MATE

Jaehyun x Taeyong


Keluaga Jung sedang berkumpul di ruang tengah membicarakan apa yang Jaehyun katakan saat makan malam tadi. Mereka tampak serius sekali.

"Sayang, apa kau sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Nyonya Jung menatap Jaehyun lekat.

"Sudah ibu, aku sudah memikirkannya matang-matang" jawab Jaehyun yang juga menatap ibunya. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh.

"Tapi ayah dan ibu kan sudah mendaftarkanmu di kampus terbaik di Los Angeles. Sesuai keinginanmu. Iya kan?" tanya Nyonya Jung lagi.

"Iya.. Tapi aku berubah pikiran ibu. Aku ingin kuliah disini saja. Lagian kan jika aku kuliah disini aku jadi lebih dekat dengan ayah dan ibu" Jaehyun menjawab tersenyum mencurigakan. Tentu saja itu hanya alasan saja. Ayah ibunya tau itu.

Nyonya Jung memandang suaminya yang dari tadi hanya diam saja. Ia tau pasti suaminya sedikit marah. Tapi mau bagaimana lagi. Permintaan Jaehyun tak pernah mereka tolak. Apalagi Nyonya Jung, tak pernah sekalipun ia menolak semua keinginan putra kesayangannya. "Bagaimana ayah, kita hanya perlu membatalkan kuliah Jaehyun di Los Angeles" ucap Nyonya Jung pada suaminya.

Membatalkan, artinya merelakan uang yang telah mereka keluarkan untuk awal kuliah Jaehyun di kampus tersebut sia-sia begitu saja yang tentu jumlahnya tidak sedikit. Tapi apalah artinya uang bila keinginan Jaehyun lah yang terpenting. "Baiklah jika itu keinginan Jaehyun. Besok ayah akan menelepon pihak kampus Jaehyun. Ibu juga harus memberi tau kakek dan nenek. Bilang pada mereka, Jaehyun tidak kembali ke Los Angeles karena terjadi sesuatu pada hatinya" ucap Tuan Jung lalu bangkit dari duduk menuju kamar sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Jaehyun tersenyum, ia tau ayahnya sedang menggodanya. Meskipun ayahnya menampilkan wajah serius. "Terima kasih, ayah" Jaehyun berteriak karena ayahnya sudah meninggalkan ruangan.

"Mmm" ayahnya hanya bergumam.

"Terima kasih, ibu" ucap Jaehyun sambil memeluk ibunya. Nyonya Jung pun balas memeluk putranya.

Sementara itu, Taeyong sedang di kamar bersama ibunya. "Bu, kira-kira kenapa ya Tuan muda Jaehyun pindah kuliah ke sini?" tanya Taeyong pada ibunya.

"Mungkin karena kau" jawab ibunya asal ceplos.

Taeyong jadi sedikit kaget. "Kok aku?"

"Iya, memangnya karena apa lagi kalau bukan karena kau. Sudah ah ibu mau ke kamar. Ibu mau tidur" ucap Nyonya Lee keluar kamar. Meninggalkan Taeyong yang kepikiran perkataan ibunya barusan. Apa iya Jaehyun pindah kuliah karena dirinya.

Pagi harinya Jaehyun bangun pagi sekali. Takut ia tak bisa bertemu Taeyong seperti kemarin. "Selamat pagi, hyung" Jaehyun menyapa Taeyong yang sedang memasak sesuatu di dapur. Dan Taeyong sedikit terkejut tiba-tiba Jaehyun sudah dibelakangnya menyapanya.

"Selamat pagi, Tuan muda Jaehyun. Kau sudah bangun?" tanya Taeyong.

"Ehm sudah.. Kau sedang apa, hyung?" tanya Jaehyun basa-basi. Padahal ia tau Taeyong sedang memasak.

"Membuat sarapan" jawab Taeyong.

"Untukku?" tanya Jaehyun lagi. Taeyong mengangguk.

Jaehyun tersenyum menampilkan dimple menawannya. 'Taeyong hyung membuat sarapan untukku' ucapnya dalam hati. Masih senyum-senyum.

Selama Taeyong membuatkan sarapan untuk keluarga Jung. Jaehyun hanya duduk manis dikursi bar di dapur. Hanya sekali bicara saat menanyakan keberadaan bibi Lee. Ibu Taeyong. Taeyong menjawab ibunya sedang ke pasar swalayan untuk belanja kebutuhan dapur yang habis. Setelah itu Jaehyun diam tak bicara lagi. Yang ia lakukan hanya memandangi Taeyong. Taeyong dengan apron lebih terlihat sexy dimatanya. Dan tentu saja Taeyong jadi salah tingkah dipandangi terus menerus. Untung saja masakannya tidak gosong.

"Biar aku saja yang bawa, hyung" ucap Jaehyun ketika Taeyong akan menyiapkan sarapan dimeja makan.

Taeyong ingin melarang tapi Jaehyun lebih dulu membawa piring besar berisikan sandwich panggang. Sedangkan ia sendiri membawa omlet telur isi sayur dan tahu.

Nyonya Jung yang melihat Jaehyun membawa hidangan sarapan mereka pun menatap tak percaya, putranya sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.

"Sayang, tumben sekali kau sudah bangun dan... Kau membantu Taeyong di dapur ya?" tanya Nyonya Jung masih tak percaya. Jaehyun hanya senyum-senyum menjawab pertanyaan ibunya. "Ayah, kau lihat putra kita sudah rela bangun pagi hanya untuk membantu Taeyong membuat sarapan" ucap Nyonya Jung pada suaminya menggoda Jaehyun.

"Ibu! Aku hanya membantu membawakanya saja kok" Jaehyun mengelak. Pipinya yang putih jadi memerah. Malu.

Pipi Taeyong pun tak kalah meronanya mendengar ucapan Nyonya Jung. Tak ingin majikannya itu melihat wajah meronanya. Taeyong pun pamit kembali ke dapur setelah menaruh piring berisi omlet.

"Hyung mau kemana? Kau ikut sarapan bersama kami" Jaehyun mencegah Taeyong pergi. Taeyong pun tak bisa menolak ketika Nyonya Jung juga memintanya duduk. Taeyong pun ikut sarapan bersama mereka.

Hyung, kau pulang kuliah jam berapa?

Hyung jangan lama-lama ya pulangnya!

Aku tunggu kau pulang kuliah ya, hyung.

Kata-kata Jaehyun itu terus terngiang-ngiang dipikiran Taeyong. Saat ia berangkat kuliah, saat mengikuti mata kuliah, saat ia membaca di perpustakan bahkan saat ia sedang ngobrol bersama temannya.

.

"Tae, kau kenapa sih? Dari pagi aku perhatikan kau hanya melamun" Doyoung sahabat Taeyong bertanya.

"Mmm.. Tidak apa-apa." jawab Taeyong.

"Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Pasti kau memikirkan sesuatu? Iya kan? Katakan saja padaku?" desak Doyoung.

"Ehm.. Bukan masalah penting. Hanya tentang putra majikanku" jawab Taeyong.

"BUKAN MASALAH PENTING KATAMU? PUTRA MAJIKANMU KAU BILANG BUKAN MASALAH PENTING?!" Doyoung tiba-tiba berteriak. Membuat semua orang di kantin melihat ke arah mereka.

"Aiiiisshh pelankan suaramu, bodoh!" Taeyong menjitak kepala Doyoung. Taeyong terpaksa meminta maaf pada orang-orang.

"Ehm maaf. Abis aku emosi kau bilang itu bukan masalah penting" ucap Doyoung. Ia tau soal putra majikan Taeyong yang tampan itu. Taeyong pernah bercerita saat hari pertama Jaehyun datang. Taeyong pernah bercerita jika putra majikannya itu sering kali memandanginya.

"Iya memang bukan masalah penting. Dia hanya sering memandangiku" ucap Taeyong

"Memandangimu seperti orang bodoh kan, lalu ketika kau memergokinya sedang memandangimu lalu dia pura-pura melakukan sesuatu kan?" Doyoung berkata. Taeyong mengangguk.

"Semalam dia bilang, dia ingin kuliah disini. Di kampus ini" ucap Taeyong lagi.

"APAAAA?!" Doyoung berteriak lagi. Membuat semua orang melihat kearah mereka lagi. Taeyong melotot pada Doyoung. Doyoung pun tutup mulut. "Jadi dia pindah kuliah dari Los Angeles ke sini. Ke lampus ini" Doyoung berkata pelan. Takut Taeyong memelototi dirinya lagi.

"Iyaa" jawab Taeyong.

Dan baru saja Doyoung akan bertanya lagi tiba-tiba handphone Taeyong berbunyi. Taeyong melihat handphonenya melihat nama Jaehyun tertera dilayar. Taeyong pun melihat jam ditangannya. Baru jam 11 lewat 15 menit. Taeyong pun mengangkat telephone, meletakkan telunjuk dibibir, mengisyaratkan Doyoung untuk diam.

"Hallo" Taeyong menjawab telfon.

"Hyung kau sudah selesai kuliahnya?" suara Jaehyun diseberang sana.

"Sudah, hari ini aku hanya ada kelas pagi" jawab Taeyong.

"Kau tidak pulang, hyung? " tanya Jaehyun lagi.

"Mmm.. Aku sedang ada urusan dengan temanku jadi mungkin jam 12 baru pulang" Taeyong menjawab sambil melirik Doyoung.

"Oh begitu ya hyung.. Ehm ya sudah kalau begitu. Kalau urusannya sudah selesai langsung pulang ya, hyung" ucap Jaehyun kecewa karena Taeyong tidak bisa pulang cepat.

Suara Jaehyun terdengar seperti orang sedih, Taeyong jadi merasa tidak enak. "Mm iya Tuan muda Jaehyun" jawab Taeyong. Lalu mematikan telfon.

"Sepertinya Tuan mudamu itu sedang kasmaran" ucap Doyoung.

"Kasmaran? Kasmaran bagaimana maksudmu?" jawab Taeyong tak mengerti.

"Jatuh cinta, bodoh!" ucap Doyoung

"Jatuh cinta pada siapa?" tanya Taeyong lagi masih tak mengerti.

"Tentu saja padamu Lee Taeyong yang tidak pekaan!" Doyoung berkata sedikit memberi tekakan pada kata 'padamu'

"HAH?!" giliran Taeyong yang berteriak.

Jaehyun menunggu Taeyong di kamar. Membaca buku. Tapi tidak benar-benar membaca buku. Karena ia tidak fokus. Ia selalu melihat kearah jam. Tiap lima menit sekali. Ia semakin tak sabaran. Jam terasa lambat sekali berputar. Pukul 12 lewat akhirnya ia memutuskan menunggu Taeyong dibawah. Di ruang tengah menonton TV tapi tidak juga benar-benar menonton TV. Setelah mengganti-ganti channel TV namun tidak ada acara TV yang menarik perhatiannya. Ia memutuskan menunggu Taeyong di dapur dekat pintu samping, pintu biasa Taeyong masuk. Sambil ngemil kue yang Nyonya Lee bikin. Matanya langsung menoleh kearah pintu begitu suara pintu terbuka.

"Hyung... Kenapa lama sekali. Aku sampai bosan menunggumu" Jaehyun tiba-tiba bicara begitu Taeyong muncul.

"Kau tak perlu menungguku, Tuan muda" jawab Taeyong.

"Tapi aku mau.. Sini, duduk hyung. Temani aku makan" ucap Jaehyun menyuruh Taeyong duduk. Wajahnya yang tadi terlihat bosan kembali ceria.

Taeyong tentu saja langsung duduk, tak mungkin menolak permintaan Tuan mudanya yang ingin Taeyong menemaninya makan, lagi.

Esok paginya Jaehyun sangat bersemangat, karena hari ini ia menemani ayahnya ke kampus Taeyong untuk mendaftarkan ia di kampus tersebut. Mereka hanya diantar ayah Taeyong, karena Taeyong menolak untuk berangkat bersama karena ia harus berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Jaehyun membolehkan karena ia berpikir nanti juga akan bertemu di kampus.

Setibanya Jaehyun dan ayahnya di kampus Taeyong. Mereka langsung menuju ruang administrasi. Meskipun pendaftaran mahasiswa baru sudah ditutup beberapa hari yang lalu. Jaehyun tetap bisa mendaftar, tentu dengan tambahan biaya. Ayah Jaehyun tak mempermasalahkan hal itu. Dan setelah mereka selesai dengan segala urusan administrasi. Ayah Taeyong mengantarkan Tuan Jung ke kantor. Sementara Jaehyun tinggal di kampus padahal ia baru akan kuliah besok. Tentu saja karena ia ingin mencari Taeyong.

Taeyong menolak saat sahabatnya Doyoung mengajaknya ke ruang ketua Senat Mahasiswa yang tak lain adalah kekasih Doyoung, Taeil. Karena untuk ke ruang senat itu harus melewati ruang administrasi kampus. Taeyong tak ingin bertemu Jaehyun dan juga Tuan Jung.

"Kau pergi saja sendiri, aku tunggu disini" ucap Taeyong.

"Sebentar saja, Tae. Aku hanya ingin menyerahkan ini" ucap Doyoung menunjuk map yang dipegangnya. "Lagian mereka pasti sudah pulang" tambah Doyoung yang sepertinya bisa membaca pikiran Taeyong.

Dan akhirnya terpaksa Taeyong mengantarkan Doyoung dengan harapan semoga Jaehyun dan ayahnya sudah pulang. Tapi entah kebetulan atau tidak, baru saja ia dan Doyong akan berbelok ke lorong yang akan menuju ruang senat mahasiswa. Ia melihat Jaehyun sedang berdiri di dekat ruang administrasi dengan handphone ditangannya. Taeyong ingin segera berbalik arah namun Jaehyun sudah melihatnya.

"Taeyong hyung!" panggil Jaehyun sedikit berteriak. Berlari mendekati Taeyong sambil tersenyum.

"Emm Tuan muda Jaehyun" ucap Taeyong pelan ketika Jaehyun sudah berdiri didepannya. "Kau belum pulang? Sudah selesai mendaftarnya?" tanya Taeyong lagi.

"Sudah, ayah juga sudah pulang. Aku tetap disini. Aku ingin pulang bareng hyung" ucap Jaehyun. Ia terdengar sangat senang sekali.

"Heh? Pulang bareng aku?" tanya Taeyong. Jaehyun hanya mengangguk. "Nanti paman Lee menjemput" ucap Jaehyun.

"Ehemm" suara Doyoung berdehem. Sepertinya ia ingin keberadaannya diakui oleh dua orang dihadapannya ini.

"Mmm.. Tuan muda Jaehyun, ini Doyoung. Sahabatku" Taeyong memperkenalkan Doyoung pada Jaehyun. Dan juga sebaliknya. Memperkenalkan Jaehyun pada Doyoung. Mereka berdua pun bersalaman. Menyebut nama mereka masing-masing. Dan setelah itu, Doyoung pamit ke ruang senat mahasiswa sendiri. Tak mau mengganggu Taeyong dan Jaehyun.

"Kau sudak tak ada mata kuliah lagi kan hyung?" tanya Jaehyun.

"Tidak ada, aku sudah selesai" jawab Taeyong.

"Bagus... Ayo kita pulang hyung" ajak Jaehyun. Taeyong hanya mengangguk.

Taeyong dan Jaehyun pun pulang. Saat perjalanan keluar kampus Taeyong menulis pesan pada Doyoung.

To : Doyoung

Young, aku pulang duluan. Jaehyun sudah ingin pulang.

Tak lama Doyoung pun membalas.

From : Doyoung

Ok. Nanti malam aku meneleponmu oke? Oh iya jangan lupa sampaikan salamku untuk pangeranmu yang tampan itu ya. Hahha.

Taeyong tak membalas lagi. Ia sedikit jengkel. Apa-apaan si gigi kelinci itu. Sudah punya kekasih masih saja genit, batin Taeyong.

Saat menunggu ayahnya datang menjemput. Taeyong sempat berbincang-bincang dengan beberapa temannya yang ia temui di depan kampus. Mereka ngobrol asyik sekali, sampai tertawa-tawa. Jaehyun yang melihatnya sedikit tidak suka. Karena Taeyong sampai melupakan dirinya yang berdiri di belakang Taeyong. Memandang wajah teman Taeyong satu persatu. Mereka semua tampan, tapi tentu saja tak setampan dirinya. Pikir Jaehyun.

Setelah 15 menit menunggu akhirnya ayah Taeyong pun datang. Mereka lalu pulang. Selama diperjalanan menuju rumah, Jaehyun hanya diam. Tak cerewet seperti biasanya. Hanya menjawab pertanyaan ayah Taeyong seadanya. Sepertinya ia masih memikirkan Taeyong dan teman-temannya itu.

Sesampainya dirumah Jaehyun dan Taeyong masuk ke kamar masing-masing. Dan baru saja Taeyong selesai mengganti baju. Jaehyun mengetuk pintu kamarnya.

"Tuan muda Jaehyun ada apa?" tanya Taeyong, ia sedikit bingung. Jaehyun sampai mau datang ke kamarnya. Jika Jaehyun butuh sesuatu kan bisa menyuruh pembantu lain untuk memanggil dirinya.

"Mmm.. Hyung aku ingin bicara" ucap Jaehyun, wajahnya sangat serius.

"Kau mau bicara ap..a?" ucap Taeyong terbata.

"Hyung, mulai hari ini kau jadi pacarku!" ucap Jaehyun mantap menatap mata Taeyong.

"HAH?!" Taeyong terkejut, matanya membulat, mulutnya terbuka. "APAA?!"

TBC


Haiii...Aku datang lagi, semoga ga pada bosen yaa.. Hihihihi..

Jangan lupa reviewnya ya.. Buat yang udah review.. Thx ^_^

See you next chapter~~ \^^/