercipta hanya untuk ku, setelah ini… kau tidak mungkin untuk menolakku bukan?" Lagi, Sasuke bermonolog pada gadis di bawahnya yang tidak dalam kondisi baik.
Dengan perlahan, tangannya bergetar membuka baju yang di kenakan Hinata, sangat perlahan… onyx-nya memancarkan hasrat yang bertahun-tahun sudah Sasuke pendam selama itu.
Dan, Hinata pun merespon seluruh sentuhannya dengan baik.
Hinata miliknya!
Malam itu, Sasuke mengukuhkan ia pemilik gadis bermata byakugan itu.
Malam itu, Sasuke bergerak liar… seluruh hasratnya terasa meledak meminta di lepaskan, onyx-nya memanas dan menggelap menahan hasrat.
Malam itu, gadis manisnya, resmi menjadi wanitanya.
Dan Sasuke merasa menjadi lelaki paling beruntung didunia ini karena menjadi yang pertama untuk Hinata.
Tuk… tukkk… tukk…
Ya, yang terdengar hanya bunyi jam dinding yang tanpa henti terus bergerak mengikuti alur waktu.
Sudah tidak bisa di hitung berapa kali Sasuke menarik bibirnya membentuk senyuman di malam ini, ia bahagia… jelas saja!
Bahkan dibanding semua yang ia punya di dunia ini, tidak cukup menggambarkan kebahagian Sasuke Uchiha.
"Hime…" lirih Sasuke, ia menarik tubuh wanitanya kedalam pelukannya, Hinata-nya terlihat menggigil di ruangan kamar yang besar dengan tubuh yang hanya di lapisi selimut tebal.
"Hahahahahaa…" Sasuke tertawa perlahan "Kau kedinginan sayang?" lagi, sambil mengusap pipi Hinata perlahan, ia terus bertanya pada gadis yang jelas-jelas tidak akan merespon panggilannya.
Setelah perbuatan yang Sasuke lakukan, Hinata-nya tertidur pulas.
Srekkk
Ia menarik laci yang tepat berada disisi kasur Sasuke, dan mengambil kotak kecil Hitam, ia pun membuka kotak itu dan mengambil sesuatu di situ.
Sebuah Kalung?
Ya, sebuah kalung dengan liontin yang Sasuke pesan khusus…
Sebuah kalung yang sudah ingin Sasuke berikan saat pesta perusahaan Uchiha.
"Cantik" ucap Sasuke melihat kalung yang ia sematkan di leher kekasihnya.
Kekasih?
Sasuke mendengus geli atas pemikirannya sendiri, yah… ia merasa sudah menjadi kekasih Hinata.
Lebih tepatnya pemilik Hinata.
"Oyasumi Hime…." ucap Sasuke sambil perlahan mencium bibir Hinata.
Apakah ini sudah menemui akhirnya...?
Cahaya mentari senja masuk melalui celah-celah jendela kamar besar yang berada di lantai gedug Apartemen milik Sasuke.
Hinata yang terbangun, perlahan membuka matanya, ia masih merasa pening dikepalanya, perlahan bau asing memenuhi indra penciumannya, dan seluruh tubuhnya terasa sakit sekali.
Deggg
Matanya membesar sempurna, ini bukan kamarnya !
Jantungnya terasa berhenti berfungsi terlebih melihat lengan siapa yang memeluk pingganya.
"Sa-sasuke-san…" ucap Hinata
Air mata lolos mengalir dari amethyst indah Hinata, perasaan yang ia rasakan tidak bisa di jabarkan bahkan oleh hatinya sendiri, ia memang merasa bahagia Sasuke menjadi yang pertama untuknya, tapi ia pun merasa menyesal ia telah berbuat curang pada pria yang menurut ia sudah memiliki tunangan, serta ia pun merasa patah hati… hatinya terasa remuk, karena Hinata harus menepati janji-nya, janji pada dirinya sendiri untuk menyerah pada perasaanya, dan ia harus meninggalkan Sasuke-nya.
"Te-terima kasih Sasuke-san, dan… dan… maafkan aku" ucap Hinata terisak, ia menutup mulutnya, meredam tangis yang keluar dari bibirnya, seketika beranjak dari kasur dan meninggalkan kenangan malam itu beserta pengisi hatinya.
Melupakan Sasuke, dan pergi sejauh mungkin.
Karena ia sadar, ia harus menerima kenyataanya… Sasuke Uchiha jelas bukan untuk Hyuga sepertinya.
##
Selepas itu,
Sasuke yang bangun dihari ini dengan seluruh perasaan gembira, walau ia tidak melihat Hinata di sampingnya saat ia terbangun, Sasuke sama sekali tidak berpikiran apapun.
Yang ia pikirkan mungkin Hinata malu padanya dan pulang terlebih dahulu ke apartemennya.
Ia bersenandung kecil dan menuju kamar mandinya, harum Hinata masih memenuhi setiap sudut ruangan ini.
Membersihkan diri, dan pergi ke Uchiha Building, Sasuke berfikir… Hinata-nya pasti disana, karena hari ini operasional perusahaan sudah berjalan kembali.
There's nothing that I can do to stop me losin' you…
Tukkk
Sebucket bunga lavender yang ia genggam terlepas dari tangannya.
Ini apa?
Maksudnya apa?
Sasuke merasa rohnya melayang dan terlepas dari raganya.
"Hyuga-san sudah mengajukan pengunduran diri sejak 5 hari yang lalu Uchiha-sama."
Lutunya melemas, seakan tidak kuat menahan sakit hatinya, Sasuke ambruk saat itu juga.
"Hinataaaaaaaaaa!"
Lagi, Sasuke berteriak menyalurkan rasa sakit hatinya, berteriak memanggil belahan jiwanya, berharap yang ia dengar hari ini adalah mimpi buruknya.
Kenapa Kami-sama senang sekali mempermainkan hati Sasuke Uchiha?
Sebetulnya apa kesalahan yang Sasuke buat sehingga harus terulang kembali.
"Kau menghancurkan ku Hinata! sesaat kau membuatku merasa melayang, lalu kau singkirkan aku begitu saja dari hidupmu Hinata!"
Lagi, ia menggedor-gedor pintu apartemen Hinata yang jelas saja tidak akan ada respon, karena pemiliknya sudah meninggalkan apartemen ini.
Meninggalkan Sasuke dengan perasaan sakit yang menghujam jantungnya.
"Apa kau membenciku Hinata, hingga kau tega melakukan ini?!" Lagi, Sasuke meraung entah pada siapa.
"Kenapa kau memberiku kebahagian jika memang kau berniat meninggalkan ku!"
"Brengsek! keluar kau Hinata! Tolong jangan seperti ini, aku tidak sanggup, jika kau memang membenciku… lebih baik kau bunuh aku sekarang juga, tapi tolong… jangan menghilang lagi dari hidupku!"
"Hinata… Sayangku… "
Lagi, Sasuke terus mengumpat, menggeram dan berteriak-teriak meminta pemilik hatinya untuk keluar dari Apartemen-nya yang padahal Sasuke sendiri sudah tau jika Hinata sudah tidak ada lagi di sini.
Setelah kebahagian yang ia rasakan, apakah ini balasan yang harus dibayarnya?
Sementara itu di tempat lain, di belahan sudut Jepang yang lain.
Pemilik byakugan bersinar dan menatap penuh kebahagian, surai coklatnya yang indah bergerak menyambut pelukan orang yang ia sayangi "Hinata… kau kembali, Ni-san merindukanmu?"
"Aku juga merindukanmu Neiji-nisan…" balas Hinata sambil memeluk erat satu-satunya keluarga yang ia punya.
"Hem… kau membawa koper? jangan bilang kau akan pindah ke sini?" Tanya Neiji kemudian, alisnya mengkerut.
"Ya, sudah aku putuskan, aku ingin melepaskan semua cita-citaku dan aku ingin menemani Ni-san, memangnya tidak boleh?" ucap Hinata sambil menggembungkan pipinya.
"Hei… tentu saja boleh kau ini yah, dan ni-san malah senang!" ucap Neiji sambil mencubit gemas pipi gembil adik tersayangnya.
"Yokkata… aku lapar Ni-san… buatkan aku makanan oke?" ucap Hinata merajuk.
"Baiklah… mari, biar ni-san yang bawa kopermu."
Gedung Uchiha
"Keluar dari ruangan ku brengsek! jika kau tidak menemukan Hinata dalam waktu 24 jam aku akan membunuhmu!" raung Sasuke pada Jugo yang bergidik ngeri dan tergesa-gesa meninggalkan ruangan.
Ruangan yang biasanya tertara rapih dengan kesan mewah di setiap sudutnya yang dipenuhi barang-barang berkelas untuk menunjang kerja Sasuke Uchiha kini hancur berantakan.
Map-map yang berisi kontrak milyaran dollar, laptop, figura-figura penghargaan berserakan tak berharga oleh pemiliknya.
Karena, untuk apa semua yang ia punya jika Hinata lagi-lagi menghilang dan tidak sudi bersamanya.
Sasuke tersenyum mengerikan, aroma Hinata masih melekat di kulitnya, dan itu jelas… semakin membuat Sasuke merasa sakit di dada-nya.
Drrrttt…
Bunyi notification dari email yang di terima ponsel Sasuke mengubah pandangan Sasuke.
Tanpa minat ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas mejanya
'Shikamaru?' tanya Sasuke dalam hati, karena tidak biasanya sahabatnya mengirim pesan, jika pun ada keperluan Shikamaru biasanya akan mendatanginya secara langsung.
from:Shikamaru
"Sasuke, kudengar dari Temari hari ini adiknya, Gaara akan kembali ke Jepang, sebaiknya kau jaga Hinata mu itu, jangan sampai ia melihat dan mungkin jatuh cinta kembali pada Sabaku Gaara."
Ya… Hanya pesan singkat, tapi berefek sangat besar pada Sasuke Uchiha, tangannya terkepal keras.
Oh… jadi ini alasan Hinata meninggalkannya, ia ingin kembali pada mantan kekasihnya? Begitukah?
Tidak, Sasuke tidak akan membiarkannya.
Tidak cukupkah dengan Dokter brengsek yang Kami-sama kirimkan kini ia membawa kembali orang yang paling Sasuke takutkan, ia selalu takut… hati Hinata kembali pada kekasih dulu.
Dengan gelap mata, ia mengambil kunci mobilnya dan melangkahkan kakinya meninggakan gedung Uchiha ini.
Melanjukan tungangan kesayangannya membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan yang mengerikan, bayang-bayang masa lalu terlintas bagaikan scene film di memori Sasuke Uchiha, bagaimana dulu di tingkat awal Hinata yang selalu menghabiskan waktu dengan pria bersurai merah, dan bagaimana hatinya yang remuk rendam melihatnya setiap hari.
Tidak, Sasuke tidak menginginkan kejadian seperti itu terulang kembali, ini lebih dari mimpi buruk untukknya, ia harus menemukan Hinata-nya secepatnya, meminta maaf dan meminta ia menjadi miliknya… jika pun Hinata menolaknya, ia akan tetap memaksa Hinata untuk menjadi miliknya bagaimanapun caranya.
Dan,
Pikiran Sasuke yang memang tidak pada tempatnya membuat ia hilang konsentrasi mengemudi.
BRAKKKKKKK
Mobilnya menabrak pembatas jalan dan membuat pengemudinya terpental jauh, Sasuke mengerang… merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, pandangannya perlahan memutih… seketika senyum Hinata yang terlintas di onyx-nya… "Hinata…" perlahan seluruh penglihatan Sasuke memutih, ia hilang kesadaran.
Ruang IGD
Di sudut ruangan, ada Mikoto Uchiha yang menangis di pelukan suaminya Uchiha Fugaku, mereka yang saat itu ada di New York langsung terbang ke Jepang mendengar anak kesayangannya mengalami kecelakaan hebat.
Sementara itu,
Pandangan Itachi yang biasanya terkesan berwibawa, dengan tubuh tegapnya hanya bisa duduk menunduk lesu, sang Istri Konan Uchiha hanya bisa mengusap-usap punggung Itachi berusaha memberikan rasa tenang pada sang suami.
Adik tersayangnya, yang selalu ia jaga dengan segenap raganya, yang setiap keinginannya selalu Itachi penuhi sekarang tergolek tak berdaya, dengan seluruh alat bantu medis yang menunjang kehidupannya.
"Kami sudah melakukan MRI (Magneticresonanceimaging) pada jaringan Otak Sasuke-kun, dan ada kerusakan serta pendarahan distruktur otak bagian dalam Sasuke yang menyebabkan ia koma seperti saat ini, maafkan saya Mikoto-san, ini yang terbaik yang bisa kita lakukan, selebihnya kita pasrkah pada Kami-sama mengenai kehidupan Sasuke."ucap Shizune dokter pribadi keluarga Uchiha menjelaskan.
"Ta-tapi sensei, berapa lama ia akan tertidur seperti ini?" tanya Mikoto yang lagi-lagi menangis, ia benar-benar tidak kuat melihat putra bungsu kesayangannya dalam keadaan seperti ini.
"Tidak ada yang pasti dalam dunia kedokteran, bersabarlah Mikoto-san, kita hanya perlu banyak berdoa."
Menerbangkan sejuta perasaan rindu…
Ya, sudah 2 musim terlewat, Itachi Uchiha tetap berdiri… menatap nanar pada otouto tersayangnya "Hei, otouto… bukannya kau paling tidak suka jika aku memelukmu seperti ini? aku sudah memelukmu berulang kali, bangunlah Sasuke… merajuk lah seperti biasa, marahlah seperti biasa… apa kau tidak ingin membeli lamorgihi keluaran terbaru lagi? type terbarunya baru keluar bulan ini, bangunlah… sudah kupesankan satu untukmu?" Sahut Itachi pada Sasuke yang masih tertidur pulas, hanya bunyi tetesan air infuse yang membalas setiap pertanyaan Itachi.
"Hei, otutou… kau tenang saja, aniki ini pasti akan membawa Hinata-mu kemari, bertahanlah sebentar lagi."
Kreettt
Bunyi pintu ruangan yang terbuka perlahan membuat onyx sang sulung Itachi beralih atensinya "Jugo, bagaimana?" tanyanya datar.
Dan Jugo hanya menundukkan kepalanya tanda memberi hormat, ia kemudian perlahan mendekat pada sang sulung Uchiha, mendekat pada tubuh lemah atasan yang sangat ia hormati "Itachi-sama, aku akan ijin ke Cina hari ini."
"Cina? untuk apa?" Lagi, Itachi bertanya pada Jugo.
"Disana ada teman kuliah Hinata-sama, namanya Tenten, mereka teman dekat semasa di universitas, dan dia mungkin tahu dimana alamat kediaman Hinata yang sebenarnya." ucap Jugo menjelaskan.
Yah, memang setelah kecelakaan itu,
Itachi Uchiha tahu satu fakta yang terlewat dari adik tersayangnya ini, bagaimana selama ini Sasuke Uchiha memendam perasaan yang luar biasa terhadap gadis Hyuga yang hanya Itachi tahu melalui foto-foto yang terpajang penuh di ruangan pribadi Sasuke Uchiha.
Dan,
Itachi Uchiha dengan segala kekuasaan yang ia miliki, berusaha mencari sang gadis pujaan adiknya, tapi hasilnya nihil… Hinata Hyuga terasa di telan bumi, tidak ada satupun hal yang bisa menjelaskan dimana Hinata berada.
"Hn, kau disini saja temani Sasuke, berikan alamatnya padaku biar aku dan Konan yang pergi ke Cina." Titah Sasuke
"Anda serius Itachi-sama?" tanya Jugo memastikan.
"Ya, akan kulakukan apapun untuk membawa Hinata Hyuga kemari." ikrar Itachi.
Meski ku pejamkan mataku,
Dan sekali lagi kusadari...
Engkau tak juga kembali...
Segalanya begitu sepi
Mengapa kau tingalkan aku lagi
Dihatiku engkaulah satu-satunya
You're a loss I can't replace
I Love you so much... Hinata Hyuga
-tbc-
Ahhh… akhirnya up juga chap Vii, hounto ni arigatou buat yang sudah bersedia review cerita ini, semoga chap ini tidak mengecewakan, jujur… saya agak sedikit takut untuk membaca review, karena ada beberapa reader yang intinya tidak suka dengan karakter Sasuke di fict ini yang katanya terkesan mainstream dan ikut-ikutan author yang lain, jadi maaf yah saya tidak membalas review disini.
Saya sedikit bingung, dari awal fict ini di buat… memang karakter Sasuke saya buat seperti ini, dan saya minta maaf jika ada beberapa reader yang tidak suka dengan karakter Sasuke atau Hinata disini, padahal kan dari awal sudah ada warning OOC Chara.
Yah tapi, ya sudahlah…
Intinya terima kasih buat yang sudah review, sudah dibaca saja saya sudah senang kok. :D :D
Selepas FH ini, mungkin saya ingin membuat Gaa-Hina atau mungkin Naru-Hina… atau mungkin Sasu-Hina-Naru ada yang ingin kasih masukan mungkin?
Wkwkwkwkw… but all reader's, terima kasih buat all reader yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca FH ini, kritik dan sarannya saya terima dengan senang hati.
See you in last next chap, chap VIII chap terakhir, yang semoga bisa di publish juga di sabtu depan nanti.
Sankyu Arigatou,
Oyasumi…
Intan.
