Nekomata

Meanie Couple

Mingyu x Wonwoo

! Don't try to take other people's work without permission

! Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca

! Want to request ff? DM me

Enjoy it

.

.

"Meong~" Wonwoo mengusap kepalanya pada permukaan pipi Mingyu. Pemuda yang kini tengah terlelap itu bergerak risih, mencoba menghindari ujung-ujung dari anak rambut Wonwoo yang menusuk. Mengusap permukaan pipinya sesaat dengan kedua alis bertaut selagi kelopak matanya terpejam.

"Meong~" Kembali, Wonwoo masih mengusap puncak kepalanya pada permukaan wajah Mingyu membuat pemuda itu berakhir dengan desahan nafas jengah. "Berhentilah menggosokkan kepala mu ke pipi ku Wonwoo. Sumpah, aku benar-benar mengantuk." Mingyu memekik frustasi. Memandang Wonwoo dengan tatapan jengkel yang hanya dibalas oleh tatapan datar dari pemuda itu.

"Elus kepala ku, aku gak bisa tidur." Ujarnya masih dengan raut wajah begitu datar. "Gak tahu ah! Elus saja sendiri sana! Gesek-gesek ke dinding atau apa 'lah aku mengantuk!" Mingyu menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya meninggalkan Wonwoo yang kini terduduk disisinya dengan wajah begitu datar. Pemuda itu berdecih, menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut yang tengah Mingyu kenakan membuat pemuda itu nyaris terkena serangan jantung akibat perlakuannya.

"Apa yang kau lakukan sih!" Mingyu bersumpah dirinya begitu merasa kesal saat ini. Mendapati Wonwoo yang menjatuhkan dagunya pada pinggangnya. Meletakkan telapak tangan Mingyu pada puncak kepalanya. "Elus aku~" Wonwoo berujar dengan nada mendayu.

"Ya tuhan, salah apa aku ini sampai harus bertemu siluman kucing aneh seperti dia." Pemuda itu meratap, dengan terpaksa menelusupkan jemarinya pada helaian rambut Wonwoo. Membuat Wonwoo menggeram tertahan. "Sudah 'kan, menyingkir aku mau tidur sekarang."

Mendorong kepala Wonwoo yang masih bertengger di pinggangnya, namun pemuda itu masih enggan untuk beranjak. "Belum-belum, cepat elus lagi." Dan berakhir dengan pekikkan frustasi milik Mingyu. Itu adalah malam terlelah bagi Mingyu seumur hidupnya.

.

"Wajah mu kenapa sih kusut sekali." Wonwoo kembali melahap bacon miliknya, tampaknya pemuda itu begitu menyukai potongan daging itu. Mingyu mendecih, menatap malas pada Wonwoo sesaat. "Gak perlu bertanya jika kau tahu pasti apa jawabannya." Mengangkat bahunya ke udara, sebuah gesture cuek yang di berikan Wonwoo pada Mingyu.

"Aku sungguh-sungguh gak tahu kok." Tukasnya tanpa dosa. Mingyu bersumpah ia begitu ingin mencekik Wonwoo kini mendapati raut wajah seakan ia tidak membuat kesalahan apapun. "Aku gak tidur semalaman karena mu, siluman kucing."

"Nekomata." Wonwoo tampak meralat ucapan Mingyu, kembali meraup bacon yang berada dalam piringnya. "Peduli apa mau itu nekomata neko-neko atau nekotama pun aku gak peduli. Nanti malam jangan ganggu tidur ku lagi." Ia berujar ketus, kembali menatap pada sarapan miliknya.

"Katanya vampire tapi kenapa malam-malam justru tidur. Aku gak pernah melihat mu menghisap darah. Kau vampire gadungan ya?" Nyaris mati tersedak, Mingyu buru-buru meraih air putih yang berada di dekatnya. Menenggak cairan itu hingga habis separuhnya.

"Lihat, kau bahkan minum air putih. Kau membuat aku meragukan mu, Mingyu." Ia melongo, setelahnya mendengus. "Sudah gak jaman vampire minum darah asal kau tahu saja. Aku ini sudah ber-evolusi." Ujarnya, mengacungkan ujung dari garpu yang berisi bacon menuju Wonwoo. Pemuda kucing itu hendak meraihnya dengan mulut terbuka namun kembali di tarik oleh sang pemilik, menyisakan tatapan datar pada iris matanya.

"Evolusi, bicara mu sok seperti orang besar. Lagi pula evolusi macam apa." Ia mencibir, menatap pada piringnya yang kini telah kosong. Beralih pada piring Mingyu dimana masih terdapat beberapa slice daging bacon disana. Wonwoo menjilat bibirnya sesaat. "Memang aku orang besar kok, lihat tubuh ku besar 'kan?" Ia terkekeh sebentar, melahap bacon yang tadi tertancap pada ujung garpunya.

"Iya besar. Burung mu juga." Dan lagi, nyaris tersedak karena ucapan Wonwoo. Mingyu menatap pemuda itu lamat-lamat. "Bicara mu terlalu blak-blak-an tahu." Wonwoo mengangkat bahunya acuh, masih menatap pada potongan bacon disana. "Kau bisa di perkosa orang jika seperti itu."

"Biar 'kan saja. Memang apa buruknya di perkosa itu, lebih-lebih di perkosa oleh orang yang punya banyak bacon aku rela." Tukasnya sukses menjatuhkan rahang Mingyu. Pemuda itu tidak habis pikir dengan Wonwoo, apakah harga dirinya hanya sebatas lembaran bacon saja?

Wonwoo mengusap ujung hidungnya, memutuskan untuk tidak lagi menatap bacon milik Mingyu. "Kau bilang tadi sudah ber-evolusi ya?" Ia menatap Mingyu, menopangkan dagunya pada tangan putih miliknya. Mendapati Mingyu yang mengangguk atas pertanyaannya. "Lalu jika tidak meminum darah, apa yang kau minum?"

"Sirup." Berakhir dengan Wonwoo yang beranjak dengan raut wajah 2x lipat lebih datar. Mingyu menatapnya bertanya. "Vampire tolol."

.

"Eh, kau mau kemana?" Wonwoo berujar menatap pada Mingyu yang tengah mengenakan coat miliknya. "Bekerja." Hanya balasan singkat, pemuda itu beranjak dari duduknya menghampiri Mingyu yang hendak beranjak pergi. "Bekerja?"

Ia mengangguk, melemparkan senyuman singkat pada Wonwoo. "Kau di rumah saja, ya. Kunci pintu." Ia hendak meraih gagang pintu namun terhenti oleh genggaman Wonwoo pada lengannya. Mingyu menoleh, melemparkan pandangan bertanya. "Elus aku." Setelahnya mendesah panjang, tersenyum seraya memberikan elusan singkat pada puncak kepala Wonwoo. "Sudah ya, aku pergi dulu."

Dan tubuh tingginya menghilang di balik pintu. Menyisakan Wonwoo dengan raut wajahnya yang sedikit pun tidak berubah sejak pertama kali keduanya bertemu, datar. Pemuda itu memutuskan untuk kembali menuju sofa. Menenggelamkan tubuhnya disana. "Kapan pulangnya, ya?"

.

Mingyu melepaskan sepatu miliknya, hendak beranjak menuju kamar tidurnya sebelum gumpalan bulu tampak menggelung di sudut sofa ruang tamu. Ia melangkahkan kakinya, mendekati hewan berkaki empat yang tengah terlelap itu. "Oh, berubah?"

Menyentuh lembut bulu keabuan pekat yang tampak semakin menggelung di sudut sofa. Setelahnya tersenyum samar, beranjak kembali guna membersihkan tubuhnya.

"Ya tuhan apa yang kau lakukan?!" Mingyu memekik kuat, buru-buru menarik handuk yang bertengger di bahu miliknya guna menutupi area terlarang milik Wonwoo. "Kau ini siluman gak punya malu, ya?" Ujarnya kesal, mendapati raut wajah Wonwoo yang tetap datar membuat Mingyu berfikir keras mengenai apa yang sebenarnya berada dalam tempurung kepala pemuda dihadapannya kini.

"Apa sih, minggir sana aku mau pipis." Mendorong tubuh Mingyu guna mendapatkan akses untuknya menuju toilet. Menyisakan Mingyu yang hanya dapat membuang nafasnya berat.

Wonwoo masih mengenakan handuk yang di balutkan Mingyu pada pinggang ramping miliknya saat pemuda itu menjatuhkan tubuhnya tepat disisi Mingyu yang tengah menikmati acara televisinya. "Ya tuhan, Wonwoo. kena 'kan baju mu sana." Ia menarik ujung dari handuk yang mengekspose paha Wonwoo. Menatap dari ekor matanya.

"Aku gak mengerti cara menggunakannya. Lagi pula pakaian mu semuanya kebesaran, sama saja seperti gak menggunakan pakaian." Tukasnya cuek, meraih brondong jagung yang berada dalam pangkuan Mingyu. Mengendusnya sesaat setelahnya mencoba memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

"Kau sungguh-sungguh akan di perkosa jika seperti ini." Mingyu beranjak, berniat mengambil beberapa potong pakaian miliknya guna menutupi tubuh Wonwoo. Ia kembali setelah beberapa menit berlalu, membawa sebuah hoodie berwarna kuning dan celana training putih miliknya. "Angkat tangan mu."

Wonwoo meraup cukup banyak brondong jagung dalam genggamannya, menjejalkan makanan manis itu sebelum mengikuti printah Mingyu. Membuat mulutnya terisi penuh oleh brondong jagung yang justru mengundang tawa Mingyu. "Kau ini seperti anak kecil." Hanya berdehem acuh, mendorong tubuh Mingyu untuk sedikit bergeser guna memberinya ruang untuk melihat televisi di depannya.

Mingyu dengan apik menarik sweater itu, membuat Wonwoo kini tampak tenggelam dalam baju miliknya. Menggulung dengan sabar lengan dari pakaian itu yang kini tampak menutupi tangan Wonwoo. "Sekarang berdiri, dan kena 'kan ini." Ia menyodorkan sebuah celana training pada Wonwoo namun hanya di tatap tanpa ekspresi oleh pemuda itu. "Mana aku bisa."

Mingyu mendesah berat pada akhirnya. Meminta Wonwoo untuk berdiri agar ia bisa memasangkan benda itu pada tubuhnya. "Jangan di buka dulu bodoh!" Mingyu bersumpah bahwa Wonwoo itu terlihat sangat polos tidak namun kelewat polos sehingga tampak bodoh. Mendapati Wonwoo justru menanggalkan handuk yang tengah melilit pinggangnya kini.

"Pakai lagi! Pakai lagi!" Mingyu menjerit jengah. "Kau ini maunya apa sih? Tadi di suruh pakai celana sekarang pakai handuk?! Sudah aku gak perlu pakaian ini, biasanya juga aku gak menggunakan pakaian kok." Wonwoo juga ikut jengah, memungut kembali handuk yang di jatuhkannya di lantai dan melemparnya ke wajah Mingyu.

Ia merengut dengan alis bertaut, menyisakan Mingyu yang kembali harus membuang nafas panjang. Ia tersenyum paksa, mencoba memahami Wonwoo. "Maksud ku tetap kena 'kan handuknya selagi aku memasang 'kan celana ini pada mu. Memangnya kau gak malu burung mu itu di tatap orang lain?" Mingyu berani bersumpah ia merasa begitu malu untuk mengucapkan kata yang selalu Wonwoo lontarkan mengenai area privasinya.

"Gak, aku biasa saja. Biasanya saat aku jadi kucing burung ku juga terekspose kok." Mengatakan sesuatu yang begitu ambigu dengan raut wajah datar hanya Wonwoo yang mampu sepertinya. Mingyu memutuskan mengalah, sedikit merendahkan tubuhnya, tidak sepenuhnya sejajar dengan area privasi Wonwoo namun lebih kepada dada pemuda itu. Meminta pemuda itu untuk memasukkan kedua kakinya pada lubang di celana setelahnya menarik karet itu hingga sebatas pinggang Wonwoo.

Ia mendesah lega, seakan sesuatu yang begitu berat telah di laluinya. Mingyu mengusap peluh yang tertinggal di dahinya. Menatap Wonwoo yang kini berpakaian lengkap membuncahkan rasa bangga dalam dadanya. "Kenapa senyum-senyum? Kau berfikiran kotor ya?" Berdecih atas pernyataan pemuda dihadapannya itu. Mingyu menyeringai jahil, mendekat 'kan bibirnya pada daun telinga Wonwoo. "Iya, aku berfikiran untuk memperkosa mu nanti malam." Dan sebuah pukulan begitu keras datang dari kepalan tangan Wonwoo tepat mengenai puncak kepala Mingyu. Pemuda itu berlalu dengan gumaman berisi cacian untuk Mingyu yang hanya di tanggapi oleh kekehan ringan.

.

.

Wonwoo itu seekor kucing, meski tidak sepenuhnya namun pemuda itu tetap memiliki sisi dari dirinya sendiri yang akan bertingkah seperti seekor kucing. "Kau ingin kemana, Wonwoo?" Mingyu menatap Wonwoo dari tempatnya berada saat ini. Pemuda dengan kaus coklat kebesaran itu menoleh sesaat, menatap Mingyu datar. "Keluar rumah."

"Aku tahu, tapi kau ingin kemana?" Kembali memperjelas pertanyaannya. Mingyu memutuskan beranjak menghampiri si pemuda. "Ingin mencari kucing betina." Ujarnya cuek, berniat untuk membuka pintu didepannya. Wonwoo sedikit banyak sudah memahami tentang bagaimana menggunakan sisi manusianya. Mingyu mengajarkan begitu banyak hal, termasuk cara membuka pintu.

"Eh, untuk apa?" Ia berujar kembali, sedikit melebarkan tatapannya terkejut. "Ini 'kan sudah masuk musim kawin. Kau lupa aku ini kucing ya?" Wonwoo mendengus, menatap tajam Mingyu yang kini tampak menggaruk lehernya canggung. "Oh, seperti itu ya?" Kata itu keluar tanpa niatan, Mingyu hanya sedikit merasa bingung harus bicara apa. Wonwoo beranjak, memutar arah langkahnya kembali menuju Mingyu. "Kunci pintu ya." Tukasnya dengan cengiran khasnya seraya menepuk puncak kepala Mingyu. Ia keluar detik setelahnya.

.

Angin sedikit berhembus kencang diluar sana. Wonwoo yang kini tampak berdiri di depan pintu apartement Mingyu masih mencoba membuka pintu itu. Ia terdiam, mencoba menggunakan otaknya saat pintu yang kini berada tepat didepan matanya tak kujung terbuka. "Mingyu!" Ia berteriak agak keras, memberikan ketukkan pada benda mati itu.

"Mingyu, Mingyu! Ayo buka pintunya." Masih menjatuhkan tatapannya pada pintu dihadapannya. Ia mendesah bingung, berfikir mungkin Mingyu tertidur begitu pulas. Namun sepertinya tebakkannya salah saat bunyi seperti pintu tengah terbuka menguar. "Ya tuhan! Kau ini apa-apaan?!"

Mingyu nyaris sesak nafas mendapati seorang pemuda telanjang tanpa pakaian tengah berdiri dihadapannya kini, memasang raut wajah datar yang terkesan polos. Buru-buru menarik tubuh Wonwoo masuk dan mengunci kembali pintu apartementnya. "Kenapa kau telanjang begitu sih?"

Kantuk yang sebelumnya menggelayut hilang sempurna. Semburat merah yang pastinya tampak begitu samar bersemayam dibalik kulit kecoklatannya. Wonwoo itu sempurna, ia putih dan tidak bercela. "Kau 'kan tahu aku berubah jadi kucing, pakaian mu mana muat ditubuh ku." Ia berujar cuek, melengos dari pandangan Mingyu dengan santainya. Menampakkan bokong miliknya yang terekspose didepan mata Mingyu.

"Kau telanjang seperti itu di jalan?" Wonwoo berhenti, membuang pakaian yang sedari tadi berada dalam genggamannya keatas lantai setelahnya berlari kecil menuju kulkas di dapur. Belum merespon Mingyu, bibirnya hanya menggumam kata bacon sepanjang ia mengubrak-abrik isi kulkas. "Hey, aku bertanya pada mu, Wonwoo." Setelahnya kembali berdiri dihadapan Mingyu dengan potongan bacon yang terjepit di kedua bibirnya. Menggeleng singkat yang terlihat begitu lucu di mata Mingyu. Ia bersumpah harus mati-matian untuk menjaga pandangannya.

"Aku baru berubah setelah didepan pintu rumah. Tapi gak bisa menggunakan baju lagi." Tertawa kecil, kembali memasukkan potongan bacon kedalam mulutnya. Mingyu mendesah frustasi, menarik Wonwoo menuju kamarnya. "Sudah tidur sana, jangan terlalu banyak makan bacon." Merebut kantung dari makanan itu membuat Wonwoo sedikit mendengus jengkel namun setelahnya pemuda itu melompat cukup keras keatas ranjang milik Mingyu.

Ia bergelung di atas selimut, tampak begitu manis saat kedua kelopak matanya menutup. Menyisakan Mingyu yang mendapati bulu mata panjang disana. Mingyu tersenyum samar, memutuskan untuk ikut berbaring. Menyusupkan dirinya yang hanya mengenakan celana tidur ke balik selimut. "Kau tidak ke dinginan, cepat masuk ke dalam selimut." Tukasnya namun tidak mendapat respon. Seperti Wonwoo jatuh tertidur lebih dulu. Menghela nafasnya kembali dan berniat untuk tidur, menjemput mimpinya.

Namun belum sampai satu menit matanya terpejam, ia kembali terbangun mendapati kini Wonwoo tengah bergelung diatas dada telanjangnya. Ia terdiam, namun tawa ringan menguar. Sejenak mengusap puncak kepala Wonwoo yang kini kembali tertidur. "Selamat malam, Wonwoo."

.

.

Wonwoo membuka kedua kelopaknya, menaungi cahaya yang begitu mengusik tidurnya. Setelahnya pemuda itu terduduk tepat di tengah ranjang dengan helaian rambut berantakkan dan tubuhnya yang masih telanjang sejak semalam. Menguap lebar sebelum Mingyu muncul dari balik pintu kamar. "Oh, sudah bangun."

Hanya tetap memandang Mingyu dengan tatapan datarnya yang setengah mengantuk, membawa senyuman tanpa sadar tergaris pada bibir Mingyu. Pemuda tan itu beranjak menuju almari pakaiannya, meraih sebuah hoodie berwarna pink hangat serta celana bahan sebatas lutut berwarna biru laut. "Aku akan mengajarkan mu cara menggunakan pakaian hari ini."

Wonwoo tak merespon, kembali menjatuhkan tubuhnya pada ranjang Mingyu. Berniat untuk terlelap namun tarikkan pelan pada pergelangan tangannya membuat ia mau tak mau kembali bangkit. "Aku sudah bilang 'kan gak perlu pakaian, kenapa repot-repot sih." Ia merengek sedikit kesal, rasa kantuk masih menggelung dalam matanya.

"Mana bisa begitu, kau sekarang manusia dan manusia butuh pakaian. Aku akan menunjukkannya sekarang." Mingyu menyerahkan helaian hoodie tadi pada Wonwoo yang hanya di genggam pemuda itu kini. "Aku akan melepaskan baju ku juga, dan memasangnya kembali. Kau harus mengikuti." Tukasnya, mencopot t-shirt dengan leher v-neck miliknya. Menyuguhkan Wonwoo pemandangan kecoklatan di seputar dada hingga perut Mingyu yang sedikit tampak berbentuk.

Mingyu menggebras sesaat kausnya, setelahnya meminta Wonwoo untuk melakukan hal yang sama. "Pertama, masukkan kepala mu ke dalam sini hingga menuju lubang paling besar disini." Mingyu memasukkan kepalanya pada kaus miliknya kembali, hingga kepalanya muncul di luar lubang leher. Dan Wonwoo yang awalnya tampak tidak tertarik perlahan mulai menunjukkan antusiasnya. Mengikuti cara Mingyu tadi.

"Mingyu! Dimana lubangnya, kenapa tidak muat!" Pemuda itu memekik sedikit panik saat kepala miliknya justru masuk kedalam lubang tanggan hoodie. Membawa tawa Mingyu menguar. Pemuda itu mendekat, menolong Wonwoo yang begitu kesulitan untuk menemukan lubang dari leher hoodie itu. "Nah seperti itu." Ia tersenyum, menemukan kembali kepala Wonwoo yang menyembul dari dalam rongga leher.

"Setelah itu, masukkan tangan kanan mu ke lubang yang di sebelah kanan seperti ini." Kembali memberi contoh yang kini dapat dilalui Wonwoo dengan baik. Hingga berakhir dengan kedua tangan Wonwoo yang tenggelam dalam hoodie seukuran tubuh besarnya. Mingyu beranjak, bermaksud membuat gulungan pada lengan pakaian itu.

"Sekarang cara menggunakan celana. Pegang seperti ini." Ia menyerahkan celana sebatas lutut yang sudah terbuka dari lipatannya pada Wonwoo. Sesaat pemuda itu terdiam ketika Mingyu menjelaskan apa yang harus dilakukannya. "Kenapa diam saja?" Ujarnya bertanya.

"Kenapa kau gak melepas celana mu juga? Tadi kau melepas baju mu untuk mencontohkannya." Mingyu tertohok, menatap Wonwoo dengan pandangan sulit diartikan. "Untuk celana sih gak perlu dicontohkan sampai seperti itu. Sudah cepat lakukan apa yang aku suruh."

Mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Wonwoo masih memandangnya datar dan enggan melakukannya. Pemuda itu kini justru menggenggam celana training milik Mingyu. "Ayo lepaskan." Ujarnya datar namun menuntut membuat Mingyu merasa salah tingkah sendiri. "Ehehe, jangan seperti itu Wonwoo. Sungguh aku rasa gak perlu mencontohkannya seperti itu." Ia menyentuh tangan Wonwoo yang masih menarik celana miliknya.

"Kenapa?" Wonwoo menuntut kembali merasa bahwa Mingyu sedikit menjengkelkan karena tidak ingin melepaskan celana miliknya. "Eh? Itu.. ya aku malu saja jika.. ehem.. burung ku terekspose." Mingyu bersumpah terlalu sulit untuk mengatakannya.

Setelahnya Wonwoo menjatuhkan pandangnnya pada area privasi Mingyu dan beralih menuju miliknya. "Gak apa-apa, punya ku saja gak tertutup." Mingyu ingin sekali melempar dirinya kedalam neraka saja saat ini. Wonwoo itu sebenarnya jika dilihat sekilas tampak seperti pria cerdas namun nyatanya jauh dalam diri pemuda itu benar-benar polos dan bodoh. "Pokoknya gak bisa, sudah cepat pakai celana mu nanti burung mu lari."

"Memangnya bisa?" Mingyu mengangguk pasti saat menyadari Wonwoo terjebak dalam kebohongannya. "Serius, sebenarnya burung manusia itu bisa pergi begitu saja jika tidak di tutupi. Makanya sekarang cepat pakai celana mu seperti yang aku contohkan tadi." Ia terkekeh, mendapati Wonwoo yang kini buru-buru mengenakan bawahannya.

"Nah, karena aku sudah mengajarkan mu mulai dari sekarang kau dilarang bertelanjang ria dirumah ini." Menepuk puncak kepala Wonwoo setelahnya meraih sesuatu dari dalam sakunya. "Bacon!" Wonwoo memekik cukup keras, sesuatu yang baru kali ini di lihat oleh Mingyu. Pemuda itu mendorong dahi Wonwoo yang hendak merebut bungkus bacon dari tangannya. "Diam kalau ingin aku memberi mu ini."

Memutuskan untuk mengikuti perintah Mingyu. Ia terdiam, menatap Mingyu yang kini menyodorkan potongan bacon padanya. Meraihnya langsung dengan mulutnya setelahnya tersenyum pada Mingyu. Menarik tangan pemuda itu untuk mengelus puncak kepalanya. "Meong~" Dan Mingyu bersumpah begitu menahan dirinya untuk mengulum senyum serta menahan rasa gemasnya saat Wonwoo dengan wajah cerianya menggumamkan kata meong. Sangat manis!


Chit chat : Haiiiiiii update cieeeeee xD. Sebelum banyak curcol aku mau jawab beberapa pertanyaan yg kayanya lumayan mainstream yaa xD soal Wonwoo yang pake baju atau gk pas adegan sarapan? ofc dia pake, masa iya si Mingyu tega banget nelanjangin wonwoo nanti masuk angin gimana /ya mending masuk angin drpd masuk yg laen /? xD intinya udah dipakein baju sama Mingyu lah pas adegan sarapannya. terus juga yg nanya ini sebetulnya rated M/K. ini K nyerempet M karena yg request minta ada asem" dikit tp untuk chapt ini masih belum keliatan :p. Oh iya sedikit gambaran soal Wonwoo disini, mungkin sebagian mikir kok wonwoo cute banget atau apalahapalah /? sebenernya karakter Wonwoo disini sama aja kaya real dia yang anteng, adem, cuek, dingin, datar tp kalian juga tau kan kalo sisi lain Wonwoo itu cute dan suka yang bertingkah absurd /? xD dan untuk Mingyu juga kesannya gk jauh bgt kan :p. Terus juga disini Wonwoo meski manusia setengah meong dia dulu sebelum ketemu Mingyu lebih sering jd meong jadi dia itu semacam gk paham lah cara hidup ala-ala manusia makanya di ff ini kesannya Wonwoo ky yg gak bisa pake baju dll dan Mingyu hadir buat jd guru plus"nya wkwkwk xD.

Okeh sesi curcol dikit, entah kenapa ya aku nulis ff ini itu gemes sendiri masa. Ngebayangin wonwoonya oon bgt pas diajarin pake baju jd pengen gigit bantal /halah/ rencana awalnya padahal gk mau bikin wonwoo rada oon tp akhirnya malah begini x'D tp so far masih batasan wajar sih yaa oonnya. okeh seperti sebelumnya, makasih banyak buat kalian yg masih mau partisipasi buat ff ini aku terhura krn nyatanya banyak yg suka juga meski kebanyakkan jd SR :P but gk masalah lah yg penting ada yang mau ninggalin jejak juga. okehhhh terakhir jangan lupa reviewnya yaaaa sayang" akoh :*

Salam,

Crypt14