Tak jauh beda tahun-tahun sebelumnya. Gemerlap cahaya lampu, hiasan pohon Natal membanjiri tempat-tempat umum di pusat kota.
Meski perayaan Natal di Jepang hanya sebatas seremoni dan bersifat komersial-sebab sebagian besar penduduknya beragama non kristen- namun semua tetap meriah, karena para pengelola berlomba menampilkan konsep terbaik.
Malam Natal di Jepang juga dikenal sebagai Valentine kedua. Di mana banyak pasangan kekasih yang menghabiskan waktu bersama, bahkan tak jarang dijadikan moment penting untuk melamar sang pujaan.
Hari ini, lantaran status single yang blue shappire sandang selama kurun 3 tahun terakhir, tentu saja ia tidak dapat melewati hal romantis semacam itu dengan orang terkasih.
Bagi Naruto, dari pada mencari seorang gadis yang belum tentu tak menusukkan sembilu ke jantungnya, menjaga agar cacing dalam perut tetap hidup adalah pilihan yang ia rasa jauh lebih tepat.
Yupz, bau uang bagi si surai pirang lebih menggiyurkan dari sedap aroma perawan.
"Oke-oke, tes..tes.."
Naruto mengendus ketiaknya sendiri.
Setelah ia rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari tempat paling riskan sebagai penyumbang bau badan terbesar itu, Naruto lantas beralih mengambil cermin yang telah ia siapkan di balik saku jasnya.
"Yosh, wajahku sudah ganteng maksimal. Hempp, rambutku terlihat menawan dengan gel sabotase milik kak Shisui. Oke, saatnya mempersiapkan diri."
Naruto memasukkan cerminnya kembali.
"Baiklah, Hime. Biarlah aku menyusun puzle hatimu yang sempat remuk, berkeping. Hancur, terjatuh, menyisakan serpihan kecil."
Menuruti kehendak Kakashi tadi siang, malam ini Naruto menemui kliennya di Kanto apartemen. Ia yang cukup pandai memix and match penampilannya, membuat entitas pria bermanik blue aquamarine tersebut nampak luar biasa.
Stelan kemeja polos berwarna abu dipadu dasi bergaris biru dongker sebatas pinggang. Jas navy terbuat dari bahan silk wool menimbulkan kesan mengkilat, sehingga jas yang Naruto pakai terlihat lebih gelamor. Ujung celana kainnya yang jatuh tepat di bagian atas sepatu, juga pantofel hitam dikenakan pemuda itu, yeah! Bisa dibilang, penampilan Naruto malam ini sesuatu, PERFECT!
.
Naruto menghela napas panjang. Kini di hadapannya berdiri pintu dengan nomor 121 di mana kamar si calon costumer tinggal.
"Oke, saatnya menekan bel."
Ding...
Dong...
Grek!
"H..hai?"
Di hadapannya kini berdiri seorang gadis dengan gaun minimalis. Sebuah lingerie merah membalut tubuh sintalnya. Bahannya yang menerawang, membuat pakaian dalam perempuan bersurai indigo panjang tersebut jadi kelihatan.
Naruto menelan ludah,
A..apa ini?
Rejeki?
Wajahnya sangat cantik. Kulitnya putih, dan terlihat begitu licin. Manik amethystnya yang sayu pun nampak menyorot teduh. Bibir rose merekah, semburat merah pada kedua pipi, tapi..
Naruto mengenduskan hidungnya,
"...?"
Ada yang aneh,
I...ini?
"Ah, mirip bau alkohol?" batinnya―
Pranggg!
Tanpa diduga gadis manis berdasar data memiliki nama Hyuga Hinata tersebut menghantamkan sebotol bir tepat ke mulut pintu di mana hanya berjarak beberapa centi dari tempat Naruto berdiri.
"Lelaki sialan! Keparat kau!" Sinisme Hinata menatap Naruto penuh kebencian.
"Eeeh?!"
Masih dalam keterbingungan, blue shappire kambali di buat terkejut. Sang kecubung batu tiba-tiba menarik dasi yang melingkar pada kerah lehernya― lalu menggiring ia masuk ke dalam apartemen.
"O..oi! Dasinya mencekikku!"
.
.
"Hai, Ikemen Paradise!"
[Biru berlian dan Kecubung batu~]
By
Kimono'z
Naruto_Masashi Kishimoto
Warning : Typo, Bad Story, OOC
.
.
"Tch, klienku seorang psikopat?"
Naruto duduk di atas ranjang. Sepasang tangan dan kakinya terikat tali tambang. Jika sewaktu datang tadi ia berpakaian rapi, kini berbanding 180°― berganti lusuh, bahkan beberapa kancing kemejanya luruh, lepas, jatuh berserakan di atas kasur.
Hinata, gadis itu nampak berjongkok pada kursi yang ia posisikan persis menghadap Naruto.
Sebotol minuman kembali ia teguk. Tatapan sinisnya tak jua memudar, hanya saja― kini netranya sedikit menyipit dengan mata seperti terkantuk.
"Lepaskan ikatanku! Kau ingin main-main, huh?"
Bukannya menjawab, Hinata hanya diam dan terus mengatensi aneh ke arah Naruto.
"Kau gila ya? tuli?"
Boug!
Sekaleng bir dalam keadaan utuh (belum dibuka sedikitpun), indigo lempar ke dahi si pirang yang tak pelak membuat satu benjolan manis bersarang pada keningnya.
"Aaggrhhrrrrr! Cukup! kupastikan kau menyesal cewek sialan―"
"Aku muak melihatmu," potong Hinata mulai ngelantur.
"Kau berkata jika aku satu-satunya gadis yang kau cintai. Kau juga bilang akan melamarku di malam tahun baru ini. Kau membuatku melambung, Gaara-kun."
Sesaat Hinata menunduk. Kikikan kecil sesekali terdengar, namun desah isak pula samar keluar.
"Hebat sekali, usai mengatakan semua kau bercumbu di depan mataku. Kau mengatakan aku gadis membosankan. Gadis kolot, ketinggalan jaman yang tak mengerti apa itu sex,"
"O..oi―"
Dia mabuk?
"Kau bahkan dengan mudahnya mengatakan 'bila kau mau kita bisa threesome. Aku akan menggilirmu'. Ucapan macam apa itu?!" Hinata melompat dari kursinya, "kenapa kau jahat sekali, GARA-KUUNN―"
Grebb...
Kerah pemuda bermarga Uzumaki tersebut tertarik.
Kedua mata dengan warna sangat kontras, biru berlian dan kecubung batu kali kini saling tatap dan bertemu.
"Katakan! Katakan di mana titik kesalahanku?!"
Berakhir,
Sudah berakhir,
Hinata hanyalah gadis rapuh yang tak mampu menampung intensitas bening dalam kelopaknya.
Manik memerah,
Desir sesenggukan,
Hinata menyerah,
Air mata memang bukan hal mudah untuk dapat di tahan seorang gadis selembut dia.
"O..oi―"
Jangan menangis,
Kau membuatku bingung.
"Gara-kun―" Hinata mendekatkan wajah, "Kau harus merasakan hal yang sama,"
Blub...
"Ugh!"
Ujung botol green fairy masuk ke dalam mulut Naruto. Memaksa ia meneguk minuman dengan kandungan alkohol 60% itu sampai habis.
Minuman yang terbuat dengan mendistilasi alkohol bersama rempah-rempah tersebut mendesak masuk mengaliri kerongkongannya.
Sedikit aneh, bagaimana bisa Hinata mendapat minuman demikian mengingat peredarannya sempat dilarang, dan berharga cukup mahal?
Tapi melihat gadis itu temasuk kaum borjuis yang banyak duwitnya, hal semacam ini jadi terkesan normal dan― oh wajar.
Naruto mencoba melawan. Tapi alkohol yang terlanjur masuk dalam tubuh, membuat ia tak berdaya.
.
~oOo~
.
Cit.. Cuit... Cuit...
"Hoamm..."
Manik lavender menangkap spectrum cerah menyusup dari balik jendela kaca. Sinar menyilaukan, mengintimidasi ia untuk segera beranjak dari tempat tidur.
Gadis beriris amethyst itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang nyaris kaku dan terasa sedikit sakit. Seperti baru menjelajah dalam hutan, ia menemukan hal aneh mirip bekas gigitan serangga menjalar dari leher hingga pergelangan tangannya.
"...apa yang terjadi?"
Kali kedua kecubung batu dibuat bingung. Kamarnya yang biasa tak jauh dari kata rapi, kini nampak berantakan. Benda-benda di luar kebiasan koleksinya terlihat terbaring asal di lantai. Seperti bekas botol-botol minuman, 2 utas tali tambang, sebuah jas, kemeja laki-laki, juga sepasang sepatu pantofel.
"Ugrr..." Manik Hinata mengernyit, "Aku tak pernah ingat membeli benda-benda in―"
"―ugh, sial, jadi semalam aku minum-minum?"
Tak tahan perutnya serasa diaduk, Hinata lantas menuju toilet yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.
.
Sampai di sana tanpa curiga ia langsung membuka pintu. Mengayunkan kaki satu langkah... Namun, apa yang ia temukan seketika membuat tubuhnya stagnan dan mematung.
Seorang lelaki bersurai kuning berantakan duduk di atas kloset kamar mandinya. Celana pria itu turun menyentuh lutut dengan dasi yang masih terikat pada batang leher.
Manik Hinata membulat, "...?!"
Seakan urat terkejut Naruto telah hilang, pemuda bergaris tipis pada kedua pipi tersebut hanya menatap datar.
"Apa kau lihat-lihat? dengan menatap orang yang sedang buang air, apakah membuat suasana hatimu jauh lebih baik, huh?"
Tersadar,
"K...KYAAAAAA!"
.
.
.
Tbc
Terimakasih sudah memfavo/follow/review Ikemen Paradise ^_^
Saya akan berusaha menuntaskannya sampai tamat.
Maaf, bila di prolog humornya terkesan garing, hahaha. Aku sebenarnya orang yang sedikit kaku dan kurang pandai dalam hal semacam itu. xD
Yosh,
Happy Reading Minna!
