Pernah terpikir, mendapat pekerjaan paling nyaman dan mudah sedunia?

Bergaji besar dengan waktu dapat disesuaikan?

Selalu tampil menarik, juga terlihat wah?

3 bulan lalu ketika Naruto berjumpa Hatake Kakashi untuk kali pertama, ia berpikir bahwa pekerjaan semacam itu memang benar-benar ada.

Ketika sang owner menjelaskan perihal Ikemen Paradise memang menyediakan fasilitas tersebut, tapi satu hal patut Naruto garis bawahi, jika di sini para butler tidak dijanjikan kata "nyaman".

Nyaman?

Selayaknya pekerjaan pada umumnya. Menjalankan suatu tugas pasti memiliki dampak atau risiko. Dan untuk pemahaman manusia yang berumur lebih dari 20 tahun, tentu pengertian nyaman dapat dengan mudah Naruto jabarkan. Lingkungan, gaya hidup, usia, serta sifat bawaan seseorang, tak dapat dipungkiri mampu membentuk personality dengan kadar berbeda-beda. Intinya, Naruto harus siap, ketika di hadapkan pada situasi yang menuntutnya untuk segera menyesuaikan diri.

Ah satu lagi,

Kakashi pula sempat menyinggung tentang para butler yang tak diperkenankan melakukan penuntutan.

Semua hal terjadi dalam misi menjadi tanggung jawab pribadi, dan menurutnya berjalan lancar atau tidak tugas yang para butler emban, tergantung bagaimana mereka menempatkan diri dan bagaimana mereka membawa situasi.

Namun, hal demikian berbanding terbalik dengan costumer.

Mereka diberi hak penuh, sampai-sampai pada salah satu peraturan Ikemen Paradise disebutkan, bilamana seorang Hime (costumer) boleh menuntut butler atas ketidakpuasannya, kepada owner. Dan diperbolehkan melapor kepada pihak berwajib, ketika seorang butler yang dipesan mencoba/telah melakukan tindak kriminal padanya.

.

~ oOo ~

.

Huh,

Mendengus, Naruto keluar dari rumah Hatake menuju tempat si calon costumer baru.

Mengingat tragedi memilukan kemarin, sebenarnya ingin sekali melapor pada polisi. Namun hal tersebut urung ia lakukan, sebab terganjal beberapa pertimbangan penting yang terus berputar dalam kepalanya.

Jika melapor, maka Kakashi tanpa ampun akan melakukan pemecatan. Jika dipecat, otomatis tak punya uang dan siklus kelangsungan hidupnya pun terganggu.

Hemmp,

Naruto menggeleng cepat.

"Oh my God, tidak boleh. Aku tak mau menggelandang."

Membayangkan saja, sudah seperti mimpi buruk.

Lagi pula bila tetap bersikukuh pergi ke kantor polisi mengadu perihal pemerkosaan dirinya dilakukan oleh seorang perempuan, bukannya simpati dan kasus ditangani, mungkin yang Naruto dapat justru ditertawakan, serta laporannya dianggab sebagai bualan.

Sigh!

Omong-omong pemerkosaan, Naruto sendiri sesungguhnya tak begitu yakin. Pagi itu ketika ia membuka mata, Naruto hanya mendapati tubuhnya telah telanjang dan gadis indigo di sampingnya pun terlihat demikian.

Sebuah bukti yang tak cukup konkrit untuk menyentuh kata akurat. Semua tidak lebih dari kemungkinan yang berdasar pada estimasi sesaat.
Namun jika ditarik mundur untuk alasan apa keduanya dalam kondisi seperti itu, pasti yang pertama kali terngiang adalah...

Kembali, Naruto menggeleng cepat.

"Tidak! Tidak mungkin!" Ia merasa wajahnya sedikit menghangat.

Tapi jika benar itu terjadi...

Bukankah ini tak dapat disebut pemerkosaan ?

Mereka sama-sama mabuk, tidak sadar, dan Naruto pun tak tahu siapa yang memulai lebih dulu.

"A..atau jangan-jangan justru?"

Naruto menunjuk dirinya sendiri.

"Aghrrrrrrr... MANA MUNGKIN!"

.

.

20 menit, kira-kira Naruto berjalan menuju tempat yang di maksud. Kemuning surya mengepakkan binar cerah, menawarkan rasa hangat bersama dingin salju yang mulai mengeksistensi permukaan kulitnya.

Simple saja, tak seperti kemarin di mana ia mengenakan jas rapi nan elegan, sedikit lebih santai, hari ini Naruto hanya memakai puffer hijau tua berbulu, kaos ketat marun, celana jeans hitam, dan boot dark brown.

"Semoga hari ini aku mendapat pelangi,"

Melawan bising klakson kendaraan dan padat derap kaki manusia, Naruto melangkah menuju cafe yang terletak di seberang jalan. Kesan feminim seketika Naruto tangkap dari cafe itu, usai menginjakkan kaki di sana. Terefleksi dari pintu cafe yang memiliki background polkadot, sentuhan merah jambu pada dinding, juga bunga-bungaan yang terlihat menghiasi halaman depan.

Sejenak, Naruto menghela napas.

"Oke, saatnya masuk."

Siang ini kebetulan sekali cafe tak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung, jadi untuk menemukan si calon costumer itu Naruto tak mengalami kesulitan berarti.

Dari sekian pelanggan yang datang, terlihat seorang perempuan duduk sendiri di dekat anak tangga. Ia menyandarkan punggung pada kursi, menghadap tembok membelakanginya. Jika di obsever dari sudut pandang biru berlian sekarang, gadis bercepol rapi itu memiliki proporsi tubuh kecil nun ramping. Di amati dari tengkuknya, dapat diketahui jika ia berkulit putih.

Naruto lantas mendekat, menghampiri gadis bertrench coat hijau muda dengan earwarm abu-abu itu.

"Selamat siang, sudah lama menunggu?" sang blue shappire meletakkan kartu namanya di atas meja, sembari mengembangkan seyum. Namun, senyum yang terkulas pada bibir tersebut tak bertahan lama, begitu Naruto menyadari siapa gadis yang tengah duduk manis di hadapannya.

Surai indigo,

Manik amathyst,

Raut tak asing,

Manik biru berlian Naruto sontak membulat.

"K...KAU?!"

Tampak begitu santai, Hinata menopang dagu membalas senyum Naruto,

"Hai, ikemen paradise?"

.


Hai, Ikemen Paradise

[ Konsekuensi ]

By

Kimono'z

.

Naruto_Masashi Kishimoto

Warning : Typo, Bad Story, OOC.


.

"M..MAU APA KAU?!"

Hinata mengorek cuping telinganya, "Bisa lebih pelan? suaramu dapat menarik pengunjung lain untuk beralih menatap kita."

Tcih!

Naruto mendengus,

"Setelah memukulku habis-habisan kauberniat meminta pelayanan kedua? Sial, kenapa hari ini aku harus bertemu denganmu?!"

Hinata mengangkat bahu, menarik napas dalam-dalam. Satu helaan keluar, ia kembali merangkai senyum, namun terkesan elusif penuh kemuskilan.

"Aku hanya ingin membahas kejadian kemarin, itu saja."

"Membahas? apa yang perlu dibahas?" Naruto meninggikan nada bicara.

"Aku ingin pertanggungjawaban."

"P...pertanggungjawaban?"

Hinata membuang muka. Bola matanya berputar, melirik aneh ke arah Naruto, "Jangan bilang kau lupa akan tindakan bejatmu itu?"

"Ti..tindakan bejat?" Naruto tersentak.

Hinata mengangguk, "Yups!"

Oh, yang benar saja?!

Naruto berdiri menunjuk wajah Hinata, "Jika sekarang kau tengah menuntut keadilan atas nama pihak teranianya, akulah orang yang lebih pantas melakukan itu. Apa matamu buta, sehingga tak dapat melihat memar di wajahku ini ?" Naruto kemudian menunjuk tulang pipinya yang masih sedikit lebam. "Lalu bagian ini?" kali ini ia melepas jaket dan menunjuk lengannya yang terplaster, "kemudian ini," Naruto menarik kausnya ke atas, memperlihatkan bekas kebiruan pada area dekat pusar, "dan ini juga," ia berbalik, menunjukkan punggungnya. "Terakhir-"

"STOP!"

Kening Hinata mengerut. Tangannya bergerak ke depan, menginstrupsi Naruto agar berhenti bicara.

"Kenapa tak telanjang sekalian demi mengumbar lukamu sehingga kau tak perlu susah-payah menjelaskan? asal kau tahu ya, sama sekali aku tak peduli mau seperti apa kondisimu. Yang jelas, aku di sini hanya menuntut sebuah pertanggungjawaban. Dan tugasmu adalah mengabulkan itu!"

Brakkk!

"Hoo... jadi alasan mengapa kau memesanku lagi, karena ingin melihatku telanjang?"

"...hah?"

"Huh, tak kusangka kau masih tertarik padaku. Oh, tepatnya tertarik pada tubuhku. Ya, ya, sesuai dugaan memang. Gadis kecil di hadapanku ini tak lebih dari psikopat yang suka menyiksa lawan mainnya di atas ranjang. Well, kusarankan padamu untuk jujur. Kau mengajak bertemu, karena ingin menikmatiku sekali lagi kan?"

"Me...menikmati katamu?"

"Iya, menikmati. Aku tahu Hime, tubuhku ini memiliki sisi plus, yaitu memberi efek tagih. Meski kauberujar tak peduli, tapi sebenarnya kauingin memastikan memarku sudah sembuh atau belum kan? sembari berpikir, bagaimana menyiapkan scene kedua dengan penyiksaan yang lebih frontal dan dramatis. Tapi maaf saja ojou-sama, aku takkan terjebak tipu muslihatmu yang kedua."

Lelaki mulut besar, kuning telur busuk, spesies rendahan. Entah umpatan apa lagi yang terus bergerumul dalam hati gadis berhelai ungu panjang itu sekarang.

Baru kali ini, Hinata berjumpa seorang laki-laki yang "benar" pandai bicara. Konotasi ucapan yang terkesan blak-blakkan, cukup menjadi bukti, bila seorang Naruto Uzumaki merupakan pria asertif yang sedikit gila.

Gila?

Iya! Hingga mampu menyulut emosi seorang Hyuga yang tenang, naik sampai puncaknya.

"Aggrrrr...! Aku tak tahaaannnnn!" Hinata meraih surai Naruto. Menjambaknya kuat, "tipu muslihat? coba katakan sekali lagi biar aku dapat mendengarnya!"

"Singkirkan tangan kotormu dari mahkota emasku, Bitch!" Kali ini giliran Naruto menarik rambut sang Hyuga.

"O- berani sekali kau menarik rambutku?! Kau tak tahu malu ya, bertindak kasar pada perempuan?!"

Blue shappire menyeringai,

"Tak tahu malu? sungguh, aku tak peduli pendapatmu. Dari luar mungkin kau perempuan. Tapi isi tubuhmu sebenarnya adalah seekor gorilla. Logika saja, mana ada perempuan yang memperkosa laki-laki?!"

Iris Hinata menyipit, "Memperkosa?! Dari jarak 100 meter, aku bahkan dapat mencium bau badanmu yang busuk! Jadi mana mungkin aku melakukan itu, IDIOT-"

"Anoo..." seseorang memotong pertikaian mereka.

"APA?!" Toleh Naruto dan Hinata.

"Ma..maaf. Sepertinya kebisingan kalian mengganggu pengunjung kami," Seorang pelayan terlihat membungkukkan badan. Tak sendiri, wanita berbaju maid merah jambu itu berdiri bersama seorang pria berbadan tinggi kekar, berkepala botak, dengan kumisnya yang tebal menjulang.

Hinata dan Naruto seketika menelan ludah,

Mendapati pria berorot itu menyalak tajam, nyali keduanya sontak ciut meredam.

"K...kami akan segera pergi."

Naruto menarik tangan Hinata, lalu berlari ke luar.

.

~ oOo ~

.

Ada sejumlah kausa yang menjadi dasar mengapa Hinata memesan Naruto (lagi). Teringat akan ucapan Ino perihal porm night yang tinggal menghitung hari, gertak asalnya pada Gara kala itu tak mungkin ia tarik kembali.

Mencari kekasih hakikatnya tak semudah menemukan titik hitam pada secarik kertas putih. Ada beberapa hal yang patut di pertimbangkan. Menyatukan afeksi 2 manusia beda ideologi, tentu bukan sesuatu yang dapat disebut gampang. Diperlukan waktu pula kesempatan bersama, dan hal tersebut mustahil Hinata dapat dengan cepat.

Bukankah memalukan, jika ucap serapahnya sendiri tak dapat ia wujudkan?

Bagaimana pendapat Gara dan simpanannya?

Ketika Hinata menganalisis situs Ikemen Paradise sekali lagi, ia menemukan 1 fakta penting. Ikemen Paradise sangatlah memanjakan costumer-costumernya. Mereka bahkan diberi hak mutlak, yang tentu menggunakan batasan-batasan tertentu.

Dari salah-satu peraturan yang tercantum pada bagian awal blog, Hinata menemukan peluang bagus. Menengok betapa mahalnya mahar yang harus dibayar seorang costumer untuk menyewa jasa butler, Hinata lantas berpikir bagaimana jika ia memanfaatkan kejadian tak terduga kemarin sebagai suatu hal yang sedikit menguntungkan.

Hinata akan menjadikan Naruto pacar seharinya, dan ia pun tahu bila pemuda itu tak mungkin bisa menolak.

.

.

Taman kota,

.

"Jadi kau ingin aku menemanimu ke porm night kampus?"

"yup, hanya itu!"

Naruto tampak berpikir-pikir. Hinata berujar akan mengadukan hal kemarin pada Kakashi, jika ia sampai menolaknya.

Tidak,

Tidak boleh.

Aku bisa dipecat.

"Oke baiklah, hanya itu kan?"

Hinata tersenyum menang, "Yup, hanya itu. Kau pikir apa lagi? memintamu menikahiku?"

Naruto memalingkan wajah. Samar, semburat merah terangkai indah pada pipinya.

"Huh, aku tak pernah berpikir demikian."

Menghela napas, "Oke. Sekarang kujelaskan rencananya. Begini, di sana kau akan menemaniku. Kita bertemu di gerbang depan kampus tepat pukul 7. Usai masuk, kau harus berberan mejadi kekasih yang baik dan sempurna. Kau harus terlihat berwibawa, jadi jaga kata-katamu. Saat ada yang bertanya kau sekolah di mana? Katakan saja di luar negeri dan kau baru kembali setelah menyelesaikan S1."

"...ow,"

Hinata menyilangkan tangan di depan dada, "Owmu itu kuanggab sebagai jawaban, bila kau sudah mengerti. Baiklah, tugas pertama kita sekarang, mencarikanmu pakaian yang bagus. Gara lumayan mengikuti perkembangan mode. Dia juga hobi mengoleksi pakaian dari brand-brand ternama. Jadi ketika kau berdiri di hadapannya, kau harus terlihat famous.

.

.

Jreg-jreg-jreg-jreg-jregg...

Kereta listrik melesat cepat dari Shinjuku menuju Sumida. Bertepatan pada jam pulang kantor, kereta yang biasa longgar menjadi penuh hingga para penumpang terpaksa berdesakan.

"Jaga jarakmu, jangan macam-macam." lontar Hinata ketus pada Naruto yang berdiri beberapa centi di hadapannya.

"Cih,"

Setelah berjam-jam mengobrak-abrik isi toko, pakaian yang cocok untuk Naruto pun berhasil di dapat. Sebuah overcoat polos berwarna abu tua selutut, dipadu kemeja abu muda casual dan cino hitam berbahan ringan. Setelan yang terbilang sederhana, tapi cukup terlihat modis.

Karena terlalu sore, Naruto dan Hinata akhirnya pulang naik kereta. Gagal mendapat kursi juga tempat pegangan, mau tak mau mereka berdiri di depan pintu masuk dengan posisi saling berhadapan. Hinata bersandar pada pintu, sedang Naruto berdiri di depan gadis itu.

Naruto mengalihkan pandangannya keluar, "Bodoh, aku sama sekali tak berniat."

Hening,

Sunyi,

Tiada pembicaraan sama sekali.

Beberapa menit kereta terus melaju melewati jajaran bangunan bertingkat, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan-

Grakkk!

Entah apa yang terjadi, kereta mendadak mengalami guncangan. Seorang pria yang berdiri tak jauh dari Naruto kehilangan keseimbangan, ia terjatuh, sialnya justru menimpa pungguh Naruto dan tanpa sadar mendorong tubuhnya ke depan, menghimpit Hinata.

Bruak!

Naruto merasa sepasang benda menonjol nan kenyal menempel lembut pada bawah tulang dadanya.

"Ittai..." Hinata merintih.

.

.

.

TBC


Hallo,

Terimakasih, atas waktunya membaca Ikemen Paradis.

Jika berkenan, bolehlah jejaknya ? ('-')/

Baiklah, saya akan membahas review dari kak good-night perihal " nah lho?! bukannya ini ada manga sama filmnya-kan? kok nggak di cantumin? atau hanya aku yang salah? "

Pertama baca, jujur saya sangat syok dan kaget. Otak saya seketika bertanya-tanya "Benarkah ? Benarkah ?" 'o')

Setelah saya cari tahu dan telusuri, ternyata ada beberapa manga yang judulnya agak mirip, kalau film/dorama aku mendapati Hanazakari no Kimitachi e: Ikemen Paradise, yang beberapa tahun lalu sempat berlayar di tv Indonesia.

Jujur, fanfic ini awalnya berjudul "Hallo, Mr. Paradise ?"

/ngeles lu ?

Tidak ! Saya pernah mepostingnya di 2 grub fb (ffni dan afi) bisa di cek/but mungkin uda ketimbun. Saat itu saya menulis " . " (titik) dan huruf "P" tanpa sepasi sehingga tulisannya menghilang. Frustasi dan tetap tak sadar akan kekeliruan saya, akhirnya kuputuskan mengganti Hallo, Mr. Paradise dengan nama Hai, Ikemen Paradise.

Atas ketidak sengajaan saya akan judul yang "agak" mirip ini, apakah saya harus turut menulisnya pada kolom disclaimer ?

Butuh saran, ^_^

Btw, sepertinya tak sedikit yang kecewa ketika saya bilang akan menghilangkan unsur "masam"nya xD

Wkwkwk, entahlah. Aku kurang greget dalam scene seperti itu.

.

Happy Reading minna-san :-)

Kimono'z