TIGA

Yuka

.

.

PUKUL 17.48

Ten menyentuh dahi Taeyong entah sudah keberapa kali hari ini. Rasa-rasanya aneh melihat Lee Taeyong, seorang lelaki clean freak yang tidak percaya hantu mengisi form pendaftaran klub supranatural. Klub yang kemarin ditolaknya mentah-mentah.

Oh iya, mereka sedang di ruang klub supranatural dengan Doyoung, Jaehyun, Johnny, Hansol dan Yuta melihat Taeyong dengan wajah tak bisa dibaca mengisi setiap pertanyaan form itu. Setelah selesai, Taeyong menyerahkannya pada Ten yang duduk tepat di belakangnya. Ten mengambilnya tanpa berkata apa-apa meski wajahnya menyimpan banyak pertanyaan.

Taeyong menatap Yuta dengan tajam, "Puas?" desisnya. Yuta tersenyum lebar. Semua mata melihat ke arah mereka berdua.

"Woah Yuta benar-benar hebat. Hey Yuta apa yang kau lakukan dengan Taeyong sampai dia mau ikut klub kita?" Jaehyun berseru sembari meletakkan PSPnya di karpet.

"Apa maksudmu dengan 'lakukan dengan Taeyong' hah?" sentak Taeyong pelan sambil menatap Jaehyun tajam meskipun Jaehyun sudah kebal dengan hal itu.

"Ya... kau tahu... itu... dan itu... dan itu... kau tahu." Jaehyun menggerakkan alisnya sambil tersenyum jahil menyenggol siku Taeyong.

"Heeey memangnya itu penting? Yang penting kita sudah punya tujuh orang... tujuh!" kata Ten membuat angka 7 dengan jarinya. Setelah ini pekerjaan Hansol mengeprint proposal klub untuk diserahkan pada kepala sekolah.

Johnny menimpali, "Taeyong-ah... apa sebenarnya yang membuatmu mau ikut klub ini?" tanyanya sambil memakan roti isi kejunya.

Taeyong melirik Yuta sejenak yang malah melihat-lihat ruang klub, "Hm... gara-gara kue susu dengan almond." Katanya kemudian. Semua mata kecuali mata Yuta menatapnya heran. Taeyong berdecak kesal. "Ck! Yang penting kan aku sudah masuk klub ini." Desisnya.

Hansol mengangguk setuju, "Benar. Apa yang salah dengan hal itu?" tanyanya membuat semua anggota mengangguk.

Hansol melihat Yuta yang celingukan melihat ke segala arah seolah mencari sesuatu, "Yuta... kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Yuta melihat teman-temannya lalu tersenyum canggung, "A-Ah... tidak apa-apa." Katanya.

Hansol menatapnya curiga, "Katakan... apa kau melihat sesuatu?" tanyanya. Yuta bergerak tidak nyaman. Kakinya bergerak kecil dan jarinya bertaut, "U-Uh... aku mencari seseorang, ah bukan, sesuatu, uh..."

"Maksudmu hantu?" timpal Johnny.

Yuta mengangguk pelan, "Akhir-akhir ini dia selalu mengikutiku, tapi entah kenapa dari kemarin aku tidak melihatnya." Katanya kemudian mengundang banyak tanya dari teman-temannya.

Jaehyun menatapnya, "Kenapa kau mencarinya?"

"Aku takut terjadi sesuatu padanya. Maksudku kau tahu... takutnya dia mengganggu orang lain." Jawab Yuta masih dengan jari bertaut. Taeyong diam-diam memperhatikannya.

"Ngomong-ngomong siapa nama hantu yang mengikutimu?" tanya Hansol tiba-tiba membuat Yuta bimbang antaramemberitahu atau tidak..

Yuta memilih membuka mulut untuk menjawab, "Sehun. Oh Sehun..." katanya. Mata Doyoung membulat seketika lalu mengambil berkas-berkas dari dalam loker. Doyoung mengamati berkas-berkas itu satu per satu sambil bergumam kecil.

"Ketemu!" ucapnya mengambil sebuah berkas profil siswa. Yuta melihat profil itu kemudian ber-oo ria. Sehun hyung ternyata tampan juga, Yuta tertawa dalam hati. Tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Yuta melirik ke kanan melihat Sehun yang menatapnya dengan mata hitamnya.

Yuta tersenyum kecil.

"Oh Sehun ya... dia angkatan 2 tahun yang lalu." Johnny mengambil profil itu. Hansol mengecek data di laptopnya, "Meninggal akibat bunuh diri." Katanya pelan, "...gantung diri di ruang olahraga." Lanjutnya.

Doyoung bergidik ngeri, "Seram..." desisnya.

Ten menambahkan, "Plus... yang membuat lebih seram lagi, jasadnya sama sekali tidak ditemukan. CCTV dihancurkan langsung dari sirkuitnya. Jadi tidak terlihat bagaimana proses menghilangnya jasad." Katanya.

Jaehyun menimpali, "Lucunya lagi, CCTV di gedung olah raga sudah mati sejak awal kejadian dan kembali menyala setelah diperbaiki dan menampakkan Sehun yang sudah tergantung tidak bernyawa."

"Dia dibunuh." Kali ini Taeyong yang bicara mengundang empat lima pasang mata menatapnya.

Johnny mengangguk kecil, "Kami percaya dia memang dibunuh. Tapi yang kita butuhkan adalah bukti Taeyong-ah." Katanya. Taeyong mengangguk kecil.

Ten menghela nafas berat, "Yuta..." panggilnya membuat Yuta yang dari tadi bergumam sendiri menatapnya, "Nde?"

Ten menggeser posisinya berusaha mencari kenyamanan, "Kau masih baru di sini. Aku rasa kami harus menceritakan kenapa kami membuat klub supranatural ini." Ucapnya lalu melanjutkan, "Klub ini awalnya hanya Hansol dan Johnny yang penasaran dengan ruang guru yang tiba-tiba dipindah ke tempat yang sekarang. Kemudian ketika aku, Johnny dan Hansol tinggal di sekolah untuk beberapa saat kami mendengar beberapa suara aneh berasal dari ruang guru lama. Hal itu kami rasakan berkali-kali." Katanya.

Johnny menimpali, "Saat pertama kali kami berkumpul bersama Doyoung, dan Jaehyun di ruangan ini, waktu itu sudah petang, sekitar pukul 6, kami mendengar suara sesuatu diseret dan suara menghilang ke arah ruang guru yang lama."

"Hal itu terus terjadi setiap petang membuat suasana angker makin terasa. Sekolah ini sudah banyak memakan korban. Mereka semua meninggal setiap tanggal 4, semua kejadian berada di sekolah. Total korban meninggal karena kejadian aneh itu hingga kini ada 8 orang. Terakhir yang meninggal adalah guru bahasa Korea yang digantikan pak Byun. Oh Sehun adalah salah satu korbannya." Hansol berkata sambil membereskan berkas-berkas klub.

"Lucunya, mereka meninggal setelah beberapa hari masuk ke dalam ruang guru lama. Kejadian seperti itu menimbulkan mitos ruang terlarang yang terkenal hingga ke luar daerah tentang sekolah kita." Hansol menambahkan, "Konon, jika kita masuk ke ruangan itu, kita akan menjadi korban selanjutnya dari kutukan ruang terlarang." Lanjutnya.

Yuta mengangguk tanda mengerti, "Hum..." gumamnya pelan. "Sebenarnya memang ada yang terjadi di ruangan itu, ada banyak orang memenuhi ruangan itu. Maksudku... kau tahu penuh arwah." Lanjutnya.

Johnny menatapnya, "Benarkah? Kau pernah ke sana?"

Yuta mengangguk lagi, "Iya, dengan Sehun hyung." Jawabnya membuat teman-temannya begidik ngeri.

"M-Maksudmu... Sehun hyung ada di sini sekarang?" Ten bertanya hati-hati, tangannya sudah memegang knob pintu klub.

Jemari lentik Yuta menunjuk ke samping kanannya, "Ada. Di sini." Jawaban itu membuat teman-temannya merinding. Mereka bergeser menjauh dari Yuta. Yuta meringis kecil. Suara pintu diketuk membuat Sehun lenyap seketika.

Tok tok tok...

Johnny terperanjat, "Huwaaa..." katanya mengelus dada.

Ten menggumam, "Sialan siapa lagi yang ke sini sore-sore begini." Katanya lalu berdiri membuka pintu klub hanya untuk disambut oleh Pak Park yang tersenyum.

"Klub supranatural? Sudah saatnya jam sekolah tutup sebaiknya kalian segera pulang." Ucapnya sambil menenteng tas kerjanya. Semua orang tahu Pak Park adalah guru paling tertib seantero sekolah. Wajar jika dia baru selesai bekerja jam segini.

Ten tersenyum canggung, "A-Ah... baik Pak. Kami juga sudah selesai kok." Ucapnya. Pak Park mengintip kecil ke dalam.

"Taeyong-ssi aku tidak tahu kau masuk klub ini?" katanya meihat Taeyong yang bergerak tidak nyaman, tersenyum canggung.

"Baiklah. Jangan sampai terlalu malam di sini ya. Kerjakan PR kalian jangan lupa." Katanya lalu tersenyum sambil berlalu. Ten menutup pintu klub sambil mendesah berat.

"Aku tidak menyangka dia tahu kita belum pulang." Katanya, semua mengangguk setuju.

Yuta membuka mulutnya setelah beberapa detik, "Pak Park itu... kakinya agak bermasalah ya?" tanyanya pelan.

Taeyong mengangguk sambil menjawab, "Jatuh dari tangga di lantai dua." Jawabnya. Yuta mengangguk-angguk kecil.

Jam menujukkan angka 7 tepat. Suasana sekolah menjadi lebih sepi meskipun ada kelas tambahan di gedung sebelah. Namun karena lokasi ruangan klub yang ditempatkan agak ke belakang membuat suasana ramai itu tidak sampai ke sana. Di tengah keheningan yang tak berujung tiba-tiba dari luar terdengar langkah kaki.

Telinga Yuta menangkap beberapa suara bisikan dari arah kirinya. Yuta mengedarkan pandangan tapi sepertinya si pelaku bisikan sama sekali tidak mau diketahui keberadaannya. Ten, Doyoung, Jaehyun, Johnny, Hansol maupun Taeyong terlihat biasa saja. Apa mereka tidak mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat itu? Yuta bergerak tidak nyaman. Bibirnya bergumam kecil mengundang ketertarikan Jaehyun.

"Yuta... kau bilang sesuatu?" tanyanya.

Yuta mengangkat wajahnya melihat Jaehyun, "A-Ada orang di luar." Jawabnya. Teman-temannya menatapnya aneh.

"Maksudmu?" tanya Taeyong.

Tiba-tiba terdengar suara gemericik air. Sepertinya suara yang ini dapat di dengar oleh masing-masing dari mereka. Mata teman-temannya bergerak dari satu sudut ke sudut yang lain mencari di mana sebenarnya sumber suara. Aneh... ruang klub sama sekali tidak dekat dengan kamar mandi maupun sumber air lainnya. Lantas dari mana suara ini berasal?

Hansol berdiri menyalakan lampu klub kemudian membuka knob pintu klub dengan perlahan. Enam temannya melihat ke arahnya dengan was-was. Menarik nafas panjang seolah siap dengan apa yang akan dilihatnya, Hansol membuka knob pintu dengan perlahan. Suara derit pintu menambah ketegangan.

Setelah pintu dibuka...

Hansol tidak menemukan siapapun di sana. Masih dengan memegang knob pintu, Hansol melihat kanan kirinya. Lorong koridor terasa sangat mencekam karena lampu yang belum dinyalakan. Hansol memutuskan untuk kembali masuk dan menutup pintu klubnya.

"Tidak ada siapapun." Katanya membuat desahan lega keluar dari masing-masing bibir temannya.

Kecuali satu orang.

Dengan bergetar, jemari Yuta menunjuk ke arah jendela belakang klub yang mengarah langsung ke jalan raya. Semua mata menatap arah yang sama hanya untuk menemukan sesosok makhluk dengan rambut lusuh serta wajah hancur menatap mereka dengan satu mata besarnya. Rambut dan pakaiannya basah seolah dia baru keluar dari laut. Makhluk itu seolah mengintip mereka... padahal semua ruang klub berada di lantai tiga.

"AAAA!" Ten dan Doyoung adalah yang pertama kali berteriak membuat teman mereka yang lain lantas bergegas mengambil segala peralatan mereka. Mengambil tas lalu kunci ruang klub, Johnny menyuruh teman-temannya untuk segera keluar. Lagi-lagi... kecuali Yuta yang masih beradu tatap dengan makhluk itu. Johnny melihat Yuta, bibirnya bergetar, kakinya berusaha berdiri, tangannya berusaha menopang tubuhnya untuk segera bergerak, tapi matanya masih terkunci dengan mata makhluk yang kini tersenyum itu.

"Yuta.. ayo. Cepat!" Johnny menarik lengan Yuta hingga ia berdiri. Johnny cepat-cepat meraih tas Yuta yang tergeletak di lantai sambil menyeret si pemilik. Yuta masih melihat ke arah yang sama dengan bibir terbuka. Kepanikan... kecemasan... kesedihan terpancar jelas di raut wajahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: aloha teman-temaannn XD /gelindingan/ baca review kalian asdfghjkl bikin greget makin pengen cepet-cepet nulis lanjutannya lagi T^T you guys are sooooo kind i could die /? /ngekngok/ all of your comments are meant a lot for me... thank you~ T^T buat yang guest sekali pun, aku ngehargai banget review kalian uhuks/? /peluk cium/ ahhh terharu asli. /ngelap ingus/? anyway, this chapter is shorter, i know, don't kill me TwT /sembunyi di ketek hansol/? mianhae untuk yang makin tambah bingung atau ngerasa fic ini makin ga jelas /emang/ TwT but don't worry i've thought about it too dan udah ada solusi dari masing-masing masalah just don't kill me yet TwT /gelindingan/ dan maaf lagi kalo nggak serem XD i'm suck with that. just wait coz i'm working on it XD i'm sorry for not replying your reviews instantly because my phone is suck TwT BUT i read them 3 anyway untuk beberapa hari ke depan kayaknya masih harus sabar nunggu daku update /tugas perlahan membunuh/? TwT but i'll try to update it as soon as possible. udah ah kebanyakan ngomong X'D thanks for reading and reviewing this story, see you in next chapter~ kisses and hugs~ /lambai lambai/ /peluk cium/ :* 3

-Yuka