SATU
Yuka
SEOUL, 25 Mei 2012
ADA yang aneh dengan lelaki di depannya. Taeyong melihat lelaki yang duduk tepat di depannya dengan tatapan setengah sebal. Taeyong dikenal sebagai the master of death glare di sekolah tapi sepertinya death glare-nya sama sekali tidak berpengaruh besar pada lelaki di depannya ini.
Taeyong memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bosan. Kalau lelaki itu mau melihat ketampanannya ya silakan saja toh Taeyong tidak punya masalah dengan orang aneh itu. Menghela nafas berat Taeyong melihat jam tangannya. Masih pukul 7 pagi. Sial dia bangun terlalu pagi hari ini. Setelah ini pasti kantuk luar biasa menyerangnya di kelas. Taeyong mengerutkan dahi, dia sudah dua kali ketahuan tidur di kelas pak Choi. Selama dua kali itu pula dia dihukum membersihkan kamar mandi saat pulang sekolah.
Gedung yang begitu dikenalnya perlahan mulai terlihat. Taeyong cepat-cepat memakai tasnya, berdiri menunggu bus berhenti. Dia masih merasa lelaki aneh tadi masih mengamatinya dengan tatapan setengah penasaran setengah pengertian. Taeyong mengendikkan bahu, biarlah.
Ketika bus berhenti Taeyong memilih untuk cepat-cepat turun tanpa mempedulikan sekitarnya. Langkah kakinya yang lebar mengantarnya ke depan kelas.
"LEE TAEYONG-SSIIIII~" suara cempreng itu membuat Taeyong sedikit terkejut.
Seorang lelaki berambut hitam cepak dengan poni yang menurut Taeyong sedikit berlebihan berjalan perlahan ke arahnya. Taeyong mendengus kesal sebelum mendudukan diri di kursinya. Setelah ia duduk, dua orang lagi ikut duduk di sampingnya.
"Hai Clean Freak..." sapa Jung Jaehyun sambil memainkan PSPnya. Dia duduk tepat di depan Taeyong yang menatapnya risih. Ada noda saus di ujung bibir Jaehyun.
Seseorang lagi dengan gigi kelinci duduk di depannya, "Jangan mengganggunya terus Jaehyun." Ucapnya sambil mengeluarkan buku.
"Arraseo eomma."
Taeyong menggelengkan kepala. Tiba-tiba kursi di belakangnya ditarik dan seseorang duduk. Ten memajukan dirinya supaya bisa ikut berbincang.
"Ya.. Ya... Doyoung-ah.. aku pinjam PR biologimu dong~" katanya. Doyoung berdecak kesal, "Ck! Kapan mau lulus ujian kalau begini Ten?" katanya tapi tak urung juga memberikan buku biologinya.
"Tenang saja... aku punya malaikat pelindung kok!" ucap Ten mengundang tatapan aneh dari 3 temannya. Ten menunjuk Doyoung dengan santai, "Kim Doyoung-ssi~~" membuat Doyoung menggeram kesal.
Taeyong terkekeh, "Lebih baik kau urusi nilaimu daripada mengikuti Johnny dan Hansol dengan klub anehnya itu." Katanya mengeluarkan buku.
Ten menatapnya tak percaya, "EXCUUUUSEE YOU Lee Taeyong-ssi, klub supranatural bukanlah klub aneh dan aku tidak masuk klub itu untuk mengikuti siapapun ya!" tukasnya.
"Jaehyun-ah kau harus berhenti mengikuti Doyoung kemana pun! Masa masuk klub hanya gara-gara dia?" kata Ten lagi mengernyit sambil memajukan bibirnya.
Doyoung membuka mulutnya untuk bicara tapi terpotong ucapan Jaehyun yang masih bermain di PSPnya, "Hng sudahlah lagi pula aku memang mencari pengisi waktu kok." Jawabnya membuat Doyoung melihat Ten dengan lidah terjulur.
Ten mendengus kesal. Jaehyun melirik Taeyong yang sedaritadi diam, "Kau harusnya berkata begitu pada Taeyong, Ten. Lihat, sudah hampir 2 tahun sekolah di sini mana ada dia masuk klub?" katanya.
Doyoung mengangguk cepat, "Ya, Taeyong-ah, apa kau tidak bosan?" katanya.
Taeyong menatap 3 orang temannya dengan jengah, "Harus berapa kali ku katakan aku tidak terlalu tertarik untuk ikut klub. Apalagi klub aneh kalian itu."
"Excuuuuseee youuuuu... klub kami tidak aneh ya!"
"Oke oke arraseo arraseo, tapi kalau kau tertarik kau boleh join kapan saja." Ucap Doyoung menengahi.
Ten mencibir, "Mana mau dia ikut? Lihat, teman satu bangku saja tidak punya." Katanya menunjuk bangku kosong di depannya.
"Kun kan sudah pindah semester lalu, lagi pula kita sudah nyaman dengan teman sebangku masing-masing." Kata Doyoung lagi.
Taeyong menyentil dahi Ten pelan, "Kalau mau duduk di sampingku tinggal bilang saja, bodoh." Katanya.
Ten menatapnya horror, "Idih untuk apa aku mau duduk sebangku dengan clean freak sepertimu?" katanya. Winwin, teman sebangku Ten terkekeh kecil.
Tepat saat itu bel tanda masuk berbunyi. Masing-masing dari mereka kembali ke posisi duduknya.
Pak Byun, guru bahasa Korea itu memasuki kelas dengan seseorang di belakangnya. Taeyong menatapnya horror. Itu lelaki di bus! Taeyong cepat-cepat menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
"Berdiri!" Ten selaku ketua kelas berdiri, "Beri hormat, selamat pagi songsaenim..." ucap satu kelas serempak.
Pak Byun mengangguk kecil menerima salam, "Selamat pagi semuanya. Kita kedatangan teman baru hari ini... namanya..."
Taeyong melihat lelaki itu melirik ke arah gurunya hendak membuka mulut, "...Yuta. Nakamoto Yuta." Lanjut Pak Byun membuat Yuta menutup kembali mulutnya sambil menggaruk tengkuknya.
Taeyong menahan senyumnya agar tidak kelepasan. Pak Byun kembali melanjutkan perkenalan Yuta tapi Taeyong memilih mengabaikannya sebelum ia menyadari bangku di sampingnya sudah terisi.
Taeyong menoleh ke kanan mendapati si siswa baru duduk tepat di sampingnya. "Ya... siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" desis Taeyong.
Yuta menatapnya dengan dua bola mata besarnya, "Songsaenim..." katanya pelan. Taeyong mengamati mata Yuta yang bergerak menatap udara di belakang Taeyong dengan senyum melembut.
Taeyong menatapnya aneh, "Kau lihat apa?" tanyanya jengah. Mungkin dia melihat beberapa anak klub basket pemanasan di luar.
"Bu-Bukan apa-apa..." Yuta menundukkan kepala sambil mengeluarkan bukunya. Bibirnya menggumam pelan dengan bahasa yang Taeyong tidak mengerti. Taeyong mengendikkan bahu memilih tidak peduli.
Selama pelajaran tidak satu kata pun keluar dari mulut mereka berdua. Hingga jam istirahat pun Yuta memilih cepat-cepat keluar kelas. Taeyong yang melihatnya merasa risih. Aneh sekali bocah baru itu.
"Taeyong-ah... ayo beli makan!" Jaehyun berkata sambil melambaikan tangan, ia, Doyoung dan Ten sudah berada di ambang pintu. Taeyong mengangguk sebelum beranjak dari kursinya.
.
.
.
Yuta mengerutkan dahi saat berjalan ke kantin. Ia melihat ke sampingnya dengan tidak nyaman. Bibirnya bergerak bimbang antara membuka mulut atau tetap diam. Setelah sampai di tempat yang sekiranya sepi, Yuta mengehla nafas berat menatap ke udara kosong di samping kanannya.
"Hhhh..." desahnya, "Aku sudah bilang berhenti mengikutiku. Kau ini kenapa sih?" katanya seolah berbicara dengan seseorang.
Yuta tambah mengernyit, "Kau itu sudah mati, Hyung. Sungguh berhentilah mengikutiku." Katanya lagi. Yuta menunduk sedikit ketika mendengar suara. Alisnya bertaut, "Aku akan membantumu oke. Tapi tidak sekarang." Ucapnya.
Yuta mengusap wajahnya dengan tangan, "Dengarkan aku Hyung, Pak Park yang kau maksud itu... aku tidak tahu yang mana. Aku masih baru di sini."
Lalu alisnya terangkat, "Jinjja? Dia akan mengajarku setelah ini?" tanyanya.
Yuta mengangguk pelan, "Baiklah akan ku coba... tapi kalau dia tidak percaya jangan salahkan aku ya!" katanya dengan jari menunjuk ke depan seolah sedang menunjuk seseorang.
Puas dengan jawaban itu, Yuta melanjutkan langkahnya ke kelas. Langkahnya terhenti sesaat saat melihat teman sebangkunya sedang berbincang dengan teman-temannya di bangku mereka. Yuta memiringkan kepalanya. Perempuan itu terus mengikuti teman sebangkunya... siapa itu namanya? Uh... Yuta mengernyit, mereka kan belum berkenalan. Yuta membuat mental note untuk berkenalan dengan teman sebangkunya itu.
Tapi sungguh, perempuan cantik itu terus mengikuti temannya sejak mereka bertemu di bus tadi. Kalau dilihat-lihat, perempuan di belakangnya itu seumuran dengan ibu Yuta saat ini. Sejak tadi Yuta ingin sekali berbicara dengan perempuan itu tapi perempuan itu selalu menggeleng sambil tersenyum ke arah Yuta. Sepertinya perempuan itu tahu Yuta bisa melihatnya.
Tiba-tiba Yuta tersentak saat sebuah suara halus terdengan di telinganya. Cepat-cepat ia berjalan karena dari tadi dia berdiri di ambang pintu. "Terima kasih..." ucapnya pelan ke kanan.
Yuta cepat-cepat mendudukkan diri di kursinya. "Yuta-kun~" kepalanya mendongak mendengar namanya di sebut. Seorang siswa rambut cepak yang tadi memimpin duduk di depannya dengan tatapan hangat.
"A-Ah... nde?" kata Yuta menaikkan alis.
"Kita belum kenalan, hai namaku Ten..." Ten mengulurkan tangan dan Yuta menyambut uluran tangan itu dengan hangat, "Yuta..." katanya tersenyum.
"Woaahh kau punya senyum yang manis!" seorang dengan PSP menghampiri mereka berdua sambil menunjuk ke arah Yuta.
"Ah... terima kasih."
"Aku Doyoung..." kata satu orang lagi yang ikut bergabung, "... dan yang main PSP itu Jaehyun."
Jaehyun melempar senyum, "Konnichiwa!" katanya.
Yuta tertawa pelan, "Ahaha... konnichiwa." Balasnya.
"Oh iya..." Ten menarik seseorang lagi untuk mendekat, "... yang ini Taeyong. Aku yakin dia belum mengajakmu kenalan kan?" katanya.
Ohhh... jadi namanya Taeyong. Yuta mengangguk pelan, "Yuta..." katanya mengulurkan tangan sambil tersenyum.
Taeyong menatap tangan Yuta sejenak, "Hm.. Taeyong." Katanya tanpa membalas uluran tangan Yuta. Yuta mengedipkan matanya beberapa kali sebelum melihat perempuan paruh baya di belakang Taeyong tersenyum lembut seolah meminta maaf. Yuta mengangguk kecil sambil tersenyum lebar.
"Kau ini! Bersikaplah sopan sedikit!" Ten memukul kepala Taeyong dengan kepalan tangannya.
"Aww!"
Doyoung menatap Yuta, "Maafkan Taeyong ya dia memang tidak sopan. Sama sekali tidak menghargai." Katanya sambil melirik ke arah Taeyong lalu bergumam, "Dasar mana ada yang mau dekat denganmu kalau begini?"
Yuta mengangguk mengerti, "Tidak apa-apa Doyoung-ssi..."
"Doyoung saja cukup astaga.. apa semua orang asing harus memanggilku dengan honorific?" kata Doyoung seolah lelah dengan dunia. Yuta
terkekeh pelan, "Hai hai... wakatta." Katanya.
Jaehyun tiba-tiba semangat, "Ya Yuta... katakan. Apa kau suka game? Apa kau punya game Attack on Titan?" katanya sambil menarik kursi dan mendekat ke arah Yuta.
Yuta mengangguk kecil, "Hm.. aku punya. Kalau kau mau akan aku pinjamkan besok."
Jaehyun menatap Yuta dengan tidak percaya, "Jinjja?" dibalas dengan anggukan pasti dari Yuta.
Ten menatap jengah ke arah Jaehyun, "Dasar gamers!" serunya.
.
.
.
Taeyong melihat Yuta yang semakin akrab dengan teman-temannya. Melihat Ten mengajaknya berkenalan hingga Jaehyun yang sanat semangat membicarakan game barunya. Taeyong mengehla nafas kecil. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Ten.
"Oh iya..." kata Ten, "... yang ini Taeyong. Aku yakin dia belum mengajakmu kenalan kan?" katanya lagi.
Taeyong mengernyit. Yuta mengangguk pelan, "Yuta..." katanya mengulurkan tangan sambil tersenyum.
Taeyong menatap tangan Yuta sejenak. Apa tangan itu bersih? Apa dia menggunakan sabun dengan benar? Apa dia habis dari kamar mandi? Apa tangannya berkeringat? Apa tadi dia memegang makanan? Apa dia tadi- Taeyong memutuskan untuk tidak mengulurkan tangannya.
"Hm.. Taeyong." Katanya. Melihat Yuta yang tersenyum lebar setelah melihat ke arahnya membuat Taeyong merasa sedikit tidak enak.
"Kau ini! Bersikaplah sopan sedikit!" Ten memukul kepala Taeyong dengan kepalan tangannya.
"Aww!" Taeyong merasakan nyeri di ubun-ubunnya. Apa dia sebegitu tidak sopannya?
Doyoung menatap Yuta, "Maafkan Taeyong ya dia memang tidak sopan. Sama sekali tidak menghargai." Katanya sambil melirik ke arah Taeyong lalu bergumam, "Dasar mana ada yang mau dekat denganmu kalau begini?" Taeyong sih tidak peduli dengan itu.
Yuta mengangguk mengerti, "Tidak apa-apa Doyoung-ssi..."
Taeyong menatap empat orang di depannya dengan malas. Terserahlah kalian mau membicarakan apa. Taeyong memutar bola matanya.
"Taeyong-ah... ada perempuan cantik di belakangmu."
Dan kalimat Yuta barusan sukses membuat Taeyong dan tiga orang temannya menatap ke arah siswa pindahan itu dengan mata terbelalak.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: hihihi updated XD ahahaha soalnya 4 hari ke depan belum bisa update jadi diupdate hari ini juga AHAHAH /? /gapenting/ anyway thanks untuk alvirajn, aspartam, and untungsayang for reviewing my prologue. that means a lot for me XD ahahaha /? doakan saja semoga saia tidak terserang wb dalam waktu yang tidak tepat sodara-sodara XD RnR always welcomed~ saia sangat mengharapkannya /? XD author will be loved for being commented guys.. don't be siders :* hugs and kisses~
-Yuka
