TUJUH

Yuka

.

.

YUTA membuka matanya. Pandangannya kabur, mengernyit kecil saat beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya. Yuta mengencek nafasnya. Masih normal. Dia menarik nafas panjang sambil berusaha bangkit dari posisi telungkupnya. Setelah terduduk, pening yang sangat kuat menyerangnya. Ia nyaris mengerang saat memegangi kepalanya. Astaga sakit sekali... ada apa ini?

"Sekolah di sini?"

Yuta mendengar sebuah suara. Samar-samar suara yang terdengr seperti anak kecil masuk ke dalam telinganya. Membuka mata perlahan, Yuta melihat seorang anak laki-laki dengan kaos dan kemeja kuning disertai celana jeans pendek berjalan di belakang seorang laki-laki tinggi memakai jas. Anak itu jauh lebih pendek darinya. Tunggu!

"Tentu saja Yuta, kau tahu Oto-san tidak bisa meninggalkan Korea dalam beberapa tahun."

Oto..-san. Yuta menggelengkan kepalanya saat pandangannya yang semula kabur berubah menjadi lebih jelas. Paling tidak, ia bisa melihat wajah orang-orang itu. Itu, dirinya... kan?

Yuta melihat dirinya sendiri keluar dari kantor ayahnya dan masuk ke dalam mobil. Dia yakin dia pernah mengalami ini. Yuta berusaha bangkit dari duduknya dan mengikuti ke mana 'dirinya' dan ayahnya pergi. Kaki-kakinya terasa ringan saat dia berjalan. Apa ini? Dimensi lain?

Sejak kapan Yuta berada di sini? Yuta ingat tempat ini. Beberapa gedung berdiri di sekitar bangunan sekolah yang dia masuki. SMA SM terlihat sedikit berbeda. Terlihat sedikit tua. Mungkin sebelum Yuta pindah ke sana, sekolah ini melakukan renovasi besar-besaran.

Mata Yuta bergerak ke kiri kanan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berjalan maju, Yuta memasuki sekolahnya. Lagi ia menoleh ke kiri kanan, berharap berpapasan dengan seseorang yang ia kenal. Matanya menangkap sesuatu.

Sehun?

"Sehun Hyung!" panggilnya lalu berlari ke arah Sehun yang masuk dari gerbang depan. Aneh... Sehun sama sekali tidak menggubrisnya. Sehun terlihat sehat dengan seragamnya yang putih bersih dan wajahnya yang masih terlihat segar... masih terlihat hidup. Yuta melengos. Ia menatap tangannya sendiri.. jangan bilang...

Mengusir pikiran yang tidak-tidak, Yuta melangkahkan kakinya kembali, berlari memasuki gedung sekolah. Ia memasuki koridor, memasuki ruang-ruang kelas, perpustakaan, kamar mandi, kantin dan lain-lain. Semua ruangannya memiliki letak yang sama. Semuanya... tapi satu hal menarik perhatian Yuta. Ruang guru lama... masih berfungsi.

Dari gedung olahraga, Yuta berjalan menuju kantor guru lama sambil melihat kiri-kanan. Hatinya terasa berat. Kekhawatiran dan kecemasan dia rasakan begitu kuat. Kenapa ini? Ada apa ini? Yuta mengintip dari jendela kantor melihat beberapa orang yang tak Yuta kenal... oh ada juga beberapa guru yang ia kenal.

Suara gesekan sepatu membuat Yuta menoleh, Sehun? Tunggu! Yuta melihat langit yang menjadi kemerahan... waktu berputar lebih cepat? Yuta melebarkan matanya saat Sehun berjalan menuju ruang olah raga. Dia membawa sapu dan kain pel serta sebotol minuman. Apa dia akan membersihkan gedung? Yuta mengernyit. Aneh.. Yuta memilih mengikutinya.

"Sehun hyung!" panggilnya saat sampai di gedung olahraga. Matanya melebar saat melihat Sehun jatuh tersungkur di lantai. Tangannya bergerak-gerak seolah mencari pegangan. Mulutnya berbusa. Matanya bergetar. Yuta bisa melihat kakinya kejang-kejang. Sebotol air mineral tergeletak di sampingnya. Racun?

"Hyung! Hyung!" Yuta terduduk menghampiri Sehun yang bergetar hebat. Tangannya berusaha menggapai lengan Sehun yang kejang, tapi tertembus begitu saja. Sial... apa yang terjadi.

Saat tubuh Sehun benar-benar sudah tidak bergerak, Yuta terduduk lesu. Dia belum pernah menyaksikan orang di ambang kematian sebelumnya. Ini... mengerikan. Ini... menyakitkan. Yuta hampir menangis jika telinganya tidak mendengar suara pintu terbuka. Yuta melirik ke kanan ketika sesosok manusia dengan jubah hitam dan penutup wajah masuk ke dalam gendung sambil membawa tali.

Yuta melebarkan matanya.

Jadi Sehun sebenarnya tidak bunuh diri.

.

.

.

"Inilah sebabnya kau harus sering membawa temanmu ke rumah..." kata Ten berlarian dengan Taeyong, Doyoung dan Jaehyun. Hansol dan Johnny berlari ke arah lain demi mencari tempat tinggal Yuta.

"Oh berhentilah mengeluh, Ten! Kita sedang panik!" ucapan Doyoung membuat hati Taeyong sedikit meringan.

Mereka sedang berlarian mencari di mana Yuta tinggal. Taeyong masih merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Dia panik.

"Jika kita tidak bisa menemukan di mana dia tinggal, kita harus berkumpul lagi di sekolah. Kalian mengerti?" kata Taeyong akhirnya. Semua mengangguk, mereka akan berusaha lagi.

Setelah hampir 2 jam mereka berlarian, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali berkumpul di sekolah. Ini aneh... kenapa Yuta bisa hilang tiba-tiba? Siapa yang menculiknya? Untuk apa dia diculik? Dijual? Ini tidak masuk akal. Taeyong berpikir. Apa ada hubungannya dengan tragedi ruang guru lama? Apa karena Yuta bisa melihat 'mereka'? apa pembunuh itu benar-benar ada di sekitar mereka selama ini?

Jika memang iya, mereka dalam bahaya.

Mengatur nafas, Taeyong dan teman-temannya terhenti di depan gedung olah raga. Johnny dan Hansol sudah bersama mereka sejak memasuki gerbang sekolah. Keenamnya tidak bicara apa-apa. Mereka terdiam, mengatur nafas dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Taeyong melihat Johnny mendongak melihat seseorang berjalan ke arah mereka. Pak Byun berjalan ke arah mereka sambil memijat keningnya. Taeyong melirik beberapa kertas yang dia bawa. Apa guru pemalas ini benar-benar bekerja lembur? Kalau iya, Taeyong ingin mengucapkan selamat.

"Oh! Kebetulan! Hey kalian anak kelas 2!" ia mendengar suara Pak Byun mengarah kepada mereka. Dia berjalan menuju kumpulan itu.

Setelah terhenti di depan mereka, dia bicara, "Aku mau minta tolong..." katanya sambil membenahi berkas-berkas yang dia bawa.

"Tolong apa guru?" tanya Doyoung.

Pak Byun tersenyum lebar, "Bisa kalian membantuku menginput nilai siswa di kantorku? Ini seharusnya menjadi pekerjaan si Park bodoh itu tapi lihat di mana dia sekarang?" omelnya. Taeyong mengangguk. Yah, Pak Park memang tidak terlihat sama sekali hari ini. Padahal tadi pagi, menurut pak Byun, dia hadir. Mencurigakan...

Johnny mengangguk, "Kami akan membantu." Katanya mendapat persetujuan dari semua temannya. Taeyong melihat Johnny mengernyit.

"Uh, maaf guru." Kata Hansol melirik ke bawah sebelum menatap gurunya, "Apa itu berkas klub kami?" tanyanya to the point. Mata Pak Byun menerjab.

"Benar." Katanya lirih. "Aku melihatnya di meja Park bodoh itu, apa kalian menyerahkan berkas-berkas ini padanya?" tanyanya.

Serempak mereka menggeleng, "Sudah ku duga. Aku mengambilnya dari meja itu, aku bermaksud mengembalikannya besok tapi karena aku bertemu dengan kalian sekarang. Ini." Katanya menyerahkan berkas-berkas itu pada Hansol. Hati Taeyong menjadi sedikit lega.

Mereka semua mengangguk, "Terima kasih." Kata Johnny membuat Pak Byun tertawa renyah.

"Sudahlah. Oh iya, semua datanya ada di atas meja komputer. Kalian tinggal menginputnya. Aku akan keluar mencari makanan untuk kalian sebelum pulang." Katanya tersenyum, mereka mengangguk lalu berjalan menuju kantor guru setelah bayangan Byun menghilang.

"Aku rasa membantu guru tidak terlalu buruk." Komentar Jaehyun.

"Kau tahu, kita bisa mencari alamat Yuta di data siswa setelah ini." Kata Doyoung membuat semuanya tersenyum. Yuta, bertahanlah sebentar lagi.

.

.

.

Yuta berlarian menuju ruang tata usaha. Kakinya bergerak berusaha menghindari orang-orang yang berlalu lalang. Yuta mengernyit. Sekarang sudah malam. Padahal baru beberapa menit yang lalu tepatnya, dia melihat Sehun kesakitan dan digantung oleh seseorang. Orang itu! Siapa orang itu? Yuta ingin berteriak.

Sesampainya di sana, dia langsung menghambur ke area CCTV. Matanya melihat kiri-kanan mencari berkas dan data yang dia butuhkan. Kenapa tubuhnya tertembus begitu saja? Yuta nyaris berteriak jika dia tidak mendengar suara dari kejauhan. Menoleh ke sumber suara.. ia melihat.

Lee ahjumma? Dia terlihat sibuk dengan beberapa berkas di tangannya. Oh... sepertinya dia akan pulang ke rumah. Yuta melirik dari mana dia berasal, kepala sekolah? Lee ahjumma adalah kepala sekolah SMA ini? Yuta terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk berjalan di belakangnya. Dia harus mengikuti Lee ahjumma demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang membunuh mereka...

Langkah Yuta terhenti di tempat parkir. Melihat wanita paruh baya itu langsung masuk ke mobil membuat Yuta sedikit curiga. Yuta melirik ke bawah melihat beberapa tetesan oli mengalir membuat satu anak sungai kecil menghilang ke belakang mobil. Yuta melebarkan matanya... mustahil dia bisa melihat ini.

Yuta memutuskan untuk berlari mengikuti laju mobil hitam mengkilap itu. Yuta harusnya sudah merasa lelah... tapi dia tidak merasakan apapun di sini. Kakinya masih terasa ringan bahkan saat mobil itu melaju dengan kencang. Yuta menerjab kecil. Mobil hitam itu oleng. Apa yang terjadi? Rem blong? Yuta terhenti di persimpangan jalan. Matanya melebar saat mobil itu oleng untuk beberapa saat sebelum ia mendengar suara..

"Oto-san, aku akan membeli minuman di toko depan.." Yuta menatap horror pada sosok kecilnya saat sosok itu berlari ke luar mobil untuk menyebrang ke toko yang berada tepat di samping sekolah.

Jantung Yuta berdetak sangat cepat sekarang. Dia was-was... dia akan tahu, apa yang akan menimpanya sebelum kehilangan pengelihatan sekarang. Semua itu terjawab saat dia melihat tubuh kecilnya terpental keluar jalan disertai ledakan besar dari mobil yang menabrak tiang listrik di pinggir jalan.

Hati Yuta terasa hambar saat itu juga. Kakinya lemas saat suara sirine ambulans dan beberapa teriakan warga serta kedua orang tuanya yang berlari ke tubuh kecilnya yang tidak berdaya. Yuta terduduk. Tatapannya kosong melihat kecelakaan itu. Jadi yang menabraknya adalah... ibu Taeyong?

.

.

.

Mata Taeyong menerjab kecil. Dia dan Doyoung mengerjakan data kelas satu sedangkan Johnny dan Ten mengerjakan data kelas dua, data kelas tiga dikerjakan oleh Hansol dan Jaehyun. Mereka sedang berada di dalam kantor guru dengan segudang berkas di masing-masing meja.

"Berapa ini? Oh.. Mark mendapat A lagi di bahasa Inggris." Kata Doyoung menunjuk salah satu berkas.

"Ayolah, dia dari Kanada." Komentar Ten lalu kembali mengetik.

Taeyong menggelengkan kepala. Sulit menjadi siswa berkebangsaan luar untuk sekolah di Korea. Mark sama seperti Yuta. Ah, Yuta... Taeyong mengernyit kecil. Hatinya sekali lagi merasakan kekhawatiran yang amat besar.

"Kita harus cepat menyelesaikan ini supaya bisa cepat menemukan Yuta." Kata Taeyong mempercepat ketikannya. Doyoung menerjab kecil.

"Oho... kau khawatir padanya?" Ten bertanya usil. Taeyong mengernyit. Oh ayolah bukan saatnya goda menggoda sekarang.

"Ayolah cepat kerjakan." Kata Taeyong mengundang tawa dari keenam temannya. Mereka terdiam sesaat sambil melanjutkan pekerjaan masing-masing.

Pintu kantor terbuka menampakkan sesosok manusia yang mereka kenal. Pak Byun tersenyum lebar sambil membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman. Semua mata tertuju padanya.

"Kalian... ini makan dulu. Kalian pasti lapar..." katanya membuat semuanya tersenyum.

"Kami masih agak kenyang... guru saja duluan." Kata Johnny lalu kembali mendiktekan nilai pada Ten yang menatapnya. Taeyong melirik mereka sebelum kembali ke pekerjaannya. Dia belum bisa makan kalau Yuta belum ditemukan.

"Baiklah... makanlah jika kalian sudah merasa lapar."

.

.

.

Yuta mengikuti langkah beberapa suster yang membawa tubuh kecilnya ke ruang operasi. Setelah sampai di depan ruangan, Yuta melirik kiri kanan melihat dua keluarga yang masing-masing anggotanya menangis. Ia melihat ayahnya sedang berbicara dengan seorang lelaki seumurannya. Wajah itu mengingatkannya pada Taeyong. Ayah Taeyong kah? Mereka terlihat berdiskusi sambil mengusap air mata dari kedua pasang matanya. Hati Yuta mencelos.

Pandangannya beralih pada kursi tunggu di mana ada anak laki-laki yang membawa sebuah kalung. Yuta mengernyit. Anak ini mengingatkannya pada seseorang. Dia menghampiri anak yang tertunduk itu. Oh tidak... anak laki-laki itu menangis. Kerutan di alis Yuta mendalam. Taeyong?

"Taeyong-ah?" Yuta menoleh ke arah suara. Ayah Taeyong berdiri di sampingnya sambil mengulurkan tangan.

"Ibu sudah tidak ada. Apa kau masih ingin melihatnya?"

Yuta merasakan wajahnya memanas. Air mata mengembang di matanya. Apa ini? Yuta mengikuti arah Taeyong yang berjalan bersama ayahnya. Dia melirik ke dalam ruangan. Tubuh kecilnya terbaring lemah dengan alat bantu nafas dan mata yang diperban. Yuta mengernyit. Jangan bilang...

"Aku akan bertemu lagi dengannya. Aku akan melihat ibu darinya." suara mungil Taeyong terdengar lirih. Yuta merasakan matanya memanas. Ia ingin menangis.

Yuta berjalan menjauh dari sana mengikuti langkah kaki Taeyong. Yuta mengusap matanya. Dia harus tahu keseluruhan ceritanya. Dia harus tahu agar semua arwah yang dia temui bisa pulang dengan tenang. Dia sudah berjanji.

Alisnya mengernyit saat merasakan langkah kaki Taeyong menjauh... menjauh... semakin cepat dan semakin cepat. Yuta mempercepat larinya. Tidak... tunggu dulu! Yuta berteriak memanggil nama Taeyong. Yuta terus berlari hingga dia melewati sebuah lorong.

Dia terhenti di depan gedung olah raga sekolahnya. Aneh... sangat aneh... tempat apa ini? Dimensi lain? Dunia orang mati? Yuta menerjabkan matanya. Bagaimana pun dia harus tahu.

Yuta menoleh saat mendengar suara dari arah berlawanan.

Yoona nunna.

Alis Yuta mengkerut. Yoona nunna memakai pakaian yang beberapa waktu lalu dia gunakan saat menghampiri Yuta dan teman-temannya. Yoona nunna... terlihat sangat cantik dan menawan. Dia terlihat hidup. Yuta hampir tersenyum melihatnya.

Yoona nunna berjalan dengan pak... Park? Yuta mengernyit. Dia berlari keluar demi menyamakan langkah keduanya. Yuta berhenti di belakang mereka tepat.

"Apa? Aku harus mandi di sini?" Yuta mengernyit mendengar pertanyaan Yoona. Yuta memasang telinganya, berjalan sedekat mungkin dengan mereka.

"Ya, pekerjaanku banyak, sayang, aku tidak mungkin mengabaikannya."

"Chanyeol-ah~ kapan kau memperhatikanku?"

Yoona nunna adalah kekasih pak.. Park? Yuta nyaris tak percaya. Dia terus mengikuti keduanya karena penasaran apa yang akan mereka lakukan dan bagaimana Yoona bisa terbunuh. Yuta harus mengikuti mereka. Dia harus tahu yang sebenarnya.

"Aku selalu memperhatikanmu..."

"Benarkah? Huft, baik baik aku akan mandi di sini. Oh iya, kau harus tetap menungguku! Kau harus janji! Kencan hari jadi kita tidak boleh gagal!"

"Kadang kau begitu menyebalkan sayang..."

Dan bayangan keduanya mendadak menjauh dari pandangan Yuta. Oh tidak! Tidak! Dia tidak ingin kehilangan keduanya! Dia berlari mengikuti dua sosok yang makin lama makin menjauh. Sial... Yuta tidak ingin kehilangan jejak mereka. Dia harus tahu semuanya! Dia masih terus berlari hingga bayangan putih memenuhi pandangannya.

Tunggu. Yuta berhenti. Dia melihat ke sekelilingnya. Kamar mandi? Yuta melihat ke sekelilingnya. Sebuah bilik kamar mandi dengan air menyala menarik perhatiannya. Yoona nunna... apa dia yang berada di sana? Yuta segera menghampiri bilik itu dan terhenti seketika saat melihat kabel bergantungan di atas bilik. Dengan jantung berdegup kencang, Yuta masuk ke dalam bilik.

Nafasnya tercekat.

Di bath tub tergeletak tubuh Yoona masih lengkap dengan bajunya tapi sepatu dan tasnya entah di mana. Tubuhnya gosong penuh luka bakar. Rambutnya mengusut dengan beberapa darah berceceran di sekitarnya. Mata Yuta melebar saat melihat dari mana asal darah tersebut. Mata kanan Yoona pecah... mengeluarkan cairan darah yang begitu banyak. Kabel merah tergeletak di lantai kamar mandi. Dia tersetrum.

Yuta mundur beberapa langkah. Nafasnya tersengal-sengal. Yuta nyaris menangis saat itu juga. Semua kematian yang dia lihat hari ini... begitu tragis. Tidak ada orang yang ingin mati seperti ini!

Kepalanya menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka menampakkan sesosok makhluk dengan jubah hitam dan tali. Jubah itu menutupi sebagian wajahnya. Yuta ingin merobek jubah itu dan mengetahui siapa sebenarnya pembunuhnya.

Yuta melihat pembunuh itu menyeret tubuh Yoona menuju ruang guru lama. Alis Yuta mengkerut. Dia mengikutinya hingga ke dalam dan terkesiap saat sosok itu menunduk, mengambil satu kotak keramik di lantai dan membukanya. Yuta mengintip di dalamnya dan nyaris berteriak. Di dalamnya tergeletak beberapa mayat yang sudah nyaris membusuk. Di antaranya ada kepala Sehun. Yuta menggeretakkan giginya.

"Satu korban lagi... ritual ini akan berhasil. Aku akan hidup abadi." Kata sosok itu sebelum menjatuhkan jasad Yoona ke dalam dan menutupnya kembali. Yuta ingin mendorong makhluk itu ke dalam jika dia tidak tembus pandang. Sial... sial!

"A-Apa yang kau lakukan?!" teriakan itu membuat Yuta dan sosok itu menoleh ke arah suara. Mata Yuta melebar.

Pak.. Park?

Dia berdiri, kakinya gemetar melihat apa yang sudah sosok itu lakukan. Dengan cepat Pak Park berlari keluar dari ruang guru, Yuta mengikutinya. Sosok berjubah itu menggeram marah dan mengejar pak Park. Yuta melihat keduanya berlarian menuju lantai dua dan terus melaju hingga lantai ketiga. Yuta melihat sosok itu menggeram sambil membawa seutas tali yang terlihat terbuat dari baja. Yuta mengernyit.

"Berhenti!" ucap sosok itu menggeram.

Yuta melihat pak Park tidak menggubrisnya dan masih terus berlari. Namun sosok itu lebih cepat, dia menarik kaki pak Park hingga ia tersungkur di persimpangan tangga. Mata Yuta bergetar saat melihat kejadian selanjutnya. Dengan ganas, sosok itu menautkan tali bajanya ke leher pak Park.

"Kau... akan jadi korban terakhir." Kata sosok itu terdengar begitu jelas di telinga Yuta. Telinganya mendengar rintihan berat dari pak Park.

"Kau... pembunuh!" katanya tersengal.

Mereka terjatuh terguling dari tangga lantai tiga dan mendarat di lantai dua. Yuta melihat darah menetes dari pelipis pak Park. Sial... dia tidak bisa membantu! Yuta merutuki nasibnya.

"Mati kau! Mati!" sumpah serapah terdengar di telinganya saat melihat sosok itu masih mencekik pak Park dengan tali bajanya. Pak Park tersengal. Ia hampir menyerah tapi tetap berusaha melepaskan diri. Ditendangnya perut sosok itu.

Yuta melebarkan matanya.

Teriakan kencang terdengar dari tangga. Sosok berjubah itu jatuh dari lantai dua dan mendarat tepat di lantai satu dengan leher patah. Yuta segera menghampiri sosok itu. Dia harus tahu... siapa sebenarnya pembunuh berantai itu...

Nafasnya kembali tercekat. Melihat wajah penuh dosa yang mati dengan darah mengucur deras dari kepalanya dan mata melotot yang nyaris keluar. Yuta tidak bisa mempercayai ini...

"Yuta..."

Melirik ke depan, Yuta yang masih terkejut di sambut sosok Sehun yang mengulurkan tangannya sambil berkata, "...bangunlah."

Kemudian gelap menyelimutinya.

.

.

.

"Kalian yakin kalian tidak lapar?"

Telinga Taeyong hampir muak mendengar pertanyaan ini diulang hampir 7 kali. Tak satu pun dari mereka menyentuh makanan maupun minuman itu karena dari tadi Johnny terus menolaknya dengan halus. Sebenarnya Taeyong juga heran kenapa Johnny bersi keras tidak mau satu dari mereka memakannya.

"Kami akan makan ketika kami lapar, guru. Jangan khawatir." Kata Johnny kemudian kembali mendata nilai siswa yang dia kerjakan. Taeyong mengernyit tapi tetap mengerjakan pekerjaannya.

Jaehyun, Doyoung, Ten dan Hansol hanya diam dan terus mengerjakan pekerjaannya. Secara diam-diam mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya sang ketua pikirkan. Apa dia tidak lapar? Taeyong makin mengernyit. Apa Johnny... tahu sesuatu?

"Hm... baiklah. Aku akan menunggu kalian. Aku akan memastikan kalian pulang dengan selamat dan perut terisi." Lalu kekehan kecil terdengar. Taeyong merinding. Sejak kapan suara kekehan menjadi sedingin itu?

Sial... Taeyong terlalu naif dan berpikir positif.

.

.

.

Kegelapan adalah yang pertama kali Yuta lihat saat membuka mata. Ia mengatur nafasnya berusaha tenang. Tidak.. di mana dia sekarang? Yuta meraba sekelilingnya, kayu? Yuta menggedor kayu itu. Dia berteriak kencang meminta bantuan lalu derap langkah kaki membuatnya diam seketika.

Siapa itu?

Pembunuh?

Keringat bercampur darah menetes dari kepalanya. Darah? Yuta meraba kepalanya. Darah... kepalanya berdarah. Mata Yuta berair. Tidak... teman-temannya harus tahu yang sebenarnya! Mereka harus tahu siapa pembunuhnya!

Lalu kayu itu terbuka. Lemari? Dia berada di dalam lemari selama ini. Mata Yuta bergetar melihat sekelilingnya, ruang guru lama. Lalu sebuah suara yang terdengar panik membuyarkan lamunanya.

"Yuta.. kau tidak apa-apa? Kau bisa melihat? Kau bisa bernafas dengan normal?"

Pak Park berlutut di depan Yuta sambil memegang bahu rampingnya. Yuta menelan ludah mengingat mimpi yang barusan dia alami. Bibir Yuta bergetar hanya untuk berkata, "A-Aku tidak apa-apa..."

"Kau bisa berjalan? Teman-temanmu dalam bahaya. Kita harus menyelamatkan mereka." Kata pak Park lalu berdiri membantu Yuta menegakkan tubuhnya. Sial.. tubuh Yuta serasa tidak ada tenaga sama sekali. Pergi ke dimensi lain membuatnya lemas. Dia tidak bisa berjalan dengan normal. Sial... kalau begini bagaimana dia bisa memberitahu Taeyong dan yang lainnya?

Yuta tidak boleh begini. Dia harus bangkit!

Dengan susah payah dia berjalan tertatih menuju kantor guru yang baru. Dia membuka pintu ruangan itu dibantu pak Park. Semua mata yang ada di dalamnya menatap ke arahnya.

"Yuta..." Ya... Yuta ingin menjawab panggilan Taeyong jika dia tidak harus cepat-cepat mengatakan ini.

"Pembunuh semua korban... adalah dia." Tunjuknya pada Byun Baekhyun yang menunduk.

Lalu suara gemuruh dari langit membuyarkan keheningan. Kilat cahaya petir terdengar nyaring dari luar membuat keenam temannya berkumpul di belakang Yuta yang masih berdiri ditumpu Park Chanyeol yang menatap Baekhyun tajam. Sekarang Yuta paham kenapa Sehun mencari pak Park, kenapa selama ini pak Park tidak pernah menyebut nama pak Byun, dan kenapa semua insiden ini terjadi.

Hujan deras mengguyur disertai petir dan angin kencang membuat Ten dan Doyoung berteriak kecil, mereka mendekat ke arah pasangan masing-masing. Di tengah kekacauan itu, suara tawa berat terdengar seiring dengan bergetarnya bahu Baekhyun. Yuta mengatur nafasnya. Tenaganya masih terkuras.

"Ah... aku tidak menyangka kau bisa lolos secepat ini..." suara Baekhyun terdengar berat meski dia ucapkan dengan lirih.

Yuta merinding kecil. Ia merasakan jemari Chanyeol menggenggam bahunya erat. Sepertinya dia merasakan kekhawatiran yang sama.

"Aku berencana membunuh teman-temanmu terlebih dulu... kau mengacaukan rencanaku..." lanjut Baekhyun masih dengan kekehan yang terdengar makin mencekam. Yuta merutuki angin dan hujan diluar sana.

"Byun Baekhyun..." suara berat Chanyeol terdengar menggema. Yang dipanggil berhenti tertawa. Yuta melihat Baekhyun mendongak, menatap mereka dengan sepasang mata merah menyala. Gigi taringnya tumbuh beberapa centi.

Dia sudah bersatu dengan iblis.

"...kembali lah ke alammu." Kata Chanyeol pelan membuat Baekhyun kembali terkekeh.

"Aku akan membunuh kalian semua. Menyelesaikan ritual 13 korban dan hidup abadi!" ucapnya menengadah ke atas masih dengan suara beratnya. Ritual... hidup abadi? Jadi itu yang dia inginkan?

Sejenak Yuta mengumpulkan kekuatannya untuk berdiri, "Teman-teman, cari apapun untuk bisa membunuhnya!" katanya membuat teman-temannya langsung menatapnya.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati." Kata Yuta pelan.

Respon yang dia dapatkan benar-benar tak terduga. Tubuh Baekhyun bergetar hebat saat mendengar kalimat itu. Matanya menatap Yuta tajam. Kaki Yuta hampir menyerah saat melihat sepasang mata itu. Tidak.. dia harus bertahan.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati."

Yuta menoleh ke sumber suara. Taeyong menyerukan kalimat itu sambil membawa sebongkah kayu. Johnny dan Hansol mengucapkan kalimat yang sama sambil membawa kursi dan bersiap melemparkannya pada Baekhyun yang terlihat makin bergetar.

"Aku akan menghancurkan kalian!" serunya kemudian berjalan ke arah Yuta dan Chanyeol yang berada tepat di depannya. Yuta mundur beberapa langkah lalu mengambil salah satu kursi dan melemparkannya ke depan.

Kursi itu hancur seketika.

Semua mata menatapnya. Yuta nyaris tak percaya. Apa yang harus mereka lakukan?

Baekhyun mengangkat salah satu kursi dan melemparkannya tepat ke arah Chanyeol dan membuatnya langsung tersungkur. Yuta terhambur ke arahnya sambil berusaha mengangkat kursi itu. Teman-temannya yang lain melempari Baekhyun dengan apapun yang berhasil mereka temukan.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati!"

Kalimat itu mereka ucapkan seperti mantra. Berkali-kali keluar dari mulut masing-masing dari mereka. Terus diucapkan sembari menambatkan do'a di hati.

"Tubuhnya melemah setiap kita mengucapkan kalimat itu." Kata Chanyeol sambil terbatuk. Yuta membantunya bangkit.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati." Katanya lagi lalu teman-temannya mengikuti.

"T-Terkutuk... kalian!" tubuh Baekhyun terlihat mengejang.

Dari sudur matanya, Yuta melihat sosok Sehun muncul bersama dengan para korban yang lain. Sehun melihat Yuta lalu mengedipkan mata hitamnya. Yuta bangkit, berdiri di satu meja guru yang ada di dekatnya. Sehun berada di sampingnya dengan arwah korban lain termasuk Yoona dan Lee ahjumma. Tangan tak kasat mereka bersatu memegang sisi-sisi meja.

Yuta mengernyit, "Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati." Bisiknya kecil lalu merasakan sepasang tangan menggenggam tangannya yang sudah memegang sisi meja. Taeyong berdiri di sampingnya diikuti Doyoung, Ten, Jaehyun, Hansol dan Johnny yang memegang masing-masing sisi.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati!"

Satu dorongan kuat mereka arahkan ke tubuh Baekhyun yang masih mengejang. Tubuh itu menabrak dinding dengan keras.

"LAGI!" ucap Johnny membuat Yuta dan yang lainnya mengangguk. Mereka mengucapkan kalimat itu lagi sembari mendorong meja menabrak tubuh Baekhyun yang terus mengejang. Ceceran darah mewarnai dinding di belakangnya.

"Yang mati harus dikembalikan ke dunia orang mati!"

Kalimat terakhir itu mereka ucapkan serempak bersama dengan dorongan meja yang menghantam tubuh Baekhyun yang hancur dengan keras. Yuta mengatur nafasnya saat melihat mata merah Baekhyun kembali seperti semula. Penampilannya menjadi seperti manusia biasa.

Hati Yuta mencelos saat perlahan asap putih menyelimuti tubuh Baekhyun. Bersamaan dengan itu, tubuh Baekhyun menghilang beserta ceceran darahnya. Seolah tak ada yang terjadi. Semua kembali seperti semula. Hujan dan angin di luar berhenti sektika.

Yuta terduduk lemas di tempatnya berdiri. Kepalanya masih pening.

"YUTA!"

Pelukan erat langsung ia rasakan setelah mendengar namanya disebut. Melirik ke tubuh yang sedang memeluknya, Yuta mendesah kecil. Hatinya lega. Dia memejamkan matanya merasakan pening luar biasa. Yuta membalas pelukan Taeyong. Apapun yang terjadi... semua insiden ini sudah berakhir.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: EIITTSSS belum belum ini belum selesai X'D click Next untuk baca Epilogue nya sayangs~ /tunjuk bawah/? X'D hayuk-hayuk dibaca epiloguenya~ and don't forget to review sayangs~ /ngilang/