DUA
Yuka
.
.
LEE Taeyong menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Tangannya terlipat menumpu kepalanya. Bibirnya mengerucut memikirkan kejadian kemarin siang. Saat laki-laki bernama Yuta itu mengatakan sesuatu mengenai perempuan di belakangnya. Taeyong makin mengernyit.
Hantu itu tidak ada.
Taeyong tidak percaya hantu.
Mana ada hantu?
Setelah ucapan Yuta kemarin, Doyoung dan Ten begitu semangat menanyainya mengenai hantu. Dasar kumpulan bocah aneh. Dasar kumpulan bocah klub aneh. Taeyong merutuki nasibnya yang masih mau berteman dengan mereka.
"Hhhh..." Taeyong menghela nafas, mau bagaimana pun hanya mereka bertiga yang mau menerimanya.
Taeyong memang tidak percaya hantu, tapi entah kenapa ucapan Yuta kemarin membuat Taeyong kepikiran setengah mati. Siapa kira-kira yang mengikutinya? Perempuan? Siapa? Bulu kuduknya berdiri. Taeyong menelan ludah. Sudahlah! Sudahlah! Taeyong menutup matanya memilih untuk kembali tidur.
Tidak akan ada apa-apa. Tidak ada yang mengikutinya.
.
.
.
Keesokan paginya Taeyong berjalan menuju sekolah dengan perasaan biasa saja. Seolah perkataan Yuta kemarin benar-benar terlupakan. Hari ini pun dia tidak melihat Yuta berangkat menggunakan bus seperti biasanya. Apa yang dia harapkan sebenarnya? Bukannya malah bagus?
Taeyong menghela nafas berat kemudian berjalan urus ke kelasnya. Setelah masuk ke kelas, Taeyong langsung disambut Ten yang berlari ke arahnya.
"TAAAEYONGGGG..." katanya sambil mengguncangkan bahu Taeyong.
"Apa?" tanya Taeyong kesal sambil menghempaskan tangan Ten. Taeyong mendudukkan diri di kursinya.
Ten dan Doyoung duduk di depannya sedangkan Jaehyun masih fokus dengan game barunya, "Akhirnya... setelah sekian tahun... klub supranatural memiliki anggota yang punya indra ke enaaamm!" kata Ten bergelora.
Doyoung mengangguk mantap, "Yuta punya six sense! Dan kami akan merekrutnya untuk masuk klub supranatural!" katanya.
Taeyong mengeluarkan buku sambil menatap mereka satu per satu, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Astaga...
"Memangnya Yuta mau? Masuk klub kita?" tanya Jaehyun duduk di samping Taeyong.
Ten menatapnya, "PASTI! Aku yang akan memastikan." Ucapnya mantap.
Taeyong menghela nafas, "Sebenarnya klub kalian itu belum resmi di sebut klub kan? Siapa saja anggotanya? Johnny, Hansol, Doyoung, Jaehyun, dan kau, masih kurang dua orang lagi untuk bisa disetujui kepala sekolah sebagai sebuah klub." Ucap Taeyong pada Ten.
Ten mengerucutkan bibirnya, "Maka dari itu aku akan merekrut Yuta!"
"Lalu satu orang lagi?"
Doyoung menggigit bibirnya lalu tersenyum lebar ke arah Taeyong, "Taeyong-ah... bergabunglah dengan kami." Ucapnya dengan nada selembut mungkin.
"No." Tolak Taeyong mentah-mentah.
"Ayolaahh~~" rajuk Ten.
"Ssssttt... Pak Park sudah datang." Kata Jaehyun membuat Ten dan Doyoung kembai ke tempat duduknya sendiri.
Taeyong melirik bangku di sampingnya, kosong. Baru kemarin dia pindah ke sini sudah berani bolos. Taeyong menggelengkan kepalanya.
"Selamat pagi semuanya." Pak Park membuka bukunya sambil bicara. Dia mendongak meihat ke arah Taeyong, "Taeyong-ssi, apa ada seseorang yang duduk di sampingmu?"
Taeyong hendak membuka mulutnya untuk menjawab saat pintu kelas tiba-tiba terbuka menampakkan sosok Yuta dengan nafas tersengal-sengal.
"P-Permisi Pak..." katanya. Pak Park menghela nafas, "Yuta-ssi... apa kau lupa sekolah dimuai pukul 7.30?" tanyanya.
Yuta menggelengkan kepala, "Tidak Pak... saya... ketinggalan bus, jadi saya berlari ke sekolah." Katanya masih dengan nafas tersengal-sengal.
Taeyong menggelengkan kepala tidak percaya. Apa saja yang dilakukan anak itu semalaman?
Pak Park menghela nafas kemudian menyuruh Yuta duduk. Yuta dengan cepat berjalan ke bangkunya kemudian duduk tanpa menatap Pak Park. Kepalanya menunduk bahkan setelah ia duduk. Ten mencodongkan tubuhnya.
"Yuta-kun..." bisiknya.
Yuta menoleh sedikit, "Nde?" bisiknya juga.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Taeyong melirik Yuta yang menghela nafas.
.
.
.
Yuta berjalan biasa menuju halte bus. Masih ada setengah jam lagi sebelum gerbang sekolah ditutup. Waktu masih cukup. Yuta bersiul kecil sambil berjalan sebelum dia berhenti tepat di depan halte bus. Ada seseorang duduk di kursi halte.
Sehun Hyung.
Yuta mengernyit sambil berjalan tergesa ke arahnya. Yuta duduk di sampingnya. "Hyung..." panggilnya.
Yuta melihat Sehun menatapnya dengan mata hitamnya. Benar-benar hitam... keseluruhan matanya hitam. Kulitnya sangat pucat dengan beberapa goresan luka di sekitar lehernya. Seragamnya persis dengan seragam yang Yuta kenakan. Yuta mendesah pelan.
"Hari ini aku sekolah Hyung... jangan mengikutiku dulu. Oh iya, kemarin.. aku belum sempat bicara pada Pak Park karena dia tidak masuk. Maafkan aku..." Katanya menggaruk tengkuk.
Yuta melihat Sehun mengangguk. Yuta memutuskan untuk mengabaikannya setelah itu.
Sesampainya di sekolah Yuta merasakan tangannya ditahan oleh Sehun. Yuta menatapnya jengah. "Ada apa Hyung?" kemudian ia berlari setelah Sehun mengisyaratkannya untuk ikut dengannya. Yuta berlari mengikutinya.
Setelah beberapa saat, Yuta sampai di tempat tujuan. Bekas kantor guru. Yuta melihat sekeliling dan tidak menemukan siapapun berada di sana. Bekas kantor guru ini berada di antara aula dan gedung olah raga. Yuta mengintip lewat jendela. Ruangannya bahkan lebih besar dan lebih bersih dari ruang kantor guru yang sekarang. Yuta merasakan Sehun berpindah dari sampingnya menuju ruangan itu.
Tangannya menunjuk pada lantai. Wajahnya menatap nanar pada Yuta.
"A-Apa yang sebenarnya..." belum sempat Yuta meneruskan kalimatnya. Seseorang tiba-tiba masuk dari pintu belakang. Bayangan Sehun menghilang begitu saja. Yuta terperanjat kecil kemudian menundukkan diri.
Ia melirik jam sudah menujuk pukul 7.32 dengan cepat dia berlari ke kelas tanpa memikirkan lagi tentang Sehun maupun ruangan itu. Sial dia telat di hari keduanya!
.
.
.
Mereka duduk berlima di kantin. Ten mengamati Yuta yang masih menunduk tanpa menyentuh makanannya sama sekali. Ten mengunyah kimchinya pelan sebelum melihat ke arah Doyoung yang turut memperhatikan Yuta yang dari tadi terdiam.
"Yuta..." panggil Jaehyun membuyarkan suasana hening itu.
Yang dipanggil menoleh, "Nde?"
"Makan!" kata Jaehyun lagi sambil menyodorkan jeruk ke arah Yuta.
Yuta menatapnya sebentar, "Hhhhh... terima kasih Jaehyun-ah..." katanya lalu mengambil jeruk itu.
Ten mengulum bibirnya, "Yuta-kun~" panggilnya. Yuta menatap ke arahnya, "Nde?"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku yakin kau tidak benar-benar terlambat ke sekolah karena bus kan?" tanyanya.
Yuta bergerak sedikit, "Y-Yah... aku ada urusan."
Doyoung menatapnya curiga, "Begitu?"
Yuta tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya, "Yaaahhh begitulah! Aku memang ceroboh!" katanya lalu tertawa kecil. Taeyong meliriknya risih.
"Berisik." Katanya.
Yuta mencibir, "Maaf maaf..." katanya lalu mengupas jeruknya.
Ten menyandarkan diri di kursi kantinnya, "Yah kalau belum siap memberitahukannya sekarang tidak apa-apa sih~ oh iya Yuta-kun... six sense mu itu... kau dapatkan dari lahir?" tanyanya.
Yuta mengunyah jeruknya sejenak sebelum menjawab, "Tidak..." katanya menggeleng.
Semua mata tertuju padanya. Bahkan sinar mata Taeyong mengisyaratkan ketertarikan. Yuta menarik nafas panjang sebelum bercerita, "Saat aku kelas 1 SMP... aku mengalami kecelakaan hebat. Kata kakek aku kecelakaan di Korea saat mengunjungi ayahku yang sedang berkerja di sini. Aku ditabrak mobil tepat di depan sekolah ini. Aku hilang ingatan dan koma beberapa bulan. Kakek maupun orang tuaku tidak memberitahukan apapun padaku. Yah begituah... setelah kecelakaan itu aku bisa melihat mereka."
Ten bergumam kecil, "Hmm..."
Doyoung memajukan dirinya sambil mengambil buku catatan kecil, "Yuta-kun... coba katakan... apa ada 'mereka' di sekitar kita sekarang ini?" katanya pada Yuta yang masih mengunyah jeruknya. Yuta menyeka bibirnya, "Um.." dia mengangguk.
Yuta menunjuk ibu kantin yang sedang menata sendok di pantry, "Ibu Kim... suaminya meninggal karena kecelakaan hebat bulan lalu. Suaminya masih mengikutinya sambil membawa bunga dan kado." Dia berhenti sejenak bergerak tidak nyaman, "Umm... sepertinya dia meninggal saat akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka." Lanjutnya.
Mata Ten, Doyoung dan Jaehyun melebar, "J-Jinjja?" tanya Ten mengedipkan matanya. Menatap Yuta tak percaya.
Yuta mengangguk, "Kang Seulgi..." tunjuknya pada perempuan berambut coklat yang sedang berkaca di cermin bedaknya. Semua mata termasuk mata Taeyong melirik ke arahnya, "...dia baru putus seminggu yang lalu karena ketahuan selingkuh. Mantan pacarnya meninggal tertabrak mobil saat mengejarnya..." dia berhenti sejenak.
Semua mata melihat Yuta yang masih melihat Seulgi sambil mengernyit, "Sepertinya mantan pacarnya sangat marah, dia menggenggam kaca sekarang." Lanjutnya. Teman-temannya begidik ngeri.
"C-Cukup Yuta..." kata Jaehyun. Yuta menatapnya, "Ya... Jaehyun-ah..." panggilnya. "Dua hari yang lalu kau menabrak kucing di depan sekolah kan?" lanjutnya. Jaehyun mendelik, "H-Ha?"
Yuta menunjuk bahu Jaehyun, "Jaehyun-ah.. minta maaflah. Kucing itu mengikutimu dari kemarin." Ucapnya lagi.
Doyoung dan Ten langsung bergeser dari samping Jaehyun, "Hiiii~"
Jaehyun menepuk dahinya, "Aigoo... iya iya aku akan minta maaf." Katanya menunduk.
Taeyong melirik Yuta dari ekor matanya, "Jika kau benar-benar melihat mereka harusnya kau bisa membuktikannya?" sorot matanya terlihat menantang.
"Jaehyun sudah mengakui kesalahannya dan Yuta menebaknya bukankah itu sudah menjadi bukti?" Ten mengernyit ke arah Taeyong sambil mengunyah nasinya.
Taeyong mendesah kecil, "Bisa saja dia melihat Jaehyun menabrak kucing di depan sekolah. Atau diberitahu seseorang tentang ibu Kim maupun Seulgi." Katanya.
Ten, Jaehyun dan Doyoung menatapnya sejenak sebelum melihat ke arah Yuta. Yang ditatap hanya diam sambil memakan jeruknya lagi. "Hmm... baiklah akan ku coba bicara dengan Nunna yang di sana itu." Katanya menunjuk bangku kosong di pojok kantin.
Doyoung mengambil handphonenya lalu membuka kamera dan merekam Yuta yang berjalan ke arahnya. Jaehyun mengintip lewat handphone Doyoung begitu pula Ten. Yuta terlihat sedang berbincang-bincang dengan seseorang meskipun yang terlihat di layar hanyalah udara kosong. Yuta meletakkan gelas kosong di meja itu lalu mundur beberapa langkah. Mulutnya tiba-tiba bergerak, "Nunna... tolong angkat gelasnya."
Gelas itu tiba-tiba terangkat membuat Doyoung, Ten dan Jaehyun berteriak kencang hingga gelas itu pecah seolah di lempar ke lantai. Yuta menatap udara kosong di depannya dengan takut-takut lalu menggumam, "N-Nunna... m-maafkan mereka. Mereka tidak takut padamu sungguh. Kau cantik. Bukankah sudah ku bilang setiap hari? T-tenanglah..." katanya lalu mengambil nafas dalam. Yuta tersenyum kecil sebelum sebuah suara nyaring dari teman-temannya.
"Y-YUTA BISA MELIHAT HANTU!" teriak salah satu siswa membuat kantin yang tadinya damai menjadi riuh karena semua siswa berlarian keluar sambil berteriak. Ten, Doyoung, Jaehyun dan Taeyong menatap sekelilingnya. Sebenarnya mereka juga masih shock karena pembuktian Yuta tadi.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengawasi mereka. Tertarik.
.
.
.
"Nakamoto Yuta." Ten menuliskan nama Yuta di form pendaftaran klub supranatural. Setelah selesai, diserahkannya pada Hansol yang sedang sibuk dengan laptopnya. Hansol menerima uluran kertas itu sambil melihat video kejadian di kantin dari HP Doyoung.
"Kau yakin dia mau ikut klub kita?" Johnny, ketua klub supranatural menatap Ten yang sedang mengamati kuku-kukunya. Ten bergumam kecil, "Hmm~ akan ku coba. Aku yakin dia bisa membantu kita membuktikan kalau ruang guru itu benar-benar bermasalah." Katanya.
Johnny mengangguk, "Ruangan itu... benar-benar ada yang salah dengan ruangan itu. Tidakkah kau merasakan aura-aura aneh di sekitar sana?" tanyanya. Hansol mengangguk setuju.
"Kemampuannya tadi benar-benar mengejutkan." Hansol berkomentar lalu menutup laptopnya, menatap dua orang di depannya.
"Aku tidak percaya dia bisa menyuruh hantu untuk melakukan itu." Johnny menggelengkan kepala.
Ten mengangguk kecil, "Aku saja shock."
"Oh iya... di mana Jaehyun dan Doyoung?" pertanyaan Hansol membuat Ten meringis.
"Mereka sedang..."
.
.
.
"Kumohon Taeyong-ah~" Doyoung mengatupkan tangannya di depan dahi sambil meringis.
Taeyong menutup bukunya kesal, "Doyoung aku sudah bilang aku tidak tertarik." Desisnya. Dia berdiri mengambil tasnya lalu keluar dari bangkunya.
Jaehyun menatapnya aneh lalu menatap Yuta yang kebingungan sendiri. Tadi dia diminta untuk membantu Doyoung dan Jaehyun, saat dia bilang 'baiklah akan ku bantu apapun itu' dia malah dipaksa masuk klub supranatural. Yuta menatap kedua orang di depannya yang juga menatapnya penuh harap.
"Hhh..." desahnya. Yuta menatap datar Jaehyun dan Doyoung, "Kalau tidak mau jangan dipaksa."
Kali ini Jaehyun yang mengatupkan tangan ke dahi sambil meringis, "Aku mohon sensei." Katanya.
Alis Yuta mengkerut, "Jangan panggil aku sensei!" katanya kesal. Yuta melihat ke pintu kelas dan menatap sesuatu sebelum mengambil tasnya.
"Ada apa?" tanya Doyoung.
Yuta bergegas keluar dari bangkunya lalu berjalan ke pintu kelas, "Aku... ada urusan. Aku akan coba membujuk Taeyong, jangan khawatir." Katanya pelan sambil melirik ke kanan. Udara kosong di kanannya seolah terisi kehadiran seseorang membuat Yuta agak tak nyaman. "S-Sudah ya." Katanya lalu berlari keluar meninggalkan Doyoung dan Jaehyun yang menatapnya aneh.
.
.
.
"A-Ahjumma..." panggil Yuta pelan. Kaki-kaki panjangnya berlarian kecil mengikuti sosok tak kasat mata di depannya. Perempuan paruh baya yang selalu mengikuti Taeyong itu ingin membawanya ke suatu tempat.
Setelah 15 menit berlari dari sekolah, Yuta terhenti di sebuah toko kue. Yuta menatap ke kanan melihat perempuan itu tersenyum lembut dan membisikkan sesuatu ke telinga Yuta. Yuta mengangguk kecil lalu masuk ke dalam.
Setelah mengucap salam, Yuta bergegas memesan kue susu almond pada pelayan yang langsung menyuruhnya duduk. Yuta duduk di kursi tunggu, perempuan cantik itu duduk di sampingnya. Yuta menatap udara kosong di sampingnya, berbisik kecil, "Ahjumma... apa maksud ini semua?"
Bukannya mendapat jawaban, Yuta malah disuruh untuk mengikutinya lagi setelah membeli kue susu itu. Yuta hanya bisa mendesah lalu mengangguk pasrah. Tidak sampai 30 menit pesanannya sudah terbungkus di dalam box lucu berwarna pink dengan garis-garis putih. Yuta keluar toko setelah membayar.
Yuta menatap langit kemerahan. Sudah hampir malam. Ke mana sebenarnya ahjumma ini membawanya? Yuta menggelengkan kepalanya. Ia sudah berjanji untuk membantu 'mereka' jika membutuhkan bantuannya. Jadi dia tidak boleh mengeluh kan? Yuta tersenyum atas pemikirannya. Dengan langkah pasti Yuta mengikuti perempuan itu sambil membawa box berisi kue susu.
Kakinya kembali terhenti di depan gedung apartemen. Yuta melihat kiri-kanan depan-belakang mencari pos satpam yang menjaga apartemen itu. Setelah menemukannya dia menanyakan kamar nomor 304. Setelah mendapat jawaban, Yuta melangkah naik melalui tangga-tangga besi apartemen sederhana itu. Sesampainya di depan kamar yang dituju, Yuta memencet bel.
.
.
.
Taeyong mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi keramas sore itu. Mengambil kaos putih oblong dan celana pendek motif tentara dari dalam lemari, Taeyong melempar handuknya lalu berganti baju. Setelah mengambil handuk dan menjemurnya di balkon, Taeyong mendengar bel kamarnya berbunyi.
Siapa yang sore-sore seperti ini bertamu? Tidak ada yang tahu alamatnya kecuali orang tua, Jaehyun, Doyoung dan Ten. Mungkin tiga kunyuk itu mau main lagi, pikirnya. Taeyong bergegas menuju pintu depan dan membuka pintu.
Mata hitamnya menangkap sosok Yuta yang membawa bungkusan pink di tangannya. Sesaat Taeyong merasa waktu terhenti. Helai rambut coklat Yuta diterpa sinar matahari sore membuat Taeyong seolah-olah melihat orang lain di depannya.
"Taeyong-ah..." lamunan Taeyong buyar setelah mendengar suara Yuta. Taeyong menerjab beberapa kali berusaha mengontrol ekspresinya.
"Yuta... apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dan sodoran bungkusan pink yang begitu dikenalnya menjadi jawaban.
Taeyong mengernyit, "Maksudnya?"
"Perempuan yang selalu mengikutimu itu... ibumu." Perkataan Yuta membuat Taeyong membulatkan matanya.
"J-Jangan bercanda Yuta." Kata Tayeong menatap Yuta tajam.
"Taeyong-ah... boleh aku menanyakan sesuatu?"
Taeyong tidak menjawab. Matanya bergerak ke kanan... ke kiri... bingung harus mengatakan apa. Sepertinya Yuta mengartikan diamnya sebagai 'iya'.
"Apa ibumu... ibu kandungmu... meninggal karena kecelakaan di depan sekolah beberapa tahun yang lalu?" pertanyaan Yuta membuat Taeyong tanpa sadar menarik pemuda Jepang itu masuk ke dalam kamarnya.
Menutup pintu kamarnya, Taeyong menatap Yuta dengan nafas memburu. "Apa sebenarnya maksudmu Yuta?" desisnya.
Yuta menatap Taeyong. Matanya menyiratkan ketidaknyamanan. Mata yang entah kenapa membuat Taeyong teringat akan seseorang. Mata yang begitu Taeyong kenal.
"Bagaimana aku menceritakannya ya..." Yuta menggaruk tengkuknya. "Taeyong-ah.. apa kau yakin... ibumu benar-benar meninggal karena kecelakaan tunggal?" pertanyaan Yuta membuat Taeyong menghembuskan nafas yang entah berapa lama ditahannya.
Taeyong memang percaya ibunya meninggal karena kecelakaan hebat lima tahun lalu, tapi mengingat hasil otopsi dan penyelidikan di TKP membuat Taeyong mengernyit. Rem.. oli... kabel-kabel yang terletak tidak sesuai tempatnya membuat kenyataan tentang kecelakaan tunggal itu memudar. Taeyong tidak percaya pada penyelidikan polisi. Kasus itu sempat terhenti karena ketidakmampuan pihak keluarga membuktikan adanya tindak pembunuhan di dalamnya.
Taeyong menatap iris mata Yuta, "Tidak." Jawabnya. "Aku tidak percaya." Katanya lagi. Yuta menatapnya dengan iris mata coklatnya yang besar.
Mengangguk, Yuta berjalan mendekati Taeyong masih membawa bungkusan pink berpita itu, "Taeyong-ah... tadi ibumu bicara padaku. Mengatakan kalau ia bisa menunjukkan siapa pembunuh sebenarnya..." katanya lalu terhenti ketika melihat raut wajah Taeyong meragu, "...kau percaya padaku kan?" tanya Yuta pelan membuat Taeyong menarik nafas dalam.
Anggukan Taeyong membuat Yuta mendesah lega lalu menyodorkan bungkusan kue susu padanya, "Yokatta... ibumu menyuruhku membeli ini untuk jaga-jaga kalau kau tidak percaya padaku." Kata Yuta menggaruk tengkuknya.
Taeyong mengulum senyum kecil lalu beranjak duduk di depan meja kecil di tengah ruangan, menatap Yuta mengisyaratkannya untuk ikut duduk. Dengan wajah sumringah Yuta ikut duduk sambil meletakkan kue susu di meja.
"Taeyong-ah... ayo pecahkan misteri ini bersama." Ajak Yuta tersenyum lebar membuat Taeyong teringat kembali alasan kenapa waktunya terasa berhenti sejenak.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: OMG OMG OMG ahahaha banyak yang review asdfghjkl gamsahamnidaaa~ /gelindingan/ ;3; terharu ih asli omg ahaha. sekarang udah masuk kuliah lagi yeay jadi bisa apdet pake wifi kampus /dasarkere/? ;3; terima kasih reviewnya teman-teman /sungkem satu-satu/ aku personally suka sama hubungan yang slow build jadi yaaa /? /gapenting/ XD anyway this chapter is longer than before jadi aku harap kalian puas/? meskipun kayaknya ceritanya makin gaje ;-; /sungem lagi/ anyway, ku tunggu review-review kalian berikutnya sodarah-sodarah :* kisses and hugs. /peluk cium/?
-Yuka
