ENAM
Yuka
.
.
HANSOL membuka satu per satu laci meja di ruang klub. Jemarinya meneliti satu per satu kertas yang ditemukan berharap berkas-berkas itu masih ada. Dengan cepat Hansol berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain demi menemukan lembaran demi lembaran kertas hasil penyelidikan klub selama ini. Sialan... siapa yang bisa masuk ke ruang klub selain dia dan Johnny?
Suara pintu terbuka membuat Hansol mendongakkan kepala demi bertatapan dengan Ten dan Taeyong yang datang. Hansol mengusap telapak tangannya pelan lalu berdiri menyambut dua orang baru yang hadir.
"Sedang apa?" Ten bertanya sembari menurunkan tasnya.
Hansol mendesah, "Mencari berkas." Jawabnya singkat. Bahunya menurun lesu.
Taeyong menatap Hansol lalu bertanya, "Berkas apa?"
Hansol menunjuk laci dan loker klub yang terbuka, "Berkas bukti dan penelitian kita hilang." Jawabnya mengundang tatapan heran Taeyong dan keterkejutan Ten.
"Masa? Bagaimana bisa?" Ten terduduk lalu mengobrak-abrik berkas yang sudah Hansol keluarkan. Dengan helaan nafas panjang Hansol turut duduk sambil merapikan kembali berkas-berkas yang lain. Taeyong ikut duduk, "Hentikan Ten kau membuatnya semakin kacau." Katanya lalu membantu Hansol merapikan berkas-berkas itu.
Sejenak suasana menjadi hening, yang terdengar hanya detak jam di dinding dipadu suara kertas yang beradu satu sama lain. Hari ini hari Senin yang berarti Yuta, Jaehyun dan Doyoung akan datang terlambat karena harus mengajari beberapa anak bermasalah dengan ujian tengah semester. Well, tidak seperti wajahnya, otak mereka rupanya lebih cemerlang dari yang orang kira.
Setelah semua rapi, mereka duduk melingkar. Ten membuka mulutnya untuk bicara, "Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Hansol menghembuskan nafas pendek dari hidungnya, "Aku tidak tahu. Saat aku masuk, ruang klub terlihat baik-baik saja sampai aku sadar tidak ada lagi berkas yang Doyoung susun di atas meja. Aku langsung mengecek laci dan loker tapi... yah, kau lihat sendiri." Jelasnya.
Ten mengusap wajahnya dengan tangan sambil mendesah, "Bagaimana ini?"
Taeyong berpikir sejenak, "Mungkin Johnny yang mengambilnya?" tanyanya, Hansol menggeleng, "Kalau itu Johnny, aku akan langsung tahu. Kamar apartemennya ada tepat di sampingku."
Ten mengangguk, "Dia sama sekali tidak memberitahu apa-apa padaku."
Taeyong mengernyit, "Lantas siapa yang bisa masuk ke ruang klub kalau bukan Hansol dan Johnny?"
"Entahlah..." jawaban Ten mengundang desahan panjang dari dua orang di ruangan itu.
Mereka terdiam beberapa saat. Siapa yang mengambil berkas-berkas itu? Siapa yang punya kunci klub selain Hansol dan Johnny? Untuk apa mereka masuk ke sini dan mengambil berkas-berkas itu. Berkas-berkas itu tidak akan penting bagi siapapun kecuali mereka adalah...
Pembunuh semua korban.
.
.
.
Johnny membuka pintu klub siang itu. Waktu istirahat mereka memutuskan untuk membahas mengenai hal yang mereka alami hari ini. Ketujuh siswa SMA itu masuk ke dalam klub saat Johnny menyalakan lampu. Hansol menutup pintu setelah mengawasi kanan kirinya. Tidak ada yang mengikuti.
Duduk melingkar, ketujuhnya memandang ke arah Johnny, "Seseorang mencuri berkas penyelidikan kita." Katanya memulai pembicaraan.
Semua mata masih menatapnya memintanya untuk melanjutkan, "Kita tidak punya kunci lain selain kunci yang aku dan Hansol miliki. Logikanya, jika seseorang ini membutuhkan berkas itu, berarti dia tidak lain adalah pembunuh semua korban." Katanya.
Mata Taeyong melirik ke arah Yuta yang bergumam kecil seolah berbisik pada seseorang di sebelahnya. Apa ada 'mereka' lagi di sekitar mereka sekarang? Taeyong melirik ke segala arah memastikan tidak ada apa-apa yang mencurigakan.
"Apa benar begitu? Maksudmu... pembunuh 'mereka' berkeliaran di sekitar kita selama ini?" tanya Doyoung dengan nada berhati-hati. Taeyong meliriknya.
Johnny mengangguk sambil memijat keningnya, "Yah, jika kita berpikir dengan logika, tentu saja dia ada di sekitar kita."
"Tidak peduli apa yang akan kita lakukan sepertinya dia akan tetap membunuh." Kata Jaehyun menatap mereka satu per satu.
"Kita masih tidak tahu alasan dia membunuh semua korban. Kita benar-benar harus menyelediki hal ini." Kata Ten.
"Yuta, apa perempuan kemarin tidak memberikan informasi apapun padamu?" Hansol menatap Yuta yang langsung mendongak menatap keenam temannya. Matanya sedikit bergetar seperti ketakutan. Taeyong mengernyit kecil. Ada apa dengan anak ini?
Taeyong mendengar Yuta menghela nafas, "Dia hanya berkata bahwa pembunuh mereka semua sama. Maksudku, satu orang." Katanya. Kakinya masih bergerak tak nyaman. Taeyong makin mengernyit.
"Berarti yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari tahu siapa yang mengambil berkas-berkas kita." Hansol menyimpulkan.
Semua mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian mereka berdiri dan kembali ke kelas masing-masing. Hari ini akan jadi hari yang panjang, Taeyong mendesah.
.
.
.
"Apa Pak Park belum datang?" pertanyaan Jaehyun membuat Yuta mendongak dari komiknya. Ia melirik jam dinding, oh iya, sudah pukul 14.26, empat menit lagi seharusnya kelas sudah di mulai dan mengingat betapa tertibnya Pak Park, rasanya mustahil jika dia datang terlambat. Yuta melirik bangku sebelahnya yang kosong, Taeyong sedang mengambil buku bersama Doyoung di perpustakaan. Ia mendesah.
"Biarkan saja, sekali-kali libur pelajaran Biologi kan tidak apa-apa..." kata Ten menenggelamkan wajahnya ke meja. Yuta menoleh ke arahnya setelah merapikan komiknya dan memasukkannya ke dalam tas. "Apa aku harus memanggilnya?" tanyanya membuat Ten menaikkan wajahnya dengan ekspresi terluka.
"Yuta-kun... hentikan sikap rajinmu itu. Kau membuatku terluka, sungguh." Katanya dengan lirih. Yuta memutar bola matanya. Oh, ayolah...
"Yuta benar, kau bisa memanggilnya..." kata Jaehyun membuat Yuta tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas sambil melambai.
Kaki panjangnya berjalan menuju ruang guru. Sesekali dia melihat beberapa adik kelasnya melambai ke arahnya sambil memanggil namanya. Siapa itu yang rambut pink? Mark? Yah, dia terlihat ceria meski pun baru kehilangan sahabatnya, -Haechan masih di sana. Ah, Yuta ingin kembali menjadi anak biasa.
Tak lama kemudian Yuta sampai di koridor yang menuju ke arah ruang guru. Kakinya masih belum sampai ke pintu saat dia mendengar suara dari balik jendela.
"Anak-anak itu tak lama lagi akan menemukanku.. sial." Yuta terhenti.
Kakinya terasa memberat. Aura apa ini? Kenapa udara disekitarnya semakin terasa menipis? Nafas Yuta memendek, jantungnya berdegup kencang, pandangannya menangkap banyak warna kelam di sekitarnya. Kenapa... baru sekarang dia merasakannya?
Siapa yang memiliki aura segelap ini? Siapa yang memiliki keinginan membunuh sekuat ini?
"Jangan-jangan..." Yuta terkesiap saat matanya melirik ke kiri untuk melihat... sepasang bola mata merah menatap kembali padanya. Keringat Yuta bercucuran saat itu juga. Tenaganya terasa terkuras. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bibirnya terbuka berusaha menarik nafas, dan matanya melebar saat menyadari siapa yang ditatapnya...
Jadi selama ini memang...
Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap.
.
.
.
Jemari Taeyong mengetuk-ngetuk mejanya dengan tidak sabar. Jam sudah menunjukkan pukul 15.28 tapi Yuta belum sampai juga di kelas. Apa yang dia lakukan? Apa dia memanggil pak Park lalu berlalu menuju kantin? Sialan kalau sampai dia bolos sendiri, Taeyong akan benar-benar menendangnya.
"Sudah selama ini tapi kenapa Pak Park belum datang ya? Apa Yuta bena-benar memanggilnya?" Doyoung terdengar harap-harap cemas. Taeyong melihat tangannya yang terkepal tanda gelisah seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Palingan dia keluar hanya untuk mampir ke kantin..." kata Jaehyun langsung mendapat tatapan tajam dari Taeyong. Tidak lucu. Memang awalnya Taeyong berpikir hal yang sama, tapi entah kenapa hal ini berbeda. Sangat berbeda. Taeyong belum pernah mengkhawatirkan seseorang sampai seperti ini.
Apa yang terjadi padanya?
Lamunan Taeyong buyar saat melihat seseorang masuk ke kelas. Pak Byun memijat keningnya. Astaga apa lagi sekarang? Taeyong mendengus kesal. Ia masih belum bisa mengalihkan pikirannya dari Yuta.
"Ah.. merepotkan sekali. Pak Park hari ini tidak bisa datang karena dia ada urusan. Aku lihat dia tadi datang ke sekolah lalu pergi. Hah.. ini tugas kalian." Katanya menyerahkan beberapa kertas soal pada Doyoung yang duduk paling dekat dengan meja guru.
"Kerjakan dan kumpulkan minggu depan. Aigoo... bekerja lembur membuatku pegal-pegal." Pak Byun keluar sambil memijit tengkuknya.
Taeyong melengos, apa-apaan dia itu? Guru paling malas yang pernah Taeyong tahu. Tunggu... kalau Yuta pergi mencari pak Park sedangkan pak Park tidak ada... lalu di mana dia sekarang?
Nafas Taeyong sedikit memburu. Dadanya berdetak kencang mewanti-wanti apa yang akan terjadi. Dengan cepat dia berdiri dan berlari keluar membuat Ten dan Doyoung langsung menatapnya. Taeyong mendengar beberapa langkah kaki berlarian ke arahnya.
Melihat kiri-kanan, Taeyong tidak bisa menemukan sosok Yuta. Dia sudah berlari ke ruang guru, ke kelas-kelas, kantin, kamar mandi bahkan ke ruang guru lama, tapi Yuta tidak ada di sana. Ada apa ini? Di mana dia? Keringat Taeyong turun melewati pelepisnya. Dia khawatir. Sangat khawatir sampai mau mati rasanya.
"Kita sudah mencarinya tapi kenapa dia tidak ada?" Ten berkata nyaris berteriak. Tas hitamnya menggantung di lengannya tak berdaya.
Doyoung mengepalkan jemari-jemari panjanganya dan lalu bergumam, "Apa yang terjadi? Ada apa? Kenapa aku cemas begini?"
Oh hentikan itu Doyoung, perasaan Taeyong semakin kacau sekarang. Jaehyun menghembuskan nafas berat dan memijit keningnya. Taeyong semakin mengernyit. Anak itu memang anak yang ceroboh tapi sungguh... hilang di sekolah sendiri? Siapa orang bodoh yang melakukan hal itu? Taeyong tidak mengerti.
"Apa kalian tahu di mana dia tinggal?" pertanyaan Taeyong mendapat gelengan serempak dari ketiga temannya.
Ini akan sulit.
Yuta... apa yang terjadi?
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Hai temaaanns /muncul/ ;w; another very short story in this fic.. ugh, masih gemes sama diri sendiri kenapa ngga bisa nulis panjang-panjang ;A; /jedotin kepala ke tembok/ it took me forever to write this chapter because shits happen dan yahhh kuliah terasa semakin kampret dan tugas makin menjerit minta lontong buat dikerjain ;w; /gapeduli sih ya/ :''D eh iya guys, setelah fic ini selesai aku mau fokus ke fic yang Mr. Sweet Tooth dan karena aku masih bingung mau bikin FF apa setelahnya, adakah dari kalian ingin saran genre? X''D hahahhaha... anyway, semoga kalian suka chapter yang sangat pendek ini, dan wait for the next (i'm working on it) XD semoga ngga selama ini ya updatenya :''D thanks for reading and loving and waiting for this fic i really appreciate it /sungkem/ reviewnya ditunggu loh XD /peluk cium/
-Yuka
