Nekomata

Meanie Couple

Mingyu x Wonwoo

! Don't try to take other people's work without permission

! Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca

! Want to request ff? DM me

Enjoy it

.

.

Angin tengah berhembus cukup kencang di luar sana. Kedua pemuda itu memutuskan untuk memilih tetap berada dirumah, menghangatkan diri dalam gelungan selimut serta secangkir teh dan susu hangat. Mingyu mengusap ujung hidungnya sesaat, kedua iris matanya masih tampak memandang pada layar televisi.

Menjatuhkan tatapannya pada Wonwoo yang kini berpindah ke dalam pangkuanya, membuat pandangannya pada televisi terhalang. "Kenapa duduk di pangkuan ku, kembali ke tempat mu sana." Ujarnya, menepuk pelan pinggang si pemuda kucing. Wonwoo tak bergeming, justru menaikkan kedua kakinya yang terbalut celana training keatas pangkuan Mingyu, duduk bersila.

"Hey dengar gak sih. Aku gak kelihatan nih." Si pemuda kecoklatan sedikit memiringkan posisi tubuhnya, mencoba menggapai pandangannya pada raut wajah Wonwoo. "Brisik." Mengabaikan ucapan Mingyu dan justru lebih mendorong tubuhnya kebelakang, nyaris oh mungkin sudah menduduki area privasi Mingyu.

Mingyu menghela nafasnya panjang, memutuskan untuk mengalah. Pemuda tan itu menyandarkan punggungnya pada badan sofa, menatap lamat-lamat punggung Wonwoo yang terlihat cukup lebar. Setelahnya nyaris memaki saat pemuda yang tengah berada dalam pangkuannya secara tiba-tiba menyandarkan punggungnya pada dada miliknya, membuat dahinya berhantukkan cukup keras dengan kepala belakang Wonwoo.

"Aduh, dahi ku." Ia mengusap dahinya, menyingkirkan kepala Wonwoo menuju bahunya. Pemuda kucing itu masih tak bergeming, sibuk menatap pada layar televisi yang tengah menyiarkan acara memasak, tontonan membosankan.

Sedikit merasa tergelitik saat ujung dari rambut Wonwoo menyentuh rahang miliknya, ia menoleh sedikit, melirik dari ekor matanya. "Serius sekali." Ujarnya pelan, kembali mengikuti arah pandang Wonwoo. Hening, pemuda kucing itu tampak begitu serius dengan apa yang tengah di lihatnya kini. Meninggalkan Mingyu dengan rasa bosan yang nyaris membunuhnya.

Pemuda itu kembali melirik dari ekor matanya, menatap lama wajah Wonwoo dari samping. Setelahnya ia terhenti, tepat di puncak kepala Wonwoo. Sebuah telinga mungil yang tersembunyi di balik helaian rambutnya tampak sedikit menyembul keluar, membuat Mingyu merasa begitu ingin menyentuhnya.

Dan dengkuran halus menguar dari dalam kerongkongan Wonwoo saat pemuda tinggi itu mengusap telinga hewannya. Tatapannya belum beranjak dari apa yang tengah di lihatnya kini meski Mingyu terus menyentuh kedua benda itu. "Hey, telinga mu ini berfungsi gak saat sedang menjadi manusia?"

Tukas Mingyu, masih menjatuhkan jari jemarinya disana. Pada kumpulan bulu lembut dalam helaian rambutnya. Hanya berdehem sebagai jawaban dari pertanyaan Mingyu. Mingyu terdiam setelahnya, masih bermain diatas sana. Setelahnya Wonwoo nyaris menjerit keras saat rentetan gigi Mingyu bersarang pada telinga hewannya. "Apa yang kau lakukan?!" Ia memekik, mengangkat punggungnya dari dada Mingyu yang kini justru melemparkan cengiran tak berdosa.

Wonwoo memegangi puncak kepalanya, lebih tepatnya kedua pasang telinga hewannya dengan pandangan jengkel. "Ternyata benar-benar berfungsi ya, aku kira cuma pajangan." Ia terkekeh mendapati raut wajah Wonwoo yang sedikit memerah karena kesal. "Vampire tolol." Dan pukulan keras tepat mengenai kepala Mingyu.

Wonwoo kembali menyandarkan punggungnya pada dada Mingyu, mengabaikan ringisan yang menguar dari bibir Mingyu. "Hey, ini malam halloween. Ingin main sesuatu?" Mingyu kembali melirik Wonwoo. Si pemuda yang di ajak bicara masih belum menjawab, sibuk mengelus telinga hewannya yang beberapa detik lalu terasa sedikit ngilu. "Aku bicara pada mu, Jeon Wonwoo."

"Aku gak ingin bicara dengan vampire tolol seperti mu." Ia memandang sinis dari sudut matanya, menyisakan tawa ringan dari bibir Mingyu. "Maaf, maaf. Aku cuma bercanda tadi." Ikut mengelus puncak kepala Wonwoo. Pemuda kecoklatan itu tanpa sadar justru menjatuhkan tangannya yang terbebas pada perut Wonwoo, gesture seakan memeluk pemuda itu dari belakang tubuhnya.

"Jadi mau main gak? Aku punya permainan seru nih." Tukasnya, kini sungguh-sungguh mengapit pinggang Wonwoo dengan kedua lengan miliknya. Wonwoo terdiam sesaat, duduknya tampak sedikit merosot dari posisi awal. "Main apa?" Ia bertanya malas, masih mengelus kedua telinga hewannya. Sesaat tertawa kecil karena merasa tergelitik oleh perlakuannya sendiri. "Petak umpet."

Wonwoo terhenti, memandang Mingyu yang sedari tadi belum melepas tatapan darinya. "Nanti yang menang bisa melakukan apapun ke yang kalah, bagaimana?" Ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Termasuk mengusir dari rumah?" Mingyu melongo, setelahnya menatap malas Wonwoo. "Ya jangan terlalu kejam juga sih." Ucapnya membuahkan tawa dari Wonwoo. Pemuda itu haya bergurau mengenai ucapannya tadi.

"Okay, tapi kau yang jaga lebih dulu ya." Mingyu membuang nafasnya, ia sudah menduga jika Wonwoo akan meminta hal itu. Mengangguk samar sebagai jawaban. Si pemuda berkulit putih beranjak, hendak pergi untuk bersembunyi. "Ini tangan mu kenapa masih disini, aku mau sembunyi cepat singkirkan." Ia berujar cukup ketus, menepuk pelan pergelangan tangan Mingyu yang masih melingkar pada pinggangnya. "Cium dulu." Dan yang di dapat justru pukulan cukup kuat pada permukaan bibirnya. Mingyu meringis, menatap Wonwoo dengan pandangan sok terluka. "Jahat."

"Nanti ku cium." Tukas Wonwoo, berusaha melepaskan pelukkan Mingyu. "Serius?" Mingyu sedikit membuka lebar matanya, menganggap begitu serius ucapan Wonwoo yang kini sudah berdiri dihadapannya. "Iya, jika kita bertemu di neraka nanti." Ujarnya datar setelahnya beranjak untuk mencari tempat persembunyian, menyisakan Mingyu yang memandangnya jengkel.

.

Mingyu masih menyusuri sudut apartementnya, mencoba mencari dimana Wonwoo bersembunyi. Sebenarnya tidak cukup sulit untuk menemukannya hanya saja Mingyu sengaja untuk mengulur waktu. Hanya ingin menghabiskan detik yang berjalan dengan permainan konyol ini saja. Selagi dengan Wonwoo, kenapa tidak?.

"Ah, dimana dia bersembunyi ya?" Ujarnya cukup keras, menyeringai jahil saat mendapati puncak kepala dengan sebuah sudut yang mencuat dari balik helaian rambut tertangkap dari balik iris matanya. Ia melangkah begitu lamat, mencoba mendramatisir waktu. "Oh, sepertinya dia tukang sembunyi yang handal. Sulit sekali menemukannya." Mingyu masih mengambil langkahnya, menuju tempat persembunyian Wonwoo yang berada di belakang mesin cuci.

"Tapi sepertinya aku mencium baunya, dimana ya." Ia kembali berucap keras, menyisakan Wonwoo yang mati-matian untuk bersembunyi hingga menahan nafas miliknya. "Dimana ya." Ucapnya yang kini berada tepat disisi lain dari mesin cuci, menatap Wonwoo yang terus mencoba menggelung tubuhnya agak tersembunyi. Ia terkekeh jahil, memutuskan untuk mencolek ujung dari telinga kecil yang berada di puncak kepala Wonwoo.

Pemuda kucing itu, mengadah menautkan alisnya saat tahu bahwa ia kalah dalam permainan. Ia berdiri, menunjuk-nunjuk Mingyu seraya mengatakan kata curang berulang kali. "Gak bisa, kau kalah dan harus ikuti kemauan ku." Mingyu menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Wonwoo untuk mendapatkan kesempatan sekali lagi. "Ah, aku sudah gak mau main lagi. Aku mau tidur saja." Ia beranjak, berniat kabur dari hukuman Mingyu dengan alibi mengantuk.

Menghadang pergerakkan Wonwoo dengan cekalan di lengannya, pemuda itu tersenyum penuh arti saat Wonwoo menjatuhkan pandangan padanya. "Gak boleh curang, kau mau masuk neraka lebih dulu." Wonwoo berdecih, setelahnya hanya menurut saat Mingyu menariknya menuju ruang tamu kembali.

Menunggu pemuda yang masih berdiri dihadapannya itu memutuskan akan memberikan hukuman seperti apa, Wonwoo hanya menatapnya datar sembari terduduk diatas sofa. "Hm, apa ya. Tunggu sebentar, biarkan aku berfikir." Mingyu masih melipat kedua tangan di depan dadanya, berbalik menatap Wonwoo yang terdiam menunggu. Dan ide jahil kembali menguar dalam otak bejat Mingyu.

Pemuda itu mencondongkan tubuhnya kearah Wonwoo, tidak lebih tepatnya pada leher pemuda itu. Mengendus disana yang membuat Wonwoo sedikit menahan nafasnya. "Hm, wangi darah mu sangat enak. Aku rasa, aku sudah tahu hukuman apa yang pantas." Ia menaik turunkan alisnya, menatap Wonwoo yang kini tampak tegang. "Aku akan menghisap darah mu sebagai hukuman." Bisiknya yang sukses membuat Wonwoo menjerit seperti seekor kucing yang buntutnya tengah terjepit.

"Gak bisa, gak bisa! Kau gak boleh minum darah ku!" Ia berdiri, menunjuk-nunjuk Mingyu kembali seraya menutupi lehernya. Membuahkan Mingyu yang berusaha menahan tawanya. "Kenapa gak?" Mingyu bertanya cuek, menatap Wonwoo dengan tatapan jahil. "Karena aku kucing dan kau gak boleh minum darah kucing."

"Kata siapa?" Berbalik menantang, Wonwoo menderu cepat mencoba mencari alasan yang tepat. "Kata mu." Ujarnya, masih tampak panik. Mingyu mengambil langkahnya menuju Wonwoo, mencengkram pelan kedua lengan pemuda itu. "Kapan?" Ia berkata begitu lembut namun terdengar menusuk. Wonwoo semakin tampak panik, nyaris menangis karena ditatap seperti itu oleh Mingyu.

Tubuhnya tiba-tiba melemas, pundaknya yang awalnya tampak sedikit naik karena tegang kini terjatuh. Ia memandang Mingyu dengan tatapan takut. "Kau bilang darah kucing itu gak enak, kenapa berubah fikiran!" Ia jengkel, sedikit menaikkan oktaf suaranya sangat tampak kontras dengan pandangan takutnya. "Yah, aku berubah fikiran. Aku rasa darah kucing lumayan juga."

Masih tersenyum jahil, Mingyu mendekatkan wajahnya pada leher Wonwoo. Berpura-pura seakan siap menancapkan kedua taringnya pada kulit putih disana. "Kalau aku mati aku akan menyumpahi seluruh gigi mu itu rontok." Gumamnya, mencengkram kuat pundak Mingyu yang semakin mendekat menuju lehernya.

Dan sensasi basah serta dingin yang justru di rasakannya alih-alih rasa sakit dari tancapan taring Mingyu. Wonwoo mengernyit, dan Mingyu tertawa keras. Ia begitu puas dapat mengerjai siluman kucing dihadapannya kini. "Tertipu ya?" Ia terkekeh, berusaha untuk meredam tawanya karena tatapan polos Wonwoo. "Aku gak akan menggigit mu kok. Darah kucing memang gak enak."

Si pemuda kucing berdecih, mencoba mendorong bahu Mingyu yang masih mencengkram lengannya. "Aku ingin mengganti hukuman." Ujarnya, menghentikan pergerakkan Wonwoo. "Apanya, kau sudah menghukum ku tadi kenapa jadi dua kali hukuman." Ia memekik tidak terima, menatap tajam Mingyu. "Suka-suka aku, aku yang jadi pemenang 'kan?" Ia mencibir, menangkap tubuh Wonwoo. Menguncinya. "Curang!" Merengek layaknya anak kecil dalam pelukkan Mingyu yang coba di hindarinya. Ia dapat dengan jelas mencium aroma tubuh pemuda itu. Begitu segar dan maskulin.

Wonwoo mengalah, berhenti memberontak dan hanya menjatuhkan tatapan datar pada pemuda itu. "Jangan hukuman yang berat." Ia berujar ketus, membawa senyuman menyebalkan Mingyu bertengger di bibirnya. "Aku ingin bermain lagi."

"Main lagi?" Ia bertanya, membiarkan Mingyu semakin mengeratkan pelukkannya. Pemuda kecoklatan itu mengangguk antusias. "Permainan yang tadi lagi?" Mencoba memastikan, Wonwoo agaknya merasa bosan jika harus bermain hal seperti tadi lagi. Dia hanya takut akan kalah untuk yang kedua kalinya. "Bukan, permainan lain."

"Permainan apa?" Sedikit menarik antusias Wonwoo, pemuda itu merubah air wajahnya pada Mingyu. Mingyu terkekeh kembali, mendekatkan wajahnya pada Wonwoo. Hembusan nafas berbau brondong jagung dengan rasa caramel menguar. Wonwoo menunggu, ia sedikit mulai terbiasa dengan tatapan Mingyu dalam jarak sedekat ini karena memang setiap paginya saat ia terbanguan satu-satunya yang tertangkap oleh iris matanya hanya Mingyu yang menatapnya sama. Itu karena ia terbiasa bergelung diatas dada pemuda itu. "Permainan mari tinggalkan jejak di tubuh Wonwoo."

Setelahnya memukul keras dahi Mingyu, ia berontak meminta Mingyu untuk di lepaskan saja. Dan pemuda tan itu memutuskan untuk melepaskan Wonwoo. "Jangan tidur diatas dada ku lagi kalau begitu." Tukasnya sukses menghentikan langkah Wonwoo yang hendak kabur. Pemuda itu memasang tatapan memelas, meminta untuk di kasihani. "Tapi 'kan Mingyu~" Mencoba merayu dengan nada suaranya yang di perlembut.

"Memang aku peduli." Bertingkah seakan cuek pada Wonwoo ia melirik sekilas dari sudut matanya setelahnya menempatkan bokongnya pada sofa yang berada tepat didekatnya. Nyaris terlonjak saat Wonwoo melompat keatas pangkuannya tanpa aba-aba, menatap dengan pandangan memelas. "Okay, okay tapi jangan gigit aku." Ia mentitah, mengacungkan jari telunjuknya sebagai peringatan. Membuahkan tawa bejat dari bibir Mingyu.

"Serius nih." Memastikan dengan nada bicara yang terdengar agak mesum, Wonwoo mengangguk meng-iya-kan. "Baik 'lah, kau yang dengan senang hati memberikan ya bukan aku yang memaksa." Tukasnya membuat Wonwoo memutar kedua bola matanya malas. "Alibi sekali, dasar vampire kotor."

Setelahnya Mingyu tertawa kecil, tanpa tahu malu justru mengambil permukaan bibir Wonwoo untuk di hisapnya. Meninggalkan Wonwoo dengan rasa kaget bukan main, namun juga menikmati. Saling mempertemukan ujung keduanya dalam ciuman hangat namun sedikit bernafsu.

Si pemuda kucing menggeram tertahan, mengapitkan pinggang Mingyu dengan kedua paha dalamya saat sensasi tergelitik menyentuk rongga mulutnya. Mingyu masih bermain, menghisap kuat ujung lidah Wonwoo yang sedikit terasa manis akibat brondong jagung caramel yang beberapa saat lalu dimakan bersama olehnya. Wanginya masih tertinggal disana.

Memutuskan untuk berpisah sesaat sebelum paru-parunya meledak karena kehabisan oksigen. Wonwoo terdiam, memandang datar pada Mingyu dengan deru nafas meningkat. Kembali menggeram tertahan saat detik berikutnya Mingyu menghisap adam apple miliknya. Wonwoo berani bersumpah, itu adalah sensasi seakan kau tengah memakan permen kapas diatas rollercoaster yang tengah berjalan cepat. Sulit di jelaskan.

Dan si pemuda tan masih belum puas untuk menodai pemuda yang sering disebutnya siluman itu. Ia bermain dengan lihai melalui lidahnya, membuat Wonwoo harus menjaga dirinya tetap terduduk dengan posisi sama setiap kali sensasi menggelitik itu terasa.

Mingyu terkekeh sesaat mendapati lenguhan yang bercampur makian dari Wonwoo saat dengan sengaja pemuda itu menjepit keras bagian sensitif pada dada Wonwoo. Kedua bibir Wonwoo masih memaki, setelahnya memukul keras kepala Mingyu. "Mau mati ya?" Ia berujar ketus, mengontrol nafasnya yang sama-sama menderu bersama Mingyu.

Mingyu hanya tertawa pelan, menarik tubuh diatas pangkuannya semakin mendekat. "Burung mu bangun." Ia nyaris tersedak air liurnya mendapati Wonwoo berujar seperti itu dengan wajah biasa saja tanpa sedikit pun rasa malu atau canggung. "Kau ini, sudah aku bilang jangan terlalu frontal."

"Memang apa yang salah, burung mu memang bangun kok. Aku meraskannya, tuh lihat saja." Ia sedikit bergeser, menunjuk pada area privasi Mingyu yang agak membesar. Membuat pemuda itu menahan malunya kuat-kuat. "Jangan di tunjuk bodoh!" Memekik frustasi karena kepolosan Wonwoo.

Si pemuda kucing hanya melemparkan cengiran khasnya, kembali memajukan tubunya membuat kedua area privasi itu bertumbukkan. Mingyu bersumpah, ia menahan kuat-kuat keinginannya. Fantasinya mengenai Wonwoo bergerumul dalam otaknya kini, membuat area yang sejak tadi di tunjuk Wonwoo semakin membesar, sesak. "Eh? Semakin besar ya." Wonwoo menatap kembali area milik Mingyu dengan kedua matanya yang membulat. Menyisakan Mingyu yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu.

"Apa yang kau lakukan?!" Ia menjerit, menahan nafasnya saat merasakan Wonwoo menusukkan jemari telunjuknya pada area privasinya. Membuat benda itu semakin menyesakkan celananya. "Suruh burung mu tidur lagi." Wonwoo terkekeh, tertawa puas akan kelakuan absurdnya yang sukses membuat Mingyu menahan nafasnya. "Kau kira semudah itu." Ia melirik tajam masih dengan raut wajah kemerahan.

Wonwoo tertawa, ia memang selalu terlihat polos bagi Mingyu namun bukan berarti Wonwoo tidak mengetahui apapun mengenai ereksi karena nafsu dan lain sebagainya. Ia beranjak, meraih karet celana Mingyu tanpa di sadari si pemilik. Menurunkannya hingga sesuatu yang selalu di sebutnya dengan kata burung mencuat dari baliknya.

Mingyu terhenyak, menarik kembali karet celananya keatas. Ia bersumpah begitu malu saat menyadari Wonwo yang kini tertawa nyaris terpingkal mengetahui reaksinya. Pemuda itu bertepuk tangan girang, membuat Mingyu semakin bertambah jengkel dan canggung. "Tuh 'kan burung mu sudah gak bisa bertahan lagi." Ia masih tertawa disela ucapan kotornya.

"Siluman gak punya malu! Gak sopan melihat area pribadi milik orang lain tanpa izin." Ia mendorong dahi Wonwoo, membuat si pemuda kucing bertambah terpingkal. "Kau juga sering melihat ku tanpa izin." Mencibir, setelahnya bangkit dari pangkuan Mingyu hanya untuk melepaskan celana training miliknya. Membuat Mingyu nyaris mati karena shock.

"Kenapa melepas celana mu?!" Ia berteriak cukup keras, Wonwoo seakan menggodanya kini. Membuat benda itu semakin ereksi berat. "Supaya burung mu bisa tidur lagi. Pasti sakit 'kan?" Ia berkata, kembali menunjukkan raut wajah datar yang sedikit tampak polos seraya menepuk puncak kepala Mingyu. Mingyu terdiam sesaat, belum mencerna maksud ucapan Wonwoo.

Merasakan seperti perutnya tergelitik hebat saat Wonwoo dengan biadabnya tanpa berkata lagi menghimpit ereksinya di dalam rectum miliknya. Ia menggeram tertahan dengan kedua mata yang melebar menatap Wonwoo. Sedikit tidak percaya dengan perlakuan pemuda itu.

Namun detik selanjutnya justru bergerak liar, menumbuk Wonwoo tanpa jeda yang nyaris membuatnya mati kehabisan nafas. Terus berada disana seperti orang kesetanan membuat Wonwoo harus mati-matian menahan dirinya agak tidak limpung. Mingyu semakin liar mengetahui bahwa ereksinya semakin membesar, nyaris mencapai pelepasannya dan sepersekian detik dari gerakkanya membuat ia mendesah puas.

Keduanya terenggah dengan keringat sebesar biji jagung tertinggal pada setiap pori di kulit mereka. Wonwoo bersumpah seperti tidak ingin bermain-main dengan Mingyu lagi jika nyatanya pemuda itu nyaris membuatnya mati. Ia menghela nafasnya panjang, memukul kepala belakang Mingyu yang tengah memeluknya kini. "Nanti ku potong burung mu itu jika masih bermain kasar. Untung aku gak lupa bernafas tadi." Ia memaki pelan, setelahnya mengelus kepala belakang tempat dimana ia memukul Mingyu tadi. "Sudah kelewat hard sih. Lain kali akan lebih lembut." Ia terkekeh bersama Wonwoo, menyisakan malam halloween paling bahagia untuk keduanya.

"Nekotama, aku itu siluman jahat loh. Tujuan utama ku untuk membalas dendam." Wonwoo berujar setelah hening mengukung. Mingyu yang masih berada diatasnya beranjak, mengambil tempat disisinya seraya memandang Wonwoo dengan senyuman bahagia. "Aku tahu." Ujarnya belum melepas tatapan dari Wonwoo.

"Kau gak takut?" Ia menoleh, memandang balik Mingyu yang masih senyam-senyum menatapnya. "Gak." Balasan singkat menguar. Dan Wonwoo masih penasaran akan alasannya. "Kenapa?"

"Karena kau itu manis." Setelahnya beranjak dengan wajah datar menuju kamar miliknya ralat tapi milik Mingyu. Meninggalkan Mingyu yang kini terpingkal menyadari perubahan pada Wonwoo.


chit chat : chapter ini bejaaaatttt sekalehhh wkwkwk xD serius ya ini chapternya rada bejat bgt asli, apa" itu si wonwoo toel" mingyu punya burung perkutut wkwkwk xD gw yg nulisnya geli sendiri sumpah x'D oh iya ada yg nanya soal Wonwoo kalo berubah atas kemauan atau ada alasan apa gk, sebetulnya sih keduanya ya. nanti deh liat di chapter next nextnya ky gimana wkwkwk. Nah update fast nih, sambil nunggu imajinasi jalan buat lanjutan OMGM aku post ff lanjutan ini dulu. Pokoknya jangan piktor abis baca ini wkwk, wonwoo rada oo sih maaf yaaaa xD. Maksih buat yang masih review dan jgn lupa tinggalin jejak lagi di chapter ini yaaa..

Salam,

Crypt14