EMPAT

Yuka

.

.

HARI berikutnya...

Tidak ada yang membicarakan kejadian malam itu. Taeyong, Doyoung, Jaehyun, Ten maupun Yuta terdiam sepanjang kelas. Tidak ada yang membuka mulut. Terlalu takut... terlalu terkejut.

"Kim Doyoung-ssi..." panggil Pak Choi pada Doyoung yang melamun. Yang dipanggil terkejut.

"N-Nde songsaenim?"

"Hari ini tolong bersihkan ruang olahraga sepulang sekolah, dengan Jaehyun-ssi dan Yuta-ssi." Kata Pak Choi merapikan bukunya. Teman-teman sekelasnya menahan tawa.

"H-Ha?" Jaehyun tersadar dari lamunannya.

"Saya tidak menerima penolakan Jaehyun-ssi." Lalu pak Choi keluar setelah memberi salam membuat teman-teman mereka berhamburan keluar sambil membawa tas.

Setelah kelas kosong, Doyoung mendesah berat sambil merengek, "Aaaah kenapa harus aku?"

Jaehyun memukul kepala Doyoung pelan, "Aku juga. Dan aku heran kenapa Taeyong dan Ten tidak ditangkap." Katanya melirik Ten yang menjulurkan lidah. Taeyong menyandarkan diri di kursi, "Salah sendiri melamun." Katanya. Padahal dari tadi dia melamun juga.

Yuta menatap kosong ke mejanya membuat teman-temannya takut. "Ya. Yuta-kun..." panggil Ten. Doyoung melirik Ten sekilas sebelum memanggil Yuta lagi tanpa mendapat jawaban.

"Yuta." Panggil Taeyong sambil menjepit pipi Yuta dengan jarinya.

"H-Huh? Aku tidak melamun!" kata Yuta tiba-tiba melihat Taeyong, lalu Jaehyun, Doyoung dan Ten bergantian.

Doyoung mendesah berat, "Hhh... apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

Ten menimpali, "Semua terkejut malam itu sungguh. Tapi.. melihat 'mereka' secara langsung sungguh membuatku takut. Kau hebat sekali bisa tahan dengan itu semua." Kata Ten tersenyum lebar ke arah Yuta yang masih setengah sadar.

"Yah... begitulah." Katanya.

Mereka merapikan buku dan tas sebelum keluar dari kelas menuju tempat hukuman. Taeyong menatap Yuta yang masih membereskan tasnya, menunggu pemuda Jepang itu selesai. Doyoung, Jaehyun dan Ten sudah keluar duluan meninggalkan Yuta dan Taeyong beberapa langkah di belakang mereka. Taeyong melirik Yuta sekilas.

"Yuta." Panggilnya. Reflek, Yuta menoleh, "Nde?"

Taeyong menarik nafas, "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya menatap mata Yuta yang sedikit bergetar. Ah... mata itu lagi.

Yuta terhenti sejenak membuat Taeyong turut berhenti, "T-Taeyong-ah..." panggilnya. Dengan sabar Taeyong menunggu lanjutannya, "Makhluk yang kemarin itu... mengikuti kita." Katanya membuat Taeyong menatapnya dengan mata melebar.

.

.

.

Doyoung mengelap keringat yang jatuh dari pelipisnya. Menyapu ruang olah raga adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah dia kerjakan sepanjang hidupnya. Lapangan basket dan voli yang sangat besar ini hanya dibersihkan oleh satu orang setiap harinya, heran bagaimana bapak tukang bersih-bersih bisa tahan dengan pekerjaan melelahkan ini?

Sesaat pipinya yang memanas merasakan sesuatu yang dingin menempel, sebotol air dingin. Jaehyun menatapnya dari sudut matanya, "Minum." Suruhnya. Doyoung memajukan bibirnya sambil menerima minuman itu. Mata bulatnya melihat Ten terduduk di lantai yang baru disapu oleh Jaehyun sambil membawa beberapa makanan kecil, Yuta dan Taeyong dibelakangnya membawa kain pel dan beberapa botol minuman.

Yuta segera menuntaskan pekerjaan mengepelnya dibantu Taeyong, Jaehyun dan Ten sedangkan Doyoung sibuk merapikan loker dan rak sepatu. Anak-anak klubbasket benar-benar menjijikkan! Rutuknya sesekali.

"Haaahhh aku lelaaahh!" Jaehyun merebahkan diri ditengah lapangan basket bersamaan dengan robohnya Ten, Taeyong, dan Doyoung, Yuta masih berdiri malah mengamati langit-langit gedung olah raga.

"Yutaaa-kuunn~ apa kau tidak lelah? Ayolah istirahaaat~" kata Ten lalu merebahkan diri, keringat deras mengucur dari dahinya.

Yuta malah menjawab, "Sehun Hyung... meninggal di sini." Tunjuknya pada sebuah rangka besi di atap pojok ruangan. Ada beberapa kursi tertata rapi di sana. Semua mata menatapnya dengan horor.

"Ya... Yuta. Berhentilah berbicara tentang 'mereka' setiap saat." Kata Taeyong mengernyit. Diam-diam hatinya menciut mendengar hal itu.

Yuta menggaruk tengkuknya, "Maaf maaf..." katanya lalu turut duduk.

Suara telepon Ten menghancurkan keheningan. Dengan cekatan Ten mengangkat telepon masih dengan berbaring. Yuta mendengar percakapan itu. Dari Johnny...

Setelah menutup telepon Ten berkata, "Johnny dan Hansol akan ke sini." Semua mengangguk.

Tidak sampai 15 menit pintu ruang olah raga terbuka menampakkan Johnny dan Hansol yang datang membawa beberapa makanan. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore tepat.

"Hey kalian... ayo ke ruang klub." Ajak Hansol membuat lima orang yang tengah terduduk itu berdiri.

Sesaat setelah mereka keluar dari ruangan itu, Johnny berhenti menatap ruangan yang berada tepat di depannya. Teman-temannya turut berhenti sejenak sebelum menyadari apa yang ditatap oleh Johnny, ruang guru.

Menelan ludah, Ten berkata, "Johnny... jangan bilang..."

"Ayo." Kata Jaehyun tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya, "Kita harus membuktikan apa kutukan itu benar-benar ada... atau tidak." Katanya lagi.

Doyoung menatapnya, "K-Kalian yakin?" desisnya.

"Aku belum mau mati.." bisik Ten memejamkan matanya.

"Tujuan klub ini adalah membuktikan adanya 'sesuatu' di dalam ruangan sialan itu." Hansol akhirnya bicara setelah mengambil nafas panjang.

Taeyong tidak berkomentar, sibuk memerhatikan Yuta yang menatap ruangan itu dengan gemetar. Taeyong mundur selangkah, menyamakan posisi dengan Yuta supaya bisa mendengarkan gumamannya.

"Jangan masuk.. jangan masuk dulu... berhenti..." gumaman Yuta nyaris tak terdengar tapi bibirnya terus menggumamkan hal yang sama.

"Kajja." Ajakan Johnny membuat Yuta berkata, "Jangan!" katanya pelan.

Semua melihat ke arahnya, "Wae?" tanya Jaehyun.

"Jangan dulu. Tolong jangan masuk dulu." Katanya dengan pasti. Taeyong berpikir sejenak, Yuta pasti melihat atau mendengar sesuatu.

"Ruangan itu, jangan dimasuki dulu. Ini sudah malam... mereka pasti marah kalau kita masuk ke dalam." Argunya. Hansol mendesah, "Yuta... kalau kau takut, kita semua ada di sini juga." Katanya berusaha menenangkan.

"Iya Yuta, ayo..." Jaehyun dan Johnny berjalan duluan diikuti Ten, dan Doyoung yang turut berjalan ke sana dengan langkah berat.

Yuta menatap punggung teman-temannya dengan mata bergetar. Tiba-tiba tangannya digenggam oleh Taeyong yang menatap ke arah ruangan itu. Mereka berjalan menuju teman-teman mereka yang sudah jauh di depan.

Johnny mengernyit saat menyadari pintu di kunci, "Sial bagaimana kita bisa masuk?" rutuknya memutar-mutar knob pintu yang terkunci itu.

"Dobrak?" tanya Jaehyun membuat Taeyong mengernyit, "Jangan bodoh. Pasti besok ketahuan." Ucapnya.

Semua mengangguk setuju. Tepat saat itu.. kilau sinar senter mengacaukan pandangan mereka. Takut ketahuan, anak-anak SMA itu berlarian kecil ke tempat terdekat dan memutuskan untuk bersembunyi di lorong kecil sebelah gedung olah raga. Menggunakan kardus-kardus bekas sebagai penutup, mereka bersembunyi. Sinar matahari menghilang sepenuhnya membuat suasana semakin mencekam. Sial... apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Johnny, yang duduk paling depan melihat siluet seseorang yang sedang membuka ruang guru dengan membawa senter. Siapa... siapa itu? Hansol turut mengamati sambil berusaha merekam momen itu dengan kamera Hpnya, berusaha sekuat mungkin menahan hasrat menggunakan flash.

Dada mereka bergemuruh, antara takut akan ketahuan dan senang karena menemukan sedikit petunjuk. Setelah beberapa menit, siluet itu menghilang di kembali ke asalnya yang entah darimana. Tujuh pasang bibir mendesah lega nyaris bersamaan. Gemuruh di dada mereka nyaris tak terasa. Mengambil inisiatif, Johnny keluar pertama sebelum akhirnya semua dari mereka keluar dari sarang persenmbunyiannya.

"Itu tadi mengejutkan..." desis Doyoung pelan.

Mereka memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Masalah malam ini... dibahas esok hari.

.

.

.

Membuka pintu minimarket, Ten keluar dengan beberapa bungkus ramyun dan beberapa minuman. Doyoung menunggu di luar dengan membawa tas Ten dan tasnya sendiri. Setelah Ten keluar, mereka berjalan kembali untuk pulang ke apartemen yang mereka sewa berdua. Setelah beberapa langkah, Doyoung merasakan sesuatu yang tidak enak.

Dia menoleh ke belakang.

Tidak ada siapapun... tidak ada apapun yang mengganggu.

Ten menatapnya, "Ada apa?" tanyanya.

Doyoung mengusap tengkuknya sambil bergumam, "Entahlah hanya perasaanku saja atau kita sedang diikuti?"

Ten mengangkan bahu, "Stalker mungkin~" katanya asal, "Kajja." Katanya lalu melangkah lebih cepat.

Sesampainya di apartemen, Ten langsung membuka pintu dan meletakkan belajaannya di meja dapur. Telinganya menangkap sesuatu tepat setelah ia menyalakan kompor untuk memasak air. Suara gemericik air.

Ten mengecek kran air yang tadi ia gunakan. Sudah tertutup. Apa Doyoung mandi? Ya, bisa saja dia mandi tanpa bilang-bilang. Ten mengangkat bahu memutuskan untuk tidak memikirkan hal yang bukan-bukan. Dia mengupas sosis dan memotong-motongnya untuk kemudian dimasukkan bersama ramyun ke air yang sudah mendidih. Ten menunggu ramyun matang sambil duduk dan mengecek handphonenya.

Sepuluh menit, Ten menyiapkan mangkuk dan mematikan kompor, mengangkat panci berisi ramyun lalu berteriak memanggil Doyoung untuk cepat keluar dari kamar mandi. Kamar mandi hanya terletak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ten memutuskan untuk menyusul Doyoung ke kamar mandi tapi langkahnya terhenti ketika...

"Ada apa Ten? Aku sedang ganti baju tadi."

Ten menatap Doyoung dengan mata melebar. Doyoung berdiri di hadapannya dengan celana pendek dan kaos oblong. Ten menelan ludah sebelum berkata, "Kau.. daritadi di kamar?"

Doyoung mengangguk, "Memangnya di mana lagi? Oh iya kau ini kalau habis mandi kran kamar mandinya di matikan. Uang sewa kita bisa naik." Kata Doyoung lalu melihat ke panci ramyun yang masih panas dan pakaian Ten yang masih seperti semula.

Doyoung menatapnya, "K-Kau..."

Tepat saat itu, suara gemericik air bertambah keras mengagetkan dua lelaki beda negara itu. Mereka terperanjat lalu berkumpul menjadi satu. Doyoung menggenggam tangan Ten erat, sangat erat, Ten pun melakukan hal yang sama. Perlahan, Ten memaksa kakinya melangkah ke kamar mandi. Doyoung menahan Ten, "A-Andwae..." desisnya pelan.

Ten menggeleng pelan, "Ayo kita lihat." Katanya lalu melangkah perlahan menuju kamar mandi yang masih bersuara. Ten memegang knob pintu kamar mandi dengan dada bergemuruh. Tangannya gemetar siap menerima apa yang akan mereka lihat setelah ini. Dengan mata terpejam erat, Ten membuka pintu kamar mandi dan mendapati...

Kran air tertutup seolah-olah belum dinyalakan. Namun, yang membuat Ten dan Doyoung gemetar adalah bak, dan lantai kamar mandi yang dipenuhi air. Kemudian dengan cepat Doyoung mengambil ponselnya dan menekan nomor tujuan.

.

.

.

Jaehyun masih terkaget-kaget melihatnya. Sepulang sekolah ia langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Orang tuanya pergi dinas ke luar kota hingga lusa membuat Jaehyun yakin, sangat yakin kalau dia sendirian di rumah. Namun yang dia dapati di kamarnya membuatnya begidik ngeri.

Ia dikagetkan dengan dering teleponnya. Jaehyun menatap caller id sebelum mengangkatnya, "Hallo..."

"J-Jaehyun-ah... bisa kami ke rumahmu sekarang? K-kami ketakutan..." suara Doyoung diseberang terdengar begitu gemetar membuat Jaehyun merasakan hal yang sama.

"Y-Ya... datanglah..." katanya, "...secepat mungkin." Katanya setelah melirik jam yang sudah menunjuk pukul 8 malam.

Jaehyun menutup telepon sembari melihat lagi ke jejak kaki basah yang tercetak sempurna di karpet berbulunya.

.

.

.

Yuta meniup nasinya yang masih panas. Dia duduk di balkon apartemennya ditemani Sehun yang berada tepat di depannya. Yuta menatap udara kosong di depannya dengan helaan nafas kecil, "Ada apa hyung? Tidak biasanya kau mengikutiku sampai ke rumah."

Yuta mengangguk-angguk, "Hmm... aku yakin kau tahu kejadian kemarin malam kan?" kata Yuta menunjuk udara kosong di depannya dengan sumpit. Merasa mendapat jawaban Yuta mencibir, "Huh mana bisa aku membantumu Hyung... kau saja tidak memberitahukan padaku siapa pembunuhmu." Katanya lalu memajukan bibir bawahnya sambil mengaduk-aduk nasi telurnya.

Alis Yuta terangkat, "Dia? Dia siapa?" tanyanya memakan telur dadarnya lagi. Kepalanya mengangguk mengerti, "Pembunuhmu? Makannya katakan padaku aku akan membantumu." Kata Yuta tak sabar.

"Apa?" Yuta memajukan tubuhnya sambil meletakkan mangkuk nasinya ke meja. Yuta mengulangi perkataan Sehun, "Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati." Gumamnya.

Yuta duduk kembali sambil mengunyah nasinya, "Apa kita main tebak-tebakan sekarang?" tanyanya.

Yuta tersenyum kecil, "Arraseo arraseo... orang mati membawa beban." Ulangnya lagi. Yuta mengernyit, "Aku sebenarnya tidak mengerti Hyung, tapi aku akan berusaha mengerti." Ucapnya lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya dan masuk ke dalam.

Saat hendak mencuci piring, Yuta terhenti. "A-Ahjumma..." panggilnya melihat sosok perempuan paruh baya berdiri di sampingnya.

Yuta mencuci tangannya sebelum menghadap sepenuhnya ke udara kosong di depannya, "Apa kau membutuhkanku lagi?"

Jawaban yang diterimanya membuat Yuta langsung mengangguk dan mengambil hoodie birunya sebelum berlari ke luar apartemen.

.

.

.

Taeyong keluar mengambil handuk dan pakaian ganti. Setelah mengambil yang ia butuhkan, Taeyong kembali masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk mendapati kran bath tubnya menyala kembali. Ia yakin ia sudah mematikannya tadi. Atau mungkin hanya perasaannya?

Tidak ambil pusing, Taeyong merendamkan diri ke dalam bath tub. Mandi air hangat setelah semua kejadian aneh yang ia alami akhir-akhir ini benar-benar membuatnya rileks. Taeyong mendesah lega sembari menutup matanya, merendamkan diri makin dalam ke air hangatnya.

Beberapa saat kemudian Taeyong mendengar gemericik air dari atas. Taeyong membuka matanya untuk mendapati showernya menyala. Tidak mungkin... Taeyong bergegas mendudukkan diri menatap ke arah showernya yang menyala semakin deras.

"A-Apa-apaan?" desisnya pelan sebelum mendengar suara kran di westafel menyala. Taeyong menarik nafas dengan gemetar. Westafel ada di luar... lantas siapa yang menyalakannya padahal dia tinggal sendiri?

Taeyong dikejutkan dengan shower yang tiba-tiba berhenti dan air hangat di bawahnya perlahan-lahan mendingin. Kemudian shower kembali menyala dan air di bawahnya semakin mendingin.

Taeyong nyaris terkena panick attack jika bukan karena mendengar namanya disebut bersamaan dengan suara ketukan keras di pintunya. Taeyong segera bergegas mengambil celana pendeknya dan langsung menghambur keluar kamar mandi menuju pintu depan.

Pintu depan terbuka menampakkan orang yang sangat dia kenal sekarang. Ia nyaris memeluk Yuta saat itu juga. Yuta terlihat panik dengan rambut coklatnya yang acak-acakan dan hoodie biru yang kebesaran. Taeyong mengulum senyumnya, sejenak terlupa akan kejadian menyeramkan yang barusan ia hadapi.

"Taeyong-ah... kau tidak apa-apa?" pertanyaan Yuta membuyarkan lamunan Taeyong. Taeyong mengangguk tak mampu mengucapkan satu kata pun.

Yuta melihat ke sekelilingnya, "Taeyong-ah, cepat pakai baju ayo kita pergi dari sini sekarang!" ajakan Yuta membuat Taeyong sadar dari tadi dia hanya memakai celana pendek merah marun favoritnya. Menunduk malu, Taeyong cepat-cepat mengambil kaos dan jaketnya, handphone serta dompet dan kunci apartemen. Taeyong mengunci apartemen setelah mereka berada di luar.

"Yuta... apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya membuat Yuta yang berjalan di sampingnya menatapnya seolah-olah telur keluar dari mulut ayam.

"Hhh..." desahnya sebelum menjawab, "Ibumu bicara padaku untuk cepat-cepat ke apartemenmu. Katanya ada bahaya meneror kita akhir-akhir ini. Makannya saat aku sampai di apartemenmu aku melihat makhluk waktu itu mengintipmu lewat jendela kamar mandimu. Aku langsung menggedor pintu kan?" kata Yuta. Langkah kaki mereka semakin cepat.

Taeyong mengangguk kecil, merinding. Ponsel Taeyong berbunyi membuat langkah dua laki-laki itu terhenti seketika. Dari Ten.

"Taeyong-ah... datanglah ke rumah Jaehyun sekarang. Kami semua di sini. Cepat!" tanpa menunggu jawaban Taeyong, telepon dimatikan.

Taeyong melirik Yuta sejenak sebelum mengatakan, "Ayo ke rumah Jaehyun." Ajaknya menggenggam tangan Yuta yang sebagian jarinya terbungkus hoodie. Langkah mereka terasa lebih pasti sejak saat itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Hello teman-teman XD /muncul/? selamat berjumpa lagi setelah beberapa hari nggak ketemu (?) /lap ingus/ :'3 ini chapter 4 nya XD selamat membacaaa(?) oh iya, buat kalian yang makin bingung sama ceritanya I'm so sorry T^T feel free to ask anything, guys~ itu juga sangat membantu biar aku nulisnya juga semakin enak dibaca XD uuummmm oh iya, like I said before, I like a slow build relationship jadi maaf kalau Taeyu moment nya sangat sedikit di setiap chapternya TT^TT jadi gaenak (?) umm juga maaf kalau update-annya sangat lama yah~ daku hanyalah seonggok upil kampus kere yang gapunya apa-apa(?) dan tenggelam dalam lautan tugas yang tak berujung :'( /heleh/ teman-teman~ aku ngehargai banget review kalian yang sangat baik T^T well, I'm so sorry for not replying your reviews instantly but I really... really love to read them asdfghjkl XD btw, this is a little bit longer than before, I hope you love it XD oh iya next chapter sepertinya agak lama, maafkan T^T karena yah... sudah mulai sibuk, but i'll try to update it as soon as possible, don't worry i'm working on it, XD cukup deh cerewet amat Yuka ini XD thanks for reading, reviewing, and loving this absurd fic, hope you guys read this fic as loving as me writing it, and don't feel dissapointed by this fic or by me XD see you next chapter! kisses and hugs~ :*