Bruak!
Naruto merasa sepasang benda menonjol nan kenyal menempel lembut pada bawah tulang dadanya.
"Ittai..." Hinata merintih.
.
.
.
Manik blue shappire memaling enggan. Berusaha tetap tenang pada posisi yang baginya tak cukup menyenangkan.
Terasa sedikit aneh memang, berdiri tanpa sekat pemisah-menembus batas, tubuh kontras mereka saling sentuh menimbulkan sensasi gerah namun nyaman.
Dari jarak sedekat ini, jelas sekali aroma lavender pekat menenangkan Naruto cium ke luar dari tubuh gadis itu. Wanginya yang khas membaur menyatu, bercampur sedap parfum mawar yang dipakainya.
20 menit kiranya perjalanan dari Shibuya menuju Sumida menggunakan kereta listrik. Bibir terkunci, klausa terdiam, hanya gerak manik skeptis yang menjadi isyarat di tengah hening dan kegugupan.
"T..tubuhmu membuatku sesak," raut Hinata menyemu merah. Kakinya menyelip di sela paha Naruto mengecap impresi lain, ketika ia sadar sebuah benda menonjol pada selangkangan pemuda itu menyentuh kulit pahanya yang berbalut stocking.
Sekali lagi, Naruto membuang muka. "Sesak? Kau bahkan membuat yang di sana mengeras, bodoh! Kau tak tahu sih, bagaimana tersiksanya ini." Naruto memekik lirih.
Mendengar ucap seduktif keluar dari mulut pria bermanik biru tersebut, seketika Hinata memalingkan wajahnya, "...-" Samar namun terkesan jelas, rona merah pekat tak mampu lama disembunyikan oleh raut manisnya yang terlahir dengan warna putih pucat.
Ragu-ragu, Naruto meraih tangan Hinata lalu membisik pelan di telinga gadis itu.
"Ssstt... Diam. Jangan banyak bicara. Oh, atau kau ingin memegangnya?"
Blusssh
"A-apa?"
"Aku tidak keberatan jika kau ingin mengelusnya sebentar. Burung kecilku, yang kurang perhatian ini-"
Boug!
Hinata memukul rupa Naruto.
"H..HENTAIII! PERVERT!"
Buagh!
"O..oi-"
"Stasiun Sumida. Perhatian kepada segenap para penumpang-"
"RASAKAN! RASAKAN INI, MESUM!"
Buagh!
Bough!
"Oii, aku hanya bercanda! Kenapa kau menganggapnya serius sih?"
Buagh!
Sreetttt
Pintu dimana Hinata bersandar tiba-tiba terbuka.
Netra sang Hyuga membulat.
Ia kehilangan keseimbangan mulai merasa punggungnya tertarik ke belakang.
BRUUAKKK!
.
.
.
.
Hai, Ikemen Paradise
By
Kimono'z
Naruto_Masashi Kishimoto
Warning : Typo, Bad Story, OOC.
.
.
"ADA YANG TERJATUH!"
Desak pintu ke luar terhenti di ambang. Atensi semua penumpang terfokus pada satu hal, yaitu sepasang manusia beda gender yang jatuh bersamaan.
"Kau baik-baik saja?"
Amethyst meringis menahan nyeri pada punggung sebab baru saja membentur ubin keras,
"Na..Naruto?"
"Syukurlah. Kupikir tak sempat menyelamatkanmu!"
Perlahan Hinata menyadari bila sepasang tangan kuat nan besar menahan kepalanya.
Naruto, menyelematkanku?
Tak kusangka, dia lelaki yang baik dan memiliki respon cepat.
Namun kekagumannya pada pemuda berhelai kuning itu tak berlangsung lama, saat Hinata mendapati wajah Naruto terbenam dalam dadanya.
Raut sang Hime pun menghangat-panas,
PLETAKKK!
"ECCHIIII!"
.
.
Jingga menyemburat lembut. Terpoles manja di ufuk, gagahnya penguasa terang kini berpijak menuju peraduan untuk sejenak beristirahat.
Langit sore ini, terkesan lebih indah. Rombongan burung-burung pulang bersama ke sarang membentuk konfigurasi huruf V menakjubkan. Selain menghemat energi, konon langkah ini ditempuh para burung untuk mempermudah komunikasi di antara mereka selagi terbang. Ditambah dengan posisi demikian mampu mencipta sugesti kekuatan besar dalam benak lawan sehingga musuh atau predator berpikir 2 kali untuk mendekat.
Dari jauh terlihat 2 siluet hitam melangkah beriringan. Pijakan mereka terkamuflase oleh bayang menjulang, refleksi gerak orang-orang di sekitarnya.
Masih cemberut, Naruto menapak lebih dulu. Menutup telinga menggunakan kedua tangan, seraya berusaha tak mendengar ucap cerewet dari gadis bersurai ungu terurai di sampingnya.
"Yosh, sudah sampai tuan putri!" Naruto berhenti. Di hadapannya kini berdiri bangunan kondominium tinggi, tempat di mana beberapa hari lalu mereka dipertemukan dalam situasi yang begitu rumit.
"Ingat! Di hari H tak boleh terlambat. Di porm night nanti nyawaku berada di tanganmu. Jika kauberhasil, aku akan diam dan takkan berujar apapun pada Kakashi-san. Mengerti?"
Naruto mengambil earphone dari balik saku puffer jaketnya, "Aku bukan amatir yang melulu harus kau peringati." Ia memutar sebuah lagu rock, yang tak ayal membuat timpalan Hinata tak lagi terdengar.
Cih,
Sampai di sini saja.
Kuharap berikutnya aku tak berurusan denganmu lagi.
.
~ oOo ~
.
Tahun baru di Jepang terbilang jauh dari bingar perayaan. Jika sebagian besar negara hanyut oleh uforia pesta kembang api, dalam tradisi negeri Matahari Terbit yang ada hanya kekhusyukkan penduduknya dalam menyambut pergantian tahun.
Dimulai dari oosouji, istilah yang biasa digunakan untuk menamai pembersihan total seluruh bagian rumah. Kemudian shimekazari (hiasan kertas yang dipasang di depan pintu guna memperoleh keberuntungan dan mengusir roh jahat), juga nengajyou (kartu ucapan selamat tahun baru yang dikirim kepada keluarga, rekan, relasi dan orang terdekat lainnya).
Pada malam seperti ini, orang Jepang cenderung lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Bercengkrama bersama keluarga, menyantap soba, atau sekedar menikmati hiburan televisi swasta yang acap menyuguhkan acara renyah-menyegarkan, semisal komedi dan kompetisi menyanyi.
Di detik menjelang tahun berganti, pun masyarakat biasanya akan berduyun mendatangi kuil untuk sembahyang. Mengacuhkan gelap sang malam juga dingin yang menusuk, semua berharap mendapat kemakmuran dan keberkahan hidup lewat doa-doa yang dipanjatkannya.
.
~ oOo ~
.
1 Januari,
Konoha University,
.
Alunan jazz klasik mengiring langkah-langkah feminim berbalut sepatu kaca. Langkah-langkah aleman nun ringan, dari kaki gadis-gadis memukau dengan busana sedemikian rupa.
Malam ini, kesan berbeda kental sekali. Tiada lagi terlihat mana si kutu buku, mana si sanguinis, ataupun mana si tuan apatis.
Di sana tepatnya dalam aula besar berdekorasi super mewah ala pesta pernikahan, minuman-minuman terjejer rapi. Rupanya yang warna-warni (merah-jingga-biru), menggoda kerongkongan untuk segera mencetus dahaga agar bisa cepat-cepat mendapat satu tegukan.
Di meja lain pun berbagai makanan penggugah selera mengintimidasi pandang. Mulari dari appetizer ringan seperti soup, canape, fritters, hingga salad, juga main course chicken cordon bleu yang terbuat dari dada ayam tanpa kulit dengan isian keju plus smoked beef membuat ludah terteguk saking inginnya. Belum lagi beragam dessert manis-legit, semisal souffle, fritters, caramel, cake dan ice cream yang pula tak kalah menggiurkan.
Di depan pintu masuk aula seorang gadis blonde tersenyum lebar. Menyambut langkah kecil perempuan berhelai indigo panjang yang tengah berjalan kearahnya.
"Hiiinata-chaaannn!"
Cup!
Tiada jeda, setiap kali Ino berjumpa sang Hyuga, ia pasti tak lupa meninggalkan satu kecup hangat di pipi gadis yang kini terbingkai oleh blush on merah jambu tersebut.
Ino Yamanaka menggeleng pelan. Senyumnya tak henti mengembang, menatap pukau raga sang teman yang malam ini kelewat menawan. Sesaat memperhatikan sekitar, gadis bersurai emas panjang terkuncir itu jadi penasaran, bukankah hari ini merupakan pembalasan? representasi kekecewaan-kemarahan, dimana Hinata akan membawa pria tampan sebagai kekasih dan menunjukkannya pada Gaara.
"Omong-omong, dimana pasanganmu Hinata-chan?"
Tak menjawab indigo hanya mengulas senyum sumbang sembari santai menaikkan bahu.
"...?!"
Greebb!
"Apa kausudah gila?" Ino menarik lengan Hinata. "Ya ampun Hinata-chan, kau sadar dengan apa yang kaulakukan? Gaara dan simpanannya pasti akan menertawaimu. Terlebih di depan tadi aku sempat bertemu mereka,"
Malam ini Ino tak datang sendiri. Ia ditemani Sai, kekasihnya. Meski demikian, cukup kelihatan jika lelaki dengan kulit putih pucat tersebut tak menunjuk ekspresi senang. Senyuman sempurna yang semenjak tadi ia ukir, justru mengafirmasi ekspresi lain semacam penderitaan dan batin yang tersiksa berlebih.
Ayolah, semua manusia di bumi tahu. Ino terlahir fujoshi akut!
Ia yang begitu antusias mendatangi pesta ini, tak lebih bertujuan mencari sosok ganteng sebagai korban foto shot berikutnya. Mendampingi sang kekasih(Sai), guna pengambilan beberapa scene ambigu yang menuntut sang model bertelanjang dada.
Oh My God!
"Ya ampun Hinata-chan, apa yang ada di dalam pikiranmu sih?!"
"Hehe.." kesekian kali tawa sumbang ke luar.
Cih,
Bedebah!
Dalam hati sebenarnya Hinata mengumpat,
Si keparat kuning sialan itu kemana sih? Bilang bukan amatir, bilangnya profesional, tapi sampai sekarang batang hidungnya tak terlihat!
Dobe,
Ada banyak hal yang harus kita lakukan guna memberi kesan real pada hubungan fake ini. Mulutku kemarin sampai berbusa memberitahu! Apa otakmu itu terlalu kecil, sehingga tidak dapat mencerna dengan mudah kata-kataku?
Sigh!
"Hi..Hinata-chan?" Ino menggoyang-goyang bahu Hinata.
"A- ee?"
"Iiiihh.. Kok malah ngelamun sih!"
Menggaruk belakang kepala, "Ma..maaf. Omong-omong, Chouchou tak ikut bersamamu?" Hinata mengalihkan pembicaraan mereka.
Hufff...
"Kautahu sendirikan Hinata-chan. Malam ini bertepatan dengan konser boyband kesayangannya itu. C'project atau apalah namanya. Jadi Chocou tak datang."
"Oh-"
Manik amthyst yang perlahan melukis gundah tertangkap jelas dalam penglihatan jeli Ino. Bersahabat sekian lama, membuat apa yang coba gadis sintal itu sembunyikan justru nampak semakin nyata. Hanya dengan memandang, Ino seolah jadi tahu segala hal. Apa yang gadis itu rasakan, apa yang temannya itu sesalkan, dan apa yang si indigo tersebut inginkan.
Banyak orang menyebut, bilamana gulana/gelisah dapat dianilis dengan mudah melalui perubahan anggota tubuh yang bergerak lebih aktif dari keadan normal. Semisal tangan yang tiba-tiba menggaruk hidung padahal tak gatal, mengusap-usap belakang kepala, menggesek-gesek telapak tangan, jalan mondar-mandir, dan beberapa dari ciri umum lain yang tanpa sadar pun Hinata lakukan saat ini.
"Hi..nata-chan, kok bengong lagi? Ada sesuatu kah?"
"Ah, ti..tidak! Aku hanya sedang menunggu partnerku,"
"Kaujangan bohong. Wajahmu itu sama sekali tak berkata demikian-"
Ahem!
Deheman lembut menyapa dari balik punggung Hinata.
Seorang gadis beriris hazel cerah, menggulir tatap sinis, tersenyum puas.
"Hooo, bukankah kemarin ada seorang imbisil yang berujar akan membawa kekasih barunya ke pesta ini?"
Iris amethyst Hinata membulat.
"Ka..Kalian?!" Ino terkejut mendapati Gaara dan kekasih sialannya datang menghampiri mereka.
Sial!
kenapa di saat seperti ini?
Mana gawat lagi, pasangan Hinata-chan belum juga muncul.
"Kautemannya si pembual tolol yang tak sekalipun menggunakan otaknya sebagai pijakan berpikir ini? Huh, coba lihat sahabatmu. Katanya mau bawa penanding, mana?"
"K..kau?!"
"Bagaimana Hinata-chan? Kaukesulitan mencarinya kan ? Oh, atau justru tak ada yang mau dengan muh gara-gara sifat kuno mu itu? hahaha, sudah kubilang, tak ada yang lebih sempurna dibanding Gaara-ku,"
Masih di posisi semula. Membelakangi Garaa juga simpanannya, tangan Hinata mengepal ingin seketika memukul mulut menyebalkan tersebut.
Damn!
.
.
.
TBC
Hallo,
Thankz for fav/follow/review.
Jangan bosan-bosan singgah di IkePara ('-')
Btw, Gomennasai. Lagi-lagi wordnya kurang panjang (malah ini dikit banget). Akhir-akhir ini saya sedikit sibuk, dan ada 2 ff yang ingin saya tamatin akhir bulan ini juga. Jadi, sedikit bagi waktu. Di tambah mode BM, kalimatku sepertinya kacau terutama dibeberapa bagian menjelang tbc. T-T Gomennasai!
Mengenai judul,
Sepertinya saya tidak akan memasukkannya dalam kolom disclaimer. Dari segi cerita kupikir cukup berbeda, lagi pula judulnya pun tak sama persis. '-')
Oh iya, hari ini saya mengup 2 ff NaruHina sekaligus.
Yuk, merapat.
Destiny Blue : the word after that night.
Genre : Romance/action/hurt/comfort/tragedy.
.
Yosh, sankyu
happy reading,
.
RnR minna ('-')
