Konichiwa, minna-san..
Kagoya kembali dengan chapter kelima..
Dan chapter ini adalah chapter terakhir untuk sekuel ini..
Terima kasih minna, untuk semua reviewnya yang membangun..
Just wait for my next piece..
:D
So, as always..
Read, and please enjoy..
:D
Natsu's Choice: White L or Yellow L?
Summary: Siapa yang Natsu pilih? Lisanna Strauss atau Lucy Heartfilia?
Disclaimer: Hiro Mashima
Chap. 5
Natsu menopang dagunya. Matanya hanya menatap lurus, entah melihat atau memelototi apa. Ia hanya diam seribu bahasa, bahkan cerita Lisanna tidak didengarkannya. Lisanna memanggilnya berkali-kali tapi Natsu hanya diam. Sepertinya dia tidak mendengar suara Lisanna. Meski begitu, telinga Natsu tidak tuli. Dia masih bisa mendengar suara seseorang. Suara itu begitu jernih, dan sangat merdu di telinga Natsu. Bahkan hidung Natsu seolah hanya bisa mencium bau parfum orang itu. Matanya hanya bisa melihat sosok itu. Ya, sejak tadi pagi, Natsu hanya memperhatikan Lucy dengan seksama.
Natsu suka melihat rambut Lucy yang berwarna kuning terang. Natsu suka segala sesuatu yang ada di diri Lucy. Natsu suka segala sesuatu yang Lucy lakukan. Natsu suka pada kenyataan bahwa ia.. Menyukai Lucy. Lebih dari sekedar sahabat.
Eh—apa? Begitu pikiran itu melintas di kepalanya, sontak saja wajah Natsu langsung memerah.
"Natsu!" akhirnya Lisanna tidak sabar dan langsung berteriak tepat di depan telinga Natsu.
"Aduh, Lisanna!" tegur Natsu sambil mengusap-usap telinganya yang serasa berdengung.
"Kenapa kau mendiamiku saja?" tanya Lisanna gusar.
"Aku tidak mendiamimu!" bantah Natsu.
"Apa kau bilang? Kau ini sudah amnesia ya!" ujar Lisanna kesal.
"Apa maksudmu? Memangnya kau berbicara denganku? Kau bahkan tidak berbicara denganku, Lisanna! Bagaimana kau bisa bilang bahwa aku mendiamimu?" tanya Natsu.
Mata Lisanna membelalak. "Kau ini! Aku berbicara denganmu semenjak tadi, dan kau bahkan tidak menoleh ke arahku. Tidak sedikitpun! Kau dengar? Kau memang mendiamiku! Apa sih yang ada di pikiranmu sekarang?" tanya Lisanna.
"Lucy." ujar Natsu secara langsung. Begitu sadar, ia langsung menutup mulutnya dan merona. Astaga! Suaranya terlalu kencang, dan kini seluruh orang di guild termasuk Lucy menatapnya. Lisanna hanya bisa menatap Natsu sambil tercengang. Jawaban Natsu tadi jelas bukan jawaban yang diharapkannya. Lagipula, Natsu mengatakannya secara langsung, tanpa dipikir lebih dulu.
Lucy hanya mengerjap-ngerjapkan mata bingung. "Ada yang memanggilku?" tanyanya memecah keheningan.
Sontak, seluruh orang di guild langsung ribut.
"Astaga, kau dengar apa kata Natsu tadi?" tanya Wakaba.
"Ya. Dia bilang dia memikirkan Lucy!" jawab Macao.
"Kau yakin, Lucy yang dimaksud Natsu adalah Lucy yang ini?" tanya Lucky.
"Tentu saja! Memangnya ada berapa Lucy di Fairy Tail?" jawab Warren.
"Ya ampun!" desah Mirajane.
"Natsu, kau menghentikanku dari perang minumku dengan Master." seru Cana.
"Itu tidak penting, Cana!" tegur Erza.
"Masalah yang penting jauh lebih berbeda." ujar Gray.
"Berbeda seperti apa?" tanya Juvia.
"Astaga. Satu kata saja bisa menjadi seperti ini." desah Levy sambil tertawa.
"Tidak mungkin. Salamander! Kau tidak mungkin.." Gajeel tidak berani melanjutkan.
"Sudah pasti." ujar Bickslow.
"Ya. Sudah pasti." sahut Evergreen.
"Aku yakin." sambung Freed.
"Tapi, Lisanna.." ujar Romeo.
"Astaga, Natsu, kau…" ujar Laxus.
"NATSU MENYUKAI LUCY!" seru seluruh orang di guild dengan serempak.
Kontan, wajah Natsu semakin merona. Lucy pun tidak bisa menahan ronanya.
"Astaga, teman-teman." ujar Lucy sambil tertawa. "Lelucon ini sama sekali tidak lucu."
"Aku tidak berbohong, Lucy." potong Natsu.
"Apa?" tanya Lucy.
Natsu menelan ludahnya dengan gugup. "Aku memang memikirkanmu tadi." jawabnya mantap.
Lisanna dan Lucy sama-sama berpandangan. Lucy merasa bersalah, sedangkan Lisanna merasa terluka. Karena dia terlalu percaya pada ucapan Lucy, kini hatinya nyeri bukan main.
"Kau berbohong, Lucy." desis Lisanna.
"Tidak, Lisanna. Kau tidak mengerti.. Ini—ini bukan yang.." ujar Lucy gelagapan.
"Ah, aku tidak mau tahu!" potong Lisanna yang langsung mengheningkan guild lagi. "Kau tega-teganya berbohong padaku, Lucy!"
"Lisanna.." panggil Lucy.
"Aku benci padamu! Aku benci!" seru Lisanna sambil berlari keluar.
"Lisanna, tunggu!" seru Lucy sambil berlari mengejar Lisanna.
GREEP!
Tiba-tiba, Natsu mencengkeram sikunya.
"Natsu.." panggil Lucy. "Aku harus mengejar Lisanna. Lepaskan aku."
Natsu hanya diam sambil menatap Lucy. "Apa jawabanmu?" tanyanya.
Lucy mengerutkan kening bingung. "Jawaban apa?" tanyanya.
Natsu menelan ludah. "Jawaban atas perasaanku." ujarnya.
Sontak, seluruh tubuh Lucy serasa kaku. Ia tidak sanggup melakukan apa-apa. Melihat, mendengar, berjalan, atau melakukan apapun. Bahkan bernafas rasanya pun sulit. Ia hanya bisa mendengar ucapan Natsu barusan.
Lucy hendak menjawab Natsu seketika itu juga, bila ia tidak teringat Lisanna.
"Maafkan aku, Natsu." ujar Lucy sambil melepaskan genggaman Natsu. "Aku harus bertemu dan bicara dengan Lisanna." lanjutnya sambil berlari keluar.
Natsu hanya bisa mengantarkan kepergian Lucy dengan hati berdebar. Ketika Lucy sudah keluar dari guild, Natsu mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton drama kecilnya itu.
XXX
Lucy berlari menerobos kerumunan orang, dan berteriak memanggil nama Lisanna. Sudah lebih dari satu jam ia mencari, namun ia belum bisa menemukan Lisanna. Lucy akhirnya berhenti berlari, dan mengatur nafasnya dulu. Setelah beristirahat beberapa menit, Lucy akhirnya berlari lagi, mencari Lisanna.
"Lisannaaaaaaa!" panggilnya.
"Lisanaaaa, kau ada dimanaaaaa?" seru Lucy.
"Gawat, tidak ada jawaban." gumam Lucy. "Harus kucari kemana, ya?"
Tiba-tiba, terlintas di pikiran Lucy sebuah taman di bagian Barat kota Magnolia. Lisanna sangat senang pergi ke taman itu bila ia sedang sedih. Lucy tahu itu karena Lisanna pernah bercerita padanya. Segera saja Lucy berlari ke arah taman itu. Dan ia menemukan Lisanna sedang duduk dan menangis terisak-isak di taman itu. Lisanna duduk di bawah sebuah pohon besar di pinggir taman. Ia memeluk kedua lututnya, dan menangis terisak-isak. Ia menundukkan wajah, tapi Lucy bisa melihat bahunya tergoncang. Air mata mengalir turun dari wajahnya dengan deras.
Lucy berjalan perlahan mendekati Lisanna.
"Lisanna.." panggilnya.
Sontak, Lisanna langsung mengangkat wajahnya dan menatap Lucy yang berdiri di depannya. Meski masih berurai air mata, namun kini Lisanna memandang Lucy dengan dingin.
"Mau apa kau kesini, pembohong?" tanyanya dingin.
Lucy menghela nafas. "Lisanna.. Kau harus mendengar penjelasanku dulu."
Lisanna langsung berdiri dan dari wajahnya, Lucy tahu bahwa Lisanna marah.
"Penjelasan apa? Lucy, kau tahu aku menyukai Natsu! Setelah ucapanmu padaku tempo hari, aku selalu berharap bahwa Natsu memang menyukaiku!" seru Lisanna. "Dan kau lihat jawaban dugaanmu itu? Natsu menyukaimu! Dia menyukaimu! Dia mendiamiku dan memikirkanmu!"
Lucy mengepalkan tangannya. "Lisanna.." desahnya.
"Aku benci padamu! Andai saja kau tidak pernah berkata begitu, aku tidak akan sakit hati begini! Aku benci padamu!" seru Lisanna sambil memukul-mukul Lucy.
Lucy merenggut kedua tangan Lisanna. "Tatap aku, Lisanna! Dan dengarkan penjelasanku!" seru Lucy. Lucy memandang Lisanna yang menundukkan wajah dan menangis.
"Aku tidak pernah tahu Natsu memikirkanku! Aku bahkan tidak berani berharap! Kau harus tahu betapa hancur hatiku ketika kutahu Natsu melanggar janjinya padaku dan bekerja bersamamu! Kau harus tahu betapa remuknya hatiku ketika kulihat betapa gigih Natsu mencarimu dan menyelamatkanmu! Kau harus tahu betapa nyerinya hatiku ketika kulihat kau bercanda dengan Natsu!" seru Lucy.
Lisanna hanya terisak.
"Kau harus tahu betapa aku berharap untuk bisa melupakannya! Kau harus tahu betapa besar aku ingin agar aku kuat! Agar aku dapat menghilangkan perasaanku pada Natsu! Kau harus tahu itu Lisanna! Aku tidak pernah—tidak akan pernah membohongimu!" seru Lucy.
Lisanna semakin terisak. Kedua kakinya mulai goyah. Hanya tangan Lucy yang kini mencengkeram pergelangan tangannya lah yang bisa menahannya sebelum ia ambruk.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi barusan. Aku bahkan tidak tahu, Lisanna!" ujar Lucy putus asa, sambil melepaskan cengkeramannya. Segera saja Lisanna terjatuh dan menangis terisak.
"Lisanna…" Lucy pun akhirnya berlutut di depan Lisanna dan memeluk gadis itu.
"Aku minta maaf." ujar Lucy berkali-kali.
"Aku menyukai Natsu." ujar Lisanna pelan. "Aku menyukai Natsu!" seru Lisanna. Lalu ia menangis keras. Lucy mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tahu, Lisanna." sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Lisanna dan Lucy segera menoleh ke arah sumber suara. Disitu, berdirilah Natsu.
"Natsu.." ujar Lisanna. Sedangkan Lucy hanya memalingkan wajahnya. Natsu pun berjalan mendekati Lucy dan Lisanna.
"Aku minta maaf." ujar Natsu. Ia berhenti dan berdiri tepat di depan Lucy dan Lisanna.
"Aku minta maaf karena aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang sahabat, Lisanna. Aku.. Aku baru sadar bahwa.. Aku.. Aku menyukai Lucy. Aku menyukainya lebih dari seorang sahabat." lanjut Natsu. Air mata Lisanna pun kembali menderas.
Setelah terisak beberapa saat, dan tak ada satupun kata yang keluar dari Natsu maupun Lucy, akhirnya Lisanna berdiri. Ia menghapus air matanya. Lalu ia menatap Natsu dan memeluknya.
"Aku tahu. Maafkan aku. Bisakah kita tetap berteman?" tanya Lisanna.
Natsu pun membalas pelukan Lisanna. "Tentu saja." jawabnya.
Kemudian, Lisanna melepaskan pelukannya dan tersenyum. Lalu, ia berlari pergi, meninggalkan Lucy dan Natsu sendirian. Bingung harus melakukan apa, akhirnya Lucy bangkit berdiri dan berjalan menjauhi Natsu.
GREEP!
Lagi-lagi, Natsu mencengkeram sikunya. "Kau belum menjawab pertanyaanku." ujarnya.
Lucy hanya terdiam. Ia bahkan tidak berani menatap Natsu.
"Kau.. Masih menyukaiku kan, Lucy?" tanya Natsu.
Lucy mengangguk.
"Kalau begitu.. Kau mau menjadi…"
"Aku mau." jawab Lucy memotong pertanyaan Natsu.
Natsu terkejut. Namun ia melihat kesungguhan di kedua mata cokelat Lucy. Akhirnya, mereka pun berpelukan, tanda mereka akan menyayangi satu sama lain. Selamanya.
Yeeey, selesaiii…!
:D
Still..
Review, please?
*berdasarkan hasil vote, kebanyakan memilih NaLu.. untuk fans NaLi, hontou ni gomenasai!*
