"Mau apa kau?"
Tremor kontan menjalar, kala ucap sinis teralir mudah dari mulut lelaki di hadapannya. Tangan sulung Hyuuga tak henti gemetar, ketika ia menemukan sang kekasih tengah berdua saja bersama seorang gadis muda.
Bukan duduk bersebelahan dan mengenakan baju sempurna, keduanya nampak berbaring dalam satu ranjang, dengan kondisi yang tidak biasa. Sang kekasih terlihat memposisikan diri di atas gadis itu, pun mereka kompak menanggalkan busananya.
"A..apa maksud semua ini? k..kalian―"
Gaara mengambil sebungkus rokok yang ia letakkan persis di atas meja sebelah tempat tidur. Menarik satu puntung, memerciknya menggunakan korek api― kemudian menghisap pelan― dan tak lama hembus bau nikotin ia bubungkan melalui mulut.
"Apa maksudku? kau bahkan belum menjawab atas dasar apa kau ke sini,"
Gadis bersurai hitam sebahu di samping Gaara menarik selimut― menutupi diri. Tanpa rasa malu ia bergerak manja merangkul bahu Gaara, dan lantas membisikkan sesuatu yang anehnya justru membuat pemuda itu tertawa.
"Bwahaha, pacar? gadis polos di hadapan kita tidak lebih dari manusia kolot yang tak paham apa-apa. Jangankan sex, foreplay pun ia tak mengerti."
"Hooo..."
"Abaikan saja. Sebagai lelaki modern mana mungkin aku bisa tahan bersama gadis semacam itu. Bahkan untuk berciuman― dia memintaku menutup mata, dan melakukannya super cepat. Bukankah normal jika seorang laki-laki memiliki hasrat untuk menikmatinya? namun gadis di hadapan kita malah berkata bila ia malu. Bwaaah... BODOH! Kau pikir aku pria yang hidup jaman batu? bahkan aku tak yakin bila di jaman itu pun ada orang seperti―" Gaara melirik Hinata sekilas.
Puffttt...
"Kata-katamu bisa mencipta luka loh, Gaara-chan.."
Isi kepala Hinata serasa mendidih. Ia yang tendensi tak memiliki kadar emosi berlebih, kini seakan menjadi pribadi eksplosif― siap meletupkan amarah, berserta kekecewaannya. Bahkan jika membunuh itu legal, mungkin perempuan berumur 20 tahun tersebut akan menikam keduanya sekarang.
Hinata menarik napas,
Oke,
Sabar,
Jangan terlihat lemah,
"...mempertontonkan hal menjijikkan pada orang lain― ah, kepada kekasihmu sendiri― di mataku kalian tidak lebih dari 2 binatang tak berotak."
"A..apa katamu?!"
"Oh iya, Gaara-kun. Kau ingat porm night tahun baru yang akan diadakan kampus kita 9 hari lagi?"
"...?"
"Beberapa hari lalu kausempat mengajakku, bukan? dan kurasa hal yang kita inginkan saat itu mustahil terwujud. Yah, kau bisa datang bersama perempuan di sampingmu―"
"..."
"―dan aku datang bersama orang lain. Tentu, seorang laki-laki yang kupastikan 1000x lebih baik darimu!"
Entah sudah berpikir masak atau hanya asal berucap, yang jelas Hinata tampak serius mengatakannya.
Setelah itu, pun ia pergi meninggalkan apartemen Gaara.
.
.
"Hai, Ikemen Paradise!"
[Awal Mula]
By
Kimono'z
Naruto_Masashi Kishimoto
Warning : Typo, Bad Story, OOC
.
.
25 Desember,
Konoha University,
Serasa lebih berat dari pengkhianatan beberapa hari lalu ia dapat, pertemuan Hinata dengan si biru berlian itu bak jadi awal petaka baru.
Bagaimana tidak, lelaki yang bahkan amethyst sendiri tak tahu siapa, tiba-tiba telah berada dalam kamarnya. Lebih parah lagi, sedikitpun ia tak ingat apa yang terjadi.
Tadi pagi usai memergoki manusia pirang tersebut dalam kamar mandi, tanpa babibu Hinata mengambil gagang sapu yang spontan ia pukulkan acak, hingga membuat pria itu marah dan mengatainya gadis gila.
Oh yang benar saja? tentu Hinata tak terima.
Ia berpegang teguh pada ego― berestimasi bila pemuda yang mengaku memiliki nama Uzumaki Naruto tersebut tengah memutar balikkan fakta. Ya, Hinata tak pernah merasa mengundang siapapun, meski apa yang dikata pemuda tersebut tidaklah sama. Naruto bilang, Hinata telah memesan jasa 'Ikemen Paradise'.
"Huh, Ikemen Paradise? aku bahkan tidak tahu apa itu―"
"Oohaaayouu..."
Cup!
Satu kecupan singkat mendarat di pipi Hinata.
"Selamat pagi, Hinata-chan―"
"Selamat pagi, Ino. Tolong jangan menciumku, ini sedikit menggelikan."
"Hooo.. apa yang terjadi? wajahmu masam sekali?"
Ino Yamanaka. Gadis manis berhelai pirang panjang, teman Hinata sejak duduk di bangku SMP. Penyuka bunga, seorang Fujoshi akut.
"Aku baru mengalami mimpi buruk. Seorang alien masuk ke dalam apartemenku, dan―"
"Yuhuu~ apa aku ketinggalan sesuatu?"
Seperti biasa, bersama sekantong kripik kentang kesukaannya, Chouchou (nama gadis berkulit tan tersebut) menghampiri Hinata dan Ino.
"...ah, atau jangan-jangan kalian tengah membicarakanku?"
"Ish, percaya diri sekali," sahut Ino menyabet kripik kentang Chou.
"Oi―"
Chochou Akimichi, sahabat Hinata sedari SMA. Akrab dengan Ino, sebab mereka dahulu sama-sama satu kelas.
"Kau tidak boleh pelit pada temanmu sendiri Chou―" Ucap Ino memasukkan beberapa potong kripik kentang ke dalam mulut.
Kreus...
"Oke. Tapi setelah ini kau harus mentraktirku."
Uhuk―
"―jangan keterlaluan napa?!"
"Haa? beberapa potong porsiku telah kaumakan, perutku masih lapar tahu! Tanggung jawab dong,"
"Sigh, rasanya kentang dalam perutku seketika ingin keluar."
Kiranya demikian kala mereka tengah berkumpul. Bercanda, saling ejek, dan tertawa, menjadi hal lumrah― sehingga Hinata pikir tak perlu banyak bicara untuk melerai keduanya.
"Omong-omong, hari ini kau jadi pendiam, Hinata?" lontar Chouchou menyadari keanehan pada diri Hinata.
"Hina-chan bilang, dia baru bermimpi melihat alien..."
"Pufff, kau mungkin terlalu banyak menonton film―"
Ino dan Chouchou kompak memegangi perut.
"Kalian menertawaiku, huh?"
Begitu sampai di ambang pintu kelas, Hinata langsung masuk― berjalan menuju bangku belakang, dekat jendela.
"Oi, kau marah?"
"Tidak,"
"Pufft, kau benar-benar mirip anak kecil, Hinata-chan. Bwahaha..."
Merebahkan kepala, "Aku pusing,"
"Hemmpp, kau ini kenapa sih? oh, atau jangan-jangan kau masih kepikiran merah sialan itu?"
Hinata menarik diri― menyadarkan punggung pada kursi. Irisnya bergulir menerawang langit, berpikir apakah ada jawaban tepat selain ia memang masih memikirkan.
"Entah, 2 tahun bukan waktu singkat. Banyak kenangan yang telah kulewati bersamanya,"
"Hinata-chan?"
"Haha, aku bodoh ya? mencintai Gaara adalah kesalahan terbesar. Dan berharap ia berbalik mencintaiku― adalah keegoisan yang kucipta sendiri. Seharusnya aku sadar, lelaki seperti dia tidak mungkin setulus hati mau denganku. 2 tahun, aku buta posisiku di mana? lucu sekali bukan? aku benar-benar terlihat bodoh."
Pletak!
Satu sentilan kecil menyentuh kening Hinata.
"Menyesal, dan terus menyesal kau pikir akan berguna? dia meninggalkanmu, menikam tepat di matamu. Kaupikir apa yang dapat kauharap dari lelaki macam itu?"
"..."
"Gaara memiliki hak untuk mendapat wanita lebih baik darimu, Hinata. Tentu saja, ukuran baik di sini mengacu pada perspektif ia sendiri. Dan kurasa, Gaara telah mendapatkannya. Terbukti, sama-sama penggila sex, kupikir dua orang itu cukup serasi. Dan kau?! Ayolah, seharusnya kau bersyukur karena Tuhan membuka matamu lebar-lebar. Menunjukkan siapa Gaara sebenarnya. Kau tahu, pepatah pernah berujar, akan ada pelangi indah di balik badai yang besar,"
"...?"
"Percayalah, di luar sana ada sosok lebih baik yang sebentar lagi mungkin muncul dalam kehidupanmu, dan memberi warna baru."
Hening,
Tercengang,
Tidak biasa ucapan yang keluar dari mulut gadis bergaya rambut twintail tersebut akan semenenangkan ini. Biasanya, apa yang diucap Chouchou, tak jauh dari makanan, dan lelaki tampan. Namun hari ini...
Impulsif― Ino mengusap pelan tangan Chou, "Kepalamu tidak habis terbentur kan?"
"...ha?"
"Maksudku― kau tidak tengah sakit kan? intinya, kau sehat?"
Menaikkan sebelah alis, "Kau sedang mempertanyakan kewarasanku?"
Sang Yamanaka menggeleng cepat, "Tidak! Hanya saja hari ini kau jadi sangat aneh. Sikapmu, jadi seperti motivator di tivi-tivi itu."
Grrrr...
"Dasar kuning sialan! Sini, ku hajar kau!" Chochou menarik kuncir Ino.
"O..oi... henti...Agrrrh― rambutku bisa rontok tahu!"
Melihat polah kedua sahabatnya yang mirip tikus dan kucing― terus bertengkar, sadar atau tidak, garis kurva tipis terpoles samar di bibir ranum amethyst.
Dari senyum sekilas, menjadi kikikan kecil. Hingga sekarang bermetamorfosa menjadi tawa lega.
"Bwahahaha..."
Seketika Ino dan Chochou menghentikan konfrontasi palsunya.
"Aku senang melihatmu kembali ceria, Hinata-chan."
"―kau tak perlu bersedih lagi. Aku dan Ino, kami akan selalu bersamamu."
"...minna?"
"Heheheh, ini fungsinya teman kan―"
Greb...
"―terimakasih, kalian memang yang terbaik." Hinata memeluk keduanya.
Sahabat ialah orang yang berbaris di belakangmu meski kau dipermalukan. Orang yang membela meski seisi dunia memandang rendah, dan mengasingkan. Sahabat ialah, ketika kau menemukan tempat nyaman untuk pulang, selain keluargamu sendiri."
"...etto―" Chouchou tiba-tiba menggaruk belakang kepala, "omong-omong, bukankah porm night tinggal 6 hari lagi?"
"EEEEEHH?!"
Kontan mereka melepas pelukannya.
"Sial, kenapa aku bisa lupa?!"
"Alah, kau kan enak. Saimu itu tinggal kau telepon pasti langsung datang. Nah, aku? huuu, seharusnya kemarin aku tak menolak tembakan salah seorang senpai dari Fakultas Ekonomi."
"Huffftt..." Hinata kembali merebahkan kepala, "Oh Tuhan, aku harus menggandeng siapa?"
"Hei..hei..hei, ada apa dengan kalian? porm night bukan kiamat tahu! Tak perlu risau apalagi khawatir. Bukankah, saat itu waktu yang tepat untuk menunjukkan diri kalian sebenarnya?"
"...maksudmu?"
Ino mengambil ponsel― mengutak-atik sebentar...
"Taraa! JRENG..JREEENG..," penuh semangat ia menunjukkan sebuah laman web, "Ikemen Paradise, siap membantu para Hime-sama." ujar Ino mengerlingkan netra.
"Howaaaa... cemerlang sekali. Aku jadi ingat kalau ada situs semacam ini―" Chouchou langsung merebut smartphone Ino.
"Tu..tunggu-tunggu. M..maksud kalian?"
Mendengar nama 'Ikemen Paradise', Hinata teringat akan sesuatu.
"Hmmp... bukankah kemarin lusa kita sempat membahasnya? itu, tepat setelah kau putus dengan si Sabaku. Bukankah kau sendiri juga bilang ingin mencoba, Hinata-chan?"
"Eee― mencoba?"
Ino mengangguk, "Saking frustasinya saat itu kau meminta kami menemanimu ke bar untuk minum beberapa cocktail. Lalu kau mengatakan ingin memesan jasa mereka."
"N..nani?"
"Ikemen Paradise merupakan situs penyedia obsi lain bagi wanita yang ingin mendapat kekasih sempurna. Dengan mentransfer sejumlah uang terlebih dulu, maka owner akan mengirim seorang butler ke tempat kita. Apa dia kemarin tidak datang ke rumahmu, Hinata-chan?"
"...datang ke rumah?"
"Aaah― jangan-jangan mimpi alien yang kau maksud itu―" potong Chouchou menyadari sesuatu.
"Oh, benar juga. Tadi kau berkata jika semalam bermimpi ada alien masuk ke dalam apartemenmu. Oke, sekarang dapat kutarik premis. Sepulang dari bar kau juga menyuruh kami untuk mengantarmu ke minimarket. Di sana kau membeli bebera minuman, dan... HINATA-CHAN, jangan bilang kau menenggak semuanya?!"
"A.. e..etto―" Hinata mendadak tergagap.
"Hooo.. aku mengerti sekarang," goda Chouchou melirik Hinata dengan seringai aneh― sulit diartikan.
"A.. ti.. bu..bukan seperti itu, Chou. Kau salah pa―"
"Hohoho, sepertinya kecurigaanku memang benar." Chouchou semakin mengembangkan senyum ambigunya.
"Katakan! Katakan pada kami apa yang terjadi, Hinata-chan? oh, atau jangan-jangan kalian telah..."
Wajah Hinata memerah,
"...i..ITU TIDAK BENAARRR!"
.
BRUUAAKKK!
"TERNYATA AKU BENAR-BENAR MEMESANNYA?!"
Sudah lewat beberapa jam semenjak mentari kembali ke peraduan. Meninggalkan gelita, menyisa sepi.
Mendekati tahun baru, salju acap turun lebih lebat dengan ritme satu kali lebih cepat. Hijau warna dedaunan, ranting kering bekas kemarau, juga atap-atap rumah― kini tak terlihat berganti kapas putih bertekstur halus.
Hinata memilih menyembunyikan diri di balik selimut. Menghangatkan tubuh bersama secangkir hot greentea, dan sepotong pancake vanilla favoritnya.
"Kacau! Ternyata si pirang sialan itu tak berbohong. Dia benar berasal dari Ikemen Paradise?"
Usai kuliah, Hinata langsung bergegas menuju kamar. Membuka laptop, mengobsever sejumlah email masuk dan keluar.
Klik..
Klik..
Manik amethystnya membulat, ketika nama Ikemen Paradise memang berada dalam list kotak masuk.
Berdasar isi percakapan, ia memang sempat memesan pelayanan dari situs penawar kebahagiaan tersebut. Mulai dari nama, alamat, hingga masalah, ia ungkap secara gamblang. Bahkan, negosiasi harga pun termasuk di dalamnya.
"...pantas dia mengataiku perempuan alienasi mental. Sial, apa tadi pagi aku terlihat seperti orang gila sungguhan?"
Hinata menutup laptopnya kembali. Memeluk benda tipis berukuran 18 inc itu― entah kenapa, ia jadi kepikiran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Semalam... apa yang kulakukan?"
Raut Hinata menghangat. Ingatan akan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas kemerahan― terngiang, membuat putri pertama dari keluarga Hyuga tersebut bernostalgia dengan meraba raganya sendiri.
Berpikir, bagaimana bisa bekas mirip gigitan serangga menjalar dari pergelangan hingga pangkal dagunya. Dari ujung betis hingga puncak bahunya. Dan dari area depan, sampai bagian punggungnya.
"...ish, kenapa aku jadi malu? perasaan macam ini?"
Sial!
Sial!
Sial!
"AKU TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU KAN?!"
.
Hati-hati, Naruto mengompres keningnya yang sedikit lecet dan memar menggunakan air es.
Bukan hanya kening, bekas ungu kebiruan juga nampak pada lengan, lutut, bahkan torso pemuda beriris biru berlian tersebut penuh luka bekas tercakar.
"Kau baru latihan sirkus bersama seekor hewan buas?" sapa Shikamaru duduk di ranjang depan Naruto.
Pemuda bersurai hitam terikat dari keluarga Nara itu merupakan rekan sekamarnya.
Dalam peraturan Ikemen Paradise, para butler diwajibkan tinggal satu atap demi mempermudah sistem pengkoordinasian mereka.
Kediaman yang akrab kesepuluhnya sapa sebagai rumah Hatake itu, memang tak memiliki luas bangunan yang besar. Jadi mau tidak mau, para ikemen dituntut untuk saling berbagi kamar, dengan masing-masing mendapat jatah kasur sendiri.
"Kau baru menyelesaikan misimu?"
Shikamaru mengangguk, "Yup, hari ini aku menemani seorang gadis ke sebuah pesta. Dia sangat manis, pendiam, dan―"
"Huh, sepertinya kau beruntung."
"...ha? kau sendiri, apa yang terjadi? luka itu― hooo... jangan bilang, kau dapat costumer seorang tante super agresif?" ucap Shikamaru melepas rompi, dasi, juga kemeja― berganti kaus biasa.
"Ha?" Seketika Naruto menghentikan aktifitasnya. "Tante super agresif? jangan salah, dia lebih tepat disebut gadis muda berparas cantik."
"Are? benarkah? lantas?"
Naruto menghela napas. Kembali mengompres dahi― "Sayang, dia gadis tak waras yang baru kabur dari rumah sakit jiwa. Kau lihat luka di sekujur tubuhku ini? kalau dia bukan wanita sudah kulempar dari jendela apartemennya. Sialan!"
Pufftt...
"Jadi intinya kau tak berhasil menaklukan gadis itu? Bwaah... apa-apaan ini? tuan casanova kita telah dikalahkan oleh seorang gadis belia?"
"Oi―"
Drrr...
Drrr...
"Ah, handphoneku bunyi." Shikamaru mengangkat teleponnya, "hallo?"
"...oh Bos, are...Naruto? ah, kebetulan dia ada di sampingku,"
Sang empunya nama seketika menoleh, "Ada apa?"
"Mau bicara? ...baiklah," Shikamaru memindah tangankan ponselnya.
"Ya sensei? ...maaf, handphoneku mati. Tugas? besok siang? ...sokka, cafe dekat taman kota? yosh, aku mengerti."
Tuuttttt...
"Aneh,"
"Eh? ada apa?"
"Tidak. Hanya saja Kakashi-sensei memintaku untuk menemui klien besok siang. Tapi anehnya, dia tak mengirimkan data si costumer itu terlebih dulu."
"Oh, mungkin Bos lupa," Shikamaru berjalan menuju sebotol air mineral yang tergeletak di atas meja dekat sofa, "Bisa jadi, sebentar lagi dia akan mengirimkannya padamu,"
"...masa bodohlah. Kejadian hari ini cukup membuat sakit jiwa. Sepertinya aku butuh refreshing. Kuharap besok hari keberuntungan di mana aku bertemu jelmaan tuan putri atau seorang gadis sexy. YEAH!"
"Hooo, berhenti memasang ekspektasi terlalu tinggi. Jika yang kau dapat tak berbanding lurus dengan apa yang kauharap, kecewa nanti."
"...?!"
"Oke, jadi konklusinya, apa sekarang kau sudah lupa?"
"Lupa?"
"Pada gadis yang menurutmu gila itu,"
Naruto mendengus, "Huh, bagaimana bisa lupa?! Memar di tubuhku bahkan belum sepenuhnya menghilang. Tch, awas saja bertemu. Kupastikan dia mendapat balas setimpal."
"Bwaah... Jangan membenci seseorang dengan kadar berlebih. Apalagi jika dia seorang perempuan. Bisa terkesan konyol, bila pada akhirnya kau justru jatuh cinta padanya."
"Diam kau. Berhenti menceramahiku―"
.
.
.
Tbc
Jumpa lagi dengan saya ^_^ Terimakasih atas fav/follow/reviewnya.
Jangan bosan-bosan mampir di Ikemen Paradise
Baiklah, saya akan menjawab segelintir tanya yang mungkin rada errr* membuat penasaran
Kemarin kok ada scene yang di skip ?
Iya. adegan yang di skip adalah konflik (benang merah) supaya naruhina tetap terhubung /sesuai gambran di awal karena mereka tak saling kenal, jadi saya menggunakannya untuk menaut mereka.
Adegan di skip akan saya jelaskan pada pertengahan chapter atau di akhir fanfic ini mau tamat
Btw, kok tangan Naru bisa lepas kan diikat ?
Iya. Sesuatu yang terjadi dalam skip membuat tangannya lepas dari ikatan
Ini lemon ?
Hmmp, aku tidak dapat menjanjikan. Entah ini melegakan atau justru mengecewakan, yang jelas kecil kemungkinan hal tersebut terjadi.
Bau masamnya mungkin tercium, namun rasanya ? entah... aku tak menjamin terecap.
Rate M di sini sebenarnya untuk bahasa yang sedikit fulgar dan beberapa scene ambigu
Terimakasih atas waktunya Bila berkenan silahkan menjejak
Happy Reading Minna ^_^
