MATE
Jaehyun x Taeyong
Bukannya kami tidak setuju, sayang. Tapi kalian masih terlalu muda untuk menikah.
Kalian kan masih kuliah, kau bahkan baru saja masuk kuliah.
Tunggu sampai kalian lulus kuliah ya.
Jaehyun berada di kamarnya saat ini. Mengurung diri. Ia kesal, permintaannya untuk menikah dengan Taeyong ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Juga orang tua Taeyong. Dan bahkan Taeyong sendiri.
Kau pasti bercanda kan, Jaehyun.
Taeyong berpikir ia hanya bercanda. Taeyong salah, ia serius. Sangat serius. Tapi sepertinya Taeyong dan orang tua mereka belum yakin dengan dirinya. Karena ia masih muda? Masih 18 tahun? Argh, Jaehyun kesal sekali.
"Jaehyun, buka pintunya" suara Taeyong dari balik pintu. Ia sudah mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali namun Jaehyun tak mau membukanya.
"Jaehyun, aku mohon buka pintunya" ucap Taeyong lagi, tapi Jaehyun tak juga membuka pintu.
"Jaehyun" panggil Taeyong pelan, sepertinya ia pasrah Jaehyun tak mau membuka pintu. Ia tau Jaehyun pasti kesal.
Tak lama kemudian Tuan dan Nyonya Jung datang bersama orang tuanya.
"Bagaimana Tae, apa Jaehyun mau membuka pintu?" tanya Nyonya Jung. Taeyong hanya menggeleng.
"Aduh, bagaimana ini Ayah? Jaehyun juga tak mau membuka pintu padahal Taeyong yang memanggilnya" ucap Nyonya Jung sedikit khawatir.
"Jaehyun! Buka pintunya, nak" kali ini Tuan Jung yang memanggil. Tapi tetap Jaehyun diam tak mau membuka pintu.
"Kalau terjadi sesuatu pada putra kita bagaimana, Ayah?" ucap Nyonya Jung sedih. Sepertinya ia sudah sangat khawatir karena Jaehyun tak kunjung membuka pintu. Semua orang yang disana jadi ikut khawatir.
Taeyong juga sudah mencoba menelepon tapi Jaehyun tak mengangkat telepon dan pesannya pun tak dibalas oleh Jaehyun. Membuat ia tambah khawatir..
"Kita dobrak saja pintunya, bagaimana?" Tuan Lee memberi saran.
"Iya Ayah dobrak saja pintunya" ucap Nyonya Jung tak sabaran. Lalu Tuan Jung mengangguk. Namun saat mereka hendak mendobrak pintu, tak disangka Jaehyun membuka pintu.
"Jika aku tidak menikah dengan Taeyong hyung, lebih baik aku kembali ke Los Angeles saja" ucap Jaehyun pelan. Wajahnya menahan sedih dan kesal.
Tuan dan Nyonya Jung terkejut mendengar ucapan Jaehyun. Termasuk Taeyong dan orang tuanya.
"Jaehyun, sayang. Jangan begitu. Kita bicarakan lagi baik-baik ya" ucap Nyonya Jung pelan membujuk Jaehyun.
"Aku serius, Ibu" ucap Jaehyun lagi. Kali ini menatap Taeyong. Taeyong yang ditatap Jaehyun hanya bisa diam.
"Iya Ibu tau sayang. Kita bicarakan lagi. Kau jangan mengurung diri lagi ya. Jangan buat Ibu khawatir" ucap Nyonya Jung sambil mengelus lengan Jaehyun. Jaehyun pun mengangguk.
.
.
"Aku tau Ayah dan Ibu, juga Paman dan Bibi Lee masih tak percaya padaku. Tapi aku serius jika aku ingin menikahi Taeyong hyung" Jaehyun bicara saat mereka berkumpul lagi diruang tengah.
"Tapi sayang, apa kau sungguh akan kembali ke Los Angeles jika kau tak menikah dengan Taeyong?" tanya Nyonya Jung.
"Iya, bu. Lebih baik aku kembali saja" jawab Jaehyun pelan. Membuat Nyonya Jung sedih.
Bagaimana jika Taeyong menolak menikah dengan putranya. Bagaimana jika Jaehyun jauh lagi darinya. Nyonya Jung menahan tangis.
Tuan Jung menghela nafas. "Jika itu maumu Jaehyun, Ayah dan Ibu hanya bisa menuruti keinginanmu. Tapi kan Paman dan Bibi Lee yang menentukan" ucap Tuan Jung.
Tuan dan Nyonya Lee terlihat gugup "Kami sangat yakin padamu Tuan muda Jaehyun. Kami yakin kau sangat mencintai Taeyong dan mampu untuk menjaganya" ucap Nyonya Lee. "Tapi keputusan ada ditangan Taeyong. Biar Taeyong yang memutuskan" ucap Nyonya Lee lagi sambil memegang tangan Taeyong. Dan membuat semua orang menatap Taeyong. Sedangkan Taeyong hanya diam. Ia tak bisa menjawab. Ia tak bisa memutuskannya saat itu juga. Ia harus berpikir dahulu.
"Beri aku waktu" ucap Taeyong akhirnya. "Jaehyun, beri aku waktu untuk berpikir" tambah Taeyong lagi. Jaehyun mengangguk sebagai jawaban. Ia menatap Taeyong yang pergi meninggalkan ruangan menuju kamarnya.
.
Apa yang harus ia katakan?
Apa yang harus ia katakan pada Jaehyun?
Sejak awal Jaehyun mengajaknya menikah, ia sudah akan menolaknya
Tapi Jaehyun akan pergi jika ia tak menikah dengannya
Ia tak mau Jaehyun pergi
"Hyung?" panggil Jaehyun pelan. Ia lalu masuk kedalam kamar Taeyong yang tidak terkunci. Melihat Taeyong sedang duduk diatas kasur, dengan lengan yang memeluk kakinya. Wajahnya sangat bingung dan gugup. Lalu Jaehyun duduk dipinggir kasur.
"Aku mencintaimu, hyung. Aku sungguh sangat mencintaimu. Aku ingin kau menikah denganku, hyung" ucap Jaehyun bersungguh-sungguh.
"Aku tak tau apa yang harus aku katakan, Jaehyun" ucap Taeyong pelan. Membuat Jaehyun sedih mendengarnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, hyung" ucap Jaehyun pelan, ia sangat pasrah jika Taeyong menolak lamarannya.
"Aku tak ingin menikah diusia muda, Jaehyun. Aku tak ingin terburu-buru" ucap Taeyong juga pelan.
Jaehyun hanya menunduk mendengar perkataan Taeyong. Apakah Taeyong sungguh menolak lamaranya?
"Tapi aku lebih tak ingin jika kau kembali ke Los Angeles, Jaehyun. Aku ingin kau tetap disini bersamaku" ucap Taeyong lagi setelah lama berpikir.
"Hyung, maksudmu?" tanya Jaehyun sedikit bingung. Menatap Taeyong.
"Aku mau menikah denganmu, Jaehyun" ucap Taeyong yang sepertinya mantap mengatakannya.
"Hyung, kau mau menikah denganku?" tanya Jaehyun lagi. Taeyong mengangguk. Lalu Jaehyun memeluknya erat. "Hyung, aku senang sekali" ucap Jaehyun lagi masih memeluk Taeyong.
Taeyong tersenyum dalam pelukan Jaehyun. Ia yakin ia telah membuat keputusan yang tepat. Bersama Jaehyun membuat hidupnya bahagia. Jika Jaehyun kembali ke Los Angeles, entah apa yang terjadi pada dirinya. Ia sendiri tak bisa membayangkannya.
"Tapi aku punya satu syarat" ucap Taeyong melepas pelukan dan menatap Jaehyun.
"Syarat apa, hyung?" tanya Jaehyun.
"Aku tak mau pesta besar-besaran. Hanya keluarga dan teman dekat saja, bagaimana?" ucap Taeyong.
"Terserah kau saja, hyung. Aku tak masalah. Yang penting kau menikah denganku" jawab Jaehyun mengecup bibir Taeyong dan memeluknya lagi.
.
.
Keluarg Jung dan Keluarga Lee terlihat sangat sibuk. Mereka sedang mempersiapkan pernikahan Jaehyun dan Taeyong yang akan berlangsung sebulan lagi. Mereka hanya mempersiapkan pesta sederhana seperti permintaan Taeyong. Hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja
"Bajunya sangat pas sekali dibadanmu, Taeyong-ssi" ucap Hansol, perancang baju pengantin Jaehyun dan Taeyong. Saat ini Jaehyun dan Taeyong sedang fitting baju pernikahan mereka. Hansol adalah perancang busana langganan Keluarga Jung. Ia langsung mempersiapkan baju untuk Jaehyun dan Taeyong begitu Nyonya Jung meneleponnya. "Kau terlihat sangat tampan dan juga sangat manis" tambahnya lagi sambil tersenyum pada Taeyong
Iya, Hansol benar. Taeyong sangat pas sekali memakai jas stelan berwarna putih gading ini. Jaehyun saja sampai tak berkedip melihatnya. Sedangkan Taeyong hanya tersenyum malu memandang pantulan dirinya didalam cermin. Wajahnya merah merona.
"Sekarang giliranmu, Tuan muda Jaehyun" ucap Hansol membuat Jaehyun terpaksa menoleh dari tatapannya pada Taeyong. "Ayo ikut aku" ucapnya lagi. Lalu Jaehyun mengikutinya setelah memberi kecupan singkat dipipi Taeyong. Wajah Taeyong jadi bertambah merah menahan malu karena asisten Hansol tersenyum-senyum melihatnya.
.
.
Segala persiapan pernikahan sudah selesai, tinggal menunggu hari-H yang akan berlangsung besok. Taeyong tidak bisa tidur, ia gugup sekali. Ia tak menyangka besok marganya akan berubah menjadi Jung.
"Hyung, boleh aku masuk?" ucap Jaehyun sambil mengetuk pintu kamar Taeyong.
"Iya, Jaehyun. Masuklah" jawab Taeyong. Ia lalu bangun dan duduk dikasur.
Jaehyun tersenyum pada Taeyong "Kau gugup, hyung?" tanya Jaehyun sambil duduk disamping Taeyong.
Taeyong mengangguk. Lalu Jaehyun memeluknya. "Kau tau, hyung. Besok adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Karena besok kau akan jadi milikku seutuhnya, hyung. Kau tak tau betapa bahagianya aku" ucap Jaehyun masih memeluk Taeyong erat.
"Aku juga, Jaehyun. Aku juga bahagia bersamamu" ucap Taeyong dalam pelukan Jaehyun. Taeyong merasa lega. Rasa gugupnya sedikit hilang. Ia merasa sangat nyaman. Pelukan Jaehyun sangat menenangkannya.
.
.
"Berhenti menangis, Taeyong" ucap Nyonya Lee pada Taeyong. Taeyong terus saja menangis dipelukannya. Menangis bahagia tentu saja. Karena hari ini Taeyong akan menikah dengan pria pilihannya. Pria yang sangat mencintai dirinya. "Lihat wajahmu jadi jelek" ucap Nyonya Lee lagi membuat Taeyong tertawa dengan air mata dipipinya. Lalu Nyonya Lee menghapus air matanya.
"Taeyong!" itu suara Doyoung sahabatnya. Yang tiba-tiba masuk ke kamar dan langsung memeluknya. "Aku masih tak percaya kau akan menikah hari ini, aku jadi iri padamu" ucap Doyoung lagi melepas pelukannya.
"Cepat minta Taeil hyung untuk melamarmu sana!" jawab Taeyong sambil tertawa. Membuat Doyoung dan Nyonya Lee ikut tertawa.
"Maunya sih" jawab Doyoung sambil memajukan bibirnya. Tuhan, ingatkan dirinya untuk mengatakan pada kekasihnya agar segera melamarnya, batin Doyoung.
.
"Ibu aku gugup sekali" ucap Taeyong pada Ibunya. Nyonya Lee tak lepas menggenggam tangannya.
"Kau tenang saja, Taeyong. Tarik nafasmu" ucap Nyonya Lee mengusap-usap tangan Taeyong menenangkan.
"Taeyong, kau sudah siap?" tiba-tiba Ayahnya muncul, membuat Taeyong bertambah gugup. Apalagi ia mendengar suara piano tanda acara pernikahan sudah dimulai.
Taeyong bertambah gugup, sungguh. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya sedikit gemetar dan kakinya terasa lemas sekali. Ia merasa tak akan sanggup berdiri. Bagaimana ini? Dan disaat Taeyong merasa gugup, gemetar, kakinya lemas tak sanggup berdiri dan hampir menangis. Tiba-tiba bayangan wajah Jaehyun muncul dipikirannya. Wajah Jaehyun yang bahagia dan tersenyum padanya.
Jaehyun yang sangat mencintainya
Jaehyun yang membuatnya bahagia
Jaehyun yang membuat ia tak bisa hidup tanpanya
Ia harus kuat, ia harus sanggup berdiri, demi Jaehyun.
Dan seolah-olah bayangan wajah Jaehyun telah memberinya kekuatan, Taeyong berdiri dan mengangguk pada Ayahnya. Lalu Ayahnya menggandeng tangannya menuju altar dimana Jaehyun sudah menunggu.
Taeyong dan Ayahnya berjalan menuju taman dibelakang rumah yang sudah didekorasi menjadi tempat berlangsungnya pernikahan yang sangat cantik.
Taeyong berjalan pelan menuju altar, memegang tangan Ayahnya sangat erat seakan ia akan jatuh jika tak memegangnya dengan erat. Ia masih terlihat sedikit gugup. Melihat kesamping kanan dan kiri dengan senyum gugup diwajahnya. Melihat semua mata tertuju padanya. Ia bisa melihat Doyoung dan Taeil. Ia bisa melihat Kakek dan Nenek Jung. Kakek dan Neneknya. Ia bisa melihat Tuan dan Nyonya Jung tersenyum padanya. Ia juga bisa melihat Ibunya yang menangis. Dan yang ia lihat dengan jelas adalah seorang pria didepan altar. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Pasangan hidupnya. Belahan jiwanya. Begitu tampan dengan stelan jas berwarna hitam. Sangat sempurna dimata Taeyong.
Jaehyun menggenggam tangan Taeyong begitu Tuan Lee menyerahkan Taeyong padanya. Menatap Taeyong dengan senyum tak lepas dari wàjahnya. Taeyong pun balas menatap Jaehyun. Mereka pun saling berhadapan dan Jaehyun menggenggam kedua tangan Taeyong. Siap mengucapkan janji pernikahan. Saat pendeta mulai bicara.
"Jung Jaehyun, apakah kau bersedia menerima Lee Taeyong sebagai pasangan hidupmu dalam suka ataupun duka sampai maut memisahkan?" pendeta berkata pada Jaehyun.
"Bersedia" jawab Jaehyun mantap. Matanya tak lepas dari mata Taeyong.
"Lee Taeyong, apakah kau bersedia menerima Jung Jaehyun sebagai pasangan hidupmu dalam suka ataupun duka sampai maut memisahkan?" pendeta berkata pada Taeyong.
"Aku bersedia" jawab Taeyong tersenyum dan juga menatap Jaehyun.
Lalu mereka menyematkan cincin pernikahan tanda mereka telah resmi dan sah menikah.
"Sekarang kalian telah sah menjadi pasangan hidup" pendeta berkata lagi.
Jaehyun lalu mencium Taeyong, malu-malu Taeyong pun membalas ciuman Jaehyun dan keluarga serta para sahabat pun bertepuk tangan gembira.
Semua tamu undangan larut dalam kegembiraan. Menikmati pesta yang hangat mestipun sangat sederhana. Berdansa, mencicipi hidangan dan berbincang-bincang satu sama lain. Suara tawa terdengar diantara mereka.
Jaehyun tak pernah lepas menggenggam tangan Taeyong. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
"Kau bahagia, hyung?" tanya Jaehyun pelan ketika mereka sedang berdansa diiringi musik yang mengalun pelan. Tangannya melingkar dipinggang Taeyong.
"Sangat" jawab Taeyong singkat. Tangannya melingkar dileher Jaehyun. Mereka berdansa kekanan dan kiri mengikuti alunan musik.
Jaehyun lalu mencium Taeyong lagi, menyalurkan kebahagiaan mereka dalam satu ciuman yang lebih lama dan dalam dari biasanya. Membuat para tamu ikut merasakan kebahagiaan mereka.
.
.
Pesta akhirnya selesai pada tengah malam, semua tamu pun pulang dengan raut lelah namun senang diwajah mereka. Begitu juga dengan Taeyong ia terlihat sangat lelah sekali. Setelah memeluk Ayah dan Ibunya juga Kakek dan Neneknya ia pun pamit untuk beristirahat.
Mulai malam ini ia akan tidur dikamar Jaehyun. Memandang sekeliling kamar yang juga sudah menjadi kamarnya, wajahnya berubah panik saat melamunkan sesuatu. Ia terkejut ketika tiba-tiba Jaehyun datang dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan, hyung?" bisik Jaehyun ditelinga Taeyong.
"Hmm, tidak ada" jawab Taeyong sedikit gugup. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
Jaehyun tersenyum melihat Taeyong yang tiba-tiba menjadi gugup. "Kau mau mandi dulu atau kita langsung melakukannya saja, hyung?" tanya Jaehyun tersenyum-senyum.
Taeyong bertambah gugup mendengar pertanyaan Jaehyun. "Melaku..kan a..pa, Jae..hyun?" tanya Taeyong tiba-tiba menjadi gagap.
Jaehyun tambah tertawa mendengarnya. "Kau taukan, hyung. Semua pasangan melakukannya setelah mereka menikah" jawab Jaehyun lagi masih senyum-senyum.
Bukannya Taeyong tidak tau apa yang dimaksud Jaehyun, ia hanya sedikit tak menyangka ternyata Jaehyun lebih dewasa daripada usianya. Dan ia tak ingin melakukannya malam ini, ia sangat lelah.
"Tapi aku lelah, Jae. Apa kau tidak lelah?" tanya Taeyong masih gugup.
Jaehyun hanya menggeleng.
"Bagaimana kalau besok malam saja?" ucap Taeyong lagi.
Jaehyun tetap menggeleng. Dan malah mulai membuka kancing kemeja Taeyong. Membuat Taeyong membalikkan badannya dan sedikit mundur.
"Tapi besok pagi aku harus ke kampus, Jaehyun" ucap Taeyong lagi. Ia memang tak ijin kuliah. Karena pihak kampus tak diberi tau soal pernikahan mereka. Dan Taeyong tak mau ia berjalan terseok-seok saat ke kampus besok.
Tapi Jaehyun sepertinya tidak mau tau, sambil tersenyum ia berjalan mendekati Taeyong. Jika ia bilang ingin melakukannya malam ini maka ia harus mendapatkannya malam ini.
"Jaehyuuuun!"
Taeyong tak dapat menghindar lagi dan sepertinya besok ia akan berjalan sambil menahan sakit.
Semua gara-gara Jung Jaehyun!
.
.
.
END
Hai hai... Akhirnya selesai juga FF ini, hihihi. Mian kalo akhir ceritanya ga sesuai keinginan kalian. Hehehe.. ^^v
Reviewnya jangan lupa yaa... Dan buat yang udah review Kamsahamnida.. ^^
See you at next Jaeyong's Love Story~~ \^^/
