MATE

Jaehyun X Taeyong


Namun bukannya Jaehyun bangun. Ia malah menarik Taeyong, Taeyong pun jatuh ke kasur, ia berbaring dengan posisi menghadap Jaehyun. Wajahnya dan wajah Jaehyun sangat dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Dengan mata yang masih terpejam Jaehyun menjadikan Taeyong sebagai bantal gulingnya. Ia pun kembali terlelap. Meninggalkan Taeyong yang wajahnya semerah cherry dan jantungnya berdebar sangat kencang.

Jung Jaehyun sialan. Bagaimana Taeyong bisa tidur jika seperti ini. Dan kenapa jantungnya terus saja berdebar kencang. Semakin kencang saat Taeyong menyadari wajah Jaehyun hanya beberapa senti dari wajahnya. Nafas Jaehyun pun bisa ia rasakan menerpa wajahnya. Hangat. Taeyong pun memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Dan setelah ia bisa menormalkan kembali detak jantungnya, ia pun akhirnya tertidur dengan lengan Jaehyun yang memeluk tubuhnya.

.


Keesokan paginya Jaehyun terbangun lebih dulu. Matanya masih terpejam namun ia bisa merasakan lengannya memeluk sesuatu yang ia yakini bukan bantal gulingnya. Ia lalu membuka matanya dan melihat seseorang yang ia cintai ada dihadapannya. Begitu dekat. Ia pun tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut Taeyong yang menutupi sedikit matanya. Jari telunjuknya menyentuh wajah Taeyong, keningnya, hidungnya. Jarinya juga menelusuri pipi Taeyong dengan lembut tak ingin membangunkan Taeyong yang masih terlelap. Taeyong tampak sempurna dimatanya. Ia terus saja memandangi Taeyong, jarinya juga menyentuh dagu dan bibir Taeyong, membuat sang pemilik wajah terbangun dan membuka matanya.

Selamat pagi, hyung" ucap Jaehyun ketika Taeyong membuka mata.

"Ehm.. Selamat pagi, Jaehyun" jawab Taeyong yang tiba-tiba wajahnya menghangat lagi.

"Kau tidur pulas sekali, hyung. Pasti karena aku yang memelukmu ya" ucap Jaehyun sambil tertawa. Dan langsung mendapat pukulan kecil didadanya. Taeyong sedikit mendorong Jaehyun. Namun Jaehyun mendekat lagi.

"Aku mau bangun, lepaskan tanganmu!" ucap Taeyong wajahnya masih menghangat. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Jaehyun.

"Sebentar lagi, hyung. Aku masih ingin memelukmu" jawab Jaehyun yang malah lebih mengeratkan pelukannya.

"Tapi aku harus bangun, Jaehyun. Aku harus buat sarapan" ucap Taeyong lagi, masih mencoba melepaskan diri.

"Aku belum lapar, hyung" jawab Jaehyun lagi. Masih memeluk Taeyong erat.

"Aku kan harus kuliah, emangnya kau tidak kuliah?" ucap Taeyong lagi menyingkirkan lengan Jaehyun dari pinggangnya.

"Ini masih pagi, hyung" jawab Jaehyun memeluk Taeyong lagi.

Taeyong tak berkata lagi, tak mencoba melepaskan diri lagi. Ini memang masih pagi. Ia lalu membiarkan Jaehyun memeluknya. Jaehyun semakin mendekatkan tubuh Taeyong hingga kini Taeyong berbaring didada Jaehyun. Bibir Jaehyun bisa menyentuh puncak kepala Taeyong, menciumnya dan menghirup aroma strawberry dari rambut Taeyong. Ia pun merasakan lengan Taeyong pelan-pelan memeluk pinggangnya.

"Aku tak keberatan jika harus seperti ini selamanya, hyung" ucap Jaehyun tersenyum. Taeyong tak menjawab. Tapi Jaehyun merasakan Taeyong juga tersenyum. Cukup lama mereka seperti ini. Diam dan hanya merasakan detak jantung mereka yang saling bersautan. Merasakan kehangatkan menyelimuti tubuh mereka. Menghirup aroma tubuh seseorang yang ada dipelukan mereka.

"Jaehyun" tiba-tiba Taeyong bersuara.

"Ehmm" Jaehyun hanya bergumam. Bibirnya masih menyentuh kepala Taeyong.

Taeyong menegakkan kepalanya menghadap Jaehyun. "Kenapa kau mencintaiku? Mmm maksudku, banyak sekali pria dan wanita yang bisa kau pilih untuk jadi pacarmu" tanya Taeyong menatap mata Jaehyun.

"Aku tidak tau, hyung. Saat aku melihatmu jantungku berdebar kencang. Semakin tak karuan saat kau tersenyum" jawab Jaehyun yang juga menatap mata Taeyong. "Saat aku di Los Angeles, tidak sedikit yang menaruh hati padaku, hyung. Karena aku sangat tampan" ucap Jaehyun sambil tertawa. Taeyong memutar bola matanya. "Mereka semua suka padaku, tapi tak ada satupun yang menarik perhatianku" tambah Jaehyun.

"Banyak orang diluar sana yang lebih dari aku, Jaehyun" ucap Taeyong serius.

"Tak ada yang lebih dari pada dirimu, hyung. Tak ada yang bikin jantungku berdebar kencang. Tak ada yang bikin aku tidak bisa tidur. Tidak ada yang bisa bikin aku tersenyum sendiri seperti orang gila, hyung. Tidak ada selain dirimu" jawab Jaehyun jujur. Ia juga sangat serius mengatakannya. "Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan ini, hyung. Sebelumnya aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Begitu tergila-gila pada seseorang. Kau juga merasakan perasaan yang sama kan, hyung? Kau juga mencintaiku kan?" tanya Jaehyun, matanya menatap kedalam mata Taeyong.

Baru saja Taeyong akan menjawab. Terdengar suara ketukan. Membuat mereka berdua menoleh kearah pintu.

"Taeyong, kau tidak bangun. Ini sudah siang" suara Nyonya Lee dari balik pintu.

Taeyong dan Jaehyun pun segera bangun, melepas pelukan mereka. "Iya, ibu" jawab Taeyong. "Jae, kau harus kembali ke kamarmu. Jangan sampai ibu tau kau ada disini" ucap Taeyong pada Jaehyun.

"Memangnya kenapa, hyung. Biarkan saja bibi Lee tau" jawab Jaehyun.

"Ssstttt, pokoknya kau harus kembali ke kamarmu." Taeyong melotot pada Jaehyun, Jaehyun hanya mengangguk. Taeyong tak ingin ibunya berpikir ia memasukkan anak dibawah umur kedalam kamarnya. Hah! Taeyong sangat berlebihan.

Taeyong keluar kamar setelah ia memastikan tidak ada orang diluar. Jaehyun mengikuti dari belakang. Taeyong pun menggandeng tangan Jaehyun ketika ia melihat ibunya berada di dapur. Meletakkan telunjuknya dibibir menyuruh Jaehyun jangan bersuara. Mereka berjalan perlahan sambil sedikit membungkuk. Saat mereka melewati dapur tiba-tiba Jaehyun bersuara.

"Selamat pagi, bibi Lee" membuat Taeyong membulatkan matanya, menatap Jaehyun tak percaya.

"Oh, selamat pagi Tuan muda Jaehyun. Kau sudah bang...un?" ucap Nyonya Lee. Kalimatnya sempat terpotong saat melihat Taeyong menggandeng Jaehyun.

"Iya bibi aku sudah bangun" jawab Jaehyun senyum-senyum.

"Ehhmm Taeyong, cepat bantu ibu menyiapkan sarapan!" ucap Nyonya Lee. Matanya tidak menatap Taeyong melainkan kearah tangan mereka yang masih bertautan.

Taeyong segera melepaskan tangan Jaehyun. "Iyaa bu..." jawab Taeyong. "Mmm Jae, kau kembali ke kamarmu ya, aku mau membantu ibu menyiapkan sarapan" ucap Taeyong pelan pada Jaehyun. Jaehyun hanya mengangguk patuh sambil tersenyum manis pada Taeyong. Jaehyun pun kembali ke kamar dan Taeyong membantu ibunya. Tak ada perbincangan lagi antara Taeyong dan ibunya, mereka sibuk menyiapkan sarapan. Namun Taeyong tau ibunya menahan tawa, ia pun menunduk menyembunyikan wajah malunya.

.

.

Hari ini Jaehyun kuliah sampai jam 2 siang, Taeyong yang sudah selesai kuliah menunggu Jaehyun dengan setia. Ditemani dua orang sahabatnya ia menunggu di kantin.

"Jadi kau dan Jaehyun sudah resmi berpacaran?" tanya Doyoung pada Taeyong. Taeyong hanya menggangguk. "Wah Tae, kalian baru berpacaran tapi sudah tinggal serumah" ucap Doyoung lagi.

"Kau ingin aku juga tinggal dirumahmu, sayang?" ucap Taeil pada Doyoung.

"Memangnya kau mau?" tanya Doyoung antusias.

"Mau saja asalkan ayahmu yang galak itu tidak memenggal kepalaku" jawab Taeil.

"Ayahku tidak sesadis itu, hyung" ucap Doyoung. Bibirnya maju 5 senti.

Taeyong dan Taeil hanya tertawa. Lalu tiba-tiba handphone Taeyong berbunyi. Ada panggilan masuk dari ayahnya.

"Hallo, ayah. Ada apa?" tanya Taeyong.

"Tae, sepertinya ayah tidak bisa menjemput kalian. Mobil ayah tiba-tiba mogok. Ini ayah sedang membawanya ke bengkel. Dan agak lama kalau kalian menunggu. Kau dan Tuan muda Jaehyun pulang naik taksi saja. Bagaimana?" ucap Tuan Lee.

"Mm ya sudah kalau begitu nanti aku dan Jaehyun naik taksi saja" jawab Taeyong.

"Ya sudah ya, nanti ayah telfon lagi" ucap Tuan Lee dan memutuskan sambungan.

"Ayahmu tidak bisa menjemput ya, Tae?" tanya Doyoung.

"Iya katanya mobilnya tiba-tiba tidak mau nyala" jawab Taeyong. Mobil mahal bisa mogok juga, batin Taeyong.

"Aku bisa mengantarkan kalian pulang, tapi aku mau mampir ke toko buku dulu, apa Jaehyun mau menunggu?" tanya Taeil.

"Tidak usah, hyung. Nanti aku dan Jaehyun naik taksi saja" jawab Taeyong tak mau mengganggu acara 'Kencan di toko buku' sahabatnya.

Taeil dan Doyoung pamit pulang duluan saat Jaehyun sudah selesai kuliah dan sudah duduk disamping Taeyong.

"Jae, ayahku tidak bisa menjemput. Katanya mobil mogok jadi kita terpaksa pulang naik taksi. Kau tidak keberatan kan?" tanya Taeyong.

"Kenapa tidak naik bis saja, hyung?" Jaehyun balik bertanya.

"Bis terlalu ramai, kau bisa-bisa tidak dapat duduk. Naik taksi saja ya" ucap Taeyong lagi.

"Tapi aku mau naik bis, hyung. Aku belum pernah naik bis" ucap Jaehyun.

Taeyong tak bisa membantah lagi jika itu keinginan Jaehyun. "Ya sudah kita naik bis. Tapi tidak apa-apa ya kalau kita tidak dapat tempat duduk?" ucap Taeyong. Dan Jaehyun mengangguk mengerti.

.

.

Pada jam segini bis selalu ramai. Mereka tidak dapat tempat duduk dan terpaksa berdiri. Taeyong terpaksa berdiri dibelakang Jaehyun ia tidak mau Tuan muda sekaligus kekasihnya itu terdesak orang-orang. Dan mengalami kejadian buruk pada kali pertamanya naik bis. Dan hanya berpegangan pada pegangan bis. Namun Taeyong yang awalnya ingin melindungi Jaehyun malah kini berbalik. Jaehyun menarik Taeyong agar berdiri disampingnya. Dan lengan Jaehyun kini merangkul pundak Taeyong. Mendekatkan tubuh kecil Taeyong padanya.

.

.

Malam ini tidak seperti biasanya Jaehyun tidak ke kamar Taeyong karena ia harus mengerjakan tugas kuliahnya. Namun Jaehyun memaksa Taeyong yang datang ke kamarnya. Untuk menemaninya belajar. Agar ia semangat mengerjakan tugas kuliah. Ah alasan, batin Taeyong. Dan untungnya Taeyong tidak ada tugas kuliah dan sudah belajar siangnya.

Taeyong menemani Jaehyun dengan duduk di sofa besar sambil membaca buku-buku yang ada di kamar Jaehyun. Taeyong sangat serius sekali membaca sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Jaehyun memperhatikannya.

"Hyung, kau serius sekali sih?" tanya Jaehyun. "Kau kesini untuk menemaniku belajar, hyung. Tapi kau malah sibuk sendiri" tambah Jaehyun lagi terdengar sedikit kesal.

Taeyong tersenyum "Memangnya aku harus apa, Jaehyun?" tanya Taeyong.

"Duduk dekat sini, hyung" ucap Jaehyun menunjuk kursi kecil disamping meja belajarnya. Taeyong pun menuruti permintaan Jaehyun. Ia lalu menutup buku yang sedang dibacanya dan duduk dikursi dekat Jaehyun. Jaehyun pun tersenyun dan kembali belajar.

Setelah selesai menemani Jaehyun belajar, Taeyong pun kembali ke kamarnya. Setelah menolak tawaran Jaehyun untuk tidur dikamar Jaehyun. Saat ia akan kembali ke kamarnya. Ia melewati kamar Tuan dan Nyonya Jung, dan tak sengaja ia mendengar namanya disebut-sebut. Karena penasaran Taeyong pun menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Jung.

"Bagaimana dengan Taeyong? Ibu rasa ini bukan ide yang bagus, ayah" suara Nyonya Jung terdengar ragu.

"Tapi Ibu, Ayah dan Kim adalah sahabat. Kami sudah kenal sejak kami masih sama-sama sekolah. Dan kami sudah membicarakan soal ini sejak lama. Memang, tadinya Ayah pikir Kim sudah lupa soal ini. Tapi tadi siang tiba-tiba ia menelepon dan membicarakan ini lagi. Ibu, bagaimana kalau kita membicarakan soal ini dengan Jaehyun? Jika Jaehyun mau Ayah akan perkenalkan putri Kim. Namanya Kim Yeri. Ia cantik dan pintar" ucap Tuan Jung.

Nyonya Jung menggelengkan kepala. "Tidak. Ibu rasa Jaehyun tidak akan mau, Ayah. Jaehyun tidak akan setuju dengan perjodohan ini" ucap Nyonya Jung.

Taeyong terkejut, jantungnya berdebar cepat dan kakinya lemas saat ia mendengar perbincangan itu.

Perjodohan?

Perjodohan Jaehyun?

Dengan siapa?

TBC


Hiiii... Ketemu lagi.. \^^/ Masih ^ pantengin ff ini kan? Hihihi.. Jangan lupa review yaa.

See you next chapter ^^