LIMA

Yuka

.

.

SUDAH ada Johnny, Hansol, Ten, Doyoung dan Jaehyun saat Yuta dan Taeyong sampai malam itu. Mereka semua duduk di ruang tamu Jaehyun yang cukup besar dengan semua lampu di penjuru rumah dinyalakan seterang mungkin.

Doyoung duduk di ujung sofa sambil menekuk lututnya. Johnny dan Hansol terdiam sedangkan Ten dan Jaehyun menyiapkan minuman di dapur. Taeyong berdehem mencairkan suasana.

"Ehm... apa dia mengunjungi kalian juga?" tanyanya membuat Doyoung makin meringkuk.

"Dia mengunjungi kita semua." Kata Hansol menunjukkan kamera dan beberapa berkas klubnya basah. "Barang-barangku yang lain juga penuh air." Ucapnya lagi. Johnny menghela nafas.

"Ada banyak cap tangan basah yang muncul tiba-tiba saat aku pulang ke rumah. Kamar ku penuh dengan cap tangan. Setelah satu mengering, muncul satu lagi dan seterusnya." Jelasnya.

"Itu menyeramkan." Kata Ten datang membawa tujuh gelas cola dan beberapa kue kecil. Meletakkannya di meja, Ten lalu mendudukkan diri tepat di samping Johnny yang memijit keningnya pusing.

Taeyong mengangguk setuju, "Apa yang makhluk itu inginkan dari kita?" gumamnya pelan.

"Entahlah..." desah Doyoung yang masih meringkuk.

Jaehyun keluar dengan celemek dan spatula di tangannya, "Kalian menginaplah di sini. Besok hari minggu, kita bisa sedikit tenang." Ucapnya lalu melanjutkan, "Aku buatkan makan malam dulu."

Doyoung berdiri dari tempatnya menghampiri Jaehyun, "Aku akan membantu." Ucapnya lalu masuk ke dapur.

"Kami akan siapkan bantal dan kasur." Ucap Johnny diikuti Ten di belakangnya. Hansol mengangguk, "Akan ku ambil selimut, kalian berdua, tolong rapikan ruang tengah supaya muat untuk kita ya..." suruhnya pada Taeyong dan Yuta yang langsung mengangguk setuju.

Setelah masing-masing orang menghilang ke tempat tugasnya, Taeyong berdiri sambil berkata, "Kajja."

Mereka saling bantu mendorong sofa dan meja ke pinggir ruangan membuat ruang tengah itu semakin besar. Taeyong menyuruh Yuta ke dapur mengambil sapu sedangkan dia merapikan karpet. Yuta kembali dengan sapu ditangan dan raut wajah yang tidak bisa digambarkan.

"Mwo?" tanya Taeyong melihat Yuta menggaruk tengkuknya.

Tangan putih Yuta melambai ke arah Taeyong menyuruhnya mendekat. Taeyong mengernyit kecil tapi tak urung juga mendekatkan telinganya. Hembusan nafas Yuta sedikit membuat Taeyong merinding. Pelan, Taeyong mendengar bisikan.

"Apa Jaehyun dan Doyoung menjalin hubungan?" bisiknya.

Taeyong merinding kecil, "Aku tidak tahu." Bisiknya juga. Dia mendengar Yuta mendesah kecil.

Taeyong sedikit kecewa saat Yuta menjauhkan wajahnya, "Padahal tadi aku melihat Jaehyun mencium pipi Doyoung sambil tertawa." Gumamnya. Taeyong mengernyit kecil, ohh sekarang mereka berdua berani main rahasia-rahasiaan?

Yuta menyapu lantai sedangkan Taeyong membereskan karpet dan meletakkannya di atas sofa di pojok ruangan. Taeyong melirik jam, sudah pukul 10 malam lebih. Ten dan Johnny tak kunjung kembali. Yah, wajar sih... namanya juga pacar. Taeyong menggelengkan kepala tak habis pikir. Lihat saja Hansol yang sedang berbaring di sofa sambil sibuk menghubungi Taeil.

Taeyong melirik Yuta yang berjalan menuju pintu keluar untuk membuang debu. Taeyong menghampirinya, "Yuta." Panggilnya.

Yuta menoleh, "Nde?"

Taeyong melirik kiri kanan, "Apa kau melihat 'mereka' sekarang?" tanyanya pelan. Yuta melihat sekelilingnya, "Ada banyak, tapi tidak apa-apa, mereka hanya lewat." Katanya lalu tersenyum ke jalanan kosong di depannya. Taeyong menatapnya risih.

"Hentikan." Desisnya.

Yuta menatapnya, "Apanya?"

"Kau setiap hari tidak capek berinteraksi dengan mereka?"

Yuta mengangkat alis, bibirnya bergerak-gerak tak nyaman, "Yah mau bagaimana lagi." Katanya.

Taeyong menatapnya. Dari matanya, Taeyong seperti melihat Yuta... tapi juga tidak sepenuhnya seperti Yuta. Taeyong mengamati rambutnya, keningnya, matanya... sejak kapan mata itu terlihat berbeda? Hidungnya yang lucu dan bibirnya... kenapa sempurna sekali? Tanpa sadar Taeyong mendekatkan diri, menatap Yuta yang masih memperhatikan jalanan kosong di depannya. Memiringkan wajahnya, Taeyong berbisik, "Yuta..." dan tolehan wajah Yuta menjadi jawabannya. Sesaat mereka beradu tatap.

"TAEYOOONG-SSIIII~~~ YUTA-KUUNN~ Makanan siap!" teriakan Ten membuyarkan adegan adu tatap itu. Yuta menoleh ke lain arah sambil menjawab enteng, "Baiklaahh!" katanya lalu menatap Taeyong yang menunduk menyembunyikan wajahnya, "Kajja Taeyong-ah!" katanya lagi membuat Taeyong merutuk dalam hati.

Ten sialan!

.

.

.

Mereka duduk melingkari sebuah meja kecil di tengah ruangan. Bantal, guling, selimut serta kasur tertata rapi di bawah mereka. Jaehyun meletakkan sepanci besar jjampong di tengah meja sambil melepas sarung tangannya.

"Hanya ada bahan-bahan itu di kulkas." Jelasnya lalu duduk di antara Doyoung dan Johnny yang duduk di samping Ten.

Hansol masih mengetik pesan sambil berkomentar, "Tidak apa-apa." Katanya pelan tapi matanya masih fokus ke gadgetnya.

"Hansol-ah letakkan handphone-mu... ayo makan." Ten berseru sambil mengetuk dahi Hansol pelan.

Setelah mereka mengucap syukur satu per satu mengambil jjampong dalam mangkuk. Yuta menatap ke kiri, melihat sesuatu lalu mengambil jjampongnya.

"Jaehyun-ah, boleh aku pinjam mangkuk satu lagi?" pinta Yuta menatap Jaehyun yang sedang mengunyah mienya. Jaehyun mengangguk sambil menunjuk ke arah dapur.

Yuta berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju dapur. Mengambil mangkuk, Yuta kembali ke tempatnya sambil menuangkan satu porsi jjampong lagi dan meletakkannya di sisi kiri. Yuta tersenyum kecil.

"Yuta-kun... aku tidak tahu kau bisa makan sebegitu banyaknya?" Ten bersuara setelah menelan mienya.

Yuta menggeleng pelan sambil meringis, "Ahjumma yang punya toko kelontong di seberang sangat suka jjampong." Jelasnya.

Jaehyun berhenti makan, menatap Yuta dengan mie masih dimulutnya. Semua melirik Jaehyun lalu melirik Yuta yang menatap mereka dengan wajah polosnya. Ten bergeser mendekati Johnny sedangkan Doyoung makin menempel pada Jaehyun.

"Yuta... ahjumma yang di situ meninggal kemarin." Bisik Jaehyun setelah berhasil mengontrol wajahnya.

Yuta mengangguk kecil lalu menyeruput kuah jjampongnya, "Iya." Katanya.

Johnny meletakkan sumpit, "Omong-omong Yuta... kemarin itu, waktu kita mau masuk ke dalam ruang guru, kenapa kau begitu takut?" tanyanya pada Yuta yang berhenti mengunyah.

Kaki Yuta bergerak tidak nyaman mengundang ketertarikan Taeyong untuk mengamatinya, "Y-Yah... itu..." Yuta menggaruk tengkuk.

Semua mata menatap padanya membuat Yuta sedikit tak nyaman, "Ada seorang pak tua yang membawa kapak merah besar. Tubuhnya terluka parah..." Yuta menyentuh lengan dan badannya, "...seperti habis dicabik-cabik. Dia punya luka menganga di perutnya." Yuta menunjuk perutnya sendiri sambil menjelaskan.

Doyoung memajukan tubuhnya menatap Yuta dengan dua bola mata besarnya, "Apa pak tua itu memakai baju kaos abu-abu dan celana jeans lusuh?" tanyanya.

Yuta mengangguk, "Ya.. dia bilang padaku 'jangan masuk.' Berkali-kali." Lanjutnya.

Doyoung menatap Ten sekilas. Ten mengangguk, "Pak tua itu adalah penjaga sekolah dan tukang kebun yang lama. Dia meninggal diduga karena kecelakaan tunggal, tanpa sengaja menjatuhkan kapak diperutnya sendiri." Jelas Ten pada Yuta yang mengernyit kecil.

"Lukanya tidak hanya diperut." Jelas Yuta sambil menyentuh sepanjang lengannya. "Banyak luka goresan di seluruh tubuhnya." Lanjutnya.

Semua mata tertuju padanya, "Dia dianiaya?" tanya Hansol meletakkan ponselnya, merasa tertarik.

Yuta mengangguk, "Sepertinya dia dibunuh, maksudku... luka-lukanya benar-benar terlihat disengaja."

Johnny menggaruk kepalanya, "Kalian tahu hal yang paling menyebalkan adalah kita tahu mereka yang mati dibunuh tapi tidak bisa membuktikannya karena jasadnya menghilang." Katanya dengan nada frustasi.

Doyoung mengangguk setuju, "CCTV tidak selalu membantu. Meski kita tahu bapak tukang kebun itu meninggal lewat CCTV, tapi keberadaan jasadnya yang menghilang benar-benar jadi misteri. Tidak ada sidik jari atau apapun." Jelasnya.

Jaehyun mengangguk, "Polisi pasti tidak bisa membuktikan apa-apa kalau begini." Desahnya berat.

Ten mengucek matanya, "Ugh~ kalian.. apa masih kuat bicara tentang hal itu tengah malam begini? Ayo tiduurr!" ucapnya menghempaskan diri ke kasur sambil menarik selimut membuat enam temannya menatap Ten.

Johnny mengacak rambut hitam Ten sebelum menjawab, "Arraseo. Ayo kalian juga tidur." Katanya.

Ten tersenyum lebar pada Johnny membuat Taeyong memutar bola matanya. Taeyong mengernyit kecil tentang bagaimana bisa mereka mengumbar kemesraan di depan teman-temannya. Apalagi mereka tahu tidak semua dari mereka memiliki pasangan.. ugh Taeyong menggerutu kecil.

.

.

.

Bibir Taeyong mengulum senyum saat melihat Yuta terbaring di sampingnya. Ten, Johnny, Hansol maupun si cerewet Doyoung dan Jaehyun sudah tidak terdengar suaranya. Sepertinya mereka tidur nyenyak. Taeyong mendesah kecil.

Taeyong mendudukkan diri di kasur sambil menggaruk kepalanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Tubuhnya bergerak bimbang, bangun dan mengambil segelas air minum atau tetap di sini berusaha tidur. Taeyong memiliht untuk mengamati teman-temannya. Johnny dan Ten tidur di paling ujung, mata hitam Taeyong bisa melihat tautan jari mereka, Taeyong mendengus. Jaehyun dan Doyoung juga sepertinya tidur dengan nyenyak, Jaehyun sampai tidak mengigau seperti biasanya. Bahkan Hansol yang jauh dari kekasihnya bisa tidur dengan nyaman meski tangannya masih memegang gadget. Lalu mata Taeyong beralih ke samping kanannya melihat Yuta yang tidur dengan nyenyak pula.

Taeyong berpikir, apa yang dimimpikan anak itu ya? Tersenyum kecil, Taeyong menunduk, mendekatkan diri agar sejajar dengan wajah Yuta. Taeyong mengamati wajah Yuta, tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar. Yuta terlihat menggemaskan ketika tidur. Mengamati bulu mata Yuta yang terbentuk sempurna dan pipinya yang merona membuat Taeyong merasakan kupu-kupu di perutnya.

Padangannya turun ke hidung Yuta yang lucu membuat senyum Taeyong melebar. Tapi senyumnya sedikit memudar saat melihat sepasang bibir plump Yuta yang sedikit terbuka. Mengkilap, terlihat sangat lembut. Senyum Taeyong menghilang sepenuhnya. Dia menelan ludah. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang, matanya masih mengamati Yuta yang masih tidur dengan polosnya. Perlahan Taeyong menurunkan wajahnya, memandang Yuta sejenak sebelum menutup matanya perlahan. Hangat dan manis nafas Yuta menyapu permukaan bibir Taeyong membuatnya merinding kecil. Kalau setelah ini Yuta membencinya...

Sadar akan pemikirannya membuat Taeyong cepat-cepat membuka matanya dan menjauhkan diri dari wajah Yuta. Taeyong mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya masih bergemuruh kencang sedangkan wajahnya memanas. Sial... Taeyong merutuk dalam hati.

Setelah merasa tenang, Taeyong merebahkan diri di kasur, melirik ke arah Yuta yang belum berpindah dari posisi semula. Taeyong memejamkan matanya erat. Kalau saja hal itu benar terjadi. Kalau saja tadi Taeyong melanjutkannya. Kalau tadi tiba-tiba Yuta membuka matanya... apa yang akan terjadi? Taeyong tidak mau berpikir yang tidak-tidak.

Menggeleng, Taeyong menutup matanya tapi tetap tidak bisa membuatnya tertidur. Mendesah berat, diliriknya jam besar yang menempel di dinding, pukul 3 pagi. Taeyong mengernyit kecil lalu melirik ke arah Yuta yang bergerak kecil, tangan Yuta menyentuh jemari Taeyong.

Bergerak ragu, Taeyong menautkan jemari mereka sambil menutup mata. Setelah itu ia tenggelam.

.

.

.

Mata Yuta bergerak seolah bimbang antara membuka... atau tidak. Dari tadi telinganya mendengar suara gemericik air yang terasa jelas. Beberapa bisikan terdengar juga olehnya, memanggil pemuda berusia 16 tahun itu untuk menemui sang pemilik suara. Yuta mengernyit kecil.

"Hahh... aku ingin tidur." Bisiknya kecil tanpa membuka matanya.

Tapi panggilan dan suara gemericik air itu makin terdengar jelas di telinga Yuta membuat si empunya membuka mata dengan paksa. Bibirnya mengerucut. Ditatapnya tembok rumah Jaehyun dengan kesal seolah tembok adalah akar dari masalah-masalahnya. Yuta mendudukkan diri di kasur menatap sekelilingnya yang gelap gulita. Rupanya mereka mematikan lampu setelah Yuta tertidur.

Yuta menggaruk rambutnya membuat helai coklat itu makin berantakan. Masih dengan bibir mengerucut, Yuta hendak berdiri untuk menemui siapa pun itu yang mengganggu tidurnya. Tapi sebuah tangan besar yang sedari tadi menggenggam tangannya membuat Yuta berhenti.

Ah... dia tidak menyadarinya. Sejak kapan jemari Taeyong terpaut dengan jemarinya? Yuta menggaruk kepalanya lagi. Tidak apa-apa toh Taeyong terlihat bis atidur nyenyak. Lee ahjumma selalu cerita kalau sejak kematiannya Taeyong jarang sekali bisa tidur nyenyak. Yuta mengangguk kecil, tidak apa-apa kalau memang dengan menggenggam tangannya bisa membuat Taeyong tenang.

Perlahan, Yuta melepaskan tautan jemari mereka tapi justru membuat Taeyong makin mengeratkan jemarinya. Yuta menatap raut wajah Taeyong yang mengernyit sembari perlahan membuka matanya.

"Yuta..." bisiknya parau.

Yuta memiringkan kepalanya, "Nde?"

"Mau ke mana?"

Yuta menunduk menyejajarkan diri dengan wajah Taeyong dan berbisik kecil, "Aku ada urusan dengan 'mereka' sebentar." Katanya.

Taeyong membuka mata sepenuhnya, "Huh?"

Yuta mengucek matanya, menguap kecil, "Hanya sebentar Taeyong-ah... tidurlah lagi." Ucap Yuta tanpa sadar mengusap pipi Taeyong.

Sadar akan kelakuannya, Yuta berdehem kecil menggaruk tengkuk, "A-Aku... pergi dulu sebentar." Katanya lalu cepat-cepat berdiri meninggalkan Taeyong yang menatapnya.

.

.

.

Yuta melangkah perlahan ke dapur. Langkah kakinya memendek, dengan hati-hati jemari lentiknya menyentuh saklar lampu di dinding. Tanpa ragu lagi Yuta melangkah masuk ke dalam dapur. Matanya mengedar pandangan ke seluruh sudut dapur mencari sumber suara gemericik yang terus terdengar di telinganya.

Ia masih mengamati saat ia mendengar sebuah bisikan memanggil namanya. Yuta langsung menoleh ke sumber suara dan langsung berhadapan dengan sesosok wanita cantik yang menatapnya dengan mata memohon. Yuta melihat wanita itu dari bawah ke atas. Wanita itu sangat cantik, bibirnya tipis, matanya besar dan sangat menarik jika tidak ada sirat kesedihan di sana, rambutnya yang panjang lurus menjuntai ke sebatas dadanya, Yuta tersenyum kecil.

"Nunna..." panggilnya melihat sosok itu perlahan mengeluarkan air mata. Bibirnya tidak bergerak, tapi Yuta dapat mendengar maksud dari tangisnya.

"Apa kau yang mengunjungi kami kemarin?" tanyanya lagi.

Yuta mengangguk kecil mendengar perkataan wanita cantik itu, "Nunna... kalau aku boleh tahu, mata itu.. ada apa dengan mata kanan mu?" bisik Yuta pelan. Matanya bergetar menahan gemuruh di dadanya. Meski ia sudah berkali-kali menghadapi hal seperti ini, tapi rasa takut masih saja menghantuinya.

Mendengar jawaban, Yuta mengernyit kecil, "Kalian di bunuh oleh orang yang sama?" tanyanya lagi.

Yuta makin mengernyit, mendengar jawaban wanita cantik itu, "Kami berusaha mengungkap semua misteri dari ruangan itu Nunna... jangan khawatir, aku pasti membantumu menemukannya."

Alis Yuta terangkat setelah beberapa saat, "Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati." Bisiknya pelan persis seperti perkataan Sehun.

"Yuta..." panggilan suara parau itu membuat Yuta sedikit terperanjat, sosok wanita di depannya menghilang setelah Yuta menoleh ke kiri demi menemukan Lee Taeyong dengan rambut berantakan, menggaruk rambutnya sambil memanggilnya lagi.

"Nde?" jawab Yuta pelan. Dia masih berdiri di tempatnya semula. Taeyong mengerutkan keningnya lalu berjalan ke arah Yuta, "Aku tidak bisa tidur." Katanya kemudian.

Yuta menatapnya dengan senyum mengembang, "Arraseo arraseo... masih jam 5 pagi, ayo tidur lagi." Ajaknya lalu melangkah ke arah Taeyong dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Keterkejutan tergambar jelas dari wajah Yuta saat Taeyong dengan cepat menggenggam tangannya dan membawanya menuju ruang tengah yang masih gelap. Yuta mendesah kecil, sepertinya dia benar-benar membuat Taeyong terlalu nyaman.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Halo teman-teman XD /tebar mawar/? hehehe, ini dia chapter 5 nya~ X'D sengaja di post sekarang karena seperti biasa untuk beberapa hari ke depan belum bisa update karena yah~ sabtu minggu adalah tugas time jadi ya~ begitulah :'D kasihanilah saya(?) /males banget/ ga bisa janji juga bisa update kapan tapi yah as always, ku usahain update as soon as possible :'''3 /sungkem/ doakan saya teman-teman. Seperti biasa juga :'D I really really appreciate your reviews guys, karena ngeliat itu semua bikin semangat lagi buat nerusinnya (semoga nggak kecewa sama ceritanya XD) makannya hayuk di review lagi XD /maksa/ dan untuk yang nebak-nebak kalau kata-kata itu(?) mirip di anime, YAP memang benar X'D i am anime trash /gapenting/ dan anime itu adalah Another, but nggak cuma Another juga yang jadi referensi, aku nonton lagi Ghost at School (kalo kalian tahu), Corps Party dan sekarang lagi baca novelnya Graham Heather yang judulnya Unhallowed Ground, plus nonton beberapa film horor jadi banyak sekali inspirasi dan pengaruhnya :'' well i write it in my own style anyway so i hope you guys don't feel disappointed :''' dan yah aku juga ngerasa wordsnya sangat sedikit tapi yaaah mau gimana lagiii :'''D /gelindingan/ aku juga gemes sebenernya kenapa nggak bisa banyak T^T anyway, thanks sekali untuk yang buka maupun review FF ku yang sebelah :''D terharu duh, tunggu saja update-an selanjutnya yah sodara-sodarakuh, and as always, thank you so much for reviewing, commenting, and loving this fic, i hope you guys always happy and aren't tired for waiting my next update sooo~~~ well i'm talking too much X'D maafkan, see you in the next chapter! hugs and kisses~ /tebar cinta/?

-Yuka